
Kadang gue ga ngerti sama lo. Lo ngejar-ngejar gue. Terus lo ngehindar dari gue. Gue bingung, sebenarnya mau lo itu apa?
🍁
Alarm pagi membangunkan Arin yang sedang menikmati mimpi indahnya.
"Bentar kek. 10 menit lagi!" ucapnya sembari menarik selimutnya untuk kembali kealam mimpi.
Tiba-tiba matanya terbelalak. Ia lupa! Bahwa dia belum belajar tadi malam!
"Gawat! Entarkan ulangan matematika!" ucapnya refleks lalu melompat dan langsung meraih buku matematika dan mulai belajar.
Kurang dari 30 menit Arin menghafal beberapa rumus dan akhirnya dia menyerah lalu bangkit beranjak untuk mandi dan bersiap-siap.
"Good morning all!" sapa Arin kepada Fernando dan Vierra yang sudah terlebih dahulu ada dimeja makan. Memang, Arin itu selalu terakhir mulu.
"Morning de" sapa Vierra kembali. Sedangkan Fernando hanya mengangguk dan tersenyum.
"Cepatlah sarapan habis itu kalian berdua cepat-cepat berangkat, nanti telat" ucap Fernando yang diberi anggukan oleh anak-anaknya.
🍁
Arin berjalan menyusuri koridor sendiri. Entahlah, tadi tiba-tiba ada teman Vierra yang memaksa untuk menemaninya ke kantin. Dan, Vierra tidak bisa menolaknya.
"Ish Ariel!" ucap seseorang yang membuat Arin terpaksa menoleh.
Sekejap Arin menoleh kesumber suara dan sedetik kemudian dia membuang muka dan berjalan kembali.
"Ga jelas," ucapnya lalu berjalan kembali tanpa ingin tahu lebih banyak apa yang terjadi diantara kedua orang yang ia lihat tersebut.
Arin pun mendaratkan bokongnya setelah sampai dibangkunya.
"Sayang itu konyol," ucapnya sembari menenggelamkan wajahnya dilipatan tangannya yang ia taruh diatas meja.
Ceysta dan Yasmine yang dari tadi berbincang langsung mengernyit, tanda tidak mengerti maksud dari ucapan Arin.
"Hei.. Lo kenapa?" tanya Ceysta hati-hati.
"Gue harus bagaimana?" tanya Arin masih sama dengan posisi awalnya dengan sedikit tidak jelas lantaran mulutnya berhadapan dengan meja itu.
"Gimana kita mau kasih tahu lo solusi? Kalau lo aja ga kasih tahu kita apa masalahnya," cibir Yasmine sarkas.
Arin pun mendongakan kepala, menatap kedua sahabatnya dengan sayu.
"Gue bingung, dia labil banget!" kata Arin dengan nada jengkel yang ketara sekali dari nada ia berbicara.
"Siapa sih!" ucap Yasmine jengah karena sahabatnya tidak kunjung memberi tahu apa masalahnya.
"Gue duga pasti Ariel," ucap Salsa tiba-tiba yang membuat mereka kaget setengah mati karena ulahnya itu.
"Anjir bikin kaget aja lo!" ucap Ceysta jengkel kepada Salsa.
"Dia mah kayak dedemit, datang tiba-tiba. Ngilang tiba-tiba, kayak dia," ucap Yasmine dengan muka yang dibuat sok sedih.
"Geli gue njir liat muk," lo" ucap Salsa sembari memutar bola matanya, jengkel.
"Eh tapi emang bener, Rin? yang dibilang Salsa tadi?" tanya Ceysta yang diberi anggukan oleh Arin.
"Coba dong ceritain," rayu Salsa kepada Arin setelah menaruh tas dan duduk menghadapnya.
"Tadi gue liat dia sama sih Siska. Gue geli ngeliatnya. Sih Siska gandeng-gandeng tangan Ariel, ga tahu malu banget, iwh," ucap Arin sembari menggidikan bahu, seperti orang jijik akan sesuatu.
