Aksaberyl

Aksaberyl
Satu Atap



..."Kamu tau kan kalau aku akan selalu ada di sisi mu?"...


...~ Aksa Oliga De Ramor x Wasa Noren Moizs ~...


.......


.......


.......


.......


.......


Ntah sudah berapa lama hujan di luar turun dengan deras, malam semakin larut dan semakin dingin. Aku menutup jendela dengan rapat, aku hanya takut rumah tua ini bocor karna di hantam hujan yang terus menerus.


Aku melihat ke arah perapian yang masih banyak kayu bakar nya, setidak nya ruangan ini hangat. Dan seorang laki-laki tengah menjaga perapian agar kayu nya terbakar dengan sempurna.


Sekarang aku tak sendirian di rumah ini, ada seorang laki-laki yang jelas saja kalau itu bukan Wasa tapi OL.


Sebenar nya tadi dia sudah berniat untuk pergi aku pun juga berharap dia pergi dari tadi tapi karna tiba-tiba hujan dan dia mengaku tak membawa kuda jadi terpaksa dia harus menunggu hujan reda. Sayang nya hujan ini terlihat awet.


"Hei OL, apa kamu tidak lapar?" tanya ku pada nya, perut ku sudah berbunyi-bunyi.


"Ya ku rasa sekarang aku lapar, Ryl." jawab OL dan beranjak dari posisi nya.


Aku melihat ke persediaan yang ku punya, tapi hanya ada roti gandum dengan beberapa buah ceri yang di bawakan Wasa tadi. Aku bingung harus membuat makanan apa dengan bahan ini.


"Kenapa, Ryl?" tanya OL yang sedari tadi memperhatikan ku.


"Aku bingung mau bikin apa." jawab ku terus terang.


"Yang sederhana aja gak apa-apa kok, Ryl." tutur nya.


"Tapi yang sederhana itu kayak gimana?" kelu ku pada nya.


Dia menghampiri ku dengan wajah yang tertawa, aku ditertawai nya.


"Jangan ketawa" pinta ku pada nya.


Dia menuruti perkataan ku tapi tawa nya yang tadi diganti nya dengan senyum nya yang menurut ku itu menyebalkan.


"Kalau begitu biar aku saja yang bikin, kamu duduk aja yaa." ucap nya sembari memegang ke dua bahu ku.


Dengan telaten dia memotong roti gandum itu dengan beberapa potong, lalu mengambil beberapa ceri dan membelah nya menjadi dua. Setelah di rasa cukup dia mengambil panci milik ku yang sudah usang dan penyot lalu mengisi air didalam nya dan menempatkan penyangga nya di tengah-tengah panci. Kemudian meletakkan potongan roti gandum juga ceri kedalam panci itu.


Aku memperhatikan nya, OL begitu menarik saat memasak sama seperti Wasa.


"Kamu suka masak juga, OL?" tanya ku penasaran.


"Begitulah." Jawab nya seadanya.


Singkat sekali jawaban nya.


"Makanan nya sudah siap." ujar nya dengan dua piring di tangan nya menuju ke arah ku.


Akhirnya aku makan juga, sedari tadi memang aku menahan suara perut ku yang kelaparan. Sekarang waktu nya makan!


Aku memakan makanan yang di buat kan OL, ini adalah roti gandum yang di kukus dengan toping ceri. Simpel memang tapi saat ku makan rasa nya enak sekali, rasa nya juga tak terlalu manis.


"Apakah ini salah satu makanan bangsawan juga?" tanya ku pada nya tanpa melihat ke arah nya.


"Iya, kamu suka?" tanya nya.


"Waah, aku tak menyangka akan memakan ini. Rasa nya enak, aku suka." seru ku pada nya.


Mata kami bertemu, beberapa detik aku terpaku pada nya. Seperti magnet aku merasa de javu.


"Jangan menatap ku seperti itu." tutur ku pelan pada nya.


