Aksaberyl

Aksaberyl
Permainan Kotor



..."Aku sudah berjanji pada mu bahwa aku tak akan meninggalkan mu lagi apa pun yang terjadi."...


...~ Aksa Oliga De Ramor ~...


.......


.......


.......


.......


.......


Jalan-jalan di pinggiran pantai saat sore hari memang sangat menyenangkan, matahari juga terlihat cantik saat terbenam dan jika punya pasangan maka hari mu akan sangat sempurna.


Aku masih setia mengitari pantai yang luas ini walau beberapa menit kemudian aku merasa lelah dan duduk disalah satu bangku kosong. Sore sampai malam nanti akan ada acara dengan teman kerja ku, kami akan merayakan proyek yang berhasil kami buat dan kali ini kami ditraktik oleh Pak Direktur di tempat ku kerja.


"Sendiri aja Ryl, mana yang lain?" sapa seseorang dari belakang ku.


Aku menoleh kearah nya dan mendapati seorang wanita yang merupakan rekan kerja ku, dia tersenyum kepada ku lalu duduk di samping ku.


"Iya yang lain ada di sana." Aku menunjuk kearah beberapa meja yang telah tersusun rapi.


"Waah kayaknya bakalan seru nih acara makan-makan kita," ujarnya dengan senang.


"Iya, seperti nya."


Sebenarnya aku tak terlalu dekat dengan siapa pun di tempat kerja ku tapi wanita bernama Rasya ini yang memulai duluan.


"Gak mau gabung dengan yang lain, Ryl?" tanyanya.


"Aku bentar lagi aja," jawab ku.


"Oke deh aku temenin, ya."


Aku tak menjawab nya juga tak terlalu ingin mengajak nya berbicara, aku hanya ingin tenang menikmati senja kali ini.


"Hhmm kamu udah punya pacar Ryl?" tanya Rasya mendadak.


"Aku gak punya pacar."


"Ku kira punya, kamu terlihat sangat menjaga jarak sama kami sih terutama sama laki-laki kantor yang pengen deketin kamu," ucapnya dan itu cukup membuat ku kaget.


"Emang anak-anak kantor suka aku?" tanya ku.


"Kamu gak ngerasa ya? cewek-cewek kantor aja pada iri sama kamu," jelasnya.


"Kamu juga?" tanya ku.


"Gak, aku kan udah punya pacar," ucapnya.


"Bagus deh."


"Aku mau curhat boleh gak Ryl?" tanyanya.


"Curhat apa?"


Sebenarnya aku tak mau jadi tempat curhat orang lain tapi Rasya juga udah sering bantuin aku di kantor gak enak juga jika aku menolak ketika dia butuh tempat untuk curhat.


"Jadi, aku pusing banget sama pacar ku kali ini, kami udah ngejalani hubungan selama tiga tahun dan sebelumnya hubungan kami baik-baik aja. Tapi ada beberapa orang yang suka dengan dia akhir-akhir ini lalu mereka menyerang ku, meminta ku untuk putus dengan pacar ku," ungkapnya dengan wajah sedih. "Mereka juga bilang kalau aku itu beban bagi dirinya dan setelah itu aku terus berpikiran negatif tentang diriku juga hubungan kami berdua."


Aahh ... permasalahan hubungan percintaan. Serius, aku sama sekali tak punya kisah itu dan sekarang aku benar-benar bingung bagaimana menanggapi curhatannya.


"Terus kami kemarin bertengkar hebat karna aku mengkhawatirkan hubungan ku dengan nya, dia terus meyakini aku tapi aku benar-benar merasa kalau diriku itu beban untuk nya," lanjutnya.


"Lalu?" tanya ku.


"Kami putus ... aku yang memutuskannya. Sampai detik ini aku sama sekali belum buka handphone walau aku pengen banget tau kabarnya," jawabnya.


"Yaudah tanyain aja kabarnya, lagian buat apa mikirin omongan orang lain," saran ku padanya.


Dia mendadak diam dalam waktu yang lama, firasat ku menjadi tak enak tapi yang ku bilang juga bukan hal yang salah.


"Maksud kamu apa? aku gitu yang nanyain kabarnya duluan sedangkan dia gak pernah nanyain kabar ku?!" keluhnya tak terima.


"Bukan gitu maksud aku, Sya ..." sanggah ku sebelum ada kesalahpahaman.


"Aahh ... aku tau! kamu iri ya sama aku? kamu sama sekali belum punya pasangan dan tak pernah merasakan hubungan pacaran," sindirnya.


