
..."Aku senang bila kamu senang, aku sedih bila kamu sedih. Tapi maukah kamu berbagi perasaan dengan ku? Aku akan ada untuk mu, selalu."...
...~ Wasa Noren Moisz ~...
.......
.......
.......
.......
.......
Langkah kaki ku dengan langkah kaki Wasa sekarang berjalan tidak selaras. Setelah Wasa menyambut ku di kediaman nya tanpa aba-aba dia menggengam tangan ku untuk mengikuti langkah nya pergi menjauh dari gerbang utama.
"Wasa, lepaskan aku bisa jalan sendiri." tutur ku.
Sejujurnya aku merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan orang-orang terlebih lagi para pelayan tadi, di tambah Wasa yang menggengam tangan ku tiba-tiba tanpa memperhatikan sekitar pasti akan menjadi pembicaraan orang-orang yang melihat nya.
Bagaimana nanti jika reputasi Wasa jatuh karna ku?
"Kamu ceroboh jadi tak bisa ku lepaskan." Ujar nya dan berjalan tanpa melihat ke arah ku.
"Tapi Wasa aku sudah besar dan tak akan ceroboh, jadi lepaskan ya?." Lanjut ku.
Walau yang ku katakan barusan adalah sedikit fakta tapi aku tak berani jika mengutarakan apa yang membuat ku tidak nyaman disini.
Wasa berhenti tiba-tiba dihadapan ku dan membuat ku hampir saja menabrak tubuh yang kokoh itu. Dia berbalik menghadap ku, mata nya menatap mata ku dan dia tidak berbicara satu hal pun setelah nya.
Di tatap Wasa seperti ini ntah mengapa membuat ku merasa salah tingkah.
"Kenapa? kenapa melihat ku seperti itu?" Tanya ku.
Aku mengalihkan pandangan ku ke arah lain dan sebisa mungkin menghindari tatapan nya yang tak bisa ku artikan.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan, tapi jangan pikirkan itu. Aku kan disamping mu jadi tak akan ada yang bisa menyakiti mu." jawab nya.
Ternyata Wasa peka juga.
Aku kenapa sih!!? Tentu saja dia peka, dia kan ksatria terpilih sekaligus terlatih.
Walaupun Wasa mengatakan hal yang sekira nya menenangkan ku tapi perasaan aneh yang dari tadi muncul ini pun tak kunjung reda.
"Ayo!" seru Wasa tanpa melepaskan genggaman tangan nya di tangan ku.
Aku akan mencoba mempercayai ucapan Wasa tadi.
Sepanjang jalan yang aku dan Wasa lalui, aku dapat melihat rumah Wasa yang terlihat megah di depan tadi. Dari samping rumah ini terlihat lebih panjang ditambah tiga lantai yang membangun rumah ini membuat nya tampak besar.
Ukiran-ukiran yang tertoreh di sepanjang dinding ini terlihat sangat indah. Terdapat banyak pintu di lantai satu nya sedangkan di lantai dua hanya 5 atau 6 pintu dan lantai terakhir hanya ada 3 pintu.
Aku juga melihat para pelayan yang mondar mandir melakukan tugas nya di lantai satu dan dua kecuali lantai tiga. Lalu beberapa ksatria berdiri di samping pintu tapi di pintu lantai tiga aku melihat penjagaan yang begitu ketat. Bukan hanya dua ksatria yang berjaga tapi ada empat orang ksatria berpakaian lengkap seperti ksatria penjaga yang ku temui di gerbang utama tadi.
Ku tebak, pasti di lantai tiga adalah ruang penting yang tak boleh di masuki siapa pun kecuali di izinkan, ya kan?
"Wasa..." tutur ku.
"Hmmm?"
"Ruangan apa yang berada di lantai tiga rumah mu ? Mengapa penjagaan nya ketat di sana?" Tanya ku.
Wasa sejenak berhenti mendengarkan pertanyaan ku dan melihat ke arah yang sedang ku lihat saat ini, lantai tiga rumah Wasa.
