
..."Pada akhirnya semua kembali pada tujuan awal, aku pikir berjalan nya waktu perasaan mu berubah ternyata tidak ya. Selamat tinggal, untuk yang kali ini aku benar-benar serius."...
...~ Serrez Nar Ortpe ~...
.......
.......
.......
.......
.......
Rintik-rintik hujan masih terdengar diluar, udara juga masih dingin ku rasakan walau ada perapian didekat ku. Tidak ada tercium aroma apa pun disekitar ku hanya saja deru nafas panas ku masih setia membersamai ku.
Aku sedang sakit, tubuh ku sudah memberi peringatan pada ku 2 hari yang lalu setelah hujan-hujanan menunggu Wasa. Kata Wasa aku pingsang lalu aku demam dan semalaman dia menjaga ku. Setelah terbangun dari pingsan ku itu, ku pikir sudah mendingan. Ternyata makin parah, jadi sekarang hari ke-tiga aku terbaring sakit.
Aku merubah posisi ku saat ini menjadi duduk, susah ternyata kalau sendiri dengan tenaga ku belum kembali. Aku melihat pakaian ku yang terakhir kali ku pakai sebelum pingsan, masih sama. Tapi walau pakaian ku tak diganti, aku merasa tubuh ku sedikit lembab. Apa Wasa yang melakukan nya?
Wasa itu orang pertama ku lihat saat tiba disini, dia juga lelaki pertama yang menjadi teman ku didunia ini. Dia baik pada ku bahkan menjadi lebih manis pada ku, apa memang dia orang nya seperti itu?
Jika sesuai yang dikatakan nya, dia pasti mengenal ku lebih akrab karna sudah berteman dengan ku sejak kecil.
Nenek juga mengatakan pada ku kalau aku yang sekarang dengan aku yang di masa lalu itu sama, bukan suatu kebetulan saja seperti yang ku pikirkan. Namun mengapa aku tidak ingat apa-apa? Berarti ingatan beberapa kali yang muncul adalah ingatan ku di masa lalu, kan?
Tak ada penjelasan lainnya dari nenek tapi aku masih ada Wasa, kalau dia kesini aku akan menanyakan nya.
Perlahan aku mencoba berdiri, aku ingin mengganti baju dan membersihkan tubuh. Walau terasa lembab tapi juga terasa lengket di seluruh tubuh ku. Enak sekali kalau berendam air hangat dicampur dengan parfum mandi pasti akan membuat tubuh ku menjadi rileks, sayang sekali disini tak ada.
Aku memang masih asing disini tapi mungkin karna tubuh ini cepat beradaptasi aku tidak mengalami kesulitan, lagian kata nenek ini tubuh ku juga.
Sebenarnya, tubuh ku dimasa lalu ini lebih rapuh dibanding tubuh ku di masa depan. Aku yang cepat merasa lelah dan langsung sakit saat kena air hujan tapi yang membuat ku bingung adalah aku dapat membanting orang yang lebih besar dari ku seperti pria yang ku banting di kedai bertiang merah itu. Hal ini berbanding terbalik dengan aku yang di masa depan, walau tubuh ku tak gampang sakit dan rapuh tapi aku tak bisa membanting orang atau pun bela diri.
Kira-kira 10 menit aku selesai membersihkan tubuh di tempat mandi, aku Menganti baju kotor dengan baju bersih yang usang di kotak itu. Baju terusan berwarna unggu pucat menjadi pilihan ku tanpa hiasan apapun di baju ini, ya memang lebih baik polosan begini.
Aku meletakkan baju yang kotor tak jauh dari kotak baju, tumpukan cucian ku terlihat tak enak dipandang. Tapi bagaimana lagi, aku akan mencuci nya setelah sembuh nanti.
Aku berjalan menuju meja makan kecil yang berada ditengah ruangan, terlihat satu roti dengan teko dan gelas kayu ditengah-tengah meja.
Pasti Wasa yang meletakkan ini, dia baik sekali.
Sebelum memakan nya aku memeriksa roti itu, apakah berjamur atau tidak. Roti Brioche itu masih baru, aroma nya bahkan enak pasti roti nya juga lebih enak. Dan teko ini, aku memeriksa apa isi nya. Ternyata Teh Chamomile, teh yang ku sukai.
Aku memakan makanan yang disediakan Wasa dengan perasaan yang senang, seperti nya aku akan lebih cepat sembuh bila perasaan ku tetap senang.
Suara ketukan pintu membuat aku berhenti makan, pasti itu Wasa. Aku hendak berdiri dan membuka kan pintu untuk nya, tapi langkah ku berhenti ketika pintu terbuka dan menampilkan orang lain bukan Wasa.
