Aksaberyl

Aksaberyl
Nona-Nona Oleander



..."Berhati-hatilah dengan mulut, jika mulut terbiasa manis maka akan membawa kebaikan buat diri namun jika mulut terbiasa pahit bisa jadi malapetaka akan datang pada diri."...


...~ Beryl Ara Lavel ~...


.......


.......


.......


.......


.......


Perasaan yang di awal ku cemas kan tadi kini beralih menjadi perasaan senang karna Wasa. Di mulai dari Wasa dengan senang hati mengajarkan ku bagaimana cara nya berkuda sampai kepastian kalau kami ini hanya temenan.


Sebelum datang ke sini aku berpikir kalau ayah Wasa itu orang baik tapi setelah mendengar cerita menyakitkan yang Wasa katakan aku menjadi ragu akan penilaian ku terhadap ayah nya walaupun Wasa membela ayah nya karna hal itu wajar di lakukan di sini tapi Wasa memang tak bisa menyembunyikan rasa sakit yang sudah lama itu dari ku. Dan aku menjadi tak berminat untuk bertemu ataupun melihat ayah nya Wasa di sini.


Aku terus berjalan ke arah yang Wasa katakan tadi pada ku hingga aku bertemu seorang wanita berpakaian seperti pelayan yang menyambut Wasa tadi di gerbang utama.


Aku menghampiri wanita itu dengan langkah ragu, bagaimana jika wanita itu salah satu pelayan yang bergunjing tadi? Aku tak suka jika melihat orang yang tak menyukai ku.


Tapi tak ada cara lain selain bertanya pada wanita berpakaian pelayan ini, Wasa juga mengatakan kalau aku harus didampingi pelayanan lain untuk ke kamar mandi jika tidak mungkin aku akan tersasar.


"Hmmm permisi... Apa kamu salah satu pelayan di sini?" Ucap ku


Wanita yang sedang menyirami tanaman itu berbalik arah menghadap ku yang berdiri tak jauh dari nya.


Samar-samar aku melihat sesosok gadis desa dari ingatan ku terhadap diri nya. Wajah yang mungil, kulit kemerah-merahan dan rambut hitam berkilau terpapar sinar matahari seperti yang terlihat di diri wanita berpakaian pelayan ini.


Apa aku pernah bertemu wanita ini di suatu tempat?


"Aah iya benar, ada yang bisa saya bantu, nona?" Tanya ku ramah pada ku.


Mendengar ucapan nya yang ramah membuat ku yakin jika wanita ini bukan salah satu pelayan yang bergunjing tadi, aku merasa sedikit lega.


"Saya ingin ke kamar mandi."


"Baik, mari saya antar nona." Ujar nya.


Dia berjalan terlebih dahulu untuk memandu ku, ternyata tempat nya tak jauh dari pelayan ini menyirami tanaman.


Aku langsung menggunakan kamar mandi itu dan menuntaskan hajat ku. Setelah itu berniat untuk kembali lagi karna Wasa menunggu ku.


"Sudah selesai nona?" Tanya nya yang sedang berdiri menunggu ku di dekat pintu masuk kamar mandi.


"Iya.." Ucap ku.


"Mari saya antar kembali." tawar nya mendahului ku.


Aku mengikuti pelayan ini di belakang dengan diam tapi tak sampai lima langkah dia berbalik ke arah ku lalu membungkuk kan tubuh nya.


"Maafkan kelancangan saya nona, saya sudah lupa menayakan nona tamu siapa." tutur nya bersalah.


Apa? Hal seperti itu disebut sebuah kelancangan?


"Aah tolong tegak kan kepala mu lagi, tidak enak jika kamu seperti ini." ucap ku memegang ke dua bahu nya.


"Tapi saya sudah lalai." Ucap nya  bersikeras.


"Tidak perlu merasa kalau bersikap lancang pada saya." Tutur ku.


"Tapi saya ..." Lanjut nya namun. ku potong.


"Baiklah-baiklah... Jika kamu masih bersikeras untuk meminta maaf akan saya maafkan tapi tak perlu bersikap berlebihan seperti ini pada saya." Ujar ku tulus.


