Aksaberyl

Aksaberyl
Pria Bermata Amber



..."Terjadinya kehancuran sebuah keluarga itu diawali rasa iri lalu di lanjutkan rasa egois dan berakhir jadi fitnah."...


...~ Hera Yart lavel ~...


.......


.......


.......


.......


.......


10 menit yang lalu saat aku sedang berbicara mengenai pekerjaan Olaya dan istana kami kedatangan seorang pelanggan yang sedari tadi berdiri di dekat pintu tanpa aku maupun Olaya sadari.


Sekarang masih pagi dan pasar ini belum buka apalagi kedai tempat ku sekarang bekerja tapi karna seorang pelanggan kami terpaksa membuka kedai ini ala kadar nya. Dan Olaya menunjukan pada ku bagaimana cara melayani pelanggan.


"Selamat datang di kedai ini. Ada yang bisa di bantu?" ujar Olaya.


Oke, yang pertama harus ku lakukan untuk menyambut pelanggan berarti harus berujar ramah seperti Olaya.


Pelanggan tadi berjalan searah jarum jam dua belas dan duduk di meja yang belum di bersihkan, aku cukup khawatir takut nya pelanggan itu tak nyaman jika makan di meja yang belum di bersihkan. Tapi Olaya lebih dulu bertindak dan memberi tahu pelanggan itu daripada aku, tak apa-apa Olaya kan menunjukkan ku cara ke-dua melayani pelanggan.


"Maaf tapi meja ini belum di bersihkan, mau kah anda berpindah tempat pada meja yang sudah kami bersihkan?" ujar Olaya ramah.


"Ya." jawab pelanggan ini singkat.


Pelanggan ini berpindah dengan cepat namun diantara meja-meja yang di bersihkan dia memilih duduk di meja yang tepat disamping ku berdiri.


"Hallo, selamat datang di kedai kami." ucap ku canggung, aku masih belum terbiasa.


Aku sedikit membungkuk kan tubuh di hadapan nya dengan kedua tangan ku pegang sejajar perut, seperti Olaya.


Saat aku hendak menegakkan kembali tubuh ku dan melihat pada nya netra ku terkunci, seakan terbius oleh mata nya dalam beberapa saat fokus ku teralihkan.


Warna mata amber yang indah di padukan dengan almond eyes dan alis mata yang tebal, dalam hati ku berdecak kagum akan ciptaan Tuhan ini.


Pertama kali aku melihat warna mata amber seperti ini, pantesan dari jauh tadi mata nya tampak bercahaya dan saat melihat dari dekat mata nya benar-benar indah.


"Indah sekali" tutur ku tanpa sadar.


"Indah?" tanya seseorang tanpa memperhatikan siapa yang bertanya pada ku.


"Iya warna mata nya indah sekali." seru ku senang


"Kalau begitu lihatlah secara keseluruhan." ucap orang itu lagi.


Aku menghiraukan perkataan orang itu tapi pelanggan dihadapan ku ini membuka tudung jubah nya dan memperlihat kan pada ku wajah nya.


Wajah oval yang mulus dengan gaya rambut Comma Hair juga tatapan nya yang berbinar membuat ku terpesona, orang ini tampan sekali.


"Ya Tuhan, ciptaan mu ini sangat sempurna!" Aku refleks berteriak girang.


Pertama kali aku lihat lelaki tampan seperti ini bahkan Wasa kalah dari nya, gen apa yang dia miliki hingga rupawan.


Namun, entah mengapa wajah nya terasa familiar.


"Ryl... Beryl.. Hei." ujar Olaya dan menepuk pundak ku.


Aku kaget saat Olaya menepuk kuat pundak ku. Wajah nya tampak tak senang dan Olaya melirik ke arah pelanggan yang ada di hadapan ku. Seketika aku ingat hal yang tanpa sadar ku lakukan tadi.


Aah Beryl!!!


Kenapa sih harus kecoplasan gitu, nih mulut emang suka ngomong tiba-tiba. Mana pelanggan laki-laki dihadapan ku ini menatap ku dari tadi.


Aku malu, malu sekali. Seandainya ada lubang pasti aku sudah ngumpat di sana.


Aku menyembunyikan raut wajah malu ku dari Olaya maupun pelanggan laki-laki ini dengan menunduk memandang lantai kayu, sungguh aku gak habis pikir dengan yang ku katakan tadi.


Seperti saat bertemu Wasa waktu itu dan pelanggan laki-laki ini, ternyata aku lemah pada wajah tampan.


