Aksaberyl

Aksaberyl
Kediaman Moizs



..."Sayang, aku akan membuat mu hanya melihat ke arah ku. Kamu akan masuk dan terus masuk kedalam perangkap bunga berduri hingga kepala mu yang berharga itu berada dibawah kaki ku."...


...~ Delila Peony Moizs ~...


.......


.......


.......


.......


.......


Aroma Teh Mint yang di buat Wasa dan Roti kukus yang di bawa nya beradu wangi di sekitar tempat ku duduk sekarang. Aroma makanan itu beradu padu membuat perut ku bersuara tidak hanya sekali, ntah Wasa mendengar nya atau tidak tapi ku harap dia tidak mendengar suara perut ku yang kelaparan ini setelah bangun tidur tadi.


Pandangan ku mengarah ke luar jendela, tidak seperti biasa nya aku sengaja duduk di kursi tua dekat jendala bukan di kursi makan lalu menunggu makanan yang di siap kan nya. 


Sedari tadi aku merutuki diri ku yang tanpa berpikir panjang memeluk Wasa dan membuat keadaan canggung di sekitaran kami. Apalagi wajah Wasa yang tiba-tiba memerah setelah ku peluk, pasti dia berpikiran aneh-aneh karna aku memeluk nya tanpa seizin diri nya.


Dan sejak tadi saat dia mulai membuatkan ku makanan sampai sekarang dia tak mengatakan apapun pada ku sama sekali, pasti dia merasa risih dengan tingkah ku tadi.


"Ryl, makanan nya udah siap." tutur nya.


Mendengar ucapan nya aku langsung menoleh ke arah nya tapi dia berjalan membelakangi ku menuju tempat mandi.


Aku beranjak dari posisi ku sekarang ke meja makan, aroma teh dan roti kukus yang menggoda membuat ku menekan lebih keras lagi rasa ingin memakan nya duluan. Setidak nya aku harus minta maaf dulu pada Wasa baru setelah nya aku akan merasa tenang. Tapi Wasa tak kunjung keluar dari tempat mandi.


Aku hendak menyusul nya ke tempat mandi dan menanyakan apakah dia butuh bantuan ku karna terlalu lama di sana tapi saat itu juga Wasa keluar dengan wajah yang sudah basah dan menyisir rambut nya yang ikutan basah dengan jari-jari milik nya.


Ternyata di hadapan ku ada pemandangan yang indah ya.


Wasa melirik ke arah ku yang sedang menatap nya binar dan menunjukan wajah kaget nya pada ku.


"Ee..eeh Beryl. Mau ke kamar mandi ya?" tanya nya terdengar canggung.


"Aah itu aku pikir kamu butuh bantuan jadi aku berniat menyusul mu." jawab ku.


"ooh gitu... Hmm makanan nya udah dimakan?" lanjut nya.


"Belum" ujar ku pelan lalu memandang lantai kayu rumah ini.


"Loh kenapa? Gak enak ya?"


"Bukan gitu... Makanan nya terlihat enak tapi aku gak bisa langsung memakan nya." ujar ku jujur.


"Kenapa gak bisa langsung dimakan?" tanya Wasa bingung.


Aku beralih dari memandang lantai kayu ke wajah Wasa, melihat wajah nya yang bingung membuat ku mengingat kembali kejadian tadi.


Sungguh, sekarang aku sedang malu sekali.


"Wasa... Aku minta maaf soal kejadian tadi pagi. Aku yang tiba-tiba memeluk mu pasti membuat mu risih." tutur ku tulus.


Wasa yang bersikap tak seperti biasa nya pada ku mungkin saja risih karna kejadian tadi pagi karna itu aku minta maaf. Aku hanya tak ingin teman ku menjadi risih karna refleks ku tadi.


"Iii..iya gak apa-apa, Ryl. Pasti tadi kamu mimpi buruk ya?"


Wajah Wasa yang sedikit memerah membuat ku yakin kalau dia juga malu sama seperti ku.


