
“…kami mendapat informasi Putri Polaris akan bertemu dengan Tuan Sirius malam ini,” ucap suara di dalam telephone.
“Awasi terus kemanapun ia berada. Jangan lengah, baik didalam istana atau diluar istana, pastikan hari ini harus sesuai rencana. Mengerti!?”
“Baik.”
Pangeran Regulus menegakkan tubuhnya dan memandang sekitar keluarga senior atau inti kerajaan tengah diatur oleh profesional fotografer kerajaan untuk mengabadikan Royal Wedding Putra dan Putri Mahkota.
Namun pandangannya tertuju pada Polaris, keponakan perempuannya yang harusnya tak bertingkah agar dia bisa terus berada di kerajaan ini. Tapi sayangnya Pangeran Regulus juga harus membuat pilihan dan menyingkirkan apapun yang menghalanginya.
“Regulus, cepatlah ambil posisimu,” teriak Raja Fomalhaut, saudara laki-laki satu-satunya. Satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki selain keluarganya sendiri.
Kemudian jamuan untuk mempererat hubungan keluarga inti dengan anggota baru merekapun tiba, terlihat kedua anak Pangeran Regulus dan Putri Polaris begitu akrab. Mungkin karena mereka sudah jarang bertemu dan para laki-laki senior juga tengah berbincang-bincang dengan Raja Fomalhaut, Pangeran Regulus dan ayah dari Putri Mahkota Navier, Erich Barnett.
Begitupun sebaliknya dengan para wanita, Navier memandang ketiga putri itu agak ragu bagi dirinya untuk bergabung tapi jika ingin memenangkan hati seluruh keluarga inti istana dia harus mampu menguasai keadaan setidaknya harus pandai berbasa-basi.
“Aku ingin bergabung dengan ayahku tapi kurasa aku perlu melihat kemampuanmu,” ucap Putra Mahkota El Nath dengan sinis.
“Kemampuan?” Tanya Navier terkejut dan bingung.
El Nath memalingkan wajahnya kearah Navier dengan ekspresi meremehkan, “kudengar dari sepupuku, adikku tak begitu tertarik denganmu? Apa itu benar?”
“Itu.. kami hanya belum saling mengenal terlalu jauh dan belum banyak mengobrol,” Navier menyakinkan.
“Benarkah? Kau harus disisi adikku jika ingin memiliki dukungan para bangsawan dan konglomerat,” ucapnya sambil tersenyum.
“Adikku tak mudah ditaklukkan walau dengan paras rupawan atau kecerdasan, dia pintar dalam memilih,” tambahnya. El Nath berusaha memancing Navier untuk memberikan penilaian pada seseorang yang belum terlalu dia kenal.
Penting bagi keluarga istana memiliki kemampuan untuk selalu waspada dan hati-hati untuk siapapun itu dan bernegosiasi. Karena keluarga istana tak hanya mengatur negara tapi juga bisnis.
“Berhentilah omong kosong,” Navier menyentak namun tetap dengan nada rendah.
El Nath tersenyum meremehkan, “ini adalah pernikahan politik, ingat kata-kataku..” El Nath memandang tajam Navier, “… jangan berharap besar padaku akan membahagiakanmu seperti aku yang tak berharap banyak padamu. Jika kau ingin bahagia dan tentram secara mental hidup di istana maka, bertemanlah dengan Polaris.”
“Yang memegang kendali para wanita istana adalah Ratu,” jawab Navier mulai emosi.
“Tidak jika adikku ada disini, bahkan jika kau adalah seorang Putri Mahkota jangan bermimpi jika pekerjaanmu hanya duduk dan bersantai-santai menghamburkan uangku,hah?” Navier tak menyangka laki-laki ini begitu pandai membuat lawan bicara naik pitam hanya dengan perkataan.
Cukup bila Polaris tak menyukainya lagipula dia juga harus kembali ketempat dia kuliah kelak tapi laki-laki ini harus menghabiskan sisa hidupnya dengan Navier.
“Apa tujuanmu menjadi Putri Mahkota? Apakah kekasihmu tak mau mengajakmu lari? Apa kau merasa ingin menunjukkan posisimu ini pada seseorang?” ini bukan pertanyaan lebih tepatnya terdengar seperti pernyataan bagi Navier.
“Apa maumu?”