"Terima kasih nona." Ucap nya dengan sedikit senyum yang terlihat dari wajah nya.


"Jadi nona tamu dari siapa?" Lanjut nya.


"Dari Wasa." Ujar ku.


"Eeh Tuan Muda Wasa? Akhir nya tuan muda kembali lagi." Ucap nya senang.


Memang nya Wasa jarang pulang ke rumah? Lalu makanan yang selalu dia berikan pada ku bukan berasal dari rumah nya?


"Apa maksud mu?" tanya ku bingung.


"Maksud saya tuan muda jarang sekali pulang, nona. Kalau pun tuan muda pulang pasti karna ada hal penting jika tidak tuan muda tidak akan datang. Tapi nona, tuan muda ada keperluan apa ya sampai datang ke rumah bersama nona? Hmm atau jangan-jangan tuan muda mau menikah?!!" Seru nya.


Jadi selama ini Wasa jarang pulang ya, lalu kemana dia akan pulang jika bukan ke rumah nya? Dan lagi, pelayan ini terlalu frontal pemikiran nya.


"Kok kamu berpikiran seperti itu? Bukan nya pelayan tidak boleh terlalu ingin tahu dengan urusan tuan nya?" ucap ku.


"Maafkan saya nona, saya sudah keterlaluan." ujar nya menyesal dan membungkuk kan tubuh seperti yang di lakukan nya tadi.


"Minta maaflah pada Wasa, bukan pada saya." Ujar ku tegas.


"Iya nona." Tutur nya pelan.


"Ayo lanjut jalan lagi." Ujar ku pada nya.


Pelayan wanita ini berjalan di depan ku dan menuntun ku kembali ke tempat tadi, tidak ada pembicaraan di antara kami. Mungkin saja dia menyesal mengatakan hal tadi dan merasa sangat tak enak dengan ku.


Tapi bagaimana pun hal seperti itu tak pantas untuk di ingin tahu kan oleh nya yang merupakan seorang pekerja di rumah tuan nya. Itu salah satu etika pekerja yang aku ketahui di masa depan dan mungkin saja hal seperti itu juga sama di masa lalu ku sekarang.


Dan aku penasaran mengapa Wasa tak pulang ke rumah nya kecuali bila ada hal yang penting, apa harus ku tanyakan nanti pada nya? Aku sedikit takut jika yang ku tanyakan ini bisa menyinggung perasaan nya seperti tadi.


"Gilda!!!!!!" teriak seseorang.


Aku maupun pelayan wanita di hadapan ku berbalik ke arah sumber suara itu dan mendapati seorang wanita yang sedang menuju ke arah kami.


"Gilda! Kenapa kau di panggil-panggil tidak menyahut juga?!" Ujar wanita itu dengan amarah.


"Ma..maaf kan saya kepala pelayan tapi tidak ada yang memanggil saya sejak tadi jadi saya tak tahu." Tutur pelayan wanita yang sedang mengantar ku ini dengan suara bergetar, Gilda.


"Halaah alasan kamu aja kan!" ucap kepala pelayan tak percaya.


"Saya tidak berbohong kepala pelayan." tutur nya lagi membela diri.


"Kau memang pantas untuk di hukum, sini kau!!" Ucap kepala pelayan dan menarik paksa tangan Gilda.


"Berhenti." tutur ku.


Dan tentu saja kepala pelayan itu berhenti lalu menoleh ke arah ku. Dengan seksama dia melihat ku dari atas hingga bawah, dia melepaskan tangan nya dari Gilda yang kemudian melipatkan kedua tangan nya di hadapan ku dengan sombong.


"Anda siapa? Pelayan baru haah?" ujar nya.


"Ke..kepala pelayan.. Jangan seperti itu, nona ini adalah tamu nya Tuan Muda Wasa." Tutur Gilda pelan.


"Tuan muda? Tamu nya seperti ini?" tutur nya sarkas.


"Anda tidak dibenarkan jika menarik paksa tangan orang yang tak bersalah dan ternyata etika anda sangat buruk yaa." ujar ku tegas.


