
..."Aku hanya menginginkan mu, bagaimana pun aku akan mendapatkan mu walau harus menumpahkan darah yang tak bersalah itu."...
...~ Chalya Aleth Arambel ~...
.......
.......
.......
.......
.......
Setelah beberapa hari aku tak pulang ke rumah ku sekarang waktunya aku kembali, banyak hal yang terjadi pada ku selama beberapa hari, tapi mengapa harus aku? terlibat dengan para bangsawan yang sama sekali aku tak tau apa salah ku lalu berada di tempat Pangeran Mahkota yang membuat ku pusing sekaligus lega. Lega karna aku akan segera menghirup aroma kebebasan dan pusing karna permintaan janjinya.
Kicauan Burung Kinari menyambut pagi ku yang terlihat cerah dari luar. Tadi malam Pangeran Mahkota membawakan pakaian ganti untuk ku karna semenjak sadar aku sama sekali belum menganti pakaian.
"Terima kasih tapi mengapa baru sekarang Yang Mulia Pangeran Mahkota memberikan saya pakaian ganti?" tanya ku sebelum dia keluar dari ruangan ini.
Langkah nya terhenti mendengar pertanyaan ku. "Maafkan saya ... saya memang ingin menganti pakaian mu saat kamu sedang tak sadarkan diri. Tapi saya tak ingin orang-orang di istana tau keberadaan orang asing di menara ini dan saya bukanlah tipe laki-laki yang mengambil kesempatan dalam kesempitan jadi—" ucapan nya terputus oleh ku.
"Maksud anda laki-laki yg mengambil kesempatan dalam kesempitan itu ... menganti pakaian saya dengan tangan anda sendiri dan anda bisa melihat tubuh saya?" tanya ku was-was.
"Benar, karna itu saya tidak melakukan nya."
Aku membekap mulut ku sendiri dengan kedua tangan ku, jika hal itu dilakukan nya berarti pria dihadapan ku ini salah satu pria brengsek dong! namun untungnya Tuhan mempertemukan ku dengan pria baik sepertinya.
Tunggu! baik? sepertinya penilaian ku tentang dirinya sudah berubah.
"Te— terima kasih Pangeran Mahkota," ucap ku gugup.
"Aksa, panggil aku dengan nama itu," pinta nya.
"Ya, Aksa."
Mengingat kejadian semalam entah mengapa membuat perasaan ku sedikit senang terhadap nya, di dunia yang tak ku ketahui ini aku bersyukur bisa bertemu Wasa, Aksa dan Ol.
ttookk!!
ttookk!! ttokk!!
Sebuah ketukan pintu terdengar, itu pasti Pangeran Mahkota. Aku berjalan menuju pintu itu, ketukan itu sebenarnya dia yang usul kan sebagai pertanda kalau yang datang adalah dirinya. Jadi, aku tak perlu merasa khawatir atau pun cemas seperti kejadian di kediaman Chalya yang membuat ku trauma.
"Selamat pagi, Beryl," sapa nya dengan membawa nampan yang berisi makanan dikedua tangan nya.
"Selamat pagi juga Pangeran Mahkota aahh maaf ... maksud saya, Aksa."
Aku masih belum terbiasa memanggilnya dengan nama nya tak seperti Wasa, tapi sejujurnya bagi ku nama nya terasa menenangkan.
"Kamu harus lebih terbiasa ya ... ini aku membawakan sarapan untuk mu," ucap nya menyodorkan nampan yang dibawa nya masuk.
"Terima kasih, ayo makan bersama," ajak ku.
"Aku sudah sarapan, kamu makan saja dan habiskan. Aku akan kembali sebentar lagi baru setelah itu aku akan mengantar mu pulang," tutur nya.
"Ada urusan penting ya?" tanya ku.
"Tidak juga, aku pergi sebentar," ulang nya.
Namun sebelum benar-benar keluar dari ruangan ini dia mengusap rambut ku yang belum keramas selama beberapa hari, entah bagaimana aku mengatakan nya tapi pria ini memperlakukan ku dengan sangat baik dan mencoba mengakrabkan diri kepada ku yang begitu canggung juga. Salah satunya dengan mengusap kepala ku sebelum dia keluar dari ruangan ini.