"Siapa?" tanya ku waspada.
Tapi dia hanya diam saja melihat ke arah ku lalu saat aku mulai mendekati nya orang itu langsung menutup pintu dan pergi. Otak ku memproses apa yang terjadi dihadapan ku tadi dan hanya ada satu hal yang terpikirkan oleh ku, pasti itu maling !!
Aku langsung mengambil sapu dan berlari ke arah pintu, mungkin saja dia membawa komplotan dan ingin menjarahi rumah ku. Tidak bisa ku biarkan, aku sedang sendirian dirumah mereka malah mau menjarahi rumah ku.
Ta...tapi aku kan gak punya harta benda yang bisa di jarahi mereka, di rumah tua ini apa yang mereka incar? Jangan-jangan....
Tidak! Tidak! Itu tak benar Beryl! Gak mungkin mereka akan menjarahi ku kan? Jangan, jangan sampai.
Aku mulai menangis dan perasaan ku menjadi kalut, aku takut, sungguh sangat takut. Wasa... Wasa tak ada disini.
Aku menangis lebih kencang memikirkan hal terburuk yang mungkin saja terjadi tanpa mendengar suara tapak kaki kuda yang berhenti. Aku yang sibuk sendiri dengan pikiran negatif ku kaget dengan suara ketukan pintu yang sama seperti tadi.
Aku langsung berdiri didepan pintu dan mengantisipasi tindakan yang akan ku lakukan jika orang itu membuka pintu dihadapan ku ini lagi, aku akan memukul nya sekuat tenaga.
Aku menghitung mundur kapan pintu ini dibuka, tangan ku sungguh sangat siap untuk memukul nya. Pada hitungan ke tiga pintu ini terbuka dan aku langsung memukul nya sekuat tenaga tapi melesat karna dia menghindar. Aku menutup mata dan bersiap menendang alat kelamin nya tapi sebelum itu terjadi suara seseorang yang tak asing membuat ku membuka mata.
"Wasa!" teriak ku dan langsung memeluk nya dengan penuh ketakutan.
Tubuh ku yang bergetar ditambah aku yang menangis membuat nya bingung walaupun begitu dia mengelus punggung ku untuk menenangkan ku.
"Kamu kenapa Beryl" ujarnya cemas.
Untung itu kamu, untung kamu yang datang Wasa. Syukurlah...
Aku melepaskan pelukan dari nya setelah ketakutan ku mulai mereda. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan berulang kali dan menghampus air mata ku. Setelah aku merasa cukup tenang aku langsung menarik tangan nya untuk masuk kedalam.
Aku duduk dimeja makan tadi dan meminum Teh Chamomile untuk membuat diri ku lebih rileks, Wasa masih menatap ku bingung karna aku tak mengatakan apapun.
"Ada apa Beryl? Kenapa kamu tiba-tiba menyerang ku?" tanya nya lagi.
"Wasa, tadi ada yang mengetuk pintu aku pikir itu kamu jadi aku ingin membuka nya. Tapi saat melihat orang lain membuka pintu itu membuat ku jadi ketakutan. Aku takut dia berbuat jahat pada ku, karna itu aku berada dibalik pintu." jawab ku, mata ku mulai panas.
"Lalu ada ketukan lagi dan membuat ku bersiap untuk menghajar orang itu tapi ternyata itu kamu, untuk saja melesat. Maafkan aku.." lanjut ku, kemudian beberapa bulir air mata ku jatuh lagi.
"Kamu tahu orang nya? Atau ciri-ciri nya? Aku akan menghajar nya untuk mu." tutur Wasa mulai emosi.
"Aku tak tahu orang nya tapi dia tadi memakai jubah hitam dan wajah nya tak terlihat." jawab ku.
"Tadi saat aku sampai disini aku tak melihat siapa pun disekitar rumah mu Beryl, kemungkinan dia sudah pergi." ucap Wasa.
Berarti orang itu sudah pergi sebelum Wasa datang? Apa tadi aku terlalu berlebihan? Mungkin saja dia tersesat dan ingin berteduh karna hujan diluar?
"Berbahaya sekali kalau kamu tinggal sendiri disini. Bagaimana kalau kamu tinggal di ibu kota saja? Tinggal disekitaran rumah ku? Aku akan jamin keamanan mu." saran nya pada ku.
Haruskah aku mengiyakan saran nya? Tapi nenek bilang kalau disini saja berbahaya apalagi nanti di ibu kota, aku gak boleh gegabah.
"Makasih Wasa, tapi aku masih memikirkan nya." jawab ku, memang lebih baik aku menjawab seperti ini.
