Aksaberyl

Aksaberyl
Menara Trititia



..."Waktu memang telah berganti namun kenangan buruk di masa lalu terus menghantui ku hingga saat ini. Haruskah aku ikhlaskan hal itu demi diri mu? atau haruskah aku balaskan dendam ini demi diriku dan juga diri mu?"...


...~ Aksa Oliga De Ramor ~...


.......


.......


.......


.......


.......


Jika ada seseorang yang bertanya pada ku bagaimana rasanya jatuh cinta, aku tak akan mau menjawabnya karna aku belum pernah merasakannya. Namun aku sering mendengar salah satu gejalanya yaitu seseorang akan merasakan getaran atau debaran aneh di dadanya dan debaran itu terasa asing, bukan debaran ketakutan seperti melihat hantu tapi lebih kearah debaran senang dengan sesuatu yang ditunggu-tunggu.


Dan sekarang aku merasakan debaran yang terasa asing, bukan debaran ketakutan melihat hantu tapi aku tak tau ini debaran jenis apa. Terlebih lagi debaran ini ditimbulkan oleh pria asing yang tak ku kenal.


"Pangeran Mahkota?" tanya ku memastikan.


"Iya," jawab nya.


Berarti dia adalah foto figuran tanpa wajah yang pernah ku lihat saat mengunjungi tempat wisata Istana de Ramor sebelum pindah di mensi, 'kan? ternyata tak hanya difiguran nya saja tak terlihat wajahnya sekarang pun juga sama.


"Maafkan saya Pangeran Mahkota karna perbuatan lancang saya yang melukai anda," ucap ku tapi dengan sendirinya semua tubuh ku bergerak berlutut di depan nya.


Walau aku tak ingat apa yang terjadi pada diriku di masa lalu tapi nyatanya tubuh ku masih mengetahui tata krama disini.


"Sudahlah tak perlu sampai seperti ini..." ujar nya lalu membantu ku untuk berdiri. "Tapi apakah sekarang kamu sudah ingat?" tanya nya.


"Tidak, saya tak mengingat apa pun tentang anda," jawab ku. "Apakah dulu kita pernah bertemu? saya merasa sedikit aneh dengan pertanyaan Pangeran."


"Hhaahhh ... ternyata hanya aku saja yang mengingat mu, ya?" lirih nya.


Dia tak menjawab pertanyaan ku, apakah aku salah bertanya? aku merasa tak nyaman lagi jika bertanya tentang hal itu padanya.


Dia pergi dari hadapan ku dan berdiri kearah jendela luar ruanganan ini, aku melihat dirinya dari belakang. Punggung dan bahu nya terlihat kokoh jika dari dilihat dari sini. Walau diselimuti oleh pakaian yang terlihat cukup mewah pasti banyak otot yang terbentuk disana, mungkin saja tubuh Wasa dengan Pangeran Mahkota juga tak jauh beda.


Sebenarnya, aku begitu penasaran dengan apa yang tersembunyi dibalik topeng itu. Apakah dia menutup wajahnya hanya dengan orang asing saja? atau apakah dia punya penyakit yang tak bisa ditunjukan ke orang lain? mungkin saja dia akan tersinggung jika aku menanyakan alasan nya. Aku tak mau cari gara-gara pada bangsawan, aku tak ingin penyiksaan yang dilakukan oleh Chalya terulang lagi pada ku.


"Semua berjalan begitu saja, anak laki-laki yang masih belum bertumbuh itu dan tanpa kekuatan apa pun hanya bisa melihat dari dalam ruangan dengan sedih. Banyak hal yang telah hilang ... entah itu direbut paksa atau memang sudah takdirnya menghilang dan ketika dia telah menemukan yang dicari tapi sayangnya hal itu tak sama lagi," tutur nya tiba-tiba.


Apa maksud pria ini?


"Apa kamu lapar? sudah tiga hari kamu tak sadarkan diri," ucap nya berbalik arah pada ku.


Dia tak melanjutkan ucapan nya barusan dan aku juga tak mau terlalu banyak bertanya walau aku penasaran.


