Aksaberyl

Aksaberyl
Ksatria Pedang Kilat



..."Aku tidak pernah percaya pada orang lain karna mereka sering menyiksa ku lantas dengan mu haruskah aku mempercayai mu?"...


...~Aksa Oliga De Ramor~...


.......


.......


.......


.......


.......


Aku mendengar sesuatu, semakin lama semakin jelas suara itu. Aah ... ternyata suara nyanyian Burung Common Nightingale yang beradu nyanyian dengan Burung Canary.


Apakah ini malam hari atau pagi hari? aku tak bisa membuka mata ku untuk melihat situasi sekarang, seperti ada lem yang melengket dimata ku. Aku juga mencoba untuk duduk dari posisi ku saat ini yang tengah berbaring tapi rasanya tubuh ku begitu lemas.


"Hhuuhh ... hhaaahh ..."


Aku mencoba untuk diam sebentar lalu mengatur pernapasan dan mencoba untuk bangun kembali tapi tidak bisa. Aku yang sibuk berpikiran ada apa dengan diriku pun baru menyadari ada sesuatu yang terasa cukup dingin di belakang punggung ku. Aku merabanya dan menyakini kalau itu adalah rumput basah, ya aku baru menyadari kalau sekarang aku tengah berbaring dirumput yang basah, pantesan saja rasa nya dingin.


Aku mencoba sekali lagi untuk bangun dan usaha ku berhasil, mata ku yang tadi melekat sekarang bisa dibuka. Aku memandang ke kanan dan kiri mencoba melihat di mana aku sekarang, tepat saat aku membuka mata banyak pohon yang rimbun menyapa indera penglihatan ku lalu disusul dengan aroma-aroma daun, rumput juga angin dingin.


Selain rumput yang basah aku juga diterpa suhu yang dingin disini tapi, "Mengapa aku bisa berada disini dengan kondisi hutan yang gelap?"


Aku mencoba mengingat apa yang terjadi pada diriku, bukankah aku tadi tengah berada di atas menara tempat wisata Istana de Ramor lalu kepala ku pusing dan aku mual, kemudian ...


"Bukankah aku berguling jatuh kebawah?! seharusnya aku berada dirumah sakit namun mengapa aku sekarang berada ditengah hutan yang gelap ini?!"


Sekarang perasaanku sangat tak enak, seperti ada sesuatu yang menganjal. Aku berpikir lagi lalu memutuskan untuk berlari, bagaimana bila di hutan ini ada hewan buas lalu aku dimakan? kan aku masih ingin hidup.


Jadi, tanpa berpikir dua kali aku langsung berlari cepat tapi beberapa kali aku terjatuh karna tersandung akar pohon yang kebanyakan mencuat keluar tanah.


Tepat saat aku berhasil keluar dari hutan dan berhenti berlari, rasa sakit tadi mendadak menyerbu ku tanpa ampun.


"Hhhaaahh ... hhaahh ... capek banget!!" Aku pun memeggang dada ku, merasakan seberapa cepatnya jantung ku berdetak.


"Aahh ... kaki ku sakit !!"


Banyak darah yang keluar dari sela-sela luka di kaki ku, sekarang terasa sangat sakit dan ngilu. Aku menangis kesakitan juga sekaligus merasa lega karna aku pikir aku sudah keluar dari hutan itu.


"Aku haus sekali ..." lirih ku.


Tapi kaki ku tidak bisa diajak berkompromi ditambah lagi rasa sakit yang tak mau pergi. Aku tidak ada tenaga lagi, tubuh ku rasanya remuk semua dan perlahan pandangan ku memudar lagi.


Dalam keadaan gelap aku berjalan gontai, walau bulan memang muncul tapi tidak bisa menerangi jalanan. Aku menatap bulan yang tinggi itu, cukup lama aku menatapnya hingga suara langkah kaki seseorang membuat ku membalikan badan.