Aku duduk disalah satu spot terbaik di ruangan ini, ku akui jendela yang mengarah keluar ini menjadi salah satu hal yang ku sukai karna dari sini aku bisa melihat kearah luar yang begitu luas. Sembari aku mengunyah makanan yang dibawakan nya tadi dari kejauhan aku melihat beberapa orang yang tengah berkerumun, kalau aku tak salah posisi mereka ada di gerbang luar istana, 'kan?
Untuk memastikan nya dengan mengambil sebuah teropong di bawah tempat tidur milik Pangeran Mahkota yang tak sengaja ku temui sehari setelah dia meminta ku berjanji. Dengan menggunakan teropong ini aku dapat melihat dan menuntaskan rasa penasaran ku namun sesuatu yang tak mengenakan menyerang perasaan ku.
"Apa yang ku lihat itu salah? mengapa bisa Chalya berada disitu?! apakah aku ketahuan? dia bahkan membawa Ksatria yang cukup banyak ... apakah Pangeran Mahkota memberitahukan keberadaan ku pada nya?!" tutur ku gelisah.
"Tidak! i— itu tidak mungkin Beryl ... mana mungkin Pangeran Mahkota memberitahukan keberadaan mu pada nya, aku kan gak cerita habis dari mana dan memilih diam saat ditanya," ucap ku meyakinkan diri sendiri.
Hhuuhh ...
Hhaahh ...
Aku mengela nafas berulang kali untuk menenangkan diriku dan tak memikirkan trauma itu tapi aku tetap saja merasa khawatir. Dengan keberanian dan rasa penasaran aku meneropong kembali apa yang akan dilakukan Chalya disini, dia berjalan angkuh diantara para Ksatria yang tegak melindungi nya. Langkah demi langkah dia tapaki lalu berhenti ketika di hadapan seseorang, aku mengarahkan teropong ini kearah orang lain itu dan dia adalah Pangeran Mahkota.
Detak jantung ku berdegup kencang, mereka yang tengah berbicara dan aku tak dapat mendengar nya membuat ku semakin risau. Setelah berbincang sebentar mereka mulai memasuki ke istana dan penglihatan ku berhenti disana.
Aku menyudahi makanan ku sekarang aku tak lagi berselera makan karna memikirkan kemungkinan negatif yang memenuhi kepala ku ini. Haruskah aku pergi saja dari sini? ta— tapi dia berjanji untuk mengantarkan ku pulang. Tapi apakah Pangeran Mahkota bisa di percaya?
Perasaan ragu ku kembali mencuat, aku tak suka perasaan seperti ini namun aku juga tak bisa menghentikan perasaan tak menyenangkan ini dan memilih untuk mengikutinya.
Aku kembali mengambil teropong itu dan menyusuri tempat-tempat yang mungkin saja bisa untuk melarikan diri, beberapa menit memantau tapi tak ada yang ku dapati. Satu-satunya jalan keluar adalah gerbang utama itu dan siapa saja yang keluar masuk akan diperiksa oleh keamanan Istana.
Aku berjalan mondar-mandi dari tadi, memikirkan bagaimana caranya bisa keluar dan tak diketahui oleh para prajurit keamanan di bawah sana hingga muncul ide nekat untuk segera keluar dari ruangan ini.
Aku merapikan pakaian ku dan bergegas keluar, mungkin ini bisa jadi satu-satunya kesempatan ku untuk keluar namun saat aku hendak membuka pintu itu seseorang sudah duluan membukanya. Rasa kaget ku membuat tubuh ku terjatuh ke lantai, dengan refleks aku menutup kedua wajah ku untuk menyembunyikan air mata yang mulai keluar ini.
Aku takut ... sangat takut jika orang yang membuka pintu ini adalah suruhan Chalya.
"Beryl! kamu kenapa?!" Suara berat seorang pria terdengar.
Pangeran Mahkota!
Aku mengadah ke atas dan menampilkan pria bertopeng itu, air mata ku kembali menetes dan lama-kelamaan tangisan ku semakin deras.
Perasaan takut sialan!
