
Kalau semua yang pernah ditakdirkan datang akan pergi kembali. Kenapa, Tuhan membiarkan dia datang dan pergi untuk selama-lamanya?
-Uqindra Tirthaya-
🍁
Hari ini cuaca sedang cerah. Sangat cerah.. Mentari tidak terlalu terik dan awan yang melindungi bumi, sama-sama menjadi saksi bisu seorang lelaki yang sangat terlihat rapuh itu.
Lelaki itu berjalan di lorong sekolah dengan langkah gontai, seperti tidak ada tujuan. Jika dilihat sangat menyedihkan. Aura yang dia pancarkan sangat menyedihkan.
Mata yang sembab, langkah gontai, rambut acak-acakan. Seperti sudah tidak ada tujuan hidup.
DIA KENAPA?
Bisikan-bisikan itu terdengar jelas disetiap lorong yang berisi beberapa murid yang masih mengobrol dibalkon kelasnya.
Tiba di kelasnya, dia menghampiri beberapa murid lelaki yang sedang asik mengobrol dengan langkah gontai.
"Kenapa lo?" tanya salah seorang sahabatnya yang bingung dengan tingkah sahabatnya ini. Seperti bukan dia yang biasanya.
"Gue gapapa," jawabnya dengan dua kata itu.
Sahabatnya mengernyit bingung. Dia bukan seperti biasanya. Ini seperti dia beberapa tahun yang lalu. Ditinggalkan dengan sebuah harapan tak terpastikan.
Dua orang dari sahabatnya memutuskan untuk keluar dari kelasnya menuju salah satu kelas yang memang akan mereka datangi, yaitu kelas XII IPS-3.
Setibanya didepan kelas,
"Bang Viko!" teriak dua lelaki itu yang bernama Ariel dan Kevan.
Bang Viko langsung menghentikan aktivitas menyalin tugas sahabatnya, Bang Bryan.
"Apaan?" jawab Viko sembari mengernyitkan dahinya, bingung.
"Keluar dah, gue pengen nanya," balas Kevan yang membuat Viko dan–Bryan terpaksa keluar.
"Aya naon iyeu teh?" tanya Viko dengan bahasa sunda yang–ia ketahui itu.
"Si Indra kenapa?" tanya Ariel yang langsung mengeluarkan pertanyaannya.
"Emang adek lo kenapa, Ko?" tanya Bryan kepada Viko yang membuat Viko langsung berpikir.
Satu detik..
Dua detik..
Lima detik..
"Lah iya *****! Jangan sampe!!" ucap Viko langsung lari menuju tangga, menuju kelas adiknya XI IPA 4
"WOII NYET, KENAPA LO LARI?!" kata Bryan langsung ikut lari menyusul sahabatnya.
"Lah ini kita ikut lari juga? Kayak adegan-adegan film di India aja," ucap Ariel sembari menghela napasnya, frustrasi beraduk capek.
"Udahlah ikut aja! Gue kaga mau ketinggalan informasi!" ucap Kevan langsung lari menyusul dua kakak kelasnya disusul Ariel.
#Di kelas XI IPA 4#
Indra terlihat sedang menenggelamkan kepalanya dalam tasnya.
"Ndra...," ucap Viko lirih melihat keadaan adiknya.
"Lagi tidur, Bang," ucap Leon seraya menatap Viko.
Viko tahu adiknya sedang tidak tidur tapi sedang menangis. Menangisi sesuatu yang sudah tidak akan bisa kembali dihidupnya.
Viko mengelus rambut adiknya, sayang. Ya.. Viko sangat menyayangi Indra. Sebagaimana pun itu, sekonyol apapun mereka berdua tetap saja Viko sangat menyayangi adik satu-satunya ini.
Hiks.. Hiks..
Suara isakan kecil itu mengejutkan THE KALBU, terkecuali Indra dan orang yang berada dikelas itu.
"Kata lo tidur, ini mah nangis dalam diam!" ucap Ariel sembari memberi tatapan tajamnya ke Leon
"Ya gue kira tidur, gue baca-baca di novel kalo kaya gitu mah tidur!" balasnya tak mau kalah.
"Mata lo novel! Ini tuh nyata! Pelo banget, asli!!!" ucap Kevan sembari menoyor kepala Leon yang membuat si empunya kepala mengaduh kesakitan.