"Dibandingkan itu, bisakah saya pulang saja? saya hanya ingin pulang," pinta ku.


"Tinggalah beberapa hari lagi disini, setelahnya aku yang akan mengantar mu pulang," balas nya dan mulai beranjak meninggalkan ku.


"Makanan mu ada di samping tempat tidur itu," tunjuk nya. "Nanti kita bicara lagi," lanjut nya sebelum menutup pintu.


Aku melihat kearah yang disebutkan nya namun sebuah suara kuncian pintu membuat ku takut, dia mau mengurung ku disini?


Dengan tergesa-gesa aku menghampiri pintu ruangan itu dan saat hendak membukanya ternyata pintu itu sudah dikunci, sekarang haruskah aku mempercayai perkataan nya?


Walau pun dia mengatakan hal-hal aneh dan memperlakukan ku seakan aku orang penting tapi untuk menghilangkan trauma yang terjadi pada ku itu sangat susah ditambah dengan dirinya yang mengunci ku di dalam ruangan yang aku sendiri tak tau ini dimana.


Aku berjalan ke sudut ruangan, ke sudut yang lebih gelap dari sudut yang lain. Aku duduk disana tanpa menyentuh makanan yang diucapkan nya tadi. Jika ku ingat lagi mungkin sudah seminggu aku menghilang tanpa kabar pada Wasa, Kakek Genio dan OL. Wasa pasti langsung menemui ku sepulang dari tugasnya, Kakek Genio yang mungkin saja marah pada ku karna tak masuk kerja dan OL entah lah.


Walau dulu aku pernah mengatakan kesepian saat memasuki rumah tua itu saat sendiri tapi sekarang aku lebih merindukan hal itu dibandingkam tempat ini. Hawa yang terasa dingin disini walau di luar sangat cerah, sungguh sangat terbalik.


Aku membenamkan seluruh wajah ku diantara kedua lutut ku, memikirkan bagaimana caranya keluar dari sini. Pintu terkunci dan hanya ada jendela yang terbuka tapi jika aku mencoba kabur lewat jendela yang tinggi ini mungkin saja aku akan mati di tempat.


Jadi bisa dipastikan kalau aku tak dapat melarikan diri, sial!


"Seperti nya tak ada harapan bagi ku," tutur ku.


"Aku tak dapat melarikan diri lagi tapi mengapa yang harus menyelamatkan ku Pangeran Mahkota? dia kan bisa saja pergi meninggalkan ku yang hanya rakyat jelata atau mungkin saja dia berniat menjadikan ku budaknya biar aku membalaskan budinya yang sudah menolong ku. Aaahh!!! aku aneh sekali tadi dari nada suaranya saja seperti mengkhawatirkan ku tak mungkin dia begitu khawatir kalau menginginkan ku menjadi budaknya, itu aneh!"


"Tapi tak menutup kemungkinan kalau hal itu beneran terjadi, ta— tapi kenapa hati ku tak setuju dengan kemungkinan itu? apa ini efek dari kondisi ku yang masih melemah makanya ngomong ku ini ngelindur? aahhh!!! aku tak tau, aku ingin tidur."


Lelah berdebat dengan diriku sendiri aku memilih untuk tidur, kalau ku lanjutkan sakit kepala ku akan bertambah dan aku masih tak ingin menyentuh makanan itu walau sekarang perut ku meronta-ronta meminta makanan.


Aku mulai menutup mata ku, menenangkan pikiran ku dan mulai membayangkan hal-hal indah tapi satu pun hal-hal indah dari kehidupan ku tak terbayangkan di kepala ku.


"Bahkan disaat seperti ini kenangan yang indah pun tak muncul untuk menenangkan ku." Dan aku pun mulai tertidur dengan perasaan kecewa.


Suara langkah kaki terdengar nyaring di telinga ku, langkah kaki yang terdengar berat itu dengan beberapa langkah kaki yang terburu-buru. Suara itu perlahan makin mendekat dan sebuah dobrakan pintu terdengar ketika langkah kaki itu berhenti.