"Sabar itu prioritas," ucap Liora yang entah sejak kapan sudah berdiri disebelah Ceysta.
"Anjir nih orang berdua! Selalu bikin gue jantungan!" kata Ceysta kaget melihat Liora yang udah ada disebelahnya.
Liora menyeret bangkunya ke dekat meja Ceysta. "Lo aja kali yang lebay," ucapnya santai kayak dipantai.
Ceysta pun memutar bola matanya, kesal.
"Eh iya, Rin," ucap Yasmine. "Lanjutin lagi coba ceritanya," sambungnya.
Arin pun mengangguk. "Ya jadi gitu. Gue sih jadi kesel sama dia."
"Gue ga ngerti apa semua cowo itu sama? Sama-sama suka nyakitin hati cewe? Sama-sama playboy?" tanya Arin frustasi.
"Lo ga boleh punya pikiran kayak begitu, Rin," tegur Liora.
"Iya betul itu rin. Buktinya Kevan ga kayak begitu," sambung Ceysta.
"Alief juga, dia ga genit-genit banget sama cewe lain," ucap Yasmine enteng.
"Lo cuman belum tahu aja, Rin. Hati lo harus berlabuh kearah mana," kata Salsa santai membuat semua sobatnya ternganga.
"Sejak kapan mbaknya bijak?" cibir Ceysta
"Ga sejak kapan-kapan sih," balas Salsa.
Semuanya menggeleng karena ucapan Salsa yang membuat mereka gemas ingin menabok dirinya.
Kringg!!!
Bel tanda masuk menyudahi acara perbincangan mereka. Dengan dan menunggu kehadiran Pak Bima—guru matematika yang beken dengan lawakannya yang lebih terkesan garing itu.
Pak Bima memasuki kelas mereka dan membawa kertas ulangan. Membuat murid kelas XI IPA 2 deg-degan, parah!
"Selamat pagi semuanya," sapa Pak Bima kepada murid XI IPA 2.
"Pagi pak," balas semuanya serempak.
"Kalian pasti tidak akan lupa dengan ulangan hari ini, bukan?" ucap Pak Bima yang membuat semuanya jadi merinding.
"Tidak pak! Karena kami tidak gagar otak kami hanya tidak siap," ucap Niko enteng.
Memang, Niko doang yang berani menanggapi semua guru.. Mungkin dia pernah berguru kepada master limbat.
Semuanya hanya menggeleng karena sikap Niko tadi. Kelewat santuy dengan guru di depannya ini.
Pak Bima membagikan kertas soal dan kertas jawaban kepada semuanya.
"Selamat mengerjakan semuanya," kata guru matematika itu lalu duduk untuk memeriksa nilai murid kelas lain.
Akhirnya dengan pasrah, ikhlas, berusaha, dan tidak lupa berdoa menurut kepercayaan mereka masing-masing. Akhirnya murid kelas XI IPA 2 mulai mengerjakan ulangan mereka masing-masing.
Kringg!!!
Bel istirahat menyudahi acara menguras pikiran, jiwa, raga, dan tenaga murid kelas XI IPA 2.
Pak Bima mengambil kembali soal dan kertas jawaban mereka.
"Baik semuanya bapak pamit dulu ya, selamat beristirahat dan jangan lupa berdoa supaya nilai kalian bagus-bagus," ucap Pak Bima lalu melenggang pergi kearah pintu keluar.
🍁
CYRAL memasuki area kantin.
Setelah memesan makanan CYRAL mencari tempat duduk untuk makan.
Dan bertepatan dengan itu, The KALBU dan yang lainnya memasuki area kantin.
Mereka memesan makanan dan berjalan menuju meja CYRAL, kecuali Ariel.
Ariel lebih memilih duduk bersama dengan Siska dan antek-anteknya.
Siska yang melihat Ariel berjalan kearah mejanya terkesiap dan menyuruh antek-anteknya untuk pergi.
"Sini ril duduk," ucapnya kepada Ariel.
Arin yang melihat kejadian itu panas dan ingin beranjak pergi. Ayolah! Siapa yang tidak cemburu? Arin dingin-dingin begini juga punya hati!