"Memang nya wajah ku ada dilantai kayu ini ya?" tanya pelanggan laki-laki ini.


Dia memiringkan kepala nya dan melihat ku dari bawah, tepat saat wajah ku dan wajah nya berhadapan hanya terhitung beberapa centi meter lagi wajah kami akan menempel.


Aku langsung menegakkan kepala ku dan memandang ke langit-langit kedai, berusan itu posisi gawat! Dada ku ... berdegup dua kali lipat gara-gara orang ini.


"Kenapa? Sekarang wajah ku ada di langit-langit kedai?" tanya nya lagi.


Dia berdiri dan mengikuti posisi ku yang sekarang dengan sisi tangan nya dan tangan ku menempel. Aku menarik tubuh ku dengan cepat dan menjauh dari pelanggan laki-laki ini.


"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya nya lagi dan kembali duduk ditempat nya tadi.


Dengan cepat aku menggelengkan kepala ku.


"Bukan, bukan anda yang salah tapi saya yang salah. Saya minta maaf tuan." tutur ku pada nya karna aku tak sopan apalagi pada pelanggan kedai ini.


Tak ada tanggapan, dia tak mengatakan apa-apa. Apa dia tidak mau memaafkan ku? Kalau hal ini diketahui kakek pemilik kedai pasti aku akan di marahi, memikirkan hal itu saja membuat wajah ku murung.


"Tuan, maafkan atas ke tidak sopanan nya. Dia masih anak baru dan perlu belajar lebih." Ucap Olaya membantu ku.


Olaya, maaf merepotkan mu dihari pertama ku bekerja.


"Baiklah." jawab pelanggan laki-laki itu.


"Terima kasih tuan." ujar ku dan Olaya bersamaan.


Syukurlah, pelanggan laki-laki ini bermurah hati memaafkan ke tidak sopanan ku. Aku janji lain kali hal seperti ini tak terjadi, pokok nya aku gak boleh lagi lemah pada wajah tampan!


"Kalau begitu tuan mau pesan apa?" tutur Olaya lagi.


Aku tak mendekat ke arah Olaya maupun pelanggan laki-laki itu, aku hanya berdiri diam bagaikan patung tak jauh dari mereka. Yang ku lakukan hanya memperhatikan Olaya seperti diawal tadi.


"Informasi." ujar pelanggan laki-laki itu.


Informasi? Informasi seperti apa yang pelanggan laki-laki ini ingin kan?


"Sayang sekali tuan pemilik kedai ini sedang tidak berada disini." jawab Olaya tegas, sekarang suara Olaya tak seramah tadi.


Apa ini cara ke-tiga melayani pelanggan? Menjawab tegas bila ada pelanggan memesan informasi?


"Ooh... Kalau begitu satu Sandwich Tuna dan Teh Lemon ." ujar nya lagi.


"Baik, mohon ditunggu sebentar tuan." tutur Olaya ramah seperti tadi dan berbalik arah menuju dapur.


Aku mengikuti Olaya masuk ke dapur dan membantu menyiapkan makanan yang diminta pelanggan laki-laki itu. Tapi Olaya langsung menggenggam lengan ku.


Aku tahu hal seperti ini akan terjadi, pasti aku dimarahi seperti dulu saat aku bekerja di kantor.


"Kok bisa sih kamu seperti itu?" tanya Olaya.


"Aku juga gak tahu kenapa bisa refleks gitu tapi lain kali aku tak akan seperti itu pada pelanggan lain nya." jawab ku, toh aku sudah berjanji dan tak akan mengingkari nya.


"Aku sampai kaget tahu kamu kayak gitu, memang dia tampan tapi kita kan gak tahu dia berbahaya atau tidak. Apalagi dia tadi pesan informasi, gimana coba kalau kamu yang diincar nya?" tutur Olaya.


Incar? Aku? Mendadak aku merinding mendengar ucapan Olaya.


"Tapi.. Tapi kan aku udah minta maaf sama dia masa dia mau incar aku, mungkin aja dia mau tahu soal sesuatu. Berpikiran positif aja, Olaya." ujar ku.


Sebenarnya aku takut juga dengan yang di ucapkan Olaya tapi hal buruk tak akan terjadi bila aku berpikiran positif, aku yakin.


"Ya semoga aja gak gitu." ucap Olaya.


"Ayo buat pesanan nya" ujar Olaya, aku mengangguk setuju.


Kami membagi dua pekerjaan agar cepat selesai, Olaya membuat sandwich tuna sedangkan aku menyiapkan teh lemon. Tak ada perbincangan di antara kami, hanya ada suara pisau yang beradu dengan talenan kayu dan suara sendok yang bersenggolan dengan cangkir kayu.


