
Ega terus menghubungi Samuel untuk membicarakan kerjasama mereka. Namun, Samuel selalu menolak halus dengan mengatakan lain waktu dan sebagainya.
Alasan sebenarnya padahal Samuel belum memiliki cukup informasi tentang perusahaan yang menawarkan kerjasama itu padanya. Meski anak seorang Jendral TNI, Samuel tetap menggunakan kemampuanya sendiri tanpa melibatkan ayahnya dalam urusan pribadi. Lagipula itu tidak baik untuk menggunakan koneksi keluarga semacam itu.
Itulah kendalanya, Samuel hanya orang biasa yang tidak memiliki kuasa untuk menggali informasi pribadi seseorang. Tapi tetap mendapatkannya dengan usaha yang cukup membutuhkan waktu.
" Sebelumnya maaf Pak Ega. Saya masih disibukkan dengan pekerjaan yang lain. Jadi belum ada waktu untuk minggu ini. Dan saya juga harus memberitahu pimpinan saya dulu."
Katanya pada Ega, melalui sambungan telepon.
" Baiklah... bagaimana jika minggu depan kita bertemu? bukan secara resmi, hanya perkenalan sekaligus makan siang bersama. "
Gigih juga orang ini. hmmm
" Mungkin bisa, nanti saya carikan hari yang tepat. Jika sudah ditentukan saya akan segera menemui anda. "
" Baiklah kalau begitu. Sampai bertemu minggu depan pak Samuel. "
Yes...
Akhirnya Ega berhasil mendapatkan kesempatan itu. Meskipun belum ditentukan harinya. Setidaknya ia sudah bisa menjawab pertanyaan bosnya yang hampir setiap hari menanyakan kabar dari pihak auditor yang menangani novel Queen B.
****
" Az entertainment... cukup bagus... "
Samuel sedikit memuji setelah menutup sambungan teleponya. Mengamati ponselnya kemudian kembali membaca laporan dari Elang yang telah dikirimnya melalui email.
Tak berapa lama ia kembali mengedarkan pandanganya. Dan tersenyum...
" Disini...!! "
Melihat dari arah pintu masuk orang yang ditunggu telah datang, Samuel melambaikan tangan mengisyaratkan agar orang itu menghampirinya. Keadaan cafe siang ini cukup sepi, jadi pria itu tak sungkan untuk mengeraskan sedikit suaranya agar temanya segera melihatnya.
" Apa kau lama menungguku? "
Menggeleng pelan kemudian menyeruput kopi ditanganya.
" Memangnya kau pernah tidak membuatku menunggu? "
Sofia terkekeh. Mengangguk pelan menyetujui kalimat sarkas sahabatnya.
"Maafkan aku tampan...!! Jangan marah ok...!! "
Mencolek manja pria didepanya tanpa sungkan. Samuel memang tampan. Setampan Araya suaminya. Bedanya Araya memiliki aura yang sangat kuat. Sedangkan sahabatnya ini lebih tepat, lembut dan penyayang.
" Mana minumanku? Kamu tidak lupa memesankanya kan? "
" Greentea frappe...!! "
" Good... "
Dengan telunjuknya meliuk bersikap kemayu.
" Sebentar lagi datang. Aku menyuruh mereka membuatkanya saat kamu sudah sampai. "
" Jadi apa perusahaan itu ok? "
Tanya Sofia tanpa basa basi.
Tujuan pertemuan mereka memang untuk membahas tawaran Az entertainment. Mengenai informasi perusahaan itu, Samuel sudah mendapatkanya. Dan perusahaan itu tidak bermasalah jadi kemungkinan mereka akan menerima tawaran itu.
" Jadi... "
" Permisi ini pesanannya, greentea frappe. Sikahkan dinikmati..."
Samuel menghentikan ucapanya saat pelayan datang untuk mengantarkan minuman favorit sahabatnya yang ia pesan tadi.
" Terimakasih mbak... "
Pelayan itu mengangguk pelan kemudian meninggalkan meja dimana Samuel dan Sofia berbincang.
" Teruskan. "
Kali ini mereka dalam mode serius. Karena memang keduanya tidak akan main-main dengan hal yang menyangkut soal bisnis dan kerjaan.
" Perusahaan itu termasuk baru karena masih diumur yang sama seperti perusahaan kita. Tapi, sepertinya perusahaan itu berkembang cukup pesat hanya dalam waktu yang singkat. "
Sofia mengangguk tanda mengerti. Jika Samuel mengatakan sesuatu itu baik berarti memang baik. Karena selama ini, mereka akan menyelidiki dulu apapun yang ada dihadapan mereka. Dan berfikir matang sebelum bertindak.
