
..."Buka mata dan telinga mu, tidak semua yang kamu lihat dan dengar adalah kebenaran. Jadi tolong jangan tertipu nak."...
...~ Genio Midas Agave ~...
.......
.......
.......
.......
.......
Pagi ini udara di luar begitu dingin tidak seperti kemarin. Aku memakai jubah hangat yang di beri Wasa saat datang ke Festival Laister beberapa hari yang lalu, syukurlah aku sudah mencuci nya sebelum pergi. Bau anyir darah yang saat itu menempel benar-benar mengganggu ku ketika sakit.
Aku keluar dari rumah tua ini dan berjalan ke arah tujuan ku. Matahari belum muncul dan diluar masih gelap, mungkin saja sekarang sekitaran jam 4 atau 5 pagi.
Kali ini aku keluar tanpa Wasa, semenjak pulang dari melihat senja di dalam gua Hutan Ace aku tak jadi membicarakan tentang syarat pemilik kedai bertiang merah di Pasar Informasi itu.
Aku masih ragu, memang aku membuka sedikit ruang percaya pada nya tapi jika aku mengingat perkataan nya kalau di pasar itu berbahaya dan mungkin mengancam nyawa ku, aku mengundurkan niat ku dan memilih tak mengatakan nya.
Aku punya alasan, aku tak punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhan ku disini. Tak mungkin kan aku meminjam uang nya atau dia memberikan uang nya secara percuma pada ku, aku hanya tak mau kalau dia seperti itu.
Lalu aku masih butuh informasi, sebuah petunjuk yang akan menjawab semua pertanyaan di kepala ku salah satu nya mengapa bisa aku berada di masa lalu ini dengan 2 tubuh yang terpisah dalam dimensi waktu.
Dan pasti dia akan melarang ku untuk pergi ke sana, maaf Wasa.
Ku harap Wasa tak datang ke rumah tua ku untuk membawakan ku makanan seperti yang dilakukan nya saat ku sakit, semoga saja.
Aku masih mengingat jalan yang ku tempuh bersama Wasa walau saat itu dia membawa nya dengan kecepatan tinggi dan aku yang menutup mata karna takut tapi ajaib nya aku bisa mengingat arah jalan nya.
Aku pergi ke pasar informasi hanya dengan berjalan kaki, benar kata Wasa dengan kuda lebih cepat 2 kali lipat dibanding jalan kaki. Tapi sayang sekali aku tak pernah mengendarai kuda, baik ingatan di masa depan maupun di masa lalu ku.
Ku rasa ingatan ku tumpang tindih hingga tercampur dan membuat ku bingung.
Setelah beberapa waktu berjalan aku sampai pada batu putih dan kabut yang menandakan didepan ku ada pasar informasi, aku sampai tepat saat matahari mulai terbit.
Belum ada tanda-tanda pergerakan manusia di pasar ini, semua tempat kosong bahkan kedai bertiang merah itu juga kosong. Mungkin aku datang kepagian sekali, aku duduk didepan kedai bertiang merah itu dan ntah sampai kapan aku harus menunggu.
Aku bosan setelah beberapa saat hanya duduk diam, mata ku juga mulai mengantuk dengan udara dingin ini. Aku beranjak dari posisi duduk ke posisi berdiri lalu merenggangkan tubuh ku, rasa nya tubuh ku sedikit lebih segar dibandingkan tadi.
Aku mencari posisi nyaman untuk duduk didekat Pohon Tanjung disebelah kedai bertiang merah ini. Karna bosan ku yang belum menghilang aku mengambil ranting pohon yang jatuh dan mencoret-coret nya di atas tanah seperti di kertas.
Aku yang sedang asik-asik nya menghilangkan rasa bosan mendadak menoleh ke arah suara yang berdehem tak jauh dari ku.
"Hallo.." ujar nya berjalan mendekati ku.
Aku berdiri memperhatikan orang ini dari atas sampai bawah dia memakai jubah yang hampir menutupi separuh wajah nya, siapa dia?
"Kok gak di jawab?" tanya nya, dia memiringkan kepala nya dan menatap ku dengan senyum aneh.
Aku mundur beberapa langkah ketika dia mencoba maju untuk mendekati ku, waspada. Jangan-jangan dia orang berbahaya!
