
Sofia berjalan mengekori Araya. Suaminya itu bilang untuk sementara mereka akan tinggal di apartemen milik Araya. Baru setelah renovasi rumah hadiah pernikahan dari orangtua Araya selesai mereka akan pindah kesana.
Mulai hari ini mereka akan memulai hidup baru sebagai sepasang suami-istri.
Langkah Sofia terseok menyeret barang barang bawaanya menuju ke dalam apartemen itu. Sungguh sial bukan? Punya suami sedingin salju kutub utara. Menatap tanpa ekspresi pada istrinya yang kesusahan membawa barang bawaan dari kampung halamannya. Tanpa memberi sedikitpun simpati apalagi bantuan.
"Sudah kubilang tidak perlu membawa barang sebanyak itu. Bahkan di kota ini banyak yang lebih bagus dari barang barang rongsokanmu itu. "
Oh ayolaah kau boleh tidak bersimpati padaku tidak pula perlu membantuku tapi jangan pernah mengatakan ini barang rongsokan.
"Aku membelinya dengan uang hasil kerjaku di toko buku. Sayang jika harus ditinggal. "
"Ck... "
Araya menghempaskan tubuhnya kesofa didekatnya. Menunjuk pada sebuah ruangan dan mengatakan bahwa itu kamar untuk Sofia tempati. Dalam diam Araya mengamati gerak-gerik Sofia. Kasihan sebenarnya, tapi ia tidak boleh bersikap baik dan memberi perhatian pada gadis itu. Ia tak mau terlibat dalam kesusahan jika nanti gadis itu berulah dengan mulai memiliki perasaan terhadapnya. Maka ia membiarkan saja dirinya untuk bersikap acuh pada Sofia.
****
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu kamar Sofia terdengar nyaring ditelinganya. Sudah pasti itu adalah Araya. Siapa lagi? Mereka hanya tinggal berdua saja di apartemen itu bukan?
"Aku akan pergi keluar... Jadi urus sendiri makan malammu. "
Begitu ucapan Araya terdengar saat pintu kamar Sofia baru saja terbuka. Sofia hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. Tak ingin bertanya kenapa dan kemana suaminya.
Tidak perlu, begitu pikirnya. Ia tidak akan terlalu baik pada suaminya itu. Tidak untuk berteman ataupun lainya. Cukup rekan bisnis untuk pernikahan palsu mereka tak boleh lebih. Ia tak mau direpotkan dengan perasaan tak penting. Itu akan menghambat dirinya.
Kruyyyuk...
Belum juga menutup pintu kamar, suara cacing diperut Sofia yang berdemo minta asupan gizi terdengar. Iapun berjalan menuju dapur sesuai yang diarahkan Araya tadi. Seperti kedatangan pembantu baru dari kampung, Araya menjelaskan bagaimana keadaan apartment ini. Tata letak dan dapur beserta isinya Tak lupa mengajarinya untuk menggunakan alat-alat dapur yang terlihat canggih di tempat itu. Bukan... Sama sekali bukan bentuk dari sebuah perhatian. Lebih tepatnya Araya tak ingin apartemen miliknya terbakah habis karena keudisan istrinya.
Dimata Araya, gadis kampung mana tau barang barang mewah seperti miliknya.
Dan Sofia mengekor memperhatikan semua perkataan Araya. Tanpa banyak bertanya, karena sesungguhnya ia bukan gadis bodoh yang tak tau apa-apa. Tapi biarlah begitu saja. Membiarkan mereka menganggap ia kampungan dan tidak tau apa-apa. Itu akan lebih mudah baginya.
Sofia memandang masam pada benda seperti almari namun dapat menampung banyak makanan didalamnya. Bagaimana menyebalkanya si Araya itu. Tidak ada bahan makanan yang bisa dibuatnya untuk mengenyangkan perutnya. Hanya ada beberapa minuman bersoda dan air mineral disana. Kesal ia dibuatnya. Memang ia akan kenyang hanya dengan meneguk minuman bersoda itu?
"Dasar es batu...!!!! "
Dan terpaksa ia harus keluar mencari makan untuk mengisi perutnya. Tak lupa mampir berbelanja kebutuhan dapur untuk persiapan membuat sarapan pagi.