" Sementara belum ada hal yang perlu ditakutkan. "
" Tapi kita harus terus waspada Sam. Dunia hiburan sangat kejam. Bisa dibilang lingkaran setan. "
Samuel paham betul apa yang dimaksud perempuan di hadapanya. Dunia hiburan adalah dunia yang perlu diwaspadai karena banyak tipu daya trik dan muslihat. Jika tidak hati-hati maka akan terjerumus kedalam pergaulan yang menyesatkan.
Contohnya saja perusahaan yang sebelumnya bekerja sama dengan mereka. Untungnya mereka dapat mengatasinya terlebih dahulu.
" Kapan kalian akan bertemu? "
" Minggu depan bagaimana? aku masih ingin melihat mereka dulu beberapa hari ini. Lagipula aku juga ingin melihat proyek barumu."
Sofia memainkan sedotan plastik ditanganya.
" Apa kamu juga datang? sepertinya ini hanya perkenalan saja. Jadi aku nanti yang akan menentukan tempat dan waktunya. Aku tidak akan memilih tempat yang sulit terjangkau olehmu. "
Samuel memperhatikan Sofia yang masih memutar sedotan plastik itu dalam gelasnya.
" Tentu saja. Aku ingin tahu apakah rekan kita juga mata keranjang. Aku tak ingin staff ku dilirik seperti sebelumnya. "
Kerjasama sebelumnya memang lancar. Tapi ada beberapa hal tidak mengenakkan ketika petinggi perusahaan itu berbuat tindak pelecehan saat makan malam bersama kedua perusahaan. Itu terjadi dalam pembukaan kerjasama kedua perusahaan serta crew.
Samuel mengangguk setuju. Meski perusahaan mereka kecil tapi mereka sangat menghargai staffnya. Bahkan staff perempuan memiliki hak cuti menstruasi selama sehari. Dan itu wajib mereka ambil tanpa harus mengurus cuti dengan susah payah. Mereka cukup dengan memberi kabar kepada pihak HRD saja.
" Baiklah... kita lihat saja nanti. "
Tiba-tiba Sofia membuka kacamata yang ia kenakan. Perlahan mengucek matanya yang sedikit gatal. Mungkin karena debu saat ia bersih-bersih tadi. Meskipun sudah mandi tapi debu itu pasti masih beterbaran saat ia berada diruangan apartemennya.
" Berhentilah menguceknya. "
Perkgerakan tangan Sofia terhenti karena sudah tertahan oleh tangan Samuel.
" Oh God... Matamu iritasi? Kenapa kelopak matanya ikut memerah begini? "
Panik, tangan kanan Samuel terulur menyentuh daging yang sedikit memerah itu. Tepatnya, kelopak mata Sofia. Kemudian meniupnya beberapa kali.
" Paling hanya kena debu tadi aku bersih-bersih apartemen. "
" Kamu melakukanya? memangnya kamu ini menikah cuma buat dijadikan pembantu apa? "
Kesal sekali Samuel menerima kenyataan bahwa sahabatnya yang selalu mendapatkan prioritas utama diperlakukan tidak baik oleh suaminya. Walaupun tahu keadaanya, tetap saja dia tidak terima.
" Lepaskan saja softlens itu. Akan berakibat buruk jika terlaku sering dipakai. Kamu bawa tetes matanya? "
" Aku sering menggantinya dengan yang baru... tenanglah. Cari saja ditasku."
Mengulurkan tas yang disampingnya kepada Samuel. Karena perih, dia hanya bisa mendongakkan kepalanya.
Samuel bersungut-sungut. Bagaimana bisa tenang melihat sahabatnya harus menggunakan softlens setiap hari. Dan sekarang terlihat jelas matanya memerah karena iritasi.
" Matamu sudah iritasi... lepaskan atau itu akan semakin parah...!!! "
Mengatakanya tanpa mengalihkan pandangannya dari tas Sofia, mencari obat tetes mata.
"Tidak apa-apa nanti sepulang dari sini akan segera aku lepas. "
" Tidak... seharusnya ke dokter dulu.
Sini... buka lebar matamu. "
" Sebenarnya Araya juga sudah mengatakan bahwa dalam seminggu akan ada orang yang membersihkan apartemenya. Mereka datang dihari Senin dan Kamis. Tapi tadi karena bosan aku membersihkan kamarku yang sedikit berantakan. Dan beberapa ruangan."
