Aksaberyl

Aksaberyl
Sapu Tangan Ortpe



..."Racun di tangan kanan ku, cemeti di tangan kiri ku lalu dua buah topeng di wajah ku. Mampukah kamu bertahan dari ku?"...


...~ Chalya Aleth Arambel ~...


.......


.......


.......


.......


.......


Festival masih berlangsung tapi inti dari festival masih belum berlangsung. Kata Wasa, intinya adalah pembacaan surat dari Pangeran Mahkota pada rakyat yang diwakilkan oleh Sekretaris Kerajaan. Baru setelahnya hadiah dari Pangeran Mahkota dan dansa yang dilakukan besar-besaran disini.


Dan sekarang aku berada di tengah-tengah pertunjukan atraksi sulap setelah beberapa saat mengikuti lelaki misterius itu. Sebenarnya aku sudah melihat beberapa pertunjukan karna mengikuti lelaki misterius itu mulai dari pertunjukan topeng, pertunjukan opera, pertunjukan gelut, pertunjukan pedang, pertunjukan dansa hingga atraksi sulap. Semua ku lakukan tanpa berpikir panjang namun rasanya Wasa tak masalah, dia bahkan bertanya berulang kali pada ku.


"Apakah kamu menyukai pertunjukannya? atau adakah yang mau kamu lakukan lagi?"


Maaf Wasa, aku merasa bersalah bila kamu bertanya begitu.


Memang awalnya aku menikmati pertunjukan bola api tapi setelah mataku dan mata lelaki misterius itu bertemu, dadaku berdebar dan perasaan ku menjadi tak karuan jadi aku refleks mengikutinya agar tak kehilangan jejaknya tanpa memikirkan mu.


Saat Wasa pergi untuk memberikan uang pada mereka yang sedang menunjukan atraksi sulap, lelaki misterius yang berdirinya tak jauh dari ku itu pun pergi. Aku langsung mengikutinya tanpa menunggu Wasa kembali, nanti aku akan menemuinya lagi.


Sekarang pikiran ku hanya terfokus pada lelaki misterius itu jangan sampai aku kehilangan jejaknya.


Lelaki itu berjalan begitu cepat, aku bahkan setengah berlari untuk mengikutinya namun tak berapa lama dia berhenti mendadak dan menoleh kearah kanan.


Eehh, kenapa berhenti? apa aku ketahuan?


Aku mengkesampingkan tubuh ku, berpura-pura melihat mainan di tangan ku tapi mataku mengawasinya dari sini.


Dia tidak sadarkan kalau aku mengikutinya?


Aku mencoba melihatnya lalu melihat mainan ku dan saat aku melihatnya lagi dia sudah mulai pergi. Dengan perasaan kaget dan langkah yang lebar aku mengikutinya kembali.


Lelaki misterius itu berjalan lebih cepat, aku bahkan berlari lebih cepat untuk mengikutinya. Nafas ku sungguh sangat pendek bila berlari dan membuat ku lelah dalam sesaat.


Karna lelah aku berhenti mengikutinya, lelaki misterius itu masih berjalan tanpa melihat ke belakang. Ku rasa dia sadar kalau aku mengikutinya, punggung lelaki itu makin menjauh ke dalam jalan yang gelap lalu menghilang.


Aku menyerah mengikutinya berniat berbalik arah menuju atraksi sulap tadi untuk menemui Wasa tapi langkah ku terhenti ketika melihat sebuah sapu tangan yang hampir saja ku injak.


Aku mengambilnya dan memperhatikan lambang disapu tangan itu, sebuah lambang Burung Chough Alpen dengan pisau belati bermata dua di paruhnya juga sebuah nama yang tertera di bawah kaki burung itu, Ortpe.


Burung Chough Alpen merupakan burung yang mampu terbang tinggi diketinggian 8000 meter dan membangun sarang diketinggian 6500 meter. Aku tahu burung ini karna pernah melihatnya disalah satu buku yang nenek belikan.


Namun, apakah ini sebuah simbol dari sesuatu? apa dari golongan kelompok?


"Hei anak yang ditakdirkan!" panggil seseorang.


