
..."Antara madu dan racun tentu saja aku akan memilih madu tapi demi menyelamatkan mu aku lebih memilih minum racun. Namun kamu memilih pergi meninggalkan aku yang diperbudak hawa nafsu."...
...~ Eugene Zen De Ramor ~...
.......
.......
.......
.......
.......
Matahari telah terbenam dengan sempurna tepat setelah aku pulang. Ternyata hujan tadi cukup lama dan membuat ku terjebak bersama OL, pelanggan laki-laki yang ku temui tadi pagi di kedai.
Udara perlahan menjadi dingin ditambah dengan hujan yang baru reda dan setengah jubah ku basah membuat ku menggigil saat berjalan menuju rumah.
Awal nya setelah hujan reda aku akan langsung pulang sendiri saja lalu berpisah dengan OL yang menjadi teman baru ku tapi OL menawarkan diri untuk mengantar ku pulang. Aku menolak tawaran nya, aku masih belum terbiasa menerima bantuan orang lain dan aku masih waspada pada orang yang baru ku kenal.
Walaupun ku tolak OL tetap mengantar ku pulang dengan dia yang berjalan didepan ku dan aku mengikuti nya dibelakang.
Sebenar nya aku bisa saja duduk diam menunggu OL pergi terlebih dahulu tapi OL menakuti ku dan membuat ku terpaksa mengikuti nya.
"Kamu pernah dengar satu cerita?" tanya OL pada ku.
"Cerita apa?"
Aku menoleh ke arah nya, posisi duduk yang awal nya sedikit berjauhan kini OL tepat berada disamping ku hanya berjarak beberapa cm saja dari.
"Cerita wanita yang di culik saat sendiri." seru nya.
Dia menatap ke arah ku dengan serius dan aku memperhatikan wajah nya untuk mencari ke tidak benaran atas ucapan nya.
Mendengar satu kalimat yang di ucap kan nya barusan membuat ku sedikit takut tapi bisa aja cerita ini hanya akalan-akalan nya aja kan?
"Palingan cerita nya bohongan." tutur ku dan mengalihkan perhatian ke arah hujan yang jatuh, aku hanya tak mau ke pikiran.
Namun dia tidak menyanggah ucapan ku dan malah memulai cerita nya.
"Satu hari di cuaca yang sedang hujan deras seperti ini ada seorang wanita yang duduk diam meneduh, wanita itu berumur 23 tahun masih muda dan sehat." tutur nya.
Aku yang mendengar ucapan nya memilih menajamkan pendengaran pada suara hujan saja.
"Sebenar nya dia jarang keluar rumah hanya saja dia ada keperluan maka nya dia keluar rumah saat itu tapi saat pulang dia harus menunggu hujan reda terlebih dahulu. Saat dia sedang menunggu hujan reda, dia melihat beberapa bayangan didepan mata nya. Awal nya dia tak yakin itu bayangan apa jadi dia menghiraukan nya tapi lama kelamaan perasaan nya semakin tak enak dia memilih untuk melihat-lihat sekitar. Tak ada apa-apa saat dia melihat-lihat namun setelah dia duduk kembali seseorang di belakang nya langsung menutup mulut nya dengan kain yang sudah diberi racun lalu membawa tubuh wanita itu pergi saat hujan belum reda." lanjut OL.
Aku yang berusaha untuk mempertajam pendengaran ku pada suara hujan dan tak menghiraukan cerita OL berakhir menjadi penasaran saat OL mengatakan kalau wanita itu dibawa pergi oleh orang-orang asing, hawa disekitar ku menjadi sangat tak enak.
"Kamu...! Jangan nakut-nakutin dong." tutur ku kesal dicampur takut, aku hanya tak ingin kepikiran.
"Aku gak nakut-nakutin, aku berbicara sesuai fakta nya." bela OL.
"Aku gak percaya! Palingan cerita itu hanya cerita dari satu mulut ke mulut yang lain nya. Gak bisa dibenarkan karna gak ada bukti." cerca ku.
"Kalau aku bilang ada bukti kamu mau percaya?" tanya OL.
OL menyodorkan wajah nya lebih dekat pada ku, ini terlalu dekat. Serangan dari wajah OL berbahaya bagi ku.
"Kalau bukti nya meyakinkan." ujar ku lalu melarikan pandangan ku ke arah lain.
"Aku, aku saksi mata nya. Hanya aku tak bisa jelaskan lebih rinci nanti kamu tambah takut lagi." ucap nya, didalam ucapan nya terdengar seperti suara menahan tawa dan aku berpikir dia ingin menertawakan ku yang takut tapi tak jadi.
"Mana ada aku takut." dan aku mengelak.
