Another me

Another me
Ternyata itu aku



Cahaya mentari pagi menyelinap masuk diantara gorden pintu kaca di kamar Araya, membuat ia mengerjapkan mata. Kesal, begitulah yang dirasakanya. Sungguh saat ini ia hanya ingin kembali ke alam mimpi. Namun badanya terasa sangat berat dan rasa malas menguasainya hingga ia enggan turun dari tempatnya untuk hanya sekedar merapatkan korden itu. Dan sekali lagi cahaya yang menyilaukan mata itu mengganggu tidurnya. Ingin sekali ia memaki, tapi harus pada siapa? andai ia memiliki kekuatan super yang bisa memanjangkan tanganya. Sudah pasti ia gunakan untuk menutup rapat korden itu sehingga ia dapat kembali menikmati tidurnya. Sayang sekali itu hanya ada dalam film animasi.


Akhirnya ia terpaksa membuka mata, mencoba mencari tahu waktu saat ini. Masih berbaring diatas kasurnya, ia sengaja menjeda waktu untuk memulihkan kesadaranya. Ia memegangi keningnya sejenak. Kepalanya terasa pusing sekali. Barulah ia ingat bahwa pusing itu karena kemarin ia terlalu banyak minum.


Ia berdiam menunggu sesaat untuk meredakan pusing dikepalanya dan setelah merasa sedikit baikan, perlahan ia menggerakkan tubuhnya untuk bangun hingga akhirnya berhasil terduduk diatas tempat tidurnya. Perlahan ia merenggangkan tubuhnya dengan merentangkan kedua tanganya. Matanya menelusuri tempatnya berada dengan memandang sekeliling.


Jam 7?


Melihat waktu yang sudah cukup siang, Iapun berniat untuk segera beranjak dari tempat tidurnya. Namun sekali lagi kepalanya sedikit berputar karena rasa pusing yang menderanya.


" Aoouuch...!! kepalaku. "


Ia memijit lembut kepalanya berharap rasa sakit itu mereda. Saat menunduk dan memijat kepalanya itulah, ia baru sadar bahwa pakaian yang ia kenakan sudah berganti.


Siapa yang menggantikan pakaianku?


Araya mengerutkan dahi. Namun, kemudian Araya tersenyum memikirkan bagaimana sahabatnya yang biasanya akan membawanya ke apartemenya dan melemparkanya ke atas sofa itu kemarin begitu baik hati sampai merawat dan membersihkan tubuhnya. Bahkan sampai menggantikan pakaianya.


Iapun segera mandi dan bersiap siap untuk pergi ke kantor, setelah sebelumnya menghubungi dan meminta Ega untuk membelikan obat pereda hangover untuknya.


Tak butuh banyak waktu, Araya pun telah siap dengan pakaian resminya untuk berangkat bekerja.


" Selamat pagi kak... "


Sapa Sofia ramah saat ia telah berada diruang makan. Kemudian mempersilahkanya untuk segera duduk.


Araya mengambil tempat tepat berhadapan dengan Sofia. Dalam posisi itu, ia dapat mengamati dengan jelas betapa cekatanya Sofia menyiapkan makan pagi untuknya. Roti yang telah dipanggang itu tengah diolesi dengan selai oleh tangan kecil Sofia. Melihat itu hati Araya sedikit menghangat.


Ah... Senangnya punya istri. Mau makan ada yang menyiapkan. Rumah ada yang mengurus. Pakaian rapi, Pulang ada yang menyambut. Hiihihi...


Tanpa sadar bibir Araya tertarik ke dalam. Ternyata menikah tak seburuk yang ia bayangkan. Dan meski pernikahanya atas dasar perjodohan dan ada perjanjian tertulis, ia tetap menikmati peranya sebagai suami yang terlayani. Pengalaman baru baginya yang hanya bisa selalu berangan dengan kehidupan bahagia sebuah rumah tangga. Meski yang dialaminya tetaplah hubungan semu. Tapi sudah cukup baginya, ia tak ingin jadi serakah.


Tiba-tiba senyum itu menghilang seketika saat tanpa sengaja tatapan Araya menangkap sebuah keganjilan pada istrinya.


" Selainya cukup atau mau dicampur? "


Araya mengabaikan pertanyaan istrinya.


