ANANTARINDY

ANANTARINDY
Mantan



..."Ternyata masih ada orang yang ga rela, kalau orang yang dia sayang dan genggam harus dia lepas agar bahagia. Walaupun sakit, pilihan untuk memaksanya agar tetap berada disisi kita, bukankah itu lebih menyeramkan?"...


...☆anantarindy☆...


Arin menatap tajam lelaki di depannya sekarang. Dia tidak menyangka hari jika hari ini adalah hari tersial untuknya.


Lelaki yang saat ini berdiri di depan Arin, sangat membuatnya gemas dan ingin menghajarnya sampai babak belur. Tapi sayangnya itu semua hanyalah harapannya saja.


Keterkejutan Arin membuat lelaki itu memandang wajah Arin, tentu saja lelaki yang berada di depannya tak kalah terkejut.


"Arin?"


"Mau ngapain lagi lo ke sini? ga puas lo udah pernah nyakitin sahabat gue? sial, gue nyesel banget waktu itu ngizinin Ceysta buat pacaran sama cowok kayak lo." Arin berucap sembari maju selangkah agar lebih dekat.


"Rin! dengerin penjelasan gue dulu ya? apa yang waktu itu lo liat, Itu semua salah paham! kalian semua main hakim sendiri dan ga mau dengerin penjelasan gue!" lelaki itu berusaha membela dirinya.


“Salah paham? main hakim sendiri? penjelasan?” ulang Arin sembari menaikkan sebelah alisnya.


Lelaki itu menganggukkan kepalanya membuat Arin terkekeh sinis. Arin memandang dari atas sampai ke bawah penampilan orang di depannya yaitu Alverio—mantan Ceysta.


"Gue ga mau denger penjelasan dari orang kayak lo. Kalo apa yang dulu gue liat itu salah paham, terus maksudnya lo mojok dan kepergok sama gue dan Yasmine tuh apa?" Arin menimpali membuat Alverio terdiam.


Arin kembali tersenyum sinis, “See? lo sendiri aja kebingungan buat ngejelasin sama gue, gimana cara lo mau ngejelasin semua yang udah terjadi ke Ceysta?”


Arin mengambil bukunya dan berbalik meninggalkan Alverio sendirian. Lelaki itu pernah menyakiti hati sahabatnya, Ceysta. Dia adalah Alvaro Prasetya. Orang yang tidak ingin ditemui oleh CYRAL, terutama Ceysta.


Waktu itu Arin dan Yasmine berniat untuk ke gudang SMP mereka untuk meletakkan beberapa kertas-kertas ulangan yang sudah tidak terpakai. Tidak disangka, mereka malah memergoki Alverio sedang berduaan dengan cewek lain saat itu.


"Ceys!" teriak Arin dari jauh membuat Ceysta sedikit melompat, efek terkejut.


"Hah?" sahut Ceysta sembai menoleh.


"Muter balik! Kita ke kelas pakai jalur yang mau ke toilet aja."


Ceysta mengernyit saat mendengar ucapan sahabatnya. Masalahnya hanya tinggal beberapa langkah untuk mereka tiba di kelas.


"Oke ayo deh cari yang lain, tapi jangan lewat situ ya? tadi gue liat anak-anak The KALBU lewat lorong yang mau ke kantin gitu," Ceysta berusaha membujuk Arin.


Arin pun mendengus kesal, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. "Yaudah ayo!" Arin menyahut sembari menarik tangan Ceysta.


"Rin.. Lo kenapa narik tangannya si Ceysta kayak gitu?" Salsa mensejajarkan langkahnya dan bertanya dengan suara yang pelan.


"Al.." sahut Arin menggantungkan ucapannya.


"Hah? Siapa?" tanya Salsa bingung ketika Arin berhenti begitu saja. Dia mengikuti arah pandang Arin dan—


"Mampus! malah ketemu di sini." umpat Arin, dia menepuk dahinya.


"Lo kenapa sih? kok tiba-tiba berhen—" protes Liora yang sedang asik ngobrol dengan Yasmine dan membuatnya terhantuk kepala Arin.


