
Sofia duduk mematung menahan nafasnya. Tidak sedikitpun ingin percaya dan berharap ini semua hanya mimpi. Ya... hanya mimpi, ini hanya mimpi. Rapalnya dalam hati. Arrgh... tidak mungkin.
" Sofiaaa... heiii kamu kenapa? "
Araya melambaikan tangannya didepan wajah Sofia. Seolah kehilangan nyawa, istrinya itu hanya mematung tanpa gerak maupun suara, entah apa sebabnya. Serangan jantung mendadak? asma? oh dia tak ingin menduda sekilat itu.
" Istrimu lucu sekali "
Sahabat Araya yang sedari tadi mengobrol denganya tertawa kecil melihat kelinglungan istri sahabatnya yang tiba-tiba.
Hell... ini nyata.
Sofia yang tanpa sadar menoleh kearah sahabat suaminya menyadari bahwa semua benar adanya. Senyum manis lelaki itu nyata. Wajah tampanya yang menyiratkan aura yang... ouh... sangat memikat. Bukan mimpi ataupun halusinasi.
Tapi... ketampanan dewa cinta dihadapanya tiba-tiba saja terhalang awan mendung.
Wajah Araya yang berada tepat dihadapanya menatap serius padanya.
Sial kenapa suami sementaranya ini seenak udelnya membeberkan kasus tak biasa dalam pernikahan mereka. Hissshhh... Sofia sungguh merasa dirugikan.
Araya, suaminya itu yang dengan sendirinya membuat kesepakatan untuk menyembunyikan status pernikahan mereka, malah membeberkan rahasia itu didepan orang yang diakuinya sebagai sahabat. Bercerita tanpa jeda dengan gamblangnya.
Puih... kata-kata manis sebagai pujian atas sikap manis penurut dan kepandaian dalam membuat masakan lezat yang diucapkanya didepan sahabatnya tak akan mengurangi kadar kebencianya pada lelaki yang menyandang status sebagai suaminya itu.
Mulai detik itu juga Sofia menyatakan perang pada Araya yang menyalahi kontrak nikah mereka.
Walau sahabat sekalipun Sofia sangat ingin menolak perkataan yang suaminya katakan pada sahabatnya itu karena itu... Dia.
Ahhh... hancur sudah kedamaian hidupnya. Dunia memang hanya sebesar daun kelor saja. Bagaimana bisa, lelaki yang diincarnya itu adalah sahabat suaminya.
Gila...ini gila...
Arrgh... ingin sekali ia berteriak dan melahap suaminya itu hidup-hidup.
Dasar lelaki pengacau...
Umpatnya...
Beberapa jam yang lalu, Araya suaminya mendapatkan telepon entah dari siapa. Lalu tiba-tiba menanyakan sebuah tempat padanya. Karena tentu saja suaminya itu tidak tau jalan. Dengan terpaksa bersedia menemani suaminya yang katanya akan menemui sahabatnya yang sedang ijin kerja karena cidera.
Tanpa curiga Sofia menjadi penunjuk jalan bagi Araya.
Tak disangka...
Ya... mereka sahabat sejak lama katanya. Dan berpisah beberapa tahun lalu karena sibuk dengan study masing-masing. Meski begitu, mereka masih sering berkomunikasi.
" Bagaimana kalian menikah? "
Pertanyaan yang dibenci Sofia. Ahh sudahlah, meski harus mengulang lagi cerita rumit dalam pernikahan yang ia jalani. Tetap saja ia harus melakukanya. Dan ia harus menjelaskan sesuatu yang sudah hapal diliar kepala...Menyebalkan...
" Kami dijodohkan... tau kan bro gimana orang tua. "
Dengan santainya lelaki yang menjadi suami Sofia itu berkata.
Lelaki itu mengangguk anggukan kepalanya seolah paham.
Cih... mana tahu mereka dengan kerumitan yang dialami kedua pasangan yang disatukan dengan sedikit paksaan itu.
" Kak Rian kapan pulang ke Indonesia? "
Tiba-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Sofia. Araya maupun Rian terheran dengan pertanyaan itu, seolah mengandung sebuah pengharapan tersembunyi didalamnya. Walaupun memang benar adanya.
" Tentu saja kapan kapan... hahaha... "
Araya tertawa garing.
" Uhuk uhukk.. "
Sofia terbatuk oleh tepukan keras dipundaknya yang di bayangkan padanya.
" Paan sih kak... "
" Kepo "
Walaupun sedikit terasa canggung dengan pertanyaan spontan Sofia, Rian akhirnya harus menjawab juga.
