
..."Mereka bilang akan membebaskan ku dan istri ku, nyata nya itu hanya tipuan untuk membuat ku jatuh lebih dalam lagi dan aku menyesal telah kehilangan yang paling berharga"...
...~ Si Mata Satu ~...
.......
.......
.......
.......
.......
Kamu tau apa yang paling ku takuti saat memasuki rumah tua ini? Ya, kesepian. Kesepian yang terus datang saat aku masuk sendirian, kesepian yang lebih sepi dibanding saat aku berada di masa depan.
Aku meletakkan bahan makanan yang ku beli tadi diatas meja dapur, sebelum memasak aku ingin mencuci wajah ku terlebih dahulu, menghilang kan rasa kesepian yang terus berputar di kepala dan berharap hal itu akan efektif.
Wasa belum datang, aku tak ingin terlalu menunggu nya walau dia sendiri yang mengatakan hari ini akan datang setelah kejadian tidak mengenak kan itu. Tapi tetep saja aku berharap dia datang untuk mengusir kesepian ku dan aku egois.
Aku terus berpikir setelah pindah dimensi ke masa lalu, kenapa aku pindah ke masa lalu? ada apa dengan masa lalu ku? apa yang harus ku cari dari masa lalu ku? adakah hal yang belum terselesaikan disini? kenapa hanya aku saja yang kembali ke masa lalu? kenapa di masa lalu pun aku harus sendirian?
Setelah nya bulir air mata ku jatuh begitu saja.
Aku merutuki diri ku, jika seandainya aku tidak pergi ke tempat wisata itu, jika seandainya aku tidak libur pada hari itu, aku tak kan kembali ke masa lalu.
Kejadian tak mengenak kan setelah aku pindah ke masa lalu terus berputar di kepala ku, banyak kejadian yang mengancam nyawa ku dan aku tak tau seberapa banyak hal itu akan terjadi.
"Kamu kenapa Beryl?"
Selagi aku merutuki diri dan menangis ternyata Wasa sudah datang dan memperhatikan ku, aku tak menyadari keberadaan nya karna sibuk berkutit dengan diri ku sendiri.
Aku melihat ke arah nya, wajah yang cemas dan pakaian yang basah berjalan menghampiri ku.
"Mengapa kamu menerobos hujan?" tanya ku untuk menghalihkan pertanyaan nya.
"Karna ingin cepat menemui mu" jawab nya yang kini berjarak hanya 5 meter dari ku.
"Gak perlu buru-buru, hari hujan kamu akan sakit kalau menerobos nya. Kemarikan pakaian mu, biar aku keringkan di perapian. Aku akan mengambilkan handuk untuk mu." ucap ku dan berniat melangkah meninggalkan nya.
Tapi bukan Wasa nama nya kalau dia tidak mencegah ku untuk pergi, aku tau pertanyaan nya belum ku jawab.
"Aku telah menjawab pertanyaan mu, jadi sekarang jawab pertanyaan ku Beryl." Ujar nya.
Aku tak ingin menatap nya disaat kondisi mata ku masih tersisa air mata.
"Aku sedang merasa sedih saja Wasa" aku tak ingin berbohong pada nya.
"Sedih karna apa Beryl?" tanya nya.
"Aku belum siap mengatakan nya"
Aku memang belum siap menceritakan yang ku alami pada Wasa saat ini.
"Tapi kenapa? Apa aku orang asing bagi mu Beryl?" tanya nya lagi.
Aku diam dan tidak menjawab pertanyaan nya. Aku belum siap dengan apa yang akan dikatakan nya setelah aku menceritakan tentang diri ku yang berpindah dimensi ini. Aku tak ingin dia memandang diri ku aneh.
"Jawab aku Beryl" lirih nya.
Aku lemah jika suara nya sudah lirih.
"Wasa, tolong mengerti aku. Aku akan mengatakan nya jika aku siap, sekarang perasaan ku sedang tak baik." hanya ini yang bisa ku kata kan pada nya, aku harap dia mengerti.
