ANANTARINDY

ANANTARINDY
Kamu Lucu



..."Kadang meluluhkan orang yang dulu sempat terluka itu cukup susah, karena ia terlalu tertutup untuk membukanya pada siapapun."...


...☆anantarindy☆...


“Semalem waktu Indra tidur, dia kira-kira kepentok apa?” batin anggota The KALBU yang aneh dengan sifat Indra sekarang ini. Bisa dikatakan jauh lebih gila daripada biasanya.


"Idih, sejak kapan lu jadi Maho kaya gini, Ndra?" Kevan bertanya sambil geleng-geleng kepala.


"Aduh apa si abuank,” Indra berkedip kearah Kevan, “Abuank juga mau aku godain?"


Indra sekarang beralih untuk mendekat kepada Kevan, sedangkan sahabatnya yakni Kevan hanya bisa bergidik ngeri.


“GUE MASIH NORMAL YE GILA!” Kevan ngegas dengan tingkat kekesalan yang sudah melebihi batas.


Ketiga sahabatnya yang lain kompak menggeleng karena sifat Indra yang berani mencari masalah dengan Kevan.


Alief mengadahkan tangannya, "Ya Allah, jika teman hamba ada salah padamu tolong dimaafkan Ya Allah.. Tolong kembalikan otaknya yang kebentur besi ancol ini seperti semula.. Aamiin."


Sahabatnya yang lain kompak menyahut untuk meng-aamiin-i doa yang dipanjatkan oleh Alief. Mereka lalu menoleh kearah Indra yang keliatan bingung dengan sikap sahabatnya.


"Kalian kenapa doain gue? Gue ga kenapa-kenapa padahal, emangnya ada apa sih?" tanyanya dengan polos.


“Lebih baik lo ga tahu, soalnya otak lo ga bakal bisa menampungnya, Ndra.” mendengar ucapan Kevan yang seperti merendahkannya membuat Indra berdiri kembali dan hendak mengajaknya ribut.


“SINI LO AN—” umpatan Indra tertahan saat melihat seorang guru yang ingin memasuki kantin.


Ada banyak orang yang sekarang melihat kearah mereka. Tidak heran bagi anak-anak SMA Angkasa saat melihat sifat dan kelakuan dari The KALBU yang sepertinya sudah menjadi makanan keseharian mereka di sekolah.


Alief menepuk tempat di sebelahnya, “Woy Ndra, daripada lo bertingkah lebih jauh lebih baik ke sini.”


Indra mengangguk setuju dengan ucapan Alief dan duduk di sebelahnya dengan cepat. Mata Indra masih menatap kesal Kevan yang bahkan tidak mempedulikannya.


Selesai makan mereka langsung balik ke kelasnya. Mereka melewati lorong yang akan melewati kelas dari The Most Wanted Girl, siapa lagi kalo bukan Cewek Candi?


Ariel celingak-celiuk saat melewati jendela yang tidak tertutup tirai, mencari keberadaan Cewek Candi yang berhasil merebut perhatiannya.


Hampir tiba di depan kelas mereka, ucapan Ariel membuat mereka menoleh, "Kalian ke kelas duluan ya, gue nanti nyusul. Ada yang mau gue urus dulu."


"Tumben banget lo ada urusan," sahut Leon yang mirip seperti sindirian.


Berbeda denfan Leon, Alief hanya melihat Ariel sekilas, "Oh yaudah, kita ke kelas duluan. Kuuy guys!"


Alief dan Indra berjalan lebih dulu, mereka berdua menghiraukan Leon yang tampak kepo dengan tingkah Ariel.


“Lo mau gue tinggal?” tanya Kevan membuat Leon menatapnya dan buru-buru menyusul lelaki itu yang sudah berjalan lebih dulu.


Setibanya di ruang kelas Cewek Candi membuat Ariel melongokkan kepalanya, mencari tempat duduk Arin.


"Sorry, tapi lo lagi nyari siapa ya?" tanya seseorang di meja bagian depan dekat Ariel. Lelaki itu memakai kacamata, tapi tak sedikitpun terlihat culun seperti penilaian banyak orang.


"Oh gue, mau ketemu.. Arindy," kata Ariel mantap. Cowok itu merespon ucapannya dengan tawa.


"Hahaha lo yakin mau ketemu singa dingin kaya dia? Kalo bener gue panggilin nih orangnya," ujar lelaki berkacamata tadi, Ariel pun menganggukkan kepalanya.


