
Pangeran Regulus menatap pemandangan yang tersaji begitu apik tertata rapi hamparan bunga ditamannya lewat balkon di lantai tiga kediamannya. Pakaiannya sudah rapi dengan setelan mahalnya, sambil menatap langit dia sedikit tersenyum.
Sepertinya langit kali ini berpihak pada Putra Mahkota El Nath. Hari ini langit terlihat cerah dengan matahari yang tak terlalu terik kembali menghiasi langit Magellan.
Mengingat sudah kurang lebih satu minggu langit Magellan tak bersahabat dengan matahari akhir-akhir ini. Ketukan sepatu dilantai yang semakin mendekat kearahnya dia biarkan, tanpa memalingkan badannya ia sudah tahu jika itu adalah Andrew.
“Pangeran, jika rencananya akan dilakukan hari ini kami sudah siap,” tegas Andrew.
“Harus hari ini. Aku tak akan menundanya lagi,” Pangeran Regulus berbalik. “Bagaimana dengan Pangeran dari Heiress? Laporkan ini saja padaku jika rencanamu untuk nanti benar-benar sudah kau urus. Pastikan untuk tidak gagal.”
Andrew mulai berpikir, penting baginya untuk mendengar perintah yang lebih jelas lagi, “Pangeran, habisi atau singkirkan? Jika singkirkan, cukup bagi kami untuk melukai dan membuatnya berada jauh sekali dari sini. Jika habisi, akan lebih mudah untuk menyelesaikannya tanpa melibatkan banyak pihak.”
Ini bukan tugas yang mudah, baginya menghilangkan salah satu anggota keluarga kerajaan negaranya sendiri merupakan suatu pemberontakan. Tuannya, Pangeran Regulus memberontak pada pemerintahan Raja saat ini dan mendapatkan dukungan yang besar apabila Pangeran Regulus menggantikan takhta.
Namun untuk persoalan menghilangkan sebuah eksistensi keberadaan manusia, hanya para pengawal yang menjadi saksi. Semua orang tau kami adalah pengikut setia Pangeran Regulus, apapun yang dilakukannya kami tak akan membocorkannya bahkan jika nyawa taruhannya.
“Andrew… kau damping Aquila hari ini ke pernikahan.” kata Pangeran Regulus sambil berjalan menjauh meninggalkan balkon tak lupa menepuk bahu kiri Andrew menandakan ia mempercayai Andrew.
Pangeran Regulus menghentikan langkahnya, “tapi Pangeran, tidakkah Putri Aquila ingin bersama dengan Pangeran Sirius?”
“Aku hanya ingin melihat interaksi antara mereka bertiga. Sirius, Polaris dan Aquila.”
“Mengerti.”
Jadi Pangeran Regulus ingin Andrew mengamati dan melihat keadaan jika mereka bertiga ditempat yang sama. Siapakah diantara keduanya yang akan Pangeran Sirius pilih untuk didekati. Seperti biasa, Andrew pikir Pangeran Regulus berpikir jauh kedepan.
***
Beberapa wanita sedang sibuk membantu Ratu agung sebuah negara untuk berdandan hari ini, penampilan yang diinginkan untuk menghadiri acara besar kali ini adalah sederhana dan anggun. Gaun putih tepat dibawah lutut dengan lengan tiga perempat dan juga blazer hitam dengan hiasan pin bunga mawar yang terbuat dari emas putih dengan taburan berlian. Sepatu berhak tinggi berwarna putih dan juga tak lupa fascinator (hiasan kepala) berupa topi yang disesuaikan dengan gayanya saat ini.
Riasan wajah yang tak terlalu menonjol namun harus berhasil membuatnya tampak lebih muda dari umur aslinya. “Sudah sempurna,” kata Fellicia, perempuan berusia 28 tahun yang dipekerjakan secara terhormat oleh Ratu Soraya sebagai stylist pribadinya. Masih muda dan memiliki banyak ide-ide segar menjadi pertimbangan Ratu soraya dalam memilihnya kala berkunjung kesebuah universitas.
Ratu Soraya memperhatikan tampilan dirinya didepan kaca yang mampu memuat seluruh penampakan dirinya. Berputar melihat seluruh penampilan karya Fellicia, “ini bagus, aku menyukainya,” pujinya sambil tersenyum.
“Saya tidak merias wajah anda terlalu berlebih, membiarkannya terlihat natural namun elegan dan terlihat segar. Sejak anda melakukan perawatan yang saya sarankan, kita bisa mengurangi penggunaan kosmetik berlebih diwajah,” jelasnya sambil merapikan alat-alatnya.
