Aksaberyl

Aksaberyl
Perdagangan Budak



..."Kau tau hal apa yang paling mendebarkan selain jatuh cinta? ya, balas dendam."...


...~ Chalya Aleth Arambel ~...


.......


.......


.......


.......


.......


"Sudah lah Ryl, aku kan hanya terluka kecil dan udah kamu obati tapi kenapa kamu masih menangis?" tanya Wasa.


Memang benar aku masih terus menangis sejak bahunya tak sengaja ku lukai juga aku masih tak tenang dengan ingatan yang muncul tiba-tiba itu.


"Tapi tetep saja kan kamu terluka karna ku."


"Hhaaaahh ..." Wasa menghela nafas.


"Gimana caranya buat kamu yakin kalau aku baik-baik saja, Ryl?" tanya nya dengan menatap ku.


"Aku gak tau harus gimana," jawab ku.


"Atau kamu mau rawat aku sampai kamu ngerasa aku baik-baik saja?"


"Maksud nya?" aku tak mengerti.


"Ya aku akan tinggal di rumah mu, kamu bisa pantau keadaan ku, kamu akan selalu bersama ku sampai luka ku sembuh," jawab nya.


Tapi kok aku ngerasa enakan di Wasa ya?


"Gak boleh! laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan yang sama untuk waktu yang lama akan berbahaya," sanggah ku.


Mendengar jawaban ku dia tertawa begitu kencang dan membuat ku terkejut.


"Kenapa tertawa?!"


"Apa aku bisa bikin kamu dalam situasi 'bahaya' Ryl?" tanya nya yang seakan-akan meledek ku.


Pertanyaan nya adalah jebakan, Ryl!


"Mungkin atau kamu nya yang bakalan 'bahaya' nanti," jawab ku setepat mungkin.


"Ya kamu berbahaya buat ku ..." ucap nya lirih hampir tak terdengar.


Aku menghiraukan ucapan nya barusan, sepanjang yang ku tau mahkluk Tuhan yang berjenis kelamin laki-laki itu adalah makhluk yang ambigu. Keambiguan mereka bisa bikin siapa saja salah paham dan bikin perasaan lawan jenisnya berantakkan.


Sekarang kami pulang ke rumah ku, sesi latihan pedangnya terhenti karna insiden tadi dan aku juga ingin cepat menemui Kakek Genio.


"Hhhiiyyyaaaattt!!!!!"


Aku mendengar sebuah suara asing yang mendekat.


"Kamu dengar suara itu, Wasa?" tanya ku padanya.


"Iya."


Dengan laju yang awalnya cepat Wasa pun memperlambat laju kudanya.


"Tuan!!!" teriak seseorang tak jauh dari kami.


"Tuaaan!!!" teriak nya lagi.


Aku memperhatikan seseorang yang datang kearah ke kami, orang itu perlahan mendekat. Jika dilihat dari pakaian nya aku bisa menebak kalau dia pasti salah satu ksatria sama seperti Wasa.


"Kamu kenal?" tanya ku pada Wasa.


"Iya."


"Tuaan!!!" panggil ksatria itu.


"Ada apa Ksatria Dallas?" tanya Wasa setelah jarak kami sama-sama dekat, dari jarak ini aku memperhatikan wajah Ksatria Dallas dengan seksama.


"Maaf menganggu waktu Tuan tapi Raja memerintahkan anda untuk datang ke istana segera," ucap Ksatria Dallas.


"Kenapa? ada masalah di istana?" tanya Wasa.


"Tidak Tuan, Raja akan melakukan kunjungan ke Kerajaan Phoenix selama tiga hari di sana," jawab Ksatria Dallas.


"Kemana Ksatria Gage?" tanya Wasa lagi.


Sebelum menjawab Kstaria Dallas melirik ke arah ku sebentar, "Ksatria Gage sedang cuti untuk beberapa pekan kedepan, saya kurang tau untuk selanjutnya."


"Kapan Raja akan berangkat?" tanya Wasa.


"Sebelum malam Tuan karna itu Raja meminta anda untuk segera bergegas," tutur Ksatria Dallas.