"Arinnn!!! Lo dicariin sama orang nih dari kelas—" ucapannya terpotong dan kembali menatap Ariel. Lelaki berkacamata tadi menulurkan tangannya kepada Ariel.


"Bentar dulu, kita belum kenalan. Lo kelas berapa? Nama lu juga siapa? Gue Ilham ketua kelas di sini.”


Ariel terdiam dan bertanya di dalam hatinya, “Segitu malesnya ya gue keluar buat ke kantin biasanya? Dan ga pernah nengok ke kelas orang? Padahalkan gue suka ikut turnamen basket.”


“Woy! Jangan bengong," Ilham kembali menyadarkan Ariel.


"Oh, nama gue Ananta Bariel Wirasetya, panggil aja Ariel, gue dari kelas XI IPA 4."


Ilham menganggukkan kepalanya, walaupun namanya terdengar tidak asing ditelinga Ilham, tapi lelaki itu tidak terlalu ambil pusing.


"Ariinnn!!” Ilham kembali berteriak, “lo dicariin sama orang nih! Anak kelas XI IPA 4 namanya Bariel yang dipanggil Ariel."


Ilham terlihat ngos-ngosan usai berteriak agar Arin mendengar ucapannya. Arin yang duduk di bagian tengah dan hampir di belakang sontak menengok ke arah Ilham.


"Apaan si tuh orang? mau cari mati? Gangguin orang aja. Ga tahu gue udah dalam posisi PW?" Ariel mengomel dengan orang yang ingin melewatinya.


(PW: posisi wenak/nyaman)


"Hush! udah sana liat dulu, penting kali." Yasmine memperingati sahabatnya membuat Arin mendengus.


Arin berdiri dan melenggang ke arah pintu, "Lu ngapain si teriak-teriak?! Mau nyari mati ya?!"


Ilham yang tadi sedang membaca novel terhenti dan langsung menggelengkan kepala, "Bukan gue! itu ada yang nyariin lo tuh di luar."


Arin berdecak dan melangkahkan kakinya ke luar pintu, "Ngapain lo nyariin gue? Sepatu lo kotor? Minta ganti rugi? Atau gimana?"


Arin langsung memberondong pertanyaan ketika sudah sampai di depan Ariel. Gadis itu menatapnya dengan raut muka yang tak bersahabat.


Ariel menatap Arin tanpa berkedip, "Buset nih cewe galak beneran. Mirip singa yang lagi kelaparan, tapi kalo marah gini emang tetap manis dan lucu gin—


Lamunan Ariel terpotong dengan Arin yang kembali membuka suaranya. "Mau ngomong atau gue tinggal ke dalam?" tanya cewek itu masih dengan raut muka kesal.


"Jangan! Gue mau ngomong sama lo." Ariel berkata dengan cepat.


"Oke, 1 menit dari sekarang," Arin membalasnya dengan melipat tangannya di depan dada dan bersandar di pintu.


"Gue bagi nomer telepon lo, boleh? Atau ga ID Line deh." Ariel berkata dengan santai, tangannya sudah memegang ponsel.


Arin menatapnya sinis dan berucap, "Gue kira ada sesuatu yang penting tapi ternyata lo cuma mau minta nomer dan ID Line gue?"


Arin geleng-geleng, "Ga penting banget sumpah, udah ya bye!" sambungnya dan kembali melenggang ke dalam kelasnya.


"Eh si Singa main masuk ke dalam aja! gue belom dapet juga. Nih ceritanya gue lagi diabaikan?" kata Ariel menatap Arin yang semakin menghilang.


Tak lama kemudian bel masuk berbunyi membuatnya menghela napas, diapun bergegas menuju kelasnya.


Sesampainya di kelas dia langsung duduk di sebelah Leon. Leon yang sedang memutar pulpen ditangannya menatapnya aneh, "Nih bocah tiba-tiba masuk. Ga salam, ga ngomong apa-apa,tumben banget lo. Ada masalah apa?" rasa kepo Leon yang tadi sudah menghilang kembali muncul.


Ariel mendongak, dia sampai lupa mengucapkan salam begitu masuk. Dia kembali berdiri dan mengulangi tingkahnya bedanya saat masuk dia sembari mengucapkan salam.


"Wa'aikumsalam."


"Gue di tolak Yon." Ariel berkata dengan sedih dan menenggelamkan muka tampannya ditumpukkan tangannya yang berada di atas meja.