Tak sampai 10 menit makanan yang di pesan sudah jadi dan Olaya mengantar nya ke meja pelanggan laki-laki itu. Dan aku sekarang membereskan peralatan yang baru dipakai menghindari pelanggan laki-laki itu.


Awal nya Olaya yang menyuruh ku mengantarkan pesanan nya tapi aku menolak dengan alasan aku ingin beres-beres didapur, memang benar sih aku tak bohong pada Olaya.


Aku masih memikirkan yang terjadi tadi. Pertama aku mengalami dejavu, kedua aku terpesona dan ketiga aku merasa familiar, aneh nya aku mengalami ketiga hal itu pada seorang laki-laki.


Apa dulu aku pernah bertemu dengan nya? Tapi dimana?


Aku memutar otak untuk mengingat kembali ingatan di tubuh masa lalu ku ini tapi yang ku dapat hanya rasa sakit kepala.


Mengapa bisa sih ingatan tiba-tiba seperti waktu itu kembali saat aku tak meminta nya dan saat aku ingin meminta ingatan ku kembali malah tidak muncul.


Sebenarnya ada apa dengan ku di masa lalu? Sampai-sampai ingatan ku tumpang tindih.


Aku menghela nafas dengan kasar, jika aku memaksa untuk berpikir lebih keras lagi mungkin rasa sakit kepala ku akan bertambah berkali-kali lipat.


Aku yang sibuk berpikir dan membersihkan alat tak mendengar panggilan dari kakek pemilik kedai ini sampai sebuah cubitan di tangan ku membuat ku mengelu sakit.


"Aduh sakit.." seru ku.


"Itu hukuman untuk anak muda yang tidak mendengarkan ucapan orang tua." ujar kakek di belakang ku.


Aku membalikan tubuh dan melihat ke arah nya yang sedang berdiri dengan kedua tangan dilipat ke dada nya, sekilas aku melihat nenek yang berdiri persis seperti kakek pemilik kedai ini.


Nenek pasti sudah tenang disana.


"Ada apa? Kenapa melamun?" tanya kakek.


"Eeh gak ada apa-apa, kek." jawab ku.


"Yang benar? Kata Olaya kamu melakukan kesalahan pada pelanggan tadi, benar?"


Ternyata Olaya sudah bilang ya..


"Ya sudah lah, pelanggan nya juga gak komplen." ujar kakek.


"Bentar lagi ke depan ya, pasar udah mulai buka." lanjut nya.


Aku hanya mengangguk dan merasa bersalah walau itu bukan masalah besar dan disengaja tapi tetap saja citra ku buruk di hari pertama kerja.


Setelah selesai beres-beres di dapur aku langsung pergi ke luar, yang pertama kali ku lihat saat keluar dari dapur adalah meja tempat pelanggan laki-laki itu duduk tadi. Tapi sekarang laki-laki itu beranjak pergi dari kedai ini dan aku terus memperhatikan punggung nya yang pergi menjauh.


"Kok diam?" tanya Olaya disamping ku.


"Aah gak apa-apa, aku duluan ya mau beresin meja tadi." tutur ku dan berjalan meninggalkan Olaya.


Aku membereskan meja tempat pelanggan laki-laki tadi namun saat aku mengangkat piring bekas makanan nya aku menemukan sebuah gelang manik kayu yang di sisi dalam gelang nya bertuliskan OL.


Punya siapa ya? Apa punya pelanggan laki-laki tadi? Apa dia sudah pergi jauh?


Aku berlari ke luar kedai dan melihat sekitar untuk mencari pelanggan laki-laki tadi tapi aku tak dapat menemukan nya di tambah orang-orang semakin ramai. Jadi aku memutuskan kembali dan menyimpan gelang ini.


Mungkin saja aku bisa bertemu dengan nya lagi, siapa tahu ini gelang nya.


"Cepat sekali pergi nya." ujar ku lirih.


"Lagi apa di luar, Ryl?" tanya Olaya menghampiri ku.


"Aku hanya mencari sesuatu tadi, ayo masuk." ucap ku dan melangkah mendahului Olaya.


Tak berapa lama setelah aku dan Olaya membersihkan kedai ini beberapa pelanggan lain masuk lalu memesan makanan maupun informasi.


Kakek juga ikut membantu pekerjaan ku, untuk pelanggan yang menginginkan informasi akan di beri arahan sama Olaya menunggu di salah satu ruangan di belakang kedai ini.


