
..."Aku mohon jangan pergi ... jika kamu pergi aku akan kehilangan pusat dari rasa bahagia ku."...
...~ Wasa Noren Moizs ~...
.......
.......
.......
.......
.......
"Beryl! tolong sadar lah."
Sebuah suara menyapa indra pendengaran ku,"Percepat lajunya!" perintah nya.
"Baik tuan," jawab suara yang asing.
"Ada apa dengan mu?! mengapa kita bertemu dengan keadaan mu yang seperti ini? siapa yang melakukan ini padamu? Beryl ... ku mohon sadarlah," tanyanya dengan khawatir.
Aku masih belum kuat untuk sadar dan membuka mata ku walau aku begitu penasaran siapa orang ini. Tubuh ku juga masih terlalu lemah, ku rasa gigitan ular itu mulai beraksi pada tubuh ku.
Apakah aku akan mati karna itu?
"Aahh!! aku tak berharap kita akan bertemu seperti ini! apa kamu tau seberapa khawatirnya aku melihat mu yang seperti ini?" tutur nya lagi.
Kenapa orang ini begitu mengkhawatirkan ku? dia juga mengenal ku, aneh sekali. Tapi meski begitu aku sedikit merasa tenang, setidaknya aku ditemukan oleh orang yang mengenal ku walau aku tak tau siapa dia.
Dengan mendadak sebuah serangan rasa sakit menyerbu tubuh ku, seakan ditusuk-tusuk dibagian kaki, tangan juga sakit kepala yang makin menjadi-jadi semuanya bercampur menjadi satu. Karna hal itu membuat lingkungan disekitar ku mati suara dan yang ada hanya rasa sakit ditubuh ku yang terus menjalar.
Aku bahkan tak bisa mendengar suara kekhawatiran orang yang menolong ku ini lagi, seakan-akan aku terkunci di dalam ruangan kedap suara dan hanya ada suara ku yang berteriak kesakitan. Aku menangis ... aku juga merasa takut dengan apa yang terjadi.
"Rasa takut itu datang dari pikiran negatif jadi buang pikiran negatif itu biar rasa takut mu juga hilang sayang," bisik seorang wanita tua, aku tak mengenal suara ini.
"Percuma saja! kau bahkan tak dapat mengalahkan yang kuat karna kau terlahir dengan kelemahan," susul wanita asing lain.
"Aku sudah berusaha untuk melupakan mu tapi mengapa aku masih tak bisa!" timpal sebuah suara yang mirip dengan suara ku.
"Aku mohon jangan pergi ... jika kamu pergi aku akan kehilangan pusat dari rasa bahagia ku," ucap sebuah suara yang mirip dengan suara Wasa.
"Matilah kau! aku harap kau tak kembali lagi." Maki suara wanita lain.
Semakin lama semakin banyak suara asing yang terus terdengar oleh ku, suara asing yang sama sekali tak ku kenal yang terus-menerus mengisi rongga kepala ku, aku sendiri bahkan tak tau untuk siapa suara-suara itu tertuju.
Aku makin menangis dan sakit kepala ku makin menjadi-jadi, entah bagaimana kondisi tubuh ku sekarang di hadapan orang asing itu aku sudah tak memikirkannya.
Hingga sebuah hentakan yang kuat begitu terasa sakit di dada ku membuat mata ku terbuka begitu saja dan pemandangan yang pertama kali ku lihat adalah Wasa yang tertusuk pedang tepat di hadapan ku.
Sebuah pedang yang menancap dari arah belakangnya hingga menembus dadanya, pedang itu diayunkan oleh seorang pria yang tak ku kenal dengan lambang kerajaan de Ramor dipakaian nya.
Apa yang ku lihat ini membuat ku begitu syok! seakan-akan nyata, darah dari tubuh Wasa mengalir begitu saja saat pedang itu dicabut dari tubuhnya. Wajah yang dulunya tampan itu berubah dengan banyak luka yang belum mengering, tatapan matanya yang penuh amarah itu terlihat jelas sebelum dia ambruk.
