
...“Bukan hanya karena gagal sekali, gue harus mundurkan? Gue ga mau mundur sebelum benar-benar ngegenggam dia.”...
...☆anantarindy☆...
Ariel bangkit dari duduknya dengan pandangan dingin berjalan kearah depan kelasnya, "Dia itu beda dari cewek-cewek yang udah pernah gue temuin. Menarik dan menantang."
The KALBU yang mendengar ucapan Ariel barusan membelalakan mata mereka dengan kompak, tidak hanya itu, anak-anak kelas yang ada di sana—ikut dibuat terkejut oleh perkataan Ariel.
“Itu sohib lo kayaknya kesurupan kuda lumping deh?” Indra berbisik kepada Kevan yang ada di sebelahnya.
Kevan melirik sekilas dan menghela napasnya. Sejujurnya dia lelah bersahabat dengan anak-anak yang agak kurang waras seperti The KALBU. Tapi jika dia meninggalkan mereka, dia merasa kasihan dengan Leon yang akan frustasi menghadapi 3 orang yang agak tidak waras tersebut ini.
"Ekhem!" tiba-tiba Leon berdeham membuat beberapa mata menoleh kearahnya, sedangkan yang menjadi pusat perhatian kini menatap sosok yang sedang melamun di depan kelas mereka.
"Aduh sejujurnya gue ga tau lo udah minum obat atau belum dan gue curiga sama omongan Indra yang barang kali benar," Leon memandang Ariel yang membalas tatapannya, “tapi kalo lo emang suka sama dia ya haru lo kejar. Sekarang ga ada waktu buat lo bimbang.”
Beberapa orang mengangguk, begitu pula dengan Kevan yang kini sudah ada di sampingnya.
"Eh iya lo masih mau idnya?" tanya Kevan yang siap-siap mengeluarkan ponsel di dalam saku celananya, "karena gue baik, kali ini gue gratisin deh buat lo."
Ariel langsung menggelengkan kepalanya, "Ga perlu, gue udah dapet kok. Instagram gue bahkan udah di follback sama Arin."
Anak-anak yang berada di dalam kelas langsung bingung dan berbisik dengan orang-orang yang ada di dekat mereka.
"Hah?! Dia serius ngomong begitu?"
"Masa sih? kok gue ga percaya ya?"
"Beneran Si Ariel? Bukannya Arin jarang nge-follback orang ya?"
"Ga percaya sih gue, harus gue cek!"
"Eh dia bener anjir! bener-bener difollback!"
"Apa karena Abeng mostwanted ya makanya difollback?"
"Ga mungkin, kalo iya ketua futsal kita pasti udah di follback juga."
Ariel mengernyitkan dahinya mendengar percakapan anak-anak kelasnya, dia langsung menggebrak meja membuat semuanya terkejut. "Kok kalian jadi rame? kan ini rahasia gue seharusnya!"
"Pftt, ngakak gue."
"Bego sih, lagian ngomongnya kenceng."
"Mampus ada si Tama, auto nyebar!"
"Eehh anying, kenapa gue keseret?!"
"Emang lo ember kan?!!" "Oh tenang, selama ada pulus semuanya mulus dan tertutup halus!"
Mendengar perkataan teman sekelasnya membuat Ariel mengeretekkan jari-jarinya, "Kalo sampai gue denger ada yang bocorin hal ini keluar! gue ga bakal segan-segan buat datengin rumah kalian."
Setelah melayangkan ancaman kepada teman sekelasnya, Ariel kembali duduk di bangkunya dengan tenang.
"Udahlah guys tenang aja, si Ariel ini lagi PMS jadi agak galak kayak pengen nyakar gitu, mending you semua diam gausah banyak bacot dari pada kena tampol." Indra berucap sembari memberikan kode untuk teman-teman sekelasnya diam.
Indra yang berbicara sembari cengar-cengir tersebut langsung diberi tatapan sinis dari Ariel.
Tanpa mereka sadari Arin dan CYRAL melewati kelas mereka. Kerusuhan yang tadinya sudah mulai tenang kembali ricuh. Beberapa anak menyoraki kata “cie” sembari menatap Ariel.
"Woy!" Alief menatap Ariel yang kini mengangkat sebelah alisnya, "Arin tuh barenf sahabat-sahabatnya."
"Cih," Ariel berdecih, “lo kira gue bakalan percaya sama omongan lo?”
Mendengar balasan Ariel membuat Alief yang berada di depan kelas memutar bola matanya. Sialan, emangnya muka dia tampang-tampang tukang bohong? Ya walaupun ada secuil sih, tapikan ga sepenuhnya!
"Si Alief ga bohong anjing!" Leon tiba-tiba menyahut dengan nada ngegas membuat Ariel melotot kearahnya.