Wasa berpikir untuk beberapa saat, "Bagaimana dengan Pangeran Mahkota?"


"Pangeran Mahkota memberi izin anda untuk pergi bersama Raja malam ini Tuan," jawab nya.


"Baik, sebentar lagi saya akan ke sana," ujar Wasa padanya.


Mendapati persetujuan dari Wasa, Ksatria Dallas itu pun pergi. Begitu juga dengan kami, Wasa menjalankan kuda miliknya dengan cepat menuju rumah ku, dia sedang ada tugas mendesak selama tiga hari nanti dan aku punya kesempatan malam ini untuk bertemu Kakek Genio.


"Beryl, jaga diri mu baik-baik ya," tutur Wasa sembari mengusap kepala ku.


"Jangan ceroboh selama aku tak disini," lanjut nya dengan perhatian.


"Iya-iya pergi sana, kalau orang lain lihat bisa salah paham," ucap ku mencoba melepaskan tangannya dari kepala ku.


"Salah paham gimana?" dengan tampang meledek andalan nya.


"Gak tau aahh ..."


Dan dia melepaskan tawa nya, gigi-gigi putih nya terlihat ditambah dengan wajah tampan nya membuat wanita manapun yang melihatnya sekarang pasti akan berdecak kagum.


"Aku pergi yaa!" ujarnya lalu menaiki kuda miliknya.


Sebelum dia benar-benar pergi selama beberapa detik dia menatapku dari atas kuda dan sebuah senyum manis diperlihatkan nya pada ku.


"Sana buruan pergi nanti telat!" seru ku pada nya.


Dalam beberapa detik dia pergi setelah puas melihat ku, aku tak ingin berekspetasi lebih tentang dirinya. Aku harus selalu ingat tujuan ku berada disini, bukan untuk jatuh cinta tapi mencari tau apa alasan dibalik aku berada disini.


"Semangat Ryl!"


Aku masuk ke dalam rumah tua ini, aku akan mandi dan mengganti baju lalu pergi ke Pasar Informasi. Sebelum hari mulai gelap aku harus segera sampai kesana karna kalau sudah malam aku ragu Kakek Genio masih ada di pasar atau tidak.


Setelah benar-benar memastikan Wasa tak ada disekitaran rumah ku, aku mulai berjalan kearah pasar. Aku hanya tak ingin dia tiba-tiba kembali atau datang disaat yang tak tepat seperti tadi pagi.


Memang benar disekitaran aku tinggal tak pernah aku lihat ada seorang pun yang lewat kecuali Wasa dan juga Ol yang awalnya ku anggap mencurigakan. Karna disini bukanlah jalan menuju ibu kota, bukan juga jalan besar tapi bisa dikatakan kalau aku sekarang tinggal di daerah terpencil tanpa jangkaun manusia lain kecuali Pasar Informasi yang akhir-akhir ini baru ku ketahui kalau pasar itu ilegal.


Aku berjalan dengan cepat ke Pasar Informasi bahkan aku berlari ke sana karna matahari perlahan terbenam. Aku harap aku tak telat, aku harap Kakek Genio masih di sana.


Saat tiba dikabut putih tempat masuknya Pasar Informasi entah mengapa aku merasa ragu untuk masuk. Perasaan ku menjadi tak tenang seperti sesuatu akan terjadi tapi aku harus menghempaskan rasa ragu ini demi rasa penasaran ku.


"Ayo Beryl! kamu harus masuk, Kakek Genio pasti masih ada di sana," ucap ku dengan semangat.


Dengan langkah berani aku mulai memasuki Pasar Informasi itu, aku melihat sekeliling pasar tapi tak ada satu pun kedai yang buka dan orang-orang juga tak terlihat seperti siang tadi.


Kenapa disini suasananya mencengkam?


Bbbrruuuukkkk!!!


Sebuah suara mengagetkan ku, "Suara apa itu?!"


Bulu kudu ku berdiri, aku takut ... aku sangat takut sekarang!


"To— tolong Ryl jangan berpikiran aneh-aneh!" seru ku mencoba menenangkan diri.