"Baiklah, aku akan menunggu mu." ujar Wasa melewatkan ku begitu saja ke perapian.
Aku berjalan ke kamar mandi untuk mengambil handuk yang kering dan tak ada obrolan lagi setelah nya.
Aku melanjutkan masakan yang akan ku buat tadi, hujan diluar sudah mulai reda dan Wasa masih setia duduk didepan perapian. Sesekali aku memperhatikan nya yang masih tak beranjak dari duduk nya walau aku masih merasa bersalah karna tak memberitahu kan apa yang aku rasa kan.
"Wasa, kamu sudah makan? aku masak sup jamur udang pedas untuk menghangat kan tubuh." ucap ku.
Tanpa menjawab pertanyaan ku dia sudah duduk dimeja makan dan menghadap pada ku.
Aku tau kamu kesal, Wasa.
Dengan telaten aku mengambilkan satu porsi sup untuk nya, mengisi air minum nya dan berharap dia menyukai makanan ku ya setidak nya setelah ini dia mau bicara dengan ku.
Dia memakan masakan ku tanpa suara dan hanya melihat meja makan saja.
"Bagaimana hari mu Wasa? Aku sedikit merasa bosan disini" ucap ku mencairkan suasana.
"Seperti biasa nya Beryl" ucap nya singkat.
"Aku ingin jalan-jalan tapi aku gak ingat harus kemana."
"Aku akan mengantarkan mu jalan-jalan" Tawarnya pada ku.
"Beneran? Kalau gitu kita pergi setelah makan yaa mumpung hujan udah reda, aku akan siap-siap dulu." ujar ku girang, aku harap suasana hati ku membaik.
Dan dia dengan diam memperhatikan ku yang tengah bersiap-siap.
"Kamu sudah selesai makan?" tanya ku yang kini sudah memakai jubah.
"Sudah" jawab nya.
"Kalau gitu ayo kita pergi" ujar ku dan mengenggam tangan nya untuk keluar bersama.
Kami menaiki kuda yang sama dan Wasa yang menjalan kan nya. Kuda yang kami naiki melaju dengan kecepatan sedang ke arah barat daya rumah tua ku. Aku tak tau Wasa akan membawa ku kemana tapi aku merasa aman bila dia bersama ku.
Selama kurang lebih 20 menit di atas kuda akhirnya aku bisa melihat disebelah kanan ku ada perairan. Apakah itu sebuah pantai? Apa Wasa akan membawa ku ke pantai?
"Kita kemana Wasa?" Tanya ku
"Ke Pelabuhan, lihat saja kamu akan suka nanti" jawab nya.
Aku mengangguk patuh dan menikmati angin yang mencoba menyingkap jubah ku, perjalanan ini menyegarkan.
"Aku berharap aku bisa punya kuda dan jalan-jalan seperti ini" ujar ku senang
"Kan kamu punya aku Beryl" bisik Wasa
Walau yang diucapkan Wasa pelan tapi aku masih bisa mendengar nya.
"Maksud kamu apa?" tanya ku
"Ada aku, kamu bisa minta tolong aku. Aku bisa mengantarkan kemana yang kamu mau" jelas nya.
"Tapi aku gak mau merepotkan kamu, apalagi kamu punya pekerjaan yang gak bisa ditinggalkan. Aku gak mau jadi beban." ujar ku lagi.
"Kamu bukan beban, kamu anugrah" ucap nya.
Deg...
Aku rasa ucapan nya seakan-akan aku spesial bagi nya, bukan kah dia dulu mengatakan kalau kita adalah teman?
Aku tak ingin membalas perkataan nya, aku masih bingung dengan perkataan nya yang penuh dengan ambigu.
"Ayo turun, kita sudah sampai" ujar Wasa yang turun lebih dulu.
Tangan nya dengan sigap terjulur ke arah ku, dia adalah pria yang perhatian. Tapi jika perhatian yang ditunjukan nya kepada ku berlebih aku akan merasa terbebani.
"Kata nya pelabuhan di sore hari itu indah, kita bisa melihat matahari tenggelam dengan warna nya yang cantik. Kamu mau menikmati nya?" tanya nya pada ku.