"Bego sih lagian. Itu lo beneran ga mau liat dulu, entar udah kelewat nanges." Leon melanjutkan kata-katanya.
Kevan yang daritadi hanya diam hanya bisa menahan tawanya ketika melihat wajah Leon yang terlihat kesal.
Indra yang daritadi hanya diam kini melirik Ariel, “Biarin aja sih. Biar Si Bucin nan bego ini menyesal nantinya.”
Ariel berdiri dan hendak menghampiri Indra, belum saja kena—Indra sudah lebih dulu mengambil langkah seribu.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Layaknya Tom & Jerry dari serial kartun Kucing dan tikus yang hobinya berantem terus.
"Arin!!" teriak Indra menggema memanggil nama Arin, "aduh, tolongin gue!"
Indra ngumpet di belakang anak-anak CYRAL, lebih tepatnya di belakang Arin dan Liora yang menatap mereka aneh.
“Sialan nih anak, pulang-pulang enaknya gue apain ya? Apa harus gue iket di pohon beringin di halaman belakang sekolah ya?” batin Ariel yang sudah berhenti mengejar Indra.
“Lo ngapain sih anjir? sana gih. Ribet deh, kayak anak tk aja main kejar-kejaran begini.” Liora berkata dengan mata sinis yang dia layangkan untuk Indra.
Indra berkacak pinggang, "Ga ya! abis tadi Si Ariel duluan yang gangguin gue!"
Mendengar perkataan bohong dari Indra membuat Ariel melotot, “Lo kalo ngomong jangan sembarangan ya. Tadi lo duluan, bego dih!”
"Kok lo malah nyalahin gue? Kan awalnya lo duluan yang sensi!" Indra membalas tatapan Ariel lalu beralih ke Arin, "masa gue nyebut nama lo doang rin! Dia udah pengen nonjok gue."
"Udahlah bodo amat Ndra, besok-besok gue males main sama lo. Awas aja lo main ke rumah, langsung gue usir!" balas Ariel langsung balik ke kelasnya.
"Anjir! bisa ngambek juga." ejek Indra sembari melirik Arin untuk melihat ekspresi wajahnya.
“Arin lagi senyum? gue ga salah liatkan? masa karena Ariel yang ngambek gitu?” tanya Indra di dalam hati.
"Woy Riel!" panggil Indra begitu tiba di tempat duduk Ariel. Dia tidak jadi duduk di bangkunya. Teman yang duduk di depan Ariel tersebut menghela napas dan pindah untuk sementara.
Ariel diam tidak menjawab, tapi saat Indra memanggilnya barusan yang membuat lelaki itu menoleh, pasti membuat Ariel penasaran.
Indra memutar bola matanya, "Tadi waktu lo udah masuk duluan yang ngambek sama gue. Gue ngeliat Arin senyum! Ya walaupun ga lebar sih, tapi dia senyum cuy!"
Ariel menoleh kearah Indra, lelaki itu hanya memberikan ekspresi datar kepadanya. Tapi di dalam hatinya, Ariel sekarang sedang berseri-seri—dampak diberi senyuman tipis oleh Arin walaupun dia tidak melihatnya.
Leon yang tadi ada di depan kelas kini menatap sahabatnya, menepuk pelan pundak Ariel. "Berjuang itu susah. Kalo lo gagal jangan cepat nyerah, berusaha lagi. Selanjutnya mungkin lo bisa dapetin hatinya."
Ariel menganggukkan kepalanya, setuju dengan perkataan Leon. Betul, dia tidak boleh menyerag begitu saja.
"Mantul kalo begini mah!" kata Indra seraya menggosok-gosok hidungnya seperti orang yang habis bersin.
The KALBU menatap Ariel aneh karena melohat Ariel yang kini sedang senyum-senyum sendiri. "Tadi lo seharusnya ga perlu kasih tau dia kalo di senyumin Si Arin!" Alief berkata kepada Indra.
"Lo berdua hari ini ngeseli banget anjir. Lama-lama gue timpuk pake buku ye!" kesal Ariel membuat keduanya langsung diam.
"Gue masih kepo sama yang tadi. Kira-kira si Alvaro ngelakuin apa ya di masa lalu sampai-sampai reaksi CYRAL semarah itu."
Kevan yang sedaritadi menutup mulutnya mulai membuka topik obrolan baru, berurusan dengan kejadian tadi yang masih membuat mereka terpana.
"Kok lo nanya kita sih? Bukannya lo ini stalker ya? Informan lo pasti banyak, gampang kali nyari identitas Alvaro sama masa lalu diantara mereka." Leon membalasnya dengan santai.
"Bisa aja sih, tapi masalahnya gue ga punya koneksi yang deket sama CYRAL. Gue aja ga tau mereka SMP di mana." Kevan mengetuk dahinya, berpikir bagaimana caranya agar dia tahu tentang masalah ini.
