
..."Dunia benar-benar kejam! bahkan Tuhan pun tak adil padaku nek. Lantas apa yang harus ku percayai dari masa lalu ini? kalau hanya kesakitan juga rasa penghinaan yang besar untuk ku."...
...~ Beryl Ara Lavel ~...
.......
.......
.......
.......
.......
Sebuah suara gemercik air terdengar tak jauh dariku, samar-samar aku mendengar suara orang-orang berbicara. "Air di sini sejuk yaa," ucap seseorang.
"Iya karna hari ini hari yang baik," sahut yang lain.
"Wah benar? aku dengar hari ini putri kesayangan keluarga Lavel akan dilamar," timpal yang lain.
"Eehh dengan siapa?"
"Kau tak tau? kemarin sudah tersebar berita itu dikalangan pelayan, katanya Pangeran Mahkota sendiri yang akan datang langsung ke kediaman Lavel lalu meminang anak tunggal satu-satunya dikeluarga Lavel. Setelah itu beritanya menyebar sampai kekalangan bangsawan lainnya loh!" beber yang lain dengan antusias.
"Beruntung sekali ya Nona Beryl bisa mendapatkan Pangeran Mahkota, apalagi nanti jika Pangeran Mahkota naik takhta menjadi Raja de Ramor selanjutnya pasti Nona Beryl akan menjadi Ratu di kerajaan ini," sambung yang lain dengan senang.
"Benar! memang lebih baik Nona Beryl saja yang menjadi Ratu kerajaan ini dibanding nona-nona yang lain. Tapi ... aku khawatir akan terjadi banyak cobaan selama Nona kita bersama dengan Pangeran Mahkota."
"Maksud kamu apa? kenapa mengkhawatirkan hal yang belum pasti?" tanya yang lain.
"Sudah-sudah ... kita kan berada dipemandian ini untuk menyambut hari baik itu. Tak perlu berpikiran macam-macam kita doakan saja Nona Beryl dan Pangeran Mahkota diberikan kebahagian selalu," lerai yang lain.
Obrolan mereka membuat ku cukup terkejut, bukankah yang mereka bicarakan itu adalah diriku?
Aku mencoba menghampiri mereka yang asik bercengkrama, jalanan disekitaran Telaga Syna terasa lebih licin dibandingkan sebelumnya. Walau jalannya licin aku bisa melewatinya begitu mudah seakan-akan dulu aku pernah mendatangi tempat ini.
Namun saat aku telah tiba di hadapan mereka, mereka sama sekali tak merespon kehadiran ku. "Hei! apa kalian bisa mendengarkan ku?"
Aku mencoba menyentuh salah satu pundak wanita itu tapi bagaikan hantu tangan ku tembus pandang. Aku cukup kaget dengan yang ku lihat, segera aku menepis tangan ku dari pundaknya dan tak sengaja terjatuh di dalam air telaga itu.
Tapi mengapa air telaga ini terasa nyata?
Aku bisa merasakan sensasi dingin dari air ini dan kulit-kulit tangan ku mendadak menjadi pucat, saat aku mencoba keluar dari air telaga ini sebuah tangan mencekik leher ku dan membawanya masuk kembali ke dalam air telaga ini.
Siapa ini?!
Dengan susah payah aku menepis tangannya dari leher ku tapi tenaganya lebih kuat dua kali lipat dari ku dan membuat ku semakin masuk ke dalam air telaga.
"Beryl ... Beryl ..."
Samar-samar aku mendengar sebuah suara.
"Beryl ... Beryl!"
Suara itu semakin kuat terdengar.
"Beryl! bertahanlah ..."
Dan suara itu pun menghilang begitu saja, setelahnya aku pun terbangun dari mimpi buruk itu.
Lagi-lagi aku bermimpi aneh ...
Nafas ku pun terengah-engah setelah bangun dari mimpi buruk itu, apa sebelumnya aku juga pernah mengalami hal ini? kenapa beberapa mimpi terasa seperti nyata?
"Kau sudah bangun?" tanya seseorang, aku menoleh ke arah suara itu dan mendapati Ksatria Chalya yang tengah menatap ku tajam.
Aahh!! kenapa harus dia yang muncul setelah aku buka mata?
"Sepertinya kondisi mu baik-baik saja kalau dilihat dari sikap sombong mu ini," cibirnya, aku tak peduli dan aku juga tak ingin menjawab perkataannya karna bagi ku hal itu adalah tindakan yang sia-sia.
"Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari Nona, kau akan dihukum berat atas perbuatan jahat mu yang telah membunuh banteng kesayangan Nona Chalya dan sebentar lagi kau akan diadili!" tuntut nya.