"Lah nih bocah? dateng-dateng langsung galau begini. Lah kok lu tumben nembak cewe? Siapa ceweknya? yang tadi?" tanya Leon dengan heran, tapi tawanya seperti menjelaskan bahwa dia sedang mengejek Ariel.


"Iya si dia, gue tadi minta nomer teleponnya atau ga ID Line-nya gitu doang, eh langsung ditolak Yon." kata Ariel dengan muka melas.


“Tapi muka lo emang keliatan playboy si Riel, makanya dia ga mau digodain pake cara buaya begitu,” balas Leon membuat wajah Ariel kembali memelas.


Leon kembali tertawa, enak sekali mengerjai sahabatnya ini ketika sedang galau. "Udah-udah sabar aja, lo tanya aja ke Kevan diakan banyak info dan teman baramg kali tau," Leon menyemangati, membuat Ariel kembali mendongakkan kepalanya.


"Woi, No!" kata Ariel dengan refleks. Kevan yang mendengar namanya terpanggil langsung menoleh.


"Apaan hah? Mau minta nomernya Arin? Atau ID-nya? Mau bayar gue berapa dulu?" Kevan langsung melakukan negosiasi.


Sialan, umpat Ariel di dalam hatinya. Punya sohib yang mata duitan memang terkadang menyebalkan, tapi Kevan salah satu orang terdekat yang terkadang ikut mendengarkan keluh kesah yang berada di dirinya.


"Dih! sok tau banget, tapi bener si. Emang lo ada Kev?" tanya Ariel dengan muka berbinar.


Author: Buset nih bocah langsung jatuh cinta saat pandangan pertama.


"Hahaha, Ya pasti.." Kevan menggantung ucapannya membuat Ariel semakin bersemangat, "Gaada lahh!"


Ucapan selanjutnya membuat Ariel kesal, sedangkan Kevan tertawa. Leon yang duduk di sebelah Ariel menggelengkan kepalanya. Ariel yang duduk di depan langsung menoyor kepalanya.


"Si Panjul gue kira dia beneran punya." ucap Ariel membuat Kevan memegangi jidatnya lalu mengusapnya sebentar.


"Tapi kalo lo mau gue sih bisa usahain. Selagi uang berjalan, di situ koneksi akan mendekat." katanya dengan bijak, tak lupa uangpun dia bawa. Kevam menaik turunkan alisnya sembari ngibaskan buku, mirip emak-emak di acara arisan sosialita.


"Gimana deal?" tanya Kevan mengulurkan tangannya.


"Oke deal."


Mereka yang baru bekerja sama langsung menoleh kearah pintu, terlihat di sana Indra yang tadi berada di luar cepat-cepat masuk.


"Weh duduk! ada Bu Hilma lagi OTW kesini! tadi udah naik ke tangga!" teriaknya heboh memberitahu kepada teman sekelasnya. Mereka kompak menoleh ke Indra dan langsung duduk dibangku masing-masing.


...☆anantarindy☆...


"Kenapa Rin? Balik-balik muka ditekuk kayak gitu, ada masalaj?" kata Liora sambil terkekeh.


"Sial bener gue ya, hari ini dimintain nomer hp." Arin membalasnya dengan wajah jengkel.


Saat tadi Ariel menemui Arin di kelas, Liora dan Salsa sedang berada di ruang osis untuk rapat. Makanya saat mereka berdua kembali sedikit terkejut dengan perubahan mood Arin.


Walaupun banyak yang naksir kepada Arin, tapi tidak ada yang berani mendekat bahkan meminta nomernya secara langsung seperti orang ini.


"Cari mati tuh orang deketin lu rin," kata Liora sambil geleng-gelengkan kepalanya.


"Emang siapa Rin? yang tadi itu?" tanya Yasmine yang langsung membuat Arin mengalihkan pandangannya ke Yasmine dan menangguk.


"Tadi kalo gue ga salah denger kata Ilham, dia anak XI IPA 4 namanya Ananta Bariel Wira—" omongan Arin terpotong oleh Ceysta yang punya reputasi humble dan cerewet di kelompoknya itu.


"ANANTA BARIEL WIRASETYA? YANG KETUA BASKET SEKOLAH KITA ITU? ANJIR! YANG MOST WANTED BOY ITU COOY?!" cerocosnya tanpa jeda yang hanya ditanggapi oleh angkatan bahu dari Arin, karena dia tidak terlalu mengenal siapa cowok yang tadi mengajaknya berbicara di depan kelas.


"Lah tunggu sejak kapan lo tahu tentang cowok ta?" kata Liora mendahului pertanyaan semua yang langsung membuat Ceysta merona seketika.