Merasa diabaikan suaminya, Sofia menyelesaikan roti buatanya dengan hanya satu rasa selai saja. Toh bertanya tak mendapatkan jawabanya. Malah rasa kesal yang ia didapatkan.


Araya masih terus memandang pada bagian yang terlihat samar dan menerka nerka. Mencari pembenaran tentang apa yang baru saja dilihatnya.


" Ini kak.... Makanlah... "


Sofia mencondongkan tubuhnya untuk menyerahkan sepiring roti panggang berselai kepada Araya.


Tiba-tiba suasana hati Araya menjadi berkabut, wajahnya kusut. Karena pada saat istri culunya itu memberikan sepiring roti dan sedikit mencondongkan tubuhnya, apa yang tadinya masih samar dimatanya kini terlihat sangat jelas.


Brengsek...!!!


Geramnya dalam hati. Ia sama sekali tak menyangka atas apa yang dilihatnya. Ingin sekali ia menyangkal bahwa tidak mungkin wanita kampung segeeky istrinya memiliki sisi lain yang rendahan seperti yang ia pikirkan. Tapi yang dilihatnya itu apa? Bukti sudah ada. Dan bukankah selama ini istrinya itu selalu pergi keluar dengan alasan ini dan itu yang tidak jelas? Bisa jadi saat itu ia hanya ingin mengelabui dirinya bukan?


Beraninya dia melakukan ini dibelakangku..!!!


Araya mengepalkan tanganya yang dibawah meja erat.


Sofia yang melihat raut wajah Araya yang aneh jadi bertanya-tanya.


Apa masalahnya begitu berat sehingga suaminya pergi minum sampai mabuk tadi malam dan terlihat murung bahkan saat hari baru saja dimulai?


Sebenarnya Sofia penasaraan dan ingin menanyakanya pada suaminya. Namun diurungkanya niat itu. Karena ia tak ingin banyak terlibat dalam kehidupan suaminya. Lagipula sudah pasti tidak akan ada jawaban dari setiap pertanyaan yang ia lontarkan.


" Urusi saja dirimu sendiri. Jangan terlalu banyak ikut campur urusan orang lain. "


Kira-kira begitulah yang akan didengarnya. Jadi ia memutuskan untuk diam dan tidak mencari tahu.


Sudahlah... yang penting tidak merugikanku.


Begitulah caranya bertahan dalam pernikahan konyol ini. Bersikap peduli akan menyulitkan dirinya sendiri suatu saat nanti. Tambah lagi hubungan mereka bisa juga menjadi runyam nantinya jika ia terlibat dalam urusan pribadi suaminya. Hanya mengamati dari jauh saja ia sudah tahu bagaimana kehidupan suaminya itu, meski belum seluruhnya. Tapi cukup paham bahwa situasinya sangat rumit. Demi apapun dia tidak akan mau hal itu terjadi. Hanya dengan bersikap masa bodohlah hari-harinya dapat terselamatkan. Begitu yang ia percayai.


Dalam diam keduanya menyantap hidangan pagi mereka sambil menyelami pikiran mereka masing-masing.


****


Dikantor Araya kembali memasang wajah dingin dan berkabut. Siapapun yang melihatnya sudah pasti tahu bahwa bos mereka sedang dalam mode Raja singa. Entah apa yang terjadi, tapi mereka akan dengan sangat sadar bahwa mereka harus menjaga jarak mereka atau akan menjadi santapan empuk kemarahan bos mereka.


Sesampainya diruangan miliknya, Araya segera memanggil Ega melalui intercom dan menyuruhnya untuk segera datang menghadap.


Hanya dalam kurun waktu lima menit Ega sudah berada didalam ruangan milik bosnya itu. Dengan membawa dua botol obat penghilang hangover.


" Selamat pagi Pak Araya. Ini obat yang anda minta tadi pagi."


Sapa Ega sopan. Kemudian memberikan botol yang tadi telah dipersiapkanya.


Sebenarnya Ega adalah salah satu sahabat Araya. Namun beda jalur dengan William. Karena Ega adalah sainganya saat masih sekolah dulu, namun kemudian saling mengakui kecerdasan masing-masing hingga Araya menariknya untuk bekerja padanya di kantornya setelah ia lulus kulyah. Apalagi saat lulus SMA dulu Ega mengatakan bahwa ia akan langsung bekerja karena kedua orangtuanya yang tidak mampu. Disitulah peran Araya sebagai rival yang menjadi malaikat penolong dimulai.