Aku masih memperhatikan cara ke-empat melayani pelanggan dari Olaya bila ada pelanggan yang menginginkan informasi.


"Setiap ada pelanggan yang menginginkan informasi kamu langsung bawa mereka ke belakang ya, kakek ada di belakang." pesan Olaya pada ku tadi.


Tak terasa waktu kerja ku telah selesai, tepat siang hari aku sudah di perboleh kan pulang oleh kakek pemilik kedai ini. Rasa nya waktu berjalan cepat bila aku bekerja.


"Ini gaji kamu untuk hari ini." kakek menyerahkan 1 koin perak pada ku.


"Kenapa cepat sekali, kek?" tanya ku, aku masih belum mengambil gaji yang di berikan kakek karna ku rasa gaji ini terlalu cepat.


"Ambil lah atau kalau tak di ambil hari ini gaji mu akan hangus." ujar nya santai.


"Mana bisa begitu, kek." tutur ku cemas, gak mungkin kan aku kerja tapi uang gaji nya hangus karna aku gak ambil sekarang.


"Bisa lah, kan kamu kerja sama kakek. Ambil atau tidak?" lanjut kakek.


"Iya kek."


Aku langsung mengambil gaji pertama ku dari tangan kakek dengan perasaan senang walau niat ku tadi ingin mengambil nya sekali dalam seminggu biar ada 3 koin perak yang ku terima.


"Ya sudah kalau begitu pulang sana." ujar kakek tapi tangan kakek mendarat ke kepala ku lalu mengelus dengan lembut.


Aku yang merasa kaget dan asing dengan perlakukan baik kakek dengan refleks tubuh ku mundur menjauh dari nya.


"Hahahah... Kakek terbiasa mengelus kepala Olaya, pasti kamu kaget ya." ucap nya canggung.


"Iya kek, kalau begitu saya pergi dulu." tutur ku sopan.


Aku memaklumkan perlakuan kakek pemilik kedai tadi apalagi jika itu kebiasaan nya pada cucu nya, sama seperti nenek ku dulu.


"Hati-hati!" seru kakek di belakang ku.


Aku mengangguk dan melanjutkan jalan ku keluar dari pasar ini, rencana ku tadi sebelum pulang ke rumah aku akan mampir untuk beli bahan makanan tapi tadi Olaya memberi ku lima potong Sandwich isian daging giling pada ku.


Awal nya aku menolak tapi kata Olaya yang menyuruh adalah kakek maka aku terima. Aku merasa kakek maupun Olaya adalah orang baik.


Aku keluar dari pasar sesuai arahan Wasa waktu itu lalu bertemu Pohon Oak, dari sini aku mulai demam karna menunggu Wasa dan hujan-hujanan.


Aku terus berjalan setelah melalui Pohon Oak itu tapi tiba-tiba cuaca berubah, awan yang tadi putih menjadi abu-abu yang menandakan akan turun hujan. Dan benar saja setelah kilat menyambar hujan pun turun dengan deras nya lalu aku berlari dari guyuran hujan yang menyerang mendadak.


Aku berlari kalang kabut untuk menemukan tempat berteduh tapi sejauh mata ku memandang tak ada satu pun tempat berteduh hingga suatu bayangan besar di belakang ku menghalau hujan untuk turun membasahi diri ku menggunakan sebuah kain.


Aku melihat siapa orang ini dan betapa terkejut nya aku bahwa orang yang melindungi ku dari guyuran air hujan adalah pelanggan laki-laki di kedai tadi.


Ya Tuhan, mengapa aku bisa bertemu lagi dengan nya di situasi seperti ini?


"Berjalan lah sebentar lagi, kita akan menemukan tempat berteduh." bisik nya di dekat telinga ku.


Seakan terhipnotis aku mengikuti nya begitu saja sampai ke sebuah gubuk kosong yang tak berpenghuni.


"Duduk lah disini." pinta nya. Setelah dia menyuruh ku duduk, aku teringat akan sesuatu.


"Loh kok anda ada disini?" tanya ku.


"Ya sedang berteduh sama seperti mu." ujar nya santai lalu duduk disamping ku.


Jubah yang di pakai nya tadi di jemur nya pada kayu yang tepat berada di atas kepala ku dan diri nya.


"Kamu gak kedinginan apa pakai jubah itu?" tanya nya.


Ada apa dengan jubah ku?


Aku mencoba meraba jubah yang ku pakai dan ternyata sudah basah bagian belakang dan bagian lutut. Dengan cepat aku melepaskan nya lalu menjemur nya seperti yang di lakukan pelanggan laki-laki di samping ku ini.