"Nenek!!" seru ku pada seorang wanita paruh baya yang ku sebut nenek itu.


Aku berjalan mendekati nenek dan hampir memeluknya tapi nenek menghindar dan membuat ku bingung karna nenek tidak seperti biasanya.


"Nek, kenapa menghindar? akukan ingin memeluk nenek," tutur ku sedih.


"Nak, mengapa kamu kembali lagi? bukankah hidup mu sudah senang disana? disini berbahaya nak ... banyak orang yang mengincar mu," ucap nenek dengan memandang ku sedih.


Tapi setelahnya nenek pun menghilang seperti yang lalu dan aku terbangun lagi, ternyata itu hanya mimpi. Tak berapa lama sebuah perasaan aneh menyergap ku, lagi dan lagi hal ini terjadi setelah bertemu dengan nenenk dimimpi.


Pemandangan yang ku lihat tadi berbeda dengan yang sekarang, matahari mulai bersinar dan burung-burung maupun ayam saling bersahutan untuk membangunkan orang-orang.


Aku yang tengah terluka memaksakan diri untuk berjalan walau hanya terbata-bata dengan rasa sakit yang belum berhenti, pokoknya aku harus bertemu orang untuk membantu ku.


Aku memang tak tahu arah hanya saja aku berjalan sesuai perkiraan ku.


Diperjalanan aku menemukan sebuah ranting pohon yang cukup besar dan kuat, aku mengambilnya untuk memudahkan ku berjalan. Ya, setidaknya dengan ini bisa membuat ku mengurangi rasa sakit kaki ku.


Aku berjalan terus hingga bertemu padang rumput ilalang yang luas, bahkan luasnya mungkin sama dengan lapangan sepak bola nasional.


"Tunggu ... lapangan sepak bola nasional? apa itu? mengapa aku bisa terpikirkan itu?"


Rasamya ada yang aneh dengan diriku, sesuatu muncul secara tiba-tiba dipikiran ku lalu dalam sekejap aku tidak tau apa itu. Aku mencoba untuk mengingat lebih keras namun yang ku dapat hanya sakit kepala yang mulai menyerang.


Saat aku sibuk sendiri ada suara tapak kaki kuda yang sedang berlari kearah ku lalu berhenti tepat dihadapan ku dan membuat ku kaget.


Terlihat seorang pria berpakaian rapi berwarna hitam dan sebuah pedang di samping pinggangnya tengah menatap ku, dia tampan. Rambutnya berwarna hitam legam yang terlihat basah juga ada beberapa bulir keringat menghiasi wajahnya. Alisnya yang tebal, garis wajahnya yang tegas dan tatapan matanya yang ramah membuat dada ku berdegup.


Deg!!


"Tampan."


Sebuah ucapan spontan keluar dari mulut ku.


"Tampan? tumben sekali kamu memuji ku Nona hutan," tuturnya dengan menertawakan ku.


Aku cukup kaget, apa dia barusan memanggil ku Nona hutan?


"Kenapa memanggil ku seperti itu? aku punya nama dan nama ku—"


"Beryl!" jawabnya.


"Ke ... kenapa kamu bisa tau?"


"Ya an memang nama mu Beryl, kamu pikir aku tidak tahu apa. Lagian ya Nona hutan ... kemana saja kamu selama seminggu? apa sudah ketemu tanaman obat nya?" tanyanya yang semakin membuat ku bingung.


Apa maksudnya? tanaman obat apa? mengapa dia membicarakan hal yang tak aku mengerti?


Aku memikirkan ucapannya barusan sedangkan dia hanya menatap ku heran hingga suara de-sa-ha-n nafasnya pun menyapa indera pendengaran ku. Aku mengangkat kepala ku untuk melihatnya dan tatapan mata kami bertemu tapi sesuatu bereaksi pada diri ku, sebuah ingatan yang datang tiba-tiba.


"Aku tidak tahu ... tapi Wasa aku tidak suka kamu memanggil ku Nona hutan lagi," tutur ku tiba-tiba.