Kalian pikir sendiri nih ya. Gimana rasanya jadi Arin yang udah di baperin tiba-tiba di gituin. Emang kurang ajar banget tuh cowok.
Arin yang ingin pergi ditahan oleh teman-temannya dan Leon. Yep, Leon. Oh kalian pasti belum tahu bukan hubungan Leon dan Arin? oke-oke, harap tenang nanti akan dibahas di part yang akan datang.
Tidak jadi. Bisa-bisa kalian mendemoku hanya untuk urusan Babang Leon yang uwuw ini. Oke ini sangat lebay. Tenang-tenang, Leon ini cuman sahabatnya Arin saja. Hanya dia tidak pernah membeberkan soal persahabatannya kepada The KALBU karena permintaan Arin.
"Gue tahu lo panas ngeliat itu. Tapi, lo juga harus merhatiin kesehatan lo! Inget lo itu punya penyakit," tegur Ceysta yang masih stay memegangi tangan Arin.
Arin pun pasrah dan duduk kembali. Betul kata Ceysta, dia juga harus memerhatikan kesehatannya.
"Dia itu ga jelas banget! Maunya itu apa sih?! Dasar playboy cap kambing!" kata Arin frustasi dan mengusap wajahnya secara gusar.
CYRAL, Vierra, dan Shasa yang melihat Arin seperti ini was-was. Takut-takut Arin kelepasan dan ambruk dikantin yang tengah ramai-ramainya ini.
Leon yang kasihan melihat Arin seperti itu memutuskan untuk beranjak mendekati Ariel ke meja Siska yang tak jauh dari mejanya makan.
"Lo ga boleh labil kayak gini, ril! Kasihan dia," ucap Leon dengan nada suara merendah, seperti orang menahan marah. Jujur, Leon sangat jarang mengeluarkan nada suara seperti ini.
"Gausah ikut campur!" balas Ariel kemudian beranjak dari tempatnya duduk.
Ariel pun keluar area kantin dengan sigap Arin mengejarnya tanpa ditahan oleh siapa pun.
"Jangan ada yang ngejar dia. Biarin. Biar dia yang ngurus masalahnya sendiri" ucap Vierra datar kepada CYRAL.
CYRAL pun mengangguk dan melanjutkan aktivitas makannya.
"Ariel.."," ucap Arin dengan nada lirih.
Ariel yang mendengar ada yang memanggil namanya nengok. Lalu kemudian dia melenggang dengan rasa tak peduli.
"Ada apa?" balasnya sembari berjalan dan masih setia berjalan kearah belakang sekolah yang diikuti Arin.
Serius! Arin lebih mementingkan untuk mengejar Ariel daripada kesehatannya sekarang.
Ariel pun berhenti setelah berada dibelakang sekolah. Lalu menengok kearah Arin yang terlihat sedikit pucat itu.
"Ril, gue mau minta maaf," ucap Arin sembari memegangi perutnya yang terasa nyeri itu.
"Minta maaf untuk apa?" tanyanya datar. Cowok ini, benar-benar!
"Minta maaf karena masalah yang kemarin. Gue tahu lo marahkan sama gue?" tanyanya kepada Ariel.
"Engga. Gue ga marah," balas Ariel, ketus.
Arin pun menghela napas lelah. Capek dengan semuanya. Dia juga lelah dengan drama yang ia main ka beberapa tahun ini. Apa tidak ada yang mengerti dirinyakah?
"Tapi kenapa lo duduk sama Siska tadi? Kenapa ga duduk bareng The KALBU dan yang lain?" ucap Arin bergetar karena rasa sakit diperutnya semakin menjadi-jadi.
"Kenapa? Lo cemburu gue duduk bareng Siska hah?" ucap Ariel dengan nada meninggi.
Arin tersentak mendengar nada suara Ariel. Kaget. Lalu dengan perlahan ia mundur, menjaga jarak dengan Ariel.
Ingin rasanya dia menangis sekarang juga! Sekarang! Bahkan detik ini, jika perlu.
