
Tuan muda Windsor tersenyum kecil.
“Tentu saja, sejak awal kami memang tak pernah ada hubungan seperti apa yang anda kira,” ucapnya. “Perkenalkan, calon istri saya..” lanjutnya sambil memandang Polaris.
“APA???”
Polaris masih tercengang atas apa yang dilakukan pria yang kini tengah menggandengnya berjalan menuju keluar pusat perbelanjaan. Terlihat cengo dan emosi tapi dia menurut saja saat laki-laki ini menggandeng tangannya. Tak ada perbincangan yang terjadi, sampai mereka berhenti di dalam café yang berada di teras mall.
Laki-laki ini, menarik kursi dan mendudukkan Polaris, sedangkan dia sendiri menempatkan diri duduk di depan Polaris, sambil menyenderkan punggungnya dan bersedekap tangan seraya menatap Polaris.
***
Sudah lima belas menit dia berdiri di depan pintu apartemen, membunyikan bel berulang kali namun tak juga ada tanda-tanda kehidupan di dalam apartemen ini.
Jari-jemarinyapun dari tadi sibuk mengirim pesan yang tak ada tanda-tanda terkirim kepada gadis penghuni apartemen ini, bahkan nomornyapun tak aktif dihubungi.
“Oohh… apa yang dilakukannya, kemana dia pergi,” gerutunya.
Akhirnya dia menyerah, harusnya dia meminta sandi pintu apartemen pada Putra Mahkota El Nath tadi, tapi karena dia juga baru bangun tidur dan terburu-buru, tak ada yang dia pikirkan selain bergegas pergi kesini untuk mencari Polaris.
Berjalan menuju lift untuk turun ke lantai bawah, otaknya berpikir kemana gerangan gadis itu pergi, terakhir media memberitakan dia ada disekitar pusat perbelanjaan tak jauh dari sini. Karena ia tak tahu jam berapa tepatnya internet pertama kali mem-publish berita tentang Presdir Orange dan Polaris, maka dia pikir untuk mencarinya ke apartemennya dahulu.
Dengan berlari kecil dan mata yang awas ia mencari dijalanan yang biasa dilalui Polaris saat menuju pusat perbelanjaan, keringat membasahi pelipisnya. Jika Polaris ada disekitar sini, percuma dia mencari menggunakan mobil. Pastinya Pangeran El Nath juga mengerahkan beberapa pengawal untuk mencari Polaris juga.
Drrrtttt… Drrrtttt… Drrrtttt…
Handphonenya bergetar, panggilan masuk dari nomor yang asing. “Tuan Allen,,, saya menemukan Tuan Putri Polaris di teras café Star..” kata suara di telepon.
“Café Star?” Tanya Allen.
“Café Star di mall Galleon. Untuk selanjutnya, kami serahkan pada Tuan Allen.” Telepon langsung dimatikan, setelah laki-laki ini berbicara dengan cepat.
Allen menghembuskan nafas kasar, “haahhh… baiklah, kita lihat lagi pencarian populer di Internet,” dan benar saja, Presdir Orange dan seorang wanita menjadi trending pencarian. Dan sialnya, karena kelincahan jari-jemari netizen, identitas Polaris terbongkar. Bukan perkara sulit mencari artis internet yang memiliki pengikut sekitar satu jutaan di insta.
Kaki jenjangnya melangkah cepat, sambil mengutak-atik smartphone ditangannya, akan sangat susah mengendalikan pemberitaan ini, apalagi ini dinegeri asing bukan di Magellan. Langkahnya langsung mengarah ke teras café Star, tidak sulit menemukan gadis itu, mereka berdua sudah cukup menyita perhatian orang-orang disana.
Dia semakin ingin menggerutu, laki-laki yang bersama Polaris seolah mengabaikan kenyataan bahwa dirinya cukup dikenal di negeri ini. Mengabaikan sorotan kamera ponsel orang-orang seolah dirinya sudah terbiasa membuat skandal. Dia tak peduli skandal yang dibuatnya kali ini jika dengan gadis lain, tapi kali ini, Polaris. Tak masalah juga jika Polaris hanya seorang selebriti internet. Namun jika dunia tahu Polaris juga adalah seorang Tuan Putri dari Magellan yang selama ini dikabarkan selalu misterius, skandal ini bisa merusak citranya.
“Baiklah.. ceritakan kenapa nona sulit dihubungi kali ini dan membuat kakak nona khawatir.” Kata Allen singkat dengan nada agak menantang meminta penjelasan. Kedua tangannya bersedekap didepan dada dan wajah yang dia pasang layaknya aristocrat memandang kearah Polaris dan bergantian ke arah pria disampingnya.
Kemuculan Allen yang tiba-tiba menggeser kursi saja sudah membuat keduanya kaget, lalu tiba-tiba pula bertanya seperti sudah saling mengenal. Sirius yang sedari tadi memperhatikan gadis didepannya membongkar handphone yang baru saja dibelinya untuk memasangkan sim card, mengernyitkan keningnya.