****
Araya meneguk tenang red wine ditanganya. Tatapanya belum juga teralih dari wanita dihadapanya. Wanita cantik itu baru saja kembali dari luar negeri, setelah dua tahun lamanya meninggalkanya. Wanita cantik ini adalah kekasih sekaligus cinta pertama Araya.
"Aku sangat merindukanmu sayang... "
Wanita itu memegang erat jemari Araya. Menyalurkan kerinduan yang tak terbendung. Ya sudah dua tahun mereka tak bertemu. Berkomunikasi pun hanya beberapa kali dalam sebulan. Bukan soal seberapa jauh hingga tak bisa dicapai. Namun kesibukan keduanya yang tidak bisa diabaikan.
"Aku juga sangat merindukanmu Mila... "
Araya tersenyum tulus dan membalas genggaman tangan Mila. Mila adalah seorang model cantik yang sudah go international. Selama dua tahun diluar negri ia memutuskan kembali untuk melebarkan prestasinya ke dunia akting. Jiwa keartisanya tidak perlu diragukan lagi. Siapa yang tak mengenal dirinya? Model papan atas yang mendapatkan kontrak kerja dengan brand ternama dari Paris. Bahkan prestasi yang ditorehkanya membawa nama negaranya di ajang kecantikan internasional.
"Kapan kau akan membawaku bertemu keluargamu?"
"Bukankah Semua orang tahu bahwa kita sepasang kekasih? Dan tak terkecuali keluargaku... "
Araya mengusap lembut jemari Mila kekasihnya. Kabar pernikanya dengan Bella memang tak terendus publik karena pernikahan itu dilaksanakan dengan tertutup dan hanya dihadiri kerabat kedua keluarga saja.
Namun sebenarnya Mila telah mengetahuinya dari sepupu jauh Araya yang notabene teman baik Mila. Dan itulah mengapa Mila memutuskan untuk segera kembali dan merebut kembali kekasihnya.
Mila tahu pernikahan itu tak di dasari dengan cinta. Mila juga tau mereka dijodohkan. Semua itu juga salahnya sendiri yang memilih karir daripada Araya. Orangtua Araya awalnya sangat mendukung hubungan mereka dan ingin segera melihat mereka menikah.Meski Araya menolak untuk berkomitmen namun ia akan tetap menikahinya jika itu keinginan keluarganya. Sayangnya ia terlalu egois untuk mendapatkan kontrak bergengsi dengan perusahaan ternama di Paris.Dan kini ia menyesalinya... Kebodohanya meninggalkan Araya.
Hingga beberapa waktu lalu ia mendapatkan kabar pernikahan Araya. Itu membuatnya kelabakan karena kehilangan kesempatan menjadi nyonya dikeluarga Santoso. Namun ia tau betul sebesar apa cinta Araya kepadanya. Araya tidak akan pernah bisa kehilanganya. Maka ia tidak akan segan merebut Araya dari istrinya. Hal yang mudah baginya.
"Tapi aku tak sabar menyandang nama nyonya Santoso sayang. Mila Santoso... Bukankah itu terdengar sangat merdu sayang... "
Mila memang pandai bertutur kata yang lembut membuat Araya luluh.
"Aku akan menuruti semua keinginanmu... Tapi kau tau kan aku tidak ingin menikah dan terikat seperti itu sayang. "
Inilah yang membuat Mila kesal. Meski cintanya begitu besar pada kekasihnya tapi Araya enggan memberikan status sebagai istrinya. Daridulu seperti itu, hanya dengan desakan orangtua Arayalah dulu ia sampai hampir bertunangan dengan Araya. Tapi lagi-lagi itu atas kebodohanya sendiri. Ia melepaskan kesempatan itu. Araya selalu mengatakan bahwa ia sangat mencintainya dan akan menuruti semua keinginanya. Namun tak akan pernah menikahinya.
"Kau tidak mau menikahiku tapi menikahi gadis buruk rupa itu... Apa kau pikir aku tidak tahu ha? "
Inilah yang ditakutkan Araya. Serapat apapun pernikahanya, tidak mudah menutupinya dari Mila, kekasih hatinya. Dan sekarang wanita dihadapanya ini akan marah drngan keputusannya menikahi Sofia. Meski itu hanya pernikahan palsu. Ia sangat tau itu akan melukai hati kekasihnya. Dan ia sungguh merasa bersalah.