"Kadang gue ga ngerti mau lo itu apa, ril!" teriak Arin frustrasi.
"Lo ngejar-ngejar gue! Lo deketin gue! Lo bikin gue nyaman! Terus sekarang? Ketika gue nyaman lo giniin gue?" lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
"Lo buat gue bingung, ril! Gue udah coba buat ngebuka rasa ini! Rasa yang ga mau gue keluarin lagi! Tapi lo bikin semuanya hancur! Mau lo itu apa sih?!" bentak Arin lalu pergi dari hadapan Ariel dengan air mata yang sudah meniti ke pipinya.
Ariel terduduk dibangku panjang belkang sekolahnya. Mengusap wajahnya secara gusar.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" makinya terhadap dirinya sendiri.
"Lo bodoh banget sih Ril! Bodoh! Bodoh! Bodoh!" makinya sembari teriak-teriak.
"Udahlah ril gausah dipikirin lagi," rayu seseorang yang berada didekatnya.
"Pergi dari sini!" bentaknya keempunya suara tadi.
"Pergi atau gue yang pergi!" bentaknya lagi
"Tapi gue mau bareng lo, ril" ucapnya.
Ariel pun bangkit dari duduknya lalu pergi kearah lorong menuju tangga.
🍁
Arinpun menitikan air matanya sembari memegangi perutnya yang masih sakit itu.
Bertepatan dengan itu CYRAL menghampirinya dengan raut muka khawatir.
"Udah gue bilang rin lo itu makan dulu! Maag lo kambuhkan" ucap Ceysta khawatir melihat Arin seperti ini.
"Udah bawa aja dulu ke UKS," kata Liora yang disetujui semuanya.
Salsa yang selaku anak PMR mengambil kotak obat yang berisi obat-obatan dan mencari obat yang dibutuhkan sahabatnya itu.
"Nih rin minum dulu obatnya," kata Salsa sembari menyodorkan air putih dan obat maag ke Arin.
"Thanks Sal," balas Arin
"Urwell," (sama-sama)
KRINGG!!!
Bel tanda masuk telah berbunyi. Diharap kepada Siswa dan Siswi memasuki kelasnya masing-masing.
"Rin lo disini sendiri gapapa?" tanya Liora.
"Ga, gue mau ikut belajar," balasnya
"Tapi lo masih sakit, rin," tegur Yasmine
"Ga, gue gapapa. Lagian belajar juga duduk sama nyatet doang ga joget-jogetkan?" ucapnya meyakinkan sahabat-sahabatnya.
"Yaudah serah deh. Dari pada ngebacotnya kelamaan terus entar kita di hukum Pak Benji tuh guru biologi mending kuy jalan masuk ke kelas," ucap Salsa yang diberi anggukan semua.
Mereka pun berjalan menuju kelasnya.
"Perut lo masih sakit rin?" tanya Ceysta setelah duduk dibangkunya.
"Udah mendingan. Ga kayak tadi," balasnya.
Pak Benji memasuki kelas.
"Helo all!" sapanya.
"Hello juga Pak Benji yang ganteng," balas semuanya serempak.
"Good," kata Pak Benji sembari mengacungkan jempolnya.
"Belajar apa kita hari ini?" tanya Pak Benji
"Engga tahu pak!!" balas semuanya
"Kok pada engga tahu sih?!" balas Pak Benji, sewot.
Murid kelas XI IPA 1 berdecak kesal. Guru ini selalu memancing untuk diajak tubir. (tubir\=ribut, baca dari belakang)
"Kan bapak yang jadi gurunya. Kalo saya yang jadi gurunya udah saya pulangin nih mereka semua," ucap Niko terlalu santuy.
"Oh iya betul juga kata kamu," Balas Pak Benji.
"Oke All! Sekarang kalian buka buku paket kalian halaman 86. Kita lanjutin yang kemarin oke," Ucap Pak Benji.
Semuanya mengeluarkan buku paketnya masing-masing.
Jangan herankan tentang Pak Benji. Guru itu memang memiliki humor dan pembawaan yang membuat murid yang diajarinya nyaman.
