
..."Tuhan memberikan ku berkah Nya diantara nya juga kamu, namun seiring berjalan nya waktu aku mulai menyesali kamu yang ku anggap salah satu berkah."...
...~ Aister ~...
.......
.......
.......
.......
.......
Angin bertiup lebih kencang dari biasa nya, suara gemuruh di langit, cuaca yang mendadak berubah beberapa menit yang lalu dan Wasa yang tak berhenti sedetik pun setelah mengajak ku pergi dari situasi tidak nyaman itu berjalan begitu cepat dengan amarah yang dapat ku rasakan dari tubuh nya.
Wasa yang seperti ini belum pernah ku lihat, Wasa yang dipenuhi amarah membuat ku menjadi takut. Jika dia bisa marah dengan orang lain seperti ini lantas bagaimana dengan ku jika suatu saat tanpa di sengaja aku membuat nya marah?
"Tunggu aku di sini, jangan kemana-mana aku akan mengambil kuda." Pintah nya yang membuat ku mengangguk tanpa membantah.
Sebentar lagi akan hujan, seperti nya aku tak bisa duduk diam menikmati air terjun yang di janjikan Wasa tadi sepulang berlatih kuda.
Tak sampai 10 menit Wasa kembali dengan kuda yang di tunggangi nya. Raut wajah nya yang masih belum berubah dan sebuah jubah di lengan nya, dia memberikan nya pada ku lalu meminta ku melapisi jubah yang sedang ku kenakan dengan jubah lain.
Dan aku mengiyakan nya tanpa sepatah kata pun.
"Ayo kita pergi sebelum hujan turun." Ujar nya dan aku meraih tangan nya untuk naik ke kuda yang ditunggangi nya.
Setelah Wasa memastikan aku duduk dengan nyaman barulah dengan kecepatan penuh dia mengendarai kuda ini hingga sampai di gerbang utama aku melihat seorang pria yang lebih tua dari Wasa turun dari kereta kuda yang berlambangkan keluarga Moizs.
Apa pria yang lebih tua dari Wasa itu adalah ayah nya?
Tapi aku tak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu karna kecepatan kuda yang sedang dibawakan Wasa.
"Wasa, siapa pria yang barusan kita lewati itu?" tanya ku.
"Ayah ku." Jawab nya singkat.
"Kenapa kamu tidak menyapa nya terlebih dahulu? Bukankah kamu sudah lama tidak bertemu dengan ayah mu?" Tanya ku lagi.
"Tidak perlu, kita harus cepat pergi." Jawab nya lagi.
"Kenapa kita harus terburu-buru pergi seperti ini? Makanan yang tadi saja belum habis dimakan." Ujar ku.
Aku tak tahu apa yang membuat nya buru-buru seperti ini. Apa dia ingin cepat pergi karna tidak ingin bertemu ayah nya atau karna masalah tadi yang membuat amarah nya belum mereda?
"Nanti akan ku bawakan makanan yang lebih enak dari makanan tadi, jadi jangan dipikirkan." ucap nya dan aku tak mengatakan apa pun lagi.
Pertanyaan ku tak sepenuh nya dia jawab, aku merasa seakan-akan dia menghindari setiap pertanyaan ku dan memilih untuk memberikan jawaban yang dapat membuat ku bungkam dalam sekejap.
Kuda masih terus melaju dengan kecepatan penuh, tak seperti di awal saat pergi ke kediaman nya Wasa perjalanan pulang kali ini terasa seperti berkedip dan aku tak menikmati nya.
Setelah sampai tepat didepan rumah tua ku sebulir dua bulir air jatuh mengenai wajah ku, aah dalam hitungan beberapa detik ke depan hujan akan turun.
"Masuk lah dan hangat kan tubuh mu, jangan buka pintu kecuali itu aku. Aku akan mengunjungi mu besok, sekarang aku harus pergi karna ada yang perlu ku urus." tutur nya tanpa turun dari kuda.
"Iya, terima kasih dan hati-hati di jalan." Ujar ku.
Tak ada lagi yang ingin ku sampaikan atau ku tanyakan pada nya, mungkin saja Wasa memang terburu-buru dan aku sebagai teman nya tidak perlu untuk tahu.
Dengan senyum yang samar Wasa berbalik arah dan pergi bersama kuda nya jauh ke tempat yang tak ku ketahui, aku memang sengaja menunggu nya hingga tak terlihat lagi di pandangan ku sampai satu dua bulir air yang jatuh tadi berubah menjadi air yang mendadak tumpah ruah, mungkin hujan kali ini akan awet lagi.
