Another me

Another me
Drama pagi hari



" Jadi disini kalian tinggal? "


Samuel mengamati gedung yang menjulang tinggi 20 lantai dihadapanya, dari balik kemudi.


" Eumm... "


Bella mengangguk pelan, masih fokus melepas seatbelt ditubuhnya.


Malam kemarin dia benar-benar menginap di apartemennya bersama Samuel. Sebelum menikah, Samuel memang sudah biasa menemaninya tinggal disana selama gadis itu berkunjung ke Jakarta. Kemudian kembali ke apartemenya sendiri saat sahabatnya itu kembali ke Semarang. Itulah sebabnya, Samuel tak pernah bingung saat tinggal disana. Karena separuh barang dan pakaianya memang disimpan diapartemen gadis itu.


Meski setelah menikah dan menjadi istri Bella harus tinggal bersama suaminya, Bella masih sering mampir ke apartemen miliknya. Untuk sekedar bersantai atau menyendiri mencari ide-ide untuk bahan tulisnya. Kini pun Samuel telah kembali dari perjalanannya. Kemungkinan dia juga akan tinggal di apartemen Bella sesekali saat ia ingin.


Tapi untuk malam tadi, selain rengekan Samuel, Bella juga ingin sekali menonton film horor terbaru yang belum sempat ditontonya. Padahal kedua film itu sudah sebulan yang lalu tayang dibioskop.


Merasa ada kesempatan, Bella memutuskan untuk menontonya sampai habis malam itu juga. Alasan itulah yang menahanya untuk tetap tinggal menemani Samuel.


Selesai menonton film, keduanya berdiskusi santai dengan posisi tiduran ditempat masing-masing, sama seperti saat mereka menonton film sebelumnya.


Awalnya, Samuel memberikan informasi tentang rencana sebuah perusahaan hiburan yang ingin memproduksi novel terbaru Bella menjadi sebuah film. Tentu saja keduanya sangat antusias karena dengan mengangkat novelnya menjadi film, pemasukan Bella maupun Samuel akan bertambah.


Tapi, walaupun sangat senang, mereka tetap selalu waspada dengan rekan bisnis mereka. Kecurangan yang pernah dialami Bella pada kasus pertama kali tidak boleh terulang kembali. Baik Bella maupun Samuel, keduanya termasuk orang yang bertanggung jawab, teliti, perfect dan tegas soal pekerjaan. Jadi selalu antisipasi pada kemungkinan terburuk sekalipun.


Sebenarnya, dari perusahaan sebelumnya juga memberikan tawaran untuk memproduksi film dari novel yang dikarang Bella. Namun, mendengar isu korupsi diperusahaan itu membuat perusahaan itu tidak lagi menjadi pilihan terbaik. Walaupun mereka telah mengerjakan dua film yang sama-sama diadopsi dari karya Bella sebelumnya.


Oleh sebab itu, Samuel perlu mencari rumah produksi yang baru yang bisa dipercaya. Dan entah kemujuran atau memang takdir, diwaktu yang tepat. Sebuah perusahaan hiburan memberikan penawaran.


Namun...


Bersikap jual mahal pada perusahaan yang beberapa hari ini selalu menghubungi tanpa henti hanya sebuah strategi untuk mengulur waktu. Hingga mendapatkan semua bukti bahwa perusahaan itu memang bagus dan layak untuk diberi kesempatan.


Meski perusahaan Bella dan Samuel hanyalah rumah percetakaan dengan kantor yang bergedung sederhana dan hanya berlantai empat. Tapi perusahaan yang masih termasuk baru itu memiliki karyawan pilihan yang sangat profesional.


Mereka, mendirikan perusahaan itu sejak masih dibangku perkuliahan. Tepatnya sekitar lima tahun yang lalu. Saat dimana Bella mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari salah satu penerbit yang mengambil keuntungan dari novel Bella dengan bermain belakang. Mulai dari situlah akhirnya mereka memberanikan diri untuk mendirikan sendiri perusahaan mereka agar Bella bisa mencetak novelnya tanpa adanya gangguan dari pihak lain.


Awalnya mereka mengumpulkan uang tabungan mereka dan meminjam uang di bank. Karena masih belum cukup, akhirnya mereka mencoba untuk mencari dukungan keluarga. Dan langsung mendapat persetujuan dari orang tua Samuel dan juga keluarga Bella. Untuk balas budi, keuntungan akan dibagikan kepada siapapun dari mereka yang mengeluarkan dana sesuai besar dana yang dikucurkan.