"****!" ucapnya semabri mengelus-elus kepalanya yang tadi kena toyoran Kevan.
"Dia kenapa?" tanya Bryan dengan suara pelan tapi masih bisa didengar beberapa murid disitu.
Viko diam tidak menjawab. Beberapa menit kemudian dia menitikan air matanya. Perihatin akan adiknya.
"Jangan nangis, bego!" ucap Angkasa yang tiba-tiba datang langsung menoyor kepala Viko. Emang ya sembarangan aja, dasar!
"Yang kemarin itu, Vik?" tanya Anggara yang sekarang ada tiga langkah dari Viko.
Viko mengangguk lemah. Sangat lemah seperti sudah tidak punya tenaga lagi.
Anggara langsung terdiam, menunduk. Begitu pula dengan Angkasa yang menyesal karena langsung menoyor kelapa Viko.
"Sorry," cicit Angkasa yang merasa bersalah kepada Viko.
"No problem," balas Viko sembari memperlihatkannya senyum keterpaksaannya.
Bel masuk masih tiga puluh menit lagi. Kelas XI IPA 4 masih tergolong sedang. Belum full tapi tidak kosong juga.
"INI PADA KENAPA DAH *******?" tanya Bryan yang tidak tahu menahu tentang kejadian ini.
"Dia udah meninggal..," ucap Indra dengan suara serak khas menangis sembari sesenggukan dan mata yang sembab.
Semuanya membelalakan matanya. Kaget. Siapa? Siapa yang udah meninggal yang dimaksud Indra.
"Siapa, Ndra?" tanya Alief
"Dia lief..," balas Indra yang membuat Alief langsung membekap mulutnya, kaget.
"Se-se-serius?" tanya Alief kaget. Sangat kaget. Yang hanya diberi anggukan oleh Viko, abangnya Indra.
"Kapan? Kenapa?" tanya Alief yang masih tidak bisa menutupi keterkejutannya.
"Kemarin agak siangan, gegara kehabisan darah karena tabrak lari," jawab Indra luruh kebawah sembari menutupi wajahnya dah nangis meraung-raung.
Viko cuma bisa menutup matanya menahan tangisnya yang hampir meledak akibat melihat adiknya.
"Please ya jangan buat gue penasaran! Siapa yang meninggal?!" kata Bryan yang semakin frustasi.
Kelas, sunyi, dan orang yang ada didalamnya adalah saksi bisu betapa hancurnya seseorang yang terlihat ceria dan petakilan akibat kehilang seseorang yang sangat ia sayangi itu.
"Ngga.. Jangan bilang.. Orang yang meninggal itu si...," ucap Bryan terhenti karena diberi anggukan terlebih dahulu oleh Anggara.
Bryan langsung menatap lantai yang dia pijak dengan perasaan bercampur. Karena Indra sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
"Siapa?" tanya Leon, Ariel dan Kevan berbarengan.
"Risyani Velicia," balas Alief yang langsung membuat mereka melotot dan beberapa langsung menatap Indra sedih. Turut prihatin.
"GUE SEHARUS ADA SAAT ITU! SEHARUSNYA GUE BISA JADI TEMPAT CURHATNYA! KENAPA GUE ENGGA ADA SAAT DIA BUTUH KENAPA?!" ucap Indra berteriak, meraung-raung seperti kesetanan.
Bertepatan dengan itu CYRAL, Vierra, Agatha dan Tirsha masuk ke kelad XI IPA 4 dan melihat betapa terpukulnya Indra.
"SEHARUSNYA DIA MASIH HIDUP KALAU KEMARIN GUE ENGGA KETIDURAN! SEHARUSNYA KEMARIN GUE ENGGA LUPA KALAU ADA JANJI TEMU SAMA DIA! SEHARUSNYA GUE SAMA DIA SAAT-SAAT DIA KESEPIAN KAYAK GINI!!!" ucap Indra lagi yang semakin membuat semuanya menyaksikan betapa terpukulnya seorang yang ceria itu.
Yasmine maju. Karena dia tahu apa yang membuat Indra menangis. Karena Yasmine beserta keluarga juga datang untuk melayat kemarin.
"Itu semua bukan salah lo, Ndra..," ucap Yasmine sembari mengusap punggung Indra.
"Engga, Mine.. Itu salah gue! Gue salah engga ada saat dia lagi membutuhin gue!!!" balas Indra.