“Kenapa lo ga coba tanya Bang Viko?” Alief tiba-tiba berkata, tak lama dia menutup mulutnya.
“Ralat deh, maksud gue Bang Rendy. Diakan deket sama Kak Vierra barang kali tau gitu. Coba aja lo tanyain ke dia,” sambungnya membuat Kevan tersenyum.
“Bagus juga ide lo. Ga nyangka gue kalo lo bisa mikir.” sahut Kevan membuat Alief ingin menimpuknya.
Tak terasa waktu terus berjalan, tiba-tiba bell sekolah berbunyi. Bell yang ditunggu para murid selain bell istirahat—bell pulang sekolah.
Ariel berjalan di lorong sendiri, karena dia harus ke ruang basket terlebih dahulu. Sebagai ketua, dia memberika beberapa amanat dan memberitahu kapan jadwal anak-anak basket untuk berlatih. Sebagai ketua ekskul, sudah tugas Ariel menggantikan sedikit tugas pembina mereka.
Setibanya di tempat parkiran, Ariel langsung menaiki motornya dan mengernyit saat melihat Arin yang berdiri sendirian di dekat gerbang.
"Lo belum pulang?" tanya Ariel yang berhenti di depan Arin. Mendengar tersebut membuat Arin menatap kelawan bicaranya.
"Belum. Kak Vera ada pelajaran tambahan, jadi gue terpaksa nunggu angkot."
“Emangnya di rumah lo ga ada supir buat jemput?” tanya Ariel kembali diberi gelengan.
"Bokap gue hari ini pulang dari dinasnya di luar kota. Jadi supir gue jemput dia karena supir bokap lagi izin."
Ariel mengangguk paham, "Rumah lo dimana?"
"Lo mau ngapain emangnya?"
"Angkot jam segini udah jarang lewat. Lo mau nunggu sampai kapan kalo nungguin?" sahut Ariel sembari menghela napasnya, "gue mau nawarin tumpangan buat lo karena hari ini gue bawa helm cadangan."
Arin menatap ragu-ragu kearah jok belakang motor Ariel, "Gausah deh, thanks ya gue nunggu aja."
Tiba-tiba terbesit ide yang ada di kepalanya agar Arin mau menerima ajakannya. "Oh iya, hati-hati ya.." ucap Ariel membuat Arin mengangkat sebelah alisnya.
"Apa?"
"Lo ga tau?" tanya Ariel diberi gelengan oleh Arin. Cowok itu menoleh kearah sekitar sebelum mendekat kearah Arin dan berkata dengan suara pelan.
"Jalan ini tuh terkenal sama angkerbya. Lo yakin ga mau ikut gue dan nunggu angkot lewat?" sambung Ariel membuat mata Arin membulat.
"Angker apanya?"
"Gatau, tapi dari yang gue tahu, di sini pernah ada tabrak—" ucapan Ariel terpotong begitu saja dengan Arin yang tiba-tiba menepuk jok belakangnya.
"Kalo gue pikir-pikir lagi tawaran lo tadi kayaknya bakal sayang banget kalo dianggurin," ucap Arin sembari melirik kearah sekitarnya, "tawaran lo yang tadi masih berlaku ga?"
"Kenapa lo takut? Masih, tapi ada syaratnya!" jawab Ariel membuat Arin mengernyit.
"Syarat apa?"
"Asal lo nambahin gue jadi teman lo di line."
"Alah itu mah gampang! Entar gue tambahin di rumah. Sekarang ayo kita buru-buru pulang," balas Arin sedikit panik.
"Yaudah ayo, tapi sebelum lo naik pakai dulu helmnya." Ariel menyodorkan helm kearah Arin.
Arin dengan cepat memakainya dan langsung naik di jok belakang. Layaknya tukang ojek, Arin sendiri tidak mau untuk memeluk atau memegang pundak Ariel sebagai pegangan. Dia lebih merelakan tangannya untuk memegang bagian belakang motor.
Melihat Arin dari kaca spion yang tidak akan terbujuk dengan ucapannya membuat Ariel menghela napas dan langsung melajukan motornya.
[TBC]
HALO, GIMANA CERITANYA?
Semoga kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tunggu kelanjutannya dipart 6 ya! see you. Jangan lupa likenya ya sebagai bentuk dukungan untuk cerita ini~
Jangan lupa follow : @andinildrrn dan @storyof.ldrr [check visualisasi ANANTARINDY]
follow juga akun rp, untuk liat visual dan keseharian anak-anak AR!♡ : @anantarindy
subscribe youtube : [senja nidy] untuk ngeliat trailer 1 dari cerita ANANTARINDY!
Te amo for you all😘💖.