Meskipun CEO diperusahaan itu adalah Bella dan wakilnya adalah Samuel. Tidak ada yang tahu dengan identitas itu. Karena mereka telah memerintahkan seseorang untuk menjadi pimpinan disana. Bella hanya mengawasi saja sekaligus mengambil peran sebagai pengarang anonim diperusahaan miliknya dan Samuel itu. Samuel sendiri memutuskan bekerja disana menjadi auditor. Bisa dibilang auditor khusus novel karangan Bella. Karena ia bekerja hanya untuk menangani beberapa karya yang dikirim keperusahaan mereka jika ia memang ingin mengerjakannya. Namun, jika tidak, ia akan hanya mengurus karangan milik Bella, dan menyerahkan karya lain pada editor selain dirinya. Secara tidak tertulis Samuel memang memiliki hak khusus diperusahaan itu.


Hingga waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, keduanya baru bisa terlelap kealam mimpi.


Bella terlelap disofa depan tv. Sedangkan Samuel berada diatas karpet bulu dibawah sofa yang digunakan oleh Bella.


Karena tidur sangat larut, dikeesokan harinya, Bella bangun kesiangan. Mendapati jam dinding yang menunjukkan hampir pukul delapan, iapun gelagapan. Takut takut jika suaminya akan memasuki kamarnya dan memergokinya dengan tampilan bulenya.


Saat turun dari sofa dan hendak berlari, kakinya tersandung benda dibawahnya. Terkejut karena benda itu ternyata manusia hidup.


Samuel


Bella mengerutkan keningnya.


Bagaimana dia bisa ada disini.


Mengedarkan pandangannya, dan baru menyadari bahwa dirinya saat ini tengah berada didalam apartemen miliknya sendiri. Bahkan, berada duruang tamu yang sekaligus rusang santai. Tanpa diminta, perlahan memory diotaknya menayangkan kejadian demi kejadian yang dialaminya kemarin.


Bella pun menepuk jidatnya setelah mengingat bahwa dirinya dan Samuel memang menginap ditempat itu semalam.


Ya ampuuunnn kenapa bisa lupa.


" Apa kamu yakin tidak akan mendapatkan masalah? "


" Sudah begini baru mikir. Kemarin lagaknya sok banget. "


Cibir Bella.


" Hei nona... siapa suruh kamu meninggalkan aku tanpa pamit. Lagipula aku kan tidak mendapatkan undangan pernikahan. Wajar kalau aku tidak ingat kamu sudah ganti status di KTP. Lalu pagi ini aku baru sadar kalau aku bermalam dengan istri orang.Hiiissh...."


Memang benar, Karena merasa dibohongi, Samuel menghukum sahabatnya itu. Namun pada pagi harinya ia baru sadar bahwa ia memaksa Bella untuk menemaninya tanpa mau dibantah hingga menutup telinga rapat rapat tanpa mau mendengar alasan apapun. Dan pagi ini baru menyadari kalau Bella memiliki suami. Bodohnya... dia. Sialnya lagi, ia merasa seperti selingkuhan dari istri orang.


" Aku turun. "


Pergerakan Bella tertahan karena sebuah tangan yang cukup berotot menarik manja ujung kemeja yang dikenakan gadis itu.


" Apa lagi ? "


Bentaknya.


" Berhentilah memasang wajah konyol itu Sam. "


Gadis itu sudah mulai jengah dengan sikap Samuel. Yang terlalu banyak berimajinasi yang buruk. Apalagi melihat raut muka memohon dengan wajah sok imut ala ala puppy eyes itu.


" Bell... kalau kalian ada bertengkar jangan bawa bawa namaku ya... Aku nggak mau nama baikku tercemar karena dituduh jadi pebinor. "


Lelaki itu mengatakanya masih dengan raut wajah memelas dan intonasi suara yang memohon.


" Sialan... "


Bella menghempaskan tangan Samuel darinya, kemudian menonyor pelipis Samuel. Busuk sekali sahabatnya itu. Sudah membuatnya tidak pulang semalaman dan dengan tanpa dosa mengatakan hal-hal abstrak semacam itu. Tidak bisakah dia bersikap normal?