"Tuhan udah nakdirin dia kembali karena Tuhan udah garisin itu buat dia dan lo. Tuhan ngambil dia bukan karena dia benci sama Cia, Ndra tapi justru karena Tuhan sayang banget sama Velicia. Dia udah engga ada bukan karena lo, tapi karena Tuhan memang sudah nakdirin dia kayak gitu. Please, berhenti nyalahin diri lo..," ucap Liora.
Ya Liora juga tahu. Karena Cia juga teman Velicia dan sebelum itu Liora sudah merasa ganjal akan perubahan sikap temannya itu.
"Gue, Liora, dan yang lain juga sedih lihat kondisi lo yang kayak gini, Ndra..," ucap Yasmine.
Tiba-tiba Indra langsung berdiri membuat semuanya terkejut.
Satu detik..
Dua detik..
Tiga detik..
Empat detik..
Lima detik..
Indra pingsan tak sadarkan diri. Dengan sigap Angkasa yang persis berada dibelakang menahan Indra supaya tidak terhantuk oleh kursi dan meja yang ada dibelakangnya.
"Sa, minjem mobil lo!" ucap Viko panik.
"Kunyinya di Anggara!" ucap Angkasa ikut panik.
"Tangkep!" ucap Anggara tanpa berbasa-basi lagi yang langsung ditangkap oleh Viko.
"Bantuin gue gotong si Indra, please..," ucap
Tanpa basa-basi lagi Viko—dibantu oleh Bryan, Angkasa, dan Anggara membawa Indra menuju parkiran–tempat mobil Angkasa terparkir.
"Gue minjem ya mobilnya!" ucap Viko dengan membuka kaca mobil milik Angkasa.
"Gampang!" balas lelaki itu singkat
"Entar lo pulang bisa kerumah gue dulu engga? Sekalian bawain motor gue sama Indra," ucap Viko lagi.
"Iya entar kita bawain," ucap Anggara.
Viko pun langsung menyalakan mesin mobil Angkasa dan siap meluncurkannya keluar parkiran SMA angkasa.
"BANG VIKOOOO!!! JANGAN PERGI DULU!!!" seru Alief dengan sura cempreng.
"Astagfirullah, ada apa lagi?" tanya Viko sembari mengelus-elus dadanya, sabar.
"Tas lo sama Indra!" ucap Alief sembari berjalan kearah mobil.
"Buka elah bang!" ucap Alief membuat Viko membuka pintu mobil yang tadi sempat ia kunci tadi.
"Tq, Lief, Riel!" ucap Viko seraya menutup kaca jendela dan langsung melesatkan mobil menuju rumahnya.
🍁
Sekarang The KALBU, CYRAL, dan anak kelas XII —Kakak kelas yang akrab dengan mereka itu.
"Eh itu tadi sih Indra kenapa sih?" tanya Ceysta, kepo yang mewakili perasaan semua yang ada dimeja itu yang bekum tahu.
"Lah emang lo engga tahu?" tanya Yasmine sembari menaiki satu alisnya.
"Pacarnya Indra meninggal," balas Liora yang membuat mereka–yang belum tahu terpekik kaget.
"K-k-kok bisaa?" ucap Salsa mewakili perasaan kepo orang dimeja itu yang belum tahu.
"Tabrak lari, kemarin siang..," jawab Liora lagi.
"Pelakunya udah ditangkep belum?" pertanyaan itu terlontar dari Shasha—sahabat kakaknya Arin.
"Belum kak, Polisi masih nyelidikin kasusunya Cia," balas Liora, lagi dan lagi.
"Kapan dimakaminnya?" pertanyaan itu berasal dari Agatha—sahabat dari Vierra dan Shasha.
"Kemarin juga, tapi abis magrib," jawab Liora. Lagi, lagi dan lagi.
"Bentar-bentar," ucapan Alief membuat semua yang dimeja itu menoleh kearahnya.
"Gue mau nanya deh sama lo, yo," ucap Alief membuat Liora menaiki satu alisnya mengisyaratkan kata 'apaan?' darinya.
"Lo itu siapanya, Cia? Maksud gue sih–," ucapan Alief terpotong oleh ucapan Liora.
"Risyani Velicia?" tanya Liora yang diberi anggukan oleh Alief.
