Aksaberyl

Aksaberyl
Arambel



..."Bagiku kamu adalah ratu untuk ku yang akan selalu ku puja walaupun dunia ku runtuh karna mu."...


...~ Avell Sach Ballazs ~...


.......


.......


.......


.......


.......


Hari mulai semakin larut malam dan aku masih terjebak disini, di tempat yang sama sekali tak ku ketahui lokasinya, di tempat dengan banyak pasang mata yang menatap ku seperti kelaparan.


"A— aku tak tau kalau akhirnya jadi begini ... aku akan dijual sebagai budak dan kebebasan ku akan direnggut karna perbudakan ini! pa— padahal aku hanya kesasar tapi sialnya aku ketemu orang-orang brengsek."


Tangis wanita itu pun pecah, aku tak bisa menghibur nya. Sejujurnya aku memang tak pandai dalam menghibur orang lain juga sekarang kondisi ku dengan kondisi nya sama, akan jadi hal yang lucu jika aku menghiburnya sedangkan diriku juga sama takutnya.


"Jangan berisik! kalian juga tak bisa keluar dari sini kecuali dibeli," bentak pria yang mengantarkan kami disini.


Aku ingin membalas perkataannya kalau bisa aku juga ingin memukul pria brengsek ini tapi energi ku telah habis dan tubuh ku terasa lemah sekali.


"Silahkan dibawa masuk budak-budak itu!" seru si pembaca acara.


Disini dapat ku lihat juga banya wanita-wanita yang mungkin saja seumuran dengan ku juga digiring ke atas panggung untuk diperjual belikan layaknya hewan. Beberapa dari mereka juga ada yang ku lihat terluka dibebrapa bagian wajahnya, ada yang pakaiannya berantakan dan sobek sana-sini, malangnya mereka wanita cantik yang tak beruntung.


Aku dan wanita di samping ku ini mengikuti langkah kaki mereka ke atas panggung, jika ku hitung jumlah yang senasib dengan ku ada sekitar 30 orang-an dengan umur yang berbeda-beda.


"Baik Tuan, Nyonya dan Nona saya akan mulai melakukan sesi penawarannya. Harga yang paling tinggi akan jadi pemenangnya!" seru si pembawa acara.


Satu persatu dari mereka mulai ditawarkan oleh si pembawa acara, dengan antusias para bangsawan itu menawar mereka bahkan ada yang menawar dengan nilai yang tak masuk akal.


Sepanjang sesi itu aku terus menundukkan kepala ku, sebentar lagi giliran ku dan aku sekarang benar-benar marah. "Kali ini adalah budak yang akan dijual oleh Tuan bermata satu, tolong bawa budak itu ke depan!"


Hah? Tuan bermata satu?


Dengan tiba-tiba dua pasang tangan memegang lengan ku lalu membawa ku dengan paksa berdiri tak jauh dari si pembawa acara. Saat mereka mencoba membawa ku, aku berusaha sekuat mungkin untuk menahan mereka, aku tak mau diriku diperjual belikan orang lain, aku tak mau harga diriku diinjak-injak, aku punya hak atas diriku dan aku bukan seorang budak!


Tapi aku kalah kuat dengan tenaga dua orang yang menyeret ku ke depan, kegaduhan yang ku buat ternyata membuat para bangsawan sialan itu tertawa.


"Lihatlah dia! budak yang bodoh itu berusaha untuk melawan, lucu sekali." ujar salah seoramg dari mereka dengan lantang.


"Benar kalau gak mau jadi budak gak usah terlahir di dunia ini!" sahut yang lain dan mereka semua tertawa mengolok-olok ku.


Aku benci mereka, sangat membenci mereka!


"Diam kalian semua! kalian pikir aku mau jadi budak hah?! sialan," teriak ku yang tak kuasa menahan amarah.


Namun sebuah tamparan meluncur tepat di pipi kanan ku, tamparan itu berasal dari si pembawa acara. Dia menatap ku dengan tatapan merendahkan seakan-akan aku ini barang yang menjijikan dan disusul tawa para bangsawan yang puas melihat ku diperlakukan kasar.


"Ku rasa sebuah tamparan tak cukup untuk nya, budak seperti mu harus tau tempat!" teriak salah satu dari mereka.


"Sadar diri dong kalau terlahir jadi budak ya jangan banyak berlagak di sini!" timpal yang lain.


