
..."Ada beberapa hal yang harus disembunyikan, tidak membiarkan orang lain tau dan juga melindungi hal-hal yang berharga."...
...~ Genio Midas Agave ~...
.......
.......
.......
.......
.......
Beberapa menit yang lalu aku mempersilahkan dua orang pria masuk ke dalam rumah ku, tatapan mata Wasa yang meminta penjelasan ku dan Pangeran Mahkota yang begitu saja menurut akan ajakan ku membuat situasi disini makin canggung. Aku menggaruk tengkuk ku yang tak terasa gatal, entah bagaimana caranya memberitahu Wasa.
"Hhmm ... saya—" ucapan ku terpotong.
"Mandilah terlebih dahulu, kamu pasti sumpek kan?" saran Aksa.
"Ahh iyaa ... tapi tak enak rasanya jika saya tak menyediakan minuman terlebih dahulu," ujar ku.
"Biar aku saja Ryl, kamu mandi dulu," timpal Wasa berjalan mendekati ku, tanpa sepatah kata pun Wasa mengambil beberapa peralatan untuk minum.
"Terima kasih Wasa."
Wasa hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah ku. Aku berjalan kearah kotak pakaian dan memilih sebuah baju panjang berwarna plum sebelum mandi. Aku merasa tak enak meninggalkan mereka hanya berdua, pasti Wasa juga merasa suasananya canggung karna Aksa adalah atasan nya tapi mungkin saja hal itu tak seperti perkiraan ku.
Selam beberapa menit aku mandi dengan penuh kehati-hatian aku membersihkan beberapa bekas luka di seluruh tubuh ku. Walau tak semua luka-luka ku mengering masih ada beberapa yang basah dan saat terkena air terasa sakit, untung saja tidak ada yang bernanah. Luka bekas gigitan ular juga sudah mengering, entah obat apa yang diberikan Aksa untuk luka ku yang satu itu tapi karna dirinya juga aku selamat.
Sebenarnya aku bisa saja membersihkan diri di pavilun milik nya namun di menara itu sama sekali tak ada tempat mandi hanya ada untuk pipis dan pup saja, kalau pun aku harus mandi seperti ini tempatnya hanya ada di pavilun Aksa yang notabenenya banyak penjaga juga pelayan makanya aku tak bisa kesana. Namun aku tak masalah tidak mandi beberapa hari asalkan aku dapat selamat dari kejadian buruk itu.
Setengah jam aku mandi akhirnya selesai juga, aku juga sudah keramas lalu memakai kembali pakaian bersih milik ku. Sekarang aku malah penasaran apa yang mereka lakukan disaat berdua seperti saat ini.
"Maaf menungu lama," ucap ku menghampiri mereka.
"Gak apa-apa, wanita wajar mandi lama," jawab Aksa, dia sedang memaklumi ku atau sedang menyindir ku? aku tak yakin.
"Maaf Pangeran Mahkota saya tak bisa menjamu anda dengan makanan enak di rumah yang tak layak untuk anda singgahi ini," ujar ku.
Walaupun dia meminta ku untuk hanya memanggil nama nya tapi kalau tidak sedang berdua aku akan memanggil gelarnya, demi melindungi diriku dari hal yang tidak diperlukan.
"Aku tak masalah," jawab nya dengan santai.
Aku melirik kearah Wasa yang hanya diam saja, dia tak seperti dirinya atau apa mungkin karna ada Pangeran Mahkota disini? setelah itu suasana terasa sangat tidak nyaman, tak ada yang memulai pembicaraan dan aku pun masih belum nyaman dengan apa yang terjadi sekarang.
"Sepertinya kedatangan ku membuat kalian tak nyaman ya? betul begitu Ksatria Wasa?" tanya Aksa.
Aku memperhatikan perubahan mimik di wajah Wasa yang awalnya terlihat sedang memikirkan sesuatu namum setelah ucapan Aksa berubah menjadi mimik yang sama sekali belum pernah ku lihat darinya, kesal.
"Sepertinya anda salah paham Yang Mulia," ujar Wasa setenang mungkin tapi aku bisa melihat rahang nya yang mengeras.
"Oh ya?" tanya Aksa tak yakin.