Aku menunggu beberapa detik sebelum memberanikan diri untuk berjalan menuju kedai tiang merah tapi baru beberapa langkah sesuatu membuat ku terkejut bukan main.


"Aaaaahhhh!! aku tak mau, lepaskan aku!!!" teriak seseorang.


Aku mencari arah dari sumber suara itu, melalui suaranya aku bisa tau kalau itu adalah wanita tapi mengapa tidak ada yang terlihat satu pun disini.


"Tolooooong!!" teriak nya lagi, suara itu semakin mendekat.


"Teriaklah sepuas kau bodoh! disini sudah tak ada orang lagi, cuh!" rutuk seseorang yang suaranya tak kalah kuat.


"Kalian yang bodoh! bajingan seperti kalian tak ada gunanya dasar sampah!" umpat wanita itu tak mau kalah.


Saat aku berjalan berlawanan arah dari kedai tiang merah baru aku dapat menemukan mereka. Satu orang wanita dan tiga orang laki-laki, salah seorang laki-laki mengikat paksa tangan wanita itu dan satu nya lagi menarik rambut wanita itu.


Kejam sekali mereka!


"Apa kau bilang? kau lebih sampah! bahkan tubuh kau saja tak akan laku jika di jual menjadi la-cu-r! ah tidak, bahkan budak pun tak pantas!" balas salah satu dari laki-laki itu.


Aku geram dengan perkataan laki-laki itu barusan, "Hei berhenti kalian!! apa yang kalian lakukan pada seorang wanita? dan anda! ucapan anda sungguh keterlaluan."


Aku menunjuk mereka dengan sangat emosi, emosi yang bahkan belum pernah ku tunjukkan pada siapa pun.


Mereka melihat kearah ku bahkan wanita itu pun juga, "Lariiii!!! Lari dari sini!!" teriak wanita itu pada ku namun sebuah tamparan mendarat ke pipinya.


"Diam kau!" maki salah satu laki-laki itu.


"Sepertinya kita dapat uang tambahan." Mereka melirik satu sama lain dengan tertawa.


Dalam sekejap emosi ku tadi lenyap berganti dengan rasa takut yang luar biasa setelah mendengar ucapan itu, nyali ku ciut dan jantung ku berdebar kencang.


"Lari!!!" teriak wanita itu tapi tamparan cukup keras lagi-lagi dia dapatkan.


"Bodoh kau! kenapa kau buat dia pingsan, bos gak akan suka lihat orang pingsan!" hardik laki-laki lain.


"Dia membuatku kesal jadi aku hanya memberi dia sedikit pelajaran," jawab laki-laki itu.


"Bukan waktunya ngobrol bodoh! sekarang tangkap wanita itu dan seret juga dia kehadapan bos," perintah laki-laki satu nya lagi.


Aku berlari dengan kencang, mencoba untuk tak tertangkap oleh mereka. Aku melupakan tujuan ku kesini karna yang paling penting sekarang adalah aku harus selamatkan diri dari mereka.


Namun langkah kaki pria dan wanita itu berbeda, badan mereka yang tegap juga senjata ditubuh mereka membuat ku kalah cepat dari pengejaran. Sebelum sampai diujung Pasar Informasi aku tertangkap mereka dan dengan paksa menyeretku kembali ke tempat wanita yang pingsan tadi.


"Lepaskan aku!!!"


Aku mencoba meronta dari kekangan mereka.


"Dasar wanita bodoh! sekali kau tertangkap kau tak akan bisa lepas," ucap mereka.


Wasa ... aku takut sekali! seharusnya aku tak kesini, seharusnya aku mendengarkan perkataan mu.


Tak terasa air mataku pun mengalir bersama dengan rasa sesal didada ku. Perasaan ku yang dilanda cemas membuat ku menangis tak berhenti, mereka memegang lengan ku begitu kuat menambahkan rasa sakit yang bahkan membuat ku tak sanggup untuk melawan atau setidaknya berdiri tegak.


"Tolong!!!!" teriak ku mencoba meminta bantuan.