Aku hanya tak bisa melihat orang-orang di perlakukan buruk di hadapan ku.


"Kau!!..." Seru kepala pelayan dengan amarah yang mulai naik.


"Su..sudah lah kepala pelayan, saya akan ikut kepala pelayan. Nona, saya minta maaf tak bisa mengantar anda kembali." Tutur Gilda.


"Diam kau, Gilda!" Seru kepala pelayan.


"Ya tak apa-apa" ucap ku.


"Terima kasih nona, ayo kepala pelayan" ujar Gilda pelan lalu mengikuti langkah kepala pelayan yang masih terlihat marah.


Setelah pelayan dan kepala pelayan itu pergi aku melanjutkan lagi jalan ku menuju wasa namun di persimpangan tiga aku bingung ke arah mana menuju ke tempat Wasa tadi.


Aku mengingat kembali jalan yang ku lalui, bukankah jarak nya tak terlalu jauh? Apa pelayan tadi salah memilih jalan hingga sampai di persimpangan ini?


Aku tak tahu daerah jalan ini, disini sedikit berisik tidak seperti jalan yang ku lewati tadi.


Dimana ini? Apa ku hampiri saja sumber suara yang terdengar berisik itu, lalu menanyakan jalan menuju tempat latihan kuda?


Diantara persimpangan 3 jalan ini aku memilih melangkah ke jalan yang terletak di tengah karna asal suara berisik itu dari sana.


Aku masuk ke jalan itu, walau sedikit ragu tapi tak ada pilihan lain selain bertanya jika ada pelayan yang ku temui di jalan ini, aku tak ingin Wasa mengkhawatirkan ku yang tersesat walaupun memang sekarang aku sedang tersesat.


Disisi kanan dan kiri jalan ini dihiasi Sweet Alyssum yang sedang bermekaran, harum nya yang semerbak mengingatkan ku pada tempat wisata yang aku kunjungi sebelum berpindah dimensi, Taman Istan De Ramor.


"Apa keadaan aman?" ucap seseorang tak jauh dari ku.


Namun dengan refleks aku bersembunyi dibelakang Sweet Alyssum yang tumbuh rimbun ini seakan takut ketahuan.


Tapi bukan kah aku datang ke jalan ini untuk minta ditunjukan jalan menuju tempat ku dan Wasa tadi? Kenapa aku malah bersembunyi.


Aku mencoba keluar dari balik Sweet Alyssum tapi saat langkah ke dua aku mengurungkan niat dan kembali bersembunyi, aku melihat seorang wanita berpakaian bagus dan mewah dengan banyak permata yang menghiasi tangan nya, leher juga baju nya tengah berjalan melewati ku yang bersembunyi dengan 4 orang pelayan ditambah 2 orang ksatria berpakaian lengkap di belakang nya.


Waah!! Pakaian nya sungguh sangat bagus, pasti harga nya sangat mahal apalagi permata-permata yang menghiasi tubuh nya. Berapa koin emas ya kalau dijual?


Tapi, siapa dia? Apa dia seorang  tuan putri? Atau nona bangsawan?


"Nona-nona bangsawan sekalian diharap kan berdiri untuk menyambut tuan rumah sekaligus putri tunggal keluarga Moizs yakni nona Delila Peony Moizs." ucap seorang wanita dan semua orang tertuju ke arah wanita yang baru saja melewati ku.


Jadi wanita tadi putri di rumah ini? Berarti dia kakak nya Wasa dong! Kakak nya cantik juga yaa.


"Senang bertemu dengan kalian" tutur Delila.


"Anda tetap terlihat cantik ya Nona Delila, pasti ayah anda selalu memanjakan anda." ujar wanita berpita putih.


"Tentu saja." Jawab Delila.


Maksud wanita itu Wasa kan? Bisa-bisa nya dia bertanya seperti itu!.


"Apa anda menyukai adik saya, Nona Chalya? Saya bisa menyampaikan nya pada ayah dan mempertemukan nya dengan anda." Jawab Delila.


