ANANTARINDY

ANANTARINDY
Ayo Bangun (part 31)



"Tolong jangan seperti ini. Ayo bangun. Tolong bangun buat aku. Jangan tidur terus kaya gini dong! Kamu dengerin aku ga sih?! Ayo bangun! Aku kangen kamu! Aku mau kamu senyum lagi! Perhatian sama aku! Aku ga suka kamu tidur terus! Ayo bangun.. Please.. Ayo bangun."


— Bellany Arindy Fernando.


🍁


Ini sudah lebih dari seminggu setelah kejadian di puncak hari itu. Hari yang sangat sulit. Bahkan tangis dan sedih masih tidak bisa di bendung di salah satu Rumah Sakit di daerah Bandung tersebut.


Lebih tepat kamar VIP Anggrek. Terlihat seorang perempuan sedang menemani kekasihnya yang sedang terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.


Siapapun pasti tahu. Betapa sedihnya perempuan tersebut. Selalu berada di sisi kekasihnya. Mengajaknya ngobrol, kadang tertawa dan menangis karena ucapannya sendiri.


Siapapun. Tolong beri tahu dia untuk istirahat. Beri tahu dia bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Hai, udah lama di sini?" pertanyaan itu dilayangkan dari seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Fatin, bundanya Ariel.


Arin berbalik ke arah pintu, melihat ke datangan Fatin. "Oh, halo tante. Hehehe, iya nih lumayanlah tan di sininya hehehe."


Fatin melihat ke arah Arin. Dia juga sedih melihat kondisi anaknya yang koma. Sudah seminggu ini anaknya terus tertidur tanpa beranjak sedikitpun dari ranjang yang itu tiduri.


"Kamu udah makan belum? Gapapa ke sini terus? Nanti di cariin mama kamu lagi," tanya Fatin namun setelah melihat raut wajah Arin sepertinya ia salah bertanya.


"Aduuh sayang, maafin tante ya.. Tante salah ya? Aduuh, sini-sini," ucap Fatin seraya menarik tangan Arin menuju sofa yang ada di kamar rawat tersebut.


"Sini-sini coba cerita sama tante," kata Fatin sembari mengelus punggung tangan Arin.


Arin menghela napasnya. Ia tak tahu harus memulainya dari mana. Terlalu banyak yang harus ia ceritakan.


"Tante tahu kalau tante ini adalah orang baru di hidup kamu. Tante juga tahu kamu pasti kurang nyaman untuk cerita sama tante. Tapi semakin kamu pendam, maka sakit itu akan semakin terasa. Memang semua manusia tidak bisa di percaya, tapi semua manusia juga butuh kartu kepercayaan untuk membuktikan ucapan dari janjinya tersebut."


Arin memandang ragu ke arah Fatin lalu ia menghela nafasnya sejenak gun mengumpulkan kekuatannya.


"Jadi Bunda aku udah meninggal beberapa tahun lalu.. Tepatnya ketika aku SMP, tan. Bunda itu sosok yang selalu ada buatku. Kapanpun dan dimanapun," ucap Arin memulai curahannya.


Fatin yang mendengar itu turut sedih. Tidak menyangka di balik cuek dan dingin dari sifatnya ini tersembunyi luka.


"Bunda meninggal karena kecelakaan mobil karena mau menjemput aku. Waktu itu aku kesel banget bunda aku ga nyampe-nyampe ke sekolah buat jemput aku sama Kak Vera. Terus akhirnya Pak Mono datang yang jemput aku sama Kak Vera dari sekolah pakai mobil jemputan," lanjutnya.


Fatin membulatkan matanya, ia cukup terkejut tidak menyangka kisahnya Arin sangat memilukan.


"Terus di perjalanan aku nanya sama Pak Mono, kenaoa bukan bunda yang jemput. Tapi waktu aku tanya, Pak Mono diam aja ga jawab pertanyaan aku."


Arin menghela nafas lalu ia melanjutkannya sembari bercucuran air mata.


Oh Tuhan.. ayolah, aku ingin memeluknya sekarang juga! Menyerukan hatiku, bahwa aku juga turut merasakan apa yang ia rasakan.


"Sampai di rumah, ada banyak mobil-mobil yang terparkir di halaman rumahku. Rumahku jadi sangat ramai. Awalnya aku tidak tahu kenapa bisa banyak orang seperti ini. Lalu Tante Dinda, saudara bunda menghampiriku sambil peluk aku dia nangis."


"Aku yang engga ngerti, coba buat nanya. Ada apa di sini, kok ramai banget ga seperti biasanya."


"Sampai akhirnya aku denger suara teriakan Kak Vera dari dalam rumah. Aku langsung datang untuj melihatnya."


Arin menceritakan itu sembari sesenggukan. Itu terasa sulit. Sangat sulit, ketika kamu harus kehikangan orang yang kamu sayangi.


"Tapi saat aku masuk. Aku udah ga bisa apa-apa. Badanku lemas semuanya. Aku udah ga tau lagi harus apa. Tapi aku coba buat kuatin diri aku. Nau gimanapun ini hidup pasti harus ada yang di tinggalkan dan meninggalkan."