Apakah sekarang aku sedang bermimpi lagi?


"Apa maksud mu sekarang? sudah ku perintahkan kau untuk tetap disini kau malah mencoba kabur dengan segala usaha mu yang sia-sia itu!" hardik suara berat seorang pria.


"Yang mulia Raja, mohon tenangkan diri anda," ucap seseorang.


"Diam kau Xavier ini bukan urusan mu!" ucap pria yang disebut Raja.


"Jawab aku! kenapa kau lakukan itu?!" ulang Raja.


"Aku mau bertemu ibu! aku tak mau di kurung di menara sialan ini!" teriak seorang anak laki-laki dengan suara penuh amarah.


"Jangan berteriak dihadapan ku!"


Sebuah suara tamparan yang cukup keras terdengar di ruangan ini, beberapa pekikan keluar dari mulut yang lain karna kaget dengan apa yang terjadi dan makian yang begitu saja terus keluar dari mulut Raja.


Awalnya aku begitu yakin kalau ini hanya mimpi saja namun mengapa mimpi ini terasa begitu nyata? bahkan rasa sakit tamparan yang keras itu seakan bisa ku rasakan.


"Yang Mulai Raja ... saya mohon jangan menampar Pangeran lagi, Pangeran bisa sekarat jika ditampar lagi Yang Mulia," ucap khawatir pria bernama Xavier.


"Anak ini tak bisa diajak bicara bahkan tak mau menuruti perintah ku! satu-satunya cara dia harus dipukuli sampai mengerti. Pelayan, bawakan cambuknya!" perintah Raja.


Dengan tergesa-gesa beberapa pelayan mengambil cambuk yang diperintahkan Raja.


"Ayah tak bisa menghentikan ku! kalau ayah tak memberitahu di mana ibu berada aku akan terus mencarinya! bahkan jika ayah mencabuk ku berulang kali pun aku tak akan menyerah. Kenapa ayah tak mau memberitahukan ku di mana ibu? kenapa semua orang tak mau menjawab pertanyaan ku yang satu itu?!" balas anak laki-laki itu.


Selang beberapa detik tak ada yang berbicara, hanya terdengar helaan nafas yang kasar dan suasana yang mencengkram terjadi.


"Jadi itu mau mu? baiklah aku akan mewujudkan nya, mana cambuknya!!" teriak Raja itu.


"Yang Mulia Raja ... saya mohon, jangan cambuk Pangeran," ucap Xavier dengan bersimpuh di hadapan Raja.


"Minggir kau Xavier! aku tidak akan mentolerasikan perbuatan mu jika sekali lagi kau membela nya!" Raja menghempaskan tubuh Xavier dengan kasar. Karna ancaman Raja membuat Xavier takut meskipun hati kecilnya ingin melindungi Aksa.


"Pelayan!!! seret anak egois itu kemari!" perintah Raja pada bawahan nya.


"Kau tak ada wewenang untuk memutuskan itu karna hanya aku Raja disini!" balas Raja dengan wajah penuh amarah juga.


Tanpa basa basi lagi Raja mencambuk tubuh Pangeran Aksa dihadapan para pelayan yang sedang meringis bahkan menangis. Mereka tak kuat menyaksikan pemandangan menyedihkan yang dilakukan seorang ayah kepada anak laki-laki nya dan aku pun tak kuat.


Tubuh ringkih seorang anak laki-laki yang terus menerus dipukuli ayahnya itu perlahan mengeluarkan darah segar, suara teriakan kesakitan nya mengema di ruangan ini juga tak luput sumpah serapah yang terus-menerus keluar dari mulutnya.


"Kau bukan ayah ku! bahkan kau lebih kejam dari pada iblis!" hardik Aksa. "Aku bersumpah dengan darah ku ini kalau aku tak akan memaafkan mu sampai aku mati!" lanjut nya.


Dan makian yang ditujukan Aksa pada Raja hanya dianggap angin lalu, karna Raja tak mengubris makian nya malah makin bersemangat mencambuk tubuh Aksa seakan-akan dia bukan seorang Raja dan ayah yang menyayangi anak nya.