"Kenapa mundur begitu?" lanjut nya dan berjalan mendekati ku.
"Berhenti!! Jangan mendekat." ujar ku tegas, mana di pasar ini masih sepi gimana cara nya aku bisa kabur dari sini.
"Baiklah aku tak akan mendekat tapi kamu siapa? Kenapa kamu mengintai kedai ini?" tanya nya.
"Bukan urusan anda" ketus ku.
Mau apa dia bertanya seperti itu? Dan lagian dia siapa sih?
Aku berjalan pulang melewati nya, dari pada seperti ini aku lebih memilih untuk pulang saja dan di lain waktu datang ke sini. Lebih baik aku memang tak datang di waktu seperti ini, mungkin diwaktu menjelang siang aja agar aman.
Tapi baru 5 langah aku berjalan dia menarik kuat tangan ku dan aku refleks berteriak karna rasa sakit yang ku rasakan.
"Apa-apaan sih, lepaskan!! Kan sudah saya katakan bukan urusan anda!" cerca ku kesal, orang ini sembarangan saja menarik tangan ku.
"Gak, kamu pasti mata-mata. Ayo ikut aku!." tutur nya, dia menarik tangan ku dan memaksa untuk mengikuti nya kedalam kedai bertiang merah ini.
"Lepaskan." ronta ku sekuat tenaga tapi tenaga nya lebih kuat dibandingkan ku.
Seandainya bukan karna baru pulih dari sakit pasti orang ini sudah ku banting seperti ksatria waktu itu.
"Kakek!! Ada mata-mata." teriak nya.
Sebentar, dia mengatakan kakek berusan? Apa pemilik kedai ini kakek nya?
Suara pintu didobrak terdengar tak jauh dari tempat ku berdiri dengan orang yang menyebut ku mata-mata, sebuah tapak kaki yang berlari juga semakin lama semakin dekat. Hingga seseorang yang disebut kakek itu keluar dengan pedang ditangan kanan nya.
"Yang ini mata-mata nya?" ujar pemilik kedai ini dan mengarahkan mata pedang nya pada ku.
Mendadak aku menyesal, seharusnya aku memberitahu Wasa dan pergi kesini dengan nya. Kalau seperti ini nyawa ku bisa melayang dalam hitungan detik.
"Iya kakek, orang ini ku perhatikan sedari tadi sedang mengintai kedai kakek." tuduh nya pada ku.
"Apa mau mu?! " suara tegas dan berat pemilik kedai ini membuat ku merinding tanpa menurunkan pedang nya dari hadapan ku.
Aku menurunkan tudung jubah dari kepala ku dan memperlihat kan wajah ku pada pemilik kedai ini. Ya Tuhan, semoga pemilik kedai ini ingat wajah ku.
Pemilik kedai ini memperhatikan ku sesaat, wajah nya tampak terkejut dan pedang tadi diturunkan nya dari hadapan ku.
"Aah maaf kan aku, aku tak langsung mengenali mu. Nak, tolong lepaskan tangan mu dari nya." ujar pemilik kedai pada orang lain disamping ku ini.
"Loh kakek? Bukan kah dia mata-mata? Kalau aku lepasin nanti dia kabur." ujar orang disamping ku ini tak terima.
"Kakek jamin dia bukan mata-mata jadi tak berbahaya." ucap pemilik kedai ini tegas.
Karna tak ada pilihan yang lain, orang disamping ku ini melepaskan tangan ku secara terpaksa. Aduh, cengkraman tangan nya membuat tangan ku sakit.
"Tolong jelaskan pada ku kenapa dia bukan orang berbahaya, kakek?" ujar orang disamping ku.
"Nanti kakek jelaskan, nah kamu duduk disini dulu, nak." pemilik kedai ini mempersilahkan ku duduk pada kursi kosong tak jauh dari nya.
Aku menolak keramahtamahan nya pada ku, bukan karna aku tak sopan tapi aku hanya tak ingin berlama-lama disini apalagi ditatap mencurigakan dengan orang yang menyebut ku mata-mata tadi, sungguh aku masih kesal dituduh seperti itu.
"Mengenai syarat yang anda katakan pada saya beberapa waktu lalu, bisakah saya memberi satu syarat juga?." ujar ku, aku harus membuat perjanjian dulu dengan nya baru aku mau bekerja disini.