Fatin yang mendengar itupun langsung memeluk Arin. Pelukan hangat seorang ibu. Sudah lama ia tidak merasakanya kembali.


Sembari menangkup wajah Arin, "Engga ada di dunia ini manusia yang benar-benar kuat. Dan engga ada juga di dunia ini manusia yang benar-benar lemah. Manusia bebas mengeluarkan air mata. Manusia juga bebas untuk terus diam. Semua masalah memang tidak akan selesai dengan tangisan. Tapi tidak semua tangisan juga bermasalah."


Akhirnya Arin menangis sejadi-jadinya. Sembari memeluk Fatin. Merasakan hangatnya seorang ibu kembali di dekapannya.


🍁


Arin sekarang sedang duduk di taman. Taman yang dulu pernah ia kunjungi bersama Ariel. Dia berharap bisa mengunjungi taman ini berdua dengan Ariel kembali.


Dulu di taman ini ia menghabiskan waktu bersama Ariel hingga senja menjelang malam.


Di tempat ini ia bisa tertawa lepas dengan Ariel tanpa beban dan ingatan yang harus ia bawa.


Arin melamunkan beberapa waktu lalu dimana Ariel bercerita bagaimana ia ketemu sahabat-sahabatnya.


Flashback on


"Kamu tau ga? Dulu aku ketemu sama sahabat-sahabat aku konyol banget, wkwkwk," ucapan itu terlontar dari mulut Ariel setelah ia habis bernyanyi bersama Arin.


"Coba ceritain, aku mau denger," balas Arin penasaran.


"Aku dulu tuh anak pindahan. Dulu aku tinggal di jakarta. Tapi karena papa aku di tugasin di sini akhirnya aku sekeluarga pindah juga."


"Awalnya aku ga ngerti sama omongan orang sini. Soalnya asing banget. Tapi tiba-tiba di hari pertama aku masuk, Kevan langsung ngajak kenalan aku. Kita dulu juga chairmate (teman sebangku) dan itu berlangsung terus sampai aku lulus."


"Kevan itu udah dari dulu cuek, dingin, tapi omongannya tajam dan tepat sasaran. Dia setiap hari selalu bawa laptopnya ke sekolah. Dia bahkan punya 2 laptop. Yang satu buat di bawa pergi-pergi gitu dan buat di sekolah  dan satunya lagi untuk di rumahnya."


"Dua laptopnya berbeda tipe. Kadang kalo jam kosong dia selalu ngotak-ngatik laptopnya. Ternyata dia suka buat perangkat lunak untuk buat aplikasi gitu. Kevan itu ingetannya bagus banget. Dia selalu juara 1 setiap tahunnya. Dan juara 1 juga persemester murid."


"Kevan itu kadang licik juga. Kalo di inget-inget dia suka banget sama duit. Oleh karena itu dia buat aplikasi-aplikasi dan perangkat lunak untuk menghasilkan duit."


"Aku heran kenapa dulu anak seumuran kayak aku sejenius itu. Ternyata Kevan punya ingatan fotografis."


Fyi : Ingatan fotografis adalah ingatan dimana kamu tidak bisa melupakan kejadia yang sudah kamu alami. Setiap kamu mengalami kejadian hanya dengan mendengar atau membaca satu kali saja kamu langsung ingat semua detailnya. Orang yang memiliki ingatan ini sangat langka. Dan orang-orang yang di anugerahi ingatan ini bisa di katakan beruntung karena mereka jenius karena bisa mengingat semuanya.


"Waahh pantes aja sampai sekarang dia bertahan di peringkat satu. Tapi aku heran, kenapa ya Kevan kok mau sama yang modelannya kayak Ceysta yang bacotnya nauzubillah begitu?" ucap Arin sembari menggelengkan kepalanya.


Ariel hanya mengangkat bahunya, tak tahu. Ia juga bingung kenapa sahabatnya itu bisa menyukai Ceysta yang becicilan habis dan sangat bertolak belakang dengan sifatnya.


"Habis itu aku lihat Indra. Dia itu anaknya pendiam banget dulu ga kayak sekarang becicilan. Tapi waktu itu yang bikin aku kaget ternyata Indra suka di bully. Dia duduk di pojok belakang," ucap Ariel sembari menerawang.


"Dia ga ada temannya dan dia selalu sendiri. Bahkan kalau ada tugas kelompok dia selalu di asingkan. Sampai suatu hari. Kevan dan aku ngajak Indra buat temanan dan sampai sekarang kita udah jadi sahabat," lanjutnya menceritakan pertemuannya dengan Indra.


"Setelah beberapa bulan berteman ternyata Indra itu anaknya asik juga. Dia juga lumayan pintar ya engga **** kayak sifatnyalah, wkwkwk," lanjutnya lagi Arin yang mendengar itu hanya mengangguk-ngangguk.