Aku masuk ke dalam rumah tua yang ku tempati saat ini, suhu hangat menyambut dengan senang hati. Aku melepas dua buah jubah yang tadi ku kenakan dan mengantung nya di gantungan kayu tepat di atas perapian, lalu aku menghidupkan kembali perapian dan duduk menghangatkan tubuh disekitaran perapian sebelum aku beranjak untuk mandi.
Semua badan ku terasa pegal-pegal setelah latihan berkuda, memang tadi tak terasa tapi setelah sampai rumah rasa pegal nya muncuat tanpa ampun. Seandainya di sini ada balsem mungkin tak akan membuat ku pusing untuk memikirkan bagaimana cara nya pegel-pegel hilang dengan cepat dan ....
"Seandainya ada nenek saat aku pulang ke rumah mungkin aku tak akan merasa kesepian seperti saat ini."
Aku memandangi perapian dengan perasaan sedih, ntah kenapa hanya aku yang kembali ke masa lalu dan apa yang harus ku lakukan dengan masa lalu ku ini.
Dapatkah aku kembali ke masa depan ku lagi?
Perlahan mata ku mulai mengantuk.
"Sayang ..." 🎶
Namun aku mendengar suara nyanyian.
"Matahari sudah terbenam dan para hewan kembali ke sarang nya..." 🎶
Suara yang terasa tak asing dipendengaran ku.
"Bulan akan muncul bersama bintang kekasih nya..." 🎶
Lirik nyanyian yang juga tak asing.
"Angin semakin dingin dan kamu tidur dipangkuan yang terkasih..." 🎶
Aku merasa sesuatu menyentuh kepala ku.
"Tidur lah, tidur lah anak ku sayang..." 🎶
Aku bahkan merasakan sesuatu yang hangat membelai wajah ku.
"Yang terkasih akan menjaga mu..." 🎶
Perasaan ku menjadi hangat.
"Mimpi lah, bermimpi yang indah..." 🎶
Aku mengingat nya, ini suara ibu.
"Tidurlah dan mimpikan surga yang indah...." 🎶
Ada sesuatu yang bergetar di hati ku.
"Selamat tidur anak ku sayang, semoga malaikat melindungi mu dalam mimpi...." 🎶
Dan aku menangis merindukan ibu.
Namun tak lama tangisan ku mulai surut saat aku berada di ruangan yang lain, apa ini mimpi?
Dihadapan ku terbentang dua buah jalan yang sama-sama dihiasi bunga, sebelah kiri Bunga Pansy dan sebelah kanan Bunga Baby's Breath. Di jalan sebelah kiri aku melihat punggung seorang pria yang tak ku ketahui dengan nenek ku disamping nya sedangkan di jalan sebelah kanan aku hanya melihat duplikat diri ku sendiri yang sedang menangis.
Bunga Pansy yang melambangkan ingatan dan Bunga Baby's Breath yang melambangkan cinta sejati namun yang berada dihadapan ku saat ini membuat ku bingung.
Apa maksud dari mimpi ini?
"Beryl, kemarilah nak." ujar nenek.
Aku melirik ke arah nenek yang tengah membuka kedua tangan nya dengan lebar, seakan-akan ingin memeluk ku.
"Aku merasa sangat kesepian." Lirih duplikat diri ku sendiri, pandangan ku beralahi ke jalan sebelah kanan.
Terlihat menyedihkan diri ku disana.
"Apakah aku harus memilih?" Tanya ku seorang diri.
"Iya, jadi kemarilah Beryl." Jawab pria yang hanya terlihat punggung nya saja oleh ku.
"Rasa nya sangat menyesakkan" lirih duplikat diri ku lagi.
"Tapi kenapa? Kenapa aku harus memilih?" Tanya ku yang tak mengerti apa yang terjadi dihadapan ku.
"Ada yang belum selesai nak, ada yang masih harus di bereskan." jawab nenek dengan wajah yang berubah menjadi sedih.
"Maksud nya apa? Apa yang belum selesai? Apa yang masih harus di bereskan?"
"Kembalilah, kamu akan tahu kebenaran nya." Jawab laki-laki itu lagi.
"Tolong jangan tinggalkan aku!" Teriak duplikat diri ku, dengan wajah sedih yang dibanjiri air mata itu aku merasakan sesak.