"Loh, kok kamu ngomong gitu sih? kan kamu yang duluan curhat aku hanya beri saran dari masalah kamu, bukan aku iri namanya kalau ngasih kamu saran," ujar ku mematahkan tuduhannya.


"Apa sih!! nyesel banget aku curhat sama kamu. Padahal di kantor aku terus yang bantuin kamu, cewek-cewek kantor juga banyak yang benci kamu bahkan aku ikutan dibenci mereka gara-gara kamu. Kamu tu beban banget Ryl, beban dikehidupan ku!" bentaknya pada ku.


Walau aku tak melihat ke sekeliling ku tapi aku bisa merasakan tatapan penasaran dari yang lain terlebih teman-teman kantor ku karna bentakan Rasya. Dengan penuh amarah dia pergi meninggalkan ku seorang diri dan tak jadi bergabung dengan yang lain.


Aku tersenyum hambar jika mengingat kembali kejadian itu, aku tak meminta dia untuk membantu ku tapi dia sendiri yang menawarkan bantuan pada ku. Aku juga tak minta dia dekat dengan ku tapi dia sendiri yang berusaha untuk berteman dengan ku dan pada akhirnya dia juga ikut-ikutan dibenci yang lain.


Kejadian itu memang sudah lama berlalu saat aku masih belum berpindah di mensi ke masa lalu dan satu perkataan yang paling anti ku dengar saat itu akhirnya terulang kembali disini.


"Aku adalah beban!" ucap ku dengan perasaan kacau.


Sekuat apa pun aku menepis perkataan wanita itu kemarin tetap saja aku masih ke pikiran. "Aahh bodoh sekali kamu Ryl! mungkin saja diriku memang beban," teriak ku putus asa.


Kemarin sebelum dia mengucapkan kata itu aku masih bersemangat untuk mencoba kabur dari kediamannya tapi sejak dia mengucapkan itu rasanya aku terlalu lemah hanya untuk sekedar berdiri dari sini.


Saat aku tengah melamun aku tak menyadari ada seseorang yang tiba di hadapan ku dengan membawa ember kayu.


Bbbyyyuuuurrr!!!!


Semburan air mengenai tubuh ku dan membuat ku basah kuyup. Aku menyeka sisa-sisa air yang disemburkan kepada ku, aku mencoba untuk melihat dengan jelas siapa yang melakukan ini tapi disini masih gelap.


"Bangun kau! waktunya kerja," teriaknya pada ku.


Aku bangun dari duduk ku dan mendekat ke pintu besi itu tapi lagi-lagi dia menyemburkan air itu ke wajah ku hingga membuat ku tak sengaja sedikit meminum air itu lalu tersedak.


"Uuhhukk!! Uuhhuuk!!" Aku mencoba memukul-mukul dada ku, "Apa maksudnya ini?! kenapa aku harus disiram air?" protes ku.


Aku merasakan air ini lama-kelamaan terasa lebih dingin. "Itu hukuman untuk kau yang bangun terlambat! sekarang kau harus bekerja karna disini bukan untuk tempat mu bersantai-santai."


Dia mulai membukakan pintu yang menahan ku lalu menarik paksa aku keluar tanpa memberi ku baju ganti atau setidaknya kain untuk ku bisa membersihkan diri.


"Kau mau membawa ku kemana? Lepaskan aku!" teriak ku.


Aku bersikeras tak ingin ikut dengannya, aku tak ingin melakukan pekerjaan yang menjijikan itu seperti kemarin karna kemarin aku seharian membersihkan kotoran kuda yang sudah lama tak dibersihkan dan baru dikasih makan kalau sudah bersih itu pun tempat untuk aku makan juga tak layak. Ya! aku diberi tempat untuk makan di kandang kuda.


"Jangan banyak tingkah karna kau bukan ratu disini!" tekannya lagi, dia juga menekan lebam di bahu ku.


"Aahh sakit!!! tolong jangan ditekan...." rintih ku memohon tapi dia sama sekali tak peduli.


Aku dibawanya pada sebuah lapangan yang pagarnya cukup tinggi, seperti sebuah stadion namun sedikit lebih kecil dengan bangunannya terbuat dari bebatuan dan pagarnya dari kayu-kayu yang telah di runcingkan.


"Tugas mu kali ini hanya memberi makan hewan, Nona Chalya akan menilai mu dari atas jadi lakukan dengan benar agar kau diberi makan jika tidak kau akan mendapatkan akibat nya!" tuntut nya sebelum pergi.