"Iya, aku tadi mimpi buruk." tutur ku sedikit takut.


Aku mengingat mimpi itu bukan seperti mimpi random yang sering ku alami di masa depan setelah ditinggal nenek, mimpi itu terasa seperti sebuah ingatan.


"Aah begitu...." ucap Wasa.


"Ya sudah ayo kembali ke meja makan setelah itu ikut aku ke suatu tempat." seru Wasa, dia menggenggam tangan ku untuk mengikuti nya ke meja makan.


Genggaman tangan Wasa yang hangat ini dan perlakuan baik nya pasti membuat wanita yang disukai nya benar-benar beruntung jika memiliki Wasa didalam hidup nya.


Karna permasalahan tadi sudah selesai aku langsung memakan makanan yang dibuatkan Wasa dengan lahap, perut ku yang tak bisa menahan lagi terasa lebih lega saat satu persatu makanan masuk ke dalam perut ku. Tak sampai 10 menit makanan yang di atas meja ini habis tanpa tersisa.


"Kamu suka?" tanya Wasa.


"Suka!" seru ku senang dan Wasa tersenyum melihat ku.


"Makanan yang kamu bawa dan buat selalu enak, kamu cocok kalau jadi koki makanan." saran ku pada nya.


"Iya? Ibu ku juga dulu bilang gitu, tapi aku gak terlalu suka jika bekerja menjadi koki makanan." ujar nya.


"Loh kenapa?" tanya ku.


"Karna aku lebih menyukai pedang, dengan pedang rasa nya aku bisa bebas." tutur nya dengan sorot mata yang berbinar.


Seperti nya Wasa memang menyukai pedang aah tidak tapi dia sudah jatuh cinta pada pedang nya.


"Bagus deh kalau kamu begitu menyukai pedang." ucap ku senang.


Aku jadi teringat perkataan nenek kalau kita harus melakukan apa yang kita sukai agar tak menyesal nanti.


"Kalau kamu Ryl, apa yang kamu sukai?" tanya Wasa.


Aku memikirkan pertanyaan Wasa barusan, apa hal yang aku sukai ya? Tapi satu hal pun gak ada yang muncul di kepala ku.


"Ntahlah, ku rasa gak ada hal yang ku sukai." ucap ku pelan.


Bahkan di kehidupan ku di masa depan saja terasa hambar karna tak ada hal yang ku sukai, rasa nya aku menjalani hidup terpaksa.


"Kenapa sedih gitu?" tanya Wasa.


"Gak apa-apa." jawab ku singkat, aku tak bisa memberi tahu kan nya soal kehidupan ku di masa depan, dia akan menganggap ku aneh.


"Baiklah kalau kamu belum mau cerita dengan ku." tutur nya lembut.


Wasa berdiri dari duduk nya lalu berjalan memutari setengah meja kemudian berdiri tepat disamping ku. Aku menatap ke arah nya yang juga tengah menatap ku dan tanpa ku sadari tangan kanan nya mendarat di atas kepala ku lalu mengusap-usap rambut ku pelan.


"Tapi kamu harus tahu Ryl, aku akan selalu ada untuk mendengar cerita-cerita mu seperti dulu." lanjut nya.


Seakan terhipnotis oleh tatapan nya aku mengangguk mengiyakan yang diucapkan nya, kenapa tiba-tiba aku merasa gerah.


"Ayo kita berangkat." ujar nya sambil tersenyum lalu berjalan ke arah pintu dan meninggalkan ku yang diam seperti patung.


Setelah dia membuka pintu dan keluar dari rumah ini aku baru tersadar akan perlakuan nya tadi.


Aku menutup wajah ku dengan kedua telapak tangan ku, pasti wajah ku sekarang memerah.


Bisa-bisa nya aku hanya mematung dan mengiyakan ucapan nya, apalagi tadi... tadi tangan nya mengusap rambut ku lalu sekitaran ku mendadak jadi gerah.


Aaaaa ....


Gak, gak! Itu pasti hanya perlakuan lembut pada teman kan?