"Terus Alief. Dia itu anaknya sebenernya batu banget. Dulu sebelum Indra main sama aku dan Kevan, Alief udah sering negur Indra. Dia juga teman sebangku Indra. Dan waktu aku dan Kevan ngajak Indra gabungpun Indra minta buat ngajak Alief barengan," lanjutnya membuat Arin membulatkan mulutnya.


"Terus-terus, kenapa Indra bisa di bully begitu?" tanya Arin pertanyaan ini yang sangat gemas sedari tadi mendengarkan cerita kekasihnya tersebut.


"Engga tahu si pastinya aku dia kenapa bisa di bully kayak begitu. Tapi ada rumor kalo banyak cewe yang suka sama dia. Dan orang yang ngebully Indra ini punya pacar dan kebetulan pacarnya suka sama Indra. Jadi kayak Indra kayak di tuduh ngerebut gitulah."


"Idih childish banget. Kalo kayak gitu mah namanya cewenya udah ga nyaman sama itu orang. Lagian kok bisa-bisanya cewenya udah ga suka lagi sama dia terus di maksa buat itu cewe tetep stay sama dia. Yang lebih anehnya dia malah ngimbasin itu ke orang lain. Bener-bener udah sakit jiwa," Ariel mengangguk tanda menyetujui ucapan Arin.


"Kalo Leon?" tanya Arin kepadanya.


"Leon ya? Hmm," Ariel tampak berpikir sejenak seraya memikirkan Leon dulu.


"Leon itu anak pindahan juga. Setelah aku 1 semester pindah di situ Leon ternyata juga pindah. Kebetulan di kelasku itu ada bangku kosong gitu," ucapnya.


"Setelah perkenalan dan beberapa minggu dia sekolah. Akhirnya kita berlima tambah dekat. Sebenarnya nama The KALBU ini Kevan yang ngusulin. The KALBU sendiri di ambil dari nama panggilan kita-kita," ucapnya.


"Oh begitu. Nah aku mau nanya nih, Kevankan pinter kenapa dia masuknya kelas IPA-4 bukan IPA-1? Padahal dengan kepintarannya dia bisa masuk kelas IPA-1," tanya Arin kepadanya.


"Kevan minta biar dia ga di masukin ke kelas IPA-1. Dia ga mau pisah dari kita. Seharusnya dia waktu SMP dulu waktu kelas IX (9) dia masuk kelas unggulan 1. Tapi dia malah milih masuk kelas Unggulan 3 yang ada kita berempat," jawaban Ariel membuat rasa penasaran Arin terbayarkan.


"Ooh begitu toh," Jawaban Arin kembari angguki Ariel


Flashback off


Dia mengingat itu kembali. Setelah di rasanya puas menikmati udara luar ini Arin berdiri dan hendak pulang.


Tapi pergerakannya di tahan oleh sebuah tangan yang menahannya. Arin yang melihat tangannya di tahanpun kesal sekali.


Dia menatap orang yang menyekalnya. Alih-alih bukan mengomeli orang tersebut dia justru terbelalak karena kaget dengan orang yang ada di hadapannya sekarang.


"K-ka-mu?" ucapnya terbata


🍁


Hai guys! Gimana ceritanya? Seru ga? Coba comment yaa!!! Jangan lupa klik suka juga!!! Follow aku untuk terus ikutin kisah Arin dan Ariel ya!


Wiih kira-kira kelanjutan cerita ini apa ya? Aduh jadi penasaran banget dehhh!! Ga sabar nunggu kelanjutannya.


Makanya jangan lupa follow aku, comment, like dan ikutin terus setiap partnya!


Btw, coba dong comment kalian ini antusias banget ga sih sama Kisah Ariel dan Arin ini.. Kalo iyaaaa, coba dong commentnyaaaa!!🌴


Jangan lupa follow instagram aku :


@andinildrr


Jangan lupa follow akun khusus story aku untuk mendapat notifikasi tentang informasi cerita-cerita aku dan keseruan lainnya di akun :


@storyof.ldrr


Suka quotes-quotes gitu? Yang galau-galau? Atau motivasi? Atau kamu yang lagi broken heart? Yaudah mampir atuh ke akun :


@naoumyquotes


Mau cari barang-barang kpop? baju? dan lain-lain? Tapi gatau harga yang murah dimana? Tenang, nih aku punya referensi akun jualan terbaik :


@travies0.olshop


Suka sama pemandangan? Tempat-tempat yang bikin seger mata? Dan sesuatu yang berbau aesthetic gitu? Yaudah skuylah cek aja ke akun :


@jaelaestetico


Mau kepoin tentang CYRAL? Dan nanya-nanya tentang mereka? Jangan lupa follow!! :


@arindybf_


@cystanindy_


@yasminefndi_


@lioratasyarf


@biancasalsa


Kalian juga mau kepoin tentang The KALBU ? Tenang, follow aja nih akun mereka!! :


@arielananta_


@kevanap19


@aliefnevandra


@indraaye


@leonzaa_


Sampai berjumpa di part 32 semuanya! Sampai Jumpa lagi!🐝


Te amo for you, All😘💖.


(Aku mencintaimu untuk kamu, semua😘💖).