ANANTARINDY

ANANTARINDY
Dingin



“Kalau lo bisa di samain sama kutub utara, mungkin dingin lo berdua bakal sebelas dua belas.”


...☆anantarindy☆...


“Asik, bisa tidur dengan nyenyak,” Ariel bermonolog sambil merekahkan senyumnya.


Pagi hari yang cerah tiba, kicauan burung menyambut paginya. Sekarang Ariel sudah rapih dengan seragamnya, dia turun menuju ruang makan. Sedikitpun senyum diwajahnya tidaklah luntur.


"Pagi Bunda.. Pagi Ayah.. Pagi Refan.. Pagi Bik Imas," sapa Ariel ketika tiba di ruang makan. Dia langsung duduk di samping Refan, senyum diwajahnya masih merekah.


Entah ada angin dari mana, Ariel tiba-tiba saja mencium pipi Refan, adiknya. Sejujurnya ini sudah jadi kebiasaan baginya, tapi yang membuat keluarganya bingung karena wajah Ariel yang tampak berseri.


Ayahnya, Wirasetya, menggeleng karena melihat tingkah anaknya. "Kamu keliatan lagi seneng banget nta," ucap Wira menatap Ariel.


"Oh itu, iya yah. Gatau kenapa hati Ariel kayak numbuh bunga gitu," balaa Ariel menceritakan apa yang dia rasakan. Tangannya menggaruk bagian kepalanya, malu-malu.


Bunda dan Ayahnya saling pandang dan tersenyum. Mereka sudah pernah merasakannya saat mereka masih muda, seperti remaja pada umumnya pasti, Ariel sedang jatuh cinta.


Setelah selesai makan Ariel berpamitan kepada bundanya dikarenakan Wira harus berangkat terlebih dahulu.


"Assalamualaikum.. Ariel berangkat ya bun," ucapnya sopan sembari mencium punggung tangan bundanya.


"Wa'alaikumsalam," balas Fatin—bundanya sembari mencium pipi anak sulungnya.


"Dah juga Refan!" ucap Ariel sembari melambaikan tangannya ke adiknya.


Refan yang sedang memakai sepatu mendongakkan kepalanya, "Dadah juga Bang Nanta!"


Ariel bergegas untuk menembus dinginnya kota Bandung dengan motor sport punyanya itu. Jalanan masih tergolong sepi dan itu membuat Ariel lebih leluasa dalam mengendarai motornya.


Sampai di sekolahnya yaitu SMA Angkasa. Dia langsung memarkirkan motornya dan berjalan di lorong yang menunu kelasnya.


"Kira-kira Arin udah dateng belum ya?" gumam Ariel sembari memetik jari-jarinya.


"Ariel!" panggil seseorang secara tiba-tiba membuatnya terlonjak.


Ariel mengelus dadanya, "Astagfirullah, lo bikin gue jantungan aja Sis. Gue kira tadi ada hantu yang manggil nama gue."


Siska yang mendengar itu pun hanya tertawa renyah, "Sorry ya riel, gue ga sengaja, gue cuma mau ngajak jalan bareng ke kelas aja sih."


Ariel mengernyitkan dahinya, menatap Siska aneh. Dia melongok keaeah lorong yang masih sepi. "Tapi lo kan anam kelas XI IPS, beda lorong sama gue," Ariel sedikit berjaga jarak. Tak lama dia melangkah pergi.


Siska diam ditempatnya, merasa sedih karena Ariel selalu menolak ajakan atau bahkan membalas rasa sukanya. "Lo kenapa selalu kayak gini? Niat guekan baik Riel."


Siska menatap punggung Ariel yang semakin mengecil, dia sendiri berbelok kearah kiri, lorong untuk anak kelas XI IPS.


Tanpa sadar dari kejauhan, Ariel berdecih melihat Ariel yang tebar pesona. Terlihat jelas dari pengamatannya bahwa Ariel mempermainkan cewek itu.


"Betulkan apa kata gue? cowok itu sama aja, ga bakal bisa dipercaya. Playboy cap ayam sayur!" jengkelnya di dalam hati dengan hawa panas di sekelilingnya.


"Kalo cemburu itu bilang, de." Vera muncul dari belakang adiknya yang sedih memperhatikan Ariel dan Siska.


Arin menoleh kearah Vera dan mengernyit, tidak suka dengan ucapan Vera bsrusan. "Apaan sih? Mulai deh ga jelasnya kumat. Kak Vera nyebelin!" Arin melajukan langkahnya lebih cepat dan meninggalkan Vierra sendirian.


"Kapan kamu membuka hatimu itu? Mau berapa lama lagi kamu terus biarin hati kamu sedingin itu sama cowo? Coba waktu itu aku lagi bersamamu. Aku gabakal biarin dia nyakitin hatimu, Ndy." Vera berujar di dalam hatinya, menayap nanar punggung Arin.


...☆anantarindy☆...


Arin masuk ke kelas dengan muka datar, dingin, dan hawa pembunuh. Orang yang duduk di dekat pintu masuk, yakni Ilham sampai bergidik saat matanya tak sengaja bertemu dengan Arin. Lelaki itu terkejut karena ekspresi Arin seperti ingin memakan manusia.