Aku menoleh pada sumber suara itu dan mendapati seorang pria tua yang berjalan menghampiri ku. Dilihat dari pakaiannya bukanlah seorang bangsawan juga bukan seperti rakyat biasa yang ku lihat difestival ini. Dia memakai pakaian seperti gelandangan namun aku bisa merasakan aura kuat darinya.


Siapa orang ini?


"Bisakah kamu tunjukan apa yang ada di tangan mu itu?" tanyanya.


Aku harus menolaknya, begitu yang ku pikirkan. Aku kan tidak tahu dunia seperti apa yang ku tempati ini, aku juga harus waspada pada orang asing karna bisa saja nyawa ku jadi ancamannya.


"Tidak saya sedang sibuk!" jawab ku lalu melangkah pergi dari pria tua itu namun ucapannya membuat langkah ku berhenti tanpa berbalik arah melihatnya.


"Aku tebak pasti itu sebuah sapu tangan terlarang," celetuknya. "Sapu tangan itu tidak pernah lagi terlihat semenjak peristiwa pembantaian massal," lanjut nya.


Aku hanya diam dan berpikir harus bersikap seperti apa, haruskah aku melanjutkan langkah atau berbalik dan mendengar ucapan pria tua ini lebih lanjut?


"Apa kamu mau tahu lanjutannya?" tanyanya.


Tapi aku masih diam diposisi ku, pria tua itu tak berbicara lagi. Ku pikir dia sudah pergi jadi aku memutuskan untuk menghiraukannya dan langsung menghampiri Wasa tapi sebuah tepukan di pundak kanan ku membuat ku terkejut.


"Jangan sembarangan menyentuh ku!" Aku menepis tangan itu dari pundak ku.


Tapi tak ada ekspresi yang ditunjukannya setelah ku tepis, wajah yang datar tanpa ekspresi itu menatap ku tajam. "Baiklah ... aku juga tak bisa berlama-lama disini, aku hanya katakan bahwa petunjuk pertama mu telah terungkap, kamu hanya perlu mencari penjelasannya lebih lanjut. Jangan coba-coba dekati orang yang kamu ikuti tadi secara gegabah, kamu tidak tahu pisau belati bermata dua di tangannya akan menusuk mu. Percayalah pada sesuatu yang kamu yakini dari hati lalu periksa lagi adakah sesuatu yang hilang darimu? pencurinya berada didekat mu."


Setelah pria tua itu mengatakan peringatan pada ku dia langsung pergi tapi aku mencegahnya. Pertanyaan! ada yang ingin ku tanyakan pada pria tua ini.


"Apa maksud—"


"Jangan bertanya padaku, aku hanya menyampaikan sebagai bekal mu untuk bertahan hidup didunia ini. Sesuatu yang kamu pilih harus bisa kamu pertanggung jawabkan," ucapnya.


Aku menatap heran pria tua di hadapan ku ini, aku tak memintanya untuk memberikan sebuah peringatan. Dia yang datang sendiri padaku lalu memberi ku peringatan dan saat aku belum menyelesaikan perkataan ku dia melarang ku untuk bertanya apa maksud dari perkataannya.


Harus bagaimana aku bersikap pada pria tua ini?


Aku memutar otak hingga teringat satu pertanyaannya yang belum ku jawab, apa karna aku tak menjawab pertanyaannya jadinya dia memberi ku peringatan? atau ...


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan tapi aku tak bisa mengatakannya," ujarnya.


Baiklah, kalau memang tak bisa mengatakannya tapi apa pertanyaannya tadi masih berlaku?


"Maafkan saya bila tadi bersikap kurang aja," tutur ku sopan, point pertama untuk memperbaiki hubungan haruslah meminta maaf. "Tapi apa maksud anda tentang sapu tangan dengan pembantaian massal?"


Dia hanya diam sebentar lalu menatap ku sedih. "Ortpe ... dilambang itu terdapat kata Ortpe. Ortpe merupakan salah satu nama keluarga terkuat di kerajaan ini tapi semua anggota keluarganya mati menggenaskan dalam pembantaian massal kecuali dua orang tapi sekarang hanya tersisa satu orang. Dan pembantaian massal bukan hanya terjadi pada keluarga Ortpe saja tapi juga pada satu keluarga lainnya yang namanya haram untuk disebutkan."