"Tolooong!!!"


"Kakek!!!!" jerit ku.


Aku berharap ada yang mendengarkan ku, siapa pun itu ku harap ada yang mendengarkan ku.


"Tolooong!!!" Tapi sebuah tamparan melesat begitu cepat diwajah ku.


"Diam!!! Sekali lagi kau berteriak bukan hanya tamparan yang kau dapatkan tapi juga mulutmu akan ku sobek!" hardik salah satu dari mereka.


Aku menangis mendengar ancamannya, aku datang kesini hanya untuk mengetahui masa lalu ku tapi mengapa aku harus terjebak dengan mereka?!


"Sialan!"


Aku merutuki diri ku terus menerus karna terlalu ceroboh dan gegabah, jika aku mengikuti perkataan Wasa pasti aku tak akan seperti ini! jika saja aku mau bersabar menunggu sampai masuk kerja dihari berikutnya pasti aku tak akan di tangkap mereka!


Mereka bertiga membawa ku dan wanita yang pingsan itu keluar dari Pasar Informasi karna malam hari dan tak ada penerangan aku tak dapat melihat apa pun kecuali sebuah lentera yang perlahan mulai mendekat.


"Hanya dua saja?" tanya orang yang memegang lentera itu.


"Ya Tuan," jawab mereka bertiga dengan kompak.


"Bawa keduanya ke belakang dan jangan lupa ikat mereka!" perintah orang itu.


"Siap Tuan,"


Dengan paksa mereka mendorong ku dan wanita yang pingsan itu ke dalam tempat yang sempit, gelap dan pengap. Mereka mengikat tangan ku dengan kuat sampai aku merasa sangat kesakitan tapi mereka tak peduli.


"Kalau bukan karna suruhan bos pasti mereka berdua sudah ku per-ko-sa dari tadi!" ungkap salah satu dari mereka.


"Bukan kau saja, aku pun bakalan melakukan hal yang sama sampai puas! Sampai mereka tak bisa lagi berjalan," susul laki-laki yang lain dengan menatap lapar kearah ku.


Deg!!


Apa-apaan yang mereka omongi?! Ya Tuhan, aku tak ingin seorang pun menyentuh ku.


"Bodoh! jika bos dengar kepala kalian akan di penggal," timpal yang lain.


"Aaahh ... kau terlalu patuh pada bos, kita seharusnya berse—"


Tiba-tiba seseorang datang, "Sudah?"


"Sudah Tuan," jawab mereka kompak.


"Ini imbalan kalian, pergilah!" ucap orang yang membawa lentera itu.


Sebelum pintu tempat ku dan wanita yang pingsan ini ditutup aku dapat melihat sekilas wajah dari orang yang di sebut Tuan itu, wajahnya terlihat banyak luka-luka yang telah mengering.


Aku dapat merasakan sesuatu bergerak membawa kami tapi aku sama sekali tak tau ke mana mereka akan membawa kami. Apakah seperti yang di katakan tiga orang laki-laki tadi? kami berdua akan di per-ko-sa?! atau hal buruk lainnya?!


Pikiran ku saat ini sangat kacau, perasaan ku pun berantakan. Aku tak bisa berpikiran jernih bahkan untuk memikirkan ide melarikan diri pun tak terpikirkan oleh ku.


"Aaahhh sakit sekali ... " rintih wanita di samping ku.


Dia sudah sadar sekarang, "Ini di mana?"


Wanita itu kebingungan, tangan nya meraba-raba di sekitaran tempat yang sempit ini hingga tangan nya menggenggam tangan ku.


"Aahh maaf itu tangan ku," tutur ku.


Dia menghempaskan tangan ku begitu saja dan terasa sedikit sakit karna terbentur dinding kayu di samping ku, dia pasti terkejut.


"Maaf, aku gak tau disini gelap sekali jadi aku tak bisa lihat dengan jelas," ujarnya.


"Iya tak apa," jawab ku.


"Kamu wanita yang tadikan? dari suara kamu terdengar familiar," tanyanya.


"Iya ... sayangnya aku tertangkap," lirih ku dengan perasaan sedih.


