
..."Pada akhirnya hanya aku satu-satu nya yang kamu miliki."...
...~ Altman ~...
.......
.......
.......
.......
.......
Aku mencium aroma Lavender diruangan ini, aroma yang disukai oleh nenek dan ibu lalu menurun kepada ku. Diluar aku juga mendengar suara tertawa para pelayan yang tengah mengobrol. Dan dibalik pintu ruangan ini pun aku bisa mendengar obrolan diantara ksatria yang sedang berjaga.
Sedangkan aku duduk diam menunggu ibu ku datang.
Aku melihat diri ku dicermin, badan ku masih belum tinggi. Aku tengah memakai gaun panjang berwarna coklat susu tanpa motif dengan beberapa sentuhan permata dipinggang juga gaya rambut braided crown yang membuat penampilan ku menawan.
Disaat aku tengah memuji diri ku yang begitu cantik didepan cermin ini, aku mendengar suara teriakan dari luar lalu berubah menjadi kegaduhan yang tidak berhenti.
Dengan rasa penasaran sekaligus kaget aku mencoba untuk melihat ada apa di luar melalui jendela ruangan ini.
Banyak pelayan yang berlari kesana kemari melindungi diri dari pedang-pedang ditangan sekelompok orang berpakaian serba tertutup itu. Mereka mengayunkan pedang tanpa pandang bulu dan aku tak tau motif nya apa.
Darah bercucuran kemana-mana, seluruh ksatria menghadang mereka. Dengan mata kepala ku sendiri aku melihat pertempuran yang tak bisa terelakan, jumlah mereka memang sedikit tapi mengapa dalam sekejap ksatria milik keluarga ku tumbang?
Siapa mereka sebenar nya?
Deg..
Seseorang dari mereka melihat ku yang sedang berada diatas.
Perasaan ku tak enak.
Dengan cepat aku keluar dari ruangan untuk mengambil sebuah pedang, jika aku diam maka aku akan mati. Tanpa ragu aku mengeluarkan pedang itu dan berjalan menuju pertempuran itu.
Tapi saat aku sampai disana, aku melihat tiga orang yang ku sayangi telah tertusuk pedang tepat di jantung. Hati ku mencolos, kaki ku rasa nya tak kuat untuk berdiri dan pedang ditangan ku begitu saja terlepas. Ayah, Ibu, Nenek, mati nya mereka adalah kesedihan terbesar ku.
"Kau juga harus mati" teriak seseorang dari belakang ku.
Aku tak punya tenaga untuk melawan, apa aku harus menerima takdir ku yang seperti ini? Lalu mati mengenaskan seperti ayah, ibu dan nenek?
Aku menangis dalam keputusasaan.
"Jauhkan pedang mu dari nya, brengsek!" seru seseorang yang berada di belakang ku.
Aku menoleh ke belakang dan mendapati tubuh seorang pria dewasa yang tengah bertarung membelakangi ku. Suara gesekan pedang yang bercampur dengan teriakan orang-orang, aroma lavender yang tergantikan dengan aroma darah yang amis dan saat aku melihat sekeliling ku tempat nya berubah.
Bukan di halaman rumah, sekarang aku berada di tengah-tengah hutan. Kenapa aku berpindah tempat?
"Beryl lari!!!!" ujar seseorang yang datang dengan kuda.
Aku menatap nya dengan kaget, Wasa?
Mengapa dia ada disini?
"Lari dari sini Beryl, cepat lari" seru nya lagi.
Saat Wasa tengah menyuruh ku berlari saat itu lah musuh melihat celah untuk melukai nya, dengan mata kepala ku sendiri aku melihat bahu Wasa yang terluka akibat pedang musuh.
"Wasa!!" teriak ku pada nya.
Aku berniat untuk menghampiri nya tapi seseorang menutup mata ku.
"Jangan kesana, dia akan baik-baik saja. Aku tak mau kamu terluka, jadi kita harus segera pergi dari sini." bisik nya.
Suara yang asing ini membuat ku berdesir.
Dan untuk menjawab perkataan nya aku hanya mengangguk lemah.
Tubuh ku yang lemas begitu saja diangkat nya, dengan gaya bridal style aku memeluk orang asing itu.