Entah mengapa aku merasa jawaban Delila terdengar seperti sindirian halus.


"Anda jangan salah paham dulu Nona Delila, tentu saja saya tidak menyukai adik anda jadi anda tidak perlu repot-repot." ucap wanita itu lagi.


"Oh ya? Tapi kita juga tidak tahu ya sekarang bilang tidak tapi besok nya bisa jadi iya, ya kan para nona-nona hahaha." Tawa Delila.


"Mungkin saja Nona Delila." Ujar serentak 3 orang nona-nona yang sedang berkumpul itu kecuali Chalya.


Aku bisa merasakan hawa yang sangat tidak nyaman di antara pertemuan mereka. Atau apa memang seperti ini pertemuan antar nona-nona bangsawan?


"Anda jangan khawatir, banyak tuan-tuan tampan yang begitu ingin bersama saya. Tapi sayang sekali saya hanya setia pada satu orang saja dan tentu nya itu bukan adik anda." Jawab Chalya seraya meminum dengan elegan teh yang telah tersedia.


Aku bisa melihat dari sini mimik wajah Delila yang terlihat sekilas sedang menahan marah walau beberapa detik kemudian kembali seperti di awal. Ku rasa dia tersinggung dengan ucapan Chalya barusan.


"Hahahaha anda lucu sekali ya, Nona Chalya." Tawa Delila yang dipendengaran ku terdengar palsu.


"Ngomong-ngomong kata nya ada berita yang tersebar mengenai harta karun Ortpe, apa nona-noa disini tahu?" Tutur seorang wanita berbaju hijau daun.


"Aah saya pernah mendengar nya, kata nya harta karun itu susah dicari." seru wanita bertopi Floppy.


"Bagaimana menurut Nona Delila, kami disini ingin mendengar nya." Tutur wanita berbaju hijau daun itu lagi.


"Saya malah tak percaya harta karun itu ada." Ujar santai Delila.


"Kenapa begitu Nona Delila?" Tanya wanita bertopi Floppy.


"Karna Ortpe sudah lenyap dari bumi ini dan lagian kalau harta karun itu ada sudah pasti akan ditemukan pihak istana lalu di sita sebagai pemasukan istana." Jawab Delila.


"Bukankah Pangeran Mahkota yang sekarang adalah keturunan keluarga Ortpe? Mengapa dia tidak dilenyap kan juga? Apakah kalian penasaran? " lanjut Delila dengan senyuman yang samar.


Namun Chalya yang hanya menyimak obrolan diantara nona-nona dihadapan nya mendadak berdiri dengan sorotan mata yang super tajam mengarah pada Delila yang begitu santai meminum teh nya.


"Anda jangan keterlaluan, Nona Delila. Bukan kah orang-orang yang membicarakan keluarga Ortpe akan dijatuhi hukuman? Mau saya adui anda ke pihak istana? Saya akan senang hati melakukan nya." Ucap tegas Chalya.


"Hohoho tenang dulu Nona Chalya, mengapa anda terlalu terbawa perasaan sekali hari ini? Bukan begitu nona-nona?" Ujar Delila.


"Iya Nona Chalya, sebaik nya anda duduk dulu." Tutur wanita berpita putih.


"Benar apa yang dikatakan Nona Delila dan Nona Irish, belum tentu yang disampaikan Nona Delila adalah hal yang buruk. Kami juga ingin mendengar penjelasan lebih lanjut." Sahut wanita berbaju hijau.


Dan dengan terpaksa Chalya duduk kembali, wajah tak suka nya terlihat jelas.


Apakah diantara mereka ada permusuhan? Sindir menyindir yang mereka pertunjukan berdua membuat ku ragu kalau mereka berteman. Bukankah perkumpulan seperti ini berlaku untuk yang sudah akrab?


Aku juga sebenarnya tidak ingin menguping pembicaraan diantara mereka tapi saat mereka mulai membahas harta karun Ortpe membuat ku bersembunyi sebentar lagi untuk mendengarkan informasi lebih lanjut.


"Jadi kenapa pangeran mahkota sekarang tidak dilenyapkan, Nona Delila?" Seru wanita bertopi Floppy.