Pemilik kedai ini tak langsung menjawab permintaan ku, dia berpikir beberapa saat sebelum mengatakan jawaban nya.
"Sebenar nya aku keberatan." jawab nya.
Jika aku di posisi nya pun akan mengatakan begitu. Tapi bagaimana pun juga syarat yang akan ku katakan ini penting untuk ku ke depan nya.
"Tapi karna aku murah hati jadi akan ku dengarkan dulu apa yang kamu mau." tutur nya lalu pergi duduk di kursi yang dipersilahkan nya tadi pada ku.
Harus kah aku mengikuti nya ?
"Duduk lah, kakek ku menyuruh mu duduk juga." ujar orang disamping ku dan duduk di samping pemilik kedai ini.
Untuk sopan santun aku pun ikut duduk dihadapan mereka berdua. Seperti kata nenek ku, jika orang tua sudah duduk maka ikut lah duduk.
"Saya akan langsung pada inti nya, saya ingin sebuah perlindungan nyawa saat saya bekerja disini. Saya meminta ini karna saya tahu disini bukanlah tempat yang aman, banyak pengincar informasi yang akan melakukan apa saja. Jadi saya ingin anda menjadi penanggung jawab atas diri saya bila saya dalam keadaan bahaya." tutur ku jujur.
Aku mengatakan ini karna nyawa ku cuma satu dan aku tak punya sandaran untuk minta tolong di pasar informasi ini jika sebuah bahaya menimpa ku.
"Baiklah, aku terima syarat mu, nak. Sekarang kau sudah resmi jadi pelayan di kedai ini dan bekerja hari ini juga." jawab nya.
Tak berselang lima detik setelah aku mengatakan ingin ku dia langsung menjawab nya.
Apa pemilik kedai ini tidak mempertimbangkan ucapan ku dulu? Jika aku jadi diri nya aku pasti mempertimbangkan nya dulu.
"Mengapa anda tidak ..." ucapan ku terpotong oleh pemilik kedai ini.
"Mempertimbangkan nya? Kau bertemu dengan orang yang tepat di pasar ini dan aku tak keberatan dengan syarat yang kau ajukan." ujar nya.
Pemilik kedai ini seriusan kan? Bisakah aku mempercayai nya? Tapi... barusan dia katakan kalau diri nya adalah orang yang tepat.
"Apa ada lagi?" lanjut nya, dia menatap ku ramah.
Aku sedikit canggung bila dia menatap ku seperti itu, setelah berpikir berulang kali aku memutuskan untuk memberi pemilik kedai ini sedikit ruang percaya pada nya.
"Kapan saja saya bekerja disini?" tanya ku.
Apa pemilik kedai ini serius? Mana ada orang bekerja seperti itu? Aku saja dulu harus bekerja setiap hari bahkan di hari libur pun aku tetap bekerja.
"Kakek, mengapa kakek mengatakan seperti itu? Kakek akan rugi jika mempekerjakan orang lain seperti itu." sanggah orang yang tadi menuduh ku mata-mata.
Aku mengangguk setuju dengan ucapan nya, dia akan rugi jika mempekerjakan ku sesuai ucapan nya tadi.
"Nak, kakek tak akan rugi jika mempekerjakan nya seperti itu. Dia seorang wanita sama seperti mu sedangkan kakek seorang pria yang punya kedai dan tutup nya setelah matahari terbenam. Bukan kah dia akan rugi jika kakek menyuruh nya pulang setelah kedai tutup? Di sini berbahaya tapi lebih berbahaya lagi jika dia pulang saat hari sudah gelap dari pasar ini. Kakek kan sudah janji tadi sama dia kalau kakek akan bertanggung jawab atas nyawa nya. Jadi apa yang kakek bilang tadi sudah kakek pertimbangkan." jawab pemilik kedai ini.
Mendengar ucapan nya seketika membuat ku tercengang, sekilas aku melihat pemilik kedai ini seperti nenek ku. Ntah mengapa bulir-bulir air mata ku jatuh.
"Eeh kok nangis?" ujar kaget pemilik kedai ini pada ku.
Aku memalingkan wajah ku dari mereka, lalu mengusap kasar air mata ku. Aah bisa-bisa nya air mata ku jatuh di situasi seperti ini.
