Aksaberyl

Aksaberyl
Sang Putri dan Anak Laki-laki



..."Di kisahkan ada seorang putri yang di cintai dua orang pria, kedua-dua nya berasal dari keluarga terpandang. Si putri kebingungan untuk memilih siapa yang lebih baik menjadi suami nya sedangkan kedua pria itu begitu gigih untuk mendapatkan cinta sang putri. Jika aku dalam kondisi itu mungkin aku akan sama bingung nya dengan sang putri."...


...~ Beryl Ara Lavel ~...


.......


.......


.......


.......


.......


Dulu, di tengah hiruk pikuk nya dunia aku menutup diri dari semua orang. Saat orang lain berkumpul di suatu tempat pada malam minggu aku hanya diam di rumah. Tapi sekarang aneh nya sejak pindah ke masa lalu aku mencoba untuk membuka diri dengan orang yang tak pernah ku kenal.


"Kamu wajib tau kalau Pangeran Mahkota itu sangat tampan." ucap nya.


Setampan apa dia sampai OL memuji nya?


"Kamu pasti bisa bertemu dengan nya. Tapi kenapa mendadak tanya Pangeran Mahkota? Apakah kamu memimpikan nya?" tanya nya.


"Ti..tidak, aku hanya penasaran. Udah aku mau tidur lagi." ucap ku pada nya.


Pertanyaan nya membuat ku mendadak gugup, mimpi itu juga aneh sekali.


"Kamu yakin hanya penasaran?" tanya lagi.


"Iya OL, memang nya apa lagi?"


"Ya siapa tau kamu suka dengan Pangeran Mahkota." tutur nya ringan.


"Ya gak lah, bertemu saja tidak pernah." sanggah ku.


Setelah nya OL tak lagi bertanya, aku pun enggan untuk bersuara.


Di luar aku mendengar hujan mulai mereda, ntah jam berapa sekarang tapi mata ku sama sekali belum mengantuk sejak bangun dari mimpi dan OL pun sama dengan ku.


"Beryl, masih belum tidur?" tanya nya memecahkan suasana.


"Belum."


"Sedang memikirkan apa? Biasa nya susah tidur karna banyak pikiran" lanjut nya.


Memang aku sedang banyak pikiran OL.


"Masih memikirkan Pangeran Mahkota?" tanya nya lagi.


"Bukan." jawab ku singkat.


"Kamu mau dengar cerita gak? Siapa tau habis mendengarkan cerita ku kamu mengantuk." tanya nya.


"Cerita apa?" tanya ku penasaran.


Aku mengubah posisi tidur ku yang tadi membelakangi nya ke posisi menghadap diri nya.


Dengan senyum yang tak bisa ku artikan dia pun memulai cerita nya.


"Suatu hari ada seorang putri dari keluarga terhormat yang tengah berjalan-jalan diantara pepohonan hutan. Tanpa di dampingi pelayan yang biasa di perintahkan ayah nya untuk melindungi nya karna putri itu hanya ingin sendirian saja. Dia anak satu-satu nya dari keluarga terhormat itu dan nama nya Beryl." ucap nya.


"Loh Beryl? kenapa nama nya Beryl?" tanya ku.


"Ya yang aku ceritain memang pemilik nama itu." jawab nya.


Please deh Ryl, nama Beryl kan di muka bumi ini banyak.


"Ya udah lanjutin." pinta ku pada nya.


"Saat dia tengah berjalan-jalan dia menemukan seorang anak laki-laki yang tengah terluka. Wajah anak laki-laki itu terlihat cemas dengan darah yang keluar dari lutut kanan nya dan sebuah jerat terlilit di kaki nya. Putri itu berpikir anak laki-laki itu tak sengaja terjerat tali jebakan yang di pasang pemburu untuk menangkap hewan-hewan liar jadi dia menolong anak laki-laki itu sesuai hati nya." lanjut OL.


"Pasti anak laki-laki itu ceroboh." timpal ku.


"Mungkin saja, Ryl." sahut OL.


"Karna kebaikan hati sang putri anak laki-laki itu berangsur membaik walau masih terlihat di wajah nya kalau anak laki-laki itu merasakan sakit. Setelah berusaha mengobati anak laki-laki itu sang putri berniat untuk pergi lagi meninggalkan anak laki-laki itu seorang diri tapi anak laki-laki itu menahan lengan sang putri berharap putri itu tak pergi meninggalkan nya secepat itu." tutur nya.