Aku tersiksa melihat duplikat diri ku yang menangis tanpa ku ketahui sebab nya dan aku juga merasa sangat berat jika melihat wajah nenek yang berubah menjadi sedih.
Apakah dua jalan ini penentu nasib ku? Kenapa untuk memilih begitu sangat sulit ku lakukan?
"Tak ada waktu lagi, kemarilah Beryl." Ujar laki-laki itu.
"Aku mohon jangan pergi!" Teriak histeris duplikat diri ku.
Namun langkah kaki ku bergerak sendiri dengan ringan ke arah jalan yang dihiasi Bunga Pansy, wajah nenek yang tadi terlihat sedih berubah menjadi senang tapi saat langkah kaki ku hampir mendekati nenek dan laki-laki itu mereka menghilang begitu saja dari hadapan ku.
Dan aku terbangun dari tidur ku.
Aku bangun dari posisi tidur ku tadi lalu berjalan menuju jendela yang tertutup, aku membuka nya dan melihat fajar yang mulai meninggi.
Aku melirik ke pakaian yang sedang ku kenakan, ternyata aku ketiduran dan tak sempat mandi.
"Aah karna tubuh ku yang pegal-pegal tadi membuat ku sampai ketiduran dan mendengar ilusi nyanyian ibu juga mimpi yang aneh itu."
Aku menghela nafas dengan kasar, menyisiri rambut ku kebelakang dengan jari-jari tangan dan memikirkan kembali mimpi aneh tadi.
Sejauh ini aku mempercayai kalau mimpi ada makna nya, namun mimpi tadi apa makna nya? Siapa laki-laki yang bersama nenek?
Tapi tak ada yang bisa ku lakukan, kemana harus mencari tahu makna mimpi itu, tidak mungkin aku ceritakan pada Wasa dan kemungkinan besar dia tak mengetahui nya juga.
Karna semakin ku pikirkan semakin membuat ku pusing, jadi ku putuskan untuk menghiraukan mimpi itu sementara dan bergegas bersiap-siap untuk bekerja di kedai bertiang merah, aah tidak maksud ku di kedai Kakek Genio.
Aku membersihkan tubuh ku 2 kali lebih cepat dari biasa nya, fajar semakin tinggi dan aku tak ingin telat kerja. Setelah selesai aku memakai pakaian berwarna coklat pudar lalu memakai jubah yang telah ku kering kan diatas perapian kemarin malam dan kemudian berjalan ke arah Pasar Informasi.
"Sudah makan, nak?" Tanya kakek sebelum pergi berbelanja.
"Mm belum kek."
"Kenapa belum?"
"Ngak sempat makan tadi, kek." Jawab ku jujur.
"Ya sudah, itu di dapur ada Sandwich isian telur, makan itu. Lain kali sebelum ke sini makan lah dulu, apa kamu tau yang terjadi jika tubuh tidak diberi makan saat pagi hari?" Lanjut kakek lagi.
Aku tahu, kalau aku lalaikan akan menjadi penyakit, saking tak ingin telat untuk bekerja aku melupakan makan di pagi hari.
"Iya kek." ujar ku patuh.
Lalu kakek pergi dan meninggalkan kedai nya dengan ku sendiri. Sebenarnya tadi aku ingin bertanya mengenai Olaya yang tidak terlihat tapi sedetik kemudian aku ingat Olaya orang yang sibuk.
"Dia kan bekerja di perpustakaan istana yaa."
Aktifitas ku hari ini seperti awal ku bekerja, tak ada yang spesial, tak ada juga laki-laki yang bernama Ol itu. Kenapa juga aku harus menyebut nama laki-laki yang baru ku kenal itu.
Aku melayani pelanggan, aku akan mengantarkan pesanan makanan maupun pesanan informasi dan itu berlangsung hingga siang hari. Setelah nya aku diperbolehkan pulang.
Saat aku baru melangkah kan kaki keluar dari kedai kakek, aku melihat punggung laki-laki yang baru ku kenal tengah melihat-lihat bahan makanan. Aku ragu jika laki-laki itu adalah pria yang ku temui saat hujan jadi aku menghiraukan nya dan berjalan melewati nya.
"Beryl!!" Teriak seseorang.
Langkah ku terhenti, ku rasa yang aku pikirkan tadi itu benar, suara tak asing ini adalah dia.
"Waah, tak disangka kita bertemu lagi disini yaa." Ujar nya mendekati ku.