"Semenjak gue naksir salah satu anggota geng THE KALBU yang namanya Kevan," kata Yasmine malu-malu, semuanya tertawa kecuali Arin yang masih tidak mood.


"Emang dia siapa sih dia? Berani-beraninya minta nomer telepon gue, Id Line juga?" batin Arin.


Tidak lama kemudian bel pulang berbunyi. Membuat mereka dengan cepat merapihkan kertas berisi rumus yang diberikan oleh Pak Bima, guru matematika mereka.


...☆anantarindy☆...


Arin telah memasukan semua bukunya ke dalam tasnya dan berjalan melewati koridor sekolah. Akibat semua sahabatnya tadi izin untuk pulang duluan karena Arin ada jadwal untuk piket.


Ada sebuah derupan langkah kaki di lantai selain Arin. Arin tidak berhenti di sana, dia lebih cepat melangkahkan kakinya dan berbelok disalah satu belokan.


Dia ingin melihat siapa yang mengikutinya, semakin dekat suara itu semakin lebih jelas dan—BUGH!


Satu tendangan berhasil mendarat sempurna tepat di perut orang itu. Arin mengingatnya, ini cowo yang tadi meminta nomer teleponnya!


"Lah? Lo? Ngapain lo ngikutin gue?! Kayak orang jahat aja lo!" Arin mengulurkan tangannya untuk membantu Ariel yang masih duduk, "Sorry gue ga sengaja, abis lo ngendep-ngendep kayak gitu si."


"Aduh apes banget gue, baru keluar dari perpus udah kena tendangan kayak gini," katanya sambil memegang perutnya.


"Udah deh gausah lebay kaya gitu," Arin berujar dan berlalu meninggalkan Ariel yang masih bengong. Setelah tersadar dia angsung ikut menyusulnya karena baru menyadari.. hanya dia sendiri yang masih ada di lorong!


"Rin tunggu, WOOYY!!" ucapnya sembari berlari mengejarnya, perutnya yang terasa sakit akibat tendangan kuatnya sedikit tertatih. Arin terpaksa berhenti karena Ariel terus meneriaki namanya.


"Ada apa? Itu kakak gue udah nungguin," balas Arin dengan ketus.


"Nah makanya, bagi nomer lo."


Masih gigih, Ariel tetap mencoba cari masalah. Tidak cukup peringatan Arin yang tadi, dia masih terus memintanya.


"Ga!" Arin membalas singkat.


"Hai Kak Vera!" sapa Ariel dengan orang di belakang Arin.


"Sial. kol dia bisa tau?" batin Arin bertanya.


Vera yang merasa terpanggil mendongakkan kepalanua, "Eh iya, halo juga ril!"


"Kak Vera lagi nungguin siapa?"


"Itu lagi nungguin yang di sebelah kamu," balas Vera menunjuk Arin dengan bibirnya.


Ariel melirik kearah Arin, "Oh Arin adiknya kakak?"


Vera mengangguk. "Iya dek, aku sama Arin pulang duluan ya. Udah sore nih, kamu juga cepat pulang ya." sahur Vera.


"Kami duluan ya, bye ril!" ucap Vera yang langsung masuk ke mobil.


...☆anantarindy☆...


"Ariel itu temen kamu dek?" tanya Vera ketika berhenti di lampu merah.


"Orang tadi? Bukan sih, gajelas banget tadi siang aku tuh ga sengaja nginjek kaki dia di kantin, eh dia malah nyariin aku terus."


Vera menggelengkan kepalanya, "Kamu tuh ya masa engga ngerti. Itu dia suka sama kamu."


"Ah masa iya kak?" bales Arin yang diberi anggukan oleh Kak Vera. Lampu bergerak hijau, mereka pun terus berjalan menuju rumahnya.


Setibanya di rumah, Arin langsung berjalan kearah tangga, "Aku langsung ke atas ya kak."


"Iyaap!" sahut Vera yang sedang mengobrol bersama asisten mereka.


Sesampainya di kamar Arin langsung mandi dan mengganti pakaian sekolahnya. Setelah selesai, dia rebahan di atas kasur dan memainkan hpnya.


Ada banyak notif dari akun Instagramnya '@arielananta started following you' siapa nih? Ini si Ariel yang tadi itu?


(@arielananta mulai mengikutimu)


Dengan kepo ia melihat profile si pemilik akun Instagram tersebut. Karena Arin sudah tahu bentuk dan wajah Ariel, dengan baik hati dia mengikuti Ariel—cowok yang membuatnya kesal di sekolah tadi..