"Anak laki-laki itu berkata 'Terima kasih telah membantu ku, boleh kita berteman?' si anak laki-laki itu memberanikan diri untuk bertanya kepada sang putri. Sebelum nya anak laki-laki itu tak pernah mau berteman dengan anak-anak yang lain tapi karna dia merasa sang putri penolong nya dan juga baik hati jadi dia mau berteman. Dan sang putri menjawab 'Oke aku akan menjadi teman mu'. " lanjut OL.


"Segampang itu sang putri menjawab?" tanya ku sedikit heran.


"Iya, Beryl menjawab segampang itu." jawab OL dengan menekankan kata Beryl.


Aku merasa seperti dia mencerita kan masa kecil ku, tapi kan aku gak ingat cerita masa kecil ku.


"Cerita nya sampai di situ?" tanya ku.


"Masih ada kelanjutan nya, Ryl." jawab OL.


"Setelah sang putri menjawab setuju anak laki-laki tadi mulai memperkenal kan diri nya 'Nama ku Aksa, nama kamu?' sambil mengulurkan tangan seperti ini." praktek nya dihadapan ku.


Bukankah Aksa nama dari Pangeran Mahkota?


"Coba kamu balas juluran tangan ku sambil mengatakan nama mu." pinta OL pada ku.


Aku pun mengikuti instruksi nya.


"Nama ku Beryl." aku menyambut uluran tangan OL.


"Kira-kira begini lah mereka mulai berkenalan." ujar OL tanpa melepaskan tangan ku.


"Tapi aku merasa aneh, bukankah nama anak laki-laki itu nama nya Pangeran Mahkota?" tanya ku.


Kenapa nama nya kebutulan? Beryl sama dengan nama ku, Aksa sama dengan nama Pangeran Mahkota dan mimpi tadi juga ada aku dan Pangeran Mahkota.


"Seperti yang ku katakan di awal tadi, Ryl." jawab nya tanpa menjelaskan mengapa.


Oke, sekarang OL aneh.


"Aku lanjutkan ya... Semenjak mereka berkenalan anak laki-laki itu mulai mendekati sang putri seperti mengajak nya jalan-jalan bersama, bertemu di taman bunga hingga mengundang satu sama lain ke pertemuan kecil yang biasa di adakan oleh para bangsawan." ucap nya.


"Tanggapan orang tua nya bagaimana?" tanya ku.


"Orang tua mereka setuju kalau mereka berteman baik." jawab nya.


Ooh, sekarang aku merasa ngantuk cerita ini membosan kan.


"Mereka menghabiskan waktu bersama-sama selama beberapa waktu hingga sebuah peristiwa terjadi di antara mereka. Peristiwa yang memecah belah keluarga mereka hingga yang tersisa hanya luka yang besar." ucap nya.


"Luka? Apa peristiwa itu?" tanya ku mulai penasaran.


"Sebenar nya anak laki-laki itu selama berteman dengan sang putri dia menyukai putri itu, bahkan berharap bisa untuk bersama terus dengan sang putri. Banyak kenangan manis bersama sang putri yang selama ini terus di simpan nya dalam hati. Sejak peristiwa itu mereka tidak lagi berhubungan, sang putri pergi jauh dari nya dan anak laki-laki itu di rantai di sebuah ruangan yang gelap."


OL tetap melanjutkan cerita nya tapi untuk pertanyaan ku barusan dia malah tak menjawab nya.


"Pertanyaan ku tadi belum kamu jawab." ucap ku pada nya.


"Peristiwa itu mengerikan untuk aku cerita kan, Ryl." ujar nya.


Oke, dia tidak mau memberitahukan ku.


"Tapi kenapa dia di rantai?" tanya ku makin penasaran.


"Maksud di rantai itu hanya kiasan dari di kurung. Kenapa dia di rantai ya? Ntah lah aku pun tak tau apa jawaban nya." jelas OL.


"Terus cerita nya berakhir saat dia di kurung?" tanya ku.


"Sabar Ryl, kamu kayak yang penasaran banget hahaha" tawa OL.