"Itu ruang kerja sekaligus ruang pribadi ayah Ku. Penjagaan di sana ketat karna banyak hal-hal penting." Jawab Wasa.
Ternyata benar kan.
"Kamu sering ke lantai tiga ya?" Tanya ku.
Sejenak aku memikirkan kembali pertanyaan ku barusan, terdengar konyol untuk di tanya kan.
Lagian ini adalah rumah nya juga tentu saja dia pernah ke lantai tiga kan apalagi ke ruangan ayah nya.
Haaah, Wasa pasti menganggap ku aneh.
"Gak, aku gak pernah mau ke lantai tiga." Jawab nya.
Eeh? Kenapa dia menjawab seperti itu?
"Loh, kok gitu?"
Aku melirik ke arah Wasa dan mendapati wajah nya terlihat sedikit murung.
Apa dia baik-baik saja?
"Sebenarnya aku pernah naik ke lantai tiga hanya saja setelah itu aku sudah bertekad untuk tidak lagi datang ke sana hahaha" tutur nya.
Tawa nya yang tiba-tiba pecah terdengar begitu canggung di telinga ku, Wasa seakan berniat menutupi sesuatu dari ku.
"Kamu aneh kalau ketawa begitu." Cerca ku.
"Kok aneh?" Tanya nya yang tak mengerti atau memang pura-pura tak mengerti?
"Jangan tertawa saat kamu memang gak mau tertawa. Tawa mu tadi sangat tidak enak didengar tahu." Lanjut ku.
Setelah aku mengatakan itu Wasa terlihat diam tanpa ekspresi dan tatapan nya kosong.
Apa ucapan ku barusan menyakiti nya? Tapi aku hanya berkata jujur untuk membuat nya tidak lagi tertawa seperti itu dihadapan ku.
"Maaf...." Tutur nya pelan.
"Untuk apa?" Tanya ku.
"Untuk tawa ku yang membuat mu tidak nyaman, Beryl." Ujar nya.
"Kenapa kamu tertawa seperti itu? Apa kamu tidak merasa aneh setelah kamu tertawa seperti itu, Wasa?" Tanya ku lagi.
"Ini bukan sesuatu yang menyenangkan jika di ingat kembali. Dan aku pikir kamu tidak akan tertarik jadi aku tertawa." ujar nya.
"Kamu jangan beranggapan seperti itu." Sergah ku.
"Ya karna itu aku minta maaf, Beryl." Tutur nya lagi.
Baiklah, jika dia menyadari kesalahan nya aku tak akan mempermasalahkan nya lagi.
"Aku memaafkan mu." Tutur ku tulus.
Dengan tersenyum aku mengelus pucuk kepala nya yang lebih tinggi dari ku namun masih bisa ku gapai. Karna dia sudah berani untuk meminta maaf maka akan ku berikan hadiah yang mungkin bisa sedikit melegakan nya seperti yang nenek lakukan pada ku.
Wajah Wasa terlihat sedikit memerah, apa aku memperlakukan nya seperti anak kecil ya? Pasti dia merasa seperti itu dan aku lekas menarik kembali tangan ku yang tadi mengelus kepala nya.
Tapi ingatan menyakitkan seperti apa yang membuat nya terlihat murung?
"Aku ingin tahu ingatan menyakitkan yang seperti kamu katakan tadi, itu pun jika kamu mau menceritakan nya pada ku." Ucap ku.
Walau sebenarnya aku ingin tahu tapi aku juga tak bisa memaksa nya jika Wasa tak ingin mencerita kan nya pada ku, aku akan menghargai itu.
"Aaah itu..." Gagap nya.
"Apa?" Tanya ku.
"Pertama dan terakhir kali nya aku ke lantai tiga saat umur ku 6 tahun. Karna aku gak tahu dan gak ada yang jaga di lantai tiga aku masuk ke dalam ruang kerja ayah hingga ketiduran di sana." ujar nya.