Bagai disambar petir di siang bolong ucapannya membuat hati ku sakit sekali, "Jangan bercanda!! dia yang menjebak ku dalam permainan kotornya, dia juga yang berniat membunuh ku dengan banteng sialan nya!!" maki ku dengan mata menyalang.
Aku marah ... aku sangat marah!!
"Aku hanya mempertahankan diri dari serangan hewan itu bertubi-tubi dan kalian hanya tertawa di atas penderitaan ku! bagaimana bisa kalian menghukum ku padahal yang seharusnya dihukum itu adalah kalian!!!" teriak ku yang penuh amarah.
Tapi sebuah pedang berhenti tepat di depan leher ku, dia menatap ku dengan mata yang juga penuh amarah dan emosi yang mungkin saja sebentar lagi akan meledak.
"Sekali lagi kau menentang perintah Nona Chalya yang merupakan majikan mu, kau tak akan pernah bisa melihat matahari lagi!" tekan nya dengan suara yang menakutkan seketika itu juga aku merasa ketakutan, hidup dan nyawa ku bergantung pada pedang yang berada di depan ku.
Dia menarik pedangnya kembali lalu menyarungkan nya sebelum pergi, saat tiba di depan pintu dengan sekuat tenaga dia membanting pintu besi itu hingga hampir copot. Aku bergidik ketakutan tanpa menyadari beberapa tetes darah keluar.
Ba— bagaimana ini ... leher ku berdarah.
"Ya ampun!! apa-apaan ini? kau yang membanting pintu ini sampai seperti ini?" tanya seseorang yang buru-buru menghampiri ku.
"Bukan ... itu Ksatria Avell," lirih ku yang masih syok.
"Tetap saja kau yang salah! tamatlah riwayat mu. Cepat kau bersiap-siap, sebelum kau dihukum kau harus membersihkan perangkap-perangkap hewan liar yang tak jauh dari pavilun Nona Chalya. Sebaiknya kau bergegas sebelum diamuk Nona Chalya," perintahnya lalu pergi meninggalkan ku seorang diri.
Aku tak ingin menangis tapi air mata ku benar-benar tak bisa di tahan, bagaikan air terjun ... air mata ku ini mengalir begitu deras.
"Ke— kenapa aku ... ha— harus mengalami ini ..." Aku bahkan tak bisa menahan isak tangis ku, "Su— sudahlah, Ryl ... bu— bukan saatnya ... a— aku menangis."
Sekuat tenaga aku mencoba berdiri dan berjalan kearah yang diperintahkan, aku menyentuh luka ku yang mulai mengering tanpa diobati ntah berapa lama aku pingsan dan mereka sama sekali tak peduli padaku.
Aku bergegas kearah yang mereka perintahkan walau dengan tertatih-tatih. Beberapa kali aku tanya kepada para pelayan atau pun ksatria yang berlalu-lalang tapi tak seorang pun menanggapi ucapan ku, mereka pergi begitu saja seakan aku tak ada.
Aku terus berusaha menanyakan di mana tempat perangkap-perangkap itu hingga tak sengaja mendengar sebuah percakapan.
"Kau tau kalau Pangeran Mahkota akan ke sini?" tanya seseorang.
Pangeran Mahkota?
Aku perlahan mendekat kearah mereka lalu bersembunyi di balik semak-semak. "Beneran? Aku gak tau," ujar yang lain.
"Kata nya sih gitu."
"Tapi kenapa ke sini? tumben sekali Pangeran Mahkota ke sini," tanya yang lain.
"Hhmm ya ... aku juga gak tau sih tapi mungkin aja ada urusan pekerjaan atau—"
"Atau apa?" tanya yang lain penasaran.
"Atau Pangeran Mahkota akan melamar Nona Chalya!" seru orang itu.
"Apaa?!!" teriak mereka serentak.
Tak hanya mereka yang kaget aku pun yang menguping juga kaget dengan obrolan mereka, aku jadi teringat kembali tentang mimpi yang tadi.
"Wah ... kalau benaran aku bakalan iri," lontar salah seorang dari mereka.
"Iya aku juga! kapan ya aku dapat suami seorang bangsawan gitu ..." celetuk yang lain.
Apa benar Pangeran Mahkota akan ke sini? Aku ingin sekali melihatnya langsung, saat dimimpi aku sama sekali tak bisa melihat wajahnya yang tertutup oleh cahaya yang datang entah dari mana.
"Sedang apa kau disana?!" panggil seseorang, aku terlonjak kaget dengan suaranya yang tiba-tiba.
Apa aku ketahuan menguping?