Ucapan pria tua ini membuat perasaan ku mendadak gelisah, "Apa nama keluarganya?" tanya ku.


Dia tidak menjawab dan langsung berjalan menjauh dariku, aku yang hendak mengejarnya tapi terhenti ketika sebuah tangan menarik ku dan membuat ku tak sengaja membenturkan kepala ku ke dada seseorang.


"Aku mencarimu dari tadi, kemana saja kamu, Beryl?" tanya Wasa cemas.


Aku melepaskan genggaman tanganmya lalu menarik nafas, menenangkan perasaan yang gelisah ini harus lebih dulu ku lakukan dibandingkan menjawab pertanyaannya.


Sapu tangan yang ku dapati tadi langsung ku simpan dibalik jubah lalu kedua buah tangan Wasa membalikan tubuh ku hingga membuat ku menghadap dirinya.


"Tadi aku tersesat saat melihat-lihat festival ini," jawab ku berbohong.


Maaf Wasa ...


"Harusnya kamu menunggu ku, kita bisa pergi bersama dan tak akan tersesat," tuturnya.


Kalau aku mengajak mu mungkin sudah jadi arena baku hantam dengan lelaki misterius tadi dan aku tak akan bisa bertemu pria tua yang memberikan ku peringatan, Wasa.


Tapi aku tak bisa mengatakan seperti itu pada lelaki ini. "Iya, lain kali aku tak akan begini."


Wasa hanya mengangguk lalu menarik tangan ku untuk mengikutinya. Aku mengikutinya dengan pasrah, setidaknya dia tidak khawatir lagi itu sudah membuat ku bersyukur.


"Kita mau kemana?" tanya ku yang mencoba mensejajarkan langkah.


"Ke inti festival, kita harus kesana!" serunya.


Tak jauh dari tempat ku tadi aku dan Wasa juga bersama rakyat lainnya berkumpul melingkari seseorang. Wasa bilang orang yang di tengah itu adalah Sekretaris Kerajaan yang bertugas menyampaikan pesan Pangeran Mahkota.


Setelah rakyat berkumpul Sekretaris Kerajaan yang bertugas langsung menyampaikan pesan Pangeran Mahkota, aku mendengarkannya dengan seksama dan menangkap sebuah nama yang tak asing.


Yang Mulia Pangeran Mahkota Aksa Oliga de Ramor? entah dimana nama ini ku dengar.


Permata ini bisa ku jual dan menghasilkan uang, setelah festival ini aku akan menjual nya!


Aku menatap ke arah Wasa yang juga ikutan dapat satu buah permata namun dia tiba-tiba memberikannya pada ku. "Buat kamu aja, aku udah ada uang."


"Eehh tapi ini kan hadiah dari Pangeran Mahkota sayang banget kalau kamu kasih ke aku," ucap ku menolak permata itu.


"Gak apa-apa, aku udah punya banyak di rumah. Buat kamu aja, nih ambil." Dia meletakkan permata punyanya ke tangan ku.


"Tapi— aahh iya ya ... kenapa aku lupa sama penampilan mu yang wah itu! apalagi kamu seorang Ksatrianya Pangeran Mahkota pasti dapat lebih banyak permata ya deh," ujar ku lesu, lelaki ini tentu saja lebih kaya dibanding aku.


"Ya bisa dibilang begitu," jawabnya canggung. "Tapi jangan lesu gitu dong! aku kan berteman dengan mu gak mandang status."


"Ya sudah deh kalau kamu paksa aku terima aja tapi kira-kira berapa uang yang akan ku dapat kalau permata ini ku jual?" tanya ku, walau begitu aku tetap menerima permatanya.


Aku kan sedang tidak punya uang.


Wasa sedang berpikir mengenai pertanyaan ku, aku memperhatikan mimik wajahnya yang sedang berpikir. Ternyata dia terlihat lucu kalau sedang berpikir, apalagi alisnya yang naik ke atas.


