Another me

Another me
Selalu Kalah



" Dasar penguntit... Pria posesif... "


Cibiran dengan nada rendah namun sarat akan makna yang kasar keluar dari mulut kecil Bella.


" ****... Sapi... !"


Ia menegakkan posisi duduknya yang tadinya bersandar cantik dibahu kursi penumpang, menyilangkan kaki kemudian menatap sinis pada pemuda disampingnya. Dengan masih setia pada kata-kata absurdnya.


Sedangkan pemuda yang mendapat perlakuan tak mengenakkan itu tetap diam, mengabaikan setiap apa yang mampir ditelinganya.


Menganggap semua yang didengarnya adalah nyanyian burung camar yang mengalun merdu selayaknya paduan suara. Ia terlalu lelah karena tenaganya sudah terkuras habis untuk menghadapi nenek dan kakek yang ditemuinya dibandara tadi.


Dan berusaha tetap fokus pada kemudi yang dikendalikanya.


" Ni... Jiu shi ni... Ye lang! Liu mang !


" ( Pasti itu kamu... Srigala liar... ******** )


Dengan jari telunjuknya, Bella terus menunjuk kearah hidung Samuel yang berdiam diri merapatkan kedua bibirnya. Diam adalah satu-satunya senjata berharga miliknya saat ini, jika mau menang melawan gadis disampingnya itu.


" Shi ba...!" ( Benarkan...!! )


Tetap diam tak terpancing. Meski telunjuk lentik milik gadis disampingnya kini sudah berulang kali menusuk nusuk kulit wajahnya.


Pemuda itu memilih untuk menebalkan benteng pertahananya.


Kini, gadis itu sudah menarik kembali tanganya yang pandai membully raga pemuda itu.


Sedangkan Samuel yang merasa sedikit mendapatkan kesempatan, melirik sekilas pada si pemaki, Pemuda itu kemudian memelankan laju mobil yang mereka tumpangi dan menepi, memberhentikan mobil mereka dipinggir jalan.


Masih tanpa merespons perkataan Bella, Samuel lebih sibuk memasangkan seatbelt untuk gadis itu. Karena sejak tadi sahabatnya itu hanya bersedekap dengan kedua tanganya dilipat didada. Menolak menggunakan seatbelt dengan mulut yang tak henti-hentinya mengoceh dan mengeluarkan kata-kata random yang tak saling berkesinambungan.


Selesai memasangkan seatbelt pada diri gadis disebelahnya, ia kembali meraih kunci mobil yang sudah ter pasang itu untuk menyalkan kembali mesin nya.


Klek...


Terdengar suara seatbelt yang kembali terlepas.


Bella tahu, Samuel sangat benci dengan siapa saja yang berada semobil denganya saat berkendara tapi tidak mau menggunakan seatbelt. Maka dari itu, Bella sengaja melakukannya untuk membuat Samuel kesal.


Namun...


Tanpa adanya rasa emosi. Tangan Samuel kembali terulur untuk memasangkan benda itu kembali.


Jangan berfikir gadis ini adalah gadis penurut dan baik. Karena baru sekian detik ditinggalkan oleh tangan Samuel, seatbelt itu kembali lagi terbuka.


Dengan sigap Samuel menahan dan menyatukan kembali logam itu sampai berbunyi sebagai tanda seatbelt terpasang kembali.


Tekadnya sudah bulat. Kalaupun Bella membukanya lagi dan lagi, bahkan jika mampu untuk yang keseratus kali. Maka ia juga akan memasangkanya kembali sampai gadis itu lelah dan berhenti.


" Ckckkckc.... Shijie shang haiyou zheyang de nan ren... You ke lian you dan sheng... "


( di dunia masih ada ya pria macam begini.... Menyedihkan... Jomblo lagi... Ckckckc )


Ajian pamungkas telah keluar, sesuatu yang sudah pasti menjadi pukulan telak bagi Samuel.


Lalu bagaimana keadaan pemuda itu saat ini? Panas sudah kedua telinganya. Apapun yang dikatakan gadis disampingnya tidaklah masalah. Asal jangan satu itu ' status kejombloanya '.