“ Ah yaa… satu lagi, aku tak akan melarangmu berhubungan dengan siapapun dan jika itu tercium oleh media atau pihak istana kau tahukan siapa yang akan dirugikan?” sambil meminum wine-nya ucapan El Nath benar-benar keterlaluan menurut Navier.
Navier menegakkan punggungnya dan menaikkan dagunya sejajar, “aku tak ingin membicarakan itu disini,” katanya singkat.
“Baguslah. Kuanggap itu sebagai persetujuan darimu. Untuk hal-hal lain kita bahas lain waktu,” El Nath bangkit dari duduknya sambil meminum wine-nya lagi dan berjalan menuju Raja Fomalhaut yang tengah berbincang dengan saudaranya dan para laki-laki lain.
Navier meremas tangannya, bagaima ia bisa dipermalukan seperti ini? Sirius tak mau mempertahankannya dan El Nath tak mau menyentuhnya. Lupakan cerita drama tentang seorang biasa yang terjebak pernikahan atas dasar perjodohan bisa saling mencintai satu sama lain bahkan kenyataannya El Nath sudah memiliki rencana perihal bagaimana keturunannya kelak dilahirkan.
Seseorang tiba-tiba duduk disamping Navier yang tak lain adalah kakaknya, Crhrist. Padahal baru saja ia akan menuju ke kerumunan untuk membaur dengan para putri itu.
Christ memandangnya dengan serius, “Navier, ada sesuatu yang kau sembunyikan?”
“Tidak!” jawabnya singkat dan hendak bangkit meninggalkan Christ namun lengannya ditahan oleh Christ sebelum ia sempat bangkit.
“Duduk!” seru Christ dengan suara pelan namun memaksa.
“Jangan terpancing dengan El Nath,” pandangan mata Christ mencoba membujuk Navier untuk tetap duduk seakan apa yang akan dia bicarakan memanglah sangat penting.
Lanjutnya, “jangan lengah dengan apapun yang dikatakan El Nath, Navier. Dia mencoba membuatmu kesal dan menjauhinya.”
“Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan Christ?” Navier menuntut karena Christ begitu bertele-tele menurutnya.
“Dengar, kau sudah memutuskan untuk masuk dalam lingkaran istana dengan kemauanmu sendiri. Aku tak tahu apa tujuanmu atau karena Sirius tak memilihmu tapi jika kau sudah memutuskan sesuatu pastikan kau harus membuat akhir yang baik bagi dirimu.”
“Kau tahu El Nath menolakku? Kalian sudah tahu dari awal jika dia tak tertarik denganku? Dia hanya menginginkan takhta?”
Christ sedikit menurunkan tatapan tegangnya pada Navier, “takhta? Apa pikiranmu begitu negatif? Untuk apa El Nath berambisi pada takhta jika seluruh dunia tahu dialah pewaris tunggal Raja? Navier, istana bukan tempat bagi orang yang berpikir pendek,” ucap Christ penuh penekanan.
Ucapan terkahir Christ membuat Navier meradang, “jika ingin mengolok-olokku seperti El Nath sebaiknya kau enyah dari sini.” Berdiri meninggalkan Christ namun lengannya ditahan kembali oleh Christ.
“Kubilang dengarkan!! Jangan gegabah dan berlatihlah untuk mengendalikan emosimu. Jika kau begini terus, El Nath dan Polaris akan lebih mudah menjatuhkanmu. Ingat, saat ini tak ada yang mendukungmu di istana.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” suaranya bergetar hampir putus asa.
“Dekati El Nath, bagaimanapun caranya kalian harus normal menjalani hubungan layaknya pasangan.”
“El Nath menolakku bahkan belum satu hari setelah pernikahan. Semula aku baik-baik saja dan mencoba bersikap tak peduli tapi kata-katamu seolah membuatku benar-benar seperti telah memilih pilihan yang salah,” Navier berusaha menahan emosinya, kini ia bingung harus bagaimana.
Dia memiliki hak menolak perjodohan ini jika saja ia tak lebih dahulu memiliki hubungan dengan Sirius yang tergolong sama-sama berstatus pangeran.
Tapi sebagai wanita normal yang ditinggalkan, ia tak mungkin mencoba menjalin hubungan dengan pria yang statusnya lebih rendah dari Sirius seperti menampilkan kenyataan baginya jika ia adalah wanita yang tak berdaya maka dari itu kebetulan sekali keluarganya sejak ia masih kecil pihak kerjaan sudah melamarnya melalui keluarganya.