Begitu banyak cibiran yang mereka lontarkan kepada ku, aku benar-benar merasa sangat direndahkan. Aku bahkan tak bisa mengangkat kepala ku setelah tamparan dari si pembawa acara, tamparan itu menyadarkan ku betapa bodohnya aku saat ini.


Tuhan tidak adil nek!


Sekarang aku merasa sangat malu dan takut, lebih baik aku masuk ke kandang singa dibandingkan tempat ini. Aku benar-benar merasa marah pada semua orang bahkan Tuhan!


Kenapa ... kenapa aku dibuat Nya menjalankan ini semua?! kenapa ... kenapa aku harus mendapati penghinaan begitu besar ini?! kenapa ... kenapa aku merasa sangat kesepian disini nek?!


"Mari kita mulai sesi tawar menawarnya!" seru si pembawa acara.


Walau aku tak melihat mereka tapi aku mendengar kalau banyak dari para bangsawan itu menawar ku. Aku masih terus berdiri di depan mereka dengan dipegangi dua orang dan entah sampai kapan aku harus berdiri disini, aku hanya ingin cepat pulang.


Hhaah! kamu bodoh Beryl. Bagaimana caranya aku bisa pulang ke rumah sedangkan keluar disini saja belum tentu hidup-hidup.


Aku menyadari fakta yang benar-benar menyakitkan ini. "100 koin emas," ucap seseorang.


Bagaikan mendengar suara yang tak asing aku mengangkat kepala ku untuk melihat siapa orangnya. Tapi disinikan semua orang pakai topeng kecuali orang seperti ku.


"Ya, 100 koin emas! ada yang lebih tinggi lagi?" tanya si pembawa acara.


Namun sejauh mataku memandang aku tak menemukan mereka mengangkat tangan atau mengucapkan apa pun kecuali 100 emas itu.


"Haaahh dia membeli budak dengan harga yang mahal itu, palingan budak itu gak ada kemampuan nya," ucap yang lain.


"Iya, dia buang-buang uang saja. Budak lancang dan tak sopan itu tak pantas dapat harga segitu, pantasnya harga yang paling rendah!" sahut yang lain.


"Tak ada lagi? saya akan tutup sesi tawar menawar budak dari Tuan bermata satu dengan 100 koin emas!"


Sebelum aku dibawa turun oleh dua orang yang menyeret ku ke depan tadi sekilas aku melihat seorang pria tua di belakang kursi para bangsawan sedang memperhatikan ku, aku sama sekali tak punya kelainan mata rabun jadi aku yakin kalau pria tua itu sedang memperhatikan ku dan sebuah benda di matanya menarik perhatian ku.


Bukankah itu pirate eye patch? apa dia yang namanya si mata satu?


Aku diseret paksa oleh dua orang yang memegangi ku tadi hingga masuk lagi ke dalam tempat yang sempit tak berventilasi lagi.


Bagaimana dengan wanita yang bersama ku tadi, ya?


Karna kami berdua sama sekali tak punya kenalan disini yang artinya kami hanya mengandalkan satu sama lain harus berpisah dengan sistem yang menjijikan itu.


"Aku harap dia baik-baik saja, aku harap dia akan tetep hidup setelah ini." Aku berdo'a untuknya.


Walau pun keadaan kami sama tapi aku lebih mengasihinya dan aku tak tau apa yang selanjutnya akan terjadi setelah ini.


Bisakah aku bertemu dengan Wasa kembali? bisakah aku bertemu OL lagi lalu mendengarkan ceritanya? bisakah aku menemui Kakek Genio untuk mencari tau jawaban dari masa lalu ku? atau ... bisakah aku bebas, Tuhan?


"Hhaahh ...."


Aku menghela nafas panjang, sekarang terlalu sulit bagiku untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan. Entah bagaimana perasaan Wasa jika dia tau kalau aku diperjual belikan disini.


"Mana dia?" Aku mendengar suara seseorang dari luar.


"Sudah di dalam Nona," jawab seseorang.


"Aku tak menyangka bisa mendapati dia dengan semudah itu, ini mungkin akan menjadi kejutan yang tak terlupakan untuk laki-laki dari keluarga sombong itu. Aku sangat menantikan reaksinya saat dia tau kalau tamunya yang waktu itu aku jadikan budak di rumah ku." Seseorang yang di panggil nona itu tertawa.


Apa dia orang yang membeli ku? apa yang di maksudnya dengan laki-laki dari keluarga sombong?


