Another me

Another me
Tak pulang



Sofia telah sampai di apartemen dimana ia tinggal sebelum menikah. Ketika masuk, suasana sepi menyambutnya. Bergegas untuk memastikan sesuatu, ia berlari kearah meja makan yang berada tak jauh dari dapur. Kedua tempat itu memang berdampingan tanpa sekat.


Mendapati seseorang duduk diam disana dengan menundukkan kepalanya membuat hatinya berdenyut, ada rasa nyeri didadanya.


Lelaki yang berada didalam apartemen miliknya itu hanya duduk diam dikursi menghadap berbagai masakan yang sepertinya sudah dingin tanpa disentuhnya. Ia sadar bahwa sudah sangat telat untuk menyantap masakan yang seharusnya dinamakan santapan siang itu.


" Sam... "


Panggilnya lirih.


Sofia melangkah perlahan mencoba lebih dekat untuk meraih lelaki itu.


Namun, lelaki itu tak bergeming.


Ditariknya kembali tanganya yang tinggal beberapa senti lagi dapat menyentuh tubuh lelaki dihadapanya. Nyalinya semakin menciut melihat lelaki itu tidak merespon panggilanya. Ia yakin sejak siang tadi lelaki itu duduk tanpa meninggalkan kursinya sama sekali. Membayangkan itu membuatnya semakin merasa bersalah telah mengingkari janjinya.


" Sam... maafkan aku. "


Perlahan Samuel mengangkat kepalanya, tersenyum, namun terlihat jelas guratan kecewa disana. Dan kini ia menegakkan punggungnya.


" Sudah pulang? "


Kembali tersenyum.


" Mari makan... "


Samuel mulai menyiapkan piring dan megambil makanan yang sudah dingin itu.


Grebb...


Sofia memeluk erat tubuh Samuel. Satu hal yang ia tahu, mengingkari janji yang dibuatnya pada sahabatnya itu adalah kesalahan terbesar baginya.


Hari ini mereka berjanji akan menikmati makan siang bersama. Samuel bilang, saat di Hongkong, neneknya mengajarkan resep makanan yang belum pernah dicicipi oleh Bella.


Demi memamerkan resep barunya, sepulang dari bandara, mereka berdua mampir berbelanja disebuah minimarket untuk membeli kekurangan bahan yang dibutuhkan, sekaligus membeli beberapa snack.


Tak terduga, saat Samuel sibuk didapur memasak, Bella justru menerima berita bahwa suaminya dibawa kekantor polisi. Melupakan janjinya pada Samuel, Bella bergegas untuk merias diri dan berdandan menjadi sosok Sofia. Kemudian melesat pergi tanpa memberitahu Samuel terlebih dahulu.


" Aku sudah kembali, maaf, lain kali... "


" Tidak ada lain kali. "


Meletakkan kembali sendok yang tadi dipegangnya. Melepaskan tangan Sofia dari tubuhnya perlahan.


Samuel meraih kacamata yang menjadi aksesoris penyamaran gadis itu. Kemudian menatap sendu netra Sofia.


" Terakhir kali kalian ingkar janji. Kalian membuatku ketakutan setengah mati. Jangan pergi tanpa pamit lagi. Dia sudah tidak mungkin kembali, jadi kamu harus tetap tinggal disini. Menemaniku... "


Sofia kembali menghambur dan memeluk erat tubuh sahabatnya. Bahkan pelukan itu lebih erat dari sebelumnya. Rasa bersalahnya semakin besar ketika bayangan kejadian suram dimasa lalu kembali teringat jelas dimatanya.


Semua itu salahku, jika bukan karena aku...


****


Samuel duduk dilantai beralaskan karpet. Bersandar pada sofa dibelakangnya. Tangan kanan Samuel tak mau melepaskan kaki kiri Bella yang sedang duduk diatas sofa tersebut. Saat ini, keduanya sedang fokus menonton film horror favorite mereka sambil memakan popcorn yang mereka beli sepulang dari bandara tadi siang.


Sekalipun Samuel selalu mengikrarkan diri sebagai tawanan ataupun budak gadis itu. Nyatanya, ia kadang bersikap seperti anak itik yang tak mau terpisah dari induknya pada Bella.