"Kamu masih ingat aku kan? Aku Ol." Lanjut nya.
Tuh kan, benar.
"Iya, tapi bukan nya kamu tau ya kalau aku bekerja disini?"
"Itu... Aku lupa." Cengir nya.
"Pendek sekali ingatan mu" ejek ku bercanda.
Dan Ol hanya menanggapi perkataan ku dengan tawanya.
"Kamu mau kemana?" tanya pada ku.
"Aku mau pulang."
"Waah kebetulan sekali, aku juga ingin pulang. Ini sudah selesai berbelanja." Ujar nya sambil memperlihatkan belanjaan yang dibeli nya.
Aah aku lupa, aku juga harus berbelanja bahan makanan untuk ku makan hari ini.
Aku meninggalkan Ol begitu saja dan berjalan ke arah pedanggang yang menjual makanan segar.
Enak nya makan apa ya hari ini?
Pandangan ku tertuju pada jamur tiram dengan udang, aku terpikir untuk membuat Sup Jamur Udang Pedas yang juga biasa ku buat saat di masa depan. Olahan makanan yang membuat ku menyukai jamur.
"Hanya itu saja?" Tanya Ol menyusul ku.
"Iya."
"Sedikit sekali, apa ini cukup bagi mu?"
"Sangat cukup."
Aku membayar 15 koin logam untuk makanan yang ku pilih ini dan berjalan ke arah jalan pulang juga Ol yang menyusul ku.
"Cepat sekali jalan mu." tutur nya.
"Tidak"
"Aku pikir kamu itu tuan bangsawan namun aku berpikir berulang kali kalau kamu bangsawan pasti tak akan mungkin berbelanja bahan makanan langsung ke pasar nya." Lanjut ku.
"Benar yang kamu bilang." Jawab nya.
"Benar apa? Benar kalau kamu tuan bangsawan?" Tanya ku memastikan.
"Iya, aku memang tuan bangsawan."
Mendengar pengakuan nya mendadak aku berhenti, aku melirik dari atas sampai ke bawah dan yang ku dapat hanya lah dia memang terlihat cocok untuk seorang bangsawan.
"Tapi kenapa tuan yang berbelanja? Kenapa tidak meminta pelayan di rumah tuan?" tanya ku, aku tak ingin dianggap tak sopan karna itulah aku mengganti panggilan aku kamu menjadi tuan dan saya.
"Kenapa panggilan nya berubah? Kamu tak perlu bersikap seperti itu pada ku." tutur nya.
"Tapi anda adalah bangsawan sedangkan saya rakyat biasa, sangat tak pantas jika saya bersikap seperti tadi. Mohon maafkan saya tuan." ujar ku tulus.
"Haaah.... Aku tak masalah jadi panggil aku seperti tadi saja."
"Baiklah, Ol." Ujar ku mengalah.
"Bagus. Kamu pernah mendengar tentang legenda Aister?" tanya nya dan kami melanjutkan langkah kaki.
Aister? Seperti nya aku pernah mendengar nama itu.
"Tidak, aku tak pernah mendengar legenda itu."
"Benarkah? Padahal legenda itu sangat terkenal di masayarakat." Ucap nya.
"Memang nya legenda seperti apa?" tanya ku penasaran.
"Jadi legenda Aister ini adalah awal mula nya dibangun Kerajaan De Ramor yang sekarang dengan Raja pertama nya adalah Raja Marza Davon Aister namun saat itu disesuaikan dengan nama keluarga yang memerintah jadi dulu nya bernama Kerajaan Aister. Tapi bukan Raja Marza yang mendirikan kerjaan ini melainkan wanita bertangan kanan cahaya yang mendirikan Kerajaan Aister. Kamu tahu kenapa hanya tangan kanan nya saja yang disebutkan.?"
"Aku tak tahu, tapi kenapa?"
"Itu karna tangan kiri nya tak mengeluarkan cahaya atau kata lain nya tak berfungsi sebelah. Namun dari orang-orang terdahulu mengatakan kalau tangan yang kiri nya berfungsi tapi bukan mengeluarkan cahaya melainkan asap hitam yang memekat." Jawah Ol.
"Apa wanita itu punya kekuatan?"
"Tidak, wanita itu hanya memiliki berkah dari Tuhan sebagai tanda kalau dia adalah wanita spesial yang Tuhan ciptakan." Jawab Ol.