"Saya juga tak sabar Nona Chalya," jawab orang lain.


Sebentar ... dia bilang Chalya? bukankah Chalya itu salah satu tamu yang pernah diundang kakaknya Wasa, 'kan?


Ku harap bukan dia orangnya.


"Apa anda mau melihat dia dulu sebelum berangkat nona?" tanya seseorang.


"Tidak perlu, kita langsung pulang saja Avell aku terlalu malas berada disini lama-lama," jawab Chalya.


"Baik nona."


Deg!


Aku mengingat kejadian saat bertamu ke kediaman Wasa, aku hampir saja dalam bahaya saat itu akibat ulah salah seorang ksatria milik tamu dari kakaknya Wasa dan namanya juga Avell.


Apa ini sebuah kebetulan? Bagaimana bisa nama mereka sama atau jangan-jangan itu memang mereka?


Berhenti Ryl, jangan berpikiran negatif dulu!


Kereta kuda yang membawa ku dan bangsawan itu pun berjalan menuju arah yang tak ku ketahui, saat aku disuruh masuk ke dalam tempat ini aku sama sekali tak melihat ada tanda atau simbol dari keluarga bangsawan tak seperti yang ku lihat saat pergi menuju rumah Wasa.


Orang-orang disini sangat menyeramkan mereka bahkan memakai topeng dan tak memperlihatkan dari mana mereka berasal dan itu membuat ku sangat penasaran sampai saat ini terlebih lagi dengan yang namanya si mata satu itu.


Sepanjang perjalanan aku terus berdoa semoga saja tidak akan terjadi hal-hal yang tak ku inginkan, semoga saja aku bisa melarikan diri dari mereka. Tak berapa lama kereta kuda itu pun berhenti.


"Avell tolong kamu urus dia, aku lelah sekali!"


"Baik Nona, semoga tidur anda nyenyak."


Aku masih bisa mendengar langkah kakinya yang mulai menjauh, walaupun aku sedang di dalam tempat yang sempit ini pendengaran ku masih tajam.


Kkrraaakkk!! pintu kayu ini terbuka, "Keluar sekarang!" ucapnya dingin.


Tanpa satu kata pun aku keluar dari tempat sempit itu, aku berharap bisa tau wajah dari yang membeli ku tapi malam sudah semakin gelap sinar bulan dan bintang juga tak terlihat. "Jalan! Gak ada waktu buat ngelamun."


Aku terus berjalan mengikutinya dari belakang, kedua tangan ku masih terikat dan talinya dipegang oleh orang yang ada di hadapan ku.


Dari kereta kuda tadi sampai sekarang dia masih berjalan dan menyuruh ku untuk mengikutinya. Selama mengikutinya aku melewati taman yang megah, beberapa bangunan yang tak terlalu bersinar, air mancur yang memantulkan warna langit hingga ke sebuah jalan yang tak ada penerangan sedikit pun. Entah sampai kapan aku harus terus berjalan mengikutinya karna kaki ku mulai terasa lelah.


"Di sini tempat kau tidur!"


Dia menunjukkan ku sebuah tempat yang kecil, sempit, gelap dan itu sepertinya terbuat dari besi. Aku jadi teringat penjara di masa depan tapi tak mungkinkan aku di penjara?


"Kenapa aku tidur disini? disini terlalu dingin," tutur ku.


Tapi dia mencengkram bahu kiri ku dengan sangat kuat hingga membuat ku merasa seakan-akan tulang yang ada di bahu ku akan patah karna cengkramannya.


"Aahh ... to— tolong! lepaskan tangan anda dari bahu saya, rasanya sakit sekali ..." rintih ku yang terus memohon.


"Kau bukan tamu disini tapi kau adalah budak yang dibeli Nona. Jadi jangan berharap apa-apa kau disini, jangan coba-coba kabur karna kau akan tau akibat nya!" Matanya yang melotot serta tekanan tangannya di bahu ku membuat ku takut.


Aku mulai menangis bukan karna perkataannya barusan tapi karna cengkramannya yang membuat bahu ku perlahan mati rasa dan aku tak bisa mengontrol rasa sakit ini.


"Cih! gak ada gunanya kau menangis." Dia melepaskan tangannya lalu berjalan meninggalkan ku seorang diri dan mengunci pintu besi ini.