"Ngapain lo ke sini?! Ngapain lo pindah ke sini? Ga puas lo dulu?! NGAPAIN LO KE SINI LAGI?!" Ceysta berteriak dengan mata berkaca-kaca. Semuanya langsung panik saat melihat Ceysta.


Enggan melihat wajah Alverio lama-lama, Ceysta akhirnya lari menjauh dari mereka. Menjauh dari orang yang ia benci, yang membuatnya terus-terusan mengeluarkan air mata beberapa tahun belakangan ini.


BRAKK


Buku yang Ceysta bawa terjatuh ke lantai, gadis itu menubruk orang di depannya karena tidak fokus melihat ke depan.


"Maaf ya Ceys, gue ga sengaja.. Lo ga kenapa-kenapakan?" tanya Kevan yang menahan Ceysta yang menabrak dadanya.


Lelaki itu justru terkejut saat melihat Ceysta yang sedang menangis. Ada masalah apa? apa Ceysta baru saja bertengkar dengan sahabatnya?


"Bukan urusan lo! Minggir!" Ceysta membalasnua dengan kasar dan mendorong Kevan. Ceysta kembali berlari tanpa arah, bahkan buku-bukunya yang tergeletak di lantai, dia abaikan begitu saja.


"Itu si Ceysta kenapa?" tanta Leon menatap kepergian Ceysta dengan bingung. Dia baru saja tiba bersama 3 orang sahabatnya.


"Dia nangis." balas Kevan langsung membuat The KALBU melotot.


"Lo apain?!" tanya Alief, matanya hampir keluar mendengar perkataan Kevan.


“Bukan gue, tapi—” ucapan Kevan terpotong, dia menoleh begitu juga ke-empat sahabatnya yang menatap kedatangan Arin.


"Wah ada yang nyusulin," ucap Indra.


"Woi! tadi pada liat Si Ceysta kearah mana? gue tadi ketinggalan." tanya Arin ketika berada di depan anak-anak The KALBU.


"Kearah belakang sekolah kayaknya, tadi lari gitu sambil nangis. Tuh bukunya ga dibawa sama dia." balas Ariel sembari menatap buku-l pelajaran yang tergeletak di lantai.


"Btw thanks!" sahut Arin tanpa basa-basi lagi dan kembali berlari untuk menyusul Ceysta.


Benar kata Ariel tadi, Ceysta ada di belakang sekolah sembari menangis. Air matanya terus berjatuhan membuat Arin menghela napasnya.


Arin mengambil sapu tangan di saku roknya dan memberikannya kepada Ceysta, "Cey.. jangan nangis lagi dong."


Ceysta mengambil sapu tangan yang diulurkan Arin untuknya. Dia menyeka air mata yang terus jatuh.


"Gue ga marah sama lo. Gue cuma kesel dan marah sama diri gue karena nangis cowok itu lagi. Padahal udah berusaha buat ngelupain dia, tapi kenapa dia malah muncul lagi?" tanya Ceysta dan mendekat kearah Arin, memeluk sahabatnya.


"Iya, Iya gue tahu kok perjuangan lo buat ngelupain dia.. tapi jangan nangis lagi ya?" balas Arin sembari mengelus pundak Ceysta.


Berbeda dengan suasana di belakang sekolah yang hangat karena upaya Arin untuk menenangkan Ceysta. Di lorong saat pertemuan itu terjadi masih terlihat sangat panas.


The KALBU yang baru tiba langsung dibuat terkejut saat melihat keadaan di lorong tersebut. Niat mereka sendiri ingin mengantar buku-buku naas milik Ceysta, ternyata ada sesuatu yang tak terduga yang dapat mereka temukan.


"Kenapa lo dateng lagi bangsat!" kata Salsa tak mampu menjaga ucapannya agar tetap tenang. Saat menatap wajah Alverio saja benar-benar membuat gadis itu ingin sekali menimpuknya dengan batu.


Liora memegangi tangan Salsa yang kembali mendekat kearah Alverio, "Sal udah! kalo guru tau bisa bahaya!"


"Apa Lo bilang? Kita masih harus sabar sama dia?!" tanya Salsa menatap Liora tajam. Untuk biasanya, Liora yang paling menakutkan. Tapi jika Salsa sedang dalam mode serius dan marah, jangan mendekat! karena itu sangat berbahaya.