Aku kembali mengutuk perasaan tak mengenakan ini dan baru menyadari khawatirnya pria yang ada di hadapan ku. Kedua tangan nya terulur kepada ku, tanpa berkata-kata dia memeluk ku, mengusap-usap punggung ku yang gemetar, memberikan perasaan yang hangat untuk ku dan membiarkan ku meluapkan perasaan sialan ini lewat tangisan.
Aku terhanyut dalam pelukan nya, jujur saja aku merasa tentram saat dia memeluk ku, entah bagaimana mendeskripsikan apa yang ku rasakan saat dipeluk nya namun terasa seperti sesuatu yang sangat ku rindukan.
Beberapa menit telah berlalu dengan posisi seperti ini, saat mencium aroma Lavender dan Iris dari tubuh pria ini aku tersadar dari apa yang telah ku perbuat. Seakan dia tau, dia melonggarkan pelukan nya dan memberiku ruang untuk membenah diri.
Aku menghapus sisa-sisa air mata di wajah ku, rasanya terlalu malu untuk melihat dirinya dalam kondisi ku seperti ini.
"Kamu sudah merasa tenang?" tanya nya dengan suara yang lembut.
Aku mengangguk tanpa berucap.
"Apa yang kamu takuti hingga menangis seperti tadi? kamu membuat ku khawatir ..." lirih nya.
Aku diam, bingung harus menjawab apa pada nya. Dalam keheningan yang cukup lama dia masih menantikan jawaban ku hingga saat dia tiba-tiba berdiri membuat ku takut, apa dia marah?
Refleks aku menarik ujung pakaian nya, mencoba menahan nya untuk tidak pergi. "Ma— maafkan saya jika diam saya membuat Pangeran Mahkota marah. Saya— saya hanya merasa khawatir dengan trauma yang saya alami ja— jadi saya diam karna bingung harus menjelaskan nya bagaimana," ucap ku terbata-bata.
"Kemari lah," pinta nya dan menjulurkan tangan dihadapan ku.
Aku meraih tangan yang hangat itu, dalam posisi berdiri ini jarak kami terasa sangat dekat. "Pelan-pelan saja, aku akan mendengarkan mu" ucap nya penuh pengertian.
Aku mulai menceritakan apa yang ku alami saat itu, bagaimana aku diculik lalu diperjual- belikan bagai barang. Bagaimana aku disekap tanpa diberi makan yang layak, bagaimana aku dipermalukan hingga hampir merenggang nyawa dan bagaimana aku dihukum atas perbuatan ku yang benar tapi dianggap salah oleh Chalya. Sejujurnya aku sangat menghindari cerita ini karna dengan membeberkan nya akan membuat ku terus menerus teringat kekejaman yang dilakukan mereka tapi hanya sekali ini saja dan untuk memperjelasnya dihadapan Pangeran Mahkota.
Setelah menceritakan hal itu tanpa aku kurangi atau lebihkan aku malah penasaran dengan ekspresi apa yang ditunjukan nya. Sayang sekali aku tak dapat melihat itu karna tertutup topeng milik nya.
"Aku tak menyangka hal itu akan terjadi," ucap nya dengan suara dingin yang pertama kali ku dengar.
Tak sengaja aku melihatnya mengepalkan kedua tangan nya seakan-akan dia terlihat sedang menahan amarah. "Bodohnya diriku baru mengetahui hal buruk yang menimpa mu itu padahal beberapa menit yang lalu aku bertemu wanita kejam itu," lanjut nya.
Aku ingin bertanya soal itu juga tapi ....
"Aku tau pasti diri mu masih trauma, wanita kejam itu datang ke Istana hari ini. Aku tak bisa membawa mu pergi terus terang dihadapan yang lain apalagi diri nya, kamu harus melakukan penyamaran," ucap nya.
"Kalau saya harus menyamar tapi menyamar sebagai apa? Ksatria? tubuh saya terlalu kecil untuk menyamar sebagai Ksatria," jawab ku yang ikutan pusing memikirkan usulan nya.
"Atau menyamar sebagai pelayan? aku memang ada urusan di luar Istana namun kalau hanya membawa satu pelayan apalagi itu wanita akan menarik perhatian yang lain," ujar nya juga bingung.