"Aku gak penasaran banget ya." sanggah ku menghentikan tawa nya.


"Kelanjutan dari cerita itu anak laki-laki tadi bertumbuh menjadi pria dewasa dan begitu juga pada sang putri. Si anak laki-laki itu telah di keluarkan dari kurungan nya dan dalam waktu singkat dia menemukan sang putri yang sudah berubah. Sang putri ternyata hidup sendiri tidak seperti waktu kecil nya yang punya keluarga utuh dan para pelayan yang selalu mengikuti nya. Anak laki-laki itu merasa sedih dan mulai mencari tau apa penyebab nya hingga sekarang masih belum menemukan titik terang nya. Tapi ada satu hal yang pasti." ucap nya mengantung.


"Perasaan anak laki-laki itu tetap sama pada sang putri, apa pun yang terjadi dia akan melindungi sang putri walau pun sang putri tak lagi mengingat nya." tutur OL dengan suara sedih.


Mendengar nya bercerita membuat ku sedih, peristiwa apa yang membuat sang putri sampai tak mengingat anak laki-laki itu. Jujur saja aku menanti kelanjutan dari cerita itu.


Tapi bagaimana OL bisa tau?


"Kok kamu tau cerita nya?" tanya ku curiga.


Apa dia menceritakan seseorang yang dekat dengan nya? Atau itu diri nya? Tapi kayak nya gak mungkin.


"Hmm ya aku tau gitu ajaa" ucap nya tak jelas.


"Kamu aneh sekali." tutur ku.


"Kamu juga akan tau nanti nya." ucap nya lirih.


"Kamu makin gak jelas, mending aku tidur lagi." ucap ku.


Aku kembali di posisi tidur membelakangi nya, makin ku pikirkan cerita tadi makin bingung yang ku dapat kan. OL juga tak memberitahu kan ku secara jelas apa maksud nya.


Beberapa menit setelah nya aku mulai merasa kan kantuk yang berat.


"Anak laki-laki itu akan terus menunggu mu hingaa ingatan mu kembali, Beryl." lirih seseorang setelah ku tidur dan ku yakini itu hanya mimpi.


Tanpa terasa dalam hitungan beberapa jam berikut nya matahari mulai menampak kan sinar nya ke bumi. Aku pun terbangun dari tidur ku dalam keadaan hati yang ringan.


Aku melihat OL yang tengah duduk terdiam di depan perapian, terlihat kalau dia sedikit lelah. Wajah nya juga samar-samar telihat sedih. Apakah tadi malam dia tertidur dengan nyaman? Atau dia tak terbiasa dengan situasi tidur nya tadi malam?


"Sedang apa?" tanya ku memecah kan lamunan nya.


"Sudah bangun ya?" tanya nya balik.


Aku perlahan duduk di samping nya, memang matahari pagi itu bagus tapi tetap saja dingin.


"Menurut kamu?" tanya ku.


Jika aku masih tidur tentu saja kamu tak akan ku ajak bicara, OL.


"Hahahah pertanyaan ku aneh banget yaa." tawa nya sumbang.


"Kenapa?" tanya ku lagi.


"Apa nya?" jawab nya dengan wajah bingung.


"Kenapa tertawa sumbang?" tanya ku.


Wajah nya yang terlihat bingung untuk menjawab terlihat jelas.


"Yaa gak apa-apa. Ku pikir kamu mau tanya kenapa aku diam aja." tutur nya.


"Ya itu juga, jadi?"


"Aku hanya kepikiran cerita tadi malam saja." ungkap nya.


Dia yang menawarkan cerita dia juga yang kepikiran.


"Kenapa di pikirkan sekali cerita itu kan bukan cerita mu, OL." tutur ku santai.


Kalau cerita itu adalah cerita milik nya maka wajar jika dia terus kepikiran.


"Kamu gak kepikiran?" tanya nya pada ku.


"Gak, kan itu bukan cerita milik ku." tutur ku.


"Walau ada nama mu?" tanya nya lagi.


"Iya, udah aah aku mau mandi." ucap ku.


Tapi belum sempat aku melangkah ke kamar mandi sebuah ketukan pintu membuat langkah ku berhenti.


Siapa pagi-pagi ini mengetuk pintu rumah ku?


