
..."Yang ku tahu wanita dan pria tak bisa sepenuhnya bertemam. Jika salah satu dari mereka mempunyai perasaan lalu mengungkapkan nya maka mereka tak bisa lagi jadi teman."...
...~ Beryl Ara Lavel ~...
.......
.......
.......
.......
.......
Di malam yang lumayan dingin ini, di bawah cahaya lilin yang remang-remang Wasa mencium ku. Sebelum nya tak pernah ku bayangkan hal seperti ini terjadi, dia yang lepas kendali dan aku yang tak sempat menghindar saking terkejut nya. Apa yang ada di pikiran nya sekarang sudah ku ketahui namun aku tak menyangka diri nya menyukai ku.
Bibir kami masih bertaut, aku tak tau entah sudah berapa menit berlalu tapi ini terasa begitu lama. Hingga perlahan ciuman dari nya mengendur dan membuat ku sedikit merasa lega. Dengan pencahayaan yang minim dia menatap lekat mata ku, aku sekarang tak tau bagaimana wajah ku di hadapan nya.
Ini pelanggaran!!!
Aku masih memperhatikan gerak mata nya, yang awal nya hanya melihat ku kembali bergerak melihat hidung dan turun ke bibir ku lagi. Yang pertama adalah kesalahan dan yang kedua jangan sampai terulang!
Saat Wasa hendak mencium ku lagi dengan cepat aku paling kan wajah ku ke kanan, aku tak mau jika terulang lagi aku tak akan memaafkan nya sudah ku bilang ini pelanggaran.
Wasa terkejut dengan sikap ku terlihat dengan perlahan dia memundurkan tubuh nya, tangan nya yang berada di punggung dan pipi ku juga dilepaskan nya. Sekarang aku tak bisa menatap wajah nya, terlalu malu untuk dilihat nya dan aku takut jika terlena lagi seperti tadi. Aku takut, takut diri ku tak bisa menahan nya.
"Maafkan aku... aku lepas kendali." ujar nya.
Aku tak tau harus menjawab apa namun langkah kaki nya terdengar menjauhi ku dan suara pintu tedengar. Aku melihat tubuh nya yang pergi begitu saja ke luar rumah, dia pasti juga malu sama seperti ku. Dengan cepat aku turun dari meja makan ini, aku berjongkok lalu menutup wajah ku dengan kedua tangan.
"Pasti wajah ku sekarang seperti kepiting rebus..." ujar ku.
"Aku sangat malu.... ini pertama kali nya aku berciuman dengan seorang pria yang nyata nya adalah teman ku sendiri... sekarang, bagaimana aku harus bersikap dihadapan nya?" tanya ku sendiri.
Suara pintu terbuka terdengar ditelinga ku, dengan spontan aku berdiri. Terlihat sekilas diri nya yang berjalan ke arah ku, aku masih belum berani menatap nya jadi pandangan ku hanya ke arah kaki nya saja. Sekarang apa yang ingin dikatakan nya?
"Beryl.." panggil nya dengan suara yang lembut.
"Ya...?" jawab ku gugup.
"Sepertinya kamu terlihat tidak nyaman jadi aku akan pulang saja dan juga kamu sudah baik-baik saja." ujar nya.
Tanpa menunggu jawab ku dia melangkah ke arah pintu itu tapi aku tak bisa membiarkan nya pulang selarut ini dan aku pun menarik ujung lengan nya.
"Tunggu.... ini sudah larut malam, aku hanya takut kamu kenapa-kenapa jadi menginap saja dulu di sini. Saat matahari sudah terbit kamu boleh pergi." tawar ku pada nya, bagaimana pun aku tetap khawatir pada nya.
Wasa berbalik badan mengahadap ku, aku memberanikan diri menatap nya hanya untuk menyakinkan nya tinggal beberapa waktu di sini.