"Ya, Yang Mulia," ujar Wasa dengan cepat.
Aksa berdiri dari duduknya, dia merapikan pakaian nya yang sedikit berantakan. Melihat nya yang tiba-tiba berdiri aku dan Wasa pun ikutan berdiri, memperhatikan apa yang akan dilakukan nya. Namun fokus ku teralih ketika baru menyadari pakaian yang terlihat gagah dan keren itu, pakaian yang khusus dibuat untuk nya dengan menonjolkan sisi hitam mengkilat, terdapat juga beberapa berlian yang di ikat di pinggang nya lalu sebuah pedang di samping kanan nya. Dan jangan lupakan sebuah lambang yang beberapa waktu lalu pernah ku lihat, aku tak yakin tapi bukankah itu lambang Ortpe di kerah baju nya?
"Aku tak bisa berlama-lama disini dan sepertinya kedatangan ku membuat suasana disini tak nyaman, terima kasih atas jamuan ringan nya," ujar Aksa pamit.
Aku mengikuti langkah nya yang mulai keluar dari rumah tua ini, sebelum dia naik ke atas kuda milik nya aku refleks menarik ujung pakaian nya.
"Te— terima kasih telah mengantarkan saya pulang, suatu hari saya akan membalas kebaikan anda. Hhmm ... dan maaf kalau anda tak nyaman," ujar ku dengan sepunuh hati.
"Tolong jaga diri mu baik-baik," ucap nya sembari mengusap puncak kepala ku.
Dengan perlakuan lembut nya yang tiba-tiba membuat jantung ku pun berdegup lagi, dia bahkan tidak menjaga jarak nya dengan ku yang hanya rakyat jelata. Tanpa ku sadari ada satu pria lagi yang mendadak panas dengan apa yang dilihat nya.
"Dan Ksatria Wasa! seperti nya cuti mu sudah cukup, besok pagi datanglah ke Istana ada banyak hal yang harus diurus sejak dirimu cuti," ujar Aksa kepada Wasa.
"Baik Yang Mulia," jawab nya lalu memberikan salam pedang saat Aksa pergi.
Aku memperhatikan kearah mana kuda putih yang ditunggangi nya pergi namun sebuah tangan menarik ku untuk masuk kembali ke dalam rumah tua itu.
"Duduk lah," perintah Wasa pada ku.
Aku duduk saling berhadapan dengan dirinya, mimik wajah yang terlihat kesal tadi berangsur-angsur menjadi khawatir. Tatapan mata nya yang melihat ku dari atas hingga bawah seperti ini membuat ku merasa tak nyaman dan aku tak tau apakah dia mengerti atau tidak.
"Tak adakah yang ingin kamu beritahukan kepada ku?" tanya nya.
Aku merasa ragu, aku takut dengan sikap nya nanti saat tau apa yang dilakukan Chalya pada ku. Apalagi Chalya salah satu teman kakaknya Wasa namun jika aku hanya diam saja aku juga takut dia akan marah pada ku. Karna hati dan otak ku tak singkron dengan perlahan aku menggelengkan kepala untuk pertanyaan nya.
"Hhaahh!!" helaan nafas nya terdengar.
"Apa kamu tau? selama beberapa hari aku mencari mu kesana-kemari bahkan aku bela-belain untuk ambil jatah cuti ku yang tak terpakai? aku bahkan mencari mu ke kedai tiang merah itu, mencari mu ke segala tempat yang pernah kita lewati tapi tak sekalipun aku menemukan jejak mu. Apa kamu tau aku begitu khawatir pada mu yang menghilang tiba-tiba?" ucap nya dengan frustasi.
"A— aku ..." ucapan ku terbata-bata.
"Dan sekarang kamu tak mau memberitahu ku apa yang terjadi? kamu pikir aku ini apa, Ryl?" lanjut nya lagi dengan wajah yang berubah kecewa.
Melihat dia yang kecewa membuat sebagian perasaan ku sesak, aku sangat merasa bersalah pada nya namun hal ini juga bukan atas kemauan ku.