Aku kaget, tanpa ku sadari mulut ku mengucapkan nama seseorang. Sejujurnya aku sama sekali tidak mengenal orang yang ada dihadapan ku ini, tapi mengapa bisa namanya ku sebut begitu saja? padahal aku dan dia tidak berkenalan sejak tadi.


"Sudahlah ... ayo naik, pegang tangan ku, ayo!" ucapnya, tangannya terjulur dihadapan ku dan membuat ku tak bisa menolak.


Aku ditarik olehnya untuk menaiki kuda dengan enteng, hal itu membuat ku kaget sekaligus membuat rasa sakit ku muncul lagi. Aku refleks mencubit lengannya tapi dia hanya tertawa tanpa dosa.


"Mengapa ditubuh mu ada darah?" tanyanya.


Kuda yang dikendarainya melaju dengan cepat, angin memberantakan rambut ku dan membuat ku merasa takut.


Gila! lelaki ini apa tidak memperdulikan aku yang sedang terluka?


"Berhenti!!! aku takut"


Tapi dia tidak berhenti, dia malah makin mempercepat laju kudanya. Lelaki ini tidak mendengarkan ku, aku yang merasakan ketakukan mencoba untuk menenangkan diri. Menghitung satu dua tiga dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya namun tidak berhasil.


"Pegang yang erat, kita akan melompat!!" seru nya lantang dan membuat jantung ku tambah berdegup.


Apa? melompat? lompat kemana? ke jurang? Gak, aku takut!


Aku memejamkan mata dan memegang tali kemudi dengan kuat, aku merasa akan melayang jika tidak memegang itu namun kemudian rasa sentak dari kuda membuat ku makin kuat memejamkan mata.


Aku tidak menjawab walaupun aku mendengar perkataannya karna sekarang rasa takut ku lebih besar dari pada rasa ingin menjawab pertanyaannya.


"Kita sudah sampai Beryl ... kamu udah bisa buka mata dan turun." Dia memegang kedua bahu ku dengan lembut, aku dapat merasakan sentuhan hangat dari kedua tangannya.


"Aku tak percaya, tangan ku masih gemeteran gara-gara kamu!"


Aku kesal pada nya, dia hanya menghela nafasnya dan seperti tadi tanpa ku minta dia tiba-tiba menurunkan ku.


"Aaahh ... lepaskan aku!!" teriak ku padanya.


Eehh sebentar ... aku berdiri? berarti sudah di atas tanah?


"Buka matamu atau ku gendong sampai kedalam rumah?" ucapnya dengan nada menggoda.


Dengan cepat aku membuka mata dan menjauh darinya, gerakan tiba-tiba yang ku buat membuatnya heran dengan diri ku. Aku mencoba untuk mengalihkan pandangan ku kearah yang lain, walau tidak melihatnya langsung tapi aku bisa merasakan tatapan matanya tertuju pad ku dan itu membuat ku risih.


"Hhhaaahhh ...."


Lagi-lagi dia menghela nafasnya, entah mengapa dia terus melakukan itu membuat ku seakan-akan bersalah tapi tanpa ku sadari dia berjalan mendekat kearah ku, semakin dia mendekat semakin cepat aku menjauh darinya, aku tidak mengenal orang ini dan aku perlu waspada.


"Berhenti!!" pintanya.


"Aku takkan menyakiti mu, Beryl ... aku tak tahu apa yang terjadi padamu selama seminggu diluar, tapi bisakah kamu masuk kedalam? kamu harus beristirahatkan juga membersihkan diri," lanjutnya.


Suaranya berubah, tidak seperti diawal bertemu tadi.


Kini suaranya menjadi lebih lembut, aku merasakan kekhawatiran dari ucapannya dengan refleks aku mengiyakan lalu masuk ke dalam sebuah rumah tua yang beratapkan jerami.