Kring!!!!
Bel pulang telah berbunyi. Hati-hati dijalan.. Jangan lupa datang kembali esok.
"Yey pulang!!" seru Salsa girang.
CYRAL berjalan kearah parkiran.
"Weh guys. Gue balik duluan ya udah dijemput" ucap Liora kepada yang lain
"Woi bareng woi!" seru Salsa kepala Liora karena jemputannya juga sudah tiba didepan gerbang.
"Weh gue balik duluan ya sama Kevan," ucap Ceysta yang diberi anggukan oleh Yasmine dan Arin.
"Rin lo mau bareng gue pulangnya?" tanya Yasmine
"Gausah mine. Gue pulang naik ojek online ini lagi otw ojolnya," balasnya.
"Oke kalo begitu. Gue duluan ya! Sampai ketemu besok senin!!" Ucap Yasmine lalu ngacir kearah gerbang sekolah.
Arin pun akhirnya berjalan menuju gerbang duduk dibangku panjang.
"Neng Bella ya?" sapa seseorang yang membuat Arin mendongak.
"Bellany Arindy ya pak?" tanya Arin yang diberi anggukan oleh si ojol.
"Iya neng. Mau make helm atau engga?" tanya Ojol sembari menyodorkan helmnya.
"Boleh pak," kata Arin sembari menyambut helm dari si bapak ojol.
Arin pun menaiki motor si bapak ojol. Dengan cara memegang pundak di bapak tersebut.
"Udah neng?" tanya Ojol memastikan.
"Udah pak," balasnya seraya mengangguk.
"Yaudah turun, hehehe," ucap si ojol yang membuat Arin bingung.
"Yaudah lupain dah neng. Ini ikutin alamatkan?" tanya ojol memastikan yang diberi anggukan ke Arin.
Tanpa disadar ada yang memperhatikan Arin dari jauh. "Sori rin," ucapnya Lirih.
🍁
Diperjalanan menuju rumah Arin.
"Neng sekarang kelas berapa?" tanya si ojol.
"hah? kenapa, pak?" tanya Arin seraya mendekatkan kuping kearah ojol yang membomcengnya.
"Neng sekarang kelas berapa?" ulang sih bapak ojol tadi seraya mengurangi kecepatan motor yang ia kendarai.
"Oalahh, aku sekarang kelas sebelas pak," jawab Arin.
"Masuk IPA atau IPS? Wah kalo bapak masih punya anak pasti sepantaran kamu neng, hehehe," lanjut si ojol.
"Aku masuk IPA. Memangnya anak bapak kemana?" tanya Arin kepo.
"Anak bapak meninggal neng. Bapak cuman punya dua anak sekarang. Yang masih SMP sama yang udah kerja," jelas si ojol.
"Hah bapak serius? Saya turut berduka ya pak," ucap Arin.
"Saya juga udah ga punya Bunda," ucapnya melirih.
"Bunda neng udah meninggal jugakah?" tanya pak ojol dengan hati-hati
"Iya pak. Bunda aku meninggal karena kecelakaan. Aku kadang sering iri kalo liat teman-teman masih punya bunda yang menyayanginya sedangkan aku udah ga punya kesempatan itu," ucapnya parau, terdengar dari nada suaranya yang terluka.
"Neng.. Walaupun neng udah ga punya Bundanya neng lagi tapi neng masih punya orang-orang yang menyayangi neng dengan tulus dan sayang. Kayak keluarga dan sahabat-sahabat neng misalnya," lanjut pak ojol.
"Bunda neng emang meninggal umur kamu berapa?" tanya pak ojol
"Hehehe pak ojol jangan kasih tahu siapa-siapa ya? Bunda meninggal pas aku kelas 8 SMP pak. Semua dunia ku serasa runtuh akibat ditinggal bunda," jawab Arin
"Semua orang punya jalannya sendiri neng. Kadang yang ditinggalkan juga harus meninggalkan. Hidup itu pilihan kita tidak boleh terus-menerus mengingat-ingat luka lalu. Karena kita juga harus memikirkan masa depan," nasihat pak ojol.