Teriakan histeris yang semakin lama semakin nyaring di telinga ku membuat ku merasa tak kuat dan berakhir menutup kedua telinga ku, apa yang ku dengar dan ku lihat ini bukanlah hanya mimpi belaka tapi jenis mimpi apa ini hingga semuanya terasa begitu nyata?


Sungguh, aku membenci hal ini semenjak aku pindah di mensi.


"Ryl ... Beryl!" Samar-samar aku mendengar suara yang memanggil ku.


"Beryl ... ada apa? kamu kenapa?" tanya nya.


Mimpi yang ku lihat tadi perlahan memudar lalu berganti dengan cahaya yang membuat mata ku silau saat membukanya. Beberapa kali aku mengerjapkan mata ku, mencoba memfokuskan pandangan ku yang buram hingga mata ku bertemu dengan pria ini.


"kenapa kamu menangis? lihat ... wajah mu begitu sembab," ucap nya yang bahkan ku tak sadari tangan nya menyentuh wajah ku. Refleks aku memundurkan tubuh ku untuk menjaga jarak dari pria ini.


Aku melihat sekeliling, apa aku masih di tempat yang sama atau sudah berpindah tempat? tapi disini yang ku lihat hanya gelap dan sebuah lilin yang tengah dipegang oleh pria itu.


Sudah malam rupanya, aku terlalu lama tertidur.


"Beryl ..." panggil nya.


Tentang mimpi barusan aku begitu penasaran dan rasa penasaran ini tak bisa ku tahan.


"Tempat apa ini? maksud saya ruangan apa yang gelap, dingin dan terasa menyedihkan ini?" tanya ku alih-alih menjawab pertanyaan nya malah aku memberi nya pertanyaan yang lain.


Dengan cahaya dari lilin yang dipegang nya aku dapat melihat gerakan mata nya yang bercampur itu, sedetik terlihat sedih tapi didetik berikutnya mata nya melebar layaknya sedang marah.


"Menyedihkan?" tanya nya.


Apa sekarang aku membuatnya marah?


"Ma— maksud saya bukan—"


"Benar ... tempat ini menyedihkan atau mungkin sangat menyedihkan. Ternyata hal itu yang kamu rasakan disini ya? sehingga makanan yang ku bawakan tak tersentuh oleh mu," jawab nya tanpa melihat ku.


Dia berjalan membelakangi ku menuju jendela yang terbuka lebar, membiarkan angin malam masuk untuk sekedar menyapa suasana canggung di dalam ruangan ini.


"Oohh itu ... tadi saya ketiduran," ucap ku yang tak tau harus mengatakan apa untuk mencairkan suasana ini.


"Tadi kamu tanya ini ruangan apakan?" tanya nya memastikan.


"Iya sih, tapi kalau Pangeran tak ingin menjawabnya tak apa-apa," ucap ku pasrah.


"Kenapa kedengeran nya kamu pasrah? bukankah kamu penasaran?" tanya nya dan berbalik badan kearah ku.


Aku membuang muka kearah lain, walau aku tak bisa melihat wajah nya tapi tatapan mata dibalik topeng itu terasa begitu menusuk dan membuat ku risih.


Dia sebenarnya menatap ku dengan tatapan apa?


"Maafkan saya Yang Mulia Pangeran kalau saya terkesan lancang," tutur ku mencari aman.


"Hhaah ...."


Dia menghembuskan nafas yang panjang, satu tangan nya mengacak-acak rambutnya dan tangan yang lain masih memeggang lilin itu, entah mengapa aku merasakan sedikit rasa frustasi dari dirinya.


"Aku akan menjawab rasa penasaran mu tapi bisa kamu berjanji satu hal dari ku?" tanya nya.


"Tapi saya—"


"Aku tak menerima penolakan dari mu, aku hanya ingin persetujuan tanpa dibantah," ucap nya dengan memaksa ku.


