
..."Atas nama keluarga dan harga diriku, aku akan tetap bersama mu. Walau aku mengetahui seperti apa masa lalu mu dan apa yang akan terjadi pada diriku bila mereka mengetahui aku melindungi mu. Jadi, bisakah kamu mempercayai ku?"...
...~ Olaya El Agave ~...
.......
.......
.......
.......
.......
Warna langit sudah berubah sejak aku sampai disini sesuai yang diminta Wasa. Tadi cuacanya masih cerah hingga aku berjalan meninggalkan kedai bertiang merah itu tapi setelah sampai di dekat Pohon Oak cuacanya berubah menjadi mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
Aku sedang menunggu Wasa datang sesuai janjinya, 30 menit-an ku rasa sudah menunggunya disini. Aku duduk disalah satu batang Pohon Oak yang menyentuh tanah, lelah sekali jika aku menunggu sambil berdiri. Ku pikir Wasa akan tiba setelah aku tiba disini, pasti tugasnya belum selesai.
Tubuh ku masih berada disini tapi pikiran ku melalang buana pada kejadian di kedai bertiang merah tadi. Dalam satu waktu aku merasakan banyak perasaan, masih teringat jelas dipikiran ku bagaimana pisau belati yang salah lempar itu hampir mengenai bagian wajah kanan ku sampai aku ditawari pekerjaan.
Soal tawaran itu, harus kah aku terima?
Aku tahu kalau pria tua pemilik kedai itu serius mengatakan untuk memberi ku pekerjaan dan tak akan mengulang tawarannya ke dua kali tapi bagaimana pun juga itu mencurigakan.
Bagaimana dia bisa tahu aku butuh uang? dari mana dia lihat aku bisa melakukan pekerjaan? dan paling anehnya tawarannya ini adalah hutang bagi ku atas syarat yang diajukan nya untuk informasi yang ingin ku ketahui dari pembicaraan dua orang pria yang berkelahi tadi.
Walaupun begitu dia sudah memberitahu ku dan aku setuju untuk berhutang atas syarat itu, haruskah aku bilang pada Wasa nanti?
Tidak, dia akan melarang ku. Itu pasti, apalagi dia tahu pasar itu berbahaya tapi jika tidak ku beritahu nanti malah—
Aahh ... aku tidak bisa mengecewakan orang lain.
Tentang pria misterius yang ku temui di festival kemarin, sebenarnya siapa dia? lalu yang dikatakan pria tua pemilik kedai itu kalau orang yang menolong ku sebenarnya karna disuruh, apa itu benar? dan orang aneh yang tak sengaja ku tabrak saat berjalan tadi juga mencurigakan.
Aku tak mau berpikir seperti ini tapi aku merasa mereka adalah orang yang sama. Entah mengapa aku bisa berpikiran seperti ini, buktinya saja tidak ada.
Gak, gak bener yang aku pikirkan ini. Gak mungkin kan mereka orang yang sama, 'kan?
Tiba-tiba satu tetes dua tetes air jatuh di tangan ku, aku melihat ke atas ternyata hujan mulai turun. Aku mengemasi bahan makanan yang ku beli tadi dan melihat apakah ada tempat untuk ku bisa berteduh. Tapi tidak ada apa-apa di dekat ku, hanya ada Pohon Oak yang menjulang tinggi dengan banyak batang disisi nya.
Bagaimana bisa aku berteduh, dilihat-lihat hujan akan turun dengan deras dan Wasa masih belum datang. Apa aku langsung pergi saja tanpa menunggu Wasa? tidak-tidak ... aku tak tahu jalan untuk pulang. Kalau lewat tempat awal aku tahu jalannya tapi kan kalau balik lagi juga percuma. Jadi, aku memutuskan untuk tetap menunggunya disini walaupun hujan, tak ada pilihan lain.
Aku pergi dan merapatkan tubuh ku disalah satu sisi Pohon Oak yang daunnya lumayan rimbun, setidaknya aku masih bisa merasa hangat dengan jubah yang diberikan Wasa padaku.
Benar perkiraan ku, hujan makin lebat. Air hujan yang jatuh ke tanah membuatnya melenting dan mengenai jubah ku, semakin banyak lentingannya semakin basah jubah disekitaran kaki ku.
Dingin ... kapan Wasa akan datang? masih lama lagikah aku harus menunggunya?
