ANANTARINDY

ANANTARINDY
Kejutan 2 (part 22)



"Indah pada waktunya."


🍁


*Dan masih banyak lagi kata-kata yang dilontarkan dari pengunjung yang melihat kejadian itu.


"Ekhem," Arin berdeham untuk menetralkan degum jantungnya yang tidak karuan ini.


"Sorry.. Gue--," Ariel sudah lemas duluan sebelum Arin menyelesaikan kata-katanya*.


🍁


🚫 Dilarang keras! Bagi yang gakuat silahkan diskip!🚫


Ariel menghela napasnya, sedih. Ia sudah tidak sanggup mendengar kelanjutannya ucapannya yang akan Arin lontarkan selanjutnya.


"Lah Bambang, lu kenapa sedih?" tanya Arin seraya mengernyitkan dahinya, bingung.


"Gue tau lu mau nolak guekan?" balas Ariel sembari menundukan kepalanya, lesu.


Lah ini orang sok tau bangetlah, anjay. Ini adegan romantis loh malah jadi kaga ada romantis-romantisnya lagi dah, kata Arin dalam hatinya jengkel.


"Makanya orang ngomong itu didengerin dulu sampai habis!" kata Arin dengan nada jengkel khasnya. Semenjak kenal Ariel dirinya sudah melupakan caranya menjadi dingin itu seperti apa.


"Hah?" balas Ariel dengan muka idiot, ciri khasnya Indra.


"Sorry.. Gue kaga bisa nolak maksud gue tadi," kata Arin dengan muka datar khas miliknya yang membuat Ariel tersenyum dengan lesung pipi dikanan dan kirinya itu.


"S-se-serius ini gue diterima?" tanya Ariel yang mendapat anggukan dari lawan bicaranya.


"Iya serius," balas Arin langsung membuat Ariel berteriak histeris.


"WOI!! INI ALHAMDULILLAH BANGET WOII!! ARIEL UDAH KAGA JOMLO LAGI WOOIIII!!!!" katanya yang membuat Arin menutup mukanya, malu.


"Elah! Please dah ye, Ucup. Kaga usah bikin gue malu ngapa dih!" kata Arin dengan suara pelan tapi masih mampu didengar oleh Ariel.


"Ehh iya, maaf ya maaf, wkwkwk," kata Ariel seraya mengusap puncak kepala Arin.


🍁




"Mau foto di sini engga?" tanya Ariel yang diberi anggukan antusias oleh Arin


Turangga Rangga itu pun menjadi saksi rasa sayang Ariel yang tak terhingga tersebut untuk Arin.


"Udah yuk pulang!" ucap Arin langsung menggandeng tangan kekasihnya itu


"Kuy!"


🍁


Selama diperjalanan, Ariel tak henti-hentinya menggoda Arin dengan gombalan-gombalan yang ia dapatkan dari sahabatnya–Indra.


"Udah ah aku gak mau keseringan ketemu kamu lagi," kata Ariel dibalik helm yang dia pakai.


"Loh kok?" balas Arin bingung, kenapa orang yang ada oke ralat—pacarnya ini tidak mau bertemu lagi dengannya?


"Takutnya diabetes aku kumat," lanjut Ariel seraya terkekeh.


"Kok bisa? Emang kamu punya diabetes?"


"Iya, soalnya kebiasaan aku sering ngeliatin senyum kamu yang manis itu," jawabnya yang diberi kekehan oleh Arin.


"Ye dasar pangkalnya aku!" kata Arin. Sekarang giliran Ariel yang dibuat bingung kekasihnya itu.


"Pangkal? Rajin pangkal kaya, rin?" tanya Ariel.


"Bukan! Kamu tuh pangkalan hati aku," jawabnya yang membuat keduanya tergelak.


"Kaya tukang ojek aja pake mangkal segala," kata Ariel masih dengan gelaknya yang hampir reda itu.


"Eh rin, rin!!" panggilnya kepada empunya nama dibelakang badannya itu.


"Apa?" tanya Arin.


"Aku engga bisa ngeliat nih, aduh gimana nih?" kata Ariel membuat Arin panik


"Kepinggir dulu aja woy! Entar kita berdua mati gimana?!" balas Arin panik mode on.


"Aduh aku gabisa liat soalnya aku buta.. Buta karena mencintaimu..," kata Ariel yang membuat Arin menepuk pundak Ariel, kesal.


"Aduh aduh! Maap woi!!! Maapp!!! Rin sakit, buset galak amaatt!!" kata Ariel


Selanjutnya mereka berdua menikmati hembusan angin yang menerpa kulit mereka di malam hari yang dingin yang disinari rembulan tersebut.


"Rin aku kedinginan nih..," kata Ariel, manja.


"Terus aku harus ngapain?" tanya Arin bingung.


"Peluk aku deh pasti aku engga kedinginan lagi.." ucap Ariel.


Arin lalu melingkarkan tangannya diperut Ariel yang aduhai body sixpacknya yang kotak-kotak macem roti sobek oppa-oppa, aaa!!! [ Maaf ya ini authornya fangirl tingkat akut :( ]



MOHON PERHATIANNYA, INI ANGGEP AJA UDAH MALEM YAK


"Sama aja tuh," kata Arin makin mengeratkan pelukannya.


"Sama aja kok pelukkannya kenceng banget," ucap Ariel dengan nada jengkel melihat perilaku kekasihnya dari kaca spion.


