Aksaberyl

Aksaberyl
Festival Laister



..."Tahukah kamu satu hal yang sering ku pikirkan? bila dulu aku tidak bertemu dengan mu aku pasti tidak akan sebahagia ini walau pun hanya sebatas teman."...


...~ Wasa Noren Moizs ~...


.......


.......


.......


.......


.......


Matahari sudah terbenam beberapa waktu yang lalu dan angin dingin mulai bertiup sedikit kencang dari arah utara. Tidak ada terlihat penerangan disekitar rumah tua ini atau memang hanya ada rumah tua ini saja? aku kembali menutup pintu rumah dan masuk kedalam.


Aku duduk di kursi tua dan memandang kearah perapian yang tadi dibuat lelaki itu. Aahh Wasa ... dia meminta ku untuk memanggilnya begitu kalau tidak dia akan marah seperti tadi.


"Lain kali panggil aku 'Wasa' saja kalau tidak aku akan marah, Beryl." Dia menatap ku dengan tajam, aku sedikit takut tapi setelah nya dia tertawa karna menertawakan ekspresi takut ku.


Perasaan ku memang masih tak nyaman bila mengingat dia yang notabenenya berbahaya apalagi dengan julukannya itu tapi dia terlihat baik kepada ku. Saat aku terdiam memikirkan tentang nya, dia langsung sigap mengambilkan tanaman obat untuk ku.


Dia mengoleskan lidah buaya pada luka di kaki dan tangan ku lalu memperbannya dengan kain dikotak tadi, aku hanya memperhatikan gerakannya.


Dia cukup telaten, apa karna dia sering dimedan tempur?


"Sudah selesai, ini akan sembuh untuk beberapa hari kedepan," tuturnya, dia berdiri dari sikap jongkoknya dan menatap mata ku dengan seksama.


Aku hanya mengangguk tanda paham, aku ingin mengucapkan terima kasih namun rasanya ragu. Aku hanya tak mau dia menertawakan ku seperti tadi.


"Te ... terima kasih, Wasa."


Suasana kembali sepi, dia tak menanggapi ucapan ku, apakah dia tidak mendengar perkataan ku? namun sebuah tangan mendarat di kepala ku, dia mengusap kepala ku dengan perlahan tanpa melepaskan tatapan matanya.


"Baiklah, lain kali jangan sampai terluka," jawab nya dan tersenyum pada ku.


Manis!


Aku merasakan gerah di tubuh ku lalu menjalar panas di sekitaran pipi ku karna lelaki di hadapan ku saat ini terlihat begitu manis dengan senyumnya, seumur hidup aku belum pernah melihat lelaki memperlakukan ku seperti ini.


Bagaimana tidak? aku bergaul dengan orang-orang yang sudah berumur di kantor lalu aku tidak punya teman dekat baik perempuan atau laki-laki. Kemudian tanpa alasan yang jelas aku terbangun pada sebuah tempat yang aku gak ketahui dan mendadak mempunyai seorang teman lelaki yang katanya sudah berteman dengan ku diumur 10 tahun.


Ini memang tiba-tiba, aku yang awalnya berada ditempat wisata tiba-tiba terjatuh dan terbangun di hutan lalu sekarang aku berada dirumah tua yang sudah usang.


Apakah ini hanya kebetulan? apakah bertemu dengan lelaki ini adalah sebuah kebetulan saja? apakah nanti bila aku tertidur lagi aku berada di tempat awal?


Aku tidak menemukan jawaban atas pertanyaan ku sendiri, aku butuh petunjuk!


"Ada apa? ekspresi mu berubah?" Dia menepuk bahu dengan pelan.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya sedikit pusing," kilah ku.


Maaf Wasa, aku masih belum bisa menceritakan ini dan percaya pada mu.


"Ya sudah kamu istirahat aja sana, aku mau buat teh jahe untuk meredakan pusing mu."


Aku melihat punggungnya mulai menjauh dari balik jendela, dia begitu sigap. Apakah memang seperti itu dirinya? namun tak lama dia kembali lagi membawakan beberapa helai daun teh dan jahe, tangannya yang telaten begitu cepat membuat teh jahe lalu memberikannya pada ku.