"Ternyata, masih mau mendengarkan yaa." Ujar Delila dengan melirik ke arah Chalya.


"Kenapa yaa hmm... Itu karna dia tidak termasuk dalam anggota yang bersekongkol untuk memberontak. Tapi tidak ada yang tahu apa dia memendam rasa benci pada pihak ayah nya atau rasa bersalah pada pihak ibu nya." lanjut Delila.


"Bagaimana anda bisa tahu?" Tanya Irish.


"Saya dapat informasi khusus, bukan begitu Nona Chalya?" Tutur Delila sambil tersenyum.


Tapi Chalya membuang muka dan lebih memilih memanggil ksatria nya dibanding menjawab yang dikatakan Delila.


"Waah, pantesan anda tau banyak informasi ya. Berarti harta karun Ortpe itu hanya omong kosong kan, Nona Delila." Timpal wanita berbaju hijau daun.


"Benar sekali, Nona Soya." ucap Delila.


"Baik Nona." Sahut seorang ksatria pada Chalya lalu pergi ke arah yang diminta Chalya.


"Mau kemana ksatria anda, Nona Chalya?." Tanya wanita bertopi Floppy.


"Sedang mengambil hadiah untuk kalian." Jawab Chalya.


"Anda baik sekali ya, Nona Chalya" timpal Delila dengan senyum samar nya.


"Tentu saja." lanjut Chalya sembari meminum teh nya.


Jadi, harta karun Ortpe itu memang tidak ada ya? Tapi kenapa hari itu di pasar informasi sangat banyak orang yang membicarakan harta karun Ortpe bahkan Ada pihak mengadakan kompetisi. Apa hal itu hanya omong kosong belaka? Aku merasa begitu ragu dengan informasi yang dikatakan kakak nya Wasa, Delila.


Ku rasa mereka akan menyudahi pertemuan diantara mereka, setahu ku jika sudah bertukar hadiah acara apa pun itu akan selesai setelah bertukar hadiah. Lagi pula aku sudah cukup lama bersembunyi disini, aku tak ingin membuat Wasa menunggu ku lebih lama lagi.


Dengan hati-hati aku keluar dari rimbun nya Sweet Alyssum namun saat aku telah berhasil keluar dan berjalan lebih cepat agar tidak ketahuan, seseorang meneriaki ku dari arah belakang.


"Berhenti!!" teriak nya.


Aku lebih memilih berlari dibanding berhenti, aku tak boleh sampai tertangkap atau semua nya akan menjadi rumit.


Tapi secepat apa pun aku berlari orang yang meneriaki ku tadi tiba-tiba saja sudah berada di hadapan ku mengacu kan pedang nya. Sedikit saja aku berlari maka dada ku akan tertusuk pedang milik nya.


"Siapa kau!" Teriak nya.


Aku tak menjawab nya, tubuh ku mendadak menjadi kaku dan lidah ku kelu karna pedang nya berada di hadapan ku sedangkan aku tidak memiliki senjata untuk melindungi diri.


"Ku tanya kau sekali lagi atau ku tebas!" Lanjut nya lagi.


Tebas? Orang ini akan membunuh ku? Aah tidak-tidak!!


"Satu." Hitung nya.


Namun aku tetap tidak menjawab.


"Dua." Lanjut nya.


Oh tidak! Wasa, tolong aku.


"Tiga!." Dan dia mengayunkan pedang nya ke arah ku.


Detak jantung ku yang perlahan berdetak lebih cepat, nafas yang tidak beraturan dan mata yang tertutup rapat-rapat. Habis lah aku, dia akan membunuh ku saat ini juga.


Tapi setelah beberapa menit, aku bahkan tak merasakan sakit di tubuh ku. Hanya mendengar suara gesekan sesuatu, karna penasaran apa yang terjadi perlahan aku mencoba mengintip dan mata ku sepenuh nya terbuka saat melihat seseorang yang ku kenal membentengi ku dari depan.


"Wasa..." Lirih ku.