"Aku hanya—"
"Jangan banyak alasan! mentang-mentang kau sedang terluka kau mau berleha-leha disini? itu tak akan terjadi!" tegasnya.
Dia menarik tangan kanan ku dengan paksa dan itu memicu rasa sakit di tubuh ku untuk kambuh hingga aku menjerit dibuat nya. Sepanjang jalan aku ditonton yang lain, mata mereka melihat ku seakan-akan hal itu sudah biasa lalu melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
Disini sikap toleransinya amat sangat rendah!
"Kau harus selesaikan perangkap ini selama satu jam setelahnya aku harus membawa mu ke hadapan Nona Chalya. Jadi, kau jangan macam-macam!" perintah nya.
Aku hanya mengangguk lemah dan berjalan kearah perangkap-perangkap itu. Pada akhirnya aku tak bisa melarikan diri dari sini apalagi dengan tubuh yang lemah penuh luka ini. Apakah harapan untuk ku keluar dari sini masih ada? sedangkan Wasa dan OL tak tau kalau aku berada disini.
Aahh ... aku merindukan mereka berdua.
"Heh! cepat selesaikan, jangan melamun doang!" lanjutnya.
Aku bergegas menyelesaikan pekerjaan ini, perangkap hewan disini sangat besar dan jumlahnya ada sepuluh jadi sangat susah jika diselesaikan dengan cepat. Mungkin sudah setengah jam berlalu namun aku baru menyelesaikan tiga perangkap dan tersisa tujuh perangkap lagi.
Lelah sekali rasanya.
"Tuan!" panggil seseorang. Aku melihat ke arah sumber suara itu, orang itu berlari semakin dekat.
"Ada apa?" tanya laki-laki yang menemani ku ini.
"Anda diminta Ksatria Avell untuk menyambut Pangeran Mahkota yang telah tiba, semua pekerja juga diminta untuk ke aula pertemuan sekarang," ucapnya.
Dia beneran datang?!
Seketika aku menjadi sangat bersemangat untuk melihatnya, seperti apa rupanya? setinggi apa dirinya? setampan apa wajahnya? aku sungguh ingin melihatnya langsung!
"Baik, aku akan kesana kau boleh pergi," ucapnya mengerti.
"Kenapa berhenti? lanjutkan pekerjaan mu! saat aku kembali, aku hanya ingin lihat semua ini sudah selesai. Kau mengerti?!!" bentak nya.
Aku hanya mengangguk untuk cari aman, dia berjalan pergi meninggalkan ku kearah aula, aku tau kalau pekerjaan ku harus selesai sebelum dia kembali tapi rasa penasaran ku begitu besar. Jadi ... aku kan kesana saat semua orang disekitar ku sudah tak ada.
Sekitar lima belas menitan aku menunggu sambil membereskan perangkap-perangkap ini akhirnya tak ada seorang pun yang lagi berlalu-lalang.
Ini saat nya Ryl!
Aku meninggalkan pekerjaan ku yang tinggal setengah perangkap lagi, aku tak tau di mana letak aula itu tapi bermodalkan ingatan ku saat yang lain pergi jadi aku memakai jalan itu juga. Aku terus berjalan di jalan yang menurut ku kearah aula namun saat tiba di persimpangan jalan aku bingung mau melangkah ke arah mana.
Seperti deja vu, aku mulai mengingat kembali kejadian saat tengah kebingungan memilih jalan di kediaman Wasa hingga bersembunyi dan mendengarkan obrolan Nona-Nona Bangsawan sampai ketahuan dan nyawa ku hampir melayang. Mengingat kejadian itu membuat dada ku bergetar hebat seketika saja air mataku jatuh.
Tidak!! aku tak perlu melihat Pangeran Mahkota itu mungkin nanti aku bisa melihatnya. Tapi sekarang yang terpenting aku harus melarikan diri terlebih dulu, setelah kunjungan ini Chalya pasti akan mengadili ku dan aku tak mau berlama-lama disini.
Aku berbalik arah kemudian berlari tergesah-gesah kearah perangkap tadi, aku melewati lima perangkap yang belum ku bersihkan. Walau tak sampai satu jam aku berada di sekitaran ini tapi dengan nyali kuat aku akan masuk ke dalam hutan itu.
Kenapa aku tak berlari kearah gerbang? karna aku akan tertangkap dan itu akan sia-sia jika ku lakukan. Lagian pasti sekarang di pintu gerbang sedang dijaga ketat karna yang berkunjung adalah Pangeran Mahkota dan jika aku ketahuan melarikan diri dari kediaman Chalya pasti aku akan langsung diadili sesuai ancaman mereka padaku.
Jika aku ketahuan entah hal gila apa lagi yang di pikirkan wanita gila itu untuk ku!
