Another me

Another me
Melepaskan...



Hujan turun begitu deras, disertai dengan angin yang sangat kencang. Yakin diluar sana angin ribut memporak porandakan seisi kota. Cuaca hari ini buruk, seburuk suasana hati seorang gadis yang sedang tenggelam dalam kalut karena putus cinta.


Ia tidak menangis tidak berteriak histeris atau melakukan hal hal di luar kendali lainnya. Ia hanya diam melamun mencoba mencerna semua yang telah terjadi. Yang kemarin terjadi tepatnya.


Apa yang salah darinya? Dia masih belum mengerti apa yang kurang dari dirinya?


Ia bersikap baik sebagai pasangan.


Pengertiannya bahkan lebih dari sebuah pengertian dalam arti yang sesungguhnya.


Pengertian saat sang kekasih melampiaskan amarah ketika banyak pikiran. Pengertian ketika sang kekasih menjauh agar tidak diganggu ketika sibuk bekerja. Tidak meminta waktu lebih, tidak menuntut perhatian. Bahkan mencoba untuk mengerti ketika sang kekasih kembali menjalin kasih dengan sang mantan.


Meminta pengertian dirinya yang belum bisa melupakan cinta lamanya. Bahkan memberikan waktu untuk mereka bersama.


Menjadi pendengar yang baik ketika ia mengeluh atas sikap kekasih lamanya yang kini kembali namun masih seegois dulu.


Bercerita betapa kekanakan dan penuntutnya kekasihnya itu. Dan ia selalu pengertian... Sangat pengertian sampai menjadi bodoh.


Menjadi kekasih rasa sahabat untuk kekasihnya. Berusaha bijak ketika kekasihnya kecewa dengan sikap kekasih dari kekasihnya yang lain itu.


Menangis sendirian setelah mendapat kabar bahwa kencan mereka gagal karena sang kekasih sedang menemani kekasih nya yang baru kembali itu merajuk. Khawatir sendirian ketika sang kekasih tak ada kabar setelah berjanji akan datang berkunjung. Yang ternyata justru sedang berduaan di sebuah restoran bersama lagi-lagi kekasih dari kekasihnya yang tercinta itu.


Lalu ia menjadi si bodoh yang setia.


Bersikap naif seolah kesakitan itu bukan apa-apa. Percaya bahwa kekasihnya akan kembali padanya setelah nanti dicampakan lagi oleh kekasihnya.


Berjanji Setia pada yang menghianati ketulusanya. Bersedia menunggu kekasihnya patah hati untuk yang kedua dan kembali menjadi miliknya.


Namun apa yang ia dapat? Kekasihnya itu meninggalkanya, berkata, cintanya terlalu besar pada wanita itu. Seburuk apapun ia diperlakukan. Sebanyak apapun ia di sakiti. Ia tak mampu berpaling dari wanita itu dan tetap mencintai nya.


Gadis pujaan lelakinya begitu cantik seksi dan seorang model terkenal. Memiliki karir yang menjanjikan. Berbeda dengan dirinya yang bahkan tidak berani menjadi dirinya sendiri.


Gadis yang berpenampilan sederhana dengan kacamata bundar bertengger di hidungnya. Seorang pekerja disebuah toko buku biasa. Gambaran dari gadis lemah yang hanya bisa menggantungkan diri kepada orang lain.


"Bukankah selama ini aku tidak masalah dengan kembalinya mantan kekasihmu itu? Aku bersedia kau duakan... Ah.. Bahkan menjadi yang kedua sejak kalian menjalin hubungan di belakangku lagi. Aku tidak marah saat aku selalu kamu nomor duakan. Aku diam... Aku bersabar, aku yakin kamu hanya ingin meyakinkan cintamu padaku. Tidak ingatkah kamu... Aku yang mengelus pundakmu saat kau terluka olehnya. Aku yang menyediakan bahu ketika kau lemah atas perselingkuhan yang dia lakukan. Aku rela kecewa saat kau membatalkan janji dan memilih menemuinya. Aku rela mengalah saat ia merajuk. Aku memyediakan waktu perhatian cinta dan ketulusanku untukmu. Apakah hanya karena dia lebih cantik dariku? Apakah karena aku terlihat culun dan tidak kompeten? Apakah dia terlihat berbakat dan aku tidak? Apa... App pa.. Aku tidak pantas untukmu? "


Itu adalah pertama kalinya ia meledak bahkan selama berbulan-bulan di duakan, diselingkuhi. Mengeluarkan segala macam kecewa yang selama ini dipendamnya. Hancur sudah kepercayaan yang ia berikan. Hancur sudah impian dan harapan yang ia rajut. Ia fikir dengan kesabaran dan ketulusanya, pria itu bisa berubah. Namun justru getir dan pahitnya kecewa ia telan mentah-mentah.