"Minumlah ini sebelum kamu tidur pokoknya kamu harus istirahat dan jangan kemana-mana, tunggu aku nanti malam, awas kalau kamu gk istirahat," terangnya, dia lembut dan tegas sesuai kondisi.


Lelaki di hadapan ku ini sukses membuat ku patuh, bagi ku yang tidak punya tempat buat bersandar membuat ku sulit untuk mematuhi perkataan orang lain bahkan untuk dikantor saja atasan ku menyerah untuk menyuruh-nyuruh ku, begitulah aku.


Setelah mengiyakan yang dikatakannya, aku menunggu dia disini. Aku mendekatkan tubuh ku ke perapian karna duduk di kursi tua itu saja bisa membuat ku kedinginan, aku menggosok-gosokan telapak tangan ku lalu memajukannya lebih dekat ke perapian. Setelah merasa cukup hangat aku meletakkan telapak tangan ku tadi ke wajah ku.


Rasanya hangat ... aku lebih menyukai nya dibanding kedinginan.


Tadi aku tidak bermimpi apa-apa padahal aku berharap akan bermimpi melihat nenek karna ada yang ingin ku tanyakan tapi sayang sekali itu tidak terjadi. Aku menyembunyikan wajah ku diantara kedua lutut ku, lelah sekali hari ini dan juga lelaki itu lama sekali datangnya. Sudah jam berapa ya kira-kira, jam 7? jam 8? atau jam 9? entah lah ... disini tidak ada tanda-tanda bunyi jam.


Aku masih menunggunya beberapa waktu dan mempertanyakan apakah dia akan datang atau malah tidak?


"Hhaahh ... aku paling tidak suka bila disuruh menunggu seperti ini."


Aku berdiri dari posisi ku tadi dan berjalan menuju pintu tua itu, aku berniat untuk mengunci pintu lalu tidur karna mata ku mulai mengantuk juga lelah menunggu lelaki itu tak datang-datang. Tapi seseorang membuka pintu itu sebelum aku sempat menguncinya, aku yang kaget langsung refleks berjongkok membenamkan wajah.


"Beryl?? ada apa?" Sebuah suara menyapa indera pendengaran ku.


Suara ini bukan kah suara lelaki itu?


Aku menganggakat kepala ku dan melihat siapa orang itu, "Iihh, bikin orang kaget aja!! sebelum masuk itu ketuk dulu!"


"Maaf, aku pikir kamu pergi jadi aku main masuk aja," jelasnya merasa tak enak.


"Kan kamu minta aku untuk menunggu, lupa ya?" sindir ku.


"Ya maaf Beryl"


"Lama banget tau, aku lelah nunggu jadi mau tidur aja. Kamu keluar sana, aku mau kunci pintu," tutur ku dan mencoba mendorongnya keluar tapi dia berat sekali.


"Beryl tunggu dulu ... aku minta maaf udah buat kamu lama nunggu tapi tadi aku sibuk kawal Pangeran yang akan jadi Pangeran Mahkota di Istana. Jadi, karna ada waktu ayo kita pergi, jangan tidur dulu dong."


Dia memegang tangan ku untuk menghentikan aksi yang tengah ku lakukan padanya, "Emang mau kemana? lagian ngapain dikawal?"


"Kamu tak tahu hari ini hari apa?" tanyanya dengan raut wajah heran dan aku hanya menggeleng tanda tak tahu.


"Hari ini adalah hari Festival Laister, hari yang penting bagi seluruh orang di Kerajaan ini," jawabnya.


"Apa itu Festival Laister? kenapa cukup penting?" tanya ku lagi.


"Hhaahh ..." Dia menghela nafas nya lagi.


"Beryl, apa kamu benar-benar tak ingat? seminggu yang lalu sudah pernah ku katakan padamu sebelum kamu berangkat ke Hutan Arieta," tuturnya namun aku hanya menggeleng.


Maaf Wasa ... aku memang tak tau.