Meski paham kekhawatiran Samuel dengan pernikahannya tapi ia tak ingin Samuel berprasangka buruk dan memusuhi suaminya. Lagipula kesepakatan itu ada karena persetujuan kedua belah pihak.
Walaupun sikap suaminya tidak cukup ramah. Tapi tidak jahat juga. Jadi tidak perlu berlebihan baginya.
" Membelanya??? "
Mengingat cerita sahabatnya tentang sikap dan perselingkuhan pria yang menjadi suami sahabatnya, Samuel merasa sangat benci dan muak pada lelaki itu.
" Bukan begitu... "
" Terserahlah... selama dia tidak merugikanmu dan melukaimu aku tidak akan ikut campur. Dan ingat untuk tidak terlalu dekat denganya. "
Samuel benar-benar merasa tidak rela perempuan kesayanganya diperlakukan seperti itu. Dinikahi kontrak hanya untuk memenuhi keinginanya mendapatkan apa yang dia inginkan. Memperlakukan gadis itu dengan tidak baik. Ditambah lagi berbuat bejat dengan menjalin asmara dengan wanita lain.
Benar-benar tidak bisa dibiarkan menurut Samuel.
Tiba-tiba Samuel dalam mode mellow melihat sahabatnya itu harus tersiksa oleh mata palsu dari softlens yang dipakainya. Mengusap lembut mata dan membelai pipi gadis itu dengan sayang.
" Lupakan kejadian itu Bell dan kembalilah menjadi dirimu sendiri. Sejujurnya aku benci melihat penampilan konyolmu ini. Aku sudah tidak tahan lagi."
Menatap Sofia dalam. Netra mereka saling bertemu satu sama lain. Terlihat jelas kepiluan disana.
Dan seketika itu juga, airmata Sofia lolos tanpa perintah.
" Dia meninggal didepan mataku Sam... Darah segarnya masih tergambar jelas dimataku."
Samuel kembali mengulurkan tanganya, namun kini tangan itu berfungsi untuk menghapus airmata Bella yang menetes tak terbendung.
" Sudahlah... Baiklah aku akan mendukung apapun keputusanmu. Tapi ingat... Kau hanya perlu menemukanya. Sisanya serahkan padaku."
Bella mengangguk tanda mengerti. Kehilangan seseorang yang selalu menyayangi dan melindunginya saat jauh dari jangakuan keluarganya adalah pukulan berat baginya. Apalagi kematianya berada tepat didepan matanya. Dengan cara yang keji pula.
Jadi bagaimana mungkin ia mudah untuk melupakanya.
Samuel berdiri dan mendekati Bella. Merentangkan kedua tanganya.
" Butuh pelukan sayang? "
Bella mengangguk. Saat Samuel mendaratkan pantatnya dikursi sebelah Bella. Bella langsung menghambur memeluknya erat.
" Everything is going to be ok sayang. Aku dan dia akan selalu menjadi orang yang selalu mendukungmu. Aku yakin ia bangga melihatmu yang sekarang. "
Samuel mengelus kepala Bella dengan sayang.
" Jadi... Siapakah yang rela menjadi suami si itik buruk rupa ini? aku jadi penasaran dengan orang bernama Araya itu. "
"Aaawww... "
Bella mencubit keras pinggang Samuel. Dalam keadaan haru dia selalu saja menyebalkan dengan tingkah konyolnya.
****
" Ada apa denganmu? "
Willy bertanya karena sejak dari restaurant tadi sikap Araya berubah semakin masam.
Melirik sebentar pada sahabatnya.
" Aku heran mujur sekali nasib si culun itu. Dijodohkan dengan putra tunggal keluarga Santoso. Masih juga bisa bermain dengan pria setampan tadi. "
Sengaja memancing keributan.
Araya geram dengan apa yang diucapkan Willy. Sayangnya, semua yang diucapkanya adalah kenyataan yang bahkan ia secara langsung melihatnya. Betapa gadis itu dengan tidak tahu malunya berpelukan dan bermesraan ditempat umum padahal ia telah berstatus sebagai menantu keluarga Santoso yang terpandang.
" Ngomong-ngomong pria tadi tidak begitu asing? "
Willy mengingat-ingat, sepertinya ia tidak hanya sekali itu melihat pria yang bersama istri dari sahabatnya ini.
" Pergi kau dari sini... Dan berhenti mengoceh...!! "
Pusing Araya dengan ocehan William. Sudah cukup tadi ia dibuat kesal karena harus menangani pekerjaan dengan diadakan meeting dadakan. Sehingga mau tak mau harus batal makan siang dengan bekal yang diantar istrinya tadi.