"Dengarkan aku sayang... Kau tau kan bagaimana keluargaku? Sebenarnya kami telah dijodohkan sejak kami masih kecil. Aku hanya milikmu, Kakek yang mengatur semuanya, kami hanya akan bertahan sebentar dan bercerai. Kau percaya padaku kan? "
Araya mengeratkan kembali genggamanya di jemari Mila. Mila mengangguk tanda percaya. Mila tau betul hati Araya hanya untuknya meski enggan menikahinya. Entah apa penyebabnya, pria yang menjadi kekasihnya ini begitu enggan berkomitmen dengan sebuah pernikahan. Tapi Mila sangat bangga setidaknya ialah wanita pertama dan yakin menjadi satu-satunya yang mendapatkan cinta Araya. Lagipula mereka hanya menikah untuk bercerai. Dan setelah itu ia pasti akan dengan mudah membuat pria itu menikahinya. Bukankah dulu sudah hampir bertunangan dan akan segera menikah? maka setelah perceraian Mila akan membuat pria itu kembali padanya.
****
"Masuklah sayang... Ini sudah terlalu larut... "
Araya perlahan melepaskan pelukannya dari Mila kekasihnya. Mila menuruti perintah Araya. Lagipula besok ia ada konferensi pers menyangkut dengan kembalinya ketanah air dengan tiba-tiba itu. Ia akan mengumumkan bahwa ia akan merambah ke dunia akting sesuai yang ia katakan kepada Araya. Tentu saja dengan dukungan Araya dibelakangnya.
"Besok selesai dengan konferensi pers aku akan datang ke kantor dan kita makan siang bersama gimana? "
Pinta Mila dengan sangat manja. Tingkah lakunya yang lembut itulah yang bisa menaklukkan pria dingin disampingnya. Pria ini butuh kelembutan dan ketulusan.
Setidaknya Mila merasa Ia telah berhasil menguasainya selama ini. Cukup selangkah lagi untuk mencapai posisinya sebagai nyonya dikeluarga Araya. Ia tak kan begitu saja menyianyiakan tiga tahun usahanya.
"Tentu saja sayang... Datanglah ke kantor setelah urusanmu selesai. Aku akan dangat senang melewati hari-hari bersamamu. "
Araya mengecup singkat bibir Mila. Tidak ada lumatan tidak ada nafsu. Kecupan tulus seperti yang sudah sudah. Tidak pernah menuntut lebih.
Cup...
Kini giliran Mila yang memberinya kecupan lembut dengan bibir ranum miliknya. Kecupan sesingkat yang Araya berikan padanya.
Namun setelahnya ia kembali menyentuh bibir seksi Araya dengan bibirnya. Melumatnya dengan sangat lembut. Kemudian lumatan itu semakin menuntut dan sedikit kasar mendamba. Araya memang membalasnya namun tak begitu dalam seperti yang dilakukan Mila.
Dalam hubungan tiga tahun mereka Araya memang hanya melakukan skinship ringan seperti berpelukan dan kecupan ringan dikening maupun dibibirnya. Meskipun sesekali berciuman panas itupun Mila yang selalu memulainya. Sedangkan Araya hanya menerima dan menikmatinya tanpa balasan berarti.
"Tak ingin mampir? Menginaplah... Aku masih enggan berpisah denganmu. "
Mila menatap penuh harap pada Araya. Untuk merebut Araya dari istrinya, ia harus benar-benar nemilikinya. Maka dengan mudah rencananya akan berjalan dengan lancar.
Melihat Araya diam Mila semakin memberanikan dirinya. Tak apa jika tak ingin menginap, toh ia bisa melakukanya didalam mobil. Mila bergerak mendekati Araya merangkak naik kepangkuan Araya. Araya masih diam tak bergeming. Tangan Mila kini mulai nakal, meraba dada bidang Araya sedangkan bagian bawahnya sengaja bergerak menggoda.
Ini bukan pertama kalinya ia menggoda Araya. Namun belum pernah ia berhasil. Entah kegagalan itu dari ponsel yang berbunyi. Seseorang yang datang menghadap Araya untuk urusan pekerjaan. Bahkan pernah saat ia pura-pura mabuk untuk menjerat Araya. Saat ia dan Araya berada didalam kamar dan Mila telah sengaja melepaskan gaunya, tiba-tiba managernya datang karena memang mereka sering saling menginap ditempat masing-masing.