Aku dapat melihat sebuah meja yang di atasnya terletak makanan dalam keranjang yang tak jauh dari tempat ku berdiri. Sedangkan orang yang membawa ku kesini pergi meninggalkan ku seorang diri dan itu membuat ku sangat tak nyaman.


Di hadapan ku terbentang lapangan yang luas tanpa orang, saat aku mencoba berjalan ke tengah lapangan dan melihat lebih jelas lapangan ini dengan berkeliling aku dapat melihat Chalya dan Ksatria nya berada di atas sana.


Dari atas mereka menatap ku dengan tajam, terlebih lagi Chalya yang aku sama sekali tak mengerti apa maksudnya memperlakukan ku seperti ini.


"Hei bodoh! aku tak akan memberi waktu lebih untuk kau melarikan diri karna dalam hitungan ketiga riwayat mu tamat," teriaknya dengan angkuh.


"Apa-apaan maksud mu?!" lontar ku.


Setelah ucapan ku itu aku dapat merasakan perubahan suasana hatinya yang di tunjukan dari ekspresi wajahnya, dia marah.


"Sepertinya aku tak perlu beri dia waktu jadi lepaskan sekarang banteng nya!" Dia berteriak kearah bawahan nya dengan wajah berang.


Hhaah?!!!! Banteng?!! Ya Tuhan! tamatlah riwayat ku jika begini.


Perasaan ku ketar ketir sejak dia mengatakan itu, banteng adalah hewan yang berbahaya karna bisa mencenderai manusia juga bisa membuat manusia meninggal apalagi ditambah dengan kondisi ku yang tak pulih juga tak berenergi seperti ini.


Bagaimana bisa aku berhadapan dengan hewan yang berbahaya itu?!!


Bbbrraaaakkk!!!!!


Suaranya pintu yang dibuka tiba-tiba membuat ku kaget. Seekor banteng berwarna hitam besar terlihat keluar dari sebuah ruangan yang pintunya sudah jebol, aku mulai merinding.


"Kejar dia Sven! hajar dia," teriak Chalya dari atas.


Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan hewan liar sedekat ini dan sama sekali tak ada niat untuk bertemu langsung seperti ini. Matanya yang memerah, dari hidungnya mengeluarkan asap dan kakinya yang beberapa kali dihentakan ke tanah ini membuat ku menangis seketika.Tidak sampai 10 detik dia keluar dari kandangnya dengan kecepatan yang gila dia mulai mengejar ku.


Aku berlari dengan kecepatan yang bisa ku lakukan, dada ku benar-benar sesak dibuatnya. "Kau gila!! kau wanita gila yang pernah ku temui!!" pekik ku dengan perasaan takut.


Aku terus berlari kesana kemari walau beberapa kali tubuh ku diseruduk banteng tapi aku terus bangkit dan berusaha untuk menghindar dari hewan buas ini.


"Dasar wanita bodoh! berapa kali pun kau menghindar dari Sven kau tak akan bisa lolos!" maki Chalya yang disusul gelak tawa jahatnya.


Setelah hampir 10 menit berlari mencoba menghindar dari banteng ini aku mulai kehabisan energi, darah ku akibat serudukannya pun mulai menetes banyak ke pasir ini.


Ayoo Beryl! cepat selesaikan ini sebelum dihajar habis banteng ini!!


Aku terus memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan permainan kotor Chalya dengan cepat hingga pandangan ku bertemu dengan patung-patung bersenjata yang menggantung tak jauh dari ku.


Tombak itu ... tombak itu bisa ku gunakan!!!


Dengan cepat aku berlari kearah patung yang bersenjatakan tombak namun untuk mendapatkannya begitu susah. Aku perlu tangga atau setidaknya kursi untuk menggapai tombak itu tapi disini sama sekali tak ada yang ku butuhkan dan aku mulai putus asa.


Apakah aku akan mati sia-sia disini dengan ditonton wanita jahat itu? Tuhan ... haruskah aku mati seperti itu?


Aku lelah ... sangat lelah! aku hanya ingin keluar dari sini, aku sama sekali tak berharap akan berakhir seperti ini. Tapi sebuah serudukan di belakang ku membuat ku terhentak dan tak sengaja menggapai patung bersenjatakan tombak itu. Mendadak aku merasa senang karna tombak yang ku inginkan sudah ku genggam walau harus menggantung dan dengan sekuat tenaga aku berusaha melepaskan tombak itu dari patung.


