
..."Di dunia ini yang kuat akan bertahan sedangkan yang lemah akan ditindas. Satu-satu nya cara untuk menjadi kuat ala orang lemah yaitu memegang kartu kelemahan orang kuat, begitulah aku memperalat mereka."...
...~ Damon Adikia Moizs ~...
.......
.......
.......
.......
.......
Pagi bertemu pagi, siang bertemu siang dan malam bertemu malam lagi. Sudah 5 hari aku menghabiskan hari hanya didalam rumah tua ini, ku pikir cukup 3 hari aku sakit lalu besok nya sembuh tapi ternyata setelah pingsan saat itu sakit ku masih berlanjut.
Hari ini tubuh ku sudah enakan, Wasa begitu cekatan merawat ku. Syukurlah aku punya seseorang yang dapat merawat ku saat sakit.
Tapi aku merasa tak enak pada nya, bagaimana bisa saat aku membuka mata Wasa yang selalu ku lihat disini. Bukankah dia punya pekerjaan? Dia kan Ksatria Pangeran Mahkota.
Aku memperhatikan nya yang sedang memasak makanan, dilihat dari gerakan nya dia kerepotan sekali. Tentu saja dia kerepotan, keluarga nya pasti punya pelayan untuk mengurus rumah. Lagian dia laki-laki yang terbiasa pada pedang dibanding alat dapur.
"Wasa, biar aku saja yang masak." tawar ku berjalan mendekati nya.
"Tidak-tidak, kamu duduk saja. Orang sakit gak boleh kecapean." tutur nya melarang ku.
"Tapi kamu kerepotan tu" tunjuk ku pada masakan yang dibuat nya.
"Aku gak kerepotan, lagian bentar lagi makanan nya matang. Kamu tunggu aja ya.." pintah nya mengantar ku ke meja makan.
Wasa kembali memasak makanan yang dibuat nya sesekali dia mencicipi masakan yang dibuat nya dan beberapa kali juga wajah nya mengerinyit, pasti rasa nya tidak sesuai.
Aku menertawakan reaksi wajah nya, lucu sekali wajah nya seperti itu dan lebih lucu bila dia memakai celemek bergambar Teddy Bear.
"Aku keren ya sampai kamu tertawa begitu" ucap nya percaya diri.
"Gak tu wlee" ejek tu pada nya.
"Aku tahu kamu malu-malu untuk mengakui nya" tutur nya lagi.
Lelaki ini memang percaya diri sekali bahkan saat pertama kali aku bertemu dengan nya.
Dia memang keren, aku mengakui nya tapi tidak mengatakan pada nya. Apalagi kalau dia memakai pakaian ksatria dengan pedang di pinggang nya dan gaya rambut medium undercut nya aah jangan lupakan senyum manis milik nya yang pasti membuat gadis-gadis yang melihat nya akan jatuh cinta.
Laki-laki seperti Wasa ini pasti sudah punya kekasih, ku yakin begitu. Tapi kalau yang ku pikirkan benar mengapa dia tidak membawa kekasih nya kemari? Atau mengenalkan nya pada ku?
"Wasa, berhentilah sebentar." ujar ku pada nya tapi dia tidak bergeming sama sekali.
"Wasa...." ujar ku lagi.
"Sebentar ya, masakan nya udh selesai." jawab nya.
Wasa meletakkan masakan yang dibuat nya di atas meja lalu duduk tepat dihapan ku, makanan yang dibuat nya masih mengepul dan aroma nya membuat perut ku lapar.
"Aku masak Sup Ikan Tuna dan minuman Ponche untuk menghangat kan tubuh mu. Aah aku juga bikin Baguette Sandwich buat nanti." tutur nya, dia mengambil piring ku dan menuangkan Sup Ikan Tuna yang dibuat nya.
"Ayo dimakan selagi hangat." lanjut nya, aku menerima piring yang diberikan nya lalu memakan nya.
Masakan nya enak.
Aku memakan makanan buatan nya dengan lahap, perut ku yang dari tadi berbunyi mendadak menjadi diam dengan sendirinya. Aku yang terlalu lahap makan tak menyadari kalau Wasa hanya menatap ku saja.
