Another me

Another me
Kesal



Sofia sudah berkutat didapur untuk menyiapkan sarapan pagi, tentu saja untuk dirinya dan juga suaminya. Meski terjadi pertengkaran kemarin malam. Tapi ia sadar bahwa mereka bukanlah anak kecil yang harus saling mendiamkan apapun masalahnya. Lagipula mereka tinggal bersama dan makan dimeja yang sama. Sangat tidak nyaman jika harus tak bertegur sapa, meski sebelumnya memang tak memiliki banyak interaksi satu sama lain. Tapi tetap saja situasi itu lebih tak nyaman saat saling tak menganggap setelah pertengkaran.


Maka dari itu Sofia berusaha memperbaiki apa yang salah dihari kemarin. Ia sendiri merasa sedikit bersalah atas sikapnya yang tak terkendali itu. Memang tak seharusnya ia semarah itu pada Araya hanya karena pria itu tanpa seijinya memasuki kamarnya.


Jadi ia berinisiatif untuk meminta maaf terlebih dahulu. Lagipula ia harus menjaga kesepakatan mereka sampai waktu perceraian tiba. Ya walaupun tak dapat dipungkiri bahwa Sofia akan sangat bahagia bila mendapatkan kesempatan untuk diceraikan suami bohonganya itu lebih cepat lagi. Karena ia bisa terbebas dari drama yang menggelikan ini.


Dan hari ini ia memang sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Sebelumnya ia sempat menyelinap ke kamar Araya dan menyiapkan setelan kantor untuk Araya kenakan. Tak lupa dengan dasi juga sepatunya. Baru kemudian turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Sejak awal mereka tinggal bersama, Sofia memang berusaha membiasakan diri dengan peranya sebagai seorang istri, ya tentu saja sesuai dengan apa yang telah mereka sepakati sebelumnya. Lagipula sebelum mulai pindah ke apartemen Araya, ibu mertuanyapun sempat memberi beberapa wejangan dan membocorkan beberapa kebiasaan anak laki-lakinya agar Sofia lebih mudah dalam menjalankan peranya sebagai seorang istri.


Tidak buruk baginya, toh ia memang harus belajar menjadi istri yang baik, yaa anggap saja saat ini kelas prakteknya. Sebelum suatu hari nanti ia benar-benar menikah dengan pria yang ia cintai, setelah bercerai dari Araya tentunya.


Begitu pikirnya.


Pagi ini Sofia kembali membuat salad dengan dressing hasil racikanya sendiri. Araya selalu memakanya sampai tak tersisa. Itu berarti suaminya itu sangat suka salad buatanya. Setelah mengetahui itu, salad menjadi menu wajib saat sarapan. Ia juga membuat sup telur tomat dan ikan yang disteam ala chinese cuisine (masakan cina) sebagai menu sarapan pagi ini. Berteman dengan Sam dan bergaul dengan keluarganya membuatnya memiliki keahlian dibidang mengolah makanan cina yang diajarkan keluarga Sam yang memiliki darah Tionghoa. Jadi ia juga sering membuat makanan itu untuk mengisi perutnya ketika dulu masih tinggal sendiri.


Dirasa semua telah siap iapun segera menuju kamar Araya untuk memberitaukan bahwa sarapan telah siap.


****


Araya sudah menyelesaikan ritual mandinya. Iapun bergegas untuk mengambil setelan kerjanya yang berada di almari di dalam ruang ganti. Saat sampai didalam ruangan kecil didalam kamar itu, ia tercengang.


Apa itu perbuatan si culun?


" Cih... Tadi malam berani membentakku pagi ini sudah menyiapkan pakaian untukku. Apa dia berusaha merayuku? setelah membentakku tadi malam...? Hah... Jangan harap! dia pikir aku ini mudah? Akan aku perlihatkan siapa yang berkuasa disini. "


Ia berjalan menuju almari untuk mengambil setelan yang baru. Ia masih sangat kesal dengan sikap Sofia. Jadi ia akan menunjukkan sikap penolakan secara terang-terangan.


Namun, baru sampai pada pegangan pintu almari Araya berhenti sejenak. Kemudian berbalik menatap setelan kerja di hadapanya.


Terlihat berfikir sejenak. Entah dengan alasan apa ia urungkan niatnya mengambil setelan kerja yang baru dari almari.