Sesaat Ratu Soraya teringat akan sesuatu, “Fellicia, tolong ambilkan handphone-ku,” pintanya.
Fellicia langsung menuju nakas disamping tempat tidur, meraih handphone dan memberikannya kepada Ratu Soraya,”terimakasih.”
Dimata Fellicia, Ratu Soraya merupakan wanita yang ramah. Walau seringkali permintaannya aneh-aneh, seperti menyuruhnya mengantar makan siang ke kantor Pangeran Sirius. Katanya Ratu Soraya ingin menjadi seorang ibu yang normal dan mengesampingkan statusnya sebagai seorang Ratu dari sebuah negara.
Tentu saja sangat sulit menemui Pangeran Sirius, tak ada yang mengetahui jika dia adalah anak Ratu Soraya yang tidak ditampilkan didepan public dan sebegitu kesalnya ia saat itu, ia tak mungkin membocorkan rahasia negara ini pada seorang receptionist didepannya.
Hingga menjelang sore Pangeran Sirius terlihat keluar dari pintu lift menuju lobby hendak keluar, aku langsung menghampirinya dengan tatapan kesal. Pangeran Sirius langsung mengetahui itu aku dan langsung menggandeng tanganku menuju meja receptionts.
Hal yang memalukan saat semua orang memandang kami, aku langsung berusaha menutupi wajahku dengan rambut panjangku walau tak semirip Sadako menutupi wajahnya. Tentu saja aku tak berusaha untuk mirip Sadako.
“Kenapa tidak segera memberi tahuku kalau ada yang mencariku?” Tanya Pangeran Sirius dengan buru-buru dan menuntutu jawaban cepat.
Dengan taku-takut dan bingung receptionist itu menjawab, “maaf kan saya, Tu.. Tuan, tadi sekretaris anda berpesan agar tak menerima tamu selagi anda sedang meeting.”
Pangeran Sirius menghembuskan nafas kasar sementara aku masih berusaha menyembunyikan wajahku, sebuah pikiran terbesit diotakku, percuma aku berusaha sembunyi jika aku kelak akan sering kesini. Aku langsung membelalakkan mataku sendiri, “benar juga.”
“Apa?” Tanya Pangeran Sirius.
“Kenapa?” jawabku.
Aku tampak seperti orang bodoh, jangan tanya lagi ekspresi receptionist didepan kami saat ini. Dia sepertinya tengah bergejolak dengan pikirannya sendiri yang memandangku seperti orang aneh.
“Ini.” Aku langsung menyerahkan bekal makanan itu pada Pangeran Sirius dan langsung berbalik pergi sambil berjalan cepat, tak disangka Pangeran Sirius juga cepat dalam menghentikan langkahku.
Sambil tangan kanannya memegang bekal besar itu dan tangan kirinya memegang tanganku, menyeretku memasuki lift dan sesuai perkiraanku mungkin dia akan menuju ruangannya.
Tak bisa kubayangkan lagi tatapan orang-orang di lobby ini, perusahaan Orange adalah perusahaan yang besar. Di lobby juga terpajang beberapa teknologi buatan Orange Inc. dan banyak sekali orang-orang yang lalu lalang disini. Dengan kata lain mereka menempatkan layanan konsumen dengan terbuka di lobby ini.
Saat didalam lift terjadi keheningan seperti es dan ini pertama kalinya aku bertemu Pangeran Sirius. Bagaimana aku harus bersikap yang jelas jantungku begitu berdebar, hingga sebuah dehaman yang keluar dari Pangeran Sirius sedikit mencairkan suasana es ini. Lebih tepatnya, Pangeran Sirius berusaha untuk berkomunikasi.
“Kenapa tidak menghubungiku terlebih dahulu? Apakah mamaku tidak memberimu nomorku?”
“Beliau hanya menyuruhku mengantar itu kesini dan aku tak menyangka akan sesulit ini. Saya kira orang sebelum saya sudah sering mengantarkan hal seperti ini?” jawabku polos. Semoga tidak salah bicara, dia seorang pangeran.
“Tidak.. tidak… mamaku tak pernah melakukan ini sebelumnya. Dan karena kau terlihat agak ceroboh dan muda mungkin ia sengaja memanfaatkanmu.”
“Apa?” jawabku kaget.
“Lain kali aku akan memasang fotomu di meja para receptionist agar membolehkanmu menunggu diruanganku saat kesini.”
Fellicia tidak menyangka, Pangeran sesantai ini. Dia masih salah tingkah didalam lift. Menaruh foto itu berlebihan, pikirnya. Tapi apa mau dikata, orang yang sedang berdiri disampingnya sambil menenteng bekal makanan ini adalah pangeran. Sekali lagi, dia adalah pangeran.