"Dan saat ayah kembali ke ruangan nya dia memerintahkan ksatria lain untuk memindahkan ku ke kamar ku." Lanjut nya.
"Itu ingatan yang menyakitkan mu?" Tanya ku yang penasaran.
Wasa menggeleng dengan cepat membantah pertanyaan ku barusan.
"Bukan itu, hanya saja aku diberi hukuman setelah bangun dari tidur." Tutur nya melemah.
"Hukuman? Apa itu?" tanya ku lagi.
"Aku.. Aku ragu untuk mengatakan nya, aku takut kamu akan terkejut jika mendengar nya." Ujar nya.
"Aku ingin tahu Wasa. Lagian tanggung banget kalau kamu cerita sampai sini." Seru ku.
"Aku tahu ..." Lirih nya.
"Hukuman nya hanya hukuman ringan untuk anak yang nakal." Lanjut nya.
"Apa? Tidak diperbolehkan keluar rumah? Atau tidak di kasih uang jajan?" Tebak ku.
Saat Wasa mengatakan hukuman untuk anak yang nakal kepala ku langsung terpikirkan hal-hal yang biasa nya aku lihat di sekitaran rumah ku di masa depan.
Jika ada anak yang nakal mereka akan dihukum agar tak melakukan kesalahan dan menurut ku hukuman itu tidak akan mungkin menyakitkan bagi anak-anak hingga mereka dewasa.
"Bukan itu, hukuman nya hanya sedikit cambukan di betis kaki." Sanggah nya.
"Apa?! Cambukan?" seru ku kaget.
Barusan Wasa bilang hanya sedikit cambukan? Cambukan di kulit betis anak kecil?
Kenapa dia begitu ringan mengatakan kata "hanya sedikit" dengan ekspresi sedatar ini?
"Iya itu hukuman nya." Lanjut nya.
"Gila!!" Seru ku lagi.
Aku langsung berjalan ke arah belakang Wasa lalu berjongkok tepat di depan betis nya. Tanpa meminta izin nya aku begitu saja menaiki celana di bagian betis nya untuk melihat seperti apa luka cambukan yang di terima nya.
Satu bulir air mata jatuh begitu saja dari mata ku kemudian menjadi banyak saat aku melihat langsung bekas luka cambukan nya, bekas luka itu begitu banyak di betis nya.
Memang bekas luka nya tidak timbul karna sudah sejak lama tapi bagaimana pun bekas luka ini pasti terasa lebih menyakitkan saat Wasa terima dan beberapa waktu setelah menerima hukuman cambukan di betis nya.
Bagaimana bisa anak kecil menerima hukuman cambukan seperti yang Wasa dapatkan? Aku tak habis pikir orang tua seperti apa yang tega menghukum anak nya sekeras ini.
"Beryl... Jangan menangis. Aku sudah tidak apa-apa, luka ini tidak sakit lagi." Ujar Wasa menenangkan ku.
Tapi semakin Wasa mengatakan itu semakin banyak pula air mata ku yang keluar.
"Jangan berkata seperti itu, walau luka mu tidak sakit lagi tapi kamu pernah merasakan nya dan sampai sekarang hal itu menyakitkan bagi mu. Mengapa bisa orang tua mu tega seperti ini pada mu, Wasa." Ucap ku marah.
Setelah aku memarahi nya, Wasa langsung memeluk ku yang tak berhenti menangisi nya.
"Aku tidak apa-apa Beryl, sungguh tidak apa-apa." tutur nya lembut.
"Ayah ku pasti melakukan itu untuk mendidik ku yang nakal dan niat nya pasti baik untuk ku. Mungkin cara nya keras tapi biar pun begitu dia tetap ayah ku." Lanjut nya.
"Jangan menangis lagi, kamu akan terlihat seperti anak kecil loh." Gurau nya.
Aku menyadari maksud yang Wasa katakan, memang tak seharusnya aku menagisi hal yang tak ku alami tapi untuk nya teman lama ku hal itu tak bisa membuat ku tak menangisi nya.