Aku berjalan gontai dihadapannya tapi menolak bantuan darinya, aku hanya tidak ingin menyusahkan orang lain apa lagi orang ini baru saja bertemu dengan ku.


Aku mengedarkan pandangan ke setiap sisi rumah ini, tidak ada barang-barang yang spesial. Hanya ada satu kursi tua, satu meja kecil, satu tempat tidur yang hanya muat untuk satu orang juga beberapa alat makan yang sudah usang.


Siapa pemilik rumah ini? apakah lelaki yang membawa ku kesini?


Lelaki yang mengikuti ku masuk dari belakang itu duduk di kursi tua yang berada didekat jendela. Dia menatap ku dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa satu pun terlewatkan selama beberapa saat lalu dia beranjak dari duduknya dan menghampiri ku yang tengah melihat-lihat.


Sebuah tepukan dipundak ku membuat ku terkejut, "Apa lagi yang kamu tunggu? ayo bersih-bersih sana."


"Aku tidak tahu kearah mana untuk membersihkan tubuh," tutur ku tak tahu padanya.


Dia menatap ku dengan heran, seakan-akan dari tatapan mengatakan ada apa dengan ku.


"Itu ada pintu masuk, kamu akan temui tempat mandi," tunjuknya kearah belakang meja makan.


Aahh ... pintu itu? ku pikir hanya pintu belakang rumah.


"Baiklah," ucap ku mengerti.


Aku berjalan gontai kearah yang ditunjukannya, kaki ku masih sakit tapi untungnya darah yang keluar sudah mengering hanya tinggal dibersihkan saja. Tapi sebelum ke tempat mandi aku berhenti dan refleks mengambil baju disalah satu kotak di samping pintu tempat mandi.


Sebelum masuk ke tempat mandi aku berdiam diri sebentar di depan kotak yang isinya baju, lagi-lagi ingatan tiba-tiba dan refleks yang tidak ku sadari membuat ku kaget.


Jelas-jelas ini bukan kebetulan, sebenarnya apa yang terjadi pada diriku?


Aku menyelesaikan mandi ku dengan cepat lalu memakai baju yang ku ambil tadi, baju ini adalah dress panjang dengan lengan panjang yang sudah usang, bisa dilihat dari warna kuningnya yang mulai luntur. Dress ini tidak ada motif tanpa tambahan tali di pinggangnya, jadi saat aku memakainya terkesan tidak terlihat pinggang ku.


Aku keluar dari tempat mandi dengan rambut basah yang tergerai, aku keluar hanya untuk mencari semacam kain untuk mengeringkan rambut ku yang basah tanpa ada pikiran untuk menghampiri lelaki yang tengah menatap ku kini. Saat sedang mencari kain itu, lelaki yang tadi duduk di kursi tua itu menghampiri ku dengan kain ditangan kanannya.


"Ini yang kamu carikan? nih," tuturnya di hadapan ku.


Aku mengangkat kepala untuk melihatnya lalu mengambil kain di tangannya. "Terima kasih"


Tapi dia tertawa, aku menatapnya heran.


"Kenapa tertawa? kan tidak ada yang lucu," ucapku.


"Ada, tumben sekali hari ini kamu aneh," jawabnya santai.


"Ayo sini!" pintanya lalu menarik lengan ku.


Aku mengikutinya dan duduk di kursi tua yang di dudukinya tadi, angin sepoi-sepoi dari luar masuk kedalam rumah ini. Aku mengeringkan rambut yang basah ini dengan kain yang diberikannya tadi tapi aku tidak melihatnya saat ini, pandangan ku hanya tertuju pada luar jendela.


"Beryl ..." lirihnya lembut, membuat ku berbalik menatap lelaki yang berdiri di hadapanku.


"Pertanyaan ku belum kamu jawab, kemana saja kamu seminggu ini? apa tanaman obatnya sudah didapat? kenapa tubuh mu berlumuran darah?" tanyanya tanpa berhenti, tatapan matanya yang terlihat khawatir membuat jantung ku berdetak keras.