"Festival Laister itu festival pengangkatan Pangeran menjadi Pangeran Mahkota untuk menjadi calon penerus kerajaan ini. Festival ini sangat penting karna hanya satu kali saja dalam masa kuasa seorang Raja di kerajaan ini juga festival ini adalah festival terbesar ke-2 setelah Festival de Ramor atau nama lainnya festival naiknya tahta kerajaan de Ramor. Jadi, ayo kita pergi di ibu kota sedang berlangsung festival ini, aku yakin kamu bakalan terpukau." Dia mengulurkan tangannya pada ku.


de Ramor? Bukankah nama itu sama dengan nama tempat wisata yang ku kunjungi itu? apakah aku sekarang berada di Kerajaan de Ramor?


"Ayo Beryl, sebelum acara inti berjalan kita harus sudah sampai," ucapnya.


Dia menggenggam tangan ku dan membawa ku keluar dari rumah, di depan sudah ada kuda miliknya yang tengah menunggu si pemilik keluar. Saat aku keluar dari rumah itu, perasaan tak menyenangkan langsung menyergap ku.


Aku hendak menolaknya tapi mulut ku tak mau terbuka dan tubuh ku mengikuti maunya, dia memakaikan sebuah jubah hitam pada ku.


Hangat.


Jubah ini mirip sekali dengan jaket yang pernah ku pakai hanya saja bedanya terletak pada modelnya, jubah yang panjang dengan kancing dibagian depan dan tali di leher untuk membuat bagian belakangnya menjadi topi yang menutupi kepala ku berbeda dengan jaket yang sepenuhnya tertutup dengan resleting dibagian depannya. Setelah itu dia langsung menaiki ku ke punggung kuda tanpa aba-aba, seperti tadi.


Kali ini dia mengendarai kuda lebih cepat dibandingkan saat tadi pagi, lelaki ini pasti sudah terbiasa mengendarai kuda dengan cepat seorang diri tapi sekarang dia sedang bersama ku.


Apa dia tidak memperhatikan aku yang takut bila kuda ini berlari sangat cepat?


Aku memejamkan mata dan dengan kuat memegang jubah ini, sekarang bukan hanya perasaan takut yang ku perhatikan tapi juga rasa dingin yang mungkin berkali-kali lipat menerpa ku. Tapi apa yang ku pikirkan ternyata tidak berlaku, nyata nya aku hanya merasa hangat, jubah apa ini?


"Bagaimana?! Kamu tak kedinginan kan?!" teriaknya disela-sela laju kuda.


"Sebentar lagi ...."


Ya, tak berapa lama aku merasakan gerakan kuda yang mulai melambat tidak seperti tadi, apakah sudah sampai? aku memberanikan diri untuk membuka mata, gak apa-apa kan?


Aku melihat di depan ada cahaya kelap-kelip lalu suara kebisingan yang mulai terdengar, apa itu di langit? kembang api?


Waw! disini ada kembang api.


"Wasa, apa memang festivalnya semeriah itu?" tanya ku.


"Bahkan lebih meriah dari yang kamu lihat saat ini, apa kamu mau kesana?"


"Iya, ayo kita kesana!" ujar ku antusias.


Sudah lama aku tak melihat kembang api dan festival, terakhir kali aku melihatnya bersama nenek sebelum pindah ke kota yang baru. Tapi sekarang aku berada disini dengan lelaki yang baru aku kenal tadi, akan kah malam ini berakhir dengan perasaan bahagia?


Kuda yang aku dan Wasa tunggangi tadi diikat tak jauh dari pintu masuk festival, sebelum masuk lelaki di samping ku ini memakai jubah yang sama dengan ku.


"Apa kamu juga kedinginan?" tanya ku padanya.


"Tidak, tapi aku harus sembunyikan identitas ku bahaya soal nya," jawabnya santai.


"Kenapa bahaya? apa kamu tengah diincar?" tanya ku penasaran, dia hanya menatapku dengan wajah yang hampir tertawa.


"Gak kok, kalau aku gak sembunyiin identitas nanti aku diincar para gadis-gadis karna tampan." Dia membanggakan dirinya namun aku langsung mencubitnya karna kesal atas jawabannya.


"Duh ... duh sakit tau, kok dicubit sih," sontaknya.


"Aku kan nanyanya serius kenapa malah dijawab bercanda?" ucap ku kesel.


"Seriusan kok jawaban ku tadi dan kalau identitas ku ketahuan mungkin aku gak bisa bersama mu disini, kan sudah ku katakan aku ini terkenal." Dia melangkah dihadapan ku dan aku mengikutinya.