"Kenapa?" tanya nya


"Pokok nya jangan menatap ku." ulang ku lagi.


"Kamu malu yaa..." goda nya.


"gak yaa, jangan aneh-aneh." Ucap ku pada nya.


Aku melihat ke arah lain, bisa-bisa nya dia menggoda ku.


"Hey Beryl, apa kamu punya kekasih?" tanya nya mendadak, hal itu membuat ku terkejut.


"Aah tidak, kenapa kamu bertanya begitu?" ucap ku.


Apa yang sedang di pikirkan laki-laki ini tentang ku?


"Syukurlah." tutur nya tanpa mau memberitahu kan ku maksud nya.


"Bagaimana dengan mu?" tanya ku balik.


"Aku juga sama seperti mu tapi kini aku telah menemukan nya." ucap nya dengan wajah yang tampak bahagia.


"Oh ya? Bagus deh." tutur ku.


Setelah nya rasa canggung melingkupi di antara kami.


"Hmm apa pertanyaan ku membuat mu risih?" tanya nya.


"Ya begitu lah." lirih ku.


"Aah maafkan aku, aku hanya ingin lebih mengakrab kan diri, mungkin saja kita bisa menjadi teman." ucap nya terus terang.


Teman? Berarti seperti Wasa, kan?


"Tapi kenapa kamu ingin berteman dengan ku? Derajat kita berbeda,.sangat aneh jika seorang bangsawan berteman dengan rakyat biasa." tutur ku.


Padahal aku pun berteman dengan Wasa yang notabene nya seorang bangsawan juga sama seperti OL, bisa-bisa nya aku mengatakan itu.


"Aku salah satu orang yang menganut prinsip kalau berteman gak boleh pandang bulu." jujur nya.


Ternyata dia salah satu bangsawan yang langka.


"Jadi, bolehkan aku mengenal mu kembali?" tanya nya pada ku dengan wajah yang meyakinkan.


Menarik sekali, dia.


"Aku OL." lanjut nya sembari menjulurkan tangan nya pada ku.


"Aku Beryl." balas ku pada nya.


"Nah OL, apakah nama mu memang seperti itu saja atau ada tambahan yang lain?" Lanjut ku.


Dia diam untuk beberapa saat, apa pertanyaan ku begitu berat untuk di jawab nya?


"Tidak, nama ku hanya itu saja." ujar nya.


Namun mengapa aku merasa kalau dia tak mau memberitahukan ku?


"Baiklah, mungkin lain waktu kamu akan memberitahu kan ku." ucap ku dan dia terlihat tersenyum kecil.


"Kalau gitu bagaimana dengan umur mu?" tanya ku pada nya.


"Umur ku 27 tahun, aku lahir saat beberapa hari setelah raja ke-4 meninggal diganti dengan raja ke -5 sesudah naik takhta." jawab nya.


"Kalau kamu?" tanya nya balik pada ku.


"Kalau aku lahir saat bulan purnama datang dan umur ku sekarang 25 tahun." ucap ku.


Walau pun aku masih tak bisa menemukan memori ingatan masa lalu ku tapi untuk umur aku masih mengingat nya. Tak ada beda nya umur ku di masa lalu dengan di masa depan sebelum aku berpindah di mensi.


"Aku lebih muda" tutur nya.


"Kalau warna kesukaan mu apa?" lanjut nya.


"Aku suka warna-warna yang tak terlalu terang tapi kesan nya kalem. Kayak coffe, walnut, ginger, nude, dusty pink, baby lilac, dan banyak lain nya." tutur ku


Tapi dia tak mengerti.


"Warna apa itu? Sulit sekali menghafal nya." ucap nya pada ku dengan wajah yang kebingungan.


"Aah itu warna yang ku sukai, sedikit susah jika ku jelas kan pada mu. Seandai nya di sini ada warna nya pasti akan ku perlihat kan pada mu." ujar ku.


Ya, karna warna itu adalah warna yang ku pakai sehari-hari saat di masa depan.


