
Suara peluru dan bedebum meriam menghiasi perbatasan Magellan, Gurun Alua. Perang baru saja meletus setelah rudal dijatuhkan dari udara oleh musuh, jatuh menghantam pangkalan militer Magellan.
Gurun Alua, daerah perbatasan yang berbatasan dengan Kerajaan Endora. Gurun Alua yang kaya akan minyak, menjadi penyebab perang meletus.
“Berdasarkan laporan , Pangeran Regulus dan pasukannya telah berhasil memasang beberapa bom waktu diberbagai tempat vital di Ibu kota negara Endora. Sesuai perintah anda, yang Mulia, pasukan di Gurun Alua dalam posisi bertahan.” Lapor Jendral Abram kepada Raja Magellan, Fomalhaut.
Raja Fomalhaut nampak serius melihat radar pesawat tempur yang menghalau musuh dari udara, bukan hal yang mudah untuk memilih posisi bertahan dalam perang sementara musuh memiliki lebih banyak keunggulan dibidang senjata dan alat tempur hebat.
Sebagai Raja, dia siap menanggung segala kemungkinan kekalahan dan kegagalan jika strateginya tak berhasil kali ini. Bukan kesalahan negara Magellan yang lebih dahulu mengingkari perjanjian damai kedua negara.
Negara Endora yang serakah, kali ini harus membayar mahal atas para tentaranya yang tumbang dan gugur.
“Jendral Abram!” panggil Raja Fomalhaut tegas tanpa memalingkan pandangan dari monitor yang berjejer didepannya. “Sudah pastikan para rakyat Endora pada jarak aman?” Tanya Raja masih dengan nada tegasnya, “lima menit lagi, pastikan tempat-tempat vital Ibu kota negara Endora hancur dan setengah istananya runtuh berkeping-keping," jelas Raja Fomalhaut.
“Siap, Yang Mulia!” jawab Jendral Abram tegas.
Pasukan udaranya hampir berkurang setengah. Menurut mata-mata jika Raja Endora, hampir beberapa tahun ini naik takhta, raja muda dan belum memiliki penerus. Dengan berani menantang Magellan untuk berperang. Kenyataannya adalah setelah pusat ibu kota Endora hancur, Endora akan menjadi bagian dari Magellan. Raja Fomalhaut yakin, raja Endora tak berpikir sejauh itu. “Pemula,” dengus Raja Fomalhaut.
Ibu Kota Endora,10.00 AM
Kriiiiiiinnggg ….
Suara nyaring penanda adanya kebakaran menyala nyaring di pusat kota. Semua orang berhamburan keluar bangunan untuk menyelamatkan diri. Lalu lintas macet, tidak hanya satu gedung di Ibu kota Endora yang tak dihiasi bunyi sirine tanda adanya bahaya bahkan semua gedung lebih tepatnya tanpa terkecuali.
Bunyi berdebum menggema menimbulkan asap pekat membumbung tinggi ke udara. Suara berdebum yang saling bersahutan dari gedung satu ke gedung yang lain. Sangat mustahil untuk menghindari korban jiwa sekecil apapun. Para petugas pemadam kebakaran kota itu berhamburan datang menuju lokasi terjadinya ledakan.
Orang-orang semakin panik menyelamatkan diri. Lebih tepatnya mencoba menghindar dari material serpihan bongkahan semen padat yang terjatuh. Suasana sangat kacau, banyak teriakan memekakan telinga. Suatu kota yang indah kini dalam sekejap telah berubah menjadi lautan asap tebal.
Seseorang tampak tenang menyaksikan ini dari kejauhan, seperti tak terpengaruh dengan kekacauan disekitarnya. Tampil dengan celana jeans stylis dan kaos putih dilapisi jaket hitam yang tampak mahal. Tak ada yang menyangka bahwa pria ini sudah berumur lebih dari 50 an tahun. Sambil berjalan menjauh, pria ini meraih ponselnya yang bergetar di saku celana.
“Misi sukses, pangeran…” kata pertama yang diucapkan seseorang dari seberang sana melalui teleponnya. Senyum tipisnya menghiasi wajahnya, keberhasilan yang kesekian dan strategi dalam peperangan yang dia sukseskan. Untuk kesekian kalinya, Pangeran Regulus akan sangat dihormati.
Kakinya terus melangkah menuju mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan, langkahnya terhenti manakala seseorang dengan baju serba hitam dan kacamata hitam terpasang garang pada laki-laki yang tengah menunggunya disamping mobil. Laki-laki itu menghampiri dengan sangat sopan memberi hormat padanya.
“Pangeran, penerbangan dengan pesawat pribadi sudah siap di atas Hotel Sweedenn. Mohon beri perintah…” kata laki-laki itu sopan.
Sambil masuk kedalam kursi penumpang didalam mobil, sejenak mengamati asap hitam yang masih setia membumbung ke atas, bahkan awanpun hampir seluruhnya berwarna hitam.