Ya pasti begitu !!


Aku memutuskan untuk berpikiran positif dan pergi ke tempat mandi untuk membasuh sekaligus mereda kan wajah ku yang memerah karna Wasa, Wasa sudah punya orang yang di sukai nya dan tidak mungkin dia ada sesuatu dengan ku kan? Iya kan?


Bagaimana pun aku memikirkan nya, Wasa tentu saja tidak menyukai ku dan aku pun begitu.


Aku langsung menganti pakaian ku, memakai jubah yang telah ku keringkan kemarin malam di dekat perapian lalu menyusul Wasa di luar.


Aku mengunci pintu rumah tua ini terlebih dulu agar tidak ada orang asing yang masuk lalu berjalan menuju Wasa yang tengah menunggu ku di atas kuda nya.


"Sudah?" tanya nya.


"Sudah." ucap ku.


"Ayo." ajak nya.


Wasa menjulurkan tangan nya ke hadapan ku dan aku mengapai tangan nya untuk naik ke atas kuda, kami langsung saja pergi ke tempat yang dikatakan Wasa pada ku kemarin.


Selama di perjalanan Wasa terasa  santai menunggangi kuda nya jadi aku bisa melihat-lihat sekitar dan menghafal jalan-jalan yang ku lalui bersama nya.


Kami melintasi sebuah jalan sempit yang hanya bisa dilalui satu kuda, terlihat seperti terowongan kecil, gelap tanpa pencahayaan padahal sekarang masih siang.


Setelah keluar dari jalan sempit itu kami melintasi beberapa ladang luas milik orang lain seperti ladang gandum lalu ada ladang jagung dan tak jauh dari ladang itu ada satu dua rumah kecil yang bertengger ditengah-tengah ladang. Aku baru pertama kali melihat ladang seperti ini secara langsung.


Kami melanjutkan perjalanan lagi  melewati sebuah hutan rimbun yang didalam nya terdapat sebuah air terjun yang tidak terlalu tinggi.


"Ternyata air terjun kalau dilihat dari dekat indah ya." ucap ku.


"Aku mau, tapi apa kita sedang terburu-buru ke tempat yang kamu katakan itu?" tanya ku balik.


"Gak Ryl, kita berhenti sebentar ya." ujar nya.


Wasa menepikan kuda nya ke salah satu pohon yang tak jauh dari posisi air terjun ini. Aku turun dari kuda Wasa dengan perasaan senang, aku merasa seperti piknik apalagi ke tempat air terjun yang belum pernah ku kunjungi selama hidup ku di masa depan. Karna sudah tidak ada yang mengajak ku jalan-jalan sejak umur ku 10 tahun.


"Kamu sering ke sini Wasa?" tanya ku.


Aku mencari posisi yang nyaman dan tepat untuk ku duduki, Wasa menyusul ku dan mengambil tempat tepat disamping ku.


"Tiap kali ke rumah mu aku selalu lewat sini." jawab nya.


Aku memandang ke arah nya yang tengah melihat air terjun, laki-laki ini sering mengunjungi ku bahkan bisa sampai 2 kali dalam sehari dia mengunjungi ku.


Apa dia tidak lelah?


Belum lagi tugas nya yang menjadi ksatria pangeran mahkota dan  waktu luang nya untuk bersantai tapi dia mengunjungi ku terlalu sering.


Aku ingin menanyakan mengapa dia terlalu sering mengunjungi ku tapi rasa nya niat ku harus ku urung terlebih dahulu karna ada perasaan aneh yang aku tak tahu itu apa.


"Kita mau ke mana sebenarnya?." tanya ku mencairkan suasana yang beberapa saat tadi hening tanpa pembicaraan.


"Udahan lihat air terjun nya?" tanya Wasa balik.


"Saat pulang kita bisa lihat lagi air terjun nya." lanjut Wasa.


Dari ucapan Wasa, seperti nya dia memang sedang buru-buru. Tempat seperti apa yang ingin Wasa tunjukan pada ku?