"Aku bisa jaga diri ku baik-baik, kan kamu tau aku ini siapa." gurau nya.
"Sudahlah... kamu istirahat saja." ucap nya dengan senyum yang tipis.
Wasa kembali berjalan, aku tak bisa mencegah nya. Namun aku percaya kalau dia akan baik-baik saja apalagi dengan dia seorang ksatria tak akan ada yang menyakiti nya. Kalau dia tetap disini pasti akan sangat sulit untuk nya maupun diri ku.
"Tapi..." langkah nya terhenti dan berbalik badan lagi di hadapan ku.
"Masih boleh kah aku menemui mu?" tanya nya.
Apakah hal itu juga menjadi beban pikiran nya? Itu pasti kesalahan dan dia seperti sudah tau kalau hal itu dilarang tanpa perlu ku ucap, jadi berikan kesempatan sekali lagi tak apa bukan?
Aku hanya mengangguk untuk pertanyaan nya itu lalu tersenyum tipis pada nya, mendapatkan jawaban iya dari ku Wasa mengusap pelan puncak kepala ku dan memberikan ku senyuman nya yang paling manis.
Ternyata benar juga yang dikatakan nenek pada ku, berbahaya berdua-duaan dengan pria dan Wasa adalah pria berbahaya untuk kesehatan hati dan pikiran ku.
Setelah kepergian Wasa, aku mengunci pintu lalu duduk merenung didekat perapian. Aku menatap nanar ke arah api yang membakar kayu itu, memikirkan kembali mengapa bisa aku berada di tempat asing ini. Pasti ada satu alasan yang belum ku ketahui hingga kini namun jika alasan itu sudah selesai apakah aku bisa berpindah dimensi lagi? atau aku akan tetap terus berada di tempat ini?
"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" ucap ku kebingungan.
Ku pikir mata yang sedari tadi segar ini karna kejadian itu bakalan tetap segar nyata nya kini kantuk ku perlahan menyerang jadi aku memilih tidur kembali dan mencoba melupakan kejadian tadi.
Semerbak harum Rosemary menyapa indra penciuman ku, wangi yang menenangkan ini berasal dari mana? Ruangan gelap yang ada dihadapan ku lagi-lagi terjadi, aku sedang bermimpi dan sekarang apa yang akan terjadi?
Perlahan gelap dihadapan ku memudar berganti dengan nuansa tenang, mata ku berpenjar dan menemukan seorang wanita tengah duduk di sudut ruangan itu. Aku memperhatikan nya dari jauh, siapa wanita itu?
"Aahhh sial... kenapa aku tak bisa menulis nya dengan benar." ujar nya mendadak.
Wanita itu berulang kali meremukan kertas nya lalu mencampakkan nya ke belakang, lalu menulis kembali dan di remukan nya lagi. Sedang apa dia? Aku yang penasaran pun mencoba mengintip apa yang ditulis nya diremukan kertas itu tapi sayang nya tangan ku tembus pandang, aku lupa kalau ini adalah dunia mimpi ku.
Aku bergeser ke arah nya, mencoba mengintip dibalik bahu nya namun saat ku coba membaca tulisan nya hanya tulisan yang tak bisa ku mengerti, bahasa apa ini?
Aku beralih ke wajah nya yang cantik, mata nya lentik dan bulut mata nya lebat, alis nya terukir indah, dia tak memakai riasan yang berlebihan jadi terkesan alami. Awal nya aku mengira wanita ini adalah orang asing namun lama-kelamaan ku perhatikan wajah nya mirip sekali dengan nenek ku, apa jangan-jangan ini nenek ku? Aku tak tau pasti sih karna sebelum nya juga aku tak pernah melihat foto nenek ku masih muda.