"Gak apa-apa, Ryl." ucap nya memaklumi.


"Kalau kamu gimana?" Tanya ku.


"Aku suka warna hitam." ucap nya.


"Ada apa dengan warna hitam?" tanya ku lagi.


"Karna hitam memberi ku kekuatan." jujur nya.


Ada beberapa tipe orang yang hanya menyukai satu warna, ada juga yang beberapa warna atau pun sekaligus semua warna, itu wajar.


"Motivasi yang bagus." ujar ku pada nya.


Dan pertanyaan yang lain pun berlanjut hingga malam pun semakin larut, sudah ku duga hujan nya tambah awet.


"Hujan nya tak berhenti dari tadi, bagaimana bisa kamu pulang?"


Aku melihat ke arah nya yang kini tengah menatap ku.


"Ya... Aku tak bisa pulang sekarang." ujar nya.


"Atau apa kamu berencana untuk mengusir ku?" jahil nya.


"Mungkin saja." tutur ku bercanda.


Tak mungkin aku mengusir nya di malam yang hujan deras ini, bagaimana jika nanti dia sakit lalu meminta pertanggung jawaban ku karna telah mengusir nya? Apalagi dia seorang bangsawan, jelas derajat nya lebih tinggi dari ku.


Wasa akan mengunjungi ku besok malam, jadi tak masalah jika laki-laki ini menginap di rumah ku. Ku harap begitu, aku tak ingin Wasa tau setidak nya aku tak ingin dia salah paham. Tapi laki-laki ini apa bisa ku percaya? Dia hanya orang asing yang mendadak masuk ke dalam kehidupan ku.


"Owwh, sekarang wajah mu menyeramkan, wajah mu itu terlalu banyak berpikir. Dengar, aku tak akan melakukan hal aneh dengan mu, percaya lah." ucap nya meyakinkan ku.


"Baik lah aku pegang kata-kata mu." ujar ku.


Aku akan mencoba membuka kepercayaan ku pada nya, mungkin saja aku butuh tambah teman di masa lalu ku ini.


Aku beranjak dari duduk ku meninggalkan nya menuju ranjang tua milik ku, aku mengambil satu helai kain selimut untuk nya. Karna ranjang tua ini hanya cukup untuk satu orang jadi dia mau tak mau tidur di lantai kayu ini. Agar dia tak merasa kedinginan aku membawa kan nya beberapa helai kain yang telah usang, ini saja yang ku punya.


"Ini kain untuk mu, aku tak bisa memberikan ranjang ku pada mu tapi setidak nya aku memberikan kain ini agar kamu tak mati kedinginan tidur di lantai rumah ini. Aah maaf ya kalau disini tak seperti rumah mu." ucap ku terus terang.


"Gak masalah bagi ku." jawab nya.


Setelah nya aku pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih, seperti rutinitas ku sehari-hari. Saat aku sudah selesai dan kembali untuk tidur aku melihat nya yang tengah berbaring, tampak nya dia tak merasa masalah dengan tidur di lantai.


"Apakah lantai nya nyaman?" tanya ku.


"Yaa tak masalah, masih bisa di pakai untuk tidur." ujar nya.


Karna dia mengatakan hal itu, aku tak merasa terbebani. Syukur saja dia bukan bangsawan yang cerewet.


Melihat nya nyaman berbaring aku pun ikutan berbaring di ranjang ku. Kami tak tidur bersama hanya berbagi atas saja, aku di atas sedang kan dia dibawah.


"Beryl, aku mau tanya." ucap nya.


"apa?"


"Kamu menyukai laki-laki seperti apa?" tanya nya mendadak.


"Ntahlah." jawab ku yang tak tau.


Aku memang tak terlalu memikirkan hal itu baik di kehidupan ku di masa depan atau pun setelah aku kembali di masa lalu.


"Tak ada yang spesifik?" tanya nya lagi.


"Untuk sekarang aku tak ada, mungkin lain kali pikiran ku berubah." ucap ku.