"Kamu tak apa-apa?" ujar orang yang menuduh ku mata-mata.
"Ya saya tak apa-apa." jawab ku singkat.
Walau pun aku menjawab seperti itu pemilik kedai ini menatap ku tanpa berkata apa pun. Sejenak situasi menjadi hening disini, aku tak ada niat untuk mencair kan suasana hingga suara deheman menyapa indera pendengaran ku.
"Sebelum kau mulai bekerja, kau harus tahu orang yang di sebelah ku ini." ucap nya kepada ku, pemilik kedai ini menunjuk pada orang yang tadi mengganggap ku mata-mata.
Aah dari tadi aku penasaran siapa orang ini.
"Dia adalah cucu ku, Olaya El Agave dan aku Genio Midas Agave. Kau bisa memanggil ku kakek saja." tutur nya memperkenalkan diri dan cucu nya.
Jika ku ingat-ingat juga aku belum pernah berkenalan dengan baik pada mereka berdua. Tapi nenek pernah bilang kalau aku tak boleh dekat sembarangan dengan orang lain, namun dengan mereka berdua tak masalah kan, nek?
"Saya Beryl Ara Lavel." jawab ku singkat.
"Lavel.... Bagus nama mu nak. Tapi aku akan beri satu saran pada mu." tutur nya pada ku.
"Saran?" tanya ku.
"Jangan pakai nama belakang mu disini dan jangan sembarangan beri tahu orang lain nama lengkap mu. Paham?" ujar nya tegas.
"Aku akan ke luar sebentar, Olaya tolong tunjukan pada nya apa saja yang harus dikerjai." ujar pemilik kedai itu pada cucu nya, Olaya.
"Iya kakek." jawab Olaya.
"Ayo ikuti aku." ucap Olaya pada ku.
Aku mengikuti nya dari belakang.
Olaya ternyata cucu dari pemilik kedai ini, pantesan sedari tadi dia memanggil pemilik kedai ini kakek. Olaya membuka jubah yang dikenakan nya tadi dan menggantungkan nya di paku yang terletak di samping pintu dapur.
Aku memperhatikan diri nya, dia memiliki tinggi yang sejajar dengan ku, rambut nya yang hitam legam sedada bergaya Wavy Layered Hair, wajah nya yang oval dengan tubuh langsing membuat nya tampil cantik dengan memakai baju apapun, pasti.
Jika Wasa melihat nya pasti juga langsung suka seperti ku tapi sayang sekali Wasa sudah memiliki orang yang disukai nya.
"Kenapa memperhatikan ku begitu?" tanya nya mendekat ke arah ku.
"Tidak, saya tidak memperhatikan anda" elak ku bohong.
"Haaahhh ..." helaan nafas nya terdengar.
"Panggil aku Olaya saja, jangan formal seperti tadi." tutur nya.
Olaya berjalan melewati ku lalu memberi tahu apa saja yang akan ku kerjakan disini. Aku mendengarkan penjelasan nya dengan seksama karna aku akan bekerja keras demi uang dan informasi disini.
"Apa ada yang ingin kamu tanya kan?" tanya nya pada ku.
Aku menggelang tanda tidak ada yang ingin ku tanya kan, aku sudah paham apa saja yang akan ku kerjakan di sini. Tapi aku penasaran dengan satu hal ini.
"Apa kamu kerja disini?" tanya ku.
Ya, ini yang membuat ku penasaran, dia memberitahu ku apa yang harus ku lakukan dan ku rasa dia bekerja hal yang sama dengan ku. Kalau begitu aku punya rekan kerja yang akan membantu ku ke depan nya.
"Tidak, aku tak bekerja disini." jawab nya.
Aku sedikit kecewa, ternyata pemikiran ku salah.
"Aah gitu, ku pikir kamu kerja disini." ucap ku canggung.
"Aku kerja di istana." lanjut nya.
Mendengar kata istana aku sedikit tersentak.
"Istana? Kamu bekerja seperti apa disana?" tutur ku penasaran.
"Aku asisten perpustakaan istana, sekarang udah jalan 2 tahun aku bekerja disana." jawab nya.