Araya sangat menyayangkan jika orang sepintar Ega harus putus pendidikanya hanya sampai jenjang SMA. Dan Araya menawarkan beasiswa untuk Ega. Dan kedepannya Ega harus menjadi salah satu karyawan di perusahaan milik keluarga Araya. Namun saat itu tiba, Ega justru memilih menjadi sekretaris Araya agar mampu menjadi orang yang berguna untuk membantu Araya dalam keadaan apapun.


"Nggak ada orang lain disini Ga... Bicara santai saja. "


Pinta Araya sebagai sahabat dan meminta merubah sikap profesional Ega menjadi lebih santai.


" Duduklah... "


Perintahnya lagi.


" Ok...!!! "


Egapun langsung duduk santai disofa ruangan itu.


" Jadi ada apa? Apa ada yang harus segera aku kerjakan Ar? "


Tanyanya to the point. Cukup lama mengenal Araya, membuatnya mampu memahami sahabatnya itu meski tanpa mengatakan sesuatu.


Araya memandang Ega dari kursi kebesaranya dengan tatapan datar. Setelah itu menghembuskan nafas frustasi. Ega yang melihatnya sampai mengerutkan dahinya, penasaran. Entah karena apa bosnya itu terlihat menyediakan saat ini.


Araya berdiri dari kursinya, kemudian mengitari meja kerjanya dan menyandarkan diri dimeja itu. Seolah ada sesuatu yang sangat penting yang akan disampaikan.


"Bagaimana jika... pasang.... an..."


Ia mekirik sebentar pada sekretarisnya.


Melihat betapa seriusnya Ega mendengarkan setiap kata yang akan keluar dari mulunya, ia malah merasa tak nyaman. Dan malah menyambungnya dengan kalimat yang kontras dari sebelumnya.


" Pasang? Pasangan maksudmu? Pasangan apa?"


" Pesan... ya pesan untuk editor...!!! Apa sudah ada kemajuan? apa pesanmu sudah dapat balasan?"


Kilah Araya, dengan kalimat yang tidak singkron.


Bodoh kenapa aku malah mau membahas yang tadi. Bisa dibully mereka nanti.


" Jelas jelas tadi kamu bilang pasangan. Akhiran katanya saja beda."


" Kupingmu bermasalah ya... Aku tadi bilang pesan editor... Bukan pasangan. "


Araya ngotot, bahwa yang dikatakanya adalah hal tentang pekerjaan dan tidak dengan hal yang lain.


Ega memberengut kesal. Apa-apaan itu, jelas sekali kalimat pertama yang dikatakan sedikit ragu itu berakhiran ngan dan bukan an. Jelas jelas yang didengarnya pertama kali tadi bukan soal editor. Namun pada akhirnya ia harus mengalah. Demi apapun ia tidak akan menang dengan sikap bossy Araya. Dimana dalam setiap percakapan ia akan mendominasi dan tidak pernah mau kalah sedikitpun.


" Masih terpantau. "


Araya diam diam merasa bersyukur. Hampir saja ia menanyakan sesuatu yang lewat jalur dari pekerjaan. Untung saja dengan cepat ia berhasil mengalihkan pertanyaanya ke hal lain. Meski dengan memaksakan.


Tidak peduli, salah sendiri jadi bawahan. Dan tugas bawahan harus mematuhi aturan dalam undang-undang ketenagakerjaan yang berbunyi.


Atasan itu selalu benar


Jika atasan melakukan kesalahan, maka kembali kepasal satu.


Intinya atasan adalah raja yang selalu harus dipatuhi.


Dan lagi hal yang ingin ia tanyakan tadi akan sangat memalukan jika orang lain benar-benar mendengarnya. Bisa turun pamornya nanti. Walaupun sejujurnya ia masih penasaran sekaligus merasa kesal. Melihat bukti itu dengan mata kepalanya sendiri, sungguh membuatnya merasa tertipu oleh sikap polos perempuan itu.