Author: Yaelah neng, pipipiw. Katanya kesel ngapain di follback?


"Aduh lapar, makan dulu deh baru lanjut lagi. Bye-bye hp," ucap Arin kemudian beranjak keluar kamarnya.


Belum sampai ia menutup pintu tiba-tiba ada notification dari Line yang langsung Arin buka dan mengurungkan niatnya untuk ke bawah.


'Ariel Ananta add your line as friends' Arin pun membulatkan bola matanya, dia sekarang terkejut.


"Dapat darimana ID Linenya?" pikir Arin.


(Ariel Ananta menambahkanmu sebagai teman)


Dia pun akhirnya berjalan ke bawah menuju meja makan. Dia melihat Vera yang sedang asik makan sendirian sembari memainkan ponsel ditangannya.


Dihampirinya Vera, "Kak.."


Vera menoleh kearah Arin, tak lama Arin kembali berkata, "Kakak yang ngasih ID LINE aku ke Ariel ya?"


Mendengar pertanyaan Arin membuat Vera langsung tersedak, dengan cepat dia meletakkam ponsel dan memegang gelas.


"Tuangin air, Rin," Kata Vera sembari menepuk-nepuk dadanya sedangkan Arin sibuk menuangkan air ke gelas yang Vera pegang.


"Tadi kamu bilang apa? Aku ngasih ID LINE kamu ke Ariel? Kalo iya emangnya kenapa?" kata Vera sambil menyendokkan nasi ke dalam mulutnya lagi.


Arin yang mendengar langsung memutar bola matanya kesal. "Kakak harusnya izin dulu sama aku sebelum kasih ke dia!"


"Udahlah rin. Kamu harus coba buka hati kamu lagi.. Kasihan lho dia. Walaupun baru mengenalmu, tapi dia udah berusaha berjuangkan? Dia kayaknya serius sama kamu. Anaknya juga baik kok," kata Vera menatap sendu ke adiknya.


Vera teringat suatu hal yang mungkin tidak ingin diingat-ingat kembali oleh adiknya. Mungkin karena hal itu juga adiknya menjadi dingin saat SMA.


"Tapi kakak taukan.. Aku ga bisa percaya laki-laki!" Arin membalas dengan lirih, menahan air mata yang hendak turun.


Vierra yang tak kuat melihat adiknya langsung berdiri dan memeluk Arin. “Maaf ya kakak jadi buat kamu ingat lagi,” Vera berusaha menenangkan adiknya.


"Aku percaya kok.. Nanti atau kapanlah itu kamu bakalan dapat yang terbaik, udah jangan diinget lagi sama yang udah berlalu.. Keep smile!!" katanya sembari melepas peluknya dan mencubit pipi adiknya.


Arin hanya bisa tersenyum melihat tingkah kakaknya, Arin sangat bersyukur dia mempunyai kakak seperti Vierra yang selalu ada untuknya, dimanapun dan kapanpun.


...☆anantarindy☆...


Sore itu, Ariel sedang duduk di balkon kamarnya sembari memetik gitar dan menikmati senja yang akan berganti malam. Ia terus mengingat wajah Arin.


Dia penasaran, kenapa Arin sangat galak dan dingin kepadanya. "Tapi kalo dilihat-lihat dia lucu juga ya? Hehehe," Ariel bergumam.


Di sore menjelanh malam itu, tiba-tiba hp Ariel berbunyi.Terdapat notifikasi masuk kedalam ponselnya.


Ariel mengambil ponselnya yang berada di atas meja kecil di balkon kamaenya. Seketika ia tersenyum lebar karena sebuah notifikasi masuk ke dalam hpnya.


'@arindybf_ started following you back'


(@arindybf_ mulai mengikutimu kembali)


"Arin ngikutin gue balik?" katanya tak percaya, senyum lebar masih menghiasi wajahnya yang terdapat lesung pipi. Hari itu adalah hari yang paling menyenangkan untuk Ariel


...[TBC]...


HALO, GIMANA CERITANYA?


Semoga kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tunggu kelanjutannya dipart 3 ya! see you. Jangan lupa bintangnya ya, untuk hadiah cerita anak SMA ini~


Jangan lupa follow: @andinildrrn dan @storyof.ldrr [check visualisasi ANANTARINDY]


follow juga akun rp, untuk liat visual dan keseharian anak-anak AR!♡ : @anantarindy


love u,


nidy.