"Kamu akan aman jika bersama ku, Beryl" ujar nya lembut.
Aku merasa genggaman tangan seseorang yang hangat juga elusan dikepala ku yang membuat ku nyaman. Perlahan peristiwa yang ku lihat tadi memudar, aroma darah yang amis pun menghilang. Dan digantikan dengan pemandangan yang ada dihadapan ku, Wasa yang tengah cemas.
Laki-laki ini selalu ada saat aku membutuh kan nya, aku harap dia akan selalu bahagia dengan pasangan nya nanti.
"Kamu sudah sadar?" tanya nya perlahan.
Dan aku hanya mengangguk.
"Syukurlah, aku pikir aku akan kehilangan mu." ujar nya lega.
Maksud nya apa?
"Kamu demam tinggi sejak pingsan di pelabuhan, segala macam cara ku lakukan untuk membuat demam mu turun. Semalaman aku tak bisa tidur untuk memastikan kamu baik-baik saja atau tidak. Syukurlah sekarang kamu sudah sadar." lanjut nya.
"Aah Wasa... Aku membuat mu khawatir lagi yaa?" tanya ku lemah.
"Iyaa, kamu selalu membuat ku khawatir setengah mati." ujar nya lugas.
Aku tertawa kecil mendengar jawaban nya.
"Kenapa tertawa? Aku serius mengatakan nya" ucap nya lagi.
"Yaa kamu menjawab nya seperti punya perasaan pada ku atau apa kamu punya perasaan pada ku, Wasa?" goda ku.
Tapi yang ku harap kan diluar ekspetasi ku. Aku pikir dia akan menjawab tidak tapi mengapa wajah nya memerah? Atau jangan-jangan itu benar?
"Wasa..." ujar ku lirih.
"Ya, Beryl" jawab nya.
"Hmm maaf, pertanyaan ku membuat mu tak nyaman." tutur ku.
Pertanyaan semacam itu kelewatan batas, bisa-bisa nya aku menggoda dia dengan pertanyaan seperti itu. Tak mungkin kan, dia juga sudah punya perasaan pada wanita lain. Dan aku pun hanya menganggap nya sebagai teman pria pada umum nya.
"Gak apa-apa Beryl. Aku akan membuat bubur kentang untuk mu."
Dan Wasa pun pergi begitu saja di hadapan ku.
Pikiran ku melalang buana pada mimpi yang terasa nyata itu, ntah apa maksud dari mimpi itu. Sudah ke berapa kali nya aku memimpikan hal aneh terus semejak pindah dimensi dan aku tak mendapatkan jawaban apapun jika memikirkan ini sendirian.
Haruskah aku berbagi mimpi ku pada Wasa? Tapi aku sudah berjanji untuk membuka kepercayaan ku pada nya.
Aku melirik ke arah Wasa yang sedang memasak, gerakan nya yang ringan, cara nya memasak, aku memperhatikan nya.
"Wasa, bagaimana menurut mu tentang seseorang yang berpindah dimensi ke masa lalu nya?" tanya ku.
"Berpindah dimensi? Apakah itu benaran ada?" tanya nya balik.
"Ya ku rasa hal itu ada." jawab ku.
Karna aku salah satu nya, Wasa.
"Aku tak percaya itu, hal seperti itu hanya dogeng para penyiar-nyiar yang aneh." jawab nya santai.
"Tapi jika hal itu memang benar bagaimana? Misal nya di orang terdekat mu gitu." ucap ku lagi.
Wajar saja bila dia tak percaya, aku juga awal nya tak mempercayai apa yang terjadi pada ku.
"Aku tak tau, kecuali dia mengatakan hal jujur pada ku mungkin saja aku bisa mempercayai hal itu benar ada nya." jawab nya.
"Aku sudah selesai masak, ayo makan Beryl." tutur Wasa dan berjalan kearah ku.
Tangan sigap nya membantu ku untuk duduk menghadap nya. Aku ingin meraih sendok yang ada dimangkuk bubur kentang buatan nya tapi tangan ku dicegah nya.
"Biarkan aku yang menyuapi mu, ya?" pinta nya pada ku.
Dan begitu saja sesuap bubur masuk kedalam mulut ku, aku hanya menatap nya untuk waktu yang lama. Dia pun juga begitu.