"Aku mau" tutur ku dan berjalan mengikuti nya.
Disini banyak sekali kapal-kapal yang sedang menepi, mulai kapal kecil hingga kapal paling besar pun ada disini. Pelabuhan ini begitu luas dan aku belum pernah sekalipun ke pelabuhan, wajar bila aku tercengang disini.
"Beryl ayoo" ujar nya lalu mengenggam tangan ku tanpa permisi sama seperti yang ku lakukan tadi pada nya.
"Kamu tau Beryl? Kalau kapal disini bukan hanya sebagai alat menyebrang orang saja dari satu pulau ke pulau yg lain tapi lebih dari itu." ucap nya memulai pembicaraan.
"Lebih dari itu?" aku tak mengerti maksud nya.
"Iya, selain itu disini juga sering menjadi tempat transaksi-transaksi mencurigakan. Seperti obat-obat terlarang, senjata tajam dan juga informasi rahasia." lanjut nya.
"Lantas kenapa kamu membawa ku kesini?" tanya ku tak mengerti dengan yang Wasa perbuat.
"Aku hanya ingin kamu tau kalau sendirian itu bisa menbahayakan diri mu, apalagi jika tidak bersama ku. Maka karna itu aku katakan tadi jika kamu butuh bantuan atau sekedar ingin jalan-jalan bisa katakan pada ku, aku akan menemani mu." ujar nya terdengar tulus.
Aku memikirkan perkataan Wasa lagi, selama ini tanpa Wasa nyawa ku sering hampir terancam. Yang Wasa kata kan memang benar, tapi mengapa sebagian hati ku tak menerima yang dikatakan nya?
"Hei Wasa!" Seru seseorang mengangetkan ku.
"Benar kan? Kamu Wasa?" tanya nya lagi dan berjalan mendekati Wasa.
"Anda siapa?" tanya Wasa
"Ya Tuhan, tega nya seorang Wasa melupakan pria tampan seperti ku" ujar lelaki itu sembari membuka jubah yang dikenakan nya.
"Ternyata si patah hati" ledek Wasa pada nya.
"Enak saja, kamu tuh yang sering patah hati hahahaha" tawa lelaki itu.
Aku memperhatikan lelaki yang menyapa Wasa ini dari atas hingga bawah, jika ku perhatikan lagi pakaian yang dikenakan nya sama dengan yang dikenakan Wasa saat berpamitan untuk kembali ke istana. Apa jangan-jangan dia juga salah seorang kesatria?
Tapi mereka terlihat akrab sekali.
"Ehem, untuk pertama kali nya aku melihat kamu jalan berdua dengan seorang wanita. Ku tebak pasti dia kekasih mu kan" tutur lelaki itu sembari melihat ke arah ku.
Aku yang mendengar nya kaget apalagi dengan Wasa.
"Bu.. bukaan. Dia teman ku" jawab ku cepat.
"Yaa dia teman ku, tidak seperti yang kamu pikir kan Neo" sanggah Wasa.
"Oh yaa? kenapa aku tidak percaya yaa?" kekeh lelaki yang bernama Neo itu.
"Terserah kamu" Balas singkat Wasa.
"Kalau dia bukan kekasih mu boleh dong aku kenalan dengan nya, siapa tau jodoh kan" cengir nya dihadapan ku dan Wasa.
Tapi maaf ya kamu bukan tipe ku.
"Beryl, kenal kan ini Neo. Neo, kenalkan ini Beryl" ucap Wasa menperkenalkan aku dan Neo.
"Hallo Neo" tutur ku sopan.
Dan dia membalas sapaan ku dengan sopan juga.
"Maaf ya Beryl, aku pinjam Wasa nya dulu sebentar ya ada yang ingin ku bicarakan dengan nya" ucap Neo meminta izin ku.
"Beryl, jangan kemana-mana. Aku akan kembali" ucap Wasa pada ku.
Aku hanya mengangguk mengiyakan, lagian buat apa pakai izin segala, toh aku dan Wasa hanya temenan.