"Gue temennya. Dulu gue sama dia itu satu lesan. Terus deket gitu.. Gue kaget dapet kabar dari kakaknya kalau dia meninggal kemarin. Yaudah gue langsung izin sama nyokap dan bokap gue buat ke pemakamannya Cia," ucap Liora panjang lebar.
"Oohhh," ucap Alief membuat Liora memakan kembali mie ayamnya yang sempat terhenti-henti itu.
"Lo sebelum itu merasa ganjal ga sama kematiannya Cia? Biasanya orang meninggal itu selalu gituin tanda-tanda kematian," ucap Kevan membuat Alief, Liora dan Yasmine berpikir.
"Gue adanya status ini doang," ucap Liora.
"Eh iya!" ucap Liora mengagetkan mereka semua.
"Kalian berdua inget engga? Yang tempo hari atau kapan gitu Si Cia bikin status di story Whatsappnya," ucap Liora membuat kedua manusia itu menggeleng.
"Engga, emang yang mana?" ucap Alief dan Yasmine berbarengan. Ya mereka berdua juga menyimpan nomer Cia. Dikarenakan Alief adalah orang yang paling dekat dengan Indra dan Yasmine adalah anak yang paling mudah bergaul.. Mungkin dia mendapatkan nomer Cia dari media sosial yang dia miliki.
Liora pun merogoh saku roknya dan membuka galeri diponsel miliknya.
"Gue waktu itu sempet ngescreen shoot statusnya, Cia," ucap Liora memberi ponselnya kepada Yasmine dan Alief— tentu orang yang disamping mereka bertiga sempat ikut melihat juga.
"Eh kok statusnya dia kok kaya diancem ya?" pernyataan itu berasal dari Arin yang membuat tadi yang melihat menatapnya.
"Gue juga mikirin begitu," balas Liora.
"Ancaman gimana?" pertanyaan itu berasal dari Salsa.
"Lo lihat deh status dia yang ini," ucap Arin sembari menunjuk status pertamanya Velicia.
"Dari situ dia udah ngasih tahu ke sih pembaca statusnya kalau dia diancam lewat status tersirat itu," kata Arin yang diangguki semua.
"Betul juga, terus yang ngebuat lo yakin kalau dia diancam apa?" tanya Yasmine kepada Arin.
"Di statusnya dia yang kedua! Lihat dia nulis disitu, I'm so afraid," ucap Arin sembari menunjuk status keduanya Cia.
"Itu dia nunjukin kalau dia takut.. Dia takut karena mungkin dia diancam gitu—," ucap Arin.
"Tunggu!" ucap Kevan membuat semuanta menoleh kepadanya.
"Apaan sih lo?!" ucap Yasmine tak senang karena ucapan sahabatnya terpotong.
"Lo semua sadar engga sih?" tanya Kevan, membuat rata-rata yang berada disana menggeleng tetapi tidak untuk Liora dan Arin.
"Kalau ini bukan tabrak lari, kan?" ucap Liora sembari melirik Kevan dan Arin. Membuat keduanya tersenyum—senyuman misterius.
"Ya.. Ini kayaknya pembunuhan," ucap Arin membuat semuanya terbelalak.
"Kalau ini pembunuhan.. Seharusnya gampang dong buat diselidiki.. Iya engga sih?" tanya Yasmine.
"Dan lagi.. Kakaknya Ciakan polisi," ucap Yasmine.
"Emang, kemarin udah gue kirim kok abis dari makamnya, Cia," ucap Liora sembari menunjukan chat kepada mereka.
"Eh iya, yo," ucap Kevan kepada Lioara membuat cewek itu mengalihkan pandangannya.
"Apa?" tanya cewek itu kepada Kevan.
"Boleh lihat chat terakhir lo engga sama, Cia?" tanya Kevan membuat Liora mengambil ponselnya yang berada di tangan Ceysta.
"Nih!" ucap Liora sembari melempar handphonenya yang berlambang apple itu.
"Holkay mah bebas!" ucap Salsa seraya memutar kedua matanya, malas. Membuat Liora berdecak—pura-pura tak tahu.
"Pantes foto profilnya emang udah kayak sedih gitu," ucap Leon.
"Eh tunggu! Ini jagain pacar maksudnya apaan?" pernyataan itu bersumber dari Ariel.