Wanita itu melipat kertas yang dituliskan nya lalu di masukan nya kedalam kertas lain nya yang sudah dibentuk seperti surat dengan sebuah cap yang bertandakan burung Harpy Eagle dan busur juga panah api yang mengarah ke atas, dia berdiri dan melewati ku begitu saja meninggalkan ruangan ini. Aku yang masih penasaran mencoba mengikuti nya keluar namun pintu itu berubah menjadi sebuah dinding menghalangi ku, aku tak bisa kemana-mana keluar ruangan ini tak bisa apalagi bangun dari mimpi pun tak bisa.
Aku menunggu nya kembali sembari melihat-lihat isi ruangan ini, disini hanya sebuah kamar biasa dengan harum Rosemary. Perabotan kamar nya juga terkesan sederhana hanya terdapat barang-barang seperlu nya namun yang paling membuat ku terkesan saat melihat koleksi panah dan busur panah nya yang banyak juga cantik. Dengan warna dominasi hitam dan coklat yang mengkilat panah nya ini terlihat mewah mungkin saja kalau di dimensi ku pasti ini disebut barang antik.
"Wanita itu pasti pemanah yang hebat." ujar ku kagum.
Aku terus menyelusuri isi kamar ini dengan penasaran bahkan kolong tempat tidur nya pun ku masuki tapi tak ada lagi yang ku temukan selain panah itu. Aku mendekati meja tempat dia menulis tadi, mencoba mencari bahasa yang bisa ku mengerti namun angin dari luar jendela nya menyapu beberapa kertas yang awal nya rapi di atas meja jadi berantakan. Aku mencoba mengutip kertas-kertas itu tapi langsung tersadar kalau ini hanya alam mimpi ku jadi aku tak bisa membereskan nya hingga pandangan ku terhenti disalah satu nama yang tertulis di kertas yang berserakan itu.
Dear Genio...
Begitulah tulisan itu, aku mencoba membaca isi nya namun lagi-lagi terhalang bahasa yang tak ku kenali dan di bawah isi surat itu membuat ku terkejut.
Dari Hera, teman mu.
Ini bukan sebuah kebetulan kan? kertas-kertas yang berserakan ini, ruangan yang sederhana ini dan wanita tadi adalah nenek ku?! Aku tak menyangka bisa bermimpi di masa muda nya nenek tapi mengapa ada nama Kakek Genio disini? Apakah mereka saling mengenal?
Saat aku sedang terkejut dengan hal yang baru ku ketahui aku dikejutkan kembali dengan seorang wanita tua yang masuk ke ruangan ini, tampilan nya masih sama seperti tadi tapi wajah nya sudah berubah. Wajah yang tua dan penuh keriput itu benar nenek ku!
Nenek masuk dengan kedua tangan berlumuran darah, dia menggenggam serpihan busur dan anak panah yang telah patah lalu duduk ke meja tulis nya tanpa menghiraukan darah yang menetes di lantai kamar nya. Aku mendekati diri nya dan mencoba memeriksa kondisi nya, dengan wajah yang begitu sedih dan air mata yang terus mengalir nenek menulis surat dengan awalan, Dear Genio.
Melihat perubahan nenek yang tiba-tiba begini membuat dada ku sesak, aku tak kuat. Aku menyentuh nenek dan menanyakan apa yang terjadi tapi percuma saja ini masih alam mimpi ku, sialan!
Nenek memasukan isi surat nya pada sebuah amplop yang juga terkena darah nya lalu mencap nya pakai cap yang tadi. Dia beranjak lagi dari duduk nya ke arah pintu ruangan ini namun sebelum dia benar-benar keluar, nenek membalikan tubuh nya dan menatap ku dengan tatapan kosong.
"Selamat tinggal..." ujar nya lalu pintu tertutup dengan keras.
Aku kaget dengan apa yang terjadi, ruangan yang sederhana ini berubah menjadi arena perang. Terlihat siluet seorang pria dengan pedang nya, seorang wanita dengan kuda nya dan seorang wanita lain dengan panah nya. Teriakan amarah terdengar dari segala penjuru, kesakitan dan tangisan terdengar tanpa henti hingga sebuah cahaya putih menyambar ku dan membuat ku terbangun dari mimpi itu dengan shock.