Aku berpikir keras untuk rencana kali ini, jika aku ketahuan itu akan membuat masalah untuk Pangeran Mahkota terlebih lagi kalau salah seorang dari orang-orangnya Chalya mengenal ku pasti akan timbul masalah.
Tu— tunggu!! Bukankah Olaya bekerja disini?!
"Pangeran Mahkota!! aahh! maaf maksud saya Aksa!" seru ku dengan rasa senang.
"Ada apa Beryl? kamu punya ide?" tanya nya menghampiri ku di dekat jendela.
Aku mengangguk dengan senang, "Saya punya seorang kenalan, dia salah satu asisten perpustakaan di Istana ini. Namanya Olaya El Agave, apakah anda kenal?" tanya ku dengan berharap.
"Hhmm Olaya El Agave? sepertinya aku pernah mendengar nama belakang itu," jawab nya.
"Tapi ... saya sedikit ragu apakah dia ada disini atau sedang libur dan ... jika ada apakah dia bisa mengenali saya dengan wajah lebam seperti ini?" tanya ku sedih.
"Kita harus menemui nya terlebih dahulu, ayo pergi sebelum Raja mengetahui keberadaan mu," ucap nya menarik lengan ku keluar.
Aku mengikuti langkah nya demi langkah, tangga-tangga yang curam ini dan penerangan yang minim disini ternyata mirip dengan menara yang ku naiki di Istana buatan itu sebelum tragedi pindah di mensi ku terjadi. Seandainya aku tak menaiki menara itu pasti aku tak akan berakhir disini dengan orang-orang yang tak ku kenal.
Entah sudah berapa banyak anak tangga ku turuni tapi anehnya terasa begitu cepat menuruni tangga ini. Hingga kami sampai disebuah pintu besar dengan coretan berisikan sumpah serapah, itu pasti ulah pria ini begitulah yakin ku.
Saat pintu besar itu dibuka oleh nya terpampang jelas aroma kebebasan dihadapan ku, seutas senyum tipis keluar dari bibir ku. Dikawasan Menara Tristitia ini begitu sepi, aku sudah mengamatinya dan yang terlihat hanya Pangeran Mahkota sendiri tanpa ada prajurit atau keamanan Istana disini, mungkin saja karna ini milik Pangeran Mahkota jadi tak ada yang ikut campur.
Pria ini masih setia menggenggam tangan ku dan dengan setengah berlari dia membawa ku menuju perpustakaan Istana. Tapi sebelum sampai ke perpustakaan dia meminta ku untuk menunggu dibalik semak-semak.
"Bersembunyilah dulu disini, aku akan mengambil beberapa barang pelayan," perintah nya.
"Tolong cepat kembali ..." bisik ku sebelum dia pergi.
Entah dimana lokasi ku sekarang, Istana ini juga begitu luas hingga bisa membuat tersasar orang-orang yang baru pertama kali memasukinya. Namun jika dilihat dari sisi baiknya hal itu bisa membuat bingung para musuh yang ingin merebut Kerajaan ini, selain begitu luas juga karna banyaknya ruangan-ruangan yang menurut ku bisa saja mengecohkan dan tentu saja Istana ini dibangun oleh orang-orang pandai dibidang nya.
"Beryl!!" panggil nya mendekati ku.
"Ini ... pakailah sekarang!" pinta nya menyerahkan barang-barang pelayan itu.
Aku mengambil nya namun beberapa harus ada yang ku lepas jadi ... "Hhmm bisakah anda menghadap kearah lain? sa— saya ingin berganti pakaian," pinta ku, aku harap dirinya tak tersinggung karna menyuruh nya berbalik.
Namun semudah itu dia menuruti keinginan ku dan aku tersenyum tipis dengan tingkah nya. "Terima kasih," ucap ku tulus.
"Sudah Pangeran Mahkota," tutur ku.
Kami melanjutkan langkah yang awalnya berjalan sejajar sampai mendekati lingkungan Perpustakaan Istana dia memberitahu ku untuk berjalan sedikit lebih lambat di belakang nya.
"Ini hanya untuk mengecoh penjaga perpustakaan dan jangan bertindak gugup karna mereka akan tau hal mencurigakan dari mu hanya lewat postur tubuh. Ingatlah untuk tetap tenang dalam situasi apa pun," pesan nya.
