
..."Hidup akan terus berlanjut nak meski kamu merasa kehidupan mu tak adil."...
...~ Hera Yart Lavel ~...
.......
.......
.......
.......
.......
Matahari mulai meninggi sejak beberapa waktu yang lalu, sinar nya yang hangat sama seperti perasaan ku sekarang. Ya ... walau aku merasa tak enak dengan OL atas ucapan Wasa.
Dengan tatapan tajam Wasa memperhati kan OL yang sedang berbicara pada ku, ku rasa nanti dia akan bertanya tentang kejadian pagi ini setelah OL pulang.
"Terima kasih untuk sarapan pagi nya, Ryl." ucap OL dengan wajah senang nya.
"Yaa.." jawab ku singkat.
"Nanti aku akan menemui mu lagi." ujar OL pergi meninggal kan ku.
"Titip dia sebentar ya." lanjut OL pada Wasa.
"Kamu gak perlu datang lagi." sahut Wasa dengan wajah kesal.
Tapi OL hanya menanggapi nya dengan tertawa.
"Siapa sih dia?" tanya Wasa pada ku.
"Bukan nya kamu udah kenalan tadi sama dia?"
"Iyaa aku tau nama nya tapi maksud ku kamu kenal dia dari mana? Kok bisa dia ada di sini pagi-pagi?" tanya Wasa.
Tuh kan aku benar, dia penasaran sekali.
"Hmm ya aku kenal dia di pasar informasi sih terus kemarin dia bertamu cuma pas mau pulang di luar hujan jadi ya dia nunggu di sini." jawab ku jujur walau sedikit merasa canggung pada Wasa.
"Kamu yakin dia orang baik, Ryl? Apalagi kamu kenal dia di Pasar Informasi. Dan kok bisa sih kamu izin kan dia menginap di sini sampai pagi." ucap Wasa tak habis pikir.
"Kan udah aku bilang tadi karna di luar hujan seharian, gak mungkin aku usir dia pas hujan-hujanan. Lagian dia gak ada macam-macam dengan ku kemarin." jawab ku menyakini nya.
"Tapi tetep saja dia laki-laki dan kamu perempuan, berdua semalam dalam satu atap itu juga mencurigakan di tambah kamu belum menikah, Ryl." kekeh Wasa.
"Lalu apa beda nya kamu dengan dia? Kamu juga pernah menginap di sini semalaman dengan ku." jelas ku pada nya.
Dan itu membuat wajah nya memerah.
"Ii..itu kan aku teman baik mu, aku gak mungkin pegang-pegang kamu selama menginap di sini. Kamu juga kenal aku udah lama jadi beda sama dia." ujar Wasa.
Ntah lah Wasa, ingatan ku masih belum pulih tentang kamu.
"Ya sudah berarti kalian berdua sama." ucap ku.
"Gak dong, lagian aku gak suka sama dia apalagi dekat-dekat kamu." sanggah Wasa.
"Kenapa?" tanya ku.
"Yaa karna...." ucap nya menggantung.
"Karna?"
"Karna aku gak suka aja." jawab nya.
Aku merasa itu bukan alasan yang sebenar nya, tapi apa?
"Aneh." ucap ku pada nya.
Aku memberes kan kembali semua peralatan masak dan makan yang ku pakai tadi, sebentar lagi aku akan pergi bekerja ke Pasar Informasi tapi sampai kapan Wasa akan berada di sini?
"Wasa, apa kamu gak ada kegiatan hari ini?"
"Gak ada." jawab nya.
Aduh gimana nih...
"Kamu yakin?" tanya ku lagi.
"Iya Beryl, hari ini aku libur. Aku berencana buat ngajak kamu ke suatu tempat hari ini." tutur nya.
Aaah jadwal ku bentrok...
"Mau kemana? siang kan?"
"Sekarang juga sih, nanti juga kamu tau." jawab nya.
Gawat, aku harus pergi bekerja pagi ini. Tapi gimana bisa aku bekerja jika Wasa mengajak ku pergi sekarang juga. Aku juga gak mau bikin Kakek Genio kecewa kalau aku gak izin pergi pada nya pun aku gak mau Wasa curiga.