Tak ada pembicaraan diantara kami, mulut ku pun enggan mengatakan apapun, hanya menerima suapan nya saja dan itu melegakan hati ku.
Tanpa terasa satu mangkuk bubur kentang buatan nya habis, dia tersenyum melihat ku.
"Gadis pintar." ujar nya sembari mengelus kepala ku.
Kamu terlalu perhatian, Wasa.
"Aaah rambut ku bisa kusut, Wasa" tutur ku untuk membuat nya berhenti.
"Kusut? Tapi aku senang tuh kayak begini" jawab nya dan tentu saja dia makin mengacak-acak rambut ku.
"Nyebelin......"
Satu cubitan meluncur ke pinggang nya.
Dan dengan cepat dia menjauh dari ku sambil tertawa, tawa nya begitu cerah. Syukurlah perasaan nya sekarang senang.
Aku menatap ke arah jendela, cuaca diluar masih terang. Beberapa kali ku lihat burung-burung Passer Montanus terbang didepan jendela ku, mereka begitu bebas dan riang, aku iri.
"Kenapa melamun?" tegur Wasa.
Aku melihat kearah nya dan melemparkan senyum sederhana ku pada nya.
"Sedang melihat mereka" tunjuk ku kearah burung Passer Montanus.
"Ini teh kombucha untuk kamu" tawar nya pada ku.
Aku meraih gelas itu dari tangan nya, merasakan kehangatan dari teh ini membuat diri ku senang. Aku suka kehangatan.
"Kamu suka?" tanya Wasa.
"Suka, ini enak sekali" puji ku.
"Ini teh ku buat sendiri dari fermentasi" lanjut nya dengan tersenyum.
"Kamu berbakat sekali" puji ku lagi.
"Hmm aku ragu mengatakan ini tapi jika tak ku katakan aku akan terus penasaran. Apa kamu benar sudah baik-baik saja? Kemana kamu selama aku bicara dengan Neo? Apa yang terjadi saat aku meninggalkan mu sendiri? tolong jujur pada ku Beryl" ucap nya pada ku dengan wajah yang dipenuhi rasa penasaran.
Baiklah Wasa...
"Aku berniat untuk berkeliling sebentar sambil menunggu kamu selesai bicara dengan Neo tapi sebuah keributan memancing ku untuk mendekat kearah sumber suara itu. Aku menguping pembicaraan mereka yang terasa janggal, aku tau aku lancang karna menguping tapi saat itu aku penasaran." ucap ku.
Pandangan ku lurus kedepan, mengingat kejadian kemarin yang hampir mengancam nyawa ku.
"Dan sekarang aku menyesal telah melakukan itu."
"Menyesal?" tanya nya.
"Iya, nyawa ku hampir terancam karna itu." lanjut ku.
Benar saja, reaksi Wasa sesuai ekspetasi ku, dia kaget.
"Lalu karna aku ketahuan, aku berlari sejauh mungkin dari mereka yang mengejar ku. Hingga aku menemukan sebuah tempat untuk bersembunyi dari mereka. Aku menunggu dan terus menunggu sampai kamu memanggil ku, saat itu aku merasa akan aman dan keluar dari tempat persembunyian. Lalu aku pingsan sesuai yang kamu katakan, jadi itu yang terjadi kemarin." ucap ku.
Mimik wajah Wasa masih sama, setidak nya aku sudah jujur pada nya.
"Kenapa mereka harus mengejar mu? Apa kamu sudah menguping pembicaraan yang berbahaya?" tanya nya memastikan dengan sorot mata yang tajam.
"Iya, pembicaraan berbahaya." ucap ku.
"Tentang?"
"Transaksi Narkoba." jawab ku.
"Apa?!"
"Mungkin mereka takut aku membocorkan nya pada orang lain jadi mereka mengejar ku. Ta.. tapii sebelum aku lari, aku melihat seorang pria tua yang dipanggil kapten sedang mendang salah seorang anak buah nya karna terlambat mengirimkan narkoba ke anggota si mata satu. Aku merasa kasihan pada nya, tapi tak bisa membantu jadi aku lari dan sayang nya aku ketauan, Wasa." ujar ku meyakin kan nya.