Aku mulai menggosokan kedua telapak tangan ku dan menempelkannya di wajah ku. Hujan masih berlanjut sejak 15 menit yang lalu setelah turun dan aku masih setia menunggu Wasa menjemput ku.
Seandainya aku punya kuda dan tahu jalan pasti bakalan sampai dengan cepat, jika harus menunggu Wasa mungkin aku harus banyak bersabar seperti kemarin malam. Walau begitu pun tugasnya pasti jauh lebih penting dibandingkan aku.
Aku menyembunyikan wajah ku dibalik jubah, mencoba menghitung 1 sampai 100 untuk mengalihkan fokus ku yang sedang menunggu Wasa juga membuat udara disekitar wajah ku menghangat karna nafas ku. Berulang kali ku menghitung hingga percobaan ke-10 di angka 100 seseorang menepuk pundak ku.
"Wasa!!"
Mulut ku langsung mengucapkan nama seseorang yang ku tunggu-tunggu dan ternyata benar itu dia. Baju dan wajahnya basah terkena hujan, rambut yang hitam itu sekilas tampak mengkilat.
"Maafkan aku Beryl ... aku telat dan membuat mu menunggu ditengah hujan deras ini," ujarnya bersalah.
Mendengarnya berbicara seperti itu ntah mengapa membuat ku ingin menjahilinya. "Jadi kalau lagi gak hujan kamu bakalan datang telat?" canda ku.
Wajahnya terkejut dan membuatnya makin merasa bersalah. "Bukan begitu maksud ku, tentu saja aku gak akan biarin kamu menunggu," tuturnya.
Melihatnya yang semakin merasa bersalah membuat ku tertawa, lucu sekali. Wajahnya yang tampak kebingungan melihat ku tertawa.
"Aku bercanda bilang seperti itu, kamu kan banyak tugas yang harus diselesaikan segera," ucap ku menenangkannya, aku tak mau kesal seperti kemarin malam karna gak tahu kalau dia sedang ada tugas malam itu.
"Tapi pasti kamu kedinginan ..." lirih nya.
"Iya nih aku kedinginan, ayo langsung pergi aja," ajak ku.
Wasa menggangguk setuju, aku langsung mengemasi bahan makanan yang ku beli tadi lalu naik ke kuda miliknya. "Geser kebelakang lagi Beryl," ujar Wasa.
"Ke belakang? maksud kamu apa?" tanya ku yang tak mengerti.
"Kamu nanti kebasahan, jadi dari pada kamu kebasahan lebih baik mundur ke belakang lalu tutup tubuh mu dengan jubah bagian depan ku ini. Ayo, kita akan sampai dengan cepat," pintah nya pada ku.
Lelaki ini apa tidak berpikiran macam-maca bila aku mundur kebelakang? Bukankah akan mengenai dada nya kalau aku membungkus diri dengan jubah didepan nya? Wajah ku memerah jika memikirkan ini.
"Apa tidak apa-apa?" tanya ku hati-hati.
"Gak apa-apa, ayo." jawab nya santai.
Ragu-ragu aku mundur kebelakang dan menempelkan punggung ku ke dada nya, tangan nya yang memegang jubah bagian depan mulai menutupi diri ku. Dalam keadaan seperti ini aku merasakan hawa panas di wajah ku dan dada nya.... Dada nya hangat.
Kuda yang ku naiki mulai bergerak cepat, bahan makanan ada ditangan ku dan ku pegang erat-erat. Aku mencoba mengalih kan fokus dari posisi ku yang sekarang pada hal lain. Tapi aku tak bisa fokus, aku gagal fokus karna dia!
Aku mencoba banyak cara untuk mengalihkan fokus ku, tapi dada nya memang terasa nyata. Hangat dan terbentuk, pasti karna dia terus berlatih dan membentuk otot untuk menjadi ksatria. Kalau didunia asli ku nama nya apa ya?? Abs atau roti sobek, iya dia punya itu.
"Kita sudah sampai Beryl." ujar nya tiba-tiba, benarkah? Cepat sekali.
Bukan cepat tapi pikiran ku saja yang terlalu fokus pada nya sampai tidak merasakan kuda sudah berhenti.
"Iya.." jawab ku singkat.
Aku turun dari kuda nya dan langsung masuk kedalam rumah tua ini, menyelamatkan wajah ku adalah prioritas utama ku saat ini.
Sebelum masuk ketempat mandi aku mengambil beberapa pakaian dan handuk tentu nya lalu setelah nya membersihkan tubuh.