"Begini Wasa, aku bisa pergi dengan mu nanti siang." ucap ku.
"Kenapa gak sekarang? Aku berencana pergi dengan mu sekarang pulang nya sore nanti." tutur nya.
"Kalau pagi ini gak bisa, aku harus berangkat kerja." ucap ku pelan.
"Kerja? kamu kerja? kok aku gak tau?" tanya nya.
"Ta..tapi kamu jangan marah yaa. Aku kerja di Pasar Informasi." jawab ku jujur.
Akhirnya aku memberitahu kan nya, lega sih tapi aku juga takut kalau dia marah karna aku menyembunyikan ini dari nya.
"Kenapa kamu baru memberitahu kan ku sekarang?" tanya nya.
"Aku belum siap memberitahukan mu saat itu." jawab ku.
"Di sana kan berbahaya, Ryl. Kenapa kamu harus bekerja di tempat berbahaya itu?" tanya nya lagi dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Aku tau lingkungan tempat ku kerja tapi aku gak bodoh untuk milih tempat mana yang tidak berbahaya untuk ku, aku juga bisa jaga diri." ucap ku meyakin kan nya.
"Haaahh..." hela Wasa.
"Ntah hal apa lagi yang aku lewat kan dari mu padahal kita hampir selalu bersama, Ryl." tutur nya dengan wajah yang kecewa.
Mendengar ucapan nya aku hanya diam tanpa berani mengucapkan kata apa pun pada nya, aku sudah memberani kan diri untuk jujur pada nya dan dia kecewa maka itu wajar untuk ku dapat kan.
Dalam keheningan yang terus berlangsung Wasa masih setia dengan posisi tegak dan mimik wajah kecewa nya itu, aku pun sama.
"Beres-beres lah dulu, aku akan menunggu mu di luar." ucap nya.
Aku mengerti, aku tak bisa mencari alasan lagi untuk menyuruh nya pergi. Sekarang aku sudah memberitahu kan nya, ini pilihan ku dan aku siap untuk menanggung nya.
Aku mengenakan baju sesuai biasa nya ku pakai dengan jubah yang akan menutupi tubuh juga wajah ku di perjalanan.
Aku sudah telat dari tadi dan mungkin nanti aku akan di marahi Kakek Genio, pasti.
"Wasa..." panggil ku pada nya.
"Ayo aku antar kan." ucap nya tak ekspresi.
Dia masih kesal..
"Iii..iyaa"
Aku menaiki kuda yang sama dengan Wasa, dengan kecepatan sedang kuda ini melaju menuju Pasar Informasi.
Sepanjang perjalanan aku melihat pohon dan dedaunan terlihat segar dengan air yang masih tersisa dan bau nya sangat enak tanpa sadar aku tersenyum kecil.
Kami sudah memasuki Pasar Informasi, memang lebih cepat dengan naik kuda di banding jalan kaki. Tapi untuk kondisi yang seperti ini aku bahkan rela jalan kaki dari pada naik kuda dengan Wasa yang masih kesal pada ku.
"Di mana tempat kamu kerja?" tanya nya.
"Dia kedai tiang merah."
Dengan sekali lirik dia membawa ku menuju kedai tiang merah itu. Seperti yang ku duga, pasar sudah ramai dengan banyak orang apalagi kedai Kakek Genio.
Aku turun dari kuda milik Wasa walau aku merasa tak enak dengan nya aku tetap mengucapkan terima kasih meskipun dia masih terlihat kesal.
"Aku ingin masuk." ucap nya.
Aku pikir setelah dia mengantar kan ku untuk kerja dia akan pulang tapi mengapa dia ikutan masuk juga?
"Beryl!." ucap Kakek Genio.
"Ii...iiya kek." jawab ku ragu.
"Kamu dari mana saja? Saya sudah menunggu dari tadi." ucap Kakek Genio pada ku.
"Maaf kek saya telat tadi ada kendala." jawab ku pelan.
"Kendala apa?"
"Hmm kendala nya ..." ucapan ku terpotong.
