
Suasana ibu kota negara Endora terlihat mencekam, mereka berselisih pendapat apakah ini serangan ******* atau ada hubungannya dengan perang yang dilakukan oleh Endora dan Magellan. Lebih dari ini, sebagian petinggi Endora memilih untuk siaga satu apabila serangan susulan akan terjadi lagi. Atau lebih tepatnya, laki-laki yang tengah duduk di sofa sambil menonton acara Breaking News di televisi ini sudah dapat menduga, tak akan ada ledakan atau serangan susulan yang akan dilancarkan ke Endora. Begini saja sudah cukup membuat mereka kalang kabut.
Suara handphonenya bergetar panjang menandakan ada satu panggilan masuk, tertera nama “Andrew” di layar handphonenya.
“Pangeran, para pasukan khusus sudah dalam perjalan kembali ke Endora tanpa dicurigai. Dan petinggi istana menanyakan perihal kepulangan Anda,” jelas Andrew tanpa basa-basi.
Terlalu cepat jika dia harus pulang sekarang, satu minggu lagi adalah upacara pernikahan Putra Mahkota Magellan. “Katakan pada mereka, secepatnya aku akan kembali dan apa sudah kau urus pertemuan besok di club?” tanya Pangeran Regulus.
“Saya sudah berusaha tapi mereka bisa menemui Anda besok jam dua siang. Perlu pertimbangan jika melakukan kekerasan mengingat mereka yang paling ahli untuk kerjasama,” sambung Andrew di telepon.
“Buat ulang jadwal besok, aku ingin menghadiri acara di Kapal Pesiar Blue Saphire dan cari tahu orang penting mana saja yang akan hadir disana,” tambahnya.
“Baik laksanakan, Pangeran.”
***
Langit Endora sepertinya tak begitu bersahabat, ditengah evakuasi para korban bom yang dipasang dibangunan-bangunan vital di pusat ibu kota negara Endora, hujan mengguyur dengan deras. Meski begitu tak menyurutkan semangat para pencari berita diseluruh dunia untuk meliput ini.
Pasukan Endora yang harus mundur karena insiden inipun tak luput dari pemberitaan, pihak istana dituntut untuk segera melakukan pernyataan. Rakyat Endora menunggu Raja mereka mengumumkan apakah negara memberi rasa aman pada rakyatnya.
Didepan gedung konferensi istana Endora telah berkumpul ratusan wartawan baik dalam negeri maupun luar negeri. Telah berjaga juga ratusan personel kepolisian yang menjaga keadaan agar tetap kondusif, telah diputuskan bahwa istana dan otoritas terkait sedang menyelidiki insiden bom ini, namun sifat dasar para pencari berita yang haus akan informasi walau sekecil apapun tak peduli jika harus menginap didepan istana menunggu pernyataan resmi dari Raja Saga.
“Kita harus menyelidikinya lebih lanjut, jika tidak ada bukti bahwa ini perbuatan negara Magellan, cara paling aman dalam menyampaikan pernyataan adalah dengan mengatakan bahwa ini adalah ulah *******,” ucap salah satu jendral.
Semua merasakan ketegangan, segala skenario peperangan yang dirancang untuk memenangkan peperangan memperebutkan pertambangan minyak di daerah perbatasan Alua telah gagal.
“Rakyat menunggu pernyataan dari Raja, akan sangat penting membuat rakyat merasa aman terlebih dahulu..” jelas salah satu staff tinggi, “.. Raja Saga..” ucapnya sambil memandang kearah Raja Saga, “lebih baik segera hadapi rakyat dan segera meberi keputusan apakah tetap melanjutkan perang atau kembali membuat perjanjian perdamaian. Kita tidak bisa mengorbankan rakyat sipil terlepas apakah ini perbuatan ******* ataukah rencana Magellan,” papar salah satu staff dengan penuh penekanan pada tiap kalimatnya, seakan ia menginginkan agar peperangan tak berlanjut.
Raja Saga, raja muda yang baru saja naik takhta, walaupun terlatih dalam membuat strategi, ia tak menyangka akan dihadapkan pada pilihan seperti ini. Benar kata salah satu staffnya, berdamai dengan mengajukan syarat atau melanjutkan peperangan dengan rakyatnya kemungkinan menjadi korban.
Raja Saga melihat satu persatu orang didepannya seperti mengabsen pada peserta rapat darurat ini, mereka menunggu keputusan tertinggi darinya.