Jari-jari Wasa mendarat di antara bulir-bulir air mata ku, dia menghapus air mata ku lalu menarik ke dua pipi membentuk sebuah senyuman.
"Kamu memang lebih cantik kalau tersenyum dari pada menangis." Tutur nya.
Aku merasa dia seperti sedang menggombali ku yang tak berhenti menangis juga.
"Aku tuh cantik dalam keadaan apa pun yaa." Sanggah ku dan sedikit mundur dari nya.
"Baiklah nona yang cantik dalam keadaan apa pun, ayo kita lanjutkan jalan lagi." Ejek nya yang kemudian tertawa.
Aku senang jika kamu tak tertawa seperti tadi, Wasa.
Dan lagi, Wasa menggenggam tangan ku melanjutkan jalan yang tadi sempat terhenti karna pertanyaan ku tentang lantai tiga itu.
Kami terus berjalan lalu berhenti di suatu arena berumput hijau yang begitu luas terhampar di depan mata ku.
Tempat apa ini? Tidak ada orang sama sekali di sini kecuali aku dan Wasa.
"Nah karna kamu pernah bilang kalau gak pandai menunggangi kuda jadi nya aku bawa kamu ke sini untuk belajar berkuda." Ujar Wasa disamping ku.
Eeh? Kapan aku mengatakan itu pada nya?
"Aku yang mengatakan begitu?" Tanya ku untuk memastikan nya.
Tapi aku sama sekali tak ingat.
"Iya, kamu yang bilang sendiri sebelum pergi ke Hutan Arieta." jawab nya.
Aah hutan itu yaa...
Hutan yang menjadi tempat ku berpindah dimensi dari masa depan ke masa lalu.
"Kamu tunggu di sini, aku akan membawa kuda yang cocok untuk mu." Pintah nya lalu pergi meninggalkan ku sendiri disini.
Apalagi yang pernah ku katakan pada Wasa sebelum ke Hutan Arieta itu?
Mengapa hanya ingatan di masa depan ku saja yang begitu jelas di kepala ku sedangkan ingatan di masa lalu ini begitu sulit untuk ku ingat kembali?
Aku yang bergelut dengan pikiran ku sendiri tanpa menyadari kedatangan Wasa yang sudah kembali tepat di samping ku dengan kuda yang sudah terikat disalah satu kayu.
"Ryl, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya nya yang membuat ku kaget.
"Jangan ngagetin dong." cerca ku pada nya.
"Kamu sih dipanggilin dari tadi gak nyahut-nyahut." Bela nya.
"Lagi banyak pikiran?" Lanjut Wasa lagi.
"Ngak, gak ada apa-apa. Ayo latihan." ujar ku mengalihkan pertanyaan nya.
Aku masih belum bisa memberitahukan nya dan mungkin nanti setelah selesai latihan berkuda aku akan menanyakan hal-hal yang pernah ku ucapkan pada nya sebelum ke Hutan Arieta.
"Ayo." Seru Wasa.
Latihan berkuda ku yang pertama kali ini Wasa mengenalkan ku pada peralatan yang wajib ada untuk berkuda.
Ada pelana kuda atau Saddle dan alas pelana kuda atau Saddle Pad yang Wasa pilihkan untuk ku, dia membawa beberapa pelana kuda dan menyuruh ku untuk mencoba nya karna dengan mencoba aku akan mengetahui mana yang nyaman dan tepat untuk ku dan kuda yang akan ku tunggangi nanti.
Lalu ada tali kekang atau Horse Riding Rein, kekang kuda atau Horse Riding Bridle, Sanggurdi atau Stirrup, tali perut atau Grith dan cambuk atau Horse Whip, yang semua nya Wasa siap kan untuk ku.
Setelah memilih mana peralatan yang cocok dan nyaman untuk ku berkuda Wasa mengajari ku teknik-teknik berkuda yang beda untuk pemula seperti ku. Aku dan Wasa menaiki kuda yang sama, tangan ku yang memegang tali kekang dikontrol oleh tangan Wasa yang memegang tangan ku.