"Tapi jika dipikirkan kembali bukankah Tuhan menciptakan sesuatu pasti ada maksud nya?" tanya ku.
"Tentu saja, tapi mengenai kedua tangan itu aku tidak tahu." tutur nya.
"Mau dengar lebih lanjut?" tanya nya pada ku dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban iya.
"Setelah Kerajaan Aister berdiri Raja Marza memerintahkan kerajaan sendirian tanpa Ratu hingga Kerajaan Aister berkembang sangat pesat datanglah seorang utusan kerajaan lain yang menawarkan pernikahan politik dengan Raza Marza. Raza Marza setuju dan terjadilah pernikahan dua kerjaan, dari pernikahan itu lahirlah dua orang pangeran dan satu orang putri." ucap Ol.
"Lalu bagaimana dengan wanita Aister itu?" tanya ku yang sepanjang cerita Ol tak menyinggung lagi soal itu.
"Berita tentang wanita Aister itu tak pernah terdengar lagi, ada yang bilang kalau wanita itu mengembara lagi ke penjuru lain ada juga yang mengatakan kalau dia sudah meninggal dan yang mana yang benar aku tak tau." Tutur nya.
"Bukankah aneh berita tentang nya menghilang begitu saja?"
"Iya memang terdengar aneh tapi fakta nya begitu."
"Apakah Raja Marza tidak memiliki nama keluarga? Maksud ku kenapa harus memakai nama Aister sedangkan wanita itu tidak menjadi Raja. Bukankah mereka tak memiliki ikatan? Atau mereka memiliki ikatan?" Tanya ku yang makin penasaran.
"Raja Marza memiliki nama keluarga tapi sepanjang cerita legenda mengenai ini tak pernah ada yang menyebut nama keluarga nya dan itu dianggap tabu. Wanita Aister memang sudah dikenal sebagai wanita pengembara, Beryl. Jadi mungkin saja mereka bertemu saat wanita Aister itu sedang mengembara hingga setuju membuat sebuah kerajaan. Dan kamu jangan bilang ke siapa-siapa ya, ada satu fakta yang tersembunyi dari legenda ini." pinta Ol.
"Apa?"
"Raja Marza dan wanita Aister adalah sepasang suami istri." bisik nya pada ku.
"Dari mana kamu tau?"
"Dari buku kuno yang tak sengaja ku temukan." Jawab Ol.
Aku terkejut mengetahui fakta itu, memang legenda nama nya tapi jika terdapat fakta seperti itu bukankah hal itu dapat dipercaya?
Aku begitu tertarik mengenai legenda berdiri nya Kerajaan Aister, ku pikir diawal legenda ini adalah legenda biasa yang menjadi penghantar tidur anak-anak yang artinya hanya sekedar cerita tanpa fakta.
Tanpa terasa aku telah sampai tepat didepan rumah tua ku, perjalanan dari Pasar Informasi tadi seperti memejamkan mata lalu berkedip karna legenda yang diceritakan Ol.
"Aku ingin bertanya satu hal lagi mengenai legenda itu." Ujar ku pada Ol.
"Boleh, lebih pun boleh." Jawab nya dengan senang hati.
"Tidak, aku hanya ingin bertanya satu hal saja. Kamu pasti sangat sibuk." sanggah ku, aku pun tak ingin terlalu berlama-lama dengan orang yang baru ku kenal.
"Apakah Raja Marza dengan wanita Aister memiliki anak?" lanjut ku.
"Iya mereka memiliki anak setelah bertahun-tahun menikah tapi tidak ada yang mengetahui siapa anak nya." Jawab Ol.
Apakah anak mereka masih hidup? Tapi tidak mungkin jika anak mereka hidup hingga saat ini, namun keturunan nya pasti masih hidup dengan memikirkan hal itu membuat perasaan ku menjadi berdebar tanpa sebab.
Matahari perlahan bersembunyi dibalik awan, awan yang putih tadi perlahan bergeser menjadi awan hitam, apakah sebentar lagi akan turun hujan?
"Seperti nya akan turun hujan" sahut Ol.
"Iya, seperti nya." ucap ku.
"Kalau begitu aku pamit, senang berbincang dengan mu, Beryl!" ujar nya dengan senyum yang mengembang.
Dan aku hanya membalas ucapan nya dengan senyuman yang samar hingga dia terlihat jauh dari pandangan ku baru aku masuk kedalam rumah tua yang masih menyambut ku dengan hangat.