Kesialan bertubi-tubi bagi Mila memang. Dan saat ini ia pastikan tidak akan mengalami kegagalan lagi. Araya adalah miliknya bagaimanapun setatusnya sekarang. Selamanya Araya harus berada dalam genggamanya.
"Hentikan sayang... Kau harus segera beristirahat... "
"Aku sungguh menginginkamu Araya... Mengapa kau tidak pernah mau menyentuhku? Apa kau tak mencintaiku ha? "
Ia sengaja merengek untuk meluluhkan hati Araya. Itu adalah cara termudah yang mampu membuat Araya takluk padanya.
"Tidak sayang... Aku sangat mencintaimu... Jadi singkirkan pikiran burukmu itu. Tidak ada wanita lain selain dirimu sayang... Aku hanya tak ingin merendahkanmu seperti ini. Kamu adalah wanita yang sangat terhormat dimataku. Jadi berhentilah dan masuklah. "
Mila tak menyerah. Ia mulai menciumi wajah Araya. Mulai dari kening mata pipi hidung dan turun untuk ******* bibir Araya. Tanganya terus menggerayangi tubuh Araya yang telah terbuka akibat ulah Mila yang diam-diam melepas satu persatu kancing kemejanya.
Bagian bawahnya pun tak henti bergerak sensual. Lumatan dibibir Araya ia lepaskan berganti dengan hisapan dan gigitan dileher Araya. Sesekali ia mendesah mengundang sentuhan Araya.
Tangan kirinya meraih tangan kanan Araya dan meletakkanya di gundukan kenyal didadanya. Gundukan kenyal itu telah menegang karena aliran nafsu. Dengan begitu berani Mila menuntun tangan Araya meremas lembut Benda kenyal miliknya. Sekali lagi desahan Mila lolos dari bibirnya.
Mila yang tadinya memejamkan mata menikmati hasratnya yang mulai menggila tiba-tiba terhenti ketika Araya mencengkeram kedua tanganya hingga ia tak berkutik.
Mila tersenyum puas melihat wajah Araya yang mulai memerah. Ia pikir saat ini Araya sedang terbakar nafsu.
Lihatlah wajahmu yang begitu mendambaku itu saya.
Hingga sentakan tubuhnya yang terangkat dan dipindah ke tempat duduknya yang semula membuatnya kebingungan.
"Masuklah dan beristirahat... Kita akan makan siang bersama besok... "
Mila sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Araya menolaknya? Lagi? Penolakan yang sudah kesekian kalinya. Mila sangat kesal dengan sikap Araya yang belum berubah. Apa kurangnya dia selama ini? Cantik, seksi, model terkenal, pintar... Semuanya ia miliki.
Lalu mengapa Araya masih tak mau menyentuhnya?
Mila keluar dari mobil sport Araya. Membanting kasar pintu mobil kemudian berlalu pergi membawa amarahnya. Araya hanya terdiam menatap punggung Mila yang semakin menghilang. Tanpa berusaha meredakan amarah kekasihnya. Besok saat makan siang ia akan meredakan amarah kekasihnya dengan membelikanya barang barang-barang mewah kesukaanya. Seperti biasanya wanita itu akan luluh dengan berbelanja sampai menguras habis uang Araya. Namun karena begitu mencintai kekasihnya Araya tak pernah mempermasalahkan itu. Uang tak jadi masalah baginya. Asal kekasihnya itu bahagia sudah cukup baginya.
****
Araya sampai di apartemen miliknya. Ini pertama kalinya ia pulang dengan keadaan lampu apartemenya menyala. Tanpa sadar ia tersenyum sendiri.
"Ternyata aku bisa juga menikah... Meskipun hanya pernikahan palsu... "
Ia bergegas menuju kamar miliknya. Lagi-lagi ia dikejutkan dengan keadaan lampu kamar yang menyala. Bahkan tak hanya itu, ia melihat baju ganti tergeletak di atas kasurnya. Sofiakah yang menyiapkanya? Sekali lagi senyum itu terbit. Ia mengingat kembali perkataan ibunya.
"Menikahlah sehingga mama tidak perlu lagi menyiapkan segala keperluanmu... Akan ada teman berbagi kamar... Teman tidur teman ngobrol... Yang bahkan bisa menyuapimu saat kau sakit dan susah makan. "
Arbella...
Aku rasa dia cukup berguna.