Aku berjalan melewati OL yang juga ikutan berdiri, ntah mengapa perasaan ku mulai tak enak. Dan benar saja seseorang yang ku kenal datang lagi ke tempat ku, Wasa.


"Loh Wasa? Bukan kah kamu akan ke sini nanti malam?" tanya ku sedikit kaget.


"Kebetulan sekali aku baru selesai bertugas dan tak berniat untuk pulang jadi aku kesini untuk menemui mu." jawab nya dengan nada yang riang.


Tanpa aku persilahkan masuk Wasa sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah ku dan lihat lah betapa terkejut nya dia saat tau ada seorang laki-laki asing di dalam rumah ku.


"Siapa dia, Beryl?" tanya Wasa pada ku.


"Di..dia OL, dia teman baru ku." jawab ku gugup.


Kenapa aku pakai gugup segala sih.


"Kamu yakin? dia bukan orang jahat? ada dia ada pegang-pegang tubuh mu? kenapa bisa kamu menyuruh masuk seorang pria dewasa ke dalam rumah mu?." tanya Wasa bertubi-tubi.


Aku dapat merasakan amarah Wasa yang terpendam.


"Aku yakin dia bukan orang jahat." bela ku.


"Tapi dari mana kita bisa tau kalau dia bukan jahat, Beryl?" tanya nya lagi tanpa melepaskan Pandangan Ny dari OL.


"Tenang prajurut, saya di sini gak ada niat macam-macam pada Beryl. Jadi apa yang kamu cemas kan tidak akan terjadi." timpal OL.


"Benar tu, Wasa. Aku hanya memberi nya tumpangan untuk berteduh karna kemarin malam hujan deras." tambah ku untuk meyakini nya.


Aku hanya tak ingin ada salah paham di antara kami, terkhusus Wasa yang selama ini sangat memperhatikan ku.


"Ya sudah sekarang anda pulang, mumpung di luar sudah tidak hujan." pinta Wasa dengan gaya nya yang sedikit menyeramkan.


"Jangan gitu Wasa, dia juga tamu ku." tutur ku pada nya.


Secara adab kita tidak boleh mengusir tamu.


"Gak apa-apa Ryl, aku pulang saja." sahut OL yang merasa tak enak.


"Setidak nya sarapan dulu OL, Wasa kamu bawa makanan kan?" tanya ku pada Wasa.


"Iya sih tapi kan..." ucap nya terpotong oleh ku.


"Kita sarapan bareng dulu saja. Oh ya kalian harus saling kenalan, aku tinggal dulu." ucap ku dan meninggalkan berdua saja.


Aku harap mereka juga bisa akrab walau kesan pertama setelah bertemu benar-benar buruk.


Aku mulai mengelola bahan makanan yang di bawa Wasa tadi menjadi Sup Ayam Jamur yang tidak terlalu pedas untuk menu sarapan kami bertiga pagi ini.


Tak butuh waktu lama sup yang ku masak sudah matang dan siap di santap dengan nasi, tapi sayang nya di sini tidak ada nasi jadi makan nya begitu saja tanpa nasi, sayang sekali.


"Ayo makan, sup nya sudah matang." ujar ku pada mereka berdua.


Sedangkan mereka saling tatap menatap tajam tanpa henti, aku bagaikan seorang ibu yang mempunyai anak tak akur. Haaah itu lelucon yang aneh.


"Tolong ambilkan satu mangkuk untuk ku, Ryl." ucap Wasa.


"Manja, ambil sendiri kan bisa." timpal OL sinis.


"Terserah saya dong Beryl juga gak keberatan, ya kan Ryl?" tanya Wasa meminta persetujuan ku.


Mereka kekanak-kanakan sekali tapi lucu.


"Sudah-sudah, aku akan nuangin sup ke kalian." ucap ku menegahi.


Dan dengan cepat mereka menyerahkan mangkuk milik mereka pada ku, bagaikan anak kecil yang senang. Seandai nya mereka bisa lebih cepat akrab pasti lingkungan pertemanan ku dengan mereka akan mengasikan.


Seakan ada sebuah kelegaan di dalam diri ku setelah memperkenal kan diri mereka masing-masing menjadi teman ku, nenek di sini aku tak sendirian.