"Ya Tuhan, Beryl!" seru Wasa pada ku.
"Kamu tau apa yang akan kamu hadapi jika ketahuan?" tanya nya dengan wajah serius.
Aku tau..
"Kamu akan mati kalau sampai tertangkap mereka" ucap nya frustasi.
Aku juga tak ingin hal itu terjadi, Wasa.
Tapi aku hanya diam, lidah ku terlalu kelu untuk menjawab pertanyaan nya. Aku tau sekarang perasaan nya kacau, aku pun juga begitu. Amarah nya juga terlihat jelas.
"Jangan pernah lagi menguping pembicaraan orang lain, Beryl. Kamu tak akan tau bahaya apa yang akan menghampiri mu, apalagi jika tidak ada aku. Transaksi narkoba itu ilegal di kerajaan ini, jika ketahuan oleh pihak istana maka hukuman mati yang akan ditanggung. Dan tentang anggota si mata satu atau yang dikenal dengan perampok handal juga terkenal bahaya disini, Beryl. Mereka gak memandang bulu untuk menghabisi lawan nya." ucap nya memperingati ku.
"Aku gak mau kalau kamu terlibat dengan mereka, pilihan mereka hanya dua, hidup atau mati." lanjut nya
Aku tau kalau itu berbahaya tapi rasa penasaran ku yang menggila ini ingin lebih tau tentang mereka, perampok handal.
"Baiklah, aku berjanji tak akan melakukan itu lagi, tapi bisa kamu cerita kan lebih jelas tentang mereka? Maksud ku tentang perampok handal itu." tanya ku.
Dia hanya menatap ku dan tidak menjawab pertanyaan ku. Apa mungkin dia marah pada ku karna meminta nya untuk menceritakan lebih jelas?
Ya, memang pantas diri ku menerima amarah nya.
Aku mengalihkan pandangan ku dari nya ke lantai kayu rumah tua ini, aku tau itu akan sia-sia, mungkin dia tak akan memberi tahu kan aku.
"Aku harus pergi dulu, ada sesuatu yang harus ku lakukan." ujar nya.
Dia berdiri dari posisi duduk nya tadi lalu mengambil jubah yang akan dikenakan nya dan menyarungkan kembali pedang milik nya dipinggang.
Tiba-tiba dia meraih tangan ku.
"Berjanjilah pada ku kalau kamu tak akan keluar selama aku pergi. Aku akan menemui mu besok malam, selama itu tetap lah dirumah. Kita tidak tau apakah mereka masih mengincar mu atau tidak." ucap nya.
Dan aku tak bisa mengelak karna tatapan nya.
"Ba..baiklah, aku berjanji." jawab ku.
Dia berjalan meninggalkan ku lalu menghilang dibalik pintu tua itu. Aku mendengar suara kaki kuda yang beranjak menjauh, dari balik jendela yang terbuka ini aku melihat nya yang pergi, entah kemana laki-laki itu pergi tapi aku berharap semoga Tuhan melindungi nya dimana pun dia berada.
Perlahan senja mulai hadir, tak terasa sudah beberapa jam setelah Wasa pamit pergi aku duduk didepan jendela. Melamun dan terdiam tak jelas disini, aah aku rindu kehidupan ku sebelum berpindah dimensi. Aku bisa santai sambil menonton tv dan ditemani cemilan kesukaan ku. Atau merendamkan diri didalam air hangat untuk mengisi waktu luang ku dikala senja.
Tidak!
Jika aku teruskan melamun dan diam tak jelas begini rasa kesepian akan makin melekat pada ku.
Walau langkah ku masih gontai, aku tetap memaksakan kaki untuk terus belanja ke arah kamar mandi. Sekarang badan ku sudah terasa lengket, mungkin dengan mandi tak hanya menyegarkan tubuh ku tapi juga pikiran ku.
Selesai mandi aku mengeringkan tubuh ku didepan perapian, menatap kayu bakar yang berubah menjadi api lalu menyalurkan kehangatan nya di ruangan ini.
Ntah seperti apa kehidupan ku dulu nya, ntah kenangan apa yang tersimpan didalam nya dan ntah bagaimana cara nya agar aku bisa kembali ke dunia ku sebelum aku berpindah dimensi ini.