Aku masih terus menangis bahkan beberapa jam setelahnya pun aku masih menangis hingga tanpa sadar aku ketiduran dengan mata yang membengkak akibat menangis semalaman.


Sayup-sayup aku mendengar suara burung bernyanyi, aku lupa nama burungnya tapi suara ini berbeda saat aku tengah di rumah.


Aahh ... aku kangen rumah.


Aku berdiri dari posisi duduk ku yang menopang tubuh ku semalaman, sesekali aku menggerakkan pinggang ku yang terasa begitu kaku juga lelah ini, aku mencoba melakukan olahraga ringan sebelum—


Kkrraaakkk!!!


"Aahh!! tulang bahu ku berbunyi," teriak ku kesakitan.


Semua ini gara-gara orang itu yang tadi malam tanpa belas kasihan memperlakukan ku dengan sangat buruk. Sekarang bahu ku terasa sakit sekali dan itu masih kerasa kalau aku tak sengaja mengerakkannya, aku meringis setelah lelah menangis untuk waktu yang lama.


Tak lama seseorang datang dari langkah kakinya terdengar begitu terburu-buru, apa aku akan dibebaskan?


Setelah pintu besi itu terbuka aku melihat celah untuk segera melarikan diri tapi baru keluar beberapa langkah dari tempat sempit itu aku berpapasan dengan seorang wanita muda yang memakai pakaian mewah layaknya seorang Putri Kerajaan.


"Apa kau mau menyambut ku seakan-akan aku penyelamat mu?" sindirnya yang bagi ku terdengar cukup sarkas. "Atau kau mau kabur dan berharap di selamatkan oleh dia?" lanjutnya.


Karna di sini masih belum muncul sinar matahari walaupun sudah pagi dan wanita ini berdiri membelakangi cahaya aku memperhatikan wajahnya dengan seksama.


Dan yang ku dapat adalah sesuatu yang mengagetkan, bagaimana bisa yang tak ingin ku harapkan terjadi? kenapa dia membeli ku padahal dia tau itu aku?


"Anda Chalya, 'kan? Chalya yang pernah bertamu di kediamannya Wasa, 'kan?" Aku menunjuknya memastikan kalau itu benar tapi sebuah tamparan menghujami pipi kiri ku dan itu berasal dari wanita ini.


"Sialan! beraninya kau menunjuk ku dengan status rendahan mu itu!" hardiknya.


"Tapi aku benar kan, kenapa kamu—"


"Membeli mu? itu kan yang ingin kau tanya kan?" sambungnya.


"Nona biar saya saja yang menangani nya," tawar seseorang yang muncul di belakangnya.


Suara yang sama, postur tubuh yang sama juga nama yang sama orang itu adalah Ksatria wanita ini yang hampir membahayakan nyawa ku saat itu.


"Aku akan berbicara dengan nya dulu, kamu di luar saja," perintah Chalya.


"Baik nona," jawabnya patuh


"Hei! aku tak ingin berbicara lama-lama dengan wanita yang menjijikkan seperti kau tapi akan ku peringati kau satu hal. Jangan mencoba berfikir kalau kau bisa kabur dari sini karna kau selamanya tak akan bisa kabur dan budak seperti mu juga tak akan ada yang mau." Dia menatap ku dengan tajam, "Oh ya, aku kasih saran sebaiknya kau tak berharap kalau orang itu akan menyelamatkan mu karna kau adalah beban baginya."


Setelah dia mengatakan perkataan yang cukup menyakiti ku dia pergi dengan tawanya yang memenuhi ruangan ini. Dengan perasaan marah aku berniat untuk mengejarnya tapi ditahan oleh Ksatrianya yang bagaikan anjing gila.


"Kurung dia kembali!" perintah Avell kepada para bawahannya.


Aku dengan rasa sakit yang masih ada di bahu ku pun dipaksa untuk masuk lagi ke dalam ruangan sempit itu tanpa belas kasihan dan hanya tersisa tatapan menjijikkan yang mereka lemparkan pada ku.


Seakan tertampar kenyataan aku merenungi kembali perkataan wanita itu,


"Kau adalah beban bagi nya,"


"Kau adalah beban bagi nya,"


"Kau adalah beban bagi nya,"


Ucapan wanita itu terus-menerus trrulang di kepala ku hingga membuat ku meragukan hubungan pertemanan ku dengan Wasa.


Aku teringat kembali kejadian buruk yang terus terjadi pada ku, apa benar aku ini hanya beban untuk Wasa?