"Kalo yang ini biar gue yang urus." kata Yasmine. Suaranya terdengsr berbeda dari biasanya.


"Nih buat lo!" ucap Yasmine meninju perut Alverio membuat Liora terkejut.


"Dengerin penjelasan gue dulu mine!" Alverio masih berusaha untuk membela dirinya.


"Mau jelasin apa lagi?! Udahlah Gausah bertele-tele!" katanya sembari memegang kerah seragam Alverio.


Dari kejauhan, anak-anak The KALBU menatap CYRAL dengan takut-takut. Jangan mau tergoda dengan wajah cantik mereka, karena itu semua adalah tipuan. Jika kalian tergoda, selamat. Kalian masuk ke dalam kandang singa.


"Woi itu CYRAL lagi marah-marah. Itu kasian cowoknya woy!" kata Indra panik, menepuk-nepuk punggung Alief di sebelahnya.


"Gausah bacot! gue juga mau nyusul doi gue." balas Alief langsunb berlari ke arah CYRAL dan cowok itu.


"Say.. Eeh Mine! udah jangan ditonjok lagi!" kata Alief sembari menahan tangan Yasmine yang ingin meninju Alverio kembali.


"Lepasin! gue harus ngasih pelajaran buat dia!"


"Udah ayo tenangin diri kamu dulu," Alief tetap pada pendiriannya untuk memisahkan Yasmine. Akan fatal jika Yasmine membuat lelaki itu babak belur nantinya.


"Woy bawa dia pergi!" teriak Alief membuat Ariel dan Kevan terpaksa membawanya menjauh dari sana.


Sedangkan Leon dan Indra berjalan menghampiri Liora dan Salsa. Keduanya masih terkejut melihat tindakan mereka.


"Lo berdua kok serem si?" tanya Indra langsung mendapat pelototan gratis dari Liora.


"Bacot bego!" Leon menyenggol lengan Indra, memberikan lelaki itu kode untuk diam.


"Lo ga kenapa-kenapa?" tanya Leon semberi menatap Salsa.


"Santai aja gue ga apa-apa kok."


Ariel dan Kevan yang sudah membawa lelaki itu pergi menjauh melepaskannya. Ariel menatap wajah Alverio. Lebih tepatnya mereka mengantar Alverio ke UKS.


"Lo ada masalah apa sama mereka?" tanya Kevan tanpa basa-basi. Emang sepantasnya jika anak-anak SMA Angkasa menyebutnya sebagai kembaran Arin, mereka sama-sama berwajah datar, kalo ngomong ketus dan dingin.


"Gue teman SMP mereka."


"Nama lo siapa?" tanya Ariel kepo.


"Nama gue Alvaro Prasetya," balas Alverio membuat Ariel mengangguk.


"Jawab pertanyaan gue yang tadi! Lo ada masalah apa sama anggota cewek-cewek tadi sampai mereka marah kayak gitu?" Kevan kembali mengajukan pertanyaan yang sama.


"Sebenarnya masalah pribadi, mereka pasti ga suka sama gue karena udah pernah nyakitin Ceysta. Makanya benci banget waktu ketemu sama gue lagi." jelas Alverio membuat Kevan mengerutkan dahinya.


"Ceysta mantan lo?" tanya Kevan, melihat Alverio mengangguk membuat rahang lelaki itu mengeras.


"Lo udah tau kelas lo dimana? mau gue tungguin terus gue anterin ga?" tanya Ariel menawarkan bantuan.


"Gue kelas XI IPS 2 tapi ga perlu, gue udah dikasih tau kok." Alverio membalasnya sembsri tersenyum.


“Kita duluan ya.” Ariel tersenyum dan langsung menarik Kevan.


“Thanks buat yang tadi!” teriak Alverio yang dibalas acungan jempol oleh Ariel.


[TBC]


HALO, GIMANA CERITANYA?


Semoga kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tunggu kelanjutannya dipart 5 ya! see you. Jangan lupa bintangnya ya, untuk hadiah cerita anak SMA ini~


Jangan lupa follow: @andinildrrn dan @storyof.ldrr [check visualisasi ANANTARINDY]


follow juga akun rp, untuk liat visual dan keseharian anak-anak AR!♡ : @anantarindy