"Beritahu aku nanti kalau kamu sudah memikirkan nya." ujar nya.


"Kenapa gitu?" tanya ku tak paham.


Namun dia tak menjawab pertanyaan ku, dia hanya tersenyum menatap langit-langit rumah ku tanpa ku tau arti nya apa.


Sudahlah, mata ku terlalu berat untuk memikirkan ke anehan diri nya. Perlahan aku mulai tertidur dan memasuki dunia mimpi. Meninggalkan nya yang masih terjaga.


"Beryl, apa kamu mau coklat?" tanya seseorang.


"Aku tak mau." ucap ku dengan suara anak kecil.


Kenapa aku hanya mendengar suara saja?


"Kalau kue bagaimana?" tanya nya lagi.


"Aku tak mau, kenapa sih kamu tawarin yang aku tak mau? menyebalkan." ujar ku.


"Lalu kamu mau apa?" tanya nya.


"Aku mau kayak kamu, punya pedang dan keahlian bertarung. Aku mau jadi prajurit, bukan seorang putri." ucap ku frontal.


Naif sekali diri ku.


"Untuk apa?" tanya nya lagi.


"Aku mau lindungi orang-orang yang ku sayang lah dari yang orang jahat." ucap ku.


"Tak perlu, aku yang akan melindungi mu. Aku kan calon Pangeran Mahkota, aku juga sudah lihai bertarung dengan prajurit istana. Aku janji akan melindungi mu, jadi kamu jangan berurusan dengan orang jahat yaa." tutur nya.


Pangeran Mahkota? Jadi laki-laki yang ada di mimpi ku itu seorang calon Pangeran Mahkota?


"Janji ya akan melindungi ku?" tanya ku.


"Janji tuan putri." ucap nya.


Apakah mimpi ini pernah terjadi di kehidupan ku? Mengapa aku merasa deg deg kan?


Sebuah tangan tengah memegang tangan ku, terasa hangat dan bertekstur kasar. Tangan siapa ini?


"Ayo pergi, Beryl." ucap orang itu.


"Kemana?" tanya ku.


Kali ini didalam mimpi ku aku dapat melihat suasana disekitar, tapi untuk wajah laki-laki yang tengah mengenggam tangan ku ini terhalang dengan cahaya, aku tak bisa melihat wajah nya.


"Ke hadapan raja, aah maksud ku ayah ku." ucap nya.


Raja? Ayah? Kalau gitu dia seorang Pangeran Mahkota dong!


"Untuk apa?" tanya ku lagi.


"Meminta restu nya, kita kan akan menikah Beryl." ucap nya dengan begitu ringan.


Aku menikah dengan seorang Pangeran Mahkota? Mimpi aneh apa ini!!


"Ayo kita tak punya waktu lama." tutur nya.


Namun tiba-tiba hujan anak panah jatuh dihadapan ku dan diri nya, seketika langkah kami berhenti. Dengan gerakan cepat laki-laki itu menempatkan ku di belakang nya.


"Beryl, tetap lah berada di belakang ku." pintah nya pada ku.


Dengan lihai dia membasmi para pasukan yang entah dari mana berasal, tanpa henti dia bertarung dan melindungi ku.


"Berhenti!" teriak seseorang.


Aku melihat orang itu yang tengah berjalan ke arah kami, semakin lama semakin dekat. Dan segerombolan orang yang tersisa menberikan penghormatan kepada orang itu.


Dia seorang laki-laki tua yang memakai jubah kerajaan dan sebuah mahkota di atas kepala nya. Apakah orang ini yang bermaksud untuk menyerang kami? Siapa dia?


"Ayah?.." lirih laki-laki yang bersama ku.


"Sedang apa ayah disini? Apa ayah yang menyuruh mereka?" tanya laki-laki itu.


"Ya." jawab laki-laki tua itu.


Jadi laki-laki tua ini adalah raja?