"Haduh, nih anak kenapa lagi? Ta, sahabat lo tuh," Yasmine berkata sembari menatap wajah kecut Arin. Dia mengikuti arah pandangnya sampai Arin duduk di sebelah Ceysta.


"Lah, diakan juga sahabat lo paijem," Ceysta memutar bola mata kesal.


Yasmine terkekeh, "Lo kenapa rin? Muka ditekuk gitu masuk-masuk," kata Yasmine yang langsung di beri tatapan sinis oleh Arin.


"Alah dia mah udah biasa kali, biarin aja deh nanti juga balik sendiri." sahut Ceysta membuat Yasmine mengangguk.


Jam pelajaran dimulai, tapi jam itu dikosongkan karena ada pembagian jadwal buku. Karena kemarin kelas XI MIPA 1. Hari ini giliran kelas XI MIPA 2.


Setelah mengantri beberapa menit, CYRAL berhasil mendapatkan buku dan berjalan beriringan kembali ke kelas mereka.


"Yeay yeay yeay, buku baru!" Salsa kegirangan layaknya anak kecil yang baru dibelikan mainan kesukaannya.


"Emangnya lo bakal pelajarin tuh buku sa? Nyatet sering ketinggalan aja, belaga bahagia dibagiin buku," Ceysta mengejek Salsa membuat Salsa menoleh.


"Dih? sirik aja! suka-suki dong mbaknya!" Salsa membalasnya dengan nada nyolot.


"Gausah nyolot dong jubaedah!" Ceysta kembali membalas ucapan Salsa, tak kalah nyolot.


"Lo aja yang ngerasa, gue mah ngomong santai tuh? dasar nenek!" Salsa kembali menyahut.


"Ye dasar lo un—" saat ingin membalas ucapan Salsa, Ceysta menahannya.


"Kalian berdua bisa ga sih ketemu gausah kayak tom & jerry? Pusing kepala gue liat lo berdua ga pernah akur terus!" Arin yang kesal langsung membuat keduanya diam.


Arin kembali melanjutkan perjalanannya. Liora dan Yasmine hanya bisa menahan tawa mereka melihat Ceysta dan Salsa yang kena dampak mood buruk Arin.


"Woy Cantik!" kata seseorang yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Arin.


"Jangan judes gitu dong.. Aku kan jadi sulit buat ngedeketin kamu," Ariel berkata dengan senyum diwajahnya, di sebelahnya ada Alief yang tak sengaja bertatapan dengan Yasmine.


Yasmine berusaha untuk mengatur detak jantungnya, "Jantung.. Jangan kenceng-kenceng ya."


"Ga jelas banget sih lo, ganggu banget sih?" Arin dengan datar berlalu melewati Ariel.


"Salah apa gue Ya Robb.. Dijudesin mulu," Ariel mengelus-elus dadanya.


Ceysta yang melihat Ariel merasa prihatin, "Sabar ya Riel. Dia cuma butuh waktu untuk ngehilangin memori masalalunya. Jadi semangat ya berjuangnya."


Ceysta menyemangati Ariel membuat lelaki itu bingung. "Hah? Maksud lo gimana?" tanya Ariel sembari menatap Ceysta.


"Rin!" Liora menyusul Arin, dia mensejajarkan langkah kakinya dengan Arin.


"Apa?"


"Sampai kapan lo mau nutup hati lo?" tanya Liora sembari melipat tangan di depan dada.


Buku yang dia bawa sudah ada di lantai. Masa bodoh deh, dia harus membenarkan isi kepala sahabatnya ini.


"Gausah bahas itu, bisakan?" Arin membalas dengan ketus dan lanjut berjalan lebih cepat. Liora menggeleng melihat tingkah Arin.


"Gue harap lo mau buka sedikit buat Ariel, Rin." kata Liora dan mengambil kembali tas berisi buku yang dia letakkan tadi.


...☆anantarindy☆...


"Yasmine cantik ya Riel. Imut gitu, apalagi ada freckles." Alief—sahabatnya dengan alis tebal itu berucap sambil tersenyum membayangkan wajah Yasmine.


Author: Lawan dua abangnya dulu dong bos.


"Bisa ae lo punggung onta," ledek Ariel melihat wajah Alief membuat sahabatnya jengkel.


"Tapi gue beneran ngomong gitu Riel. Gue suka deh sama dia, dari lama gue ngincer dia juga wkwkwk," Alief kembali memuji Yasmine.


"Serah lo deh, ketemu abangnya baru kicep lo nanti," Ariel mendahului Alief yang berhenti di belakang.


Sesampainya di kelas, suasana gaduh menyambut Ariel dan Alief. Siapa lagi biang keroknya jika bukan Indra?


"Ibu-ibu, bapak-bapak siapa yang punya anak bilang aku~ aku yang lengah malu sama teman-teman ku—," nyanyian Indra terpotong oleh suara balasan yang dikeluarkan dari teman sekelasnya.


"Tengah woy tengah! Ini lagi malah jadi lengah!" Tirto mengoreksi ucapan Indra. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa orang seperti Indra memiliki banyak fans?