"Maafkan aku yang tak bisa berpaling darinya. Maafkan aku yang mengingkari janjiku untuk setia padamu. Aku sungguh ingin mengejarnya, maaf"


Dan setelah apa yang ia korbankan. Perasaanya, hatinya, waktu juga kepercayaannya, pria itu hanya memgucapkan maaf.


Itulah ingatan yang selama dua hari ini memenuhi kepalanya. Tidak mandi tidak makan dengan baik dan tidak berangkat bekerja. Ternyata begitu luar biasa efek dari putus Cinta yang baru ia alami.


"Apa aku terlihat jelek dan bodoh? "


Gadis itu bertanya pada langit-langit kamar yang takan pernah memberi jawaban.


"Tidak berbakat dan tidak kompeten? "


"Bahkan kau belum tahu siapa aku... Bahkan aku belum sempat memberitahumu siapa aku. "


Lirihnya.


Ia kembali menghirup oksigen dalam dalam dan mengeluarkan nya kasar.


Apa daya kekasihnya adalah cerminanya sendiri. Ia menerima kekasihnya sepenuh hati meski terus disakiti sebagaimana kekasihnya itu menerima wanita itu meski terus terluka.


Ia tahu betul bagaimana rasanya. Maka dari memiliki banyak persamaan dari sebuah pengorbanan dan penghianatan. Ia merelakan segalanya, membiarkan pria itu pergi mengejar cintanya. Hanya itu yang bisa ia lakukan.


"Mungkin memang bukan kau orang yang bisa kupercaya. Bukan kau yang akan menerima diriku yang sebenar-benarnya. "


Ia baru sadar, Berusaha memperjuangkan kebahagiaan orang lain. Ya... Ia memperjuangkan kebahagiaan kekasihnya.


Oh... sudah mantan sekarang. Mantan kekasihnya yang buta akan cinta, yang tersakiti karena wanita. Ia merasa kasihan dan iba, disamping rasa sukanya itu. Apa boleh buat... Sang kekasih memilih jalanya sendiri. Jalan yang terjal alih-alih memilih kesetiaan dan cinta yang ia tawarlan.


Biarlah ini menjadi pelajaran bagi dirinya sendiri. Bahwa memperjuangkan kebahagiaan orang lain belum tentu membuat orang itu benar-benar bahagia.


"Sudahlah... Sekarang dia sudah bahagia... relakan saja... bunga yang mati pasti akan tumbuh kembali... masih ada hari esok yang menunggu... "


Tring tring tring....


Bunyi ponsel mengalihkan pikiranya. Ia meraih benda pipih itu dan mencoba melihat siapakah gerangan yang menghubunginya. Keningnya berkerut ketika mendapati nama yang tertera disana.


Mr.Widakdo is calling...


Tanpa pikir panjang lagi ia menekan tombol hijau menerima panggilan dari sang ayah.


"Halo... Bapak? "


"....."


"Tidak... Bapak tumben telpon sendiri.... "


"....."


"Ah... Bukan begitu... Biasanya ibuk yang telpon... "


"....."


"Apa ada masalah? "


"....."


"Baik... Bapak...tidak usah di jemput. Besok saya naik bis saja"


"....."


"Tidak... Jangan khawatir... "


"....."


"Baik Mr. Widakdo... Laksanakan!!!... "


"....."


"Iya...aku juga sayang bapak"


Ia menutup teleponnya selesai bercakap sebentar dengan orang yang berada di sebrang sana. Mr. Widakdo adalah ayahnya.


Entah apa yang terjadi, baru beberapa hari yang lalu ia pulang ke rumah. Dan hari ini ayahnya sendiri yang menelepon memintanya untuk segera pulang keesokan harinya.


"Apa yang terjadi?... "


Ayahnya hanya memintanya pulang segera tanpa memberitahukan kepadanya apa alasanya.


"Segera pulang besok nak... Ada yang ingin kami sampaikan. "


Begitu kalimat ayahnya yang mengundang banyak tanya dari kepalanya. Tak ingin menambah beban pikiran. Iapun menepis segala hal yang akan terjadi kedepanya. Sudah cukup dua hari ini tenaga dan pikiranya terkuras habis untuk mantan kekasihnya.


Dan mulai dari ini ia akan memulai hidup yang baru...