Aku memegang dada ku yang berdebar dengan kencang, nafas ku sesak setelah tersadar dari mimpi itu. Mata ku terasa begitu silau, berulang kali aku mengerjap kan mata dan mengatur pernapasan ku. Apa maksud mimpi itu? aku tak bisa berpikir namun yang ku tau di mimpi tadi ada nama Kakek Genio, mungkin aku bisa tanyakan hal itu pada nya dan juga rasa penasaran ku sebelum nya.
"Aku harus berangkat sekarang!" ujar ku bergegas.
Aku mengambil jubah pemberian Wasa, memakai potongan kain yang diberikan Olaya pada ku lalu mencuci wajah ku sebentar tanpa menganti pakaian. Diluar cuaca sedang cerah-cerah nya jadi aku bisa pergi sekarang, Wasa seperti nya pun tak akan mampir ke rumah ku.
Aku mengunci pintu rumah dan melangkah kan kaki ku ke arah Pasar Informasi. Selama perjalanan ke sana aku masih merasa was-was, kejadian penculikan itu masih terbayang-bayang di kepala ku. Sebenar nya aku bisa saja minta tolong Wasa mengantarkan ku kesana namun Wasa pasti menolak keras, tapi mungkin saja ini kesempatan terakhir ku untuk bertemu Kakek Genio. Bagaimana pun setelah mimpi itu perasaan ku menjadi tak enak.
Sepanjang perjalanan beberapa jenis burung berjejer ranting pohon, seperti memperhatikan ku yang sedang berjalan sendirian. Pagi ini sama seperti pagi sebelum nya, udara yang sejuk ini tak akan bisa ku dapatkan saat pindah dimensi lagi namun tetap saja di sini berbahaya, lebih bahaya sebelum aku pindah dimensi.
Tepat di kabut putih itu ku mantapkan langkah ku dan masuk ke sana, suasana pasar yang terlihat ramai pagi ini membuat rasa was-was ku berkurang. Orang-orang tak ada yang memperhatikan ku, mereka pada sibuk dengan urusan nya masing-masing hingga pandangan dan langkah kaki ku terhenti di depan kedai tiang merah itu.
"Loh? kok masih tutup?" tanya ku kebingungan sendiri.
Tak biasa nya jam segitu Kakek Genio brlum buka, biasa nya sebelum yang lain buka Kakek sudah buka duluan tapi ini kenapa?
Aku yang kebingungan mencari tau ke pedagang yang lain nya namun mereka hanya mengatakan tidak tau lalu mengacuhkan ku, apa mungkin Kakek Genio ada di dalam?
Aku maju ke arah pintu nya, mencoba mengetuk pintu itu. Sekali ketukan, dua kali ketukan dan yang ketiga kali nya saat ku ketuk sebuah tangan memegang pindah kiri ku, hal itu membuat ku terkejut.
"Siapa anda?!." tanya ku menghindar.
Seorang pria dengan setengah wajah nya tertutup jubah berdiri dihadapan ku, aku terus mundur dan mengenai pintu yang ada di belakang ku, siapa dia?
Namun pria itu semakin lama semakin dekat hingga membuat ku bergidik takut tapi beberapa detik setelah itu dia menurunkan jubah yang menutupi setengah wajah nya dan membuat ku terkejut tak percaya, Kakek!!!
"Kakek...." ujar ku senang.
"Ssstttt..." ucap Kakek dengan jari telunjuk kanan di depan mulut nya.
Kakek menarik tangan ku masuk kedalam kedai merah lalu mengunci kembali pintu itu. Kakek membuka jubuh yang menutupi nya dan meletakan nya diatas meja, aku senang bertemu lagi dengan Kakek namun kenapa dia tak membuka kedai?