Kami memasuki kawasan festival, pandangan ku mengedar disetiap langkah. Aku melihat banyak topeng, senjata mainan, makanan, buku-buku dan permainan yang dijual. Banyak juga yang membeli nya, terutama para anak-anak. Walau begitu banyak juga anak-anak yang menangis untuk meminta agar orang tuanya membelikan apa yang mereka inginkan.


Mata ku tertuju pada sebuah mainan, aku mendekati tampat mainan itu tanpa menyusul langkah kaki Wasa.


Bukan kah mainan ini suling bambu?


"Apa nona tertarik dengan mainan ini?" tanya seseorang pada ku.


Aku menoleh kearah suara itu, ternyata pemiliknya. Dia menatap ku dengan tatapan binar, aku yang melihatnya merasa tak enak. Sebenarnya aku hanya ingin melihat karna ada suling bambu disini, tapi bila ditanya begitu dalam kondisi aku tidak punya uang—


"Berapa harga nya?" tanya seseorang di belakang ku, aku kaget karna tepukan tangannya di bahu ku, Wasa menyusul ku.


"5 koin logam tuan." Penjual itu tersenyum senang pada Wasa, "Mahal sekali, biasa nya 1 koin logam apalagi modelannya kyak begini," lanjut Wasa.


"Ti ... tidak segitu harganya tuan, memang sudah segini harga nya tuan. Ini juga lebih murah dibandingkan tempat lain ..." jawab penjual itu gelagapan.


Aku mengamati wajah penjual itu dengan seksama, dia berbohong apalagi kalau didengar dari jawabannya. Aku rasa Wasa juga tahu bila penjual ini berbohong.


"Apa kamu mau ini?" tanya Wasa pada ku.


"Gak jadi, ayo pergi saja." Aku berbalik arah dan melangkah mendahuluinya namun dia meraih tangan ku.


"Ya sudah, ini saja satu," tunjuk Wasa pada mainan suling bambu.


Penjual itu langsung sigap membungkus mainan itu dengan sebuah kain usang lalu menyerahkannya pada Wasa setelah Wasa memberinya uang.


Tapi kejadian ini mengingatkan ku sebelum aku datang kesini, dulu aku pernah dibelikan mainan oleh nenek ku. Aku yang terus menangis seperti anak-anak yang ku lihat itu dan tak mau pulang bila tidak dibelikan apa yang ku inginkan, akhirnya nenek ku membelikannya.


Sedikit perdebatan diantara nenek dan penjual itu, nenek mengatakan mengapa mahal sekali padahal kalau dilihat-lihat juga mainannya tidak terlalu bagus. Tapi penjual itu berkilah lidah dan mengatakan kalau barang-barang dijualnya antik juga kualitasnya lebih bagus dari tempat lain. Walau bagaimana pun, apa yang ku inginkan tetap dibelikannya.


Wasa menyerahkan mainan itu pada ku lalu mengajak ku pergi ketempat lain, aku hanya menatap benda yang dibelikannya dan berpikir untuk menganti rugi uangnya nanti, "Hhmm ... Wasa, kalau aku udah punya uang aku bakalan ganti uang kamu, ya?"


Dia berhenti setelahnya lalu berbalik ke belakang dan menatap ku, tak ada suara. Dia hanya diam di hadapan ku untuk beberapa saat, "Baiklah ...."


Aku mengikuti langkahnya hingga sampai pada kerumunan orang-orang seperti semut, aku yang penasaran langsung mempercepat jalan dan sejajar dengan dirinya. Karna tak bisa melihat dengan jelas aku melompat-lompat untuk melihat namun Wasa menggenggam tangan ku dan berjalan melewati kerumunan.


"Wasa ... memangnya mereka sedang melihat apa?" tanya ku padanya.


"Lihat saja nanti pasti kamu suka."


Kalau Wasa sudah berkata seperti itu aku hanya tinggal mengikutinya dan sampailah kami dibarisan paling depan. Aku dapat melihat dengan jelas apa yang mereka kerumuni, sebuah pertunjukan.


"Itu apa?" tanya ku.


"Itu pertunjukan bola api, keren kan?"