"Aku tanya sekali lagi, jawab aku dengan jujur Beryl. Apa yang terjadi pada mu selama beberapa hari ini? mengapa pulang-pulang wajah mu lebam? ada hubungan apa kamu dengan Pangeran Mahkota hingga dia mau mengantar mu pulang? jangan merahasiakan hal ini dari ku karna aku tak sanggup melihat mu seperti ini ..." tutur nya perlahan walau begitu suara khawatir nya terdengar lebih intens.
Dan aku tak bisa mengelak lagi.
"Aku harap kamu jangan emosi dulu ... dengarkan cerita ku hingga selesai, ya?" tutur ku dengan penuh harap pada nya.
"Ceritakan lah," jawab nya.
Aku mulai menceritakan tentang diri ku yang penasaran lalu malam itu juga pergi ke Pasar Informasi untuk menemui Kakek Genio. Aku juga menceritakan semua detail gimana aku diculik, dijual lalu dibeli oleh Chalya. Aku juga menceritakan penyiksaan dan perlakuan buruk Chalya kepada ku hingga kesempatan ku untuk kabur lalu bertemu Pangeran Mahkota dan kemudian diselamatkan nya. Tanpa terkecuali aku menceritakan nya dengan tenang walau masih tak terima dengan apa yang terjadi pada ku.
Setelah selesai menceritakan hal itu yang menguras waktu 30 menitan, aku kaget dengan reaksi Wasa yang penuh amarah. Rahang nya mengeras, alis nya bertaut dan tatapan nya yang tajam membuat ku bergidik. Kepalan tangan nya yang mengeras membuat ku takut dengan apa yang akan terjadi nanti.
Dia tidak akan melakukan hal yang buruk kan?
"Wa— Wasa ... aku minta kamu tenang dulu ya? Aku hanya apes saja saat itu tapi sekarang aku—"
"Apa?! apa kamu bilang kamu baik-baik saja?!" tanya nya. "Apa kamu tidak sakit hati pada wanita jahat itu? dia tak mungkin tak tau kamu siapa, dia bahkan pernah lihat kamu bersama ku saat dirumah ku tapi dia malah menyiksa mu? aku tak terima!! wanita jahat itu sudah kelewatan."
Melihat nya yang langsung bangkit dan hendak keluar dari rumah ini membuat ku refleks menahan lengan nya. Aku tak mau hanya karna diriku membuat nya bertengkar dengan wanita itu apalagi dia seorang bangsawan dan aku juga takut ayah maupun kakak nya tambah tidak menyukai nya maka karna itu sebenarnya aku tak ingin menceritakan hal ini pada nya.
"Wasa!!! aku mohon jangan gegabah, aku tak ingin kamu bermasalah dengan dia hanya karna diri ku. Aku takut kamu terluka jadi ku mohon, ya?" ucap ku meyakinkan nya.
Aku tak bisa mengatakan lagi diriku baik-baik saja karna Wasa akan tau kalau aku berbohong. Sejujurnya aku takut dia terluka apalagi Ksatria Chalya tak pandang bulu mamun sekali lagi aku tak bisa menghentikan dirinya, Wasa yang penuh amarah begitu menyeramkan bagi ku.
"Tidak. Aku akan baik-baik saja, kamu tak perlu khawatir," tutur nya dan memeluk tubuh ku.
"Kalau aku tak bertindak sekarang dia akan terus mengincar mu, aku tak mau kamu terluka lagi. Ini juga salah ku, seharusnya aku lebih keras memberinya peringatan. Kamu tetaplah di rumah nanti aku akan kembali, ku harap kamu tak menghilang tiba-tiba lagi," ujar nya lalu meninggalkan ku sendiri.
Aku menangis melihat nya tak mengindahkan permintaan ku namun perasaan khawatir ku tak bisa ku tampik, dalam hati aku berdoa untuk keselamatan nya. Aku kembali masuk kedalam rumah dan mengunci pintu, tak ada yang bisa ku lakukan dengan tubuh yang lemah ini apalagi sakit kepala ku turut muncul memperparah tangisan ku.
Kaki ku yang begitu lemas tak mampu menompang tubuh ku hingga aku tersungkur ke lantai rumah yang dingin ini, niat hati ku saat kembali nanti akan pergi menemui Kakek Genio meminta penjelasan namun harus ter-urung dengan kondisi tubuh ku, tak lama mata ku tertutup sempurna.