"Enak?" tanya nya.
Aku mengangguk dan melirik nya sebentar tapi netra kami bertemu, aku terkunci oleh nya. Namun aku tersadar ketika dia mulai tersenyum.
"Ke.. Kenapa tersenyum?" Aku sedikit gugup dibuat nya.
"Kamu cantik kalau sedang lahap begitu." dia menopang satu tangan nya dan menatap ku lagi.
"Sudah lah jangan tatap aku, aku gak cantik dan makanlah makanan mu." aku salah tingkah, ooh Tuhan pipi ku akan memerah kalau dia teruskan.
"Lihat kamu makan aku merasa udah kenyang." jawab nya.
Dari mana lelaki ini belajar mengombal seperti ini?
"Basi tahu, lagian mana ada kayak gitu. Makan atau aku berhenti makan nih." aku mengancam nya sedikit tapi gak sungguhan, gak mungkin aku berhenti makan makanan enak ini.
"Baiklah, selamat makan Beryl." dia mengalah pada ku dan memakan makanan yang di buat nya.
Beberapa waktu keheningan menyelimuti meja makan, aku maupun Wasa tidak berbicara saat kami makan hanya saja kami menikmati makanan ini dengan perasaan senang.
Selesai makan aku ingin membantu Wasa untuk mencuci piring tapi dia lagi-lagi menyuruh ku untuk duduk saja, tentu saja aku tak mengikuti pintah nya.
"Wasa, ada yang ingin ku tanyakan." ucap ku dibelakang nya, dia yang sedang menyuci piring berbalik menghadap ku.
"Kamu mau tanya apa?" ucap nya menatap ku.
"Kamu punya kekasih kan? Siapa orang nya?" tanya ku penasaran, pertanyaan ini tak bisa ku tunda lagi.
Aku yakin dia punya kekasih, bisa-bisa nya tak memberitahu ku. Tapi mengapa wajah nya memerah? Aah pasti dia sedang malu-malu kan.
"Ga..gak aku gk punya kekasih." tutur nya, dia yang tadi nya berhenti mencuci piring untuk mendengarkan pertanyaan ku kini memunggungi ku dan melanjutkan mencuci piring.
Aku tak percaya dengan perkataan nya, tak mungkin saja dia tak punya kekasih.
"Masa sih, kok aku gk percaya ya."
Aku tak kan meledek mu jadi beri tahu aku, Wasa. Aku kan ingin tahu.
"Beneran, aku gk punya kekasih." tegas nya.
"Kenapa kamu tak punya kekasih?" tanya ku.
"Karna aku belum menyatakan perasaan ku." lanjut nya
Dia berjalan meninggalkan ku menuju meja makan untuk meletakkan piring yang baru dicuci nya dan aku mengikuti nya dari belakang.
"Jadi kamu punya seseorang yang disukai ya? Siapa dia?" seru ku antusias.
"Iya, Beryl." jawab nya pelan, walau pun pelan aku masih bisa mendengar jawaban nya.
Waah, walau tak punya kekasih dia punya orang yang disukai nya. Begini saja aku senang mendengar nya.
"Tapi siapa? Siapa nama nya ?" pertanyaan ku yang satu ini belum dijawab nya.
"Rahasia wlee" ejek nya.
"Iiih beritahu dong, aku penasaran." rengek ku.
"Gak aah nanti kamu terkejut dan belum waktu nya juga." lanjut nya, bisa-bisa nya dia tidak memberi tahu ku.
"Ya sudah, aku juga punya orang yang ku sukai dan aku tak akan memberi tahu mu." ucap ku, aku sengaja berbicara seperti ini agar dia terpancing dan memberitahu ku.
"Siapa? Kamu suka siapa?" tanya nya, mimik wajah nya menyiratkan tak percaya pada ucapan ku barusan.
"Ada deh, kalau kamu kasih tahu aku baru aku kasih tahu kamu." sip, tawaran ku akan dimulai sekarang.