Dan pada akhirnya, kembali berbalik, dan meraih setelan yang tadi disiapkan Sofia.


" Dariapa ambil baru trus balikin yang sudah diluar nanti jadi kotor semua. Dan harus dicuci lagi. Nanti boros air dan detergent... Baiklah pakai saja. "


Itulah alasan yang araya ucapkan pada dirinya sendiri. Seolah membenarkan perbuatanya.


Araya sudah bertekad bahwa ia akan mengabaikan semua yang Sofia lakukan demi menjaga harga dirinya. Ia akan menunjukkan pada Sofia bahwa dialah sang pemilik dan Sofia hanya pengontrak tidak tahu diri di apartemen itu. Dan ia berjanji bahwa ia tidak akan kalah begitu saja.


Tapi untuk kali ini adalah pengecualian demi saving biaya rumahtangga. Alasan itulah yang dipakainya. Tidak logis bagi orang sekaya dia memang. Tapi begitulah yang diyakininya saat ini.


Ok untuk masalah pakaian, anggap saja sebuah toleransi. Jadi ak akan tetap memakainya. Demi menghemat pengeluaran. Ya demi menghemat... pe-nge-lu-a-ran.


Tok tok tok...


Saat Araya masih sibuk mengenakan dasinya tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar.


" Kak Araya sudah bangun? "


Tidak ada jawaban.


Tok tok tok...


" Kak Aray... Aku masuk ya...? "


Masih tidak ada jawaban. Akhirnya Sofia membuka pintu kamar Araya karena berfikir bahwa suaminya itu belum bangun dan juga bersiap-siap. Namun saat ia sedang berusaha memutar knop pintu, pintu itu telah lebih dulu dibuka dari dalam.


Sofia sempat terkaget-kaget karena gerakan pintu yang terbuka tiba-tiba. Namun, setelahnya ia dengan cepat tersenyum manis.


Sedangkan Araya sendiri masih berdiri menatap Sofia dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


" Selamat pagi kak Aray"


Sambut Sofia dengan masih mempertahankan senyum terbaiknya.


Lihat dia... Sudah kembali memanggilku dengan sebutan kak? Tidak seperti tadi malam yang memanggilku tuan dengan nada yang ditekankan seolah benar-benar memberi jarak antara dua orang asing. Dasar rubah...


Araya tidak bergeming. Ia masih setia dengan wajah datarnya. Padahal ia sedang sangat kesal dan menggerutu dalam hati.


" Sarapanya sudah siap kak, mari kita sarapan. "


Ajak Sofia pada Araya.


Masih juga tidak ada jawaban dari Araya.


Ya Tuhan... Apa dia sedang berlatih menjadi robot? Tidak bergerak dan tidak bersuara. Dasar manusia Aneh...


Sofiapun hanya bisa membatin atas sikap Araya.


Lalu Sofia lebih dulu melangkah menuju ruang makan tanpa menunggu jawaban dari Araya. Semakin lama berhadapan dengan manusia batu seperti Araya hanya akan membuat dirinya lepas kendali lagi. Dan ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.


Semua telah siap dimeja makan. Dan ia kini tengah membuat susu coklat untuk Araya. Saat ia sedang membawa nampan dengan dua cangkir coklatnya, saat itu juga ia melihat sosok Araya berjalan ke arah ruang makan dimana dirinya berada.


Sofia pun tersenyum manis dan kembali menyambutnya.


" Selamat pagi... Aku sudah menyiapkan sarapan yang lezat... "


Sofia masih berusaha mengajak suaminya berinteraksi. Namun...


Lagi... Lagi...


Araya menatap Sofia datar tanpa menjawab salamnya. Iapun melangkah mendekati ruang makan. Tapi ia terus saja melangkah dan melewati meja makan dengan segala makanan yang telah disiapkan Sofia.


Sofia sampai melongo menatap kepergian Araya dengan sikap kekanakanya itu. Bukankah sesama orang dewasa akan melakukan perundingan jika ada masalah? Bukan malah ngambek seperti anak TK yang tidak diperbolehkan membeli jajanan sembarangan dipinggir jalan?


" Waaah sseehhh... Apa apaan itu? Apa dia marah? Dia benar-benar marah? Sulit dipercaya... hah..."