" Tenang saja, dia biasanya berangkat pergi entah kemana disetiap hari minggu sekitar jam delapan. Lihat ini sudah jam berapa? jadi jangan lebay. "


Tanpa intruksi Samuel mengangkat tangan kirinya yang melingkar sebuah jam tangan bermerek disana. Ternyata sudah jam sembilan. Baguslah berarti aman. Batinya.


" Lagipula dia tidak akan peduli aku pulang atau tidak. "


Merasa yakin dengan apa yang dipikirkanya.


Bella melirik kesamping. Dimana sahabatnya itu tengah sibuk memandang kearah depan. Entah apa yang ada dipikirannya.


Ya... Bella telah menceritakan semua yang terjadi. Bahkan tidak ada satu halpun yang terlewatkan. Soal siapa suaminya, tentang pernikahan kontrak mereka. Sampai hubungan Araya dan model yang baru kembali dari Prancis itu. Tapi bagi Samuel, seperti apapun situasinya. Tetao saja Sofia adalah istri sah Araya.


****


Bib...


Suara itu menandakan pintu apartemen dibuka oleh seseorang. Dan benar saja, Sofia muncul dari sana.


Dengan pakaian yang sama seperti biasa, jadul dan kampungan. Tapi, pakaian itu telah berganti motif, jelas sudah bukan pakaian yang dikenakanya kemarin siang. Tas lusuh yang juga selalu dipakainya untuk bepergian. Sepatu yang sama usangnya yang dimasukkan kedalam lemari disamping pintu masuk. Bedanya, rambut yang biasanya selalu rapi dengan penjepitnya, kini terurai tanpa ikatnya. Dan entah mengapa gadis itu memakai sebuah masker pagi ini.


Alasan tidak sempat dan merasa tidak perlu berdandan karena berfikir suaminya sudah berangkat kesuatu tempat yang tidak ia ketahui dimana tepatnya.


Namun tetap saja penampilan itu adalah penampilan seorang Sofia yang sangat dikenal oleh Araya.


Selesai menempatkan sepatu usangnya kedalam lemari sepatu, ia kemudian memasuki ruang tamu. Entah apa yang dicarinya, ia terus saja menunduk serta mengacak isi dalam tasnya. Berjalan tanpa melihat keselilingnya.


" Astaga... anak ****...!! "


Latahnya dengan reflek memegangi dadanya, ketika mendapati seseorang duduk diam tanpa mengalihkan pandanganya dari dirinya.


Araya...


Dialah orang itu. Tidak mengerti apa yang telah terjadi sebelumnya. Suaminya itu berpenampilan acak-acakan khas orang bangun tidur.


*Sialan bikin kaget orang. Tunggu... ada apa dengan penampilanya itu? berantakan sekali*?


Setelah diamati, ternyata Araya masih mengenakan pakaian casual dan jaket yang sama seperti kemarin.


Kenapa juga dia belum berangkat? Dan lagi, kenapa seperti baru saja bangun tidur? lalu, kenapa disofa?


Hanya bisa menerka nerka apa yang sebenarnya terjadi.


" Kak Araya tidak pergi kerja? Bukankah ini sudah siang?"


Sebebarnya Sofia sama sekali tidak tahu kemana perginya lelaki itu disetiap hari minggu. Jadi, mengambil asumsi sendiri bahwa suaminya itu memiliki pekerjaan lain yang tidak diketahuinya. Dan... anggap saja begitu.


" Apa hari ini tidak pergi? "


Hati-hati dalam bertanya. Melihat manusia dihadapanya hanya diam dengan penampilan yang kusut serta rambut acak-acakan membuatnya berfikir bahwa telah terjadi sesuatu pada pria itu sebelumnya. Untuk itu jangan sampai menyinggung beruang kutub itu. Atau akan tercabik sampai bagian terkcecil.


Apa habis bertengkar dengan pacarnya? hmmm bisa jadi...


Sofia sempat menunggu beberapa detik, dan sekali lagi tidak ada jawaban dari pria di depanya itu. Masih berdiam diri seperti manekin ditoko pakaian. Membisu...


Atau mungkin dia masih mengumpulkan nyawanya yang beterbangan kemana-mana dan belum sadar sepenuhnya. Kalau begitu sebaiknya aku segera masuk kamar sebelum pria menyebalkan ini menyadari keberadaanku.


Sofia memutar tubuhnya. Berjalan dengan berjinjit dan sedikit membungkuk berusaha tak mengeluarkan suara sedikitpun untuk menuju kamarnya.