"Gak jadi deh, lagian kamu kan cuma berteman hanya dengan ku saja." tutur nya
Apa aku ketahuan? Gak boleh sampai ketahuan kalau aku hanya memancing nya.
"Ada, pokok nya ada. Jadi kita saling memberi tahu saja biar impas." seru ku, pokok nya harus berhasil.
"Wlee" tapi dia hanya menunjukkan wajah mengejek nya pada ku.
"Iiih ngeselin... Wasa ngeselin." ujar ku kesal, rencana ku gagal.
Tak berapa lama tawa nya pecah memenuhi rumah ini, aku memalingkan wajah dari nya dan melipat tangan ku didepan dada. Sekarang aku tambah kesal karna dia menertawakan ku.
"Hahaha.... Aku kelepasan tertawa." ujar nya di sela-sela tawa nya.
"Huuuh tertawa aja terus sampai puas." tutur ku.
"Iya deh." jawab ku singkat.
Ya aku gak bisa memaksa nya lagi untuk memberi tahu siapa yang disukai nya. Mungkin nanti kalau dia udah siap pasti di beri tahu nya karna itu aku memaafkan nya dan meredakan kesal ku.
"Kalau gitu ayo ganti baju kamu, aku mau tunjukin suatu tempat." pinta nya.
"Mau kemana?" tanya ku.
"Menikmati senja, ayo kita pergi sebelum matahari terbenam." lanjut nya.
Aku melihat ke arah jendela, diluar sedang cerah-cerah nya dan kemungkinan kecil akan turun hujan. Aah aku ingin keluar rumah.
"Ayo pergi." seru ku antusias, bosan juga kalau berada dirumah berhari-hari.
Aku langsung menuju tempat mandi untuk mengganti pakaian ku, aku ingin mandi tapi rasa nya akan lama jika aku mandi.
Aku memakai dress panjang yang longgar berwarna hijau muda polos tanpa ukiran lalu mengepang rambut ku gaya Shoelace Braids yang sesuai dengan rambut panjang lurus sebahu milik ku dan sepatu kulit yang telah kusam. Sekarang aku siap untuk pergi menikmati senja.
Aku menghampiri Wasa yang tengah menunggu ku di luar, dia tidak mengganti baju nya hanya menambahkan jubah yang sedang dipakai nya.
"Udah siap?" tanya nya.
"Udah." jawab ku.
Dia memberi ku jubah yang sama dengan yang dipakai nya. Aku mengambil jubah ditangan nya lalu memakai nya, setiap keluar rumah dia selalu menyuruh ku untuk memakai jubah karna amanah dari nenek ku pada nya.
"Ayo kita berangkat!" seru nya.
Perlahan kuda berlari sesuai gerakan tali kekang yang dikendalikan Wasa, kecepatan nya tidak seperti beberapa waktu lalu saat aku pergi bersama nya. Kuda nya berlari dengan kecepatan sedang dan aku dapat menikmati pemandangan yang terlihat didepan ku.
"Lain kali laju nya seperti ini dong, masa beberapa kali aku pergi bersama mu kencang mulu laju nya." ujar ku.
"Tergantung situasi nya, Beryl." jawab nya.
"Tapi aku lebih nyaman jika laju nya seperti ini." lanjut ku.
Tak ada jawaban keluar dari mulut Wasa, mungkin dia sedang berkonsentrasi mengendarai kuda. Aku mengalihkan lagi pandangan ku ke arah jalanan yang akan ditempuh, aku berusaha menghafal nya. Siapa tahu nanti berguna untuk ku, ntah lah aku merasakan suatu hari nanti akan ada hal yang besar menghampiri ku.
Perjalan untuk menempuh tempat yang dikatakan Wasa lumayan jauh dari rumah tua ku. Bahkan harus melewati suatu hutan dengan banyak pohon-pohon besar yang mengelilingi. Hingga sampai di depan sebuah gua yang tak terlalu besar. Wasa meletakkan dan mengikat kuda yang kami tunggangi tadi di sebuah pohon tak jauh dari gua itu.
"Kalau kita berjalan sebentar dari mulut gua ini kita akan menemui tempat yang aku maksud." ucap nya, aku mengangguk dan mengikuti nya dari belakang.