"Kek kenapa pintu nya di kunci? Kakek gak jualan?" tanya ku penasaran.
"Itu tak penting... ayo sini duduk dulu, ada yang mau kau tanya ya kan?" ujar nya seakan tau.
Aku mengangguk dan menuruti perintah nya untuk duduk, Kakek pergi kebelakang lalu memberikan ku secangkir air minum.
"Minumlah." ujar nya.
"Terima kasih, kek." Aku melepaskan potongan kain yang menutupi setengah wajah ku lalu meminum minuman yang disediakan kakek tanpa memperhatikan wajah nya yang terlihat kaget.
"Kenapa wajah mu seperti itu?" tanya Kakek dengn khawatir.
"Ini...." aku mulai meraba wajah ku yang tak lagi mulus.
"Ini saya dapatkan saat diculik beberapa hari yang lalu." jawab ku tanpa melihat Kakek Genio.
"Di culik?! Astaga Beryl kenapa bisa???" tanya Kakek.
"Menemui ku? kenapa harus malam? apa kau tak tau kalau disini itu berbahaya saat malam?" tanya nya dengan suara yang tinggi.
Aku takut mendengar nya....
"Ada yang ingin saya tanya kan kek jadi saya tak bisa menunggu lama, sebelum pulang kerja ada yang mau saya tanyakan tapi kakek sedang ada tamu jadi tidak bisa." lanjut ku.
"Bodoh! bodoh sekali diri mu..." umpat Kakek.
"Apa yang ingin kau tanyakan sampai membahaya kan diri mu sendiri?" tanya nya lagi.
Sesudah sampai disini aku merasa senang tapi untuk menanyakan hal itu membuat ku ragu, haruskah? bagaimana kalau Kakek tak menjawab nya? tidak! tidak, aku sudah sejauh ini bahkan bela-belain datang dengan kondisi yang belum fit, aku gak boleh ragu.
"Pagi sebelum saya di culik, kakek kan menyuruh saya membersihkan ruangan kakek. Saya awal nya hanya ingin membersihkan tanpa penasaran dengan isi ruangan itu tapi sebuah koran tergelatak begitu saja lalu saya membaca nya hingga menemukan sebuah artikel tentang keluarga Lavel. Saya membaca nya dan itu membuat dada saya sesak saat kepala keluarga Arambel mengatakan Lavel harus dibunuh, apakah kakek tau tentang keluarga Lavel? apakah sebuah kebetulan nama belakang saya sama dengan nama yang ada di koran itu?" ujar ku dengan beberapa pertanyaan.
Kakek yang mendengarkan kaget dengan yang ku ucapkan, wajah nya yang terlihat gelisah sekaligus takut membuat ku ikutan khawatir. Aku takut, takut yang ku dengar nanti adalah kebenaran yang ku pikirkan saat ini. Ku harap Kakek mengatakan itu salah dan membuat perasaan sesak ini lepas dari ku.
"Nak, aku tak ingin lagi berbohong..." tutur Kakek.
Tolong jangan katakan itu benar....
Ttookk...
Ttookkk...
Ttoookkkk...
Suara ketukan pintu terdengar, Kakek bergegas ke pintu itu dan membuka nya. Terlihat seorang wanita dengan memakai jubah masuk kedalam lalu kakek mengunci kembali pintu itu, siapa lagi ini? Dia membuka jubah yang menutupi nya dan terlihat seorang wanita yang ku kenali.
"Kek maafkan aku terlambat, ayo kita buka kedai nya. " ujar Olaya, dia tak menyadari keberadaan ku.
"Hari ini kita tidak akan buka." ujar Kakek pada nya.
"Loh lagi? kenapa kek?" tanya wanita itu.
"Kakek harus menjelaskan sesuatu pada Beryl, ayo kita ke rumah." jawab Kakek sembari melihat ku yang kebingungan.