"Ya sudah, ayo." ujar ku berjalan mendahului nya ke arah kuda.


Aku dan Wasa melanjutkan kembali perjalanan menuju tempat yang ingin Wasa tunjukan pada ku.


Setelah keluar dari hutan itu Wasa melajukan kuda nya ke arah keramaian, belum sampai pada palang merah yang bertuliskan Pasar Nar suara orang-orang terdengar keluar dari palang merah itu dan kami baru memasuki Pasar Nar ketika salah seorang wanita menari dengan pakaian yang serba menyilaukan mata, sebuah pertunjukan yang digemari.


"Cantik tapi pakaian nya menyilaukan." ucap ku pelan.


"Nama nya juga sedang pertunjukan Ryl." timpal Wasa dibelakang ku.


"Kamu suka pertunjukan seperti itu?" tanya ku.


"Kurang sih" jawab nya.


"Kurang? Kurang apa? Kurang sexy gitu?." lanjut ku meledek nya.


Tapi dia hanya tertawa dan tawa nya membuat ku ikutan tertawa.


"Kok ikutan tertawa?." tanya Wasa.


"suka-suka dong." ucap ku.


"Jawab iih..." lanjut ku berpura-pura kesal pada Wasa.


"Yaa bukan itu tapi kurang suka aja." jawab nya.


"Aku tahu, pasti karna penari wanita nya kan? Ayo ngaku Wasa..." ucap ku menggoda nya.


Siapa tahu wanita yang disukai nya secantik penari pertunjukan itu kan.


"Bukan Beryl." jawab Wasa lagi.


"Emang kamu gak suka lihat wanita cantik seperti penari pertunjukan itu?" tanya ku lagi.


"Ya kalau laki-laki normal tentu saja, berlaku buat ku. Tapi wanita yang ku sukai bukan seperti wanita penari pertunjukan itu." ujar nya tenang.


"Jadi?" tanya ku penasaran.


"Wanita yang ku sukai tidak terikat dengan siapa pun, dia bukan bangsawan ataupun penari pertunjukan. Dia hanya wanita sederhana yang lebih indah dari wanita bangsawan maupun wanita penari pertunjukan itu." lanjut nya.


"Jika wanita yang kamu sukai mendengar pernyataan mu seperti ini, pasti wajah nya akan memerah dalam sekejap." kekeh ku.


Aku yakin, wanita yang disukai Wasa akan sangat beruntung jika memiliki Wasa di hidup nya suatu saat nanti.


"Ku rasa akan begitu, Ryl. Kalau kamu bagaimana?" tanya Wasa balik pada ku.


"Bagaimana apa nya? Pria yang ku sukai?" tanya ku bingung.


Jika yang dimaksud Wasa adalah pria yang ku sukai, aku tak akan menjawab nya. Karna aku sama sekali tak punya orang yang ku sukai.


"Bukan... Bukan itu Ryl." ujar Wasa gelagapan.


"Terus apa?" lanjut ku.


"Gak jadi deh." tutur nya.


Entah mengapa aku merasa sedikit kesal dengan ucapan Wasa barusan namun aku lebih memilih diam memperhatikan tempat-tempat yang ku lalui begitu pun dengan Wasa yang tengah berkonsentrasi mengendarai kuda.


Setelah dari Pasar Nar, Wasa membawa kuda nya kearah timur laut. Aku melihat rumah-rumah besar yang menjulang tinggi, kokoh dan mewah bersamaan terpampang di depan mata ku. Berbeda dengan rumah tua yang ku tempati, rumah-rumah yang ku lihat ini seperti istana yang muncul di kartun-kartun tv atau pun di penggambaran novel. Bahkan lebih mewah dari pada tempat wisata De Ramor yang ku lihat sebelum jatuh dari menara nya dan sampai berpindah di mensi ke masa lalu.


Berapa koin emas ya untuk membeli rumah seperti ini, aku merasa iri.