"Yakin?" tanya nya.
Aku mengangguk dan sedikit menyombongkan diri dengan melipat kedua tangan di depan dada ku.
"Aah kamu gak takut ya, kamu mau tahu apa yang terjadi setelah wanita itu dibawa pergi?" tanya OL lebih dekat.
"Tidak, terima kasih." ucap ku lalu bangkit dari posisi duduk.
"Mau ke mana?" tanya OL, dia memegang tangan ku sebelum langkah kaki ku keluar dari gubuk tempat ku berteduh.
"Mau pulang, hujan udah reda." ujar ku.
"Aku antar, ayo." tutur nya dan menarik tangan ku yang dipegang nya keluar dari gubuk ini.
"Tunggu... Tunggu dulu." seru ku.
"Ada apa, Beryl?" tanya OL yang berbalik menghadap ku.
Genggaman tangan nya hangat tapi aku harus waspada dengan nya, apalagi mendengar cerita nya tadi.
"Tolong lepaskan tangan ku dulu." pinta ku.
"Baiklah tapi aku antar ya?" tanya nya lagi.
Kenapa dia memaksa sekali untuk mengantar ku? Aku kan jadi tambah waspada.
"Aku hanya khawatir kalau kamu pulang sendiri." lanjut nya, suara nya mendadak jadi lemah dan aku merasa tak enak.
"A.. Aku masih belum percaya pada mu. Maksud ku, bukan menganggap mu orang jahat tapi aku masih waspada pada orang yang baru ku kenal." tutur ku jujur.
Kalau aku berbohong pada nya dia pasti akan mengeluarkan jurus nya lagi untuk membuat ku mengiyakan tawaran nya, entah mengapa aku merasa yang ku pikirkan benar. Seperti suara nya berubah menjadi lemah, serangan wajah tampan nya dan mimik wajah yang mengiba.
Oh Tuhan! Kenapa aku lemah pada tiga hal itu.
"Bisakah kamu mempercayai ku walau sedikit? Aku tak akan macam-macam pada mu, aku akan pegang perkataan ku ini." ujar nya.
"Ya ... Ya sudah. Aku akan coba mempercayai mu. Tapi lepaskan tangan ku dan berjalan lebih dulu." ucap ku.
Aku tak bisa menolak atau pun mengelak, dia sudah berjanji pada ku untuk perkataan nya.
Dan seperti itu lah yang terjadi diantara aku dan OL tanpa ada perbincangan di antara kami saat berjalan pulang hingga kami sampai di depan rumah ku sebelum matahari terbenam.
Untung saja kuda Wasa tidak ada di depan rumah ku, jika ada dia akan menghampiri ku lalu menanyakan siapa pria yang menemani ku pulang dan kemana saja aku tadi. Kalau sudah begitu Wasa akan tahu bahwa aku bekerja di Pasar Informasi, aku masih belum siap memberitahu nya.
Kini hari sudah malam dan aku baru selesai mandi, tak ada yang berubah dari rumah ini selama aku pergi bekerja. Namun penglihatan ku menangkap sesuatu di atas meja, ada makanan dan sebuah catatan di sana.
"Di makan ya... Besok pagi aku jemput jadi bersiap-siap lah. Tertanda, Wasa." tulis nya.
Ternyata Wasa datang ya tapi mengapa dia menyuruh ku bersiap-siap? Apa akan pergi lagi ke suatu tempat seperti di gua itu? Ku harap aku dan dia pergi ke tempat yang menyenangkan lagi.
Sup Kalkun dan kismis yang dibawa nya adalah makanan yang ku sukai tapi sup nya sudah dingin, mungkin Wasa membawa makanan ini sebelum hujan turun.
Aku menyalakan kayu di perapian, selain untuk menghangatkan tubuh ku juga untuk memanaskan kembali Sup Kalkun pemberian Wasa.
Selama menunggu Sup Kalkun mendidih aku tiba-tiba mengingat wajah laki-laki yang sekilas lewat di pikiran ku saat aku dan Wasa menikmati senja didalam gua Hutan Ace. Aku yakin seperti nya pernah melihat wajah itu, perasaan ku tak tenang.
Bunyi uap dari sup yang ku panas kan membuat ku menoleh dan langsung mengangkat nya. Mata ku terasa berat tapi bagaimana pun aku harus makan dan menghabiskan makanan yang di beri Wasa.
Setelah selesai makan, aku langsung beranjak ke tempat tidur. Mata ku tak bisa di ajak kompromi lebih lama lagi, jadi piring-piring kotor tidak aku bersihkan malam ini.
Udara makin dingin walaupun jendela dan pintu sudah ku tutup rapat, setidak nya ada perapian yang perlahan menghangatkan suhu di ruangan ini. Dan aku mulai terlelap.