Olaya juga mengalihkan pandangan nya dari Kakek ke pada diri ku, wajah nya yang terkejut langsung menghampiri ku yang tengah duduk.
"Beryl...." ujar nya sambil menggenggam kedua tangan ku.
"Ayo Olaya kita tak punya waktu sebelum mereka datang kembali." ujar Kakek pada Olaya.
"Nak, aku akan menceritakan nya pada mu tapi tak disini jadi kamu pergilah terlebih dahulu dengan Olaya, aku akan menyusul kalian." lanjut Kakek.
Olaya yang mengerti langsung menarik tangan ku melewati pintu belakang, hanya sebentar aku melihat kakek sebelum benar-benar keluar dari kedai ini dengan terburu-buru. Olaya tak mengatakan apa pun pada ku, dia menarik tangan ku dan membantu ku untuk naik ke atas kuda nya. Dengan sekali hentakan kuda nya berlari membelah jalanan yang sedang ramai.
"Olaya, kita akan kemana?" tanya ku.
"Ke rumah ku." jawab nya.
"Apakah jauh?" tanya ku lagi namun dia tak menjawab nya.
Jalanan yang diambil nya terlihat asing di hadapan ku, kami sudah keluar dari pasar itu dan sekrang yang terlihat kanan kiri jalan hanya padang ilalang yang luas tanpa henti. Laju kuda Olaya yang begitu cepat membuat ku takut terjatuh dari kuda jadi dengan sngat erat aku memeluk nya dari belakang, aku memejamkan mata ku karna saking takut nya padahal niat hati ku ingin menghafal jalanan ini.
Tak berapa lama aku merasakan kuda milih Olaya berlari dengan perlahan hingga terasa seperti sedang jalan, dengan penasaran aku membuka kedua mata ku dan terpampang lah sebuah gunung yang indah dengan sebuah rumah cukup besar dibawah kaki gunung. Olaya turun dengan sekali lompat lalu memberikan tangan nya pada ku sebagai tumpuan aku turun.
"Terima kasih.." ujar ku pada nya yang dibalas anggukan.
"Ayo kita masuk." ujar nya menganggap tangan ku.
Aku mengikuti langkah nya, rumah nya terlihat biasa-biasa saja dari luar namun saat aku melewati pagar yang dijaga oleh dua orang ksatria aku dibuat takjub oleh nya. Sebuah pintu berukuran besar dengan batu mozaik dominasi warna biru itu terlihat indah, kaca jendal nya yang begitu mengkilat dan bersih membuat ku kagum. Belum lagi bangunan nya yang terbuat dari batu paling kokoh juga sebuah lambang Echis Carinatus dengan bintang yang melilit nya, wah lambang keluarga nya bukan main.
"Rumah mu begitu bagus." puji ku.
"Rumah ini masih kalah jauh dibanding rumah bangsawan yang lain." ujar Olaya.
"Gak kok, rumah mu maupun rumah teman ku juga sama-sama bagus kalau dibandingkan dengan rumah ku bakalan kalah." gurau ku pada nya.
Beberapa pelayan menyambut ku dan Olaya, mereka memberikan hormat pada nya lalu menawarkan bantuan tapi Olaya hanya menyuruh mereka pergi dan meninggalkan kami berdua. Dia mengajak ku pergi ke sebuah ruangan yang terkunci dari luar lalu membuka nya dengan kunci yang dia keluarkan di balik jubah nya.
"Silahkan masuk." ucap nya pada ku.
Sebuah ruangan terbuka di hadapan ku dan wangi Pappermint menyeruak keluar, Olaya menutup pintu itu lalu duduk disalah satu kursi yang ada di ruangan ini.
"Ini ruangan apa?" tanya ku.
"Ruangan kerja Kakek." jawab nya.
"Waahhh...!!! ku pikir kakek hanya memiliki rumah yang tak jauh beda dari tempat ku tinggal ternyata semewah ini yaa." tutur ku yang masih terpukau.