Fokus Beryl, fokus!


"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud, seminggu? tanaman obat? aku tak mengerti ... tapi kalau untuk pertanyaan kenapa aku berlumuran darah itu karna aku terjatuh beberapa kali di hutan. Aku pikir disana ada hewan buas jadi sebelum ditemukan hewan buas lebih baik aku berlari keluar hutan tapi ternyata tak semudah yang ku pikirkan," jawab ku jujur.


"Kamu kenapa? bukankah kamu bilang seminggu yang lalu kalau kamu mau pergi untuk mencari tanaman obat? kok sekarang tak tahu?"


Apa aku harus berkata jujur pada nya? tapi bagaimana kalau dia terkejut dan menggangap ku gila?


"Kamu kan ke Hutan Arieta, mana ada hewan buas disana. Bukannya hanya ada tanaman obat langka disana? apa kamu tidak ingat dengan yang kamu ucapkan dulu pada ku kalau di hutan itu banyak tanaman obat langka?" ucapnya lagi.


"Tidak ada hewan buas? jadi, aku yang berlari ketakutan itu hanya sia-sia?" tanya ku, dia hanya mengangguk dan itu membuat ku merasa seperti orang bodoh.


Duh ... aku malu sekali, rasa nya aku ingin bersembunyi dari lelaki ini.


"Aku tidak tahu bila seperti itu, tapi sungguh aku tidak mengingatnya," ucap ku dengan malu.


Aku hanya menunduk untuk menyembunyikan wajah malu ku tapi sebuah tangan menggenggam tangan ku, "Apa kamu juga tidak mengingat aku?"


Aku menggeleng tanda tak ingat dengannya.


"Ta ... tapi bisakah kamu memberitahu ku ulang siapa dirimu? aku ingin mencoba mengingat kembali," ujar ku padanya, kali ini aku memang ingin mengenalnya dan berharap sesuatu dapat ku temukan setelahnya.


"Tatap wajah ku," pintanya.


Aku mengangkat wajah ku dan menatap matanya, degup jantung ku kembali lagi.


"Aku Wasa Noren Moizs, seorang lelaki yang berteman denganmu sejak kamu umur 10 tahun dan aku adalah satu-satunya teman mu," ucapnya dengan percaya diri.


"Kamu biasanya memanggil ku Wasa, walau pun begitu aku lebih tua 3 tahun dari mu tapi kamu bebal." Dia mengatakannya dengan tertawa, tawa yang membuat ku ikutan tersenyum walau sebentar.


"Aku melihat mu diawal berpakaian rapi dan membawa pedang di pinggang, apa pekerjaan mu? ku rasa pekerjaan mu itu tinggi ya?" tanya ku.


"Iya kamu benar, aku seorang Ksatria Istana dan pedang ini adalah pemberian Yang Mulia Raja untuk ku, aku terkenal loh dikalangan bangsawan maupun rakyat," tuturnya menyombongkan diri, lihatlah gaya lelaki ini rasanya ingin sekali ku cubit pinggangnya.


"Oh yaa? masa iya kamu terkenal, emang kamu terkenal sebagai apa sih?" tanya ku tak percaya padanya.


"Aku dikenal sebagai Ksatria Pedang Kilat, Ksatria Tangan Emas dan Pembantai Misterius Perang tapi aku lebih dikenal sebagai Ksatria Pedang Kilat, karna aku sangat cepat mengalahkan musuh," jawabnya.


Dia menatap ku dengan senyumnya seakan-akan dia bangga memberitahukan tentang julukannya, lelaki di hadapan ku ini terkenal akan bahayanya dan itu sesuatu yang patut dibanggakan oleh orang-orang yang dia lindungi tapi mengapa mendengarnya membuat ku merasa tak nyaman.


Adakah hal ini berkaitan dengan dirinya?