Hal yang paling ia sembunyikan dari orang lain. Demi eksistensi dirinya sebagai lelaki penuh pesona. Sebenarnya bukan karena tidak laku, tapi karena tidak mudah bergetar hatinya pada seorang wanita. Selain itu ia memiliki sedikit masalah dengan sentuhan mahkluk bernama perempuan. Tentu saja, hanya orang-orang tertentu yang mampu mendekatinya. Bella adalah salah satunya.


Gadis itu menyeringai saat melihat gelagat kesal dari wajah Samuel.


" Fine...!! "


Bella terkikik geli.


Hancur sudah pertahanan Samuel. Seperti yang sudah sudah.


" Shuo... Shi ni dui bu dui... ( Katakan... Itu kamu kan? )


Samuel kalah.


Sehebat apapun dirinya dalam mengendalikan diri. Takkan pernah bisa jika yang berhadapan denganya adalah gadis yang teramat disayanginya itu. Berdebat dengan Bella memang tidak akan pernah dimenangkan olehnya.


" Dui... Shi... wo... " ( Benar... aku... )


" Sssshhhh shi maa... Sejak kapan? " ( Benar kaan... )


Samuel mengingat ingat kembali. Kira-kira sejak kapan dia melakukanya. Hal yang tidak pernah disuka oleh gadis kesayanganya itu. Mau bagaimana lagi, Bella menikah saja sudah membuatnya kalang kabut waktu itu. Entah mengapa, terbesit rasa tak rela dihatinya.


" Sejak kau bilang akan menikah dan pindah ke kota ini. "


" Hell...!! "


Tunggu... Itu berarti sudah berlalu cukup lama. Sialnya... Mengapa dia tak pernah sadar akan hal itu?


Samuel yang mendapatkan tatapan membunuh dari Bella hanya memainkan bibirnya dan mengedikkan bahu.


" Darimana kau mendapatkanya? Apa tinjuanya lebih baik dari punyaku? "


" Dia anak yang aku temukan di pinggiran kota dengan luka karena dikroyok orang. Dia anak panti asuhan. Karena sudah lulus SMA dia bekerja di minimarket yang buka duapuluh empat jam. Malam itu dia dirampok. Untungnya aku lewat saat pulang dari luar kota. "


Samuel mulai menceritakan asal usul Elang, lelaki yang dimintanya untuk mengawasi Bella


Samuel sedikit mengambil jeda dalam kalimatnya.


" Ternyata dia jenius. Sekolah dengan beasiswa. Tapi karena tindakan oknum tidak bertanggung jawab dia gagal mendapatkan beasiswa untuk kuliah. Jadi aku yang membiayainya, dengan syarat dia akan bekerja denganku. "


" Termasuk ini? "


Bella melemparkan alat penyadap yang ia temukan didalam tasnya tanpa sengaja beberapa saat lalu.


Samuel menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Jika saja tadi tidak ada acara sok sokan romantis seperti di film yang baru beberapa hari ditontonya, mungkin ia tak akan ketahuan.


****


Bandara, Beberapa saat yang lalu...


Bruuughk


Aakkkhhh


Awww


Kaki Samuel terpeleset dan jatuh kelantai yang licin. Membuat tubuhnya terasa nyeri dibeberapa bagian. Bella yang berada digendongannyapun terpelanting menubruk tubuh Samuel. Menindih dan membuat tubuh dibawahnya terasa lebih remuk dari sebelumnya.


Alamak pinggangku...


Papan berwarna kuning yang biasanya menjadi peringatan agar setiap orang yang melintas menghindari area itu tak terlihat bagi dua orang yang diliputi rasa rindu itu.


Mereka terlalu sibuk dengan kebahagiaan mereka, bahkan tak peduli dengan pandangan sekitar yang mengomentari kelakuan mereka yang seolah sedang mengumbar kemesraan bersama pasanganya.


Para petugas disekitar segera berlari menghampiri dua sejoli yang maunya beromantis ria yang malah berahir dengan kesakitan itu.


Tak ayal berberapa orang disekitar mereka tak mampu menahan geli dan bahkan tanpa sungkan tertawa meliht adegan itu.


Ya ampuuunnn sudah sakit malu pula.


Bella.


Ternyata dunia film berbanding terbalik dengan dunia nyata ya. Sakitnya sih besok juga sembuh. Malunya itu... seumur idup.


Samuel.


Samuel dan Bella akhirnya saling melirik setelah mengatakan kepada beberapa orang yang datang membantu mereka. Dua orang medis juga akhirnya pergi setelah yakin tidak ada yang membahayakan customer mereka.