"Hahaha... Bisa-bisa nya dada ku deg-deg kan." ujar ku pelan.
Aku menuntaskan mandi dengan cepat, karna hujan tadi membuat tubuh ku dingin dan basah ditambah air mandi ini juga dingin. Setelah ini aku akan mengeringkan tubuh diperapian.
Aku pikir Wasa sudah pergi ternyata belum, dia masih disini. Wasa menghidupkan api di perapian dan duduk diam saja disana, aku melihat nya dan memperhatikan baju nya yang basah sekali.
Aku mencari pakaian yang pas untuk nya di kotak penyimpanan baju ku tapi beberapa detik kemudian aku berhenti, bukankah tidak ada baju yang pas untuk tubuh nya? Apalagi baju ku hanya pas untuk ukuran ku.
"Udah siap mandi nya ?" tanya nya mengagetkan ku, aku hanya mengangguk.
"Gantian, aku mau mandi juga. Lengket banget rasa nya." tutur nya melangkah masuk ketempat mandi tapi aku mencegah nya.
"Bagaimana dengan baju ganti mu?" tanya ku.
"Kalau aku gak salah sebelum kamu pergi ke Hutan Arieta, aku meletakkan satu baju ku disini karna menjaga rumah mu saat pergi. Dimana yaa..." ujar nya mencari baju yang dia maksud.
Aku tertegun mendengar yang diucapkan, berarti pemilik tubuh ini dan Wasa itu sudah sangat dekat? Bahkan sampai Wasa mau menjaga rumah tua ini.
"Aah ini dia, aku mandi dulu." lanjut nya lalu masuk ketempat mandi.
Aku meletakkan pakaian nya yang ditemukan nya tadi disamping pintu tempat mandi agar dia bisa langsung pakai. Setelah itu aku langsung pergi ke perapian untuk menghangatkan tubuh. Perlahan rasa nya tubuh ku menghangat tapi mata ku mulai terasa berat dan tak sadar aku sudah tertidur saja didepan perapian.
Sesuatu menyentuh punggung ku, hangat dan nyaman yang ku rasakan bersamaan membuat ku tersenyum. Sesuatu menyapa indera perabaan ku, sebuah tangan tengah mengelus kepala ku dengan lembut berulang kali. Namun elusan di kepala ku berhenti ketika aku memegang tangan itu, tangan itu keriput seperti tangan nenek.
Tunggu, keriput? Nenek?
"Nenek!!" seru ku memeluk dirinya, hangat yang ku suka.
"Nak, maafkan nenek..." ujar nenek lesu.
Aku mengendurkan pelukan ku dan menatap wajah nya yang tua itu, nenek terlihat lesu ditambah dengan mata nya yang tak memancarkan sinar.
"Apa maksud nenek" tanya ku.
"Nenek membuat kehidupan mu menjadi susah, maaf kan nenek yang meninggalkan mu lebih dulu disaat yang tak tepat." lanjut nya, mendengarnya mengatakan itu membuat mata ku memanas.
"Apa yang nenek maksud? Aku tak mengerti nek.." ujar ku, walaupun aku tak mengerti tapi perasaan sedih di dada ku mulai naik dan membuat mata ku siap meneteskan air mata.
"Seharusnya nenek melindungi dari marabahaya yang mengincar mu tapi Tuhan berkehendak lain. Nak, kamu tadi kemana?" tanya nenek mengalihkan pembicaraan.
Aku tahu nenek mengalihkan arah pembicaraan, aku takkan memaksanya untuk membicarakan apa yang dimaksud nya lebih lanjut. Aku hanya takut saja bertemu nenek sebentar seperti terakhir kali.
"Aku pergi ke pasar tadi nek untuk membeli bahan makanan." jawab ku.
"Apa kamu bertemu seorang pria tua?" tanya nya, aku kaget mendengar pertanyaan nya. Tapi bukankah itu wajar? Mengapa aku terkejut karna hal itu?
"Iya nek, aku bertemu pria tua disana." jawab ku jujur.
"Nak, percayalah padanya." titah nenek.
"Kenapa aku harus percaya pada nya nek? Aku baru saja bertemu dengan nya tadi dan aku tak tahu nama juga sifat nya." sergah ku bingung.
"Dia orang yang baik, percayalah pada nenek. Apa yang ditawarinya lebih baik kamu terima saja, dia tak ada niat untuk mencelakai mu nak." lanjut nya.