Mungkin bukan tanpa alasan aku disini, mungkin memang aku ditakdirkan untuk menyelesaikan hal-hal yang belum terselesaikan disini. Ntah apa itu, aku akan siap untuk menghadapi nya.
Aku hanya berharap ingatan masa lalu ku muncul lalu menjadi petunjuk untuk ku melangkah di dimensi ini.
Tok... Tok.. Tok...
Seseorang mengetuk pintu rumah ku.
"Hmm Beryl, apa kamu ada di dalam?" tanya seseorang dari luar.
Siapa yaa?
"Aku OL" ujar nya lagi.
OL? Tuan bangsawan yang tak sengaja ku temui di pasar informasi kan?
Dengan hati-hati aku membuka pintu untuk memastikan dia benar OL atau tidak.
Dan.....
"OL? Hallo." sapa ku sopan.
Dia membalas dengan senyum nya yang tertutupi jubah itu.
"Boleh aku masuk kedalam, tidak enak mengobrol didepan pintu." ucap nya.
"Ah iya, maafkan saya. Silahkan masuk, OL"
Setelah dia masuk kedalam rumah aku langsung mengunci pintu, aku mempersilahkan diri nya untuk duduk di salah satu kursi kosong. Aku masih ingat bagaimana cara nya menjamu tamu, aku membuatkan nya minuman hangat dari teh dan beberapa potong roti yang dibawa kan Wasa tadi.
"Silahkan dimakan, OL." ujar ku pada nya.
"Terima kasih, Beryl." balas nya.
Aku memperhatikan diri nya yang tengah minum dan makan itu, etika makan nya sangat baik. Jelas saja dia kan salah satu bangsawan dikerajaan ini.
"Makanan dan minuman nya enak, apa kamu sendiri yang buat?" tanya nya penasaran.
"Sejujur nya sih bukan." jawab ku.
"Oh ya? ku pikir buatan kamu" lanjut nya.
Laki-laki yang ada dihadapan ku ini perlahan membuka jubah yang menutupi nya lalu meletakan nya dikursi yang ada di sebelah nya. Dengan sangat bergaya dia menyisir rambut nya kebelakang menggunakan jari-jemari tangan nya.
Wajah yang tampan, mata yang indah dan tubuh yang bagus membuat ku tak bisa lepas dari melihat nya. Aku akui, diri nya terlihat lebih tampan dibandingkan Wasa.
Aah Wasa maafkan aku....
"Langsung pada inti nya saja OL, ada apa kamu kemari?" tanya ku yang sedari tadi penasaran.
Mungkin ini terdengar tak sopan, tapi aku tak bisa menerima tamu selain Wasa. Karna yang dekat dengan ku hanya dia.
"Aku tidak ada maksud apa-apa, aku hendak pulang dan lewat sini jadi karna aku melihat rumah mu aku berharap bisa mampir kesini. Aku pikir kamu tadi tak ada dirumah dan berniat menggurungi niat ku, tapi setelah memikirkan beberapa kali kita bertemu aku jadi ingin mampir kesini." ujar nya.
Aku hanya menatap nya, memastikan dia tidak berbohong pada ku.
"Aku bukan orang jahat, jadi kamu jangan merasa curiga begitu" lanjut nya sambil melemparkan senyum nya.
Haruskah aku mempercayai nya?
"Hmm bagaimana kabar mu? Udah beberapa hari aku tak melihat mu di pasar." tanya nya.
"Kamu mengintai aku ya?" goda ku dengan tatapan tajam yang ku buat-buat.
"Aaa.. aku bukan bermaksud begitu." sanggah nya
Wajah bingung nya membuat ku tak bisa menahan tawa.
"Ooh jadi tuan bangsawan bisa berwajah seperti itu yaa" goda ku lagi.
"Hentikan... nanti kamu menyesal loh menggoda ku seperti itu." tutur nya lagi.
"Oh yaa, kalau gitu aku tunggu" ucap ku pada nya.
Dia menatap ku yang masih menertawai nya, ntah bagaimana tapi aku bisa merasakan tatapan yang ditujukan nya pada ku adalah tatapan yang hangat.
"Kamu cantik saat tertawa, Beryl" ujar nya.