Bhuaaahaahahahhah


Mereka tertawa bersama seolah janjian dalam melakukan hal itu.


" Sakit...??? "


Masih seraya memegang bokongnya yang terasa sedikit ngilu, Samuel bertanya untuk memastikan keadaan teman gadisnya yang menjadi partner saltonya baru saja.


Bella menangkupkan kedua telapak tanganya, membuatnya seolah Benteng penghalang yang mampu menutupi wajahnya untuk menghindar dari tatapan geli orang orang disekelilingnya.


" Maluuu... "


Jelasnya dengan nada lirih...


Mereka masih tertawa dengan kejadian memalukan yang mereka alami.


Kemudian, keduanya segera beranjak dari tempat itu karena sudah teramat malu juga risih dengan tatapan dan tawa orang-orang disana.


Tak berapa lama, mereka sampai diparkiran tempat mobil Bella berada. Dengan cepat mereka masuk kedalam mobil mungil berwarna merah itu.


" Huuft Aman "


Samuel mengelus dada setelah merasa berhasil menghindari tatapan dari semua orang yang melihat adegan konyol dirinya dan Bella.


Iapun segera memakai sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil yang akan dikemudikanya.


Sedangkan disampingnya, Bella tengah sibuk merapikan isi tas slempangnya yang berukuran mini.


Tanpa sengaja ia menemukan sesuatu benda asing didalam tasnya itu. Padahal selama ini, sekalipun ia tak pernah memasukkan benda semacam itu kedalam tasnya. Lalu darimana datangnya benda itu? Lagipula kenapa muncul tiba-tiba, padahal sebelumnya ia sudah mengecek isi tasnya. Dan tidak sama sekali ada penampakan benda kecil nan tipis itu.


" Sam... "


" Hmm... "


Samuel sibuk memerhatikan jalan untuk menuju apartemen miliknya. Mereka telah keluar dari area parkir di bandara.


Sebenarnya, tempat parkir untuk Internasional dan Domestik memiliki tempat yang berbeda. Namun, Bella yang terlalu malas melajukan mobilnya ke gedung parkir atas untuk kedatangan Internasional, memilih memarkirkan mobilnya diarea parkir Domestik. Dan menggunakan lift untuk naik ke lantai tiga yang merupakan lobi kedatangan Internasional, menunggu Samuel disana.


" Samuel Lin... "


Marga Lin adalah nama marga dari ibu Samuel. Karna ayah Samuel orang Jawa asli. Maka Samuel menggunakan nama marga Lin sebagai nama Cinanya. Dan Samuel Dirgantara Putra adalah nama lengkap Indonesianya.


Saat namanya disebut untuk yang kedua kalinya itu. Entah mengapa suasana berubah menjadi terasa dingin dan mencekam.


Secara perlahan Samuel memutar kepalanya hingga wajahnya telah menghadap Bella dengan sempurna dan menghentikan aktivitasnya seketika.


Glek...


Oh God... Mati aku...


****


" Dia tidak bisa beladiri. Tapi... Dia pernah meminta ijin padaku untuk mengikuti latihan di tempat kita. Dan... Sepertinya itu karena dia melihatmu berlatih beberapa kali. Aku rasa fansmu sudah bertambah satu orang lagi. "


Mengerti akan apa yang dipikirkan Bella. Samuel memberikan jawaban tanpa diminta.


Samuel melirik mobil yang berada dibelakang mereka lewat kaca spionya. Memastikan bahwa seseorang masih Setia berada disana.


" Apa kau mau mati ha...???"


Samuel setengah menutup matanya, saat kerah bajunya berada ditangan Bella yang kemudian ditarik hingga tubuhnya mengikuti tanpa intruksi.


Tak sampai disitu. Tangan kiri Bella menjambak kuat rambut Samuel yang tadinya tertata sedikit acak namun justru menambah kesan gentle dan menggoda bagi dirinya yang memang termasuk pria yang mempeaona.


" Kau lebih suka Eyang mengutus Petrus kesini rupanya?"


Samuel memulai untuk mencari celah agar mampu lepas dari kemarahan sahabatnya. Bella melepaskan tanganya dari rambut Samuel.


" Big No... "


Kemudian melepas cengkramanya dikerah Samuel.