Sofia sedikit menggebrak meja sesaat setelah terdengar bunyi pintu apartemen tertutup.


Sofia sangat kesal dengan sikap Araya tadi. Oh please... Dia sungguh merasa sedang berhadapan dengan anak dibawah umur yang labil.


Sofia melepas celemeknya dengan kasar dan membantingnya kelantai. Berkacak pinggang dengan masih komat kamit menyumpah serapahi Araya.


****


Sesampainya dikantor, Araya terlihat sangat kesal. Bahkan pintu dan sofa ruanganya tak luput dari amukan Araya.


" Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu? Setelah berani menunjukkan taring menantangku? "


Brakk...


Kini meja kerja Araya yang mendapatkan giliran. Entah mengapa melihat sikap Sofia yang sok manis dan penurut itu membuatnya sangat kesal, setelah tadi malam memperlihatkan sikap kurang ajarnya pada Araya. Seolah dia lupa kejadian malam sebelumnya.


William membuka pintu ruangan Araya tepat saat meja itu digebrak oleh tangan Araya. Ia yang datang tanpa tahu situasipun kaget karena melihat tingkah Araya yang sudah merah padam bersama emosinya sepagi itu.


" What happen ma bro? Mentari begitu cerah... Kenapa kamu sudah seperti mau menelan orang hidup hidup? Ada masalah? "


Cerocos William karena bingung apa yang membuat sahabatnya itu sudah menunjukkan tanduknya sepagi ini.


Araya masih mengepalkan tanganya diatas meja. Mengepalnya erat hingga terlihat kuku-kuku miliknya semakin memutih.


" Kau tau kan bentukanya si ayam kampung? "


" Ya tentu saja. Culun,kampungan, berambut keriting ombak selokan. Seperti upik abu, sama sekali nggak modern. "


" Betul... Persis sekali. "


" Apa kau bakal percaya jika aku bilang si ayam kampung itu berani bersikap buruk padaku tadi malam? "


" Omaigat!!! Memangnya dia melakukan apa? Apa dia merayumu? Atau berbuat tak senonoh padamu? "


Tanya William antusias.


William terkekeh-kekeh.


" Jaga ucapanmu Will... Kau pikir aku sama sepertimu yang suka gonta ganti sarang ha? "


Bentak Araya tak terima dengan tuduhan yang dilontarkan sahabatnya.


"Ya jelas beda... Kan punyaku petualang... Sedang punya situ pertapa dari gua hantu??? "


William terkikik geli sendiri dengan perkataan yang diucapkanya. Ia bahkan lupa bahwa pembicaraan macam itu adalah sebuah larangan tidak tertulis didepan sahabatnya.


"Williaaaaamm... "


Geram Araya yang kemudian berdiri dan berjalan untuk menghampiri William. Dengan cepat ia mencengkeram kerah kemeja William.


" Ok ok... I'm just kidding ma bro... "


Ucap William sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman Araya. Yang juga merasa bersalah atas apa yang ia ucapkan secara tak sadar tadi.


" It's not a joke bro...!! And absolutely not funny"


Jawab Araya sambil melempar kerah baju William kasar. William pun segera merapikan kerah bajunya yang sedikit kusut atas ulah Araya tadi. Sedangkan Araya sudah duduk bersandar disofa dengan masih diselimuti kabut hitam.


" Kau membuat bajuku kusut bung... Lihat... Bisa berkurang wibawaku di depan para karyawan nanti...! "


Tidak ada respon dari Araya.


" Mm... sorry soal yang aku ucapkan tadi... itu murni keceplosan. "


Jelas William.


" Diam Will... Atau aku lempar kebawah. "


William cemberut dan memonyong monyongkan bibirnya menggerutu. Sebab sahabatnya itu tidak pernah berubah dan tidak pernah memiliki ide lain dalam mengancamnya. Meski begitu ia tetap saja merasa kesal.


Araya duduk sambil memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya disana.


William mengikutinya duduk disana.


" Jadi? Si culun itu benar-benar bisa bersikap kasar sampai membuatmu begitu marah pagi-pagi begini? Sulit dipercaya."


" Si ayam kampung...! "


Jawab Araya dengan masih memejamkan matanya.


" Hah? iya iya... Si ayam kampung."