" Sam... kira-kira kalau bunuh orang pakai alumunium foil bisa gak ya? "


Bertanya tanpa berhenti memasukkan popcorn kedalam mulutnya. Adegan dalam film yang sedang ditontonya itu menayangkan seorang gadis yang sedang asyik didapur dan berkutat dengan alumunium foil untuk memanggang daging sapi segar yang masih berwarna merah. Seperti mendapat inspirasi langsung saja pikiran itu diutarakanya pada Samuel yang berada disampingnya.


" Dibungkus? masukkan ke open raksasa? kalo itu pasti mateng."


Samuel masih memfokuskan pandangannya kedepan, sama seperti Bella, mengunyah pocorn dengan rasa caramel favoritnya tanpa jeda.


" ckckckck mainstream. "


Menoleh cepat menatap Bella.


Senyum seringaian terlihat dibibir Bella.


" Jejak sayatan kecil kecil dikulit yang ditinggalkan pinggiran alumunium foil bergerigi itu terasa sangat perih hlo. "


Tertawa renyah.


" Cih... luka seperti itu tidak akan menyebabkan kematian. Cuma seperti gigitan semut saja. "


" Justru itu. Kalau luka sayatanya menyebar di seluruh tubuh rasanya pasti mengerikan. dilakukan beberapa waktu baru pake pisau... maybe..."


Tak dipungkiri binar mata Bella benar-benar menyiratkan kepuasan tersendiri saat membayangkan kejadian penyiksaan terhadap tubuh manusia.


" Psikopat gila...!!! "


" Awww...!! "


Seperti jurus andalan yang dimiliki Bella, Samuel mendapatkan jambakan dirambutnya.


" Aku sedang mencari ide buat ditulis apa kau tahu... aku nyaris gila karena otakku buntu selama beberapa minggu ini, bukanya membantu. Kalo bukunya laku kamu juga yang untung besar. "


Kesalnya... dan menarik rambut Samuel lebih keras.


" Aw... ampun... ampun... nek... cucumu bisa botak nanti... kalau tidak laku bagaimana? "


" Nanti nenek carikan cucu menantu dipasar senen. "


Balasnya.


Lanjutnya lagi.


Tentu mudah bagi Bella menarik uang dari saku Samuel. Kartu kredit maupun debit, semua password telah dihafalnya.


" No... no no no... kalo kamu nggak nulis aku nggak punya kerjaan. "


Yang sebenarnya berarti.


' Kamu gak nulis, aku harus menghidupimu sampai aku jatuh miskin. No way...! '


Samuel menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Membayangkan bagaimana ia harus bekerja banting tulang dan melihat Bella, gadis itu hanya bersenang-senang untuk mengosongkan kartu debit dan kartu kreditnya, ia tak sanggup.


Memanyunkan bibir, memohon dengan memasang muka puppy eyes nya. Berakting semanis mungkin untuk melukuhkan hati nenek sihir yang masih setia menjambak rambutnya.


Bella yang tidak tahan akhirnya tertawa.


Memasang wajah imut sedikit memelas berhasil membuatnya terlepas dari wanita ganas dihadapanya.


" Kamu buruk dalam berakting. Yang ada aku makin gemas untuk mengulitimu. ahahahahah... "


Mencubit gemas kedua sisi pipi Samuel, yang memang terlihat berisi.


Rambut selamat. pipi kiamat... huh...


Samuel hanya bisa pasrah.


Sadar akan sesuatu.


" Eh... sepertinya ini sudah terlalu malam. Sudah waktunya aku kembali ke apartemen Araya Sam. "


Bella mengatakanya setelah sebelumnya melirik jam dinding di depan mereka. Tepatnya berada diatas televisi yang mereka pandangi hampir selama satu jam itu.


Samuel refleks ikut melirik jam dinding itu. Sambil merapikan rambut dan sedikit mengelus pipinya yang masih perih karena cubitan sadis tangan sahabatnya.


Benar saja, sudah pukul sembilan. Waktu yang cukup larut untuk pergi keluar rumah bagi mereka berdua yang menerapkan jam malam dalam keseharian mereka. Samuel dan Bella memang tidak pernah berada diluar rumah saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kecuali, memang mereka berdua ada urusan tertentu yang tidak bisa ditinggalkan.


Bella beranjak dari duduknya. Segera akan melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya. Namun, terhenti bahkan sebelum langkah pertama diambilnya. Melirik kebawah, dimana kedua tangan Samuel memeluk erat kedua kakinya.