Menghindar adalah cara terbaik agar terlepas dari segala cecaran suaminya itu. Karena bagaimanapun dingin dan cueknya pria itu. Meski tidak mempedulikanya sedikitpun, tetap saja hal yang diperbuat olehnya tidak bisa dibenarkan.


" Kamu pikir aku tak bisa melihatmu? "


Deg...


Sofia mematung seketika karena suara yang terdengar menggelegar ditelinganya. Dengan posisi kaki yang terangkat satu, badan membungkuk dan tangan menggantung persis seperti tokoh alien dalam kartun the monster.


Kenapa aku terlihat... Oh tidaaaakkk suaranya seram sekali.


" Tegakkan tubuhmu... apa kau ini manusia purba? "


Tanpa menoleh kesumber suara, Sofia menurunkan kaki dan tanganya perlahan berusaha meredam suara. Bahkan menahan nafas takut-takut hembusan nafasnya terdengar dan membuat pria itu semakin marah.


Kemudian ia menegakkan tubuhnya tanpa membuat pergerakan yang lain.


Pokoknya menurut saja. Jangan menyulut percikan api emosi.


" Balik badan. "


" Kenapa pakai masker? sakit? "


Sofia menggeleng. Kini dalam posisi menunduk.


" Oh... untuk menutupi wajah perempuan yang pulang pagi setelah menginap diluar ? "


Sindirnya.


Sofia menggeleng lagi.


" Takut covid- 19 kak. "


" Masih baru di China. Belum sampai kenegara lain ! "


Ketusnya.


" Aku tanya lagi, darimana saja kamu? kenapa baru pulang? dan satu lagi kenapa lupa kalau ini hari minggu? "


Jengkel, begitulah yang dirasakanya saat ini.


" Tentu saja aku dirumah. Atau kamu lebih suka suamimu pergi dan kamu akan bersenang-senang sesuka hati? iya? "


Sungguh Araya tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang gadis culun seperti Sofia berani pergi semalaman tanpa pulang dan tanpa kabar. Bagaimana jika terjadi hal-hal buruk? Apa yang akan dia katakan pada keluarganya? terutama kakek Sofia. Sungguh tak bisa dibayangkan semarah apa kakek mertuanya itu.


Gleg...


Sofia masih diam mematung. Seperti siswa yang sedang dihukum guru BP karena kenakalanya.


Mati aku... mati... meski dia dingin dan cuek. Tapi dia juga suka mengomel jika aku membuat kesalahan.


" Kenapa? merasa kecewa karena aku tidak pergi kemana-mana dan masih berada disini pada jam ini? Wah waaaah sepertinya aku menangkap basah kelakuan burukmu? "


Gleg...


Menelan salivanya sendiri dengan susah payah.


" Jawab Sofiaaaa kemana saja kamu pergi? "


Tidak dipungkiri ia akan merasa lebih baik jika suaminya itu memang pergi keluar apartemen seperti berberapa kali. Karena seharian bersama lelaki itu sangat canggung. Bahkan serasa sulit untuk hanya bernafas.


Ahh frustasi rasanya.


" Masih diam saja? apa mulutmu juga tidak bisa berbicara setelah pergi meninggalkan apartemen semalaman? "


Mendengar pertanyaan dengan nada meninggi itu, Sofia hanya mampu menundukkan kepalanya kebih dalam. Sebenarnya dia sedikit takut dengan tatapan dingin yang terkesan sangat kejam dari Araya. Apalagi dia memang melakukan kesalahan.


" Apa bahkan kamu masih ingat kalau kamu ini perempuan yang sudah menikah hah? "


Sofia semakin menciut. Araya tak henti-hentinya membentak padanya.


Tapi mau bagaimana lagi. Bagi gadis itu, ia adalah seorang yang masih lajang. Dengan adanya kontrak pranikah yang diajukan oleh Araya, tentu saja membuatnya merasa bebas dan tidak terikat selayaknya istri diluaran sana.


" Ma... ma ...af kak... kemarin saya ada urusan jadi... "


Memberanikan diri. Merangkai kata untuk memberi penjelasan. Namun, belum selesai kalimatnya, Araya lebih dulu menyanggah.


" Sepenting apa urusan kamu sampai tidak pulang? Apa kamu ini tidak ingat kalau kamu ini perempuan? Walaupun tidak merasa sudah menikah karena memang situasinya begini. Tapi seharusnya kamu ini sadar bahwa kamu ini perempuan. Keluar rumah sampai larut itu kelakuan yang tidak baik. Apalagi sampai tidak pulang!! sungguh tidak pantas !!"