Aku tambah bingung dengan yang diucapkan nenek, bagaimana nenek bisa mengatakan hal seperti itu?
"Tapi nek aku tidak bisa mempercayai orang sembarangan. Nenek kan tahu aku orang nya sangat berhati-hati untuk percaya pada orang lain. Dan mengenai tawaran itu aku belum bisa menerima langsung seperti nenek katakan. Aku harus memikirkan nya, apakah itu baik atau buruk untuk ku." jawab ku.
Nenek hanya diam saja dan tak menjawab atau menyanggah perkataan ku. Dia hanya menatap ku dalam dan membuat ku merasa bersalah karna menyanggah perkataan nya, tapi aku mencoba menjawab jujur sesuai yang diajarkan nya.
Kasur yang nyaman dan hangat tadi mendadak hilang dari penglihatan ku seakan-akan aku sedang berpindah tempat. Dan sekarang aku berada disebuah ruangan kosong yang hanya ada aku dan nenek saja disini tanpa satu pun barang yang menghiasi ruangan ini.
"Nak.." ujar nenek, aku menoleh kearah nya.
"Satu hari kamu akan mempercayai perkataan nenek tadi." lanjut nya, tapi aku hanya diam saja tidak menjawab.
"Ortpe" tutur nya.
Satu kata yang diucapkan nenek sukses membuat ku terkejut mendengarnya.
"Nenek tahu nama itu?" tanya ku penasaran, sungguh rasa penasaran ku meningkat tajam.
"Iya nenek tahu dan mengenal nya." jawab nya.
"Nenek tolong beritahu ku mengenai Ortpe. Kemarin malam saat aku datang ke Festival Laister aku tak sengaja mengambil sapu tangan berlambang yang bertuliskan Ortpe dibawah nya lalu bertemu seorang pria tua yang memberiku peringatan tentang sapu tangan itu" ujar ku antusias.
Nenek tertawa mendengarkan aku yang antusias, walau aku kaget melihat nenek tertawa tapi juga senang karna melihat nya tertawa. Sudah lama aku tak melihat nya yang seperti ini.
"Baiklah, nenek akan cerita." ujar nya, aku memperbaiki duduk ku dan bersiap-siap mendengarkan cerita nya.
"Dua orang anggota keluarga Ortpe adalah teman nenek dan ibu mu di akademi dulu. Nenek dan ibu mu mengenal mereka dengan sangat baik dan penuh perhatian. Selama nenek dan ibu mu mengenal mereka kami tak pernah merasa kecewa atau marah pada mereka berdua, nenek sayang sama teman nenek begitu pun ibu mu. Teman ibu mu cerita pada ibu mu, suatu hari setelah selesai belajar di akademi, dia mengabarkan pada ibu mu akan menikah dengan seorang pria pilihan orang tua nya. Pria itu berpangkat lebih tinggi dari siapapun dikerajaan ini kecuali Raja yang saat itu memimpin. Awalnya dia tidak menerima pernikahan itu tapi demi menyelamatkan keluarga nya dia mengorbankan diri nya. Sampai pada akhirnya dia meninggal dalam pengorbanan nya dan keluarga nya hancur karna keegoisan yang berkuasa." lanjut nya.
Aku dengan seksama mendengarkan cerita nenek tapi ntah mengapa rasa nya yang nenek cerita kan mirip dengan Ratu terdahulu dari keluarga Ortpe.
Tunggu, apa yang nenek maksud itu ....
Aku menutup mulut ku tak percaya, benarkah yang ku pikirkan ini?
"Yang kamu pikirkan itu benar. Nenek dan ibu mu berteman dengan mereka berdua dalam waktu yang cukup lama." jawab nya.
"Kalau nenek dan ibu berteman dengan dua orang keluarga Ortpe, berarti nenek dan ibu tahu mengapa keluarga mereka dibantai? Aku mendengar dari Wasa kalau keluarga mereka dibantai karna dianggap sebagai dalang atas pembunuhan Ratu. Apa itu benar nek?" tanya ku, tapi nenek terlihat sedih mendengarkan pertanyaan ku ini.
"Nenek dan ibu mu tak tahu, pertama kali mendengar kabar itu membuat ibu mu jatuh sakit." jawab nenek sedih.
Hati ku mencolos begitu saja, perasaan ibu dan nenek saat itu pasti sedih sekali.