" Lepas Sam... apaan sih... "


Bukanya melepaskan pelukanya di kaki Bella. Samuel justru mengeratkan tangannya disana. Samuel yang masih merasa kesal karena ditinggalkan berjam-jam oleh Bella tanpa pamit sehingga melewatkan makan siangnya tidak akan membiarkan gadis itu pergi tanpa memberikan kompensasi.


Dengan lantang ia mengatakan bahwa dirinya tak mengijinkan Bella pulang ke tempat suaminya itu. Sebagai hukuman atas perbuatannya yang ingkar janji. Bella harus menemaninya menginap diapartmen itu.


" Tapi dia bisa curiga kalau aku tidak pulang kesana. Dia kan tahunya aku tidak kenal siapapun disini. Hanya gadis kampung dan udis. "


Samuel bersikap tidak peduli.


" Katakan saja menginap di hotel. Atau teman yang kamu kenal semenjak kamu pindah disini. gampang kan... "


Jawabnya... enteng...


Bahkan terlihat sekali Samuel mengatakanya tanpa beban.


" Ayolah Sam... kenapa juga aku harus menginap dihotel. Dia akan semakin curiga. "


" I... DON'T... CARE...!! "


Menekankan kalimatnya kata perkata.


"kalo kamu pulang.Aku bakal ngikutin kamu samow apartemen suamimu.Sekalian aku nginep disana"


" Gila... "


Bella menyerah.


Lagipula memang salahnya sendiri yang mengingkari janjinya. Toh dirinya tidak pernah bertegur sapa dengan suaminya. Selain sapaan selamat pagi dan selamat malam. Dan lagi, tidak pernah ada interaksi antar keduanya. Selama ini juga, saat berada dirumah mereka selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Bella dengan novel-novelnya. Dan entah apa yang dilakukan suaminya saat dirumah. Yang jelas selalu tak terlihat bersantai sedikitpun.


Dan akhirnya, mereka berdua melanjutkan sesi menonton film horor yang disukai mereka. Bellapun tak berinisiatif untuk menghubungi Araya. Mengingat perkataan suaminya waktu itu, bahwa dia tidak peduli apapun yang ia lakukan, yang jelas jangan menyusahkanya, hanya itu, jadi membuatnya enggan untuk hanya mengirim pesan.


Lagipula dia tidak akan peduli aku pulang atau tidak. Saat di apartemen saja bersikap seolah aku tak ada.


Pikirnya.


****


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, Araya belum juga mampu memejamkan matanya. Padahal, ia sudah menyelesaikan segala urusanya. Termasuk memeriksa laporan yang akan digunakanya untuk bahan rapat keesokan harinya. Makan malam juga sudah disantapnya sampai sangat kenyang.


Entah mengapa ia terus kepikiran dengan Sofia. Padahal, tadinya ia merasa biasa saja. Malah sedikit bersyukur karena bisa menenangkan diri dari semua kesialan yang didapatkanya seharian ini. Dijuteki pacar dan dimasukkan penjara oleh polisi. Tertahan beberapa jam disana.


Namun ketika melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan belum juga ada tanda-tanda istrinya pulang, ia mulai gelisah. Baginya, istrinya itu tak hanya kampungan. Tapi juga sangat polos dan tida memiliki pengalaman apapun didunia luar.


Jika sampai terjadi sesuatu pada Sofia. Akan berakhir buruk karena kedua keluarga pasti akan menyalahkanya.


Tidak biasanya gadis itu keluyuran sampai selarut itu. Bahkan, selama ini selalu sudah berada dirumah sebelum dirinya pulang dari kantor. Dan itu sukses membuatnya tidak bisa sedikitpun memejamkan mata.


Sempat juga ia menghubungi ponsel istrinya. Dan tak satupun dari teleponya tersambung. Karena hanya hawaban dari operator yang didapatkanya.


Apa dia semarah itu sampai tidak pulang padahal ini sudah sangat larut? Gadis bodoh itu. Jangan sampai aku mendapatkan masalah gara-gara dia.


" Ya Tuhan... kemana anak itu. Apa aku harus mencarinya juga? tidak tidak... nanti dia ke geeran jika tahu aku mengkhawatirkannya. "


Araya mondar mandir didalam kamarnya. Bingung akan langkah apa yang hatus diambilnya.


" Ah sudahlah biarkan saja. Memangnya apa urusanya denganku. "