"Sebentar lagi kita akan sampai." seru Wasa terdengar senang.


Aku masih memandang setiap rumah yang aku dan Wasa lalui, disetiap rumah itu terdapat lima orang ksatria berpakaian lengkap dengan pedang di pinggang kanan tengah berdiri didepan gerbang masuk. Warna dan corak pakaian setiap rumah yang di jaga ksatria juga berbeda.


Apa di sini kawasan para elite? Atau seperti orang-orang penting? Apalagi di jaga dengan ketat.


Aku tak melihat satu pun sampah di pinggiran jalan, semua tambah bersih dan mengkilat. Aku juga tidak melihat pejalan kaki yang bersenda gurau seperti di Pasar Nar tadi, hanya yang ku lihat beberapa kereta kuda berlalu-lalang membawa sebuah simbol besar dibelakang kereta kuda itu.


Tapi satu simbol mencuri perhatian ku, seekor Burung Bearded Vulture dengan sebuah botol kecil berwarna hijau di kedua cakar kaki burung.


Botol kecil berwarna hijau itu seperti simbol racun yang pernah ku lihat saat nonton kartun waktu kecil.


"Wasa, kereta kuda yang baru saja kita lewati berasal dari mana?." tanya ku.


"Dari keluarga Arambel, Ryl. Ada apa?." ujar Wasa.


Arambel? Aku seperti pernah merasa mendengar nama ini di suatu tempat.


"Gak apa-apa, Wasa. Simbol nya menarik perhatian ku." tutur ku.


Aku mencoba untuk mengingat ingatan masa lalu ku ini, tapi satu pun tak ada yang teringat oleh ku.


"Nah di depan itu tempat nya." ujar Wasa dan membuat ku melihat ke arah yang Wasa katakan.


Simbol Burung Common Loon dengan cemeti yang melingkar di leher burung, simbol ini milik keluarga Wasa.


Apa yang dimaksud Wasa adalah ini? Ke rumah nya?


Seharus nya aku senang seperti orang lain kalau di ajak teman nya main ke rumah nya apalagi rumah teman nya yang mewah seperti rumah Wasa yang terpampang dihadapan ku.


Tapi mengapa aku merasa takut?


"Ternyata tempat yang kamu maksud itu rumah mu, Wasa?" tanya ku untuk memastikan nya.


Wasa tak menjawab pertanyaan ku hingga kuda yang aku dan Wasa naiki sampai di depan gerbang masuk yang tengah di jaga sepuluh orang ksatria. Tanpa melakukan pemeriksaan Wasa di persilahkan masuk oleh mereka.


Halaman yang luas, taman yang dihiasi beraneka ragam bunga, air mancur berbeda warna dan para dayang-dayang yang berbaris rapi di pinggir memberi hormat pada ku dan Wasa.


Tidak! Aku ralat, mereka hanya memberi hormat pada Wasa saja. Karna bisikan-bisikan beberapa dari mereka terdengar oleh ku.


Wasa menurunkan ku tak jauh dari dayang-dayang itu berdiri, dia meminta ku menunggu nya sebentar disini.


Pandangan ku mengedar di setiap dlsudut luar rumah yang megah ini, ternyata aku punya teman yang kaya raya seperti Wasa.


Namun aku merasa punggung ku serasa tertusuk oleh tatapan tak ramah dari dayang-dayang yang menyambut Wasa tadi.


Apa nanti mereka akan menggosipkan ku?


"Beryl..." tutur seseorang dan aku membalikan tubuh ke arah suara seseorang yang memanggil ku.


"Aah Wasa, iya?" ujar ku.


"Selamat datang di kediaman Moizs, Beryl." seru nya senang.


Mata yang berbinar itu menyambut ku dengan suara dan sikap nya yang hangat, aku merasakan ketulusan dan rasa senang Wasa pada ku. Tapi sungguh, perasaan takut ku ini tidak bisa ku tutupi dengan rasa senang Wasa.


Aku merasa akan ada sesuatu yang menimpa ku nanti nya.