" Ya begitulah... Tapi aku dengar dalam minggu ini dia akan pulang dari luar negri. Tapi kapan tepatnya, aku juga belum mendapat kejelasan. "


" Sesibuk apa dia sampai tidak bisa ditemui? Cuma editor ini. Sombong sekali. "


" Cari tahu kapan dia kembali. Dan kamu harus bisa mengajaknya untuk bertemu dan membahas kerjasama kita. "


Sikap Araya bossy.


Araya Sudah begitu lama ingin menemui editor dari penulis Queen B. Tapi entah mengapa manusia satu itu susah sekali ditemui, itu membuat Araya merasa sangat kesal dan merasa direndahkan.


Mana saya tahu apa yang dilakukan orang itu. Buktinya dia selalu sibuk... Sial...!!!


Ega hanya mampu mengumpat dalam hati.


Saat ia masih sibuk dengan pemikiran mereka sendiri, William datang tanpa mengetuk pintu.


" Yoo... Ada apa ini? "


William menatap kedua sahabatnya bergantian.


" Aaraya aneh...! "


Bisik Ega padanya. William mengerutkan dahi mendengar penjelasan Ega yang menyampaikanya dengan nada lirih.


" Nih minum... Biar hilang hangover nya. Pasti masih kerasa kan? "


Tanpa mempedulikan Ega, William menyodorkan obat penghilang hangover pada sahabatnya yang semalam mabuk berat itu.


Ega menyikut lengan William dan menunjuk dua botol kecil dihadapan mereka. Sekedar memberi informasi bahwa ia sudah menyiapkanya. William yang melihat itu hanya merasa kecewa karena terlambat membawa obat tersebut. Dipikirnya, ia akan mendapatkan pujian karena memberikan perhatian kepada sahabatnya itu. Ternyata,


" Yaaahhh... Keduluan... Gagal dech berbuat baiq. "


Sesalnya.


Seruan William itu baru menyadarkan Araya tentang keberadaan sahabatnya itu. Melirik pada botol kecil pada genggaman William.


" Telat bro..."


Katanya, tapi tanganya mengambil botol kecil itu, membuka lalu meminumnya dengan hanya tiga kali teguk, isi botol itu sudah tandas tanpa sisa.


" Jangan lagi minum. Itu sangat tidak bagus untuk kondisimu Ar... "


Ega mengingatkan.


" Biasanya menemui klien saja kamu selalu menyuruh William agar tidak dipaksa minum sama mereka. Kenapa kemarin malah mabuk mabukan? Apa ada masalah? "


Ega menatap Araya yang hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun. Merasa diabaikan, ia mengalihkan pandanganya pada William, berusaha mencari jawaban dari pria itu.


Melihat tatapan Ega padanya, yang menyimpan penuh tanda tanya, William hanya menggedikkan bahu.


" Hanya ingin... "


Tukas Araya dengan pandangan yang menunduk ke bawah dan memainkan botol ditanganya.


" Ingat kondisimu Ar... Jangan memperburuk keadaan. "


Tidak hanya William, Ega cukup tahu seberapa buruk kesehatan sahabatnya itu. Kondisinya sangat memprihatinkan, tapi apa daya, Araya menolak untuk kembali menjalani perawatan. Mereka juga tahu bahwa Araya sudah putus asa dan menyerah. Baginya, semua hanya akan sia-sia belaka. Meski sahabatnya terus memaksa ia sudah tidak minat lagi. Hanya semakin mengecewakanya saja, pikir Araya.


" Oh iya makasih juga semalem. "


Ucap Araya yang telah mendongakkan kepalanya menatao kedua sahabatnya. Ia taj ingin melanjutkan pembicaraan soal kesehatannya yang hanya membuat dirinya merasa menjadi produk cacat.


" It's oklah... Itu gunanya temen. "


Ucap William santai seraya mengibaskan tanganya tanda bahwa itu bukanlah masalah besar. Bagaimanapun teman memang harus bisa saling membantu. Apalagi dalam keadaan sulit.


" By the way.... Tumben aku nggak dilempar dan dibiarkan sampai pagi disofa. Mana baju digantiin pula. Kamu gak menggerayangiku kan Will? "


Araya berucap sembari tertawa kecil menggoda sahabatnya.