"Apa nama tempat yang kamu maksud?" tanya ku.
Wasa tak menjawab nya dan masih melanjutkan langkah nya hingga sampai pada sebuah cahaya yang keluar dari dinding-ding gua.
"Wah cantik sekali tempat ini!!" seru ku takjub.
Sungguh, tempat yang ku lihat ini benar-benar indah. Ada sebuah pantai yang tak berpenghuni, air nya berwarna biru terang dan ombak nya tenang. Lalu disekitaran pantai itu ada rusa-rusa liar yang tengah berjemur, beberapa pohon kelapa yang menjulang tinggi dan bukit-bukit kecil mengelilingi. Ternyata ada tempat dibalik gua ini yang sangat indah, mata ku berbinar melihat pemandangan yang seperti lukisan ini dari atas gua.
"Kamu tahu dari mana tempat seperti ini? Indah banget!!" seru ku pada Wasa.
"Aku tahu begitu saja, saat perang beberapa tahun yang lalu aku tak sengaja bersembunyi di gua ini karna saat itu aku terluka. Kamu tahu hutan yang kita lewati tadi? Itu Hutan Ace, hutan yang menjadi tempat perang dengan Kerajaan Iradel namun perang saat itu dimenangkan sama kerajaan kita. Sekarang kita berada di sisi utara Hutan Ace sedangkan peperangan nya berada di sisi selatan. Dan begitu lah aku menemukan tempat ini, kamu suka?" tanya nya.
"Iya aku suka!" jawab ku antusias.
Aku berbinar-binar melihat pemandangan didepan ku sedangkan dia berbinar-binar melihat ku senang.
"Cantik sekali" tutur nya.
Aku melihat ke arah nya dan mengiyakan perkataan nya, aku berpikir yang dikatakan nya cantik adalah pemandangan dihadapan kami ini.
"Kamu mau Baguette Sandwich? Aku bawa nih biar kamu gak lapar." dia menyerahkan makanan yang dibuat nya tadi pada ku.
"Terima kasih" ujar ku.
Aku asik memakan Baguette Sandwich yang dibuatkan nya sambil melihat pemandangan yang memanjakan mata tanpa menyadari Wasa pergi meninggalkan ku. Sebuah benda yang sedang bergelinding berhenti tepat disamping ku, aku mengambil nya.
Benda ini berbentuk bulat seperti uang koin tapi mungkin 4 kali lipat dari uang koin. Diatas permukaan benda ini terdapat gambar Burung Common Loon dengan Cemeti yang melingkar dileher nya lalu terdapat sebuah tulisan diantara kedua kaki burung Common Loon, Moizs.
Moizs? Seperti nya aku pernah mendengar nama itu, tapi dimana?
Tiba-tiba suatu ingatan muncul di kepala ku, hanya bayangan sekilas. Ada wajah seorang pria yang tengah membawa cemeti berdarah di leher nya lalu dia melirik ke arah ku.
Siapa pria itu?
Seketika ingatan yang muncul itu buyar saat Wasa memberi ku tempat minum yang terbuat dari tanah liat.
"Nih biar gak tersedak." tutur nya.
Aku menerima minuman yang diberikan nya dengan setengah melamun, aku masih memikirkan yang barusan teringat oleh pikiran ku.
"Beryl..." tutur Wasa disamping ku.
"Yang ditangan mu itu apa?" lanjut nya.
Aku membuka genggaman tangan ku lalu memperlihatkan nya pada Wasa.
"Eeh ini punya ku, kok ada di kamu?" tanya nya.
"Punya kamu?" aku melihat simbol itu sekali lagi, moizs? Bukankah itu juga nama belakang Wasa?
"Kamu tahu ini apa?" aku penasaran ini simbol apa.
"Itu simbol keluarga ku, Moizs." jawab nya.
Apa pria yang muncul di ingatan ku itu ada hubungan nya dengan simbol ini? Apalagi postur tubuh pria dan Burung Common Loon dengan cemeti di leher nya juga sama.
Perasaan ku menjadi tak enak.