Melihat nya dalam kondisi penuh luka, benar-benar menyayat hati ini hingga membuat air mata ku jatuh begitu saja. Aku tak bisa diam melihat pemandangan ini, aku berlari menuju nya namun sesuatu dari arah belakang ku menahan langkah ku untuk menghampiri Wasa. Aku menoleh kebelakang namun sebuah besi berduri mengikat kedua tangan juga kaki ku, apa-apaan ini?!
Aku mencoba melepaskan besi berduri yang membelenggu ku ini namun hal itu sia-sia ketika besi berduri ini semakin mengikat ku dengan kuat hingga aku merasa kesakitan.
"Pergi lah! kamu hanya akan merasa sakit jika memaksakan diri, aku tak apa-apa!" teriak Wasa.
Bohong! jelas sekali dia berbohong pada ku.
Aku tak menghiraukan ucapan nya dan mencoba lagi untuk melepaskan diriku dari besi berduri ini tapi hal itu tak berhasil juga malah makin melukai diriku.
Pria yang menghunuskan pedangnya tadi pada tubuh Wasa kembali menancapkan pedangnya, dia terus menghunuskan pedangnya hingga Wasa tak berdaya dan ambruk ke tanah.
Hal itu memancing amarah ku yang mungkin sebentar lagi akan meledak, aku tak peduli lagi tangan dan kaki ku berdarah karna besi berduri ini tapi aku tak terima jika dia membunuh Wasa tepat di hadapan ku.
"Dasar brengsek!!!!" murka ku pada pria itu.
Dia menoleh pada ku dengan matanya yang menggila itu dengan langkah cepat dia menghampiri ku yang masih terikat besi berduri ini. "Coba ulangi lagi!" bentak nya.
"Brengsek! kau pria brengsek yang berani menyakiti Wasa!" Aku mengulangi ucapan ku dengan lantang.
"Dasar wanita ******!" hardik nya.
Matanya yang menatap ku dengan amarah dan tanpa aba-aba dia mengayunkan pedangnya pada ku. Refleks aku menutup mata ku, aku tau kalau ucapan ku membangunkan hewan yang kelaparan seperti dirinya tapi aku tak memikirkan efeknya kalau dia bisa membunuh ku sama seperti dia membunuh Wasa di hadapan ku.
Sejujurnya aku merasa sangat takut.
Namun setelah beberapa detik aku menunggu saat dia mengayunkan pedangnya, ku pikir aku akan mati di tangannya. Tapi hal itu tak terjadi, ketika aku memberanikan diri membuka mata ku dan melihat pria tadi sudah dipenggal oleh seorang pria bertopeng.
"Maafkan aku, Beryl ..." gumam pria bertopeng itu sebelum pandangan ku mendadak gelap kembali.
Dengan perlahan aku membuka kedua mata ku dan aku menemukan diri ku berada di tempat yang berbeda dari, aku dapat merasakan cahaya matahari yang menyapa hangat kulit wajah ku.
Apakah yang terjadi tadi hanyalah mimpi? atau hanya ilusi ku saja?
Aku tak tahu, terlebih lagi dengan tempat ini yang terasa asing bagi ku. "Aku dimana?" tanya ku sendiri.
Apakah orang yang menolong ku tadi yang membawa ku kesini? tapi disini tak ada orang sama sekali a— atau jangan-jangan yang tadi juga ilusi ku?!
Aku mencoba duduk dari posisi berbaring, tempat yang asing ini membuat ku sedikit takut apalagi ketika mengingat kejadian nahas yang menimpa ku beberapa waktu lalu.
Saat aku ingin membuka pintu yang akan menghubungkan ku dengan dunia luar, seseorang telah membukanya lebih dahulu dari pada diriku. Dan betapa aku terkejut ketika seseorang yang muncul itu adalah pria bertopeng, sontak saja tubuh ku menggigil ketakutan.
"Berhenti!!! jangan mendekat!" teriak ku padanya.
"Kamu kenapa?" tanyanya dengan bingung, tanpa mengindahkan ucapan ku dia berjalan semakin mendekat kearah ku.