"Ada apa sih?" ucap Wasa yang perlahan makin menjauh bersama Neo.
Dan aku sekarang sendirian, tidak masalah. Wasa hanya sebentar biacara dengan Neo, aku akan berjalan-jalan sebentar di sekitaran pelabuahan ini.
Aku melihat banyak orang yang melakukan kegiatan, ada yang sedang menbongkar barang, ada yang sedang mengangkat barang, ada yang sedang membersihkan kapal dan ada juga yang sedang bertansaksi barang.
Tunggu!
Transaksi?
Aku barusan melihat sekelompok orang sedang bertransaksi disalah satu kapal. Pakaian mereka yang serba tertutup menarik perhatian ku untuk lebih mendekat ke arah kapal itu. Mereka sedang melakukan transaksi apa ya?
"Sudah semua nya?"
Samar-samar ku dengar percakapan mereka.
"Sudah bos" jawab salah seorang.
Bos?
"Bagus, ayo pergi sebelum ketahuan"
Ketahuan? Maksud nya?
"Awas kalian macam-macam" peringat seseorang dari mereka sebelum mereka benar-benar pergi.
Dan setelah mereka pergi seorang anak perempuan berlari ke arah laki-laki tua tadi yang diperingati oleh sekelompok orang itu.
"Ayah, siapa mereka? mengapa mereka menyeramkan?" tanya anak perempuan itu.
"Sudah lah, kamu tak perlu tau mereka siapa." tutur laki-laki tua itu.
"Tapi yah, aku dengar mereka mengancam ayah sebelum pergi."
"Kamu salah dengar" bantah ayah nya.
Apa? Kenapa laki-laki tua itu berbohong? Jelas-jelas aku juga dengar kalau mereka mengancam laki-laki tua itu tapi dia malah membantah nya.
"Yang benar yah?" tanya anak perempuan itu memastikan.
"Iya. Dan kamu sedang apa disini? Ayah kan sudah melarang kamu untuk datang ke pelabuhan" ucap laki-laki tua itu.
"Aku mampir karna kebetulan lewat dekat sini yah" jawab anak perempuan itu.
"Sekarang pulang! Ayah gak mau lihat kamu disini lagi." perintah laki-laki tua itu.
Dan dengan wajah lesu anak perempuan itu pergi meninggalkan ayah nya.
"Kapten, maaf kan saya. Karna saya yang telat mengirimkan narkoba itu mereka datang kesini dan memberantakkan kapal kapten. Saya pantas dihukum." ujar seseorang yang tengah bersimpuh itu.
Jadi yang sedang mereka transaksi kan itu narkoba? Dan laki-laki tua ini yang menjual nya?
"Dasar bodoh!" tendang laki-laki tua itu kepada nya.
Aku kaget dengan yang barusan ku lihat, itu pasti sakit sekali.
"Gara-gara kau lalai hampir saja mereka memutuskan batang leher ku! Dan dengan ringan nya kau meminta maaf? Dasar bodoh, bodoh sekali!" teriak laki-laki tua itu tanpa berhenti menendang nya.
Kalau terus-terusan ditendang pasti orang itu akan mati.
"Kau tau mereka siapa?" tanya laki-laki tua itu dengan amarah.
Tapi orang yang ditendang nya tak menjawab pertanyaan laki-laki tua itu, tentu saja dia sedang menahan sakit tubuh nya.
"Asal kau tau ya mereka itu anak buah si mata satu, sekali saja mengusik mereka maka nyawa taruhan nya. Tahan dia di jeruji besi." pinta nya pada yang lain dengan amarah yang masih sama.
Tanpa ku sadari air mata ku sudah jatuh dari tadi, aku begitu kasihan pada orang yang ditendang laki-laki tua itu. Rasa sakit, lebam ditubuh dan penghinaan yang didapatnya karna bekerja seperti itu membuat ku mual.
Aku berlari menjauh dari kapal itu tapi kaki ku tersandung dan hal itu menciptakan tatapan mencurigakan dari mereka.
"Gawat, aku ketahuan."