"Ya sudah, kalau kamu sudah memutuskan beri tahu aku segera ya." tutur nya, suara nya pun berubah menjadi lembut.
Aku mengangguk dan melanjutkan minum teh ku, roti tadi sudah habis ku makan sebelum Wasa datang. Enak sih.
"Wasa, makasih Roti Brioche sama Teh Chamomile nya. Enak sekali, aku suka apalagi di cuaca yang seperti ini." ujar ku senang.
Namun berbeda dengan Wasa, wajah nya terlihat bingung dengan yang ku ucapkan barusan.
"Aku gak ada kasih kamu Roti Brioche sama Teh Chamomile, ini saja aku baru bawa makanan buat kamu makan." dia menunjukkan makanan yang dibawa nya pada ku.
"Lalu siapa dong yang kasih aku Roti Brioche sama Teh Chamomile ini?" aku kaget karna makanan ini bukan Wasa yang memberikan nya.
"Berarti... Ada seseorang yang masuk ke dalam rumah ku?" aku tambah terkejut dengan opini yang ku katakan ini.
Wasa langsung beranjak dari duduk nya dan memeriksa semua bagian dari rumah tua yang ku tempati ini, tak ada satu pun yang terlewat. Tapi Wasa tak menemukan apapun begitu pun dengan ku, tak ada yang hilang dan tak ada juga yang bertambah kecuali roti dan Teh Chamomile yang ku makan tadi.
"Apa kamu merasa mual? Atau pusing setelah makan? Kita gak tahu ada racun atau tidak di makanan yang kamu makan tadi. Tunggu sebentar disini, aku akan buat teh jahe madu buat kamu minum" pintah nya pada ku, aku mengikuti nya dan duduk di kursi ku tadi.
Pikiran buruk ku kembali lagi, perasaan ku menjadi sensitif ditambah lagi aku yang sedang sakit. Dan tak berselang lama aku pingsan diatas meja makan.
Suara air mengalir indah di pendengaran ku lalu ada aroma lavender yang khas menyapa penciuman ku dan suara teriakan seseorang yang memanggil nama ku.
"Beryl!!" seru seorang anak laki-laki yang tak jauh dari aku berdiri.
Siapa anak laki-laki ini? Dan kenapa tubuh ku menjadi kecil?
"Ayo buruan kita main, disana ada ikan." ujar nya, aku mengikuti arah yang ditunjuk nya.
Dia berlari ke arah ku dan meraih tangan ku untuk mengikuti nya pada arah yang ditunjuk nya, sebuah danau yang berwarna biru dan tidak terlalu luas ini membentang didepan mata ku. Disamping danau itu dikelilingi pepohonan yang rindang lalu dibelakang ku terdapat kebun Lavender dan dua orang wanita dewasa yang tengah menikmati obrolan mereka, indah sekali yang ku lihat.
"Kok berhenti sih? Ayoo kita tangkap ikan." seru nya bersemangat.
Dia minta sesuatu pada seorang yang berpakaian ksatria dan ksatria itu memberikan apa yang diminta anak laki-laki itu, dua buah kail atau alat pancing. Lalu anak laki-laki itu memberi ku satu kail dan satu lagi untuk nya.
Kami duduk di pinggir danau itu lalu dia melempar kail nya dan aku pun refleks mengikuti nya. Anak laki-laki itu tersenyum pada ku terlihat sekali dia bahagia.
Tak berapa lama kail milik ku bergerak aku tak tahu cara nya memancing jadi tubuh ku terhuyung-huyung ke depan dan belakang karna kail ku ditarik ikan. Anak laki-laki itu dengan cekatan membantu ku, dia pandai dalam memancing ternyata.
Karna cekatan nya aku bisa dapat satu ekor ikan kecil yang sesuai dengan tubuh anak laki-laki ini.
Aku tertawa ketika mendapatkan ikan ini, soal nya bentuk nya sama seperti anak laki-laki ini.
"Nah gitu dong kamu tertawa, masa dari tadi cemberut terus. Kalau kamu tertawa kan ibu ikutan senang." ujar seorang wanita dewasa dibelakang ku, aku melihat ke arah nya yang memanggil diri nya ibu ku.
Wanita ini cantik dan wanita disebelah nya juga cantik, mereka berdua membuat ku terpesona.
"Benar yang dikatakan ibu kamu. Ya kan bu, ibu setuju juga kan?" tanya anak laki-laki itu pada ibu nya.
"Iya, anak kamu cantik kalau tertawa" puji ibu dari anak laki-laki ini.
Ooh tidak! Pipi ku akan memerah kalau dipuji.
"Ibu.... Sudah lah." ucap ku malu-malu.