Gawat! apa aku tertangkap lagi?!
Aku semakin mundur ke belakang, aku tak ingin tertangkap lagi lalu dijual seperti waktu itu. Dengan perasaan takut aku mencari kesana kemari benda yang sekiranya mungkin membantu ku dan mata ku menemukan sebuah belati yang tergeletak begitu saja di atas meja kecil. Tapi sayangnya meja itu berada tepat di belakang pria bertopeng ini.
Aahh!! sial.
"Aku bilang jangan mendekat!!!" jerit ku lebih histeris lagi tapi dia menghiraukan ku.
Terpaksa aku harus melakukan cara ini, walau tubuh ku masih terasa sakit aku berlari sebisa ku kearah nya kalau bisa aku harus menubrukan diriku dengan diri nya agar dia jatuh terpental dan aku akan mengambil belati itu, seperti itulah rencana ku.
Tapi tubuh ku ternyata terlalu lemah untuk melakukan rencana kali ini, aku memang menubrukan tubuh ku kepadanya namun pria bertopeng ini bagaikan besi yang begitu kuat dia tak bergeser sedikit pun sedangkan aku sudah terpental jatuh ke lantai ruangan ini.
"Kamu tak apa-apa?! kenapa kamu melakukan hal yang membuat diri mu makin kesakitan?!" tanyanya dengan nada khawatir.
Dia menghampiri ku yang terjatuh dan memegang kedua bahu ku, dia menyentuh ku dengan lembut dan nada bicaranya yang begitu aneh untuk seseorang yang asing bagi ku.
Tapi aku tak boleh lengah! aku tak tau apa yang akan terjadi setelah ini mungkin saja dia berpura-pura baik pada ku lalu memperlakukan ku seperti yang sebelumnya. Aku memang tak bisa mengambil belati di atas meja itu tapi tepat di depan ku sebuah pedang terpasang di pinggang pria bertopeng ini, mungkin ini saatnya aku kabur.
Dengan cepat aku mengambil alih pedang miliknya dan mengarahkan mata pedang yang tajam ini kepadanya. "Ini yang ketiga kalinya aku mengatakan pada mu untuk jangan mendekati ku dan ini peringatakan terakhir ku." Aku mengancamnya.
"Aku tau kau pasti salah satu anggota dari kelompok bertopeng itu, aku tak akan tertipu dengan nada bicara dan perlakukan mu pada ku. Jadi, sekarang kau mundur atau aku akan melukai mu dengan pedang ini!" desak ku, aku serius.
"Apa maksud mu?" tanya nya dengan bingung.
"Mundur!!" bentak ku.
"Beryl ku mohon tenang lah ... aku tak tau apa yang terjadi pada mu tapi aku tak akan mungkin membiarkan mu sendiri dalam kondisi seperti ini. Jika kamu ingin melukai ku karna tak mempercayai ku silahkan aku tak apa-apa tapi aku tak bisa melihat mu seperti ini ... ini membuat ku sangat khawatir, Ryl ..." bujuk nya dan berterus-terangan.
Mengapa dia berkata seperti itu? dia membuat ku seakan-akan begitu penting dan itu malah membuat ku merasa aneh. "Jika kau tak mau mundur aku akan melukai diriku sendiri!" ancam ku.
Aku tak lagi mengarahkan mata pedang itu padanya tapi kepada diriku sendiri, sejujurnya aku takut tapi menurut ku ini satu-satunya cara agar dia mau membiarkan ku pergi.
Saat aku benar-benar akan melukai diriku dia dengan sigap menahan pedang itu dengan tangannya, bukan dipegangan nya tumpuan pedang itu tapi dia menahan tepat dimata pedang dan membuat tangannya terluka begitu saja.
Aku panik melihat darah yang mengucur di tangan kirinya, warna merah darah yang keluar begitu kental itu jatuh tepat di lantai. Dalam jarak yang dekat mata ku dan matanya beradu, walau wajahnya tertutup topeng tapi matanya membuat ku 'deja vu' pada sesuatu yang sama sekali aku tak ingat.