Dengan menghembuskan napas kasar, “Max, segera sampaikan kepada juru bicara istana, satu jam lagi Raja akan mengadakan konferensi pers. Dan sampaikan kepada para menteri petinggi istana untuk menghadiri rapat darurat membahas perjanjian damai dengan Magellan setelah aku melakukan jumpa pers.” Max segera bergegas, sebagai pengawal dan asisten pribadi yang mengurusi segala kebutuhan Raja, ia harus selalu siap disampingnya, walau umurnya masih muda namun Raja sendiri yang memilihnya untuk menjadi orang kepercayaannya. Raja Saga menilai Max cukup kompeten dalam segala hal.
Sebagai Raja, ia tak mengatakan jika ini kemungkinan adalah perbuatan negara Magellan, karena sedikit saja seorang Raja mengeluarkan pernyataan yang tidak hati-hati besar kemungkinan rakyat akan berspekulasi pro dan kontra terhadap pemerintahan yang baru dijalaninya. Harus lebih hati-hati menjaga hati dan simpati rakyat, inilah strategi pemerintahannya.
Tak terpikirkan lagi baginya untuk kembali ke kediamannya, apalagi harus bertemu dengan Ratunya yang tidak ia kehendaki. Lebih baik menginap di istana utama, suasana hatinya sedang tidak ingin diganggu oleh wanita itu apalagi negaranya sedang dalam keadaan gawat.
Terdengar pintu yang diketuk, kini ia sangat lelah, bebaring dikasur king size dengan masih menggunakan seragam militernya. Matanya hampir saja terpejam namun ia tak bisa benar-benar terlelap, kepalanya penuh dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
“Masuklah..” katanya masih sambil memejamkan matanya. Max berjalan menghampiri Raja Saga, membawa nampan. Membungkuk hormat walaupun Raja Saga tak memperhatikannya.
“Yang Mulia, saya membawakan teh hangat dan vitamin, dokter kerajaan menyarankan agar anda beristirahat setidaknya empat jam sehari,” jelas Max.
Walaupun Raja Saga tak bereaksi, Max tahu jika Raja Saga mendengarkannya. “Dan, Ratu menelepon berkali-kali ingin bicara dengan Anda.”
Raja Saga membuka matanya perlahan dan mengubah posisinya menjadi duduk walau masih diatas kasur, menatap Max dan berkata, “letakkan disamping kasur dan urus Ratu seperti biasa. Aku sedang tidak ingin mendengar berita tentangnya jika tidak benar-benar penting.”
“Baik, Yang Mulia,” ucap Max, perlahan undur diri.
“Max aku akan menginap disini selama beberapa hari,” tambah Raja Saga sebelum Max benar-benar keluar dari ruangannya.
“Saya mengerti.”
Pernikahan yang rumit yang dipaksakan ayahnya kepadanya karena statusnya sebagai Putra Mahkota dan pewaris satu-satunya, telah membuatnya sangat muak. Dia bahkan berencana untuk menggunakan teknologi bayi tabung saat sudah saatnya untuk mendapatkan keturunan.
Tak pernah satu kalipun ia, Raja negara Endora menyentuh Ratunya, sungguh bagaimana ayahnya memilih calon ratu baginya dahulu. Sangat murahan dimatanya, yang selalu menggodanya untuk menidurinya saat ia berada dikediamannya.
Namun karena pengendalian dirinya yang kuat, Ratu tak dapat menyentuhnya. Harusnya sudah cukup bagi wanita itu mendapatkan posisi Ratu negeri ini, tak sepantasnya ia meminta lebih. Toh, anaknya kelak yang akan mewarisi takhta. Walaupun tak dibuat melalui hubungan yang normal.
Kini hari-harinya hanya diisi oleh pekerjaan kenegaraan, demi membunuh perasaan pada masa lalunya. Calon ratunya yang tidak disetujui oleh ayahnya karena wanita itu hanya berasal dari keluarga biasa.
Kini pikirannya kembali terbayang, apa saja hal yang dilakukan wanita masa lalunya saat ia tiba-tiba menghilang, seperti angin. Sungguh ia tak sanggup mengatakan padanya kalau ia kini sudah menjadi milik wanita lain. Seandainya kehidupan dapat diulang, sungguh ia tak ingin terlahir menjadi pewaris takhta Endora.