"Kamu tak lupakan dengan janji mu itu?" tanya Olaya.
Aku kembali duduk dihadapan nya dan mengangguk atas pertanyaan nya itu.
"Kalau begitu ceritakan lah sekarang." ujar nya.
Aku mulai menceritakan apa yang terjadi pada ku, tanpa mengurangi atau menambah nya aku terus cerita hingga selesai. Olaya mendengarkan dengan seksama walau sesekali wajah nya terlihat cemas mendengar cerita ku.
"Jahat sekali wanita itu!!!" ujar nya dengan kesal.
"Pantasan kakek mengatakan beberapa hari terakhir ada sekelompok orang yang mencari ciri-ciri mu hingga kemarin." lanjut nya lagi.
"Apa? ada yang mencari ku? terus kakek bilang apa?" tanya ku mulai takut.
"Kakek hanya mengatakan tidak tau tapi mereka seperti nya tidak percaya jadi terus menerus mengawasi sekitaran pasar." jawab Olaya.
"Pantesan kakek menyuruh ku langsung masuk.." ucap ku lirih.
Siapa orang yang mencari ku? apakah para penjual itu? atau malah orang-orang nya Chalya? Memikirkan nya saja membuat kepala ku pusing, kali ini aku benar-benar dalam bahaya.
"Ryl... Beryl..." panggil Olaya, aku menoleh ke arah nya dengan kedua alis ku bertaut.
"Jangan terlalu di pikirkan...." ujar nya berusaha menenangkan ku.
"Tapi...." ucapan ku terpotong dengan suara pintu yang terbuka memperlihatkan Kakek Genio yang baru tiba.
Melihat Kakek Genio yang menghampiri meja kerja nya, Olaya berjalan ke arah kakek. Dengan semangat bercampur kesal Olaya menceritakan apa yang ku alami pada kakek nya, Kakek Genio mendengarkan nya dengan seksama. Dari jauh aku memperhatikan perubahan mimik wajah Kakek, pembawaan diri kakek terlihat sama dengan nenek ku.
"Olaya, sekarang kakek sudah tau terima kasih sudah menceritakan nya nak." ujar Kakek mengelus puncak kepala Olaya.
"Tapi bisakah kamu beri kami ruang dulu? ada yang mau kakek bicarakan dengan Beryl." lanjut kakek melirik ke arah ku.
Dengan sekali anggukan Olaya keluar dari ruangan ini, sekarang aku akan siap mendengar jawaban kakek. Kakek Genio berdiri dari duduk nya, dia mencari sesuatu di rak-rak tak jauh dari meja nya. Beberapa kali dia mengecek di rak-rak yang berbeda hingga dia berhenti di satu rak dan diam cukup lama. Aku ingin menghampiri nya dan menawarkan bantuan tapi rasa nya tak sopan.
Kakek berbalik badan lalu berjalan ke arah ku dengan sebuah kotak usang di tangan nya membuat ku penasaran apa isi nya. Kakek kemudian duduk dan terdiam lagi didepan ku, mata nya tertuju pada kotak yang juga ada di hadapan.
"Atas pertanyaan mu tadi aku akan mengatakan sejujur nya." ucap kakek memulai pembicaraan.
"Benar, lavel itu adalah nama keluarga mu dan koran yang kamu baca itu juga benar kamu adalah anggota keluarga Lavel." ujar kakek.
Degh!!! ternyata pemikiran ku beberapa hari ini benar ada nya, dada ku berdebar mendengar jawaban kakek.
"Ta..tapi kenapa di koran itu aku membaca bahwa keluarga ku dihabisi?" tanya ku tak mengerti.
"Aku juga tak mengerti nak mengapa keluarga yang begitu terpengaruh di kerajaan ini di habisi." jawab kakek.
