After Rain

After Rain
Episode 13 : Putri Aquila



Sirius tak percaya dirinya setuju untuk terbang ke negara Magellan memenuhi undangan yang diberikan secara pribadi oleh Pangeran Regulus. Dia tak tertarik dengan hubungan kenegaraan seperti ini atau berbasa-basi mencari pamor agar publik melihatnya dekat dengan keluarga atau kalangan bangsawan.


Tapi dia memang bangsawan, pikirnya. “Ckkk…” dirinya berdecak dalam kursi pesawat kelas bisinis yang ditumpanginya kali ini. Pangeran Regulus menawarkannya private jet lalu turun ke kelas executive dan setuju untuk membiarkan dirinya di kelas bisnis.


Baiklah tak hanya berhenti di soal pesawat, bahkan dia menyuruh putrinya sendiri untuk menjemputnya. Agar membuatnya segera berhenti, Sirius terpaksa menyetujuinya. Setidaknya dia tak harus tinggal di rumah pribadi milik Pangeran Regulus dan setuju membiarkannya tinggal di hotel selama dirinya berada di negara Magellan.


Allen sengaja tertidur lebih awal sementara dirinya masih terjaga sambil melihat deretan awan melalui jendela pesawat. Putri Polaris akan tampil dihadapan publik besok, dia tak sabar reaksi seperti apa yang akan dia terima esok. Tapi kini ia memilih untuk tak memikirkannya, laki-laki itupun sudah ia lupakan. Menganggap hanya kebetulan bertemu dan terlibat skandal, ini bukan cerita romance modern yang mengharuskan mereka tiba-tiba harus bertemu dan merangkai sebuah cerita. Yang pasti esok dia harus mempersiapkan hatinya saat bertemu dengan Saga dan pasangannya.


Pesawat mendarat dengan mulusnya, sambil menyeret koper hitam berukuran sedang miliknya, Sirius melihat kesana kemari mencari seseorang. Dalam hatinya dia berharap Putri Aquila tak jadi menampakkan dirinya sehingga ia tak perlu berpura-pura terlihat nyaman saat bersama dengannya.


Terlihat seorang perempuan tinggi menggunakan dress selutut terbuat dari bahan jeans dan membawa tas berwarna coklat sedang memegang papan nama bertuliskan namanya “SIRIUS WINDSOR”.


Rambutnya panjang hitam ikal di bagian ujung, gadis yang terpaut 6 tahun lebih muda darinya menurut informasi yang dia dapat.


Menghembuskan nafas kasar dan memilih memperhatikan penjemputnya sedikit lebih lama bermaksud sengaja membuatnya menunggu. Putri Aquila terlihat mengedarkan pandangannya kesana kemari mencari keberadaannya saat ini.


“Itu kau…!!”


Sirius terkejut bukan main tiba-tiba ada suara perempuan dibelakang tengkuknya, “Heii..!!” langsung berbalik. Gadis ini dengan santainya seakan mereka saling mengenal tapi ingatan Sirius tentu masih segar. Dia gadis yang di ciumnya kemarin.


Polaris menatap mata Sirius, seakan terbiasa, “tidak ada hantu yang muncul dibandara, jadi tenanglah,” katanya.


“Kau.. kenapa kau disini?” Tanya Sirius.


“Pulang.” Jawab Polaris singkat.


Sirius tampak bingung, “pulang? Maksudmu? Ah.. masalah waktu itu aku..”


“Aku tahu kau tak berencana menyelesaikannya. Kau berkata begitu untuk membuat Allen tenang, kan?” katanya saat memotong kalimat Sirius. “Dan.. aku berasal dari Magellan,” lanjutnya.


“Ah.. begitu. Apa kau sendiri?” Tanya Sirius.


Polaris celingak-celinguk melihat ke segala arah, “Ah.. tidak. Bersama Allen, dia sedang ada urusan sebentar. Itu…” tangannya sambil menunjuk ke arah seseorang yang membawa tulisan “SIRIUS WINDSOR”. “… orang itu penjemputmu? Kenapa kau masih disini.” Kata Polaris.


Di kejauhan Allen berjalan menuju ke arah mereka berdua, Sirius melihatnya namun pandangan Polaris masih tertuju pada Putri Aquila. Sirius kembali memandang Polaris, “kau…” katanya terputus.


Dengan cepat Sirius mencium Polaris tepat dibibirnya. Gadis ini seperti candu, terkadang ia ingin bertemu dengannya terkadang ia ingin tak memikirkannya. Hatinya dan keinginannya seperti sengaja dibolak-balikkan.