Tirto sebagai ketua kelas terkadang merasa malu dengan orang-orang yang melihatnya, sepertinya mereka tahu seberapa tertekannha dia dari kelas sepuluh mengurus kelas ini.


"Ye gue juga udah tau upil bunglon!" Indra balas dengan meledek Tirto. Dia berkata dengan meletalkan tangannya dipinggang.


"Kalo udah tau ngapa salah nyanyinya? dasar lo daki!" balas Tirto emosi.


"Terserah guelah anoa! gue ini yang nyanyi! Ngapa lo? demen ama gue?" Indra kembali menyahut, tak lama dia mengedipkan sebelah matanya, hal sama seperti yang ia lakukan kepada Kevan kemarin.


"Dua tiga arang batok, ga nyambung goblok!" Tirto kembali menyahut dengan pantu, "Udahlah mending lo gausah nyanyi lagi! suara lo mengganggu pendengaran!"


"Alah bacot sia! Aing maung ceunah!" Indra langsung kosplay layaknya harimau.


"Lo tuh yang bacot! Heran gue kenapa Bang Viko bisa ounya adik kayak lo."


"LO BERDUA!" Kevan menatap keduanya tajam. Mereka berdua menoleh dan mengunci rapat bibir mereka.


"Ngapain si berantem kayak bocah begitu? ga malu apa gimana?!" lanjut Kevan yang jengah dan merasa terusik.


"Santai Van! Santai! jangan emosian deh," Ariel mengelus punggungnya.


"Gue lagi pusing anjir, lagi enak-enak tidur dia berdua malah pada ngebacot di depan kelas." balas Kevan sambil memijat dahinya.


"Oh lo sakit? Mau gue panggilan Cey—" ucapan Ariel terpotong.


"Oh bidadariku," lanjut Ariel sembari berjalan kearah luar pintu. Ariel menghindari tatapan tajam yang dilayangkan Kevan.


"Bilang apa lo?! WOY ARIEL BALIK GA LO!?" Kevan berdiri dari duduknya dan mengikuti Ariel.


"Hai cantik!" kata Ariel yang langsung diberi tatapan sinis oleh Arin.


"Aduh kamu ini dingin banget sih? jadi mau cubit pipinya deh." Ariel gemas sendiri saat melihat Arin..


"Mau nyubit? gue lempar lo dari atas sini!" Arin menatapnya sebal.


"Buset galak bener lo. Kalo begitu gue ga bisa jadi imam buat lo dong?" sahut Ariel yang masih mencoba mendekati Arin.


"Rin.. Jangan nyesel untuk kedua kalinya." Liora berbisik, memperingati sahabatnya.


"Diem lo! Minggir!" sahut Liora dan berjalan melewati Ariel serta sahabatnya. Beberapa orang yang ada di kelas XI MIPA 4 ikut mengintip keadaan di luar dari kaca jendela kelas mereka.


Ariel menahan lengan Arin, "Sampai kapan lo dingin kayak gini Rin? Sampai kapan lo bisa buka hati lo? Sampai kapan?"


Berjuang beberapa hari ini membuat Ariel ikut dibuat keheranan dengan sifat gadis itu. Apa tidak bisa menghargai orang yang sedang mengajaknya berbicara?


"Sampai gue percaya, apa benar cinta itu ada." jawab Arin lalu mengibaskan tangan yang dipegang oleh Ariel.


"Woy Arin! Kalau lo bisa disamain dengan kutub utara! dingin lo berdua ga jauh beda!" teriak Ariel, dia berbalik. Entah kearah mana tujuannya sekarang.


Di sisi lain, sahabatnya yang bingung ikut membuntuti Ariel. Takut-takut jika cowok itu nantinya menangis dan nekat.


"Maaf Riel.. Gue cuma belum bisa menerima masalalu itu udah lewat. Gue pernah ngerasain jatuh cinta, tapi rasanya pahit. Maaf Riel.. Seharusnya lo gasuka sama cewek kayak gue. Gue udah berusaha nutup diri gue rapat-rapat.. Taoi kenapa lo tiba-tiba ngedeketin gue?" Arin berujar dalam hatinya, dia sendiri tidak fokus karena menatap terus kearah lantai.


BRUKK


Buku yang Arin bawa jatuh semua ke lantai. Andai saja Arin mengikuti saran Liora untuk memakai totebag, pasti tidak akan seperti ini, sesalnya.


"Sorry ya gue ga senga—," kata Arin sembari memunguti bukunya lalu beralih menatao orang yang dia tabrak barusan.


"Lo?!" kata Arin kaget sembari menatap tajam orang tersebut— orang itu juga terkejut melihat Arin.


[TBC]


HALO, GIMANA CERITANYA?


Semoga kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tunggu kelanjutannya dipart 4 ya! see you. Jangan lupa bintangnya ya, untuk hadiah cerita anak SMA ini~


Jangan lupa follow: @andinildrrn dan @storyof.ldrr [check visualisasi ANANTARINDY]


follow juga akun instagram ini, di sana bakal ada update tentang visualisasi dan keseharian anak-anak AR!♡: @anantarindy