"Kan aku engga mau kehilangan kamu, hehehe," balas Arin cengengesan.


"Udah nyampe, mau sampai kapan meluk-meluk aku kayak gini?" tanya Ariel yang langsung membuat Arin melepaskan pelukkannya, malu.


Setelah turun, Arin pun ingin melepaskan helmnya tapi helmnya susah untuk dilepaskan.


"Aduh ini susah banget sih dilepasinnya!" kata Arin masih menarik-narik pengait helm yang terpasang dikepalanya.


"Haduh Neng Arin yang cantik, pacarnya Abang Ariel yang ganteng, anaknya Om Fernando itu pantes kaga bisa dibuka orang Nemg Arin belum nekan tuh pengait.


"Hehehe, lepasin dong Abang Ganteng," balas Arin menghampiri Ariel yang lima langkah berada didepannya.


Tidak butuh waktu dua menit helm itu sudah terlepas ditangan Ariel. Alamak Neng Arin, macam mana kau ini masa lepas helm saja tidak bisa.


"Udah gih kamu masuk!" ucap Ariel nyuruh Arin.


Arin mendengus, kesal. "Aku nungguin kamu pulang."


"Yaudah gimana kalo kita perginya bareng-bareng?" kata Ariel yang diberi anggukan oleh Arin.


"Kamu yang hitung ya?" lanjutnya.


"Oke aku hitung ya, aku hitung satu sampai tiga," Kata Arin sembari menunjukan jarinya yang terlipat menjadi angka tiga.


"Satuuu... Duaaa... Ti—tigaaa...," ucapnya dan tidak ada yang pergi terlebih dahulu.


"Loh kok?" ucap mereka berbarengan lalu tertawa bersama-sama.


"Yaudah kamu masuk duluan gih!" ucap Ariel sembari menyalakan mesin motornya.


"Jangan lupa minum, ganti baju kalo bisa mandi sekalian, sama baca doa sebelum tidur ya!" ucapnya seraya mengusap rambut Arin.


Setelah itu Arin lari menuju gerbang masuk dan melambaikan tangan kearah Ariel yang dibalas senyuman dibalik helmnya tersebut.


"Daahh!!! Hati-hati dijalan ya!!!" ucap Arin kepada kekasihnya tersebut.


Ariel mengacungkan jempolnya kepada Arin dan memberi senyuman dibalik helmnya kepada Pak Mono—satpam rumah Arin lalu menembus komplek perumahan Arin yang dingin itu.


"Cie Neng Arin meuni aya ekhem-ekhemnya nih sekarang," kata Pak Mono menggoda Arin dengan nada jahil khas sundanya.


"Ih bapak sok tahu! Terus kalo ngomong suka bener, weh," balasnya sembari tertawa kecil kepada Pak Mono.


"Ya atuh bapak mah, meuni tahu. Itu Neng Arin bebawaan boneka meuni aya coklat kaya bunga-bungaan," ucap Pak Mono


Kan itu gue taruh ditas, kok Pak Mono bisa tahu sih?, tanya Arin pada dirinya sendiri.


Arin memutuskan melongo kearah tasnya.


Pantes aja tau, orang tuh hadiah nongol kaya gitu, ucapnya setelah mengetahui kenapa Pak Mono bisa mengetahuinya.


"Hehehe, yaudah Arin masuk dulu ya, Pak. Udah ngantuh nih," ucapnya sembari menguap.


"Yoo, bapak juga udah ngantuk," ucap Pak Mono seraya berjalan untuk mengunci pagar.


Kenapa Arin bisa berani pulang semalam itu? Ya karena ayahnya sedang ada urusan perusahaan yang mengharuskannya menginap diluar kota. Tapi terlepas dari itu, Arin sudah terlebih dahulu izin kepada kakaknya–Kak Vierra.


🍁


Hai guys! Gimana ceritanya? Seru ga? Coba comment yaa!!! Jangan lupa klik suka juga!!! Follow aku untuk terus ikutin kisah Arin dan Ariel ya!


Wah mantep nih. Kira-kira selanjutnya apa ya yang bakal dilalui oleh mereka berdua? Jadi penasaran banget deh, hm..


Makanya jangan lupa follow aku, comment, like dan ikutin terus setiap partnya!


Btw, coba dong comment kalian ini antusias banget ga sih sama Kisah Ariel dan Arin ini.. Kalo iyaaaa, coba dong commentnyaaaa!!🌴


Jangan lupa follow instagram aku


@andinildrr


Jangan lupa follow akun personal untuk mendapat notifikasi tentang cerita-cerita aku di:


@storyof.ldrr


Suka quotes-quotes gitu? kata-kata galau? motivasi? mampir atuh ke akun:


@naoumyquotes


Mau kepoin tentang CYRAL? Dan nanya-nanya tentang mereka? Jangan lupa follow!! :


@arindybf_


@cystanindy_


@yasminefndi_


@lioratasyarf


@biancasalsa


Kalian juga mau kepoin tentang THE KALBU? Tenang, follow aja nih akun mereka!! :


@arielananta_


@kevanap19


@aliefnevandra


@indraaye


@leonzaa_


Sampai berjumpa di part 23 semuanya! Sampai Jumpa lagi!🐝 Jangan lupa untuk baca, 'Danger Girls!' OKEE!!


Te amo for you, All😘💖.


(Aku mencintaimu untuk kami, semua😘💖).


Bonus pict:


(Liora & Arin)



(Alief & Indra)