“Hei…” teriak Polaris. Ia sangat kesal, laki-laki ini seperti hantu datang dan pergi sesukanya dan tiba-tiba menciumnya juga sesukanya. Polaris menghentikan langkahnya saat ia berusaha mengejar Sirius karena dia melihat Sirius berjalan menuju Putri Aquila, sepupunya.


Tentu ini akan menjadi bahan empuk untuk membuatnya kehilangan citra baik di hadapan publik apalagi esok dia akan tampil di pernikahan Putra Mahkota El Nath.


Polaris berbalik, menunggu Allen sampai ditempatnya berdiri. Setidaknya mereka harus cepat karena secara pribadi ia sudah sangat kesal saat ini.


Sirius berdiri dihadapan Putri Aquila dengan badan tegap, tangan kirinya ia masukkan ke saku celana sambil tangan kanannya memegang pegangan kopernya. Putri Aquila sedetik terkesima dengan ketampanannya, laki-laki yang berdiri di depannya sangat tinggi menurutnya, sesuai dengan ekspektasinya. Ayahnya benar-benar tidak ngawur memilihkan calon suami, pikirnya.


Setampan apapun jika laki-laki ini tidak kaya atau dari kalangan bangsawan, ia sudah malas meliriknya. Tapi Sirius benar-benar memenuhi ekspektasinya kali ini.


“Ohh… hai. Anda Tuan Sirius Windsor. Ayahku menyuruhku untuk menjemput anda.” Katanya dengan tersenyum kikuk, terlihat kedua pipinya sedikit memerah karena malu dan matanya berbinar.


“Aku akan ke hotel yang dipesankan oleh Pangeran Regulus. Anda bisa panggil saja aku Sirius, walau kita memilki perbedaan umur yang lumayan, anggap saja seperti teman biasa.” Kata Sirius dengan nada yang cool dan tersenyum kecil.


“Ten.. tentu. Terimakasih Tuan.. Ah maksud saya Sirius.” Jawab Putri Aquila. “.. dan panggil saya Aquila atau Quila, keluarga saya biasa memanggil saya begitu.” Katanya dengan ramah. Sepertinya dia sudah mampu mengendalikan debaran jantungnya kali ini.


Sirius mengangguk mengerti, “saya membawa mobil saya sendiri, nanti akan ada orang yang membawa mobil pribadi untuk anda ke tempat anda menginap.” Kata Aquila menjelaskan sambil mulai berjalan beriringan menuju keluar bandara.


Sirius menghentikan langkahnya sehingga Aquila juga menghentikan langkahnya, Sirius menatap Aquila dan tersenyum dengan gaya cool nya, Aquila menjadi salah tingkah apakah dia tadi salah berbicara. Karena akan sangat merepotkan jika Sirius bilang ke ayahnya kalau dia sempat tidak sopan pada Sirius.


“Berhentilah berbicara formal padaku,” jelas Sirius.


“Ah.. baiklah. Maaf.” Jawab Aquila dengan senyum kikuknya.


“Jangan meminta maaf jika kau tak salah.” Kata Sirius menambahkan. Sirius menggenggam tanga Aquila, mengisi sela di jari-jari tangan Aquila.


Aquilapun terkejut dan tak jua melangkah saat Sirius melangkahkan kakinya membuatnya harus mebalikkan badan. “Aku tidak tahu kenapa bandara hari ini ramai tapi jika aku kehilanganmu walau ini di negaramu sendiri aku tak tahu apa yang harus aku jelaskan pada Pangeran Regulus.” Jelas Sirius panjang lebar dan menarik tangan Aquila agar segera berjalan.


Aquila terlihat tertunduk malu, ini bukan adegan dalam drama tapi dia berharap ini akan berakhir baik. Dia tak pernah benar-benar menyukai seseorang karena walau bagaimanapun menyukai seseorang yang disukai juga oleh ayahnya adalah pilihannya. Tapi kali ini ia tak menyesal jika harus menghabiskan sisa umurnya bersama laki-laki ini.


Mereka telah sampai di mobil milik Aquila, Aquila sibuk mencari kunci mobil di dalam tasnya dan Sirius menunggunya. “Aku yang menyetir,” kata Sirius singkat dan seperti kata perintah.


“Tapi..” sambil ragu-ragu Aquila akan menyerahkan kunci mobilnya.


Sirius langsung merebut kunci mobil dari tangan kanan Aquila, dan langsung memasukkan koper ke bagian belakang mobilnya. Aquila hanya melihatnya dan memperhatikan.


“Masuklah, di dalam mobil ada GPS. Kau bisa meyetelnya dan aku akan mengikutinya. Ayo!” kata Sirius.


Aquila bergegas masuk dan meninggalkan bandara menuju tempat Sirius akan menginap.