“Andrew.. ada sesuatu yang harus kuurus, tinggal beberapa hari di Hotel Sweedenn,” katanya dengan mantap.
“Baik Pangeran, akan saya urus.” Jawab Andrew, pengawal pribadi Pangeran Regulus yang paling setia. Umurnya baru 24 tahun, sejak ia menemukannya dihajar habis-habisan oleh preman di Kota Roxy.
Wajahnya yang tampan dengan warna mata biru cerah dan rambut sekelam malam. Membuatnya terlihat misterius dan menggoda, tubuh tinggi dan tegapnya sangat sempurna. Dia tak habis pikir, kenapa manusia seperti Andrew bisa terlahir menjadi rakyat biasa disaat segala yang melekat padanya bahkan otaknya yang cemerlang mampu menjadikannya terlihat seperti seorang bangsawan yang terhormat.
Melihat Andrew memiliki kemauan untuk keluar dari keterpurukan membuatnya tertarik untuk mengambil Andrew kala itu. Siapa sangka, ia bisa menjadikan Andrew sebagai pengawal pribadinya yang sangat tangguh.
Sayang sekali Andrew bukan berasal dari keluarga bangsawan yang terhormat, jika tidak bukan tidak mungkin dengan kecerdasan yang dimiliki Andrew akan menjadikannya kandidat untuk menjadi tunangan putri keduanya, Putri Aquila.
“Pangeran.. tadi baru saja keluarga Messier mengajukan permintaan pertunangan dengan Putri Aquila. Dan berharap menerima kabar secepatnya.” Kata Andrew sambil tetap fokus menyetir mobil dan sesekali melirik kaca melihat ekspresi Pangeran Regulus.
Sambil melihat ke pemandangan luar melalui kaca mobil, Pangeran Regulus tampak menimbang pertunangan ini. Sambil sesekali menghembuskan napas berat, ia mengingat putranya telah bertunangan dengan salah satu putri bangsawan di Magellan, walau calon besannya tidak ikut campur dalam pemerintahan negara, tapi keluarga Anderson ikut andil dalam kemajuan ekonomi negara.
Keluarga kerajaan sudah pasti sangat menghormatinya, walaupun yang dia harapkan putranya dapat bertunangan dengan salah satu Tuan Putri anak Raja Negara lain. Mustahil mencari seorang Putri dari kerajaan yang kuat yang umurnya tak berbeda jauh dengan putranya. Setidaknya keluarga bangsawan Anderson akan sangat berguna baginya suatu saat nanti.
Putri pertamanya, Putri Alhena juga baru memiliki tunangannya, keluarga bangsawan Sigra. Ada alasan baginya kenapa harusnya minimal calon menantunya adalah harus berasal dari keluarga bangsawan yang terhormat dan memiliki reputasi bagus. Ini semua demi memperoleh dukungan dari fraksi kerajaan jika suatu saat takhta kerajaan terancam. Atau lebih tepatnya, dialah yang akan menjadi penyebab suatu saat takhta Raja Fomalhaut terancam.
Tapi kini, putri bungsunya adalah harapan dia satu-satunya untuk lebih dekat pada takhta. Akan lebih bagus jika dia dapat bertunangan dengan seorang pangeran yang merupakan penerus takhta kerajaan. Tapi melihat betapa cerobohnya raja muda, Saga dari Endora hari ini, beruntung baginya dia tak menjodohkan putri pertamanya dengannya.
“Andrew, apakah pencarian pangeran Sirius sudah membuahkan hasil?” Tanya Pangeran Regulus tanpa mengalihkan pandangan dari kaca mobil sebelahnya.
Andrew tampak melirik sedikit saat namanya dipanggil, “belum pangeran, sejauh ini seharusnya Pangeran Sirius sudah berumur kurang lebih sekitar 28 tahunan. Kita berusaha keras untuk melacaknya," terang Andrew.
“Mencarinya sejak dia belum lahir kedunia, jika sampai saat ini keberadaannya belum terlacak, aku terpaksa akan menerima tawaran pertunangan keluarga Messier," gumamnya seraya memejamkan mata.
"Andrew, kumpulkan laporan apa saja yang kau ketahui tentang Pangeran Sirius padaku secepatnya. Setidaknya aku harus menunda memberi jawaban pada keluarga Messier.” Kata Pangeran Regulus.
“Baik, Pangeran,” jawab Andrew.
Pangeran Regulus adalah orang yang tegas, wujud asli dirinya yang berdarah dingin dan begitu ambisius tidak mudah dikenali jika tak benar-benar mengenalnya. Dan hal inilah yang membuat Andrew begitu mengagumi Pangeran Regulus sebagai tuannya.
Hal yang paling tak bisa dilakukan seorang Pangeran adalah menunjukkan perasaannya. Sebisa mungkin bersikap tenang dalam segala situasi. Bahkan Pangeran Regulus yang tampak gusar akan pertunangan putrinya, juga bisa ia sembunyikan. Masih dengan gaya bangsawannya yang selalu terlihat anggun dan berkharisma.