"Tolong jangan marahi Beryl, saya yang membuat nya telat." ujar Wasa di belakang ku.
Duh Wasa kamu sebaik nya jangan ikutan ngomong, aku takut Kakek Genio makin marah.
"Ssst Wasa kamu diam aja, ini urusan ku." bisik ku pada nya.
"Kan fakta nya gitu, Ryl." ucap Wasa pada ku.
"Ooh jadi kamu yang bikin pekerja saya telat." tutur Kakek Genio pada Wasa dengan nada suara yang di tekan.
Dari tatapan mata Kakek Genio aku bisa tau kalau dia sedang marah.
"Iyaa." jawab Wasa tak mau kalah dengan Kakek Genio.
"Sekarang kamu beres-beres di belakang, kita sedang banyak pelanggan." Perintah Kakek Genio.
"Baik kek." jawab ku.
Aku mencubit pinggang nya karna dia sedari tadi ikutan menatap tajam Kakek Genio.
"Kenapa aku di cubit sih Ryl." ucap nya kesakitan.
Dengan gerakan mata aku menyuruh nya keluar sebelum aku di marahi Kakek Genio lagi.
"Aku akan menunggu mu di luar." ucap Wasa tanpa menunggu jawaban ku.
Aku berjalan ke belakang kedai ini, meletak kan jubah yang ku kena kan tadi di tempat biasa nya. Aku menatap cucian piring yang menumpuk dan dengan sigap membersihkan nya.
Setelah beres dengan yang di belakang aku membantu Kakek Genio di depan. Hari ini pelanggan begitu banyak dan tentu saja aku kewalahan, seandai nya Kakek Genio menambah lagi pekerja nya pasti sangat membantu ku.
"Baik kek."
Aku langsung menuju ruangan yang tertutup rapat itu, sebisa mungkin aku membersihkan apa pun yang bisa di bersihkan bahkan kolong sekali pun aku bersihkan. Tapi sesuatu membuat ku berhenti melakukan aktifitas ku yang sekarang, aku menemukan sebuah nama di dalam kertas yang usang.
Hera Y Lavel
Begitulah tulisan itu.
"Bukan kah nama ini sama dengan nama nenek ku?" tanya ku.
Aku membolak balik kan kertas usang itu tapi tak ada lagi tulisan selain nama itu. Dengan penasaran aku mulai mencari sesuatu yang mungkin bisa ku dapat kan di bawah kolong ini.
Aku menggeser kan tangan ku beberapa kali hingga menyentuh sesuatu seperti kertas. Aku menarik keluar benda itu dari bawah kolong dan mendapati nya yang penuh dengan debuh. Refleks aku langsung terbatuk-batuk karna debu yang tebal itu.
Aku menepuk-nepuk benda yang ku dapati tadi dengan cepat hingga sebuah tulisan terlihat.
"Bukan kah ini koran?" tanya ku lagi.
Aku memperhati kan halaman depan koran itu, ini sebuah berita lama tentang kemenangan Raja Gergo Tarta De Ramor melawan kerajaan lain. Aku membalik kan lagi koran itu ke halaman berikut nya hingga halaman terakhir tapi hanya tentang kerajaan yang ku temukan.
"Beryl!!" teriak Kakek Genio dari luar.
"Iya kek." sahut ku.
Dengan buru-buru aku meletak kan kembali koran yang ku temukan tadi ke tempat nya dan berjalan ke luar. Tapi aku tak sengaja menabrak sebuah kotak di ujung pintu hingga membuat isi nya berantak kan.
Tak sengaja aku membaca sebuah potongan kalimat yang membuat tubuh ku seketika membeku.
" 'Bagaimana pun seluruh keluarga Lavel harus mati karna mereka adalah pengkhianat di kerajaan ini' begitulah penuturan dari kepala keluarga Arambel. "
Tak hanya potongan kalimat itu, aku juga menemukan beberapa kalimat lain nya yang meminta Raja untuk menghukum seluruh keluarga Lavel.