"Kita senasib," timpalnya yang juga ikutan sedih.


"Kamu kenapa malam-malam ada di sana?" tanyanya pada ku.


"Aku ... aku hanya lewat saja," jawab ku berbohong.


Dia adalah orang asing dan aku tak boleh memberitahu apa pun pada orang asing.


"Yang benar? tempat itu bukan tempat yang aman untuk di lewati apalagi seorang diri." Dia meragukan ucapan ku.


Jelas saja dia tak percaya, "Aku ada urusan dan itu bersifat rahasia."


"Hhmm ... ya."


"Kalau kamu? kenapa malam-malam berada di Pasar Informasi?" tanya ku balik, tak adil jika hanya aku saja.


"Aku sebenarnya tersesat, aku pikir aku menuju ke jalan pulang tapi malah menuju kandang Harimau," jawab nya.


Benar, mereka adalah Harimau dan kita sialnya jadi santapan mereka.


"Dan kamu tau yang terjadi selanjutnya," ucap nya pada ku.


Aku mengangguk, "Ya kita dibawa ke tempat yang tak kita ketahui, juga kenapa disini sempit sekali!" tutur ku dengan nafas yang sedikit terengah-engah.


"Aku pun tak tau."


Aku mencoba mengatur nafas ku, disini sama sekali tak ada ventilasi udara dan isinya hanya kami berdua. Tapi jika semakin banyak aku bergerak untuk melepaskan ikatan tangan ini dan mengobrol dengan wanita di samping ku maka akan semakin pengap tempat ini.


Seakan-akan dia mengerti dengan maksud ku, dia ikutan diam dan mencoba mengatur pernafasan juga rasa sakit di pipinya.


Tapi sesuatu membuat kami berdua terlonjak kaget, badan ku terhuyung ke depan dan mengenai dinding kayu yang kasar itu sedangkan wanita di samping ku kepalanya membentur dinding kayu di sampingnya.


"Aaaahhh kepala ku!" pekiknya.


Bbbrraaakk!!


Sebuah gebrakan dari seseorang membuat kami berdua menoleh ke belakang, sebuah cahaya perlahan masuk ke tempat kami di kurung dan itu dia! Tuan yang disebutkan tiga orang laki-laki tadi.


"Keluar!" bentalnya.


Tapi kami berdua tak bergeming dan itu membuatnya marah, dia menarik rambut ku cukup kuat dan membuat ku merasa begitu kesakitan. Tak tinggal diam wanita di samping ku mencoba menepis tangannya dari rambut ku tapi laki-laki itu malah menamparnya.


"Wanita sialan!"


Aku yang melihat kejadian itu benar-benar geram pada orang-orang yang memperlakukan kami seperti binatang, dengan sekuat tenaga aku menggigit sebelah tangannya.


Dia menjerit kesakitan seperti yang ku rasakan tadi, "Dasar wanita sialan!!!!" makinya.


Sebuah pukulan yang cukup kuat menghantam wajah ku, aku meringis kesakitan serasa seluruh gigi ku akan copot karna sakit yang tak tertahankan ini. Aku tak tau seperti apa kondisi wajah ku kali ini, hidung ku bahkan mengeluarkan darah dan ini pertama kali nya aku mimisan karna laki-laki tak punya hati nurani ini.


"Lama sekali kau! bos sudah menunggu dari tadi kau malah enak-enakan dengan mereka." Seseorang menghampiri kami dengan langkah tegap.


"Apanya yang enak-enak! dua wanita sialan ini menguras emosi ku," jawab laki-laki yang ku gigit tangan nya itu.


Dengan tatapan tajam dia melihat kearah kami berdua, seakan-akan sebentar lagi kami mau di terkam lewat matanya.


"Keluar sekarang atau kau mau ku hajar lagi!" teriak nya dengan kesal.


Aku menggengam tangan wanita di samping ku, jangan sampai kami terpisah karna aku sama sekali tak mengenal siapa pun disini kecuali wanita yang bersama ku ini.