Ngomong soal bekal. Sofia bilang itu adalah resep baru yang dibilangnya ia dapat dari temanya beberapa hari lalu. Tapi ia menjadi tidak selera lagi karena kesal melihat pemandangan tak mengenakkan dihadapanya baru saja.
" Baiklah... Aku akan pergi... Lagipula pekerjaanku masih banyak. "
Willy berlalu begitu saja setelah menepuk pelan pundak Araya. Seolah menyalurkan kesabaran untuk Araya yang sejak pagi terbakar emosi dengan klien yang menyulitkan mereka.
" Sudah kubilang jangan macam-macam... Masih berani main belakang... Awas saja aku akan membuat perhitungan. "
Saat Araya masih diselimuti kekesalan, pintu ruanganya dibuka dan ditutup kasar seseorang.
Brraakk...
Araya ingin mengumpat pada orang yang dengan lancang menerobos masuk ke kantornya. Padahal saat ini ia sedang dalam suasana hati tidak baik. Namun diurungkanya setelah mengetahui siapa pelakunya.
" Mama...? "
Uacapnya lirih hampir tak terdengar.
" Lihat kelakuanmu. "
Melempar ipad yang menampilkan berita tentang dirinya.
Araya diam mematung. Dalam berita itu tertulis jelas tentang kedekatanya dengan model kelas atas bernama Mila. ada juga beberapa foto yang tertangkap kamera ketika ia mengantarkan kekasihnya itu kebandara.
Tunggu... Bandara?
Tapi, bukan berita itu yang menarik perhatiannya.
Kata bandara mengingatkanya pada kejadian dimana seorang perempuan bule berlari dan hampir menabraknya. Kemudian perempuan itu memeluk erat seorang pemuda yang sepertinya baru pulang dari suatu tempat.
Orang itu... astaga...
Araya menutup mulutnya yang terbuka karena aedikit syok, mengingat wajah seseorang di Bandara waktu itu, membuatnya sadar kenapa wajah pria di cafe dimana dia melihat istrinya sedang bermesraan bersama pria lain itu terasa tidak asing.
" Kenapa? baru sadar kelakuanmu itu akan menjadi bumerang dalam hidupmu? Bukankah sudah mama peringatkan untuk memutuskan hubungan dengan wanita itu? Apa teguran papa dan mama waktu itu juga tidak menyadarkanmu? "
Dasar wanita bodoh... mudah terperangkap dengan playboy modelan begitu.
Sama sekali tak menghiraukan omelan ibunya, Araya justru memikirkan istrinya, Bagaimana bisa istri culunya itu bisa dekat dengan playboy itu? bertemu dan bermesraan dimuka umum dibelakangnya?
Bagaimanapun sekarang Sofia sudah menjadi tanggung jawabnya untuk setahun kedepan. Jika terjadi sesuatu pada gadis itu, pasti juga membuatnya dalam masalah.
Aku harus menyelamatkan gadis bodoh itu. Jangan sampai dia diperdaya. Atau malah dijual nantinya. Oh tidak... itu sangat buruk.
Araya mengusap wajahnya kasar, gusar. Mengingat betapa bodohnya istrinya itu sampai bisa terlibat dengan pria luar yang tidak tahu apa tujuanya mendekati gadis itu.
Bagi gadis kampung sepertinya pasti didekati pria kota sangat bangga dan langsung jatuh hati karena minimnya pengetahuan dan pengalaman.
" Apa kau puas mempermalukan nama baik keluargamu Araya!! "
Araya kembali tersentak oleh kemarahan ibunya. Membuyarkan lamunanya tentang istri bodohnya yang terjerat pria asing.
" Ma... itu kan sudah menjadi pekerjaan mereka. Biarkan saja, nanti juga reda sendiri. "
Dengan malas Araya menjawab perkataan ibunya. Dia sendiri memiliki perusahaan entertainment, berita semacam itu sudah biasa baginya. Kadang berita itu dibuat hanya untuk menaikkan pamor seseorang saja. Ya... walaupun kasusnya ini berbeda karena sebuah kebenaran, soal hubungannya dengan Mila. Tapi ia yakin berita itu akan segera berakhir. Atau tenggelam oleh gosip yang lain.
" Mama tidak mau tahu. Mulai besok kalian harus tinggal dirumah utama. "
" Tapi ma... "
" Mama tidak menerima bantahan Araya. "