" Sesegera mungkin. Sudah empat tahun aku disini. Rasanya waktu begitu cepat berlalu ya... hahaha "
Rian tertawa lebar mencairkan suasana yang tadinya tiba-tiba mendung.
Araya tahu betul. Pertanyaan itu mungkin pertanyaan sederhana dan biasa bagi sebagian besar orang. Tapi tidak bagi Rian, sahabatnya.
Kejadian memilukan empat tahun lalu mungkin saja masih menorehkan luka yang entah kapan dapat disembuhkanya. Kejadian dimana ia harus pergi meninggalkan tanah air tercinta karena luka yang menganga.
Kala itu, hujan turun sangat deras mengiringi pemakaman dua orang terkasihnya. Ibu dan adik perempuan Rian yang terlibat dalam sebuah kecelakaan maut. Keduanya memang sempat dirawat dan koma beberapa hari.Namun takdir berkata lain. Tuhan begitu memyayangi mereka hingga begitu cepat memgambil kembali mereka kesisi sang Khalik. Kehilangan yang begitu menyakitkan baginya. Hingga Ayah Rian mengirimnya untuk mengambil study ke Jepang.Berharap jauh dari tempat kelahirannya akan membuat hidupnya kembali ceria seperti sebelumnya.
" Emm oh... iya... bagaimana kalau kita nanti malam makan bersama? Besok kalian kan kembali ke tanah air jadi anggap saja jamuan untuk kalian. "
Ajak Rian yang seolah tak memikirkan apapun. Termasuk luka hatinya dari masa lampau.
****
Pagi ini Sofia dan Araya memutuskan kembali ke Indonesia dengan penerbangan pagi. Araya merasa sangat bosan dan kesal karena segala hal yang terjadi di Jepang tidak bisa dikatan liburan baginya, selama beberapa hari itu kegiatanya hanya pergi sesuai perintah dan keinginan Sofia saja.
" Liburan macam apa ini. "
Gerutunya.
Dan sekali lagi, Araya hanya bisa pasrah mengikuti segala yang diucapkan Sofia.
" Kenapa jadi seperti anak itik gini ya? aku cuma bisa mengekor dan menurut pada Sofia tanpa bisa membantah."
Kembali menghela nafas.
" Inilah mengapa jangan memandang orang dari luarnya saja. Disini aku seperti orang kampung yang udis dengan dandanan sok keren. Sedangkan Sofia itu ibarat tahu busuk makanan dari cina. Jelek dan bau, tapi enak dan banyak yang suka. "
Perdandingan yang menjengkelkan. Tapi cukup realistis.
Araya berjalan gontai memasuki pesawat yang akan mengantarkanya menuju ke tanah air tanpa Sofia disampingnya. Istrinya itu mengatakan akan membeli sesuatu terlebih dahulu entah apa. Padahal mereka sudah membeli banyak sekali barang sebagai oleh-oleh. Dan saat pengumuman agar para penumpang segera memasuki pesawat, istrinya itu belum juga terlihat batang hidungnya. Hingga akhirnya, Araya memutuskan untuk tifak menunggu istrinya lagi, toh tiket dipegang masing-masing dari mereka.
Jika mengingat semua yang terjadi di Jepang, Araya sungguh ingin sekali mematahkan tulang Tomoya dan mengunci Sofia didalam kamar saja.
Bagaimana tidak, selama enam hari di Jepang, Araya sama sekali tidak merasa senang, justru sebaliknya.
Setiap pagi hari istrinya selalu sudah pergi entah kemana. Dan akan kembali sekitar jam sepuluh lebih. Walaupun Araya sudah menghubungi dan memintanya segera kembalipun, istri culunya itu akan tetap kembali setelah lewat pukul sepuluh pagi.
Dan sekembalinya ke hotel, Sofia akan mengajaknya pergi ke restaurant milik Tomoya, pria yang terang terangan mengakui bahwa dirinya menyukai Sofia. Wanita yang sudah resmi menjadi istrinya. Bagaimanapun keadaanya,itu tetap saja melukai harga dirinya sebagai lelaki.
Hal yang membuat Araya lebih, oh... sangat kesal. Didepan Araya, Tomoya selalu berusaha mencari perhatian istrinya tanpa rasa malu. Sampai suatu hari, Araya merajuk dan tidak mau lagi makan di restauran itu dengan alasan bosan dengan makananya.