Aku membungkam mulut ku dengan tangan, sungguh aku terkejut dengan apa yang terjadi.


"Kenapa kau lakukan ini ?! Apa maksud ini semua?" Teriak laki-laki itu.


"Aku sudah menyiapkan calon untuk mu, lebih baik dari nya dan kedudukan nya lebih jelas di bandingkan rakyat jelata ini." tunjuk laki-laki tua itu pada ku.


"Aku tak mau! Seberusaha apa pun kau menjodohkan ku dengan wanita lain tapi aku hanya mencintai Beryl sampai kapan pun!" teriak nya lagi.


Plaaakk!!


Sebuah tamparan mendarat pada laki-laki disamping ku.


"Dasar anak bodoh! Begitu cara nya kau berbicara dengan orang yang lebih tua?." teriak laki-laki tua itu pada nya.


"Kau yang membuat ku begini!" jawab laki-laki itu dengan lantang.


"Bawa dia pulang!." ujar laki-laki tua itu pada prajurit nya.


Aku bisa melihat wajah nya yang penuh dengan amarah, pertengkaran mereka membuat ku takut.


"Aku tak mau! Jika kau tak merestui ku dengan nya aku tak akan pulang sama sekali." ancam laki-laki itu.


Mendengar ucapan nya membuat ku benar-benar kaget, dengan perasaan takut aku menyentuh lengan nya.


"Jangan seperti itu, pulang lah. Ayah mu sedang marah, jika kamu terus menbantah ayah mu akan meledak. Kita gak akan tau apa yang terjadi jika ayah mu meledak." ucap ku membujuk nya.


"Tidak Beryl, aku tak akan meninggalkan mu lagi. Aku akan menebus dosa ku itu dengan kembali bersama-sama." ucap laki-laki itu.


Ucapan nya membuat dada ku bergetar, seakan punya ikatan yang kuat dengan nya aku tak kuasa menahan tangis.


"Prajurit!" panggil laki-laki tua itu.


Dengan langkah yang cepat mereka menangkap putera mahkota lalu dengan paksa menyeret nya menjauh dari ku.


"Beryl!!!" teriak laki-laki itu pada ku.


"Kau itu benalu sama seperti keluarga mu, sekali benalu tetap benalu. Kau tau? kau itu tak pantas untuk anak ku. Sungguh aku sangat menyesal tak menghabisi seluruh keluarga mu, sekarang mungkin saat nya aku memutus kan tali benalu itu." ucap nya memandang ku remeh.


Aku yang terkejut dengan ucapan nya tak sempat mempersiapkan diri, dengan 1 detik dia sudah mengeluarkan pedang dan bersiap-siap untuk membunuh ku.


"Wasa!!!!" dengan refleks aku memanggil nya.


Dan aku terbangun dari mimpi buruk itu, perasaan ku kacau, jantung ku juga terus menerus berdetak kencang. Mimpi itu bagaikan kenyataan yang pernah terjadi sebelum nya, aku cemas dan keringat ku terus-menerus bercucuran.


Itu mimpi terburuk yang pernah menghampiri ku.


"Hei kamu kenapa?" tanya OL yang kebangun karna ku.


Aku hanya menatap nya, aku merasa lelah setelah bermimpi buruk.


"Wajah mu pucat sekali Beryl." ujar nya.


"Aku... aku tak apa-apa, OL." lirik ku pelan.


"Benaran? Apa kamu bermimpi buruk?" tanya nya lagi.


Sangat buruk OL tapi aku tak bisa memberitahu kan mu.


"Aku mau tanya, Pangeran Mahkota itu orang nya seperti apa? Apakah dia tampan seperti yang dikatakan para gadis? Atau punya keahlian khusus? Bisakah orang seperti ku bertemu dengan nya?" ucap ku pada nya.


Tanpa ku sadari wajah OL tengah bahagia setelah beberapa pertanyaan ku ajukan pada nya dan ini lah awal aku berhubungan dengan nya.