Menyilangkan kedua tanganya didada. Tanda penolakan mutlak dari gadis itu. Petrus itu terlalu patuh pada Eyangnya. Bisa gila Bella kalau diikuti pria kaku itu.


" I know... Maka dari itu sebagai gantinya, aku menawarkan Elang. Dan Eyang setuju. "


" Jadi Elang ada karena acc dari Eyang juga? "


" Mm... Tentu saja. "


Membenarkan duduknya.


Meraih kaca mobil dihadapanya untuk merapikan diri setelah teracak oleh tangan jahat sahabatnya.


Hiiish... gadis macam apa dia... memperlakukan pria tampan seperti ini dengan sangat bengis dan kejam. Ya Tuhan... ramnut baruku.


Samuel meratapi rambutnya yang baru saja mendapatkan perawatan khusus dari salon mahal yang ia datangi kemarin sebelum kepulanganya ke Indonesia. Itu merupakan kali pertamanya mencoba perawatan rambut dan kulit kepala dengan biaya yang fantastis. Namun semuanya sia-sia setelah beberapa saat lalu, gadis bar-bar disampingnya merusak segalanya.


Dijambak begitu kuat membuat beberapa helai rambutnya terlepas dari kulitnya. Ingin sekali menanhis rasanya. Kalau saja tak ingat bahwa dirinya adalah lelaki tampan dan jantan.


Dasar nenek sihir...


Melirik pada gadis disampingnya dengan sinis. Nyatanya ia hanya berani mengumpat dalam hati.


Namun, dengan cepat ekspresi itu berubah seratus delapan puluh derajat begitu ia mengingat akan sesuatu.


" Kami hanya mengusahakan yang terbaik. Meski tak mampu mengembalikan yang telah hilang darimu "


Tiba-tiba kalimat itu keluar dari mulut Samuel. Samuel menatap dalam pada gadis disampingnya. Yang ternyata juga telah menatap sendu pada dirinya.


Bagaimanapun semua orang yang menyayangiku hanya ingin yang terbaik untukku.


" Dua puluh empat jam? "


Bella memastikan berapa lama ia terus dipantau dalam sehari selama ini.


Sial.


Keluh Bella dalam hati saat mendapati anggukan pasti dari Samuel.


" Cuma sampai minggu depan saja. Selama ada aku dia tak perlu lagi mengikutimu. "


Samuel menahan senyumnya.


Tunggu, berarti dia juga tahu soal Sofia?


" Tidak salah aku milih dia. Kalau aku tidak ceroboh sepertinya kamu juga masih tidak sadar. "


" Nuts...!! "


Pemuda itu kini tergelak tak mampu lagi menahan tawanya. Merasa bangga dengan kinerja orangnya. Dan itu sukses mendapatkan tatapan membunuh dari Bella.


" Tapi mana bisa juga... Kode akses apartemen bahkan pasword ponsel saja kamu tahu. "


Bella memicingkan kedua matanya. Menunggu kalimat lanjutan dari Samuel, sahabatnya, yang kini juga tengah memfokuskan pandanganya hanya kearahnya. Dan sedikit memutar tubuhnya untuk menghadap kearah gadis itu.


" Tidakkah seharusnya ada privasi diantara kita? Aku sudah terlihat seperti suami takut istri selama ini. "


Samuel sedikit memelas. Selama ini, dunianya memang selalu berkutat pada gadis itu saja.


" Coba saja kalau berani "


Senyum remeh dari gadis disampingnya, membuat Samuel berdecak kesal. Apa daya, ia sendiri tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan gadis keturunan eropa disampingnya ini.


Jangankan hal-hal besar. Mengatakan tidak untuk membelikan pembalut saat gadis yang disayanginya ini kedapatan tamu bulanan saja ia tidak bisa. Meski harus menahan malu ketika memilih barang itu dan membayarnya dikasir. Tapi tetap saja ia lakukan tanpa perlawanan.


Emosi gadis itu tiga kali lebih tinggi dari waktu normal. dan demi kelangsungan hidupnya, ia tak mau memberi perlawanan yang sia-sia.


Mungkin juga rasa sayangnya yang terlalu besar itulah yang membuat dirinya seolah hanya ingin melihat gadis dalam hidupnya itu selalu bahagia.