Bukanya berhasil, Tomoya malah ikut bersama mereka saat mereka pergi untuk makan siang. Dan mengganggu acara jalan jalan mereka seharian. Baru kali ini, Araya merasa terabaikan. Dengan pesonanya sebagai pengusaha muda yang terkenal dan sering menghiasi layar kaca, tak sedikit kaum hawa yang mengejarnya. Tapi saat ini,
Apa pesonaku sudah memudar? bagaimana bisa si culun itu tidak bisa melihat setampan apa suaminya? dan malah lebih mementingkan tukang masak itu?
Sungguh tidak habis pikir, bagaimana si culun itu tidak memiliki rasa syukur sedikitpun. Apa matanya buta? didepanya ada suami yang sempurnya. Ganteng gagah kaya terkenal. Kurang apa lagi? malah lebih senang bersama tukang masak bau minyak yang tampangnya biasa saja.
Dan hanya waktu malam hari Sofia benar-benar menyisihkan waktunya untuk Araya. Menemani Araya makan dan jalan-jalan. Sudah seperti tour guide bagi suaminya itu.
" Hai kita bertemu kembali. "
Sapa gadis cantik yang dengan cepat duduk disamping kirinya.
Sedangkan Araya yang disapa hanya tersenyum sopan.
Gadis itu adalah gadis yang menabraknya di ruang tunggu tadi, persis setelah Sofia berbalik dan menjauh dari hadapanya. Bak sinetron Araya membantunya menahan tubuhnya agar tidak rubuh dan luruh ke lantai. Mereka akhirnya saling berkenalan meski hanya gadis itu yang terlihat bersemangat.
Dari gelagatnya, Terlihat jelas gadis itu sangat genit. Karena dengan lancangnya gadis itu meminta dengan sedikit memaksa orang yang seharusnya duduk disamping Araya untuk bertukar tempat duduk denganya. Sepertinya tadi juga dia sengaja menabrak Araya untuk mencari perhatianya.
Merasa mendapatkan kesempatan, gadis itu terang terangan merayu dan mencoba untuk mengajaknya mengobrol.
" Tidak terimakasih. "
Tolaknya ketika gadis itu memaksanya menerima minuman darinya.
Kemana sih si culun. Awas saja kalau ketinggalan pesawat.
Araya sungguh sudah merasa semakin tidak nyaman dengan gadis disampingnya yang terus menerus menggnggunya.
Tak berapa lama, Araya berbinar melihat Sofia datang dan menuju kursi disebelah kanan Araya.
Ya, pesawat yang mereka tumpangi memang pesawat yang memiliki kapasitas besar sehingga memiliki tempat duduk baris tiga ditengahnya.
Syukurlah dia datang.
Lega, begitulah perasaannya saat melihat wajah manis milik istrinya.
Apa? manis?
Tiba-tiba Araya gugup sendiri dengan apa yang dikatakan oleh hatinya baru saja.
" Sayang... kau datang? "
Sapanya dengan riang dan langsung berdiri menyambut kedatangan Sofia.
Bagaimana ekspresi wajah Sofia? gadis itu bingung dengan sikap aneh suaminya. Belum pernah ia melihat tingkah manis suaminya itu selama mengenalnya, bahkan walaupun tinggal dibawah atap yang sama. Tapi, bukan senang ataupun kagum. Yang ada tatapan jijik ia tujukan pada suaminya.
Sofia mengernyit menatap wajah suaminya dengan tatapan tidak percaya.
Kenapa si beruang kutub ini? Apa karena kebanyakan makan udon bisa membuat orang bersikap aneh?
" Sayang duduk tengah ya. Biar aku yang duduk di pinggir. "
Menatap lembut seraya menuntun istrinya yang masih linglung.
" Apaa?? istri? kalian menikah? "
Akhirnya Sofia sadar dari keterkejutannya setelah gadis yang daritadi menempel pada Araya itu melemparkan pertanyaan dengan sedikit teriakan, yang tentu saja mengundang banyak mata untuk melirik tidak suka kearah mereka karena merasa terganggu.
" Iya, ini istriku yang paling manis. Dan kami ini pengantin baru yang baru saja pulang dari berbulan madu. "
Senang Araya melihat ekspresi kaget sekaligus jenkel yang menjadi satu diwajah gadis ganjen disamping istrinya.
Lain hal dengan Sofia yang mendengus kesal setelah merasa paham dengan apa yang terjadi.
Dia memanfaatkan aku ya.