Kaki ku yang menjuntai membuat banteng itu beberapa kali menyeruduk kepalanya ke kaki ku hingga darah keluar dari kedua kaki ku tapi aku mencoba menghiraukannya walau nyeri sudah mulai beredar keseluruh tubuh ku.


"Kau pikir dengan menggunakan itu kau bisa menang? jangan berharap!!" cecar Chalya.


"Lebih baik kau diam!!" jerit ku.


Aku tak memperdulikannya karna sekarang tujuan ku hanya satu. Berulang kali aku mencoba melepaskan tombak itu, berulang kali juga banteng itu menyerang ku. Hingga usaha yang ku lakukan pun membuahkan hasil baru aku turun dari patung itu.


Saat kaki ku menapaki tanah baru terasa sakit yang luar biasa ditorehkan banteng itu di kaki ku. Ta— tapi aku tak boleh tumbang sebelum banteng itu tumbang terlebih dahulu!


Selama aku melepaskan tombak itu dari patung tadi aku sudah menyusun rencana untuk mengalahkan banteng itu. Dengan keahlian dasar yang Wasa ajarkan pada ku saat berkuda dan saat latihan pedang aku praktekkan pada banteng ini.


satu!


dua!!


tiga!!!


Aku menaiki banteng ini dengan teknik yang Wasa ajarkan pada ku, teknik ini terasa begitu ringan saat ku praktekkan tapi banteng ini kaget dan membuat dirinya meliuk-liuk untuk mencoba menjatuhkan ku dari atas punggungnya.


Aku terus memegang kedua buah tanduknya yang keras itu sebagai pertahan diri agar tak terjatuh, aku mencoba untuk mengendalikannya tapi kembali lagi ke asalnya yang liar dan tak bisa di atur.


"Kau tak akan berhasil!!" murka Chalya dengan amarahnya.


"Kau lihat saja!" teriak ku dengan semangat yang mengembara.


Aku mempersiapkan hati ku karna untuk pertama kali nya aku harus melukai hewan dan hewan ini mengancam nyawa ku. Langkah terakhir yang harus ku lakukan hanyalah mengakhiri permainannya.


Ya Tuhan … maafkan aku tapi aku harus melakukan ini.


Dengan sekuat tenaga aku menghentakkan tombak di tangan ku kearah kepala banteng itu dan banteng itu berteriak kesakitan. Percobaan pertama yang ku lakukan gagal tapi aku terus mengulanginya walau pun kondisi ku hampir diinjak-injak banteng yang kesakitan itu.


"Ayo Ryl ... sebentar lagi selesai." lirih ku yang terangah-engah.


Aku terus menyerang banteng itu dengan tombak di tangan ku, dari arah mana pun ku lakukan untuk melindungi diriku. Tapi disaat lengan ku sedikit tergelincir disaat itu juga banteng tersebut membanting diriku dengan cukup kuat.


"Aarrggghhh!!!!"


Badan ku kesakitan, sangat sakit! aku dapat merasakan tulang-tulang di tubuh ku rasanya mau patah semua.


"Avell, lihat dia! dasar wanita bodoh!!" maki Chalya. "Sudah ku katakan kalau kau tak akan bisa lolos!! Sven hajar dia!!!" sorak Chalya dengan rasa angkuhnya.


Aku mencoba bangkit dari posisi jatuh ku sekarang, aku tau banteng itu dan diri ku sama-sama lelah dan terluka. Tapi ini harus selesai! entah aku yang harus mati atau banteng itu yang harus mati.


Saat banteng itu berlari mendekati ku, aku pun berlari mendekatinya dengan tombak berlumuran darah ini. Aku mengerahkan mata tombak itu ke depan dan dengan secepat angin tombak ku telah sampai pada tubuh banteng itu hingga suara jeritsn banteng itu memenuhi lapangan yang luas ini.


"Hhaahh ... aku menang ... aku menang!!!" susul ku dengan berterik.


Sebelum tubuh ku benar-benar mengenai tanah aku dapat melihat banteng itu sudah terjatuh duluan dengan tombak yang menancap di tubuh besarnya dan aku dapat melihat dari sini wajah kesal Chalya.


Wanita itu benar-benar gila!


"Kamu hebat Ryl ..." lirih ku


Pandangan ku mulai mengabur, aku kehabisan energi. Apakah sekarang aku akan mati? ti— tidak ... tolong aku.