"Mundur Beryl, aku akan melindungi mu." Ujar nya.


Aku mengikuti perintah nya lalu mencari tempat yang aman untuk berlindung sedangkan Wasa menghadang pedang milik orang tadi dengan pedang nya dan perkelahian pun tak bisa di elakan.


Aku merasa takut, sangat takut. Memang aku selamat dari pedang orang itu tapi bagaimana dengan Wasa? Tak ada jaminan jika dia tidak terluka dan itu karna melindungi ku. Perlahan rasa takut ku berubah menjadi sebuah tangisan kekhawatiran.


"Avell, berhenti!" Tutur Chalya dan perkelahian itu berhenti.


"Iya, Nona." Jawab lelaki yang bernama Avell itu.


"Tidak saya sangka akan bertemu tuan muda dalam kondisi seperti ini yaa." Ujar nya pada Wasa.


"Anda siapa?" Tanya Wasa tanpa basa-basi.


"Ya Tuhan!! Anda tidak tahu saya?" Akting kaget Chalya.


"Cepat jawab!." Ujar tegas Wasa seraya mengarahkan pedang nya ke tubuh Chalya. Tapi pedang Wasa dihalau oleh lelaki yang bernama Avell tadi.


"Turunkan pedang mu, aku hanya ingin berbicara pada nya." Tutur tegas nya pada Avell.


"Maafkan saya nona." Jawab Avell dengan wajah sedih yang terlihat samar.


Aku memang tak tahu bagaimana interaksi antara nona bangsawan dengan ksatria nya tapi pada saat melihat Avell yang memasang wajah sedih karna ucapan Chalya barusan membuat ku bertanya-tanya.


"Anda tak perlu buang-buang tenaga seperti ini tuan muda, bukankah anda akan merugi jika melukai saya? Jadi turunkan pedang anda, itu pun jika anda memikirkan martabat keluarga anda." Ucap santai Chalya.


Dan Wasa menuruni pedang nya dari hadapan Chalya.


"Tidak perlu basa-basi, saya hanya mengatakan sekali. Bahwa ksatria anda hampir saja membunuh nyawa yang tak bersalah!." Tutur Wasa tegas.


"Nyawa? Tak bersalah? Siapa yang anda maksud tuan muda?" Tanya Chalya.


"Tanyakan sendiri pada ksatria anda yang sangat lancang itu." Lanjut Wasa melirik tajam pada ksatria Chalya.


"Avell" Panggil Chalya.


"Nona, ada penyusup yang berkeliaran disekitar sini saat saya tanya dia tidak menjawab karna demi melindungi privasi nona saya berniat untuk memberi nya sedikit hukuman." Jawab Avell.


Sedikit hukuman? Dia bilang tebas menebas itu sedikit hukuman? Orang gila!!


"Aah begitu, apa wanita yang disana itu penyusup nya?" Tunjuk Chalya ke arah ku.


"Benar nona." Lanjut Avell.


"Kurang ajar!" Teriak Wasa dan hendak mengarahkan kembali pedang nya pada ksatria Chalya. Tapi niat nya diurungkan nya kembali saat Delila datang.


"Ada apa ini? Wasa, sedang apa kamu disini?." tanya Delila kebingungan.


"Ksatria anda berbohong, wanita itu bukanlah penyusup dia adalah tamu saya jadi kalian tidak berhak bersikap lancang apalagi ini dikediaman saya. Saya peringat kan lagi, jangan bersikap lancang!" Ucap Wasa tegas dengan lirikan tajam pada Chalya, Ksatria nya dan juga Delila.


Setelah mengatakan itu, Wasa menghampiri ku yang telah berhenti menangis lalu mengenggam tangan ku untuk pergi dari situasi tak menyenangkan ini.


Sebelum aku dan Wasa benar-benar pergi meninggalkan tempat itu, ucapan Chalya yang masih terdengar membuat ku kesal tak terima.


"Ternyata adik anda bukan hanya tuan muda yang jarang pulang kerumah tapi juga tuan muda yang bersikap buruk dan tidak beretika ya, Nona Delila." Ucap Chalya sinis.