Aku mengangguk paham, satu-satunya yag harus ku lakukan adalah tetap tenang jadi diriku tolong bekerja samalah!
Kami telah memasuki kawasan Perpustakaan Istana, terpampang jelas dihadapan ku sebuah perpustakaan yang begitu besar dengan ukiran indah yang mengelilingi bangunan ini. Banyak penjagaan disetiap sudutnya dan benar saja sekilas saat aku melirik ke mereka tatapan menyelidiki tertuju kearah ku.
"Ku mohon, jangan sampai ketahuan ..." bisik ku.
Aku menundukkan kepala ku tak berani lagi melihat para penjaga perpustakaan, aku terus mengikutinya hingga berhenti disalah satu ruangan.
Saat pria itu hendak memasuki ruangan yang ada di hadapan ku ini dan aku hendak ikut masuk sebuah suara membuat ku berhenti melangkah.
"Berhenti! lamu tidak boleh masuk ke ruangan ini bersama Pangeran Mahkota!" teriak orang itu.
"Ada apa ini?" tanya Pangeran Mahkota.
"Maafkan saya Yang Mulia Pangeran Mahkota namun pelayan ini tak tau aturan hingga mengikuti anda masuk ke—" ucapan nya terpotong.
"Aku yang menyuruh nya mengikuti ku, apa itu masalah?!" tekan Pangeran Mahkota.
"Ma— maafkan saya yang bodoh ini," jawab nya lalu membungkuk kan badan 90 derajat di hadapan pria itu.
Ternyata jadi Pangeran Mahkota oke juga!
"Ayo!" perintah nya pada ku.
Di dalam ruangan ini aku mencium aroma Cinnamon yang semerbak, mencium aroma ini membuat ku entah mengapa merasa sedikit lega dari perasaan takut ku tadi.
"Salam kedamaian untuk bintang de Ramor," sapa suara yang ku kenal.
"Ada keperluan apa yang mulia Pangeran Mahkota datang ke—" ucapan nya terpotong ketika melihat ku.
Bena! orang yang ada di dalam ruangan yang sama dengan ku dan Pangeran Mahkota ini adalah Olaya, dia terlihat terkejut saat melihat ku.
"Sepertinya kamu mengenal dia?" tanya Aksa kepada Olaya.
"Benar yang mulia," jawab Olaya.
"Bagus! sekarang saya minta bantuan kamu karna saya tak bisa membawa hanya satu pelayan jadi kamu akan bersama saya dan Beryl untuk keluar dari Istana ini. Beryl nanti akan menjadi asisten kamu dan kita akan pergi ke Perpustakaan Ottorox namun saat sampai di Vlavia kita akan berpisah. Saya sudah menyiapkan ksatria terbaik saya untuk rencana kali ini dan kamu harus diam saat sampai disana atau pun kembali lagi kesini, apa kamu mengerti?!" jelas pria ini dengan sedikit penekanan.
Olaya hanya mengangguk, syukurlah dia mengerti.
"Namun kalau saya boleh bertanya satu hal, kenapa Beryl ada disini dengan pakaian pelayan dan kenapa wajah nya lebam?" tanya nya mendekati ku.
"Kamu tak perlu—" ucapan pria itu sengaja ku potong.
"Maaf Pangeran Mahkota tapi dia teman saya," tutur ku pada nya.
"Olaya, aku akan menceritakan yang lengkap pada mu namun secara garis besarnya saya diculik dan diperlakukan kasar tapi karna keterbatasan waktu sebaiknya kita harus bergerak lebih cepat," ucap ku.
"Aku pegang janji mu," jawab Olaya.
Untuk menutupi wajah ku yang lebam, Olaya memberikan sepotong kain pada ku lalu kami bergerak sesuai arahan Aksa.
Entah mengapa semakin mendekati gerbang Istana semakin dada ku berdegup dengan cepat, perasaan ku sangat tak enak seakan-akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Wah! Pangeran Mahkota, apa anda ingin mengantarkan saya menuju kereta kuda?" seru suara yang membuat ku trauma.