"Wasa, bisakah kamu ceritakan pada ku tentang keluarga mu?" tanya ku hati-hati.
"Hmm dari mana mulai nya ya..." ujar nya bingung.
"Aku anak ke-tiga dari tiga bersaudara di keluarga ku, aku punya dua orang kakak perempuan tapi kakak perempuan pertama ku meninggal karna sakit dan ibu ku telah meninggal beberapa hari setelah aku lahir. Keluarga ku merupakan Bangsawan Tingkat 1 setelah melalui proses yang panjang dan ayah salah satu orang kepercayaan Baginda Raja yang sekarang." ujar nya.
"Kakak pertama dan ibu ku adalah orang yang berhati lembut juga penyayang sedangkan kakak kedua ku sama dengan ayah ku, mereka sama-sama tegas tanpa belas kasihan tapi walaupun begitu mereka tetap keluarga ku." lanjutnya.
"Bagaimana hubungan mu dengan ayah dan kakak kedua mu?" tanya ku.
"Seperti pada umum nya para bangsawan sih tapi mungkin sedikit berbeda. Kami jarang bertemu sejak aku beranjak dewasa, aku juga jarang pulang kerumah karna banyak tugas dari kerajaan." tutur nya tanpa ekspresi.
"Ceritakan tentang ayah mu, Wasa" saat mendengar yang dikatakan nya entah mengapa aku begitu merasa tak nyaman soal ayah nya.
"Ayah ku ya... Seperti yang ku katakan aku tak terlalu dekat dengan ayah ku jadi tak banyak yang ku ketahui tentang nya. Tapi selain tegas, ayah ku juga tak bisa dibantah, apa yang diperintahkan nya harus dilakukan karna hal itu lah membuat ku merasa tak nyaman berada didalam rumah. Syukur saja aku jadi ksatria kerajaan jadi gak masalah jarang pulang." lanjut nya.
"Lantas bagaimana dengan mu? Kamu orang nya seperti apa?" tanya ku lagi.
Wasa tak langsung menjawab pertanyaan ku, dia diam menatap ku untuk beberapa saat.
"Aku tak tahu orang lain menilai seperti apa diri ku tapi jujur saja aku bisa tegas dan lembut sesuai keadaan. Jika aku menginginkan sesuatu aku tak akan melepaskan nya hingga aku merasa lelah sendiri begitu pun sebaliknya nya. Aku akan menunjukan segala sisi ku pada orang yang ku percayai dan menutupi nya dari orang-orang yang ku benci." jawab nya.
"Menurut mu aku orang nya seperti apa?" tanya nya pada ku.
"Aku tak tahu, aku tak bisa mengingat tentang mu." jawab ku jujur, seberapa pun usaha yang ku lakukan untuk mengingat apa yang terjadi sebelum aku berpindah tempat tetap tidak membuah kan hasil.
"Tak apa-apa, pelan-pelan saja mengingatnya Beryl" ujar nya dan tersenyum pada ku.
Aku tak menjawab atau pun bertanya lagi pada nya, saat ini perasaan ku benar-benar sesak. Seakan-akan ada yang menganjal di dada ku saat dia menceritakan soal keluarga nya terkhusus ayah nya.
Diantara kami terdapat kesunyian yang panjang, aku yang sibuk dengan pikiran ku dan Wasa yang sedang menikmati sepotong Baguette Sandwich juga pemandangan dihadapan nya tanpa menyadari sebentar lagi matahari akan terbenam.
"Wasa, apa kamu tak takut? Sebentar lagi hari akan berganti, kita tidak pernah tahu akan apa yang terjadi kedepan nya." ucap ku begitu saja.
"Aku tak takut dengan yang terjadi kedepan nya, aku hanya selalu mensyukuri setiap momen didalam hidup ku. Seperti sekarang ini, duduk bersama mu menunggu matahari terbenam." jawab nya tulus.
Setidak nya, jawaban nya membuat sedikit rasa sesak ku berkurang.
Ya, sekarang aku hanya ingin menikmati momen indah didepan mata ku, aah matahari nya akan terbenam.