Aku tau jalan yang akan ku lewati ini adalah tempat tinggal hewan buas lainnya karna perangkap itu tapi selama ini hidup ku terus melewati jalanan yang berbahaya jadi apa salahnya jika sekarang aku menghadapi jalanan berbahaya lagi? yang terpenting aku harus keluar walaupun aku takut.
Sshhhttss!!
Aku berhenti dan menoleh kesana kemari, suara apa itu?
"Hiraukan saja Ryl!" ujar ku, aku lanjut berlari ke arah yang tak ku ketahui tapi ku yakini kalau akan ada jalan keluar.
Sshhhttsss!!!
Suara itu semakin terdengar jelas, aku mulai merasa curiga tapi segera ku tepiskan dan terus berlari hingga—
Bbbrrraaakk!!
Kaki ku tersandung akar pohon yang sedang berkamuflase, "Aahh!!!! kaki ku ..." ringis ku namun seekor ular yang tak terlalu besar berada tepat di hadapan ku.
"U— ular?!"
Refleks aku memundurkan diriku dalam kondisi terduduk ke belakang tapi hewan itu malah semakin mendekat, "Pergi!!! pergi kau!!"
Tapi dia tak mengerti dan malah mendekati ku dengan cepat, aku terus memundurkan diriku hingga mentok pada sebuah pohon. Aku melirik kesana kemari apakah ada sesuatu yang bisa ku gunakan dan aku mendapati sebongkah batu yang besar dari sisi kanan ku.
Aku sedikit ragu untuk mengunakannya, apa tak ada benda yang lain selain batu besar itu?
Ssshhhttss!!!
"Aahh!!"
Aku berteriak kesakitan, ular itu menggigit ku dengan cepat. Saat aku tengah lengah untuk mencari benda yang lain, ular itu sudah berancang-ancang untuk menggigit ku. Dengan sekuat tenaga aku mengangkat batu besar yanh seukuran kepala manusia lalu melemparkannya ke tubuh ular itu. Seketika ular itu kesakitan, tubuhnya terus menerus menggeliat untuk melepaskan diri dari himpitan batu itu.
Aku menjauhkan kaki ku dari ular tersebut dan melihatnya mati perlahan-lahan karna tertimpa batu besar. Saat aku memastikan dia benar-benar mati barulah aku beranjak dari sana namun saat aku mencoba berdiri tulang-tulang di tubuh ku terasa sangat ngilu.
Aku terjatuh begitu saja dan meringis menahan sakitnya, "Ya Tuhan, sakit sekali ...."
Ssshhhttss!!!
Suara itu terdengar lagi, "Ayo Ryl ... a—aku harus bangkit. Aku ... aku harus keluar dari sini, ji— jika tidak ... aku akan menjadi santapan mereka!"
Isak tangis ku mulai terdengar, sakit rasanya hidup seperti ini bahkan yang menyemangati ku juga hanya diri sendiri.
Aku berulang kali mencoba berdiri dengan tulang yang rasanya akan hancur, dengan bahu yang rasanya berat, dengan kepala yang rasamya akan pecah dan dengan kaki yang sudah terkena gigitan ular.
"Ya Tuhan ... aku mohon. Aku mohon selamatkan aku dari bahaya ini ..." lirih ku berharap Tuhan mendengarkan doa ku.
Sekuat tenaga aku berlari walau tertatih-tatih, aku menyeka air mata yang terus-menerus keluar ini dan menyemangati diriku kalau di depan pasti ada jalan keluar.
Jangan tanya bagaimana sekarang perasaan ku, aku hanya ingin pulang ... aku sudah lelah.
Hhhiiiikk!
Hhhiiihkk!!
Dari kejauhan aku mendengar suara ringkikan kuda, secerca harapan membuat ku bersemangat untuk berlari hingga aku bisa melihat sebuah jalan yang terbentang di hadapan ku.
"Benarkah itu pintu keluarnya?" tanya ku dengan penuh harap.
Dengan semangat yang membara aku terus berlari mendekat kearah jalanan itu, saking semangatnya aku bahkan tak melihat ada kereta kuda yang akan melintas.
Dan satu kejadian yang tak ku ingin kan pun terjadi, aku terserempet kereta kuda itu lalu terpental kesisi jalan. Kepala ku terbentur ke salah satu batu yang ada disisi jalan itu, aku merasakan ada sesuatu yang basah keluar dari bawah kepala ku.
"Beryl?!"
Panggil seseorang yang samar-samar ku lihat, tangan ku hendak menggapai wajahnya namun aku terlalu lemah ... seketika pandangan ku menjadi gelap.