"Nenek aku ingin bertanya." ujar ku, aku sengaja mengalihkan pembicaraan agar tidak terlarut dalam sedih, walaupun begitu hal seperti itu tidak dapat diubah karna itu pasti sudah ditakdirkan.
"Apa, nak?" tanya nya.
"Apa nenek tahu kenapa aku berada didunia ini? Maksud ku, mengapa bisa aku berpindah tempat? Lalu tubuh yang sedang ku tempati ini juga nama nya sama dengan nama ku." tanya ku, sebenarnya aku tak mau menanyakan ini tapi tak ada hal lain yang terpikirkan oleh ku selain ini.
"Nenek akan menjawab nya tapi tidak semua nya." jawab nya, aku tak mengerti maksud perkataan nenek ini tapi mungkin kesempatan tak akan terulang kedua kali nya jadi aku mengangguk tanda setuju.
"Tubuh yang sekarang kamu tempati adalah tubuh mu sendiri. Kamu yang dimasa lalu dengan yang dimasa sekarang adalah sama. Raga dan jiwa mu sama tapi karna suatu alasan kamu harus berpindah pada masa lalu mu." lanjut nya.
Jantung ku berdetak 2 kali lebih cepat mendengar ini. Sungguh, aku tak paham apa maksud nenek tapi satu hal yang ku dapati kalau aku yang sekarang dengan aku yang dimasa lalu adalah satu orang.
"Apa nenek tahu mengapa aku bisa seperti ini?" tanya ku tapi sayang sekali nenek sudah menghilang dan meninggalkan ku sendiri.
Lagi-lagi akhir dari mimpi bertemu nenek seperti ini. Sebenar nya apa maksud dari semua ini Tuhan??
Tak berselang lama aku terbangun dari mimpi ku, pandangan ku yang awal nya mengabur sekarang sudah dapat melihat dengan jelas sesuatu depan ku.
Wajah Wasa?
"Syukurlah kamu bangun..." ujar nya lega.
Aku mencoba duduk dari posisi ku yang tengah berbaring ini tapi Wasa menahan tangan ku.
"Tiduran aja Beryl." ujar nya lagi dan aku mematuhi perkataan nya.
"Ada apa dengan ku? Kenapa wajah mu tadi cemas ?" tanya ku.
Dia menatap ku lembut, mata nya yang berbinar itu membuat ku salah tingkah.
"Kamu pingsan didepan perapian, aku menemukan mu setelah selesai mandi. Ku pikir kamu tidur tapi saat ku pindah kan ke tempat tidur badan mu panas." jawab nya, refleks aku memegang dahi ku dan panas.
"Maaf ya aku merepotkan mu tapi sekarang kamu pulang aja, aku sudah mendingan kok." tutur ku, aku mencoba duduk kembali untuk membuktikan pada nya kalau aku benar-benar sudah mendingan walau terasa sedikit pusing saat bangun.
"Iya rencana ku tadi begitu, lagian hari sudah pagi." ujar nya.
"Pagi? Jadi kamu semalaman disini?" ucap ku kaget, sungguh lelaki dihadapan ku ini menunggu ku semalaman?
"Iya... Karna kamu gak bangun-bangun juga jadinya aku nginap disini. Takut nya ada apa-apa sama kamu nantinya." ujar nya lembut, oh Tuhan!! Lelaki ini benar-benar memperhatikan ku.
Mendadak aku tak tahu apa yang harus ku katakan, aku jadi salah tingkah. Walau kami kata nya berteman tapi bukankah ini berlebihan? Tidak-tidak, bukan dia tapi aku. Aku yang terlalu terbawa perasaan.
"Te.. Terima kasih telah menjaga ku semalaman, lebih baik kamu cepat pergi. Bukankah kamu punya banyak pekerjaan di istana?" tanya ku gugup.
"Baiklah.... Cepat sembuh ya. Makanan sudah aku buat kan kamu tinggal makan aja, nanti aku datang lagi." tutur nya tulus.
Wasa mengemasi pakaian yang basah semalam lalu berjalan menuju pintu. Tapi mendadak dia berhenti dan berbalik arah menuju ku, dengan senyum yang mengembang di wajah nya dia mengusap pucuk kepala ku dengan lembut baru pergi kearah kuda nya.
Aku diam terpaku akan perlakuan nya. Wajah ku mendadak panas, ini pasti karna demam. Iya karna demam bukan karna dia !!!
Begitulah aku menampik perasaan aneh ini.