Ya Tuhan!!! kenapa aku harus bertemu Chalya disini? aku pasti akan ketahuan! pantas saja perasaan ku tadi tak enak.
"Tenang lah Beryl..." bisik Olaya.
"Apakah sikap ku kentara sekali?" tanya ku ragu-ragu.
"Iya, kamu terlihat gelisah," jawab nya pelan.
"Sayang sekali saya ada urusan Nona Chalya jadi biar Ksatria Istana saja yang mengantarkan anda," jawab Pangeran Mahkota.
"Ayo!" lanjut nya.
Kami mengikuti langkah kaki Aksa dan saat posisi tubuh ku sejajar dengan diri wanita itu aku dapat merasakan pandangan tak enak yang Chalya berikan pada ku.
Ku mohon Tuhan, semoga dia tak mengenali ku!
Pikiran yang membuat ku takut memenuhi isi kepala ku saat ini membuat ku tak menyadari kalau kami telah sampai pada kereta kuda milik Pangeran Mahkota.
"Ryl ... Beryl ..." panggil Olaya.
Aku tersentak dan melihat ke arah nya, "Aahh iya ... Olaya?"
"Sadarlah! pandangan mu terlihat begitu kosong," tutur nya.
"Kamu tak apa-apa?" tanya Aksa.
"Sa— saya baik-baik saja," jawab ku berbohong.
Dan pria itu tak mengatakan apa pun atau mungkin saja dia tau kalau aku berbohong. Selama perjalanan yang tak ku ketahui ini, aku masih memikirkan hal-hal yang menakutkan itu. Seberusaha apa pun aku menepisnya namun pikiran negatif itu tak juga beranjak pergi.
"Kita sudah sampai, ayo turun."
Aku yang masih dengan tatapan kosong tersentak saat sebuah tangan menggenggam tangan ku, aku menoleh kearah Aksa yang begitu cuek lalu melirik ke Olaya yang tampaknya kaget atas sikap Pangeran Mahkota kepada ku.
Aku harap Olaya tak salah paham karna ini.
Kami turun disebuah hutan yang tampak asing di mata ku, dihadapan ku sudah ada tiga orang pengawal Pangeran Mahkota dan sebuah kereta kuda tanpa lambang. Lalu saat aku memutar arah pandangan ku kearah barat, aku melihat seekor kuda putih bersih yang berkilau.
"Wah!!" ucap ku begitu saja.
Pertama kali aku melihat kuda secantik itu, bahkan kuda milik Wasa kalah indah. Aku yakin pasti perawatan nya mahal apalagi tubuh kuda nya berisi dan tampak sehat.
"Kamu suka?" tanya nya.
Aku yang masih terpukau dengan apa yang ada dihadapan ku hanya mengangguk.
"Aku akan memberikan mu itu," ujar nya.
"Aahh? apa? eehh ... saya gak bermaksud begitu!" ucap ku kelabakan, tiba-tiba diberikan kuda membuat ku sangat canggung.
"Aku akan memberikan apa yang kamu sukai," jelas nya yang membuat ku makin canggung.
"Sa— saya tak mahir berkuda jadi saya tak bisa menerima nya," tolak ku namun dia tak mengatakan apa pun dan menarik tangan ku kearah kuda putih itu.
Makin mendekat kearah kuda itu makin terpukau diri ku, bulu-bulu yang halus dan bersih itu rasanya ingin ku sentuh. Dengan sekali loncatan Pangeran Mahkota menaiki kuda, dia terlihat gagah seakan dua kombo yang ditakdirkan bersama. Ada kuda putih dan seorang pria yang menungganginya terlihat keren bak lukisan seperti cerita yang pernah ku baca sebelumnya.
Aahhh ... ingin sekali aku memotretnya dengan kamera handphone milik ku, sayang sekali disini tak ada.
"Aku memang terlahir keren, Ryl!" tutur nya yang terkesan sombong. "Ayo kita pulang ..." lanjut nya dan mengulurkan tangan dihadapan ku.
Kalau saja aku wanita bangsawan yang mendambakan kisah romantis lalu datang seorang pangeran yang mengulurkan tangan nya mengajak ku pergi bersamanya pasti dengan senang hati aku menyambut nya. Tapi sayang sekali, pria seperti dirinya pasti sudah memiliki tunangan dan diriku tak mendambakan cinta.