Aku cemas, karna sudah menguping pembicaraan mereka dan takut hal yang tak ku ingin kan terjadi. Dengan sekuat tenanga aku bangkit dan berlari sekencang mungkin ke arah yang sama sekali tak ku ketahui.
"Tangkap dia!"
Aku mendengar teriakan amarah itu.
Ya Tuhan, aku mohon selamat kan ku.
Aku sama sekali tak tau jalanan sekitar pelabuhan, kemana aku harus bersembunyi dari pengejaran mereka. Dan aku sama sekali tak tau Wasa dimana, bodoh nya diri ku tak mendengarkan perkataan Wasa.
Aku terus berlari hingga menemukan sebuah tempat untuk rongsokan dan tanpa pikir panjang aku langsung bersembunyi disana. Aku mencoba menenangkan hati ku yang hampir copot, berharap mereka pergi tanpa menemukan ku.
Aku terus menunggu, mencoba memikirkan hal yang menyenangkan tapi satu pun tak ada yang terlintas dipikiran ku. Apa aku sama sekali tak punya ingatan yang menyenang kan? Kalau benar, diri ku ini menyedihkan.
"Beryl!" teriak seseorang.
"Kamu dimana, Ryl?" teriak nya lagi.
Wasa...
Itu suara Wasa kan!
"Kayak nya dia tidak ada disekitaran ini, Wasa" ujar seseorang.
Jika Wasa ada disekitaran ini berarti aman, aku bisa keluar.
Dengan langkah gontai aku keluar ke arah suara itu, suara yang akan membuat ku aman.
Dan benar saja tak berapa jauh dari ku berdiri, aku bisa melihat nya. Lelaki yang menanggil nama ku dengan suara lembut nya, lelaki yang menawarkan rasa aman bersama nya, lelaki yang ku kenal dengan nama Wasa.
"Wasa, aku disini" jawab ku.
Dia menoleh ke arah ku, aku bisa melihat nya perlahan mendekat. Tapi mengapa pandangan ku mulai mengabur?
Tiba-tiba sebuah kabut hitam menghalangi pandangan ku.
"Nak." ujar seseorang.
Aku menoleh kesana kemari untuk mencari sumber suara itu, tapi hanya kegelapan yang ku lihat.
"Ingatkah kamu tentang malam mati lampu di awal tahun baru?" tutur nya lagi.
Aku mengenal suara ini, nenek.
"Saat nenek pergi keluar sebentar dan kamu tanggal sendirian. Pas nenek pulang kamu sudah menangis kencang." lanjut nenek.
"Saat nenek tanya kenapa kamu menangis? Kamu menjawab sambil sesegukan kalau kamu merasa kesepian saat mati lampu."
Ya aku ingat nek.
"Apa kamu ingat obat penawar kalau kamu merasa kesepian?" tanya nenek pada ku.
Tapi aku sama sekali tak ingat apa obat penawar nya.
"Peluk lah seseorang yang dekat dari kamu, kata kan kalau kamu butuh sebuah pelukan hangat untuk menenang kan hati, dia akan mengerti." jawab nenek lembut.
Sebuah pelukan? Apakah itu ampuh mengusir rasa kesepian ku?
"Bersabarlah nak, nenek tau kamu kuat." ucap nenek dan menghilang setelah nya.
Tidak seperti mimpi-mimpi ku yang lalu, aku bahkan tidak bisa melihat nenek di dalam mimpi ku.
"Ryl... Beryl..." tutur seseorang
"Beryl... Sadarlah "
Aku mendengar panggilan itu.
"Seharus nya aku tak meninggalkan kamu sendirian jika keadaan kamu seperti ini" ujar nya.
Aku dapat merasakan kecemasan dari suara nya.
"Neo, aku pergi duluan. Nanti kita bicara lagi." ucap nya pada Neo.
Aku ingin sekali membuka mata dan menjawab panggilan nya, tapi mata ku terlalu berat untuk dibuka. Aku merasa tubuh ku seakan melayang dan dalam pelukan Wasa aku pun pingsan.