Aku yang asik memperhatikan wajahnya tiba-tiba dia menoleh kearah ku, mata kami bertemu tapi tak lama setelah itu dia bergaya seperti seorang model di hadapan ku. "Bagaimana, aku tampan kan?"


Aku langsung menggeleng cepat tapi reaksi ku membuat nya tak terima.


"Pagi tadi aja kamu bilang aku tampan tapi sekarang berubah," cercanya.


"Aku salah lihat tadi pagi."


Tapi dia tetap tidak terima dan mendekatkan wajahnya pada ku, sedikit lagi hidung kami akan bersentuhan. Melihat tindakannya aku langsung refleks mencubit lengannya dan membuatnya seketika menjerit.


"Iihh! kok dicubit." Dia mengusap-usap kulit tangannya yang barusan ku cubit dengan kuat.


"Mending dicubit daripada ditampar, emang kamu mau aku tampar?" lanjut ku lalu memalingkan wajah darinya.


Lelaki ini berbahaya sekali untuk kesehatan jantung ku.


"Hanya kamu satu-satu nya wanita yang berani mencubit ku tanpa takut," bisiknya di telinga ku.


"Apa ini sebuah pujian?" sindir ku dan mencoba menjauh dari tubuhnya tapi dia hanya tertawa lebih keras dan tak menjawab pertanyaan ku.


Aku menatapnya sebal, "Aahh ... mengenai pertanyaan mu tadi mungkin kalau dijual harganya persatuannya tiga koin perak tapi tergantung di mana kamu menjualnya, " jawabnya.


"Kamu sudah tahu mau menjual kemana?" tanyanya


Aku menggeleng, aku tak tahu apa-apa disini. Bagaimana bisa menjualnya begitu saja, mungkin nanti aku akan ditipu karna tak tahu apa-apa.


"Sini aku bantu jualkan biar dapat uangnya lebih banyak," tawarnya.


Bisakah aku mempercayainya? katanya dia sudah berteman dengan ku sejak umur 10 tahun. Baiklah ... aku akan mencoba mempercayainya.


Aku agak was-was karna dulu aku pernah ditipu seseorang yang sudah ku anggap akrab. Memang gak banyak sih tapi ini soal rasa percaya dan setelahnya aku minim sekali percaya pada orang lain.


"Ini ..." Aku menyerahkan dua buah permata padanya.


"Besok aku serahkan uangnya pada mu, sekarang ayo kita ikuti mereka!" serunya dan langsung menarik ku kearah orang-orang yang sedang berpasangan.


Aah setelah ini acara dansa bersama ya?


Aku melihat sekeliling ku, semuanya berpasangan baik yang muda yang tua maupun anak-anak. Wajah mereka terlihat bahagia, aku jadi teringat sesuatu. Sebelum aku datang kesini, aku juga melihat hal seperti ini saat menuju tempat wisata.


Aku iri...


"Ayo!!" ucap Wasa.


"Aku tak bisa dansa, kamu dengan yang lain saja," aku menolaknya. "Lagiankan kita sedang menyembunyikan identitas, kalau kita berdansa kita akan terlihat mencolok," lanjut ku.


"Iya juga, sayang sekali ..." lirihnya.


Jadi, aku dan Wasa hanya menonton saja pertunjukan dansa di hadapan kami, saat alunan lagu berputar semua orang yang berpasangan bergerak sesuai irama, indah sekali.


Tiba-tiba aku teringat sapu tangan dan peringatan pria tua itu, kemana aku harus cari info lebih lanjut mengenai peringatannya?


"Ada apa lagi? wajah mu selalu saja terlihat sedang berpikir serius," sahut Wasa.


Bagaimana kalau aku bertanya pada Wasa mengenai ini? Aahh tidak! aku tidak boleh bertanya sembarangan. Ta ... tapi bukankah aku memberi sedikit ruang untuk mempercayainya? haruskah ku tanyakan?


"Katakan saja kalau ada yang menganjal, sebisa mungkin aku akan membantu mu," lanjutnya.


Baiklah, aku akan mencoba.