Ahh... Mengingat itu semua membuatnya geli sendiri. Sejak dulu gadis cantik disebelahnya ini memang selalu mudah dalam membuatnya tak mampu berkutik.


Apalagi semenjak kejadian 7 tahun yang lalu. Gadis itulah yang menjadi pusat tata surya dalam hidupnya. Membuat segala perhatianya hanya tercurahkan kepada gadis itu. Apapun asal gadisnya bahagia. Selama ia mampu pasti ia penuhi. Kalaupun tidak, maka akan diusahakanya sampai dapat.


" Dia tahu tentang Sofia dan Bella yang aku perankan? "


Bella bertanya setelah sadar akan sesuatu. Berharap apa yang menjadi jawaban Samuel tidak sesuai dengan apa yang ia cemaskan. Sayangnya, anggukan yang diberikan Samuel mematahkan harapanya.


" Tenang saja, Apapun yang kamu cemaskan tidak akan terjadi. "


Bella mengangguk lega.


Baguslah.


" Jadi... aku dimaafkan? "


Bella menggeleng dengan pasti.


" Tak semudah itu kawan... "


Senyum menyeringai.


Lesu... begitulah penampakan visual Samuel saat ini. Tentu saja... mana mungkin gadisnya itu akan melepaskanya begitu saja. Apalagi yang dilakukanya merupakan sesuatu yang sangat tidak disukai gadis itu.


" Tiket ke Bali? "


Mencoba melakukan penawaran untuk meringankan hukuman yang akan diterimanya.


Gelengan kepala Bella membuat pemuda itu harus meneras otaknya, kembali mencari ide agar terlepas dari hukuman.


" Laptop keluaran terbaru? "


Lagi-lagi gadis itu menggeleng disertai senyum misteriusnya.


Samuel mengerutkan dahi. Sadar yang diminta gadus itu paati aesuatu yang tidak-tidak


" No way... "


Menggunakan kedua telapak tanganya, Samuel menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang terlintas dikepalanya.


" Tidak mungkin seperti yang aku pikirkan. "


" Menurutmu? "


Alat sadap itu kini dipermainkan dengan cantik oleh jari-jari lentik Bella. Selain alat sadap, sebenarnya beberapa waktu lalu, Bella merengek untuk dibuatkan pisau kecil dalam jumlah yang cukup banyak.


" Dan juga laptop keluaran terbaru yang kau janjikan tadi. "


Shit... Miskin sudah diriku yang malang ini.


Alat sadap dan laptop keluaran terbaru. Belum lagi pisau yang sangat ingin dimiliki gadis itu.


Sepertinya Samuel akan menguras habis tabunganya untuk membayar hukuman yang diberikan kepadanya. Ia terlihat sangat frustasi.


" Kenapa nasibku buruk sekali... "


" Bukankah kau sendiri yang mendaftar untuk menjadi milikku selamanya. "


" Oh Shiiittt...! "


Kalimat itu lagi. Kenapa dulu dia sebodoh itu sampai mengatakan kalimat yang sudi menjadikan dirinya budak dari gadis jahat itu selamanya.


" Aku bisa apa... "


" Lan ren " ( Bodoh )


Senyum menyeringai penuh kemenangan tersungging dibibir Bella.


" Hai nyonya Bella... Bisakah kamu berhenti memakai bahasa mandarin? Dutch dan English lebih cocok dengan wajah bulemu itu. Kau terlihat sangat menyebalkan saat memaki dengan bahasa nenek moyangku. "


Samuel mencibir.


Mendapatkan protes dari Samuel, Bella hanya nyengir kuda, seolah mengabaikan perintah sahabatnya adalah keahlianya.


Tapi ternyata ia masih ingin mengalahkan Samuel dengan kekalahan telak. Belum puas dengan hanya kata menang saja. Tapi juga menghancurkan sampai akhir.


" Ini apa? "


" Mulut "


" Punya siapa? "


" Kamu "


" Yaudah "


It artinya ' terserah aku '


" Ya ya ya... Tentu saja, kamu bahkan lebih chinese dibandingkan aku. Hanya kurang di fisik saja sih. "


Mengelus pucuk kepala Bella.


" Bule jawa yang sok ke cinaan. "


" Kamu cina banget, tapi hobinya rendang jengkol sama gudeg jogja hahahah.... Chinese yang sok kejawaan."


Kalah lagi...