Aku yang awal nya tadi berjalan sedikit jauh dari nya pun langsung berpindah tempat disamping nya, aku ingin tahu lebih banyak soal istana. Apakah sama dengan yang ku lihat waktu di tempat wisata saat itu?
Olaya mengeluarkan reaksi sedikit terkejut saat aku tiba-tiba berada lebih dekat disamping nya tapi tak berselang 2 detik wajah kaget nya berubah menjadi hangat seperti saat dia berbicara dengan kakek nya.
"Cerita kan dong bagaimana bisa kamu bekerja di perpustakaan istana?" ucap ku antusias.
"Aku dapat bekerja disana karna rekomendasi dari guru ku di akademi. Dan saat itu pihak istana sedang butuh jadi mereka merekrut ku." jawab nya.
Akademi? Seperti sekolah di masa depan ku kah?
"Seperti apa akademi itu?" tanya ku.
"Kamu tidak tahu akademi?" Olaya mengernyitkan dahi nya dan menatap ku bingung.
"Aku hilang ingatan jadi tidak tahu." jawab ku jujur.
"Kok bisa sih?" ujar nya bingung.
"Akademi disini ada dua, satu akademi bangsawan satu lagi akademi rakyat biasa. Akademi itu tempat belajar dan setelah lulus para murid nya bisa langsung bekerja." jawab nya.
Ternyata akademi di sini dengan sekolah ku di masa depan sama ya hanya nama nya saja yang berbeda.
"Aah begitu, pasti kamu berprestasi di akademi jadi di rekomendasikan guru mu ke pihak istana" ucap ku.
"Ya seperti itu lah" jawab nya singkat.
"Soal istana tadi bisa gak kamu ceritakan pada ku seperti apa disana?" tanya ku.
"Istana itu besar dan sangat mewah, di perpustakaan istana saja contoh nya banyak terdapat buku-buku tua yang kalau di jual harga nya bisa ratusan koin emas lalu terdapat peninggalan-peninggalan jaman dulu di perpustakaan istana, untuk membangun ruangan nya saja butuh banyak koin emas. Kalau untuk tempat lain di istana itu aku gak bisa jelasin lebih, karna gak bisa sembarangan orang masuk ke setiap sisi istana. Pengawalan dan pengawasan disana sangat ketat, perlu surat izin resmi dari istana untuk masuk istana." ujar nya.
Aku paham dengan yang dikatakan Olaya, tentu saja orang-orang seperti ku tidak bisa masuk kalau tak ada surat izin istana sama seperti Istana Presiden di masa depan ku. Apalagi menyama-nya makan istana disini dengan istana di tempat wisata saat itu pasti beda jauh.
"Beruntung sekali kamu bisa bekerja disana ya." ujar ku sedikit iri pada nya.
"Iya, ada untung ada rugi nya juga hahaha" tawa nya pecah di udara.
"Apa untung nya?" tanya ku.
"Untung nya bisa masuk istana dengan kartu pekerja perpustakaan, terima gaji lumayan besar, disediakan rumah sementara dan dapat bertemu Raja bila ke perpustakaan istana." tutur nya.
"Kalau rugi nya?" tanya ku lagi.
"Rugi nya aku tak bisa sesuka hati pulang ke rumah kakek, ada aturan nya dan penetapan tanggal buat libur." lanjut nya.
"Berarti sekarang kamu sedang libur? Berapa hari?"
Kalau yang aku dengar Olaya tak beda jauh dengan aku yang di masa depan ya soal pekerjaan.
"Iya aku libur, cuma hari ini saja. Besok sudah masuk lagi." jawab nya.
Tuh kan benar, aku dimasa depan dengan Olaya yang sekarang tak ada beda nya. Ntah mengapa aku sedikit beruntung disini mengenai lama nya bekerja.
Tanpa aku dan Olaya sadari ada seseorang yang tengah berdiri di pintu masuk sedari tadi.
"Apa kalian sudah buka?"
Sebuah suara pria dewasa menyapa indera pendengaran ku, aku mau pun Olya menoleh ke asal suara itu.
Seorang pria berjubah hitam tengah menatap kami berdua tapi jika aku memperhatikan arah tatapan nya bukan kah sekarang arah tatapan nya pada ku?
Netra ku dan pria itu terkunci dan aku merasa dejavu.