Aku diam dan tak ingin menjawab, aku butuh tau dulu apa yang diminta nya dari ku tapi tadi saja ucapan ku langsung dipotong oleh nya dan sekarang dia memaksa ku untuk mengiyakan keinginan nya.


"Aku anggap jawaban diam mu adalah iya," lanjut nya tanpa memberi ku celah untuk mengatakan tidak.


Pria ini menyebalkan!


"Seperti yang ku katakan tadi, tempat ini menyedihkan. Namanya Menara Tristitia yang berarti menara menyedihkan, disini tersimpan banyak kesedihan dan rasa putus asa bahkan sampai sekarang pun aku belum terlepas dari perasaan-perasaan sialan itu. Tempat menyesakan dan penuh rasa benci ini sebagian besar tumbuh bersama ku, aku mengalami hal-hal buruk sepanjang hari dan itu cukup membuat ku kesulitan nafas dan hampir merenggang nyawa. Aku hanya dapat menceritakan sampai hal itu saja karna mungkin kamu tak ingin mendengarnya, jadi maafkan aku yang terpaksa membawa mu berlindung di tempat terkutuk ini," jelas nya.


Mendengar penuturan nya membuat ku bingung harus merespon apa, dengan tiba-tiba pria ini curhat hal yang cukup menyedihkan. Apa yang harus ku lakukan? atau apa yang harus ku katakan pada nya? sangat canggung rasanya tapi aku juga turut bersedih mendengarkan cerita nya.


Ternyata seorang pria bergelar Pangeran Mahkota ini memiliki kisah yang pilu dan mungkin saja mimpi ku tadi juga salah satu kejadian yang terjadi pada nya. Entah lah ... semenjak pindah di mensi aku mengalami hal-hal yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya bahkan bermimpi sesuatu yang terasa nyata.


"Saya—"


"Jangan ucapkan apa pun, aku sedang tak ingin di hibur. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang janji tadi?" pinta nya dan berpindah tempat ke ranjang kayu itu.


"Kemari lah ... kita harus bicara berdua," lanjut nya.


Aku masih diam dan tak bergeming diposisi ku, aku masih ragu mendekat kearah nya apalagi membicarakan janji yang tak aku setujui. "Kamu yang kesini atau aku yang mendekat?" tanya nya tak sabar.


Aku tak mau terjadi hal yang macam-macam, walau aku merasa tak lama pindah di mensi kesini tapi yang namanya orang berkuasa itu auranya menyeramkan. Jadi, untuk cari aman aku mendekat kepada nya dengan perlahan.


"Bagus, sekarang duduklah di samping ku." ucap nya menepuk sisi ranjang yang ada dihadapan nya.


"Tidak perlu Pangeran, saya akan berdiri saja," jawab ku.


Tapi sebuah tangan menangkap ku, tangan yang terasa hangat ini bersentuhan langsung dengan tangan ku yang penuh luka. Dia yang menggenggam tangan ku tapi ku rasa tubuh ku mulai panas dingin, aku seperti demam gara-gara tangan nya.


"Aku tak menerima penolakan, aku ingin kamu duduk di hadapan ku," ucap nya dengan suara yang serius.


Masih dengan keraguan aku duduk di hadapan nya sedangkan tangan nya masih menggenggam tangan ku. "Apa yang ingin Pangeran katakan sampai harus duduk sedekat ini?" tanya ku merasa tak nyaman.


"Berjanjilah satu hal pada ku," ujar nya.


"Apa?"


"Jangan menghilang dari hadapan ku lagi, tetaplah di radar ku. Ini bukan permintaan tapi ini perintah jadi aku tak menerima penolakan," lanjut nya.


Apa? ada apa dengan pria ini?


"Tapi kenapa? kenapa harus seperti itu?" tanya ku tak mengerti.


Enak saja membuat ku berjanji tapi aku tak tau janji itu untuk apa.


"Karna aku tak mau kehilangan yang berharga lagi..." lirih nya dengan suara yang menyakinkan.


Mendengar jawaban nya membuat tubuh ku seketika lemas, sebenarnya ada hubungan apa antara diriku dengan dirinya di masa lalu?