Lavel adalah nama belakang ku, semenjak pindah dimensi aku mengetahui kalau tiap nama belakang seseorang adalah nama keluarga nya. Ta..tapi apa benar yang ku baca ini?
Dada ku sesak dan sakit secara bersamaan, jika yang ku baca ini benar berarti aku salah satu dari keluarga Lavel dan semua keluarga ku sudah mati?
Tidak! itu tidak benar kan?
"Lama sekali kamu." ucap Kakek Genio.
Dengan perasaan takut aku menyembunyi kan beberapa kertas yang ku temukan di belakang ku.
"Maa..maaf kek, tadi aku kesandung." jawab ku berbohong.
"Ayo bantu saya di depan, kenapa hari ini banyak sekali pelanggan yang berdatangan sih padahal aku ingin bersantai-santai." ujar Kakek Genio kesal tanpa memperhatikan ku.
Syukur lah, Kakek Genio tak melihat ku secara teliti. Jika dia tau aku memegang barang nya tanpa seizin nya pasti dia akan marah.
Aku menyusul Kakek Genio ke depan, untuk sementara pertanyaan ku mengenai potongan kalimat itu akan ku simpan dulu. Nanti aku tanya kan pada Kakek Genio jika dia sedang tak sibuk.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu saja, jam kerja ku telah usai dan siang ini pelanggan Kakek Genio terlihat sepi. Setelah tamu Kakek Genio yang satu ini aku akan menanyai nya soal potongan kalimat itu, dada ku berdebar-debar.
"Kamu sudah selesai kan?" tanya Wasa yang masuk ke dalam kedai.
Aaah aku lupa kalau hari ini aku bersama nya.
"Sudah sih tapi aku ada keperluan sama kakek." jawab ku.
"Keperluan apa?" tanya nya.
"Hmm yaaa ada yang mau aku tanyain sih."
"Apa?"
Dan dia tetap ngotot ingin tahu.
Ckleeek...
Suara pintu terbuka, aku melihat ke arah pintu itu dan mendapati Kakek Genio yang tengah berjalan ke arah ku tanpa tamu nya.
"Ini upah kerja mu." ucap Kakek Genio sembari memberi ku beberapa uang logam.
"Terima kasih kek." ucap ku.
"Pulang lah, kekasih mu seperti nya akan marah." ujar Kakek Genio sembari melihat ke arah Wasa.
"Bukan... bukan kek, Wasa bukan kekasih ku." sanggah ku.
"Oh berarti cinta nya bertepuk sebelah tangan." lanjut Kakek Genio.
Mendadak wajah Wasa terlihat kesal atas ucapan Kakek Genio.
"Ayo pulang, Beryl." ucap Wasa menggenggam tangan ku.
"Tunggu sebentar Wasa aku mau ngomong sama Kakek." ucap ku dan menepis tangan nya.
Tapi langkah ku tertinggal dan Kakek Genio sudah masuk kembali ke ruangan nya.
"Ayo, Ryl." ucap Wasa lagi.
Haaahh... Kalau saja Wasa tadi tak ikut aku pasti sudah dari tadi menanyakan perihal itu. Mungkin lain kali aku akan menanyakan nya pada Kakek Genio.
"Ayo pergi." jawab ku berjalan ke luar.
Sepanjang perjalanan aku hanya memikirkan potongan kalimat itu, kalau ku tanya kan pada Wasa apakah dia tau?
"Wasa aku mau tanya." ucap ku.
"Mau tanya apa?"
Apa ku tanya saja? Gak, kalau aku gak mau mati penasaran aku harus tanya hal ini pada Wasa.
Tapi belum sempat aku melontarkan pertanyaan ku kami sudah sampai ke tempat yang Wasa tuju. Di hadapan ku terbentang ladang rumput yang luas dan sebuah pohon tua tanpa daun yang cabang nya dan akar nya melingkar membentuk huruf O.
"Waah pohon itu unik sekali." tutur ku kagum.
"Pohon itu sudah berumur ribuan tahun." sahut Wasa yang turun dari kuda nya.
Aku pun menyusul Wasa untuk turun dan mencoba untuk mendekat ke pohon tua itu. Tapi lagi-lagi Wasa menarik tangan ku untuk berjalan mengikuti nya.