Sepertinya Araya sudah kehilangan kendali. Dan tidak bisa lagi berbicara dengan lebih lembut meski sedikit.


" Dimana kamu menghabiskan malam? Di bar? di club malam? atau dihotel bersama pria hidung belang? Apa kamu mau menjadi wanita nakal ha?"


Sofia semakin takut sampai gemetaran, ingin rasanya ia menangis kencang. Bentakan suaminya membuatnya menciut. Apalagi kata-kata yang dilontarkanya begitu tajam menusuk hati. Ataukah hanya dirinya yang merasa seperti itu? Ya... meskipun seorang petarung diatas ring,


selama ini, ia sangat dimanja oleh keluarganya. Kakek yang sangat membanggakanya. Orang tua yang sangat menyayanginya. Begitupula dengan kedua kakaknya yang selalu melindunginya. Tak dibiarkan satu orangpun berani menyinggung putri kesayangan mereka. Apalagi membentaknya. Itulah kenapa ia mulai bertarung diatas ring. Agar tidak menjadi lemah karena terlena oleh kasih sayang dan perlindungan orang-orang disekitarnya. Tapi kali ini kasusnya berbeda. Entah mengapa, aura suaminya itu tidak bisa dihindarinya. Pembawaan pria itu sangat berwibawa dan tak terkalahkan, dengan aura mengintimidasi yang sangat kuat, bahkan dirinya yang sudah biasa bertarungpun merasa gentar oleh Araya.


Tapi, tidak... dia bukan wanita seperti itu. Lagipula ini pertama kalinya dia pergi dan sampai pulang pagi. Tunggu... lagipula dia menginap diapartemenya sendiri.


Sayangnya dia tidak bisa menjelaskan kebenaranya.


Melihat istrinya begitu takut sampai gemetar walau hanya untuk menatap wajahnya, Araya mulai sadar bahwa dirinya sedang dikuasai rasa amarah yang begitu besar. Hingga akhirnya memutuskan untuk menurunkan intonasi suaranya. Apalagi sadar bahwa istrinya hanyalah gadis kampung yang kurang pergaulan. Pasti sangat penakut. Pikirnya.


" Sebenarnya apa yang kamu lakukan sampai kelayapan diluar dan pulang pagi? Tidak tahukah kamu seberapa berbahaya nya diluaran sana? "


" Maaf kak... "


Tetap menunduk. Hanya kata itu yang mampu dikatakanya.


" Jadi, kemana kamu kemarin? "


Bertanya dengan nada yang lebih rendah.


Sepertinya dia sudah dalam mode pendinginan. Ok... mari bicara dan berikan alasan yang tepat.


Menarik nafas panjang.


Sofia memang merasa sangat takut saat ini. Itu karena ia sadar telah melakukan kesalahan besar. Jika tidak merasa bersalah mungkin ia akan bersikap biasa saja. Apalagi sadar suaminya itu berfikir bahwa dirinya gadis kampung yang udis. Wajar jika suaminya itu marah. Karena jika terjadi sesuatu pasti akan menimbulkan masalah baginya.


" Aku bertemu dengan teman yang katanya mau mengajariku resep baru. "


Tepat sekali... pria dengan sikap berubah-ubah ini paling gampang dirayu dengan makanan.


" Resep baru? "


Benar begitu. Makanlah umpanku.


Melihat Araya yang tidak segarang sebelumnya, Sofia sudah mulai merilekskan tubuhnya yang menegang sejak tadi.


" Be... benar kak. Setiap hari aku kan harus menyiapkan makan siang untuk kakak bawa ke kantor. Jadi aku harus pandai mengganti menu setiap harinya. Kebetulan temanku baru belajar menu baru dari neneknya. Dan berencana mengajariku. "


Takut-takut ia melirik wajah suaminya yang masih dalam mode merah itu. Sofia yang pandai merangkai kata tidak kesusahan mencari kalimat yang pas sebagai bumbu penyedap dalam kebohongan yang diciptakanya.


" Masih berani beralasan? "


Mengangkat satu alis kananya. Ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan istrinya.


Hah pandai sekali berbohong. Jelas jelas dia marah padaku kemarin. huh dasar perempuan. Tapi memasak untukku? Menu seperti apa yang akan dia buat untuk menutupi kebohonganya? penasaran...ah aku lapaaaarrr...