Polaris tersenyum seperti biasa, jelas dia tidak tahu kegaduhan di internet saat ini. Allen memandang sekitar, setiap orang yang lewat akan berhenti sejenak berbisik-bisik dan tak lama mengacungkan kamera handphonenya. Terlebih Allen yakin banyak wartawan disini.
“Handphone-ku rusak.. lihat..” kata Polaris santai sambil menggoyangkan handphone lamanya dihadapan Allen, “.. dan ini yang baru,” lanjutnya, dengan tangan satunya memegang handphone barunya.
“Oh ya.. apa yang membuatnya tiba-tiba gelisah?” katanya sambil tetap focus pada handphone barunya.
“Seseorang mengunggah fotomu dengan laki-laki tengah berciuman dijalan. Dan sialnya laki-laki itu adalah Presdir perusahaan Orange,” jelas Allen sambil memandang Sirius.
“Oh..” jawab Polaris sambil bengong memandang Sirius tepat didepannya. Sirius masih bersedekap tangan dan menautkan kedua alis seolah mengisyaratkan “ada apa?”
“Lalu? Aku harus apa? Orang yang menciumku ada didepanku sekarang, dan foto-fotopun sudah tersebar sekarang. Mustahil untuk menghentikan rumor.” Katanya cepat.
“Apa?” kata Sirius. Allen dan Polaris memandangnya seolah menuntut penyelesaian, karena tentu saja tak perlu banyak penjelasan soal rumor ini.
“Baiklah.. jujur rumor ini tak berarti besar untukku, diberitakan dengan banyak skandal dengan para wanita.” Kata Sirius, seringan bulu.
Allen kembali berpikir, membiarkan rumor ini kemudian akan menjadi meledak saat dunia tahu bahwa Tuan Putri Polaris ternyata adalah gadis yang digosipkan dengan laki-laki brengsek ini, akan lebih baik jika keduanya mengonfirmasi hubungan mereka berdua didepan publik. Jika tidak, Sirius akan terlibat skandal lagi dan saat dunia tahu siapa Polaris sebenarnya, banyak orang akan mengira Polaris adalah Tuan Putri yang dicampakkan.
“Atau membiarkan pihak istana yang mengurus citra Tuan Putri Polaris,” gumam Allen. “Apakah kalian berdua memiliki hubungan? Kekasih?” tanyanya enteng, sambil bergantian menatap Polaris dan Sirius.
Polaris spontan meninju kecil lengan Allen, “Jangan bercanda! Aku baru mengenalnya.”
“Tidak ada orang yang baru kenal kemudian berciuman ditempat umum.” Komentar Allen.
Sirius memperhatikan interaksi keduanya berdebat, tak akan selesai jika dia tak bersuara kali ini, langit sudah sangat mendung, dan Bryan tak juga datang menjemputnya sejak terakhir ia mengirimi pesan padanya.
Sirius mengibaskan tangan kanannya, “kalian berdua, tenanglah… jangan sampai orang-orang mendengarkan percakapan kalian.”
“Kenapa? Kau takut citramu buruk, karena melakukan pemaksaan pada seorang gadis?” sindir Allen.
“Aku tak berpikir sejauh itu, yang pasti saat melihat kau begitu mengkhawatirkan gadis ini, kukira aku tak salah menciumnya hari ini..”
“APA??” Polaris dan Allen kaget dengan pernyataan pria ini. Media sosial gempar dan dia santai-santai saja. Masa bodoh apakah saham perusahaan Orange akan turun atau tidak, pikir Allen. Yang pasti, dia dikirim untuk mencari Polaris guna memperolah penjelasan dari keduanya, namun tak disangka keduanya seperti masa bodoh begini. Apakah efek patah hati Polaris, berimbas pada masa bodohnya dia dengan identitasnya.
“Aku akan mengurus hal ini, entah akan berakhir sebagai kekasihku, tunanganku ataupun istriku. Akan kupastikan gadis ini tak akan dirugikan. Oke??”
Allen masih cengo dengan tingkat kepercayaan diri pria ini, “semudah kau membalikkan telapak tangan jika nona Polaris adalah orang biasa,” jawab Allen ketus.
“Memangnya aku ini monster!!” tambah Polaris yang sontak merenggut focus visual kedua pria ini.
Sirius bangkit dari duduknya, merapikan jasnya dan juga dasinya. Memandang sekitar dan memberikan kartu nama diatas meja. “Kalian tahu aku dimana,” katanya. Kemudian berjalan dan berehenti disamping Polaris.
“Cup..” ciuman singkat di pipi kiri Polaris. Allen meradang tapi dia cukup mampu mengendalikan dirinya. Jadi dia biarkan Sirius melakukan hal yang dia inginkan, akan tambah gempar rumor jika dia bereaksi berlebihan disini. Media akan menulis judul “cinta segitiga presdir” di headline beritanya.
Sirius berlalu dan Polaris menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“Oh.. siaalll…” katanya.