William memutar bola matanya jengah. menggeleng-gelengkan kepala karena Araya mengoreksi panggilan untuk Sofia dengan nada jengkel. Baru kali ini ia melihat sahabatnya bersikap begitu kekanakan.


" Si ayam kampung itu marah dan membentakku. "


William mengerutkan keningnya. Apa benar-benar terjadi sesuatu?


" Dengar Will ini bukan seperti yang kau pikirkan. "


Ungkap Araya seolah mengerti arti tatapan sahabatnya. Ia tahu apa yang ada dipikiran William. Pasti ia berfikir ke hal-hal yang mesum.


" Memangnya apa yang kupikirkan. "


Ucap William dengan senyum anehnya.


" Ck...Kau kira aku tak tahu isi kepalamu itu. "


" Well... Lalu apa yang terjadi sampai dia itu berani padamu. Pasti sesuatu yang fatal!"


Fatal apanya.. Hanya karena aku masuk kamarnya dan melihat lihat saja...


" Dia marah hanya karena aku masuk kamarnya tanpa ijin. "


William membelalakkan mata tak percaya. Pertama mendengar bahwa Sofia benar-benar berani membentak Araya. Kedua... Apa? Masuk kamar Sofia? Araya?


" Tuh kan benar dugaanku... Kamu yang cabul... "


" Sudah kubilang tidak seperti yang kau pikirkan brengsek. "


Satu bantal sofa melayang ke arah William. Tapi dengan cepat William menghindar dari serangan Araya.


Kemudian Araya menceritakan kejadian kemarin malam dari awal ia masuk apartemenya sampai ia bertengkar dengan Sofia. Tidak ada satupun ada yang terlewatkan. Sedangkan William mengangguk anggukan kepala memahami situasi yang terjadi.


" Kau sih... Masuk kamar perempuan tanpa ijin, itu tidak sopan namanya. "


" Apa yang salah? "


Araya membela diri.


" Toh kami kan suami istri meski kontrak. Jadi wajar kalau aku masuk kamar istriku sendiri"


Lanjutnya.


" Kalian tinggal bersama dengan sebuah kesepakan. Dan tidak berhak mengurusi urusan masing-masing, kau tidak benar-benar lupa kan? "


" Tetap saja itu apartemen ku... dan kami sudah menikah. Bukankah berlebihan dia semarah itu padaku hanya karena aku memasuki kamarnya? "


" Ck.. "


William berdecih karena kesal dengan ungkapan yang dilontarkan sahabatnya.


Bukan itu... Bukan begitu maksudnya. Tapi diantara dua orang yang tak saling mengenal tiba-tiba menikah dengan kesepakatan untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Itu berarti kalian dua orang asing yang hanya sepakat untuk tinggal bersama dengan setatus yang terikat kontrak bertanda tangan saja kan? Dan tentu saja kelakuanmu itu tidak sopan bung.


Tiba-tiba William sadar akan sesuatu.


" Tunggu.... Apa kau baru saja mengakui itu? "


" Itu apa? "


William menatap tajam pada Araya. Memicingkan mata seolah mencurigai sesuatu.


" Ah sudahlah kau membuatku semakin kesal saja. "


Seru Araya sambil berlalu menuju kursi kerjanya. Kemudian mendudukinya.


William melengos mendengar gerutu sahabatnya.


" Tapi.. "


Araya menggantungkan kalimatnya sesaat. Memandang wajah William dengan tatapan serius.


" Tapi apa? "


William penasaran.


" Ayolah jangan membuat penasaran... "


William mulai geram. Karena Araya masih diam tak melanjutkan kalimatnya. Malah bersikap seolah sedang memikirkan sesuatu.


" Apa itu tidak aneh? "


" Katakan dengan benar... Jangan berbelit-belit... Kau membuatku geregetan...!! "


William sungguh tidak tahan lagi. Ia berfikir bahwa ada sesuatu yang terjadi diantara pasangan palsu itu. Dan bisa jadi kejadian yang menggugah gairah mungkin.


Hellow mereka dua manusia dewasa yang tinggal di tempat yang sama. Dengan setatus suami istri juga. Pasti ada yang terjadi... Batin William berselancar kemana-mana. Padahal Araya sudah menceritakan semuanya secara mendetail dan sedikitpun tidak ada adegan merujuk pada hal romantis disana. Ah lebih tepatnya menjurus ke hal kotor seperti isi kepala William saat ini.