Tapi reaksi tertawa ibu ku dan ibu anak laki-laki ini malah membuat ku tambah malu, aku berlari meninggalkan mereka bertiga tapi anak laki-laki itu malah mengejar ku.
"Kamu memang cantik Beryl !!" teriak nya sambil mengejar ku.
Langkah kaki ku berhenti, aku membalikkan badan dan berjalan ke arah nya lalu dengan cepat aku mencubit tangan nya kemudian dia meringis kesakitan.
"Kok aku dicubit?" tanya nya.
"Aku tu gak cantik! Kalau kamu bilang gitu akan aku cubit lagi" ujar ku kesal, aku tak suka dibilang cantik karna pipi ku akan memerah nanti nya.
"Tapi kan...." ucapan nya terpotong oleh pergerakan tangan ku yang siap-siap mencubit nya, dia mundur beberapa langkah lalu berlari ke arah ibu nya.
"Ibu!!!! Beryl dicubit nya aku." rengek nya pada ibu nya.
Haa... Bisa-bisa nya anak laki-laki merengek pada ibu nya karna cubitan seorang anak perempuan.
"Beryl, kemari lah." perintah ibu ku.
"Iya bu" jawab ku menghampiri nya yang tengah duduk bersama ibu anak laki-laki itu.
"Ayo minta maaf sama Aksa, nak." ujar ibu.
Tunggu...
Aksa? Anak laki-laki ini Aksa? Aksa yang Pangeran Mahkota itu?
"Aku minta maaf." tutur ku pada nya.
Tapi dia menjawab permintaan maaf ku dengan gelengan kepala.
"Loh kok begitu nak?" tanya ibu nya.
"Panggil nama ku, Aksa Oliga De Ramor. Baru aku maafkan." pinta nya.
Tu kan benar yang aku pikirkan tapi kenapa bisa aku berada dalam mimpi ini? Terlebih lagi dia mengenal ku.
"Maafkan aku Aksa Oliga De Ramor, ya?" ucap ku sesuai permintaan nya.
Dia mengangguk dan tersenyum lebar pada ku.
Aku tak sadar semua orang disekitar ku dan diri nya juga ikutan tersenyum, terutama ibu ku dan ibu nya yang begitu senang.
"Nah kalau begitu kita makan ya, koki istana udah membuat makanan yang enak buat kita. Apa kalian mau?" tanya ibu nya anak laki-laki ini, Aksa. Dengan kompak aku dan Aksa mengangguk setuju.
Makanan yang disiapkan tadi sekarang sudah tersusun diatas meja kaca ini tapi bukan kah itu Roti Brioche dan Teh Chamomile yang ada dimeja makan ku tadi?
"Ini makanan kesukaan kalian berdua kan? Ayo dihabiskan." seru ibu nya Aksa.
Makanan kesukaan? Dia menyukai ini?
"Loh kenapa Beryl? Kok gak dimakan nak?" tanya ibu ku, aku hanya menyengir dan langsung memakan makanan yang sudah disiapi ibu nya Aksa dengan lahap.
"Enak?" tanya ibu nya Aksa.
"Enak bu !" seru Aksa.
Dengan tenang dan perasaan yang senang kami memakan Roti Brioche dan Teh Chamomile, angin sepoi-sepoi menambah nilai ketenangan di antara kami.
Tapi satu hal yang masih membuat ku bingung, kenapa bisa aku berada di mimpi ini dengan Pangeran Mahkota juga ibu nya yang telah meninggal?
"Yang Mulia Ratu Serrez Nar Ortpe
anda di panggil ke istana segera." ucap salah seorang ksatria istana.
Ibu nya Aksa mengerti dan menyuruh ksatria itu bersiap-siap. Selesai makan ibu nya Aksa berpamitan dengan ibu ku dan aku, begitu pula dengan Aksa tapi di wajah nya terlukiskan rasa enggan untuk pergi.
"Sampai ketemu lagi !!" teriak Aksa pada ku.
Aku hendak menjawab ucapan nya namun suatu cahaya tiba-tiba muncul dari atas kepala nya dan tubuh ku refleks bergerak mengejar cahaya itu hingga seseorang memanggil nama ku.
"Beryl ! Beryl ! Beryl !" seru nya.
Perlahan aku membuka mata ku, seseorang itu tidak henti-henti nya memanggil nama ku. Mata ku sudah terbuka sepenuh nya namun pandangan ku masih kurang jelas, beberapa kali aku mengerjapkan mata ku sampai pandangan ku jelas dan melihat seseorang dihadapan ku.
Wajah Aksa kah itu?
Aah tidak, ternyata Wajah Wasa.