Aku menyambut uluran tangan nya, dia mengangkat tubuh ku dengan satu tangan saja seakan aku ini ringan bagaikan kapas. Dia meletakkan ku tepat di depan nya dengan hati-hati seakan aku ini kaca yang akan terluka jika diletakan dalam posisi yang salah dan dengan sekali hentakan kuda putih ini melaju begitu cepat membelah hutan.
Bagi ku ini kedua kalinya aku menaiki kuda bersama seorang pria selain Wasa, entah bagaimana menjelaskan nya namun aku merasa nyaman saat menaiki kuda bersama pria ini, aneh sekali 'kan?
"Ini pertama kalinya bagi ku menaiki kuda dengan seorang wanita," ucap nya tiba-tiba.
Deg!!!
Perasaan aneh muncul begitu saja.
"Tapi untunglah itu dengan diri mu," bisik nya tepat di telinga kanan ku, aku merasa tersentak sekaligus geli dengan ucapan pria ini.
"I— itu tidak mungkin ..." balas ku.
Rasanya aku ingin turun saja dari kuda ini dan memilih jalan kaki jika dia melakukan itu lagi pada ku, aku juha mohon agar deg-degkan ini berhenti!
Perjalanan ku terasa cepat hingga jalanan biasa yang ku lalui bersama Wasa terlihat, senangnya sebentar lagi aku akan pulang.
Wasa bagaimana kabarnya ya? dia pasti mengkhawatirkan diri ku yang tak pernah terlihat beberapa hari terakhir. Apa dia akan marah pada ku? bagaimana reaksi nya kalau tau aku diculik dan diperlakukan kasar oleh Chalya? haruskah aku ceritakan apa yang ku lalui beberapa hari ini pada nya? bagaimana jika amarahnya meluap begitu saja seperti waktu itu? walau begitu dia tetap teman ku.
Tepat di rumah tua yang masih terlihat sama itu pria ini memberhentikan kuda nya, seperti halnya saat aku naik ke atas kuda ini dia juga menurunkan ku begitu hati-hati dan perlakuan nya ini membuat sedikit senyum ku keluar.
"Terima kasih telah mengantarkan saya Pangeran Mahkota, saya akan membalas kebaikan anda suatu hari nanti," ucap ku setulus hati.
"Aksa, kamu lupa ya? aku hanya ingin kamu memanggil nama ku saja tanpa embel-embelan Pangeran Mahkota," ujar nya.
"Baiklah ... Aksa terima kasih," ucap ku mengalah.
Aku melepas kain yang menutupi setengah wajah ku dan berniat mengembalikan nya pada pria ini namun sebuah suara tak asing memanggil ku begitu kencang.
"Beryl!!"
Seorang pria yang sedang menunggangi kuda hitamnya dengan kencang berhenti tepat di hadapan ku. Wasa turun dengan sekali loncatan lalu tanpa aba-aba memeluk ku begitu erat. Aku kaget, sungguh tak pernah ku bayangkan dia memeluk ku se-erat ini juga dipeluk pria untuk pertama kali nya.
"Syukurlah kamu kembali ... aku terus mencari mu kemana-mana sampai pikiran ku dipenuh oleh rasa khawatir pada mu. Kemana saja kamu? kenapa pergi tak mengatakan apa pun pada ku?" tanya nya bertubi-tubi.
Aku tak siap, aku belum siap dengan kondisi canggung ini apalagi ada pria lain yang melihat hal ini. Seakan dia mengerti dengan kecanggungan ku, Wasa mulai mengendurkan pelukan nya.
"Maaf Beryl ... aku terlalu senang melihat mu," ucap Wasa.
"Ehem!!" inturpsi Aksa.
Wasa yang tadi hanya melihat ku kini mengalihkan pandangan nya kepada Pangeran Mahkota dan wajah terkejut nya tak bisa disembunyikan nya.
"Pangeran Mahkota?! mengapa Yang Mulia ada disini?" tanya Wasa bingung lalu melirik ku meminta jawaban.
Harus bagaimana ku katakan, ya?