Kami melangkah keluar dari tempat sempit itu secara bersamaan, aku melihat sekeliling dan mendapati sebuah tempat yang begitu asing.


"Ini mereka Tuan," ujar laki-laki itu menyerahkan tali yang mengikat kami berdua keorang yang disebutnya Tuan.


Dengan seksama orang itu melihat kami berdua, aku ingin memperhatikan wajahnya namun dia memakai sebuah topeng.


"Kenapa wajah mereka seperti ini?" tanya pria itu.


"Maaf tuan tadi ada kendala," jawabnya dengan suara sedikit bergetar.


Tapi sebuah tendangan melayang ketulang kering laki-laki itu, "Kau pikir kau siapa? sampai berani menipu ku!" hardik pria yang memakai topeng itu.


"Maaf tuan, maafkan saya ..." Laki-laki itu membungkuk dan memohon.


Namun pria yang memakai topeng itu menendang sekali lagi ke arah laki-laki itu hingga membuatnya merasa sangat kesakitan.


"Dasar sialan! jalan kalian!" Pria bertopeng itu pun murka.


Aku ingin menolak perintahnya tapi mengingat betapa kasarnya dia memperlakukan anak buahnya membuat ku mengurungkan niat hingga nanti menemukam celah untuk menyerang balik.


"Wasa ... aku sangat takut sekali," batin ku lagi-lagi memanggilnya.


Kira-kira apa yang akan Wasa lakukan ketika melihat ku diperlakukan seperti ini? akankah dia marah balik padaku yang tak pernah menuruti perkataannya? aahh ... pada saat begini mengapa aku berharap dia ada disini?


Sepanjang jalan yang kami lalui tidak ada penerangan sedikit pun, hanya ada cahaya bulan yang tak terlalu terang menemani kami berdua. Entah ke mana lagi kami akan dibawa oleh mereka yang sangat jahat ini.


"Aku takut ..." lirih wanita di samping ku.


"Aku pun juga," timpal ku.


Kami berdua melihat sebuah cahaya gemerlap yang tak terlalu jauh, "Kamu tau tempat apa ini?"


"Tidak, aku tidak tau apa-apa," jawabnya.


"Hei Marqurius! aku sudah menunggu mu lama," panggil seseorang yang berjalan mendekati kami.


"Maafkan saya Tuan, saya sedang mengantarkan pesanan bos malam ini," jawab pria bertopeng yang bernama Marqurius itu.


"Pesanan bos mu apakah cantik? sexy? coba aku lihat," ucapnya dengan me-su-m.


Laki-laki yang di sebut Tuan itu menatap kami berdua dengan mata mesumnya, dengan senyum yang menjijikan itu dia menganggap kami sebagai makanannya.


Aku benci sekali dengan orang seperti ini!


"Ya ... Walau ada luka-luka tapi mereka masih lumayan lah, bisa di pakai ber-gi-lir ya gak?!" Laki-laki itu tertawa sembari menatap penuh na-f-su.


Bila saja Wasa mendengar ucapannya maka aku jamin kalau Wasa tidak akan segan-segan memotong lidahnya, aku berharap begitu!


"Cih!" Wanita disamping ku pun meludah kearah laki-laki mesum itu.


"Kurang ajar sekali pesanan bos mu ini! seandainya aku yang memesannya pasti sudah habis wajah cantiknya itu di tangan ku!" makinya dengan wajah yang merah padam.


"Maaf Tuan, saya harus mengantarkan mereka pada bos dulu," ucap Marqurius hanya di balas tatapan amarah dari pria itu.


Kami terus mengikuti langkah kakinya hingga sampai dikerumunan banyak orang yang juga memakai topeng.


"Selamat datang Tuan, Nyonya dan Nona Bangsawan sekalian! sekarang kita akan memasuki acara terakhir dihujung puncak dari pesta ini yaitu jual beli budak, mohon perhatian nya!" seru si pembawa acara dengan semangat dan disambut tepuk tangan yang meriah.


Deg!!!


Jadi kami dibawa kesini untuk diperjual belikan layaknya hewan? Tidak! Aku harus segera keluar dari sini!