Liora yang sedang asik menyeruput es teh manisnya terpaksa berdiri mengambil paksa hpnya yang berada di genggaman Kevan.
"Sial!" umpatnya pelan tapi masih bisa terdengar.
"Ciee!!!" ucap keempat cowok itu berbarengan yang tahu arti dari chatan Liora dan Cia.
"Huft," Liora hanya bisa menghela napas, pasrah.
Dengan metode maling, Arin langsung merebut ponsel Liora dan memajukan satu tangannya supaya Liora tak mengambilnya kembali.
Dia kemudian membuka isi chat Liora dan Cia. Liora hanya menutup mukanya, pasrah, pasrah dan pasrah.
"Cieee!!!" ucap Arin, Vierra dan yang lain berbarengan.
"***** gue kok jadi dicengin sih lah, njay?" ucapnya dengan muka datar membuat semuanya tertawa. Liora pun hanya memutar matanya malas.
Drrrttt drrrtt, this notification
"Nih pesan dari Bang Rizal," ucap Arin memberi ponsel milik Liora keempunyanya kembali.
Liora langsung membuka aplikasi hijau itu dibenda pipih miliknya.
Sekitar 8 menit terpaku dengan ponselnya membuat sahabatnya kepo. Akhirnya Ceysta memiliki usul yang bagus.
"Lihat dong, Yo!!" ucap Yasmine tanpa babibu lagi langsung merebut benda pipih dihadapan Liora.
"Anjirlah ponsel gue!!!" ucap Liora langsung pasrah.
"***** lampu hijau!" ucap Yasmine membuat Angkasa mengambil ponsel dari tangan adik perempuannya itu.
"Ih Bang Angsa!!!!" ucap Yasmine langsung membelalakan matanya.
"Udahlah yo.. Engga ada salahnya juga. Indra ganteng.. Bego cuma dia lumayan kok dipelajaran..," ucap Ariel membuat Liora mendengus kesal.
Hari ini ada dua kejadian yang bermakna. Kehilangan dan pemngembalian. Semua itu sudah digarisi. Baik dan buruknya oleh Tuhan.
Kita sebagai hamba hanya tinggal berdoa kepada Tuhan saja. Karena Tuhan adalah maha meminta.
For me, for you and all :)
🍁
Hai guys! Gimana ceritanya? Seru ga? Coba comment yaa!!! Jangan lupa klik suka juga!!! Follow aku untuk terus ikutin kisah Arin dan Ariel ya!
Wiih kira-kira kelanjutan cerita ini apa ya? Aduh jadi penasaran banget dehhh!! Ga sabar nunggu kelanjutannya.
Makanya jangan lupa follow aku, comment, like dan ikutin terus setiap partnya!
Btw, coba dong comment kalian ini antusias banget ga sih sama Kisah Ariel dan Arin ini.. Kalo iyaaaa, coba dong commentnyaaaa!!🌴
Jangan lupa follow instagram aku :
@andinildrr
Jangan lupa follow akun khusus story aku untuk mendapat notifikasi tentang informasi cerita-cerita aku dan keseruan lainnya di akun :
@storyof.ldrr
Suka quotes-quotes gitu? Yang galau-galau? Atau motivasi? Atau kamu yang lagi broken heart? Yaudah mampir atuh ke akun :
@naoumyquotes
Mau cari barang-barang kpop? baju? dan lain-lain? Tapi gatau harga yang murah dimana? Tenang, nih aku punya referensi akun jualan terbaik :
@travies0.olshop
Suka sama pemandangan? Tempat-tempat yang bikin seger mata? Dan sesuatu yang berbau aesthetic gitu? Yaudah skuylah cek aja ke akun :
@jaelaestetico
Mau kepoin tentang CYRAL? Dan nanya-nanya tentang mereka? Jangan lupa follow!! :
@arindybf_
@cystanindy_
@yasminefndi_
@lioratasyarf
@biancasalsa
Kalian juga mau kepoin tentang THE KALBU? Tenang, follow aja nih akun mereka!! :
@arielananta_
@kevanap19
@aliefnevandra
@indraaye
@leonzaa_
Sampai berjumpa di part 26 semuanya! Sampai Jumpa lagi!🐝 Jangan lupa untuk baca, 'Danger Girls!' OKEE!!
Te amo for you, All😘💖.
(Aku mencintaimu untuk kami, semua😘💖).