Perlahan tapi pasti aku dapat mengendalikan kuda yang ku tunggangi tanpa bantuan Wasa lagi dalam beberapa waktu. Hingga tak terasa sudah 2 jam lebih aku berada ditengah-tengah arena berkuda dengan kuda yang ku kendalikan sendiri.
"Bagaimana? Sudah lelah? Mau istirahat?" tanya Wasa menghampiri ku yang baru saja turun dari kuda.
"Iya, kita istirahat saja." Ujar ku berjalan ke arah tikar yang terbentang di atas rumput.
Aku merebahkan tubuh ku yang penuh keringat ini, menikmati semilir angin yang bertiup dan memulihkan kembali energi yang terkuras karna latihan berkuda itu. Disamping ku, Wasa pun tergeletak begitu saja seperti posisi ku sekarang, pandangan kami sama, sama-sama melihat ke langit biru yang cerah namun tak terasa panas.
"Kamu senang?" Tanya nya.
Seketika terlukis senyum di wajah ku, teringat hal yang menyenangkan saat aku mencoba berkuda tadi.
"Iya, aku sangat senang hari ini." Seru ku antusias.
"Syukurlah, kamu senang aku pun ikut senang." Ujar nya lega.
"Kalau aku sedih bagaimana?" Tanya ku bercanda.
"Aku akan ikut sedih." Jawab nya.
"Kok gitu?"
"Aku senang bila kamu senang, aku sedih bila kamu sedih. Tapi maukah kamu berbagi perasaan dengan ku?." ucap nya lembut.
"Aku akan ada untuk mu, selalu." Lanjut nya pelan.
Aku melihat ke arah nya dan menatap wajah nya yang sedang menutup mata ini, pria ini memang tampan bahkan tak akan ada habis nya jika aku mengatakan dia tampan.
Apa ucapan nya barusan adalah hal yang wajar di katakan di antara teman? Aku sedikit meragukan nya.
Bukan yang di katakan nya tapi pertemanan di antara kami, seakan-akan di satu sisi perkataan nya di tujukan pada seorang kekasih dan disatu sisi lain nya di tujukan pada seorang teman.
Aku tidak tahu bagaimana pertemanan antara laki-laki dan wanita karna di masa depan aku tak pernah mengalami hal itu dan tak punya teman. Aku bingung harus bertindak atau menjawab seperti apa untuk perkataan nya barusan.
"Wasa..." Ujar ku.
"Iya, Beryl..." Jawab nya tak kalah lembut.
"Perkataan mu barusan itu di tujukan untuk teman kan?" Tanya ku.
Sebenar nya aku ragu menanyakan ini tapi aku gak bisa menjawab jika dia tidak memperjelas maksud nya.
"Aah itu yaa ... Hmm tentu saja sebagai teman" tutur Wasa sedikit gagap.
Aah.. Syukurlah jika teman yang di maksud nya.
"Ooh gitu.. Tentu saja aku akan membagi perasaan dengan mu, kamu kan teman ku." Seru ku pada nya.
Kalau seperti ini kan aku jadi lega, aku berteman dengan Wasa dan dia tentu saja menyukai orang lain tanpa aku menganggu nya.
"Kalau gitu aku mau ke kamar mandi sebentar, disini dimana kamar mandi nya Wasa?" tanya ku yang kebutulan sekali kebelet pipis.
"Kamu lurus saja dari sini, kalau ketemu pohon cemara kamu tinggal belok ke kanan lalu jalan lurus lagi sampai ke tempat dapur, jika kamu bertemu salah satu dari pelayan langsung minta antar kan ya mereka akan mengatarkan mu." Ucap Wasa.
"Baiklah." Jawab ku dan berjalan ke arah yang Wasa katakan.
"Ternyata perjalanan ku masih panjang untuk mendapat kan mu, Beryl." Lirih Wasa pelan saat aku berjalan menjauh dari nya.