Apa aku akan kembali bermimpi seperti sebelum nya?
"Beryl! jangan lari-lari nanti kamu jatuh loh!!!" teriak seorang anak laki-laki.
"Gak akan, kamu mau curang kan!" sahut ku dengan suara anak kecil.
"Beryl ... aku menyukai mu! menikahlah dengan ku," tutur suara berat seorang pria.
"Beryl!! larilah aku tak apa-apa!" teriak pria yang lain.
Lalu semua suara itu menghilang bersamaan dengan mata ku yang perlahan terbuka, benar ternyata aku bermimpi lagi. Aku mencoba menghiraukan mimpi itu aku tak ingin pusing ku kambuh lagi namun sebuah tangan membuat ku tersentak.
Aku meraba dan merasakan tekstur tangan itu, kasar juga lebih besar dibandingkan tangan ku yang kini tengah menggenggam erat. Dan aku merasakan satu lagi sebuah tangan menopang pipi kiri ku, aku mencoba bangkit dari posisi tidur ku untuk melihat siapa orang ini namun sebuah tangan menahan ku untuk bangkit.
"Sudah sudah bangun?" tanya suara yang ku kenal.
"Kamu ... Wasa? aku pikir siapa tadi," ucap ku.
Aku memperbaiki posisi ku dan merapikan baju ku yang agaknya beratakan, Wasa pasti tadi menemukan ku yang tergeletak di lantai.
"Kamu kenapa bangun? tidur lagi aja gak apa-apa hari juga sudah malam," ujar nya.
"Aku belum makan ..." lirih ku dengan suara perut yang bergejolak.
"Aku akan menyiapkan makanan mu," lanjut nya bangkit.
Aku mengikuti nya dari belakang, dengan sigap dia mengambil satu lilin lalu menyalakan nya kemudian dia mengambil satu piring rotan dengan daun sebagai alas nya dan menghidangkan makanan yang dibuat nya di atas meja yang biasa ku pakai untuk makan. Di bawah penerangan cahaya lilin sebuah makanan buatan nya selesai di buat, perut ku pun semakin bersorak kelaparan.
"Aku membuatkan mu kentang kukus dengan sup ikan salmon, makanlah selagi hangat," ujar nya.
Tanpa basa-basi aku langsung memakan hidangan yang dibuat nya, seakan tak makan berhari-hari aku begitu lahap memakan nya hingga tak memperhatikan image yang harus ku buat di hadapan pria ini. Saat makanan ku hampir tandas aku baru ingat dia sama sekali tak ikut makan dengan ku.
"Kamu gak makan, Wasa?" tanya ku dengan mulut setengah penuh.
Dia hanya menggeleng dan tersenyum tipis pada ku, di bawah cahaya lilin wajah nya terlihat begitu tenang. Wasa tak mengatakan apa pun pada ku, dia hanya memperhatikan ku makan dan sesekali tersenyum saat melihat mulut ku penuh.
"Kamu ini ... makan nya pelan-pelan aja," ucap nya dengan tangan yang menyentuh sudut bibir ku. Mendapati perilaku yang tiba-tiba membuat ku tersentak kaget.
Sungguh aku tak terbiasa diperlakukan nya seperti tadi.
"Aahh ... ada sisa makanan ya di bibir ku?" ucap ku kaku.
Namun dia tak menjawab nya malah sisa kentang yang menempel di sudut bibir ku itu dimakan nya. "Kentang nya manis atau mungkin karna dia habis menempel di bibir mu jadinya manis?" tanya nya yang seketika membuat pipi ku memanas.
"Ii— itu kentangnya memang manis!" jawab ku gelagapan.
Kenapa dia tiba-tiba berbicara begitu?
"Oh ya? ku rasa itu karna yang kedua," timpal nya dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.
"Gak mungkinlah!!" Aku mencoba tertawa walau tawa ku terdengar kaku.
Aku melanjutkan makan ku, aku tak sanggup melihatnya dengan tatapan aneh itu. Hingga beberapa menit setelah selesai makan aku masih menghindari tatapan nya yang seakan-akan mengirim sinyal pada ku.
"Enak makan nya?" tanya Wasa selesai aku makan.
"Enak, terima kasih ya," ujar ku dan menatap mata nya sekilas.
Aku berdiri dari duduk dan hendak membersihkan piring kotor ini, tak enak rasanya jika sudah dibuatkan makanan namun tak segera ku cuci piring-piring kotor itu. Tapi tangan nya menahan ku untuk melangkah, Wasa berdiri dari tempat duduk nya lalu mengambil alih piring kotor yang sedang ku pegang dan meletakkan nya ke tempat cuci piring.
"Biar aku saja, aku bisa—"
"Tidak, itu nanti saja," ujar nya mendekati ku.
Dia menatap ku dengan tatapan yang tadi dia berikan, dalam kondisi berdiri ini apa yang hendak dikatakan nya? namun tiba-tiba Wasa mengangkat ku ke dalam pelukan nya lalu mendudukan ku di atas meja makan tadi, itu membuat ku terkejut dengan sikap nya.
Dalam posisi aku duduk di hadapan nya dan dia mengunci ku dengan berdiri juga di hadapan ku, badan nya yang dicondongkan ke arah ku dan kedua tangan nya berada di atas meja. Wajah ku hanya berjarak beberapa centimeter dari wajah nya dan membuat dada ku berdegup kencang
Apa yang sebenarnya mau dilakukan nya?
"Hari ini, aku menemui wanita itu. Aku telah memberinya peringatan terakhir walau ada insiden kecil tapi aku menepati janji ku," ujar nya.
Nafas nya yang terdengar teratur, tatapan mata nya yang tak pernah lepas dari ku dan jarak tubuh nya semakin dekat membuat wajah ku tambah memanas. Aku sungguh tak berani menatap nya sekarang, aku merasa gugup!
"Tataplah mata ku ..." bisik nya dengan suara yang lembut.
Dengan refleks aku mengikuti perintah nya, mata yang berwarna coklat itu terlihat indah apalagi dengan bulu mata dan alis nya yang terlihat bagai lukisan. Perhatian ku pun mulai turun pada hidung nya yang mancung mengkilat lalu berhenti di bibir nya, bibir yang berbentuk hati itu terlihat begitu sexy.
Ah gawat!!! pikiran ku akan kacau.
"Kamu begitu lucu, Ryl."
"Aku lucu?" tanya ku memastikan tak salah dengar.
"Iya ... kamu lucu, kamu manis, kamu riang, kamu penyabar, kamu konyol, kamu ngeselin," ujar Wasa begitu saja. "Dan karna dirimu aku jatuh cinta."
Seakan ada listrik di dalam diri ku, aku tersentak kaget mendengar apa yang dikatakan nya. Mata ku menatap lekat pada mata nya, mencoba mencari tau kebenaran itu lewat mata nya. Tapi yang ku dapatkan hanya sebuah keyakinan yang tersirat mendukung ucapan nya barusan.
Aku tak bisa mengatakan apapun, pernyataan cinta nya yang mendadak membuat otak ku berhenti berpikir. Perubahan mimik di wajah nya pun terlihat jelas, wajah nya yang memerah, gestur mata nya yang menurun juga bibir nya yang basah membuat ku gila memikirkan nya.
Pertama kali seorang pria menyatakan cinta pada ku dan wajah nya memelas membuat lidah ku kelu, aku harus bagaimana dengan serangan yang mendadak ini?
Wasa semakin mendekatkan dirinya kepada ku, tak terasa hidung kami hampir bersentuhan bahkan hembusan nafas nya terdengar tak beraturan lagi. Jantung ku yang terus berdegup kencang tak ingin berhenti, aku bisa merasakan sebentar lagi kulit wajah ku dengan wajah nya akan bersentuhan. Seperti sebuah insting, aku menutup kedua mata ku dan bersiap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sebuah tangan mengusap pelan punggung ku lalu tangan satunya lagi memegang lembut pipi kanan ku, dalam mata yang terpejam aku dapat merasakan bibir nya menyentuh bibir ku dengan hati-hati. Perlahan tapi pasti bibir nya bergerak menuntun ku untuk menikmati apa yang akan dilakukan nya, lidah nya yang perlahan bermain di dalam mulut ku memberikan sensasi yang berbeda.
Dalam sekejap aku melayang di buat nya.