William mengerutkan dahi mendengar apa yang dilontarkan Araya. Apanya?


Sedangkan Ega melongo tak percaya.


Sebenarnya ini hanya ke beberapa kalinya Araya mabuk. Mungkin hanya ketiga kalinya dari yang sudah sudah. Tapi dulu saat ia mabuk, William hanya akan melemparkannya diatas sofa dan meninggalkanya begitu saja. Tapi entah bagaimana kemarin Araya bangun dengan keadaan yang sangat nyaman dan telah berganti pakaian. Dan ia berfikir bahwa itu perbuatan William, meski sempat meragukanya.


" Melakukan apa? Ganti pakaian apa maksudnya?"


Sanggah William yang merasa tidak melakukan apapun.


" Stok perempuanmu habis Will? Atau kamu sudah belok? Tega teganya mencari kesempatan sama yang lemah. "


Ega menuduh tanpa dosa. Sedangkan dimata William, wajah wajah tanpa dosa itu sungguh menyebalkan.


" Singkirkan pikiran kotormu itu... Aku ini normal. Masih perkasa... Lagi pula mana ada aku repot-repot melakukan itu semua."


" Kamu jangan macam macam ini ya.. Memanfaatkan keadaan seperti itu. "


Ega terus memojokkan William.


Mendengar itu William tidak terima.


" Sumpah demi apa...! Sudah kubilang bukan aku... "


" Terus siapa? "


Ucap Ega dan Araya berbarengan. Mereka juga penasaran meski tertawa cekikikan melihat ekspresi wajah William. Entah mengapa mereka merasa kali ini sukses mengerjai si tukang jahil di antara mereka.


" Yang dirumahnya punya istri siapa? "


Araya dan Ega saling tatap. Dan beberapa detik kemudian mulai konek dengan pernyataan William. Mereka baru saja ingat jika Araya sudah menikah sekitar satu bulan. Ah bodoh... Bagaimana bisa lupa tentang keberadaan gadis culun itu di apartemen Araya. Tadi pagi juga baru saja sarapan bersama.


" Idiot... Bisa-bisanya kalian melupakan si culun itu. "


" Iya juga ya... "


Mereka belum sepenuhnya mencerna kalimat yang dilontarkan William.


Araya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Benar juga, dia sekarang sudah tinggal bersama orang lain yang dinamakan istri.


" Tunggu...!! "


Kata Ega mengagetlan kedua orang didekatnya. Araya dan William bahkan menunggu kelanjutan kalimatnya dengan tidak sabar.


" Jadi... Itu? "


Ega malah mempermainkan kalimatnya dengan memberi jeda pada kalimatnya itu.


" Itu apa? "


Sergah Araya.


" Pelaku utama yang menelanjangimu tadi malam dan memgganti pakaianmu"


Ega menyadarkan Araya.


Sedangkan William sudah tidak tahan lagi menahan tawanya. Daritadi kedua sahabatnya tidak paham maksud kalimatnya.


Ega dan Araya saling pandang. Benar juga, berarti itu Sofia. Orang yang melakukannya tadi malam.


" Mengerikan...! Si jelek itu pasti sudah menggerayangimu Ar... "


William bergidik ngeri berakting untuk memprovokasi kedua sahabatnya.


" Bayangkan tangan kecil berkuman dengan wajah jelek mupengnya penuh minat menikmati tubuhmu Ar."


Ia terlalu jauh dalam berimajinasi. Namun berhasil memperkeruh suasana yang sudah mulai menegang. Terutama bagi Araya sebagai orang yang mengalaminya.


Araya memijit pelipisnya semakin pusing.


Gila... Si culun itu beraninya menyentuhku. Sial...


Saat itu juga bayangan kejadian malam kemarin berhasil dirangkainya, terlintas jelas dikepala Araya. Dari awal sampai akhir tidak ada satupun yang terlewatkan. Matanya melotot menggambarkan saat ini ia sangat tidak ingin mempercayai apa yang baru saja diingatnya. Ia sampai menutup mulutnya yang menganga lebar setelah sadar akan sesuatu.


" Ternyata itu aku... "


Sedangkan William dan Ega menatapnya bingung.


Kenapa? Ada yang salah? Kamu ingat sudah diapakan saja?