Sebuah suara ketukan pintu menyapa pendengaran ku, semakin lama ketukan itu terdengar semakin kuat. Lalu disusul teriakan dari orang-orang, aku membuka mata ku dan melihat sekitar.
Gelap, aku tak bisa melihat apa pun.
Apa mata ku belum terbuka? Aku menyentuh mata ku tapi mata ku sudah terbuka.
Apa aku sedang berada di sebuah ruangan yang gelap?
Aku terus berjalan dan meraba mencari pintu untuk keluar dari ruangan ini, aku merasa takut ditambah lagi teriakan yang makin lama makin kuat dan mendekat.
Perasaan tak tenang lalu pikiran yang mulai negatif membuat ku kalang kabut dan hampir menangis.
"Ini atas perintah Raja! Jika kau tidak membuka pintu maka kami akan mendobrak nya dan menyeret mu keluar." teriak seseorang.
"Ini peringatan terakhir, bukan pintu atau kami dobrak!" lanjut orang itu.
"Nenek! Nenek tolong aku..." tangis ku mulai pecah saat orang-orang yang berteriak itu mulai mendobrak pintu.
"Apa ada dia disini?" tanya seseorang.
"Tidak ada tuan, seperti nya dia sudah pergi." ujar orang lain.
"Bukan kah sudah mengepung nya? Kemana dia bisa pergi." tanya orang itu lagi.
"Kami akan mencari nya lagi tuan" ujar orang lain.
"Katakan kepada ketua ksatria perketat lagi pinggiran ibu kota dan gerbang-gerbang masuk. Jangan sampai dia lolos lagi." pinta orang itu.
"Siap tuan." seru yang lain.
"Ayo kita pergi." ujar orang itu lagi.
Mereka mau pergi? Syukurlah aku bisa selamat. Mereka sedang mengincar siapa sampai-sampai bawa banyak orang, setidak nya aku sedikit tenang karna mereka akan pergi.
"Tunggu." ucap orang itu.
Deg...
Perasaan ku mulai tak enak.
"Seperti nya kita kelewatan satu hal." tutur orang itu.
"Apa tuan?" tanya yang lain.
"Ikuti aku." perintah orang itu.
Apa dia menemukan ruangan ini? Apa dia akan masuk dan mendobrak ruangan ini? Perasaan takut ku kembali lagi dan air mata ku mulai jatuh, aku membekap mulut ku lalu mencoba tenang.
Ku mohon tenang lah, mereka pasti tidak akan ke sini. Semoga saja Ya Tuhan.
"Ku mohon jangan ke sini." lirih ku.
Tapi sedetik kemudian orang yang dipanggil tuan itu menyuruh yang lain mendobrak pintu yang mengunci ku ini.
Suara dobrakan pintu yang cukup kuat itu membuat ku bergegas bersembunyi di sudut ruangan gelap ini, kalau seperti ini aku akan langsung ketahuan dan di tangkap mereka yang tidak ku kenali.
"Kosong tuan." ujar seseorang.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan diri ku yang makin bertambah takut, jika aku tak berbuat apa-apa aku akan tertangkap oleh mereka jadi aku menyusun rencana untuk keluar dari ruangan ini dan mereka.
"Kau yakin?" tanya orang itu.
Ku harap orang itu dan yang lain nya masuk ke ruangan ini lebih dalam.
Aku berjalan pelan menempel ke dinding, sebisa mungkin aku mengatur suara nafas dan langkah kaki ku agar tak terdengar oleh mereka. Sekarang hanya tinggal beberapa langkah lagi aku akan keluar dari ruangan ini.
"Ya tuan, tuan bisa melihat nya langsung." ujar orang lain dan menyerah kan obor yang dibawa nya pada orang yang di panggil tuan itu.
Celaka! Aku bisa ketahuan.
Saat orang yang di panggil tuan itu mengambil obor milik yang lain aku langsung melarikan diri lebih cepat dari ruangan gelap itu menuju keluar rumah.
Untung saja di ruang yang lain mereka tidak ada tapi aku kaget saat seorang pria berpakaian lengkap tiba-tiba membuka pintu dari luar, pasti orang ini salah satu dari mereka.
"Kejar dia!!" teriak orang itu pada yang lain.
Aku yang berhasil kabur tanpa berpikir panjang berlari ke arah sembarangan secepat mungkin menghindari pengejaran mereka.
Tak berapa lama setelah sekuat tenaga berlari dada ku mulai sakit, nafas ku mulai terengah-engah dan aku butuh oksigen lebih untuk bernafas. Tapi aku tak bisa berhenti, mereka masih mengejar ku.