" Ah pasti kalian hanya teman atau mungkin atasan dan bawahan yang sedang melakukan perjalanan bisnis. Lihat saja wajah mbak ini. Dia sangat terkejut dan penuh dengan tanda tanya. Harusnya kan marah kalau memang kalian suami istri Masa suaminya deket deket sama gadis cantik gak marah. Lagipula kalian tidak cocok.Liahatlah mbak ini, kampungan dan sama sekali tidak cantik.Tidak pantas dengan si ganteng. "
Ucap gadis itu runut tanpa jeda. Lancang dan tidak tahu diri.
Araya diam seribu bahasa. Tidak menyangkal sedikitpun perkataan gadis disamping istrinya.
Benar juga sih. Mau dipandang dari sudut manapun aku menikahi upik abu, si itik buruk rupa.
Sofia menaikkan sebelah alisnya, diamnya suaminya sudah jelas membenarkan apa yang dilontarkan gadis disebelahnya.
Tersenyum tipis, Sofia ingat akan sesuatu. Kemudian ide jahil muncul dikepalanya.
Sofia bergerak maju kemudian memiringkan badanya menghadap suaminya. Tanganya terulur dan menyapa lembut pipi suaminya itu.
" Jangan marah baby, gadis ini hanya tidak tahu betapa kamu mencintaiku. Aku percaya padamu yang telah memilihku meski aku penuh kekurangan. Aku percaya kalau dia yang merayumu. Aku akan selalu percaya padamu. Siapapun akan salah paham dengan perbedaan fisik kita. "
Tatapan itu, senyum itu, dan sentuhan itu, lembut menghanyutkan. Araya sama sekali tak bergerak, matanya menatap mata istrinya tanpa berkedip bagai terhipnotis.
Cup...
Gadis itu terbelalak kaget melihat Sofia mengecup mesra kening pria tampan yang diincarnya. Kemudian mendengus kesal dan akhirnya memaksakan pria tadi yang dimintainya bertukar kurai kembali pada posisi semula.
Sofia merasa lega karena gadis pengganggu itu kembali ke kursi awalnya.
Dan menyapa pria disampingnya bentuk rasa sopan maaf dan terimakasih karena harus terganggu dengan kejadian tadi.
Mengabaikan suaminya yang masih memegangi keningnya yang dikecup lembut oleh Sofia.
Ya Tuhan... manis sekali...
Senyum manis dan rona merah dipipinya masih terlihat. Seperti gadis remaja yang sedang dilanda kasmaran. Araya yang belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu sungguh terlena.
Maklum saja, selama setahun bersama Mila, dua tahun berpisah dan bersama lagi. Selama ini Milalah yang selalu menciumnya lebih dulu. Menubruknya dan ******* bibirnya drngan ganas. Meraba raba tubuhnya dengan kedua tangannya itu. Araya pernah merasa seperti pria murahan drngan perlakuan kekaaihnya itu. Tapi cinta membuatnya buta akan warna pelangi. Baginya Mila adalah kelopak bunga yang selalu cantik dan wangi. Ia lupa bahwa bunga selalu membawa daya tarik para kumbang dan mengelilinginya. Kemudian layu disore hari.l
****
" Pulanglah duluan, aku ada perlu. Dan tolong bawa koperku, tarus saja didepan kamarku. Terimakasih. "
" Memangnya mau kemana, hal penting apa yang membuatmu terburu-buru? "
Sofia menatap tajam Araya. Kesal dengan sikap suaminya yang semakin hari semakin cerewet dan terlalu ingin tahu.
" Saya ingatkan kembali bapak Araya Santoso. Bahwa tertulis jelas dalam surat perjanjian kita. "
Araya menghempas tangan Sofia yang tadi dipegangnya. Kesal dengan kalimat yang dilintarkan istrinya itu. Bosan sudah mendengarnya berulang kali dalam beberapa hari ini.
" Aku tahu... "
Ucapnya lesu.
Kemudian mengambil koper milik mereka. Berjalan lurus tanpa menoleh lagi kebelakang, menyetop taksi untuk menuju ke apartemen dimana ia tinggal bersama Sofia.
Sofia kembali menghela nafas. Ada sedikit rasa bersalah entah karena apa. Mungkin karena melihat punggung suaminya itu terus menjauh dan kemudian menghilang dari pandangannya. Jelas sekali dimata Sofia. Semburat kecewa diwajah suaminya.
" Apa aku keterlaluan? tapi itu kan aturanya sendiri. Dan aku hanya menjalankan peraturan yang dia buat. "
Sofia menggedikkan bahu dan segera menunggalkan bandara dengan sebuah taksi.