"Apakah kamu tahu tentang Ortpe?" tanya ku dengan hati-hati.


Dia menatap ku kaget,


tuh kan pasti ini hal yang dilarang untuk ditanyakan sembarangan. Duh ...


"Tidak jadi, aku tak jadi bertanya itu," ucap ku.


"Dari mana kamu tahu tentang itu?" tanyanya.


Aku diam, aku tak boleh menjawab lebih.


"Beryl ..." Dia memanggil nama ku dan membuat ku mau tak mau untuk melihatnya.


"Untuk lebihnya aku tak ingin memberitahu mu tapi karna aku tak tahu makanya aku bertanya pada mu," jawab ku jujur.


"Ayo ikut aku."


Dia menarik tangan ku menjauhi kerumunan dan membawa ku kesalah satu lorong sempit yang hanya bisa dilalui satu orang.


"Dengar, nama itu tidak bisa kamu sebut sembarangan karna kamu bisa saja terkena masalah kalau tak berhati-hati." Dia memberi ku peringatan, sama seperti pria tua tadi.


"Aku akan memberitahu mu tapi kamu harus janji untuk tidak bertanya tentang nama ini pada orang lain, janji?" tanyanya, aku mengangguk tanda setuju dan berjanji padanya.


sebenarnya seberapa bahaya nama itu disini?


"Ortpe adalah salah satu keluarga terkuat di kerajaan ini dan termasuk dalam keluarga kerajaan karna terdapat hubungan yang sah. Yang Mulia Ratu terdahulu adalah salah satu Keluarga Ortpe namun setelah terbunuhnya Ratu karna racun membuat keluarganya dibantai oleh pihak kerajaan. Semuanya mengenal dengan peristiwa Pembantaian Massal Keluarga Ortpe. Kamu tahukan Pangeran Mahkota Aksa Oliga de Ramor? Beliau adalah anak dari Yang Mulia Ratu Serrez Nar Orpte, hanya anak Ratu saja yang masih hidup namun Pangeran Mahkota tidak memakai gelar Keluarga Ortpe dari ibunya." Wasa menjelaskan dengan suara pelan dan hati-hati.


Jadi seperti itu, pantesan saja harus berhati-hati membicarakan keluarga yang termasuk keluarga kerajaan. "Aku paham yang kamu sampaikan tapi mengapa terbunuhnya Ratu membuat keluarganya ikut dibantai? bukankah itu tak wajar? apalagi katanya merupakan keluarga kerajaan karna menikah dengan Raja de Ramor," tanya ku.


"Itu karna pelaku pembunuhan Ratu adalah dari pihak Keluarga Ortpe karna itu Raja memerintahkan untuk membantai mereka kecuali Pangeran Mahkota yang saat itu tak ikut terlibat," jawabnya.


Jadi, apa yang pria tua itu maksud adalah Pangeran Mahkota dan Ratu terdahulu tapi katanya ada satu keluarga lagi yang haram disebutkan namanya. Apa harus aku tanya lagi?


Namun entah mengapa ada sesuatu yang menganjal dari jawaban Wasa tadi, tidak mungkinkan keluarga Ratu yang melakukannya? tidak mungkin mereka membunuh Ratu yang saat itu posisinya lebih tinggi dari mereka, biasanya keluarga akan saling melindungi anggota keluarganya. Aku berpikir seperti itu, tapi dunia yang ku tempati sekarang ini mungkin saja berbalik dengan dunia ku dulu.


"Apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan, Beryl?" tanyanya.


"Tidak!" ujar ku cepat


Aku menahan rasa penasaran ku mengenai ini, bagi ku informasi ini setidaknya cukup untuk ku. Apalagi kami berada di tempat yang tak tepat, lain kali aku akan bertanya padanya lebih lanjut.


"Ya sudah kita pulang saja, ya? sudah tengah malam juga." Dia mengajak ku pulang, iya lebih baik pulang saja.


Aku mengikuti langkahnya menuju tempat kuda yang dia ikatkan tadi namun tanpa ku sadari ada seseorang yang jaraknya tak terlalu jauh dari ku sedang memantau ku pergi.