Jubah ku yang hangat basah kena hujan lalu angin dingin yang bertiup saat hujan membuat ku merasa kedinginan dan satu-satu nya cara yang bisa ku lakukan hanya lah menggosok-gosokan tangan ku lalu menempel kan pada wajah ku.


"Kamu kedinginan? Aku bisa membantu mu menghangatkan tubuh." tutur nya santai tapi aku yang mendengar nya merasa ambigu.


"Maksud anda apa?" tanya ku, aku tak ingin salah paham dalam mengartikan ucapan nya.


"Hahaha..." tawa nya.


Lelaki ini di tanyain malah tertawa.


"Saya serius." ujar ku kesal.


"Maksud ku telapak tangan, aku bisa menggosok-gosokan telapak ku lalu menyalurkan nya pada mu." jelas nya.


"Syukurlah kalau begitu tapi terima kasih saya bisa sendiri." ujar ku.


Walau niat nya baik tapi dia orang asing juga aku tak mengenal nya. Aku mengeser posisi duduk ku perlahan-lahan agar dia tak sadar namun dia tiba-tiba menoleh kepada ku dan membuat ku kaget. Tapi dia tak mengatakan apapun hanya menatap ku cukup lama.


Oh tidak, aku akan salah tingkah bila dia menatap ku lebih lama lagi.


"Ada apa? Mengapa menatap saya seperti itu?" ujar ku menatap nya tajam.


Tenang-tenang, wajah nya memang tampan tapi ku mohon jangan berdebar.


"Beryl..." ucap nya lirih.


Aku tersentak ketika dia menyebut nama ku walau kecil tapi aku masih bisa mendengar ucapan nya, aku menatap nya bingung.


Bagaimana bisa dia mengetahui nama ku?


"Aku OL, kamu Beryl kan?" tanya nya.


OL?


Bukan kah itu tulisan yang ada di gelang manik kayu yang ku temukan di kedai tadi? Punya dia kah?


Aku langsung mengeluarkan gelang manik kayu dari saku baju ku lalu menunjuk kan gelang itu pada nya.


"Ini punya kamu?" tanya ku.


Dia menggeser kan posisi duduk nya lebih dekat kepada ku untuk melihat sesuatu yang ku tunjukan pada nya, tapi ku mohon jangan terlalu dekat!


"Iya, kamu dapat dari mana?" jawab nya.


"Saya menemukan nya tepat di bawah piring makan anda tadi, ini saya balik kan." tutur ku lalu menyerah kan gelang manik kayu pada nya.


"Pertanyaan ku tadi belum kamu jawab, kamu benar Beryl?" ulang nya lagi.


"Iya, tapi bagaimana anda bisa tahu nama saya?" tanya ku.


Yang mengetahui nama ku disini hanya Wasa, Kakek pemilik kedai dan Olaya cucu nya.


Lalu bagaimana bisa dia mengetahui nama ku? Atau jangan-jangan seperti yang di katakan Olaya tadi? Aku cemas, mau apa dia ?!


"Kamu santai aja, aku gak ada niat buruk kok. Aku tahu nama mu dari ucapan teman mu tadi, bukan kah dia memanggil mu dengan panggilan Beryl?" Jawab nya.


Aah yang tadi ya, ternyata aku sudah salah paham dan berpikiran negatif pada nya.


"Maaf kan saya." ucap ku tulus.


"Ayo kita berteman lalu aku akan memaafkan mu, bagaimana?"


Suara nya berubah menjadi lebih lembut, mata nya yang menatap ku tenang dengan senyum mekar nya membuat fokus ku teralihkan.


Tak ada salah nya kan aku menambah koneksi pertemanan? Aku juga tak merasakan niat jahat dari ucapan nya di tambah lagi dengan cara nya melihat ku, aneh memang tapi perasaan ku mengatakan dia tak berbahaya.


"Baiklah." ujar ku setuju.


"Panggil aku OL saja ya mulai sekarang dan jangan berbicara formal seperti itu pada ku." pinta nya dan aku hanya mengangguk mengiyakan permintaan nya.


Aku menatap ke arah hujan yang berlomba-lomba jatuh ke tanah, perasaan ku ntah mengapa membaik setelah menyetujui permintaan nya. Aku merasakan angin segar bertiup ke arah ku, perlahan perasaan senang menyapa ku.


"Sekarang aku dapat menemui lagi." lirih OL yang tentu saja aku tak mendengar nya karna tertutupi suara hujan.