"Iya pak," ucap Arin
"Bapak pernah ngedeketin cewekah waktu dulu bapak sekolah?" tanya Arin
"Pernah neng waktu SMA. Terus sekarang cewe itu udah jadi perempuan yang sangat bapak sayang. Perjuangan bapak dulu susah" curhat si pak ojol
"Susah? Susah kenapa pak?" lanjut Arin kepo.
"Iya. Soalnya bapak pernah ga direstuin dulu sama mertua bapak, haha" kekeh pak ojol diakhir ucapannya.
"Nah nyampe juga," ucap pak ojol.
"Pak saya boleh minta nomer bapak?" tanya Arin
"Buat apa neng? Ini saya juga punya istri lho," jawab pak ojol
"Buat saya curhat pak," lanjut Arin
"Oalah. Yowes nih simpen nomer bapak," ucapnya sembari menyodorkan handphonenya.
"Udah saya misscall ya pak," ucap Arin.
"Oke neng. Itu juga udah bapak kirimin alamat tinggal bapak. Kalo kamu ada masalah kamu bisa kok berkunjung ke rumah bapak pasti sih ibu bakal seneng banget," ucap pak ojol
"Yaudah saya masuk dulu ya pak," ucap Arin
Ketika ingin mencapai gerbang pergerakannya ditahan.
"Neng-neng!" panggil pak ojol
"Oh iya pak? Kenapa?" tanya Arin bingung
Pak ojol menggeleng melihat tingkah Arin. "Toh kamu belum kembalikan helm bapak. Itu masih ada dikepala kamu" ucap pak ojol sembari menunjuk helmnya.
"Oh iya," balasnya sembari menepuk jidat sembari tersipu malu lantaran lupa mengembalikan helm bapak ojol tersebut.
"Nih pak, terimakasih. Ini tadi aku juga lupa kasih uangnya," ucap Arin sembari menyodorkan uang 50.000
"Waduh neng! Bapak ndak punya kembaliannya," ucap pak ojol.
"Tumben pak padahalkan udah siang begini? Gapapa kok itu memang saya sengaja lebihnya buat bapak saja" ucap Arin.
"Iya neng soalnya tadi udah ada yang bapak sisihkan kerumah buat ditabung pergi haji," kata pak ojol.
"Beneran neng? Yowes terimakasih banyak ya. Kamu sehat-sehat jangan banyak pikiran," ucap Pak ojol.
"Bapak lanjut nyari orderan lagi yo," ucapnya lalu melajukan motor beat keluar area perumahan Arin.
Gimana saya tidak banyak pikiran pak? Orang yang saya suka sekarang saja membuat saya pening, batin Arin lalu melenggang masuk ke dalam rumah.
🍁
Hai guys! Gimana ceritanya? Seru ga? Coba comment yaa!!! Jangan lupa klik suka juga!!! Follow aku untuk terus ikutin kisah Arin dan Ariel ya!
Kira-kira di part selanjutnya akankah Ariel masih bersikap seperti itu? Atau justru Arin akan bersikap menjadi lebih dingin kembali? Jadi penasaran..
Makanya jangan lupa, follow aku dan ikutin terus setiap partnya!
Jangan lupa follow instagram aku:
@andinildrr
Jangan lupa follow akun personal untuk mendapat notifikasi tentang cerita-cerita aku di:
@storyof.ldrr_
Suka quotes-quotes gitu? kata-kata galau? motivasi? mampir atuh ke akun:
@naoumyquotes
Mau kepoin tentang CYRAL? Dan nanya-nanya tentang mereka? Jangan lupa follow!! :
@arindybf_
@cystanindy_
@yasminefndi_
@lioratasyarf
@biancasalsa
Kalian juga mau kepoin tentang THE KALBU? Tenang, follow aja nih akun mereka!! :
@arielananta_
@kevanap19
@aliefnevandra
@indraaye
@leonzaa_
Sampai berjumpa di part 13 semuanya! See you later!
— t h a n k y o u ! ✨