Araya bahkan masih berfikir dan mempercayai asumsinya tentang kecemburuan istrinya gara-gara foto dirinya bersama Mila. Mengingat segala macam nasehat dari polisi yang menangkapnya kemaren siang. Wanita mana yang tidak terbakar hatinya saat sesuatu yang diketahui sebagai miliknya rela disentuh orang lain. Walaupun pernikahan mereka termasuk main-main. Tapi, sifat alamiah perempuan itu pencemburu. Dan Araya percaya itu.


" Tidak kak... aku tidak berbohong. "


Mengangkat tanganya dengan memposisikan dua jari telunjuj dan jari tengah membentuk huruf v.


Lagipula kan aku memang sempat belajar sedikit. Walaupun belum jadi praktek. Tapi setidaknya sudah tahu resep dan cara memasaknya. Jadi tidak sepenuhnya berbohong kan?


" Lalu kenapa sampai larut dan bahkan tidak pulang? memang kamu menginap dimana? "


Cemburu juga ada kadarnya. Bahaya sekali saat dia seperti itu. Kabur entah kemana dan tidak pulang sama sekali.


" Soal itu kemaren omnya kecelakaan, jadi kami kerumah sakit dulu. Sampai disana keluarga lain yang diluar kota belum datang. Tantenya pingsan karena syok. Dan orangtuanya sedang berlibur keluar negri. Jadi kami menunggunya sampai malam. Tentu menginap ditempatnya temanku itu kak. Mmn... Apa kak aray menungguku? "


Melirik pada Araya yang masih duduk disofa. Mencoba untuk tersenyum semanis mungkin.


" Sepertinya kakak pulang larut dan tertidur disofa. Apa kakak mencariku semalaman? "


Bertanya dengan hati-hati.


" Apa kau pikir dirimu sepenting itu sampai aku harus mencarimu dan mengharapkan kepulanganmu? Aku juga punya banyak kerjaan tahu. Mana ada waktu memikirkanmu. Aku tidak suka dengan orang yang tidak disiplin."


Jawabnya ketus. hanya untuk menutupi wajahnya yang tertangkap sedikit gugup.


" Benar juga. Untuk apa kakak melakukan itu. Itulah sebabnya aku berani tidak pulang tanpa memberi kabar. Toh tidak akan dicari juga. Lantas dia kemana? Terus ngapain marah marah? "


Gumamnya pelan namun masih terdengar ditelinga Araya mesti samar.


" Apa kamu bilang? "


Sofia tersentak mendengar perintah dari suaminya.


" Eh? Itulah... maksudku kak. Kakak sibuk jadi pasti begadang karena kerjaan. Iya begitu. "


Meringis. Bersikap senatural mungkin. Meski tak pandai berakting.


" Tentu saja aku sibuk. Aku tidak peduli, kamu mau pulang ataupun tidak bukan urusanku, asal jangan membawa masalah padaku itu sudah cukup. "


Mengibaskan tangan, beranjak dari sofa.


Lihatlah orang ini. Kalau tidak peduli kenapa membentakku dan marah marah begitu? Membuatku ingin menangis saja. Sumpah wajahnya menakutkan sekali.


Araya melangkah menuju kamar pribadinya. Tiba-tiba berbalik sambil mengangkat jari telunjuknya. Mengarahkanya lurus tepat kearah dahi istri kontraknya.


" Kau...!!! sekali lagi main kabur-kaburan awas!!! "


****


Jam dua dini hari Araya baru masuk kembali ke apartemen miliknya. Sudah tiga jam ia berputar putar dijalanan dekat tempat tinggalnya. Tak lupa tempat dimana ia menurunkan Sofia tadi sore. Cemas... tentu saja. Bagaimanapun, setelah menikah dengan Sofia, gadis itu menjadi tanggung jawabnya. Jika terjadi sesuatu terhadap gadis itu, pasti akan timbul masalah besar dalam hidupnya.


Bukanya menemukan dimana istrinya itu berada. Araya malah sudah dua kali dikejar bencong yang berkeliaran tanpa kenal tempat.


Capek sekaligus frustasi. Araya memutuskan untuk lebih dulu pulang dan akan mencari Sofia saat hari sudah terang.


Tanpa mencuci muka maupun mengganti pakaian casualnya, Araya yang sudah lelah menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Dan tak butuh waktu lama, iapun tertidur lelap disana.