"Kalau keluarga ku semua nya di habisi mengapa aku masih ada disini?" tanya ku.
"Awal nya aku juga mengira diri mu juga ikut terbantai dalam kekejaman itu namun beberapa hari setelah kejadian tragis itu aku menemukan sebuah kotak tak jauh dari kediaman ku ini, inilah kotak nya." ucap kakek menunjuk ke arah kotak dihadapan ku.
"Saat aku membuka isi nya terdapat sebuah surat dengan noda darah yang masih segar juga panah yang telah patah. Aku tak pernah mengira kalau nenek mu dengan sengaja meletakan kotak usang ini disekitar rumah ku, padahal dia bisa saja langsung datang kerumah ku dan memberikan nya. Awal nya aku berpikir seperti itu hingga menyadari sesuatu yang buruk telah terjadi pada nya." lanjut kakek dengan wajah yang gusar.
Aku hanya diam tanpa mencela, mencoba memahami perkataan Kakek Genio yang mendadak dan mencoba menenangkan perasaan kaget ku karna yang ku mimpi kan tadi sama dengan pernyataan kakek.
"Apa isi kotak itu kek? bolehkah aku melihat nya?" tanya ku.
Kakek langsung membuka kotak usang itu, sebuah panah yang telah patah dan kertas yang terkena noda darah yang telah menghitam terlihat dihadapan ku. Dengan spontan aku menyentuh nya, memperhatikan cap yang telah rusak itu dan perasaan merinding mengalir di seluruh tubuh ku.
"Kakek, bisakah kakek bacakan isi surat ini? saya sama sekali tak mengerti." ucap ku, bahkan bahasa yang dituliskan nenek ku sama dengan yang ada di mimpi ku. Baru sekarang ku sadari kalau mimpi itu juga sebuah pertanda hal ini akan terjadi pada ku.
"Baiklah..." ucap kakek dan mengambil surat itu dari tangan ku.
"Dear Genio....
Maaf kalau aku baru mengabari mu sekarang setelah sekian lama tidak bertukar sapa. Aku sengaja mengirimkan panah yang telah patah itu sebagai pertanda kalau surat ini aku yang buat tapi sekali lagi maaf karna panah itu sudah berlumuran darah. Segala hal sudah terjadi pada ku, politik para bangsawan sudah mulai bermain dan kini aku tak tau kapan kematian ku datang. Aku tak bisa berbicara banyak lagi, waktu ku terbatas. Tolong jaga kan permata hati ku dalam pengawasan mu, tak ada orang lain yang ku percayai dan sanggup untuk menjaga nya kecuali diri mu. Mungkin umur ku tak panjang namun jika suatu hari ada kesempatan ku untuk bertemu dengan mu, aku akan mentraktir sandwich tuna seperti dulu kamu melakukannya. Satu lagi permata hati ku bernama Beryl Ara Lavel, kamu akan tau hanya dengn sekali lihat namun tolong katakan pada nya untuk berhati-hati tidak mengatakan identitas nya. Terima kasih Genio, aku harap kamu bahagia.
Dari teman mu, Hera...."
Dalam sekejap air mata ku menetes mendengar isi surat itu, dada ku makin terasa sesak. Aku tak mengerti apa yang terjadi pada nenek ku hingga dia membuat surat itu, lalu mimpi tadi terbayang lagi dikepala ku.
Kakek yang melihat ku menangis begitu saja menghampiri ku, dia memeluk ku yang dirasa nya tak kuat. Aku pun memeluk nya erat dengan tangisan yang makin deras, aku bisa merasakan ketulusan yang Kakek berikan pada ku.
Namun nek, kenapa aku harus kembali lagi ke sini? bagaimana bisa aku hidup jika orang-orang yang ku cintai mati dalam tragedi tragis itu? bagaimana aku bisa hidup di tempat berbahaya ini sendirian, nek?
Hari ini luka di hati ku menganga kembali....