"Kita mau ngapain sih?" tanya ku bingung dengan tingkah nya.
"Melakukan sesuatu yang kamu ingin kan." jawab nya.
Dia mengeluarkan sesuatu di balik jubah nya dan itu adalah dua buah pedang. Satu yang bertulis kan nama nya dan satu lagi tanpa nama.
"Kamu akan gunakan yang ini."
Dia menyerah kan pedang yang bernama kan milik nya pada ku.
"Loh kok yang pedang kamu?"
Harus nya dia yang memakai pedang ini dan aku yang memakai pedang tanpa nama itu.
"Gak, pedang itu sangat tajam sedangkan pedang ini tumpul. Jadi kamu saja yang pakai." jawab nya.
"Kamu gak takut kalau nanti terluka karna pedang mu sendiri? Aku kan gak mahir."
"Aku lebih takut lagi kalau pakai pedang itu dan kamu terluka oleh nya." balas nya.
Maaf, apa ini termasuk gombalan?
"Ya sudah kalau kamu mau nya begitu."
Aku mencoba mengeluar kan pedang itu dari sarung nya dan sebuah sinar dari pedang itu menyilau kan ku.
"Pedang mu keren juga." puji ku.
Dan dia tersenyum, gitu dong.
"Ayo kita mulai." ucap Wasa.
Kami memulai sesi belajar pedang dengan dasar nya. Wasa mengajari ku satu persatu gerakan dari pedang mulai dari menyerang, menangkis dan menjatuh kan lawan dalam sekejap. Dengan cepat tanggap dan ringan dalam mengayun kan pedang aku merasa deja vu. Seakan-akan aku mengulang pelajaran.
"Bagus, kamu cepat tanggap." puji Wasa.
"Ayo lakukan pertarungan lebih serius." ucap nya.
"Ayoo!." seru ku bersemangat.
Aku mulai menyerang nya dengan panduan belajar tadi, berbagai teknik ku lakukan dan dengan perasaan terbuka aku mencoba untuk menang. Berulang kali dia menangkis serangan ku hingga saat dia lengah aku tak sengaja menoreh kan luka di bahu kanan nya.
Pertarungan berhenti, aku melihat darah keluar dari bahu nya tapi mengapa sebuah ingatan asing muncul.
"Ayah tak apa-apa?"
"Tak apa-apa sayang hanya luka kecil saja." ucap laki-laki yang ku panggil ayah.
"Tapi Beryl udah bikin ayah terluka."
"Kamu terlalu khawatir bukti nya ayah gak nangis kalau terluka kecil begini." ucap nya.
"Tapi kan yah tetep aja Beryl ngerasa bersalah."
"Sssttt anak cantik ayah, selain cantik anak ayah juga perhatian dengan luka kecil ayah." ujar nya menenang kan ku.
"Ada apa ini? Sayang kok kamu nangis? Bahu ayah kok terluka?" tanya seorang wanita yang tak terlalu muda.
"Ibuu.... maaf aku gak sengaja melukai bahu ayah dengan pedang itu."
"Ohh sayang... sudah-sudah jangan nangis." ucap wanita yang ku panggil ibu itu.
"Ayah gak apa-apa kok tapi putri kita tercinta malah menangis tak berhenti." sahut ayah.
"Pelayan tolong kotak medis nya." perintah ibu kepada para pelayan.
"Kamu mau obatin luka ayah?" tanya ibu.
"Mau."
Dan ingatan itu berakhir ketika sebuah tangan yang hangat mengusap pipi ku.
"Aku gak terluka parah kok, Ryl. Kamu jangan nangis, ya?" ucap Wasa.
Aku menatap mata nya yang khawatir lalu pandangan ku beralih ke bahu nya yang masih mengeluar kan darah.
"Maaf" hanya kata itu yang dapat ku ucap kan.
Aku merasa perlahan semua ingatan ku akan terkuak dan aku harus secepat nya menanyakan hal itu pada Kakek Genio sekaligus orang yang menjual informasi.