Dengan sisa-sisa tenaga yang perlahan melemah aku berlari ke arah hutan yang berada tepat di hadapan ku. Saat aku mulai memasuki hutan itu dari arah depan terdengar suara kaki kuda yang melaju kencang.
Aku terlonjak kaget dan cemas, secepat inikah mereka menemukan ku? Aku harus bagaimana? Aku pasti akan mati di tangan mereka karna mencoba kabur.
Aku mengambil langkah ke arah kanan untuk mencari tempat persembunyian yang membuat mereka tidak akan menemukan ku. Tapi suara seseorang memanggil ku membuat ku berhenti dan bersembunyi dibelakang pohon.
"Beryl! Kamu ada disini kan? Cepat lah keluar dan ikut dengan ku." seru seseorang.
Aku merasa tak asing dengan suara nya seperti aku pernah mendengar nya di suatu tempat. Namun aku tak bisa begitu saja percaya, mungkin saja ini perangkap dari orang-orang itu.
Sebenar nya apa salah ku sampai di kejar-kejar orang-orang itu.
"Ayo kita pergi dari sini! Disini sudah tak aman lagi" seru nya lagi.
Aku mengintip sedikit dari balik pohon dan melihat siapa orang yang mengajak ku untuk pergi. Seorang pria tua berpakaian lusuh dengan menaiki kuda tengah mengedarkan pandangan nya ke segala arah hutan ini.
Tapi tunggu sebentar, wajah pria itu seperti nya familiar bagi ku.
Pandangan ku dan pria tua itu bertemu saat aku tengah mengamati nya dari balik pohon, dengan gerakan yang cepat pria tua itu menghampiri ku dan membuat ku tak bisa berlari menjauhi nya.
"Mengapa kamu bersembunyi? Ayo ikut dengan ku, kita akan bertemu nenek mu." ucap nya dan menjulurkan tangan nya di depan ku.
"Nenek? Anda kenal nenek saya?" tanya ku tak percaya.
"Iya aku kenal dia tapi sekarang bukan waktu yang tepat membicarakan itu. Yang paling penting kita harus berhasil kabur dari pengejaran mereka." seru nya lagi.
"Anda tahu saya sedang dikejar?" tanya ku.
"Iya, ayo setelah aman kita akan membicarakan ini." tutur nya lalu menarik tangan ku untuk naik ke atas kuda yang di tunggangi nya.
Setelah itu pria tua ini memacu kuda nya dengan kecepatan penuh, perlahan aku meninggalkan rumah dan hutan itu. Aku harus melewati satu hutan dan satu sungai lagi hingga sampai ke tempat persembunyian yang di maksud pria tua ini.
"Dengan tubuh sekecil ini bagaimana bisa kamu bertahan dari pengejaran mereka." lirih pria tua dibelakang ku.
Aku menangkap ucapan pria tua ini lalu melihat ke arah tubuh ku, aku menjadi seorang anak kecil yang kira-kira berusia 10 tahun.
Aku baru menyadari perbedaan tubuh ku ini saat pria tua itu mengatakan nya. Apa aku kembali ke masa kecil ku?
"Tak usah di pikirkan, sekarang kau sudah aman." ujar nya lagi.
Aku ingin bertanya sesuatu pada nya tapi mendadak mata ku sangat berat dan di perjalanan aku pingsan.
"Ryl.. Beryl... Beryl...!" seru seseorang disamping ku.
Suara ini seperti suara Wasa.
"Beryl bangun, Ryl." seru nya lagi.
Aku bisa merasakan tubuh ku bergetar hebat, tubuh ku terasa lebih dingin dan mata ku susah di buka. Tapi panggilan dari seseorang yang mirip suara nya dengan Wasa membuat ku perlahan sadar.
Mata ku terbuka dan yang pertama kali ku lihat adalah Wasa, benar. Suara itu memang benar Wasa. Aku langsung memeluk Wasa, perasaan takut yang menghampiri ku tadi luruh begitu saja saat aku memeluk Wasa tanpa berpikir panjang.
Perasaan sesak dan tangisan ku yang pecah bersamaan dengan memeluk nya membuat nya kalang kabut tak siap menenangkan ku.
"Ryl... Kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba begini?." tutur Wasa cemas.
Aku tak mendengarkan pertanyaan nya, pikiran ku sekarang hanya terfokus kan pada hal yang baru ku alami. Mimpi yang ku alami tadi terasa seperti nyata seakan-akan aku dulu pernah berada disana dengan tubuh yang kecil itu.
Dan Wasa yang tak ku hiraukan pertanyaan nya lebih memilih menenangkan ku dengan mengusap punggung ku perlahan.