"Bola api? Wah!! Kok bisa sih mereka gak kebakar waktu nyentuh bola nya? gimana cara nya?!" seru ku penasaran.


Aku melihat pertunjukan dengan seksama, pertunjukan seperti ini belum pernah ku lihat. Apakah mereka baik-baik saja? tapi wajah mereka malah tersenyum menandakan kalau baik-baik saja.


Tanpa ku sadari Wasa melihat ku dengan tatapan senang, wajahnya melukiskan senyum yang indah tapi sayang sekali tidak terlalu terlihat karna memakai tudung jubah.


Saat aku berbalik menghadap nya, pipi ku langsung memanas, "Aku senang kalau kamu sesenang ini melihat pertunjukan, apa kamu suka?"


"Eehh ... hhm iiyaa ... aku pertama kali melihat ini, kamu juga suka? eh tapi pertanyaan ku belum kamu jawab loh," ujar ku sembari mengalihkan pandangan ku darinya.


Syukur saja aku memakai tudung jubah ini, pipi ku mungkin tidak terlihat olehnya, 'kan?


"Ohh itu, mereka gak bakalan terbakar karna ada cara rahasia buat mereka gak terbakar. Lagian mereka udah terlatih, kamu tenang aja dan nikmati pertunjukannya," jawabnya.


"Apakah kita harus membayar untuk pertunjukan ini?" tanya ku.


"Iya, kamu mau coba membayarnya?"


Dia menyerahkan 2 koin perak pada ku, aku hanya menatap uang itu lalu menatapnya kembali, bolehkah aku memberi dengan uang lelaki di hadapan ku ini aku menggeleng dengan cepat dan menolak uang yang diserahkannya.


"Kamu saja, aku tak bisa."


"Padahal kamu tak perlu sungkan pada ku, Beryl."


Dia menerim uang yang diberikannya pada ku tadi dengan berat, aku hanya tersenyum canggung mendengar ucapannya. Walau begitu dia mengalah pada ku dan memberikan 2 koin perak pada mereka. Orang-orang pertunjukan itu langsung membungkuk pada Wasa berulang kali dan membuat ku heran.


"Kenapa mereka membungkuk? apa kamu ketahuan?" tanya ku was-was, kalau sampai Wasa ketahuan aku—


"Tidak, mereka membungkuk karna ku beri koin perak."


"Loh hanya karna koin?" tanya ku heran, Wasa hanya mengangguk atas pertanyaan ku.


"Tapi tadi sama penjual mainan berbeda?"


"Itu karna tiap koin berbeda nilainya, kamu tahukan mainan tadi aku bayar pakai koin logam? lalu untuk pertunjukan ini pakai koin perak, mata uang disini punya tingkatannya," jelasnya.


"Untuk koin logam biasanya banyak dipakai oleh rakyat biasa, untuk koin perak biasanya digunakan untuk bangsawan tingkat rendah dan untuk koin emas biasanya digunakan bangsawan tingkat tinggi. Tiap koin logam bila berjumlah 50 bisa ditukar sama 1 koin perak, tiap 100 koin perak bisa ditukar sama 1 koin emas. Tapi untuk rakyat sendiri sangat susah mengumpuli 50 koin logam karna itu mereka yang dapat koin perak walau cuma 1 koin bakalan sangat berterima kasih. 1 koin perak juga bisa dijadikan investasi tapi jarang sih dan karna kamu suka pertunjukannya aku kasih mereka koin lebih," lanjutnya lagi.


Jadi dia ngasih koin lebih karna aku? kenapa laki-laki ini perhatian sekali.


Aku baru tahu kalau sistem uang disini seperti itu, berarti jadi rakyat biasa itu susah sekali ya! aku jadi merasa kasihan sekaligus senang atas tindakan Wasa tadi. Jadi, aku harus lebih berusaha lagi buat dapat uang untuk mengaganti uang nya.


Aku kembali menonton pertunjukan bola api tapi penglihatan ku menangkap sesuatu, seperti ada seseorang yang berdiri sejajar di hadapan ku dengan memakai jubah yang sama dengan ku juga tengah melihat kearah ku.


Mata ku dengan mata orang itu bertemu namun mengapa dada ku berdebar?