"Sudah ku katakan ... kalau kamu boleh melukai ku tapi jangan melukai dirimu. Haruskah aku ulangi lagi betapa khawatirnya diriku pada mu, Beryl?" ucapnya dengan suara yang sangat lembut.
Dalam seketika aku terbuai dengan perasaan aneh yang entah datang dari mana, aku sulit mencerna hal ini tapi ku akui kalau pria bertopeng ini benar-benar tulus pada ku. Sekali lagi ku katakan, aku tak mengerti apa yang terjadi pada pria bertopeng ini hingga menganggap ku seakan-akan penting baginya.
"Darah di tangan mu terus mengalir." Aku mengalihkan kontak mata ku kearah tangan nya.
Dia menjauhkan pedang dari tangan ku kearah belakang, dengan menggunakan tangan kanan dia mengeluarkan sebuah benda dari balik bajunya. Dia mulai mengikat lukanya dengan sapu tangan yang di ambil tadi namun karna tangan kirinya terluka dan dia kesusahan untuk mengikat lukanya aku berinisiatif untuk membantu.
"Apa kamu perlu bantuan?" tanya ku, aku merasa bersalah.
Dia mengangguk tanpa mengatakan apa pun lalu menyerahkan sapu tangan nya pada ku, aku melakukan ini untuk membalas rasa bersalah ku padanya.
Aku memegang tangan nya yang terasa kasar di telapak tangan ku dan dengan telaten mengikat lukanya yang cukup lebar. Walau darahnya tak sepenuhnya berhenti tapi ku rasa itu sudah cukup untuk menutup lukanya dari udara luar yang mungkin saja mengandung bakteri.
"Sudah."
"Terima kasih," balas nya.
Dia berdiri dari posisi duduk tadi lalu membantu ku berdiri juga, pelan-pelan dia membantu ku dan dengan hati-hati dia menuntun ku kearah kursi yang berada didekat jendela. "Bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya nya pada ku.
"Bisakah kamu menjelaskan siapa dirimu? aku tak mau berburuk sangka lagi seperti tadi karna sudah melewati banyak hal jadi pikiran positif ku keorang lain berkurang drastis," ujar ku tanya menjawab pertanyaan nya.
Dia diam untuk beberapa waktu, angin sejuk terus berembus memasuki ruangan ini dan nyanyian burung di luar sana menghiasi diam nya saat ini.
"Kamu tak ingin memberitahukan ku ya? padahal jelas sekali kamu mengenali ku bahkan tau siapa nama ku dan ku rasa itu tak adil jika aku tak mengetahui siapa kamu," lanjut ku.
"Haruskah aku memberitahukan semuanya pada mu?" tanya nya setelah diam yang cukup lama.
"Maksudnya?"
"Apakah kamu benar-benar tak mengenali ku?" tanya nya.
Aku berpikir cukup lama, masalahnya disini yang aku kenal hanya Wasa, OL, Kakek Genio dan Olaya. Lalu siapa pria bertopeng ini? tak mungkin mereka berempat yang aku kenal tapi suaranya memang sedikit rada mirip dengan OL namun tak mungkinkan dia OL?
"Apa kamu OL?" tanya ku memastikan.
"Ternyata kamu melupakan ku..." lirih nya dengan nada yang sedih.
Berarti dia memang bukan orang yang aku kenal namun dia mengenali ku, apakah dikehidupan sebelumnya aku juga mengenal dirinya? entahlah makin ku pikirkan makin membuat kepala ku pusing.
"Langsung saja beritahukan siapa diri mu, aku tak bisa mengingat terlalu banyak hal," ucap ku.
"Ku harap kamu tak terkejut," jawab nya. "Aku adalah Pangeran Mahkota kerajaan ini, Aksa Oliga de Ramor."
Seketika sesuatu yang tak asing di dalam